Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH

PNEUMOTORAK

Dosen Pembimbing: Dr. Gridho Handoko

Di Susun Oleh
Kelompok 1:
1. Ansori 14201.06.14001
2. Asip Nur Hayati 14201.06.14002
3. Saiful Islam 14201.06.14039
4. Imam Wahyudi Irawan 14201.06.14061
5. Nur kholidiyah 14201.06.14074

PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN

STIKES HASHAWATY ZAINUL HASAN GENGGONG

PAJARAKAN PROBOLINGGO

TAHUN AJARAN 2016-2017

HALAMAN PENGESAHAN
i
MAKALAH

PNEUMOTHORAK
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Ajar
Sistem Respirasi

Mengetahui,

Dosen Mata Ajar

Dr. Gridho Handoko

ii
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah kami panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT.
Atas segala limpah rahmat dan hidayahnya. Sehingga kami dapat menyelesaikan
penyusunan makalah ini, dan sholawat serta salam semoga selalu tercurah
limpahkan kepada proklamator sedunia, pejuang tangguh yang tak gentar
menghadapi segala rintangan demi umat manusia, yakni Nabi Muhammad SAW.

Adapun maksud penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas di


STIKES Hafshawaty, kami susun dalam bentuk kajian ilmiah dengan judul
PNEUMOTHORAK dan dengan selesainya penyusunan makalah ini, kami
juga tidak lupa menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. KH. Moh. Hasan Mutawakkil Alallah, SH.MM sebagai pengasuh pondok


pesantren Zainul Hasan Genggong.
2. Ns. Iin Aini Isnawaty, S.Kep.,M.Kes. sebagai ketua STIKES Hafshawaty
Zainul Hasan Genggong.
3. Shinta Wahyusari, M.Kep., SP.Mat. sebagai Ketua Prodi S1 Keperawatan.
4. Dr. Gridho Handoko sebagai dosen mata ajar Sistem Respirasi.
5. Santi Damayanti,A.Md. sebagai ketua perpustakaan STIKES Hafshawaty
Zainul Hasan Genggong.
6. Teman-teman kelompok sebagai anggota penyusun makalah ini.
Pada akhirnya atas penulisan materi ini kami menyadari bahwa
sepenuhnya belum sempurna. Oleh karena itu, kami dengan rendah hati
mengharap kritik dan saran dari pihak dosen dan para audien untuk perbaikan dan
penyempurnaan pada materi makalah ini.

Probolinggo, September 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
iii
Halaman Sampul............................................................................................ i
Lembar Pengesahan........................................................................................ ii
Kata Pengantar............................................................................................... iii
Daftar Isi......................................................................................................... iv

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang............................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah....................................................................................... 2
1.3 Tujuan......................................................................................................... 2
1.4 Manfaat....................................................................................................... 3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Anatomi dan Fisiologi ................................................................................ 5
..........................................................................................................................
2.2 Definisi....................................................................................................... 6
2.3 Epidemiologi............................................................................................... 6
2.4 Etiologi....................................................................................................... 7
2.5 Klasifikasi................................................................................................... 7
2.6 Patofisiologi................................................................................................ 9
2.7 Manifestasi kilinis....................................................................................... 12
2.8 Pemeriksaan penunjang.............................................................................. 12
2.10 Penatalaksanaan........................................................................................ 12
2.11 Komplikasi................................................................................................ 14

BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN TEORI


3.1 Pengkajian .................................................................................................. 15
3.2 Diagnosa keperawatan................................................................................ 17
3.3 Intervensi keperawatan............................................................................... 17
BAB 4 PENUTUP
4.1 Kesimpulan................................................................................................. 20
4.2 Saran........................................................................................................... 20

