Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM

KOSMETOLOGI
SEDIAAN BODY LOTION

disusun oleh
Kelompok 1A

Ridho Faiqyl Layaly 11141020000003


M.Sunny Haq Al Faaz 11141020000004
Muhammad Firmansyah 11141020000017
Suhelmi 11141020000018
Deki Yanto 11141020000019

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
MARET 2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Body Lotion yang beredar di pasaran menjadi pesat, dikarenakan konsumen sangat
membutuhkan sediaan kosmetik yang dapat mempertahankan kelembaban dan daya
tahan air pada lapisan kulit sehingga dapat melembutkan dan menjaga kehalusan kulit,
terutama kulit di daerah tropis seperti Indonesia. Sehingga industri membuat sediaan
kosmetik body lotion dengan inovasi inovasi yang unik. Inovasi ini yang membuat
kelompok 1A mencoba membuat sediaan body lotion menggunakan ekstrak lidah buaya.

1.2 Tujuan
1. Menjelaskan formulasi body lotion
2. Menjelaskan cara pembuatan body lotion
BAB II
TEORI DASAR

2.1. Pengertian Lotion


Lotion adalah sediaan kosmetika golongan emolien (pelembut) yang
mengandung air lebih banyak. Sediaan ini memiliki beberapa sifat, yaitu sebagai sumber
lembab bagi kulit, memberi lapisan minyak yang hampir sama dengan sebum, membuat
tangan dan badan menjadi lembut, tetapi tidak berasa berminyak dan mudah dioleskan.
Hand and body lotion (losio tangan dan badan) merupakan sebutan umum bagi sediaan
ini di pasaran (Sularto, et al, 1995).
Lotion dapat juga didefinisikan sebagai suatu sediaan dengan medium air yang
digunakan pada kulit tanpa digosokkan. Biasanya mengandung substansi tidak larut yang
tersuspensi, dapat pula berupa larutan dan emulsi di mana mediumnya berupa air.
Biasanya ditambah gliserin untuk mencegah efek pengeringan, sebaliknya diberi alkohol
untuk cepat kering pada waktu dipakai dan memberi efek penyejuknya (Anief, 1984).
Wilkinson 1982 menyebutkan, lotion adalah produk kosmetik yang umumnya berupa
emulsi, terdiri dari sedikitnya dua cairan yang tidak tercampur dan mempunyai viskositas
rendah serta dapat mengalir dibawah pengaruh gravitasi. Lotion ditujukan untuk
pemakaian pada kulit yang sehat.
Jadi, lotion adalah emulsi cair yang terdiri dari fase minyak dan fase air yang
distabilkan oleh emulgator, mengandung satu atau lebih bahan aktif di dalamnya. Lotion
dimaksudkan untuk pemakaian luar kulit sebagai pelindung. Konsistensi yang berbentuk
cair memungkinkan pemakaian yang cepat dan merata pada permukaan kulit, sehingga
mudah menyebar dan dapat segera kering setelah pengolesan serta meninggalkan lapisan
tipis pada permukaan kulit (Lachman et al., 1994).

2.2 Formulasi Lotion


Sediaan lotion tersusun atas komponen zat berlemak, air, zat pengemulsi dan
humektan. Komponen zat berlemak diperoleh dari lemak maupun minyak dari tanaman,
hewan maupun minyak mineral seperti minyak zaitun, minyak jojoba, minyak parafin,
lilin lebah dan sebagainya. Zat pengemulsi umumnya berupa surfaktan anionik,
kationik maupun nonionik. Humektan bahan pengikat air dari udara, antara lain
gliserin, sorbitol, propilen glikol dan polialkohol (Jellineck, 1970).
Dalam pembuatan lotion, faktor penting yang harus diperhatikan adalah fungsi
dari lotion yang dlinginkan untuk dikembangkan. Fungsi dari lotion adalah untuk
mempertahankan kelembaban kulit, melembutkan dan membersihkan, mencegah
kehilangan air, dan mempertahankan bahan aktif (Setyaningsih, dkk., 2007). Lotion
juga dipakai untuk menyejukkan, mengeringkan, anti pruritik dan efek protektif dalam
pengobatan dermatosis akut. Sebaiknya tidak digunakan pada luka yang berair sebab
akan terjadi caking dan runtuhan kulit serta bakteri dapat tetap tinggal di bawah lotion
yang menjadi cake (Anief, 1984). Komponen-komponen yang menyusun lotion adalah
pelembab, pengemulsi, bahan pengisi, pembersih, bahan aktif, pelarut, pewangi, dan
pengawet (Setyaningsih, dkk., 2007).
Proses pembuatan lotion adalah dengan cara mencampurkan bahan-bahan
yang larut dalam fase air pada bahan-bahan yang larut dalam fase lemak, dengan cara
pemanasan dan pengadukan (Schmitt, 1996). Bahan-bahan lainnya yang digunakan
dalam pembuatan lotion adalah sun screen, humektan, thickening, mineral oil, setil
alkohol, silikon dan preservatif. Sun screen berfungsi sebagai ultra violet filter, yaitu
melindungi kulit dari panas matahari juga bahan dasar pembuatan krim/lotion. Gliserin
sebagai humektan berfungsi menahan air di bawah lapisan kulit agar tidak keluar
sehingga mencegah kehilangan air yang berlebihan. Mineral oil dan silikon berfungsi
sebagai pelembab (moisturizing) kulit. (Setyaningsih, dkk., 2007).
Setil alkohol berfungsi sebagai surfaktan, emolient dan pelembab
(Setyaningsih, dkk., 2007). Selain itu, setil alkohol pada sedian lotion berfungsi sebagai
thickening agent (Rowe, et al., 2003) dengan konsentrasi 2%, 6% dan 10%. Thickening
merupakan pengental yang berfungsi sebagai pengikat fasa minyak dan fasa air yang
terkait dengan Hidrofil Lipofil Balance (HLB). Thickening agent adalah suatu zat yang
ditambahkan ke dalam suatu formula, yang berfungsi sebagai bahan pengental atau
pengeras di dalam formula lotion. Bahan pengental atau thickening agents digunakan
untuk mengatur kekentalan produk sehingga sesuai dengan tujuan penggunaan
kosmetik dan mempertahankan kestabilan dari produk tersebut (Mitsui, 1997). Bahan
pengental yang digunakan dalam pembuatan skin lotion bertujuan untuk mencegah
terpisahnya partikel dari emulsi. Umumnya water soluble polymers digunakan sebagai
bahan pengental yang diklasifikasikan sebagai polimer alami, semi sintetis polimer, dan
polimer sintetis (Mitsui, 1997). Menurut Schmitt (1996), bahan pengental polimer
seperti gum alami, derivat selulosa dan karbomer lebih sering digunakan dalam sistem
emulsi dibandingkan dalam formulasi berbasis surfaktan. Penggunaan bahan pengental
dalam pembuatan skin lotion biasanya digunakan dalam proporsi yang kecil yaitu
dibawah 2,5% (Strianse, 1996).