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 21

iv
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kejadian cedera dada merupakan salah satu trauma yang sering terjadi, jika tidak
ditangani dengan benar akan menyebabkan kematian1,2, kejadian trauma dada terjadi
sekitar seperempat dari jumlah kematian akibat trauma yang terjadi, serta sekitar
sepertiga dari kematian yang terjadi berbagai rumah sakit3. Beberapa cedera dada yang
dapat terjadi antara lain, tension pneumothoraks, pneumotoraks terbuka, flail chest,
hematotoraks, tamponade jantung3,4,5. Kecelakaan kendaraan bermotor paling sering
menyebabkan terjadinya trauma pada toraks. Tingkat morbiditas mortalitas akan
meningkat dan menjadi penyebab kematian kedua didunia pada tahun 2020 menurut
WHO (Word Health Organitation).3 Pneumotoraks merupakan suatu cedera dada yang
umum di temukan pada kejadian trauma diluar rumah sakit, serta merupakan kegawat
daruratan yang harus di berikan penanganan secepat mungkin untuk menghindari dari
kematian. Insiden pneumotoraks tidak diketahui secara pasti dipopulasi, dikarenakan
pada literatur literatur, angka insidennya di masukan pada insiden cedera dada atau
trauma dada. Sebuah penelitian mengatakan 5,4% dari seluruh pasien menderita trauma,
merupakan pasien yang mengalami pneumotoraks. Kurangnya pengetahuan untuk
mengetahui tanda dan gejala dari pneumotoraks terdesak menyebabkan banyak penderita
meninggal setelah atau dalam perjalanan menuju kerumah sakit. Sebenarnya penanganan
pneumotoraks terdesak dapat dilakukan dengan bantuan hidup dasar tanpa memerlukan
tindakan pembedahan, sebelum mengirim pasien ke pusat pelayanan medis terdekat,
sehingga disini diperlukan
pengatuhan untuk identifikasi awal dari gejala pneuomotoraks terdesak, memberikan
bantuan hidup dasar, dan mengirimnya ke tempat pelayanan medis terdekat, untuk
mengurangi tingkat mobiditas dan mortalitas.
Pneumothoraks spontan adalah keadaan terdapatnya udara atau gas dalam rongga
pleura yang dapat menyebabkan paru kolaps baik total maupun sebagian tanpa didahului
adanya trauma sebelumnya. Pneumothoraks spontan dibagi menjadi primer dan sekunder
berdasarkan adanya penyakit paru yang mendasari, pneumothoraks spontan primer jika
tidak terdapat latar belakang penyakit paru yang mendasari dan disebut pneumothoraks
spontan sekunder bila terdapat latar belakang penyakit paru yang mendasari
Insiden pneumothoraks sulit diketahui karena episodenya banyak yang tidak
diketahui, terjadi spontan dan tiba-tiba. Pria mempunyai resiko lebih besar terkena
1
pneumothoraks spontan daripada wanita dengan perbandingan kurang lebih 5 : 1.
Pneumothoraks spontan dijumpai pada rentang usia yang bervariasi. Pneumothoraks
familial sering juga menimbulkan pneumothoraks spontan, diduga berhubungan dengan
HLA haplotipe A2, B40 dan alfa-1 antitripsin fenotip M1M2 namun menurut penelitian,
pneumothoraks familial ini justru lebih banyak terjadi pada wanita daripada pria .
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi timbulnya pneumothoraks spontan,
diantaranya : usia, jenis kelamin, pneumonia, sarkoidosis, penyakit membran hialin pada
neonatus, abses paru, tumor paru, asma, kistik fibrosis, benda asing, dan adanya bleb
atau bulla paru .
Gejala klinis yang timbul dapat bervariasi, mulai dari yang paling ringan sampai
yang paling berat, tergantung dari masing-masing individu. Penderita mengeluh sesak
nafas, nyeri dada, batuk non produktif, bahkan sampai batuk darah. Oleh karena itu
diperlukan terapi yang bervariasi, mulai dari observasi sampai tindakan
bedah.Pengelolaan pneumothoraks spontan sebenarnya sederhana, tidak selalu
membutuhkan multimodalitas, namun jika pengelolaan yang dilakukan tidak
mencukupi/adekuat akan menyebabkan resiko rekuren, terjadi komplikasi lain, atau
bahkan kematian penderita.
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik, tanda dan
gejala, tindakan pengelolaan, keberhasilan pengelolaan, dan komplikasi yang terjadi pada
penderita pneumothoraks spontan yang dirawat inap di rumah sakit di Semarang selama
periode 1 Januari 2000 - 31 Desember 2006. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan
bahan perbandingan serta landasan untuk penelitianselanjutnya di masa mendatang.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana asuhan keperawatan pneumothoraks ?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui asuhan keperawatan pneumothorak
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui anatomi dan fisiologi dari pneumothoraks
2. Mengetahui definisi dari pneumothoraks
3. Mengetahui epidimiologi dari pnuemothoraks
4. Mengetahui etiologi dari pneumothoraks
5. Mengetahui klasifikasi dari pneumothoraks
6. Mengetahui patofisiologi dari pneumothoraks
7. Mengetahui manifestasi klinis dari pneumothoraks
8. Mengetahui pemeriksaan diagnostik dari pneumothoraks
9. Mengetahui penatalaksanaan dari pneumothoraks
10. Mengetahui komplikasi dari pneumothoraks
11. Mengetahui asuhan keperawatan pada pneumothoraks

2
1.4 Manfaat
1.4.1 Bagi Institusi Pendidikan
a. Agar tercipta mahasiswa yang memahami penyakit Pneumothorak.
b. Menambah referensi pendidikan mengenai penyakit Pneumothorak pada
sistem Respirasi.
1.4.2 Bagi Mahasiswa
Untuk menambah pengetahuan atau wawasan tentang penyakit Pneumothorak
pada sistem Respirasi.

3
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. ANATOMI DAN FISIOLOGI

Dinding Thorax

Dinding thorax terdiri atas kulit, fascia, saraf, otot, dan tulang. Kerangka dinding
thorax membentuk sangkar dada osteokartilaginous yang melindungi jantung, paru-
paru, dan beberapa organ rongga abdomen. Kerangka thorax terdiri dari vertebra
thoracica dan discus intervertebralis, costae dan cartilago costalis, serta sternum.
Beberapa otot pernafasan yang melekat pada dinding dada antara
lain:

1. Otot-otot inspirasi : M. intercostalis externus, M. levator costae, M. serratus


posterior superior, dan M. Scalenus
2. Otot-otot ekspirasi : M. intercostalis internus, M. transversus thoracis, M. serratus
posterior inferior, M. subcostalis.

4
Traktus Respiratorius

Traktus respiratorius dibedakan menjadi dua, yaitu traktus respiratorius bagian


atas dan bagian bawah. Traktus respiratorius bagian atas terdiri dari cavum nasi,
nasofaring, hingga orofaring. Sementara itu, traktus respiratorius bagian bawah terdiri
atas laring, trachea, bronchus (primarius, sekundus, dan tertius), bronchiolus,
bronchiolus respiratorius, ductus alveolaris, dan alveolus. Paru-paru kanan terdiri atas 3
lobus (superior, anterior, inferior), sementara paru-paru kiri terdiri atas 2 lobus (superior
dan inferior). Masing-masing paru diliputi oleh sebuah kantung pleura yang terdiri dari
dua selaput serosa yang disebut pleura, yaitu pleura parietalis dan visceralis. Pleura
visceralis meliputi paru-paru termasuk permukaannya dalam fisuran sementara pleura
parietalis melekat pada dinding thorax, mediastinum dan diafragma. Kavum pleura
merupakan ruang potensial antara kedua lapis pleura dan berisi sedikit cairan pleura
yang berfungsi melumasi permukaan pleura sehingga memungkinkan gesekan kedua
lapisan tersebut pada saat pernafasan.

Fisiologi

Proses inspirasi jika tekanan paru lebih kecil dari tekanan atmosfer. Tekanan paru
dapat lebih kecil jika volumenya diperbesar. Membesarnya volume paru diakibatkan
oleh pembesaran rongga dada. Pembesaran rongga dada terjadi akibat 2 faktor, yaitu
faktor thoracal dan abdominal. Faktor thoracal (gerakan otot-otot pernafasan pada
dinding dada) akan memperbesar rongga dada ke arah transversal dan anterosuperior,
sementara faktor abdominal (kontraksi diafragma) akan memperbesar diameter vertikal
rongga dada. Akibat membesarnya rongga dada dan tekanan negatif pada kavum pleura,
paru-paru menjadi terhisap sehingga mengembang dan volumenya membesar, tekanan
intrapulmoner pun menurun. Oleh karena itu, udara yang kaya O2 akan bergerak dari
lingkungan luar ke alveolus. Di alveolus, O2 akan berdifusi masuk ke kapiler sementara
CO2 akan berdifusi dari kapiler ke alveolus. Sebaliknya, proses ekspirasi terjadi bila
tekanan intrapulmonal lebih besar dari tekanan atmosfer. Kerja otot-otot ekspirasi dan
relaksasi diafragma akan mengakibatkan rongga dada kembali ke ukuran semula
sehingga tekanan pada kavum pleura menjadi lebih positif dan mendesak paru-paru.
Akibatnya, tekanan intrapulmoner akan meningkat sehingga udara yang kaya CO2 akan
keluar dari peru-paru ke atmosfer (Syaifudin, 2011).

5
2.2. DEFINISI
Pneumothoraks adalah pengumpulan udara dalam ruang potensial antara pleura
viseral dan parietal (Arif Mansjoer, 2000).
Pneumotoraks adalah kondisi di mana terjadi kolaps parsial atau total pada paru-
paru. Kondisi yang menyebabkan pneumotoraks meliputi pembedahan dada,
penumpukan cairan tumor dari kanker, MV, dan trauma dada. Ketika paru-paru
sebagian kolaps, alveolus di daerah kolaps tidak dapat melakukan oksigenasi, dengan
demikian, hipoksemia dan hiperkarbia terjadi. Semakin tinggi persentase pneumotoraks
yang di temukan pada rontgen dada, semakin buruk masalah ventilasi (Cynthia Lee
Terry, 2013).
Pneumothoraks merupakan suatau keadaan terdapatnya udara di dalam rongga
pleura (Arif Muttaqin, 2014).