2.2. Studi PraFormulasi Zat Aktif dan Zat Tambahan


2.2.1. Asam Stearat
Rumus Molekul

Pemerian Kristal Putih atau Kuning berwarna, kristalin


padat, atau putih
Kelarutan Mudah larut dalam benzen, karbon
tetraklorida, kloroform, dan eter, larut dalam
etanol, heksan, dan propilen glikol
Praktis tidak larut dalam air
Konsentrasi 1 20 %
OTT Inkompatibel dengan hampir semua logam
hidroksida dan zat pengoksidasi
Stabilitas Zat stabil, harus disimpan di tempat tertutup
Kegunaan Mengeraskan sabun dan Menstabilkan Busa

2.2.2. Olive Oil

Pemerian Bentuk : cair


Warna : kuning pucat
Bau : lemah,tidak tengik,rasa khas pada suhu
rendah sebagian atau seluruhnya membeku
Kelarutan Sukar larut dalam etanol (95%) p mudah larut
dalam kloroform p dalam eter p dan dalam eter
minyak tanah p
OTT Minyak zaitun dapat disaponifikasi oleh
hidroksida alkali.Karena mengandung proporsi
yang tinggi dari asam lemak tak jenuh, minyak
zaitun rawan terhadap oksidasi dantidak
kompatibeldengan agen oksidasi
Stabilitas Zat stabil, harus disimpan di tempat tertutup
Kegunaan Membuat sabun menjadi tahan lama, lembut
dan mencegah kulit kering. Mengandung
vitamin, mineral dan protein yang berfungsi
mencegah hilangnya kelembapan alami kulit.

2.2.3. TEA

1. Rumus struktur

2. Nama kimia 2,20,200-Nitrilotrietanol


3. Nama lain TEA; Tealan; triethylolamine; trihydroxytriethylamine; tris
(hydroxyethyl)amine.
4. Rumus molekul C6H15NO3
5. Berat molekul 149,19
6. Organoleptis a Bentuk : berupa cairan kental, jernih, sangat
higroskopis
b Warna : tidak berwarna sampai berwarna kuning
pucat
c Bau : sedikit berbau amoniak
7. Kelarutan Pelarut Kelarutan pada suhu
200C
Aseton Dapat bercampur
Karbon tetraklorida Praktis tidak larut
Benzen 1 : 24
Etil eter 1 : 63
Metanol Dapat bercampur
Air Dapat bercampur
8. Titik lebur 20-21oC
9. Stabilitas dan TEA dapat berwarna coklat bila terpapar udara dan cahaya;
penyimpanan disimpan dalam wadah kedap udara, terhindar dari cahaya,
kering dan sejuk.
10. Inkompatibilitas TEA dapat bereaksi dengan asam mineral menjadi bentuk
garam dan ester, dengan asam lemak yang tinggi bentuk
garam dari TEA dapat laut dalam air dan mempunyai sifat
seperti sabun.
11. Fungsi Bahan alkali, emulgator
12. Aplikasi agen akali, agen pengemulsi dengan penggunaan TEA 2-
4% v/v

2.2.4. Nipagin

1. Rumus struktur

2. Nama kimia Methil-4-hidroksibenzoat


3. Nama lain E218; 4-hydroxybenzoic acid methyl ester; methyl p-
hydroxybenzoate; Nipagin M; Uniphen P-23.
4. Rumus molekul C8H8O3
5. Berat molekul 152,15 g/mol
6. Organoleptis a Bentuk : kristal atau bubuk kristal
b Warna : tidak berwarna atau putih
c Bau : berbau atau hampir tidak berbau
d Rasa : terbakar sedikit
7. Kelarutan Pelarut Kelarutan pada suhu 250C
Etanol 1:2
Etanol (95%) 1:3
Etanol (50%) 1:6
Eter 1 : 10
Gliserin 1 : 60
Minyak mineral Parktis tidak larut
Minyak kacang 1 : 200
Propilen glikol 1:5
Air 1 : 400
1 : 50 pada suhu 500C
1 : 30 pada suhu 900C
8. pH 4-8
9. Stabilitas dan Disimpan dalam wadah tertutup baik, kering
penyimpanan dan sejuk. Larutan nipagin pH 3-6 harus disterilkan
dengan autoklaf pada suhu 120oC selama 20 menit.
10. Inkompatibilitas Aktivitas antimikroba dan metil paraben