2.3. EPIDEMIOLOGI
Diperkirakan terdapat 20.000 kasus pneumotoraks spontan setiap tahunnya di
Amerika serikat. Berdasarkan penelitian Takeno dari Jepang, mulai dari tahun 1986
sampai dengan 1997, jika dibandingkan kasus tahun 1986 dengan tqhun 1995 terjadi
peningkatan 1,7 kali dan hasil survei tahun 1998 memperlihatkan terjadinya
peningkatan 1,5 kali pada data kasus 5 tahunan ( periode 1993-1997 ). Di Instalasi
Gawat Darurat ( IGD) Persahabatan Jakarta pada tahun 1999didapat 253 penderita
pneumotoraks dan angka ini merupakan 5,5 % kunjungan dari seluruh kasus respirasi
yang datang.
Peningkatan angka kejadian kasus pneumotoraks berdasarkan penelitian setiap
tahunnya, belum dapat dijelaskan dengan pasti.Habitus seseorang mempengaruhi
kecenderungan dirinya untuk menderita pneumotoraks spontan. Seseorang dengan
6
habitus tinggi dan kurus cenderung lebih mudah menderita pneumotorak spontan, lebih
tepatnya pneumotoraks spontan primer. Selain itu, peningkatan angka kejadian ini
mungkin berhubungan dengan polusi udara perubahan tekanan atmosfir, rokok,
peningkatan luas tubuh yang cepat, terutama pada keadaan ketidakseimbangan antara
penambahan berat dengan tinggi tubuh, dan belakangan ini dikatakan juga dipengaruhi
oleh genetik.
Terdapat hubungan antara insiden pneumotoraks spontan dengan jenis kelamin,
umur, dan penyakit penyerta. Pneumotoraks Spontan lebih banyak terjadi pada laki-laki
dibandingkan perempuan. Berdasarkan umur, terlihat 2 kali penambahan
kecenderungan pneumotoraks.Pada usia 20-30an dengan pneumotoraks spontan primer
(PSP) dan 50-60an dengan pneumotoraks spontan sekunder ( PSS).
Insiden pneumotoraks berulang setelah pneumotoraks spontan pertama sangat
bervariasi. Angka estimasi terjadinya pneumotoraks berulang pada PSP adalah 28 %
( 20 %- 60 %), dan pada PSS adalah 43 % ( 49% -47 %), setelah observasi 5 tahun dan
terutama terjadi pada bulan pertama setelah pneumotoraks spontan pertama. Terdapat
korelasi antara fibrosis paru, usia lebih dari 60 tahun dan peningkatan rasio tinggi/ berat
badan, jenis kelamin dan kebiasaan merokok dengan rekurensi . Walaupun angka
kejadian PSP pada perempuan lebih kecil daripada laki-laki namun angka rekurensinya
lebih besar dibandingkan laki-laki yaitu 71,4 % : 46,2 %.

2.4. ETIOLOGI
1. Infeksi saluran nafas
2. Adanya rupture bleb pleura
3. Traumatik misalnya pada luka tusuk
4. Acute lung injury yang disebabkan materi fisik yang terinhalasi dan bahan kimia
5. Penyakit inflamasi paru akut dan kronis penyakit paru obstruktif kronik (PPOK),
TB paru, abses paru, kanker dan tumor metastase ke pleura (NANDA, 2015).

2.5. KLASIFIKASI
Menurut NANDA 2015, pneumothoraks dapat diklasifikasikan menjadi spontan dan
traumatik.
1. Traumatik dapat dibagi lagi menjadi :
a. Pneumotorak iatroganik

7
Terjadi karena akibat komplikasi tindakan medis dan jenis ini dibedakan menjadi
dua yaitu :
1) Pneumotorak traumatic iatrogonik aksidental ini terjadi akibat tindakan
medis karena kesalahan atau komplikasi tindakan tersebut, misal pada
tindakan parasentesis dada, biopsy pleura, biopsy transbronkial, biopsy atau
aspirasi paru perkutaneus.
2) Pneumotorak traumatic iatrogonik artifical (deliberate) merupakan
pneumotorak yang sengaja dilakukan dengan cara mengisi udara kedalam
rongga pleura melalui jarum dengan suatu alat Maxwell box. Biasanya untuk
terapi tuberkolusis (sebelum era antibiotic), atau untuk menilai permukaan
paru.
b. Pneumotorak non-iatrogenik (accidental)
2. Pneumotoraks spontan dapat dibagi lagi menjadi primer (tanppa adanya penyakit
yang mendasarinya) ataupun sekunder (komplikasi dari penyakit paru akut atau
kronik) (NANDA, 2015).

Menurut Arif Muttaqin 2014, pneumothoraks terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu
terbuka, tertutup, dan ventil.
1. Pneumothoraks terbuka
Pneumothoraks yang terjadi akibat adanya hubungan terbuka antara rongga pleura
dan bronkhus dengan lingkungan luar. Dalam keadaan ini, tekanan intrapleura
disekitar nol (0) sesuai dengan gerakan pernafasan. Pada waktu inspirasi
tekanannya negatif dan pada waktu ekspirasi tekannannya positif.
2. Pneumothoraks tertutup
Rongga pleura tertutup dan tidak berhubungan dengan lingkungan luar. Udara yang
dulunya ada di rongga pleura (tekanan positif) karena direabsorbsi dan tidak ada
hubungan lagi dengan dunia luar maka tekanan udara dirongga pleura menjadi
negatif. Tetapi paru belum bisa berkembang penuh. Sehingga masih ada rongga
pleura yang tampak meskipun tekanannya sudah normal.
3. Pneumothoraks ventil
Ini merupakan pneumothoraks yang mempunyai tekanan positif berhubung adanya
fistel di pleura viseralis yang bersifat ventil.udara melalui bronkus terus ke
percabangannya dan menuju ke arah pleura yang terbuka. Pada waktu inspirasi,

8
udara masuk ke rongga pleura yang pada permulaannya masih negatif (Arif
Muttaqin, 2014).

2.6. PATOFISIOLOGI
Luka tembus dada merupakan penyebab umum pneumothoraks traumatik. Ketika
udara masuk ke dalam rongga pleura yang dalam keadaan normal bertekanan lebih
rendah dari tekanan atmosfir, paru akan kolaps sampai pada batas tertentu. Tapi tidak
terbentuk saluran terbuka, maka kolaps masif akan terjadi sampai tekanan dalam
rongga pleura sama dengan tekanan atmosfir. Mediastinum akan bergeser ke arah paru
yang kolaps dan dan dapat berpindah bolak-balik selama siklus pernapasan, sewaktu
udara keluar masuk rongga pleura.
Kalau cacat yang menyebabkan terbentuknya hubungan antara rongga pleura dan
atmosfir dapat menutup sendiri, maka ini dinamakan sebagai pneumothoraks tertutup.
Sebaliknya, jika hubungan itu tetap terbuka selama inspirasi dan menutup selama
ekspirasi (efek katup searah), banyak udara akan tertimbun dalam rongga pleura;
sehingga tekanannya akan melebihi tekanan atmosfir, akibatnya paru akan kolaps total.
Keadaan ini dikenal dengan nama pneumothoraks tekanan. Pneumothoraks tekanan ini
merupakan sesuatu keadaan gawat darurat yang harus cepat ditangani dengan aspirasi
udara dari rongga pleura.
Pneumothoraks sepontan adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan
suatu pneumothoraks yang terjadi secara tiba-tiba dan tak terduga dengan atau tanpa
penyakit paru yang mendasarinya. Penyakit paru yang sering menyebabkan penyakit
peneumothoraks sekunder spontan antara lain emfisema (pecahnya bleb atau bula),
pneumonia, dan neoplasma. Pneumothoraks akan terjadi apabila ada hubungan antara
bronkus atau alveolus dengan rongga pleura; sehingga udara dapat masuk ke rongga
pleura melalui kerusakan yang ada, menyebabkan pneumothoraks terbuka, tertutup,
atau pneumothoraks tekanan. Penumothoraks spontan dapat juga dialami oleh orang
muda yang kelihatannya sehat, biasanya berusia diantara 20 dan 40 tahun, dan disebut
pneumothoraks spontan idiopatik atau primer. Biasanya penyebabnya adalah pecahnya
bleb suppleura pada permukaan paru atau penyakit bula lokal. Penyebab terbentuknya
bleb atau bula pada orang yang sehat masih belum diketahui, tetapi kadang-kadang
dilaporkan adanya predisposisi familial.
Efusi pleura maupun pneumothoraks akan menghambat fungsi paru dengan
membatasi pengembangannya. Derajat gangguan fungsi dan kelemahan bergantung
9
pada ukuran dan cepatnya perkembangan penyakit. Kalau cairan tertimbun dengan
perlahan-lahan seperti yang terjadi pada efusi pleura, maka jumlah cairan yang cukup
besar mungkin akan berkumpul dengan sedikit gangguan fisik yang nyata. Sebaliknya
dekompresi paru yang cepat akibat pneumothoraks masif dapat disertai dengan syok
yang timbulnya cepat sekali (Sylvia Anderson Price, 2005).

PATHWAY
Trauma tajam dan tumpul, infeksi

10
Torak

Pneumothorak

Akumulasi udara dalam kavum pleura

Ekspansi paru menurun Pemasangan WSD

Ketidak efektifan Torakdraine bergeser Diskontinuitas jaringa


pola napas

Gangguan Merangsanga reseptor


Pemenuhan oksigen nyeri pada perifer dada

Paru kolaps Nyeri akut

Difusi alveoli menurun


Resiko infeksi kerusakan integritas kulit
Metabolisme kalori menurun

Tubuh kekurangan energi

Gangguan aktivitas

2.7. MANIFESTASI KLINIS


1. Peningkatan suhu dari empiema atau efusi pleura malignant(cairan paru - paru)
2. Kelelahan
3. Batuk
11
4. Nyeri dada pleuritik
5. Penurunan atau tidak ada suara napas di area pneumotoraks
6. Suara lemah (dull) atau datar (flat) bila di perkusi
7. Gesekan friksi pleura bisa terjadi (Cynthia Lee Terry, 2013).

2.8. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK


1. Foto toraks
Deviasi mediastinal menunjukkan adanya tegangan (tension). Umumnya didapat
garis penguncupan paru yang sangat halus (pleural line). Bila disertai darah atau
cairan lainnya akan tampak garis mendatar yang merupakan batas udara dan
cairan (air fluid level).
2. Saturasi oksigen harus diukur, biasanya normal kecuali adanya penyakit paru.
3. Ultrasonografi atau CT Scan Toraks baik dalam mendeteksi pneumotoraks kecil
dan biasanya digunakan setelah biopsi paru perkutan (NANDA,2015).

2.9. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan pneumotoraks bergantung pada jenis pneumotoraks yang dialaminya,
derajat kolaps, berat ringannya gejala, penyakit dasar, dan penyulit yang terjadi saat
melaksanakan pengobatan yang meliputi :
Tindakan Dekompresi
Membuat hubungan antara rongga pleura dengan lingkungan luar dengan cara :
1. Menusukkan jarum melalui dinding dada hingga masuk ke rongga pleura, dengan
demikian tekanan udara yang positif di rongga pleura akan berubah menjadi
negatif. Hal ini disebabkan karena udara keluar menuju jarum tersebut. Cara
lainnya melakukan penusukan ke rongga pleura memakai tranfusion set.
2. Membuat hubunga dengan udara luar melalui kotraventil :
Penggunaan pipa Wate Sealed Drainage (WSD).
Pipa khusus (kateter thoraks) steril, dimasukkan ke rongga pleura dengan
perantara troakar atau dengan bantuan klem penjepit (pen) pemasukan pipa
plastik (kateter thoraks) dapat juga dilakukan melalui celah yang telah dibuat
dengan bantuan insisi kulit dari sela iga ke-4 pada garis aksila tengah atau
pada garis aksila belakang. Selain itu, dapat pula melalui sela iga ke-2 dari
garis klavikula tengah. Selanjutnya, ujung selang plastik di dada dan pipa dan

12
pipa kaca WSD dihubungkan melalui pipa plastik lainnya. Posisi ujung pipa
kaca yang berada di botol sebaiknya berada 2 cm di bawah permukaan air
supaya gelembung udara dapat dengan mudah keluar melalui perbedaan
tekanan tersebut.
Pengisapan kontinu (continous suction).
Pengisapan di lakukan secara kontinu apabila tekanan intrapleura tetap positif.
Pengisapan ini dilakukan dengan cara memberi tekanan negatif sebesar 10-20
cmH2O. Tujuannya adalah agar paru cepat mengembang dan segera terjadi
perlekatan antara pleura viseralis dan pleura parietalis.
Pencabutan drain.
Apabila paru telah mengambang maksimal dan tekanan intrapleura sudah
negatif kembali, drain dapat dicabut. Sebelum dicabut, drain ditutup dengan
cara dijepit atau ditekuk selama 24 jam. Apabila paru tetap mengembang
penuh, drain dapat dicabut.
3. Tindakan bedah.
Pembukaan dinding thoraks dengan cara operasi, maka dapat dicari lubang yang
menyebabkan terjadinya pneumotoraks, lalu lubang tersebut di jahit.
4. Pada pembedahan, jika dijumpai adanya penebalan pleura yang menyebabkan paru
tidak dapat menegmbang, maka dapat dilakukan pengelupasan atau dekortisasi.
Pembedahan parukembali bila ada bagian paru yang mengalami robekan atau bila
ada fitsel dari paru yang rusak, sehingga paru tersebut tidak berfungsi dan tidak
dapat dipertahankan kembali.

Penatalaksanaan tambahan
1. Apabila terjadi proses lain di paru, pengobatan tambahan ditunjukan terhadap
penyebabnya, yaitu :
Terhadap proses tuberkulosis paru, diberi OAT.
Untuk mencegah obstipasi dan memperlancar defekasi, penderita diberi obat
laktasif ringan, dengan tujuan agar saat defeksi, penderita tidak perlu
mengejan terlalu keras.
2. Istirahat total
Klien dilarang melakukan kerja keras (mengangkat barang) batuk, bersin
terlalu keras, dan mengejan (Arif Muttaqin, 2014).
13
2.10. KOMPLIKASI
Komplikasi yang mungkin terjadi pada pneumothoraks meliputi:
1. penurunan curah jantung

2. hipoksemia

3. henti jantung (Jennifer P. Kowalak, 2011)

BAB 3

ASUHAN KEPERAWATAN

3.1. PENGKAJIAN

14
1. Identitas klien yang harus diketahui perawat meliputi nama, umur, jenis kelamin,
alamat rumah, agama, suku bangsa, bahasa yang dipakai, status pendidikan, dan
pekerjaan klien/asuransi kesehatan.

2. Keluhan utama meliputi sesak napas, bernapas terasa berat pada dada, dan keluhan
susah untuk melakukan pernapasan.

3. Riwayat penyakit saat ini

Keluhan sesak napas seringkali datang mendadak dan semakin lama semakin berat.
Nyeri dada dirasakan pada sisi yang sakit, rasa berat, tertekan, dan terasa lebih
nyeri pada gerakan pernapasan. Selanjutnya dikaji apakah ada riwayat trauma yang
mengenai rongga dada seperti pluru yang menembus dada dan paru, ledakan yang
menyebabkan peningkatan tekanan udara dan terjadi tekanan di dada yang
mendadak menyebabkan tekanan dalam paru meningkat, kecelakaan lalu lintas
biasanya menyebabkan trauma tumpul di dada atau tusukan benda tajam langsung
menembus pleura.

4. Riwayat penyakit dahulu

Perlu ditanyakan apakah klien pernah menderita penyakit seperti TB paru dimana
sering terjadi pada pneumothoraks spontan.

5. Riwayat penyakit keluarga

Perlu ditanyakan apakah ada aggota keluarga yang menderita penyakit-penyakit


yang mungkin menyebabkan pneumothoraks seperti kanker paru, asma, TB paru,
dan lain-lain.

6. Pemeriksaan fisik

a. B1 (Breathing)

Ispeksi

Peningkatan usaha dan frekuensi pernapasan, serta penggunaan otot bantu


pernapasaan. Gerakan pernapasan ekspansi dada yang asimetris (pergerakan
daa tertinggal pada sisi yang sakit), iga melebar, rongga dada asimetris

15
(cembung pada sisi yang sakit). Pengkajian batuk yang produktif dengan
sputum purulen. Trakhea dan jantung terdorong ke sisi yang sehat.

Palpasi

Taktil fremitus menurun pada sisi yang sakit. Disamping itu, pada palpasi juga
ditemukan pergerakan dinding dada yang tertinggal pada dada yang sakit. Pada
sisi yang sakit, ruang antar iga bisa saja normal atau melebar.

Perkusi

Suara ketok pada sisi sakit, hipersonor sampai timpani, dan tidak bergetar.
Batas jantung terdorong ke arah thoraks yang sehat, apabila tekanan
intrapleura tinggi.

Auskultasi

Suara napas menurun sampai menhilang pada sisi yang sakit. Pada posisi
duduk, semakin ke atas letak cairan maka akan semakin tipis, sehingga suara
napas terdengar amforis, bila ada fistel bronkophleura yang cukup besar pada
pneumothoraks terbuka.

b. B2 (Blood)

Perawat perlu memonitor dampak pneumothoraks pada status kardiovaskular


yang meliputi keadaan hemodinamik seperti nadi, tekanan darah, dan
pengisian kapiler darah (capilllary refill time - CRT).

c. B3 (Brain)

Pada inspeksi, tingkat kesadaran perlu dikaji. Selain itu, diperlukan juga
pemeriksaan GCS. Apakah compos mentris, somolen, atau koma.

d. B4 (Bladder)

Pengukuran volume output urine berhubungan dengan intake cairan. Oleh


karena itu, perawat perlu memonitor adanya oliguria. Oliguria merupakan
tanda awal dari syok.

e. B5 (Bowel)

16
Akibat sesak napas, klien biasanya mengalami mual dan muntah, penurunan
nafsu makan, dan penurunan berat badan.

f. B6 (Bone)

Pada trauma di rusuk dada, sering didapatkan adanya kerusakan otot dan
jaringan lunak dada sehingga menigkatkan resiko infeksi. Klien sering
dijumpai mengalami gangguan dalam memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-
hari disebabkan adanya sesak napas, kelemahan, dan keletihan fisik secara
umum (Arif Muttaqin, 2014).

3.2. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan ekspansi paru yang tidak maksimal
karena akumulasi udara/cairan.

2. Gangguan pemenuhan oksigen berhubungan dengan ekspansi paru menurun

3. Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan reflek spasme otot sekunder
(NANDA, 2015).

3.3. INTERVENSI KEPERAWATAN

1. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan ekspansi paru yang tidak maksimal
karena akumulasi udara/cairan.

Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan ...x24 jam, diharapkan ekspansi paru
maksimal.

Kriteria hasil:

a. Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien merasa tidak tercekik, irama nafas,
frekuensi pernapasan dalam rentang normal, tidak ada suara nafas abnormal)

b. Tanda vital dalam rentang normal

Intervensi keperawatan

17
a. Aukultasi suara nafas, catat bilaada suara tambahan

b. Monitor respirasi dan status O2

c. Monitor adanya kecemasan pasien terhadap oksigenasi

d. Monitro vital sign

e. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi

f. Pasang mayo bila perlu

g. Pertahankan jalan nafas yang paten

h. Kolaborasi dengan tim medis

2. Gangguan pemenuhan oksigen berhubungan dengan ekspansi paru menurun

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan ...x24 jam, diharapkan

Kriteria hasil :

a. Mendemonstasikan peningkatan ventilasi dan oksigenasi yang adekuat

b. Memelihara kebersihan paru-paru dan bebas dari tanda tanda disstres pernapasan

c. Tanda- tanda vital dalam batas normal

Intervensi keperawatan :

a. Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan

b. Monitor respirasi dan pertukaran O2

c. Monitor rata-rata, kedalaman, irama dan usaha respirasi

d. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi

e. Kolaborasi dengan tim medis

3. Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan reflek spasme otot sekunder.

Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan ...x24 jam, diharapkan

Kriteria hasil:
18
a. Mampu mengontrol nyeri

b. Tanda vital dalam rentang normal

Intervensi keperawatan

a. Monitor tanda-tanda vital

b. Monitor skala nyeri

c. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik,


durasi, frekuensi, kualitas

d. Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan

e. Kolaborasi dengan tim medis

BAB 4

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

19
Rongga pleura merupakan rongga sebagai ruang untuk paru melakukan kontraksi
dan relaksasi. Dimana jika di dalam rongga terdapat udara, maka udara tersebut dapat
menekan paru-paru dan menyebabkan paru-paru tidak dapat berkontraksi dan relaksasi.
Sehingga dapat mengakibatkan paru-paru mengecil karena tertekan oleh udara yang
terdapat pada rongga pleura. Pneumothoraks adalah suatu penyakit yang disebabkan
oleh Infeksi saluran nafas, adanya rupture bleb pleura, traumatik misalnya pada luka
tusuk, acute lung injury yang disebabkan materi fisik yang terinhalasi dan bahan kimia,
maupun Penyakit inflamasi paru akut dan kronis penyakit paru obstruktif kronik
(PPOK), TB paru, abses paru, kanker dan tumor metastase ke pleura. Karena hal itu
dapat menyebabkan udara akan masuk atau berada di rongga pleura.

Menurut NANDA, pneumothoraks dapat diklasifikasikan menjadi spontan dan


traumatik. Sedangkan menurut Arif Muttaqin, pneumotoraks spontan dapat dibagi
menjadi primer ataupun sekunder. Tanda gejala dari penemothoraks yaitu: peningkatan
suhu, kelelahan, batuk, nyeri dada pleuritik, penurunan atau tidak ada suara napas di
area pneumotoraks, suara perkusi lemah, terjadi gesekan friksi pleura. Penyakit
pneumothoraks dapat di tunjang dengan pemeriksaan foto toraks, saturasi oksigen,
ultrasonografi atau CT Scan Toraks. Komplikasi yang mungkin terjadi pada
pneumothoraks meliputi: penurunan curah jantung, hipoksemia, henti jantung.

3.2. Saran

Mengenai makalah yang kami buat, bila ada kesalahan maupun ketidaklengkapan
materi mengenai asuhan keperawatan pneumothoraks, kami mohon maaf. Kamipun
sadar bahwa makalah yang kami buat tidaklah sempurna. Oleh karena itu kami
mengharap kritik dan saran yang membangun.

DAFTAR PUSTAKA

H. Syaifudin, 2011. Anatomi dan Fisiologi. Jakarta: EGC

Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius

Terry, Cynthia Lee. 2013. Keperawatan Kritis. Yogyakarta: Rapha Publishing.

20
Muttaqin, Arif. 2014. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
pernapasan. Jakarta : Salemba Medika.

Nurarif, Amin Huda. 2015. NANDA NIC-NOC. Yogyakarta: Mediaction.

Kowalak, Jennifer P. 2011. Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta: EGC

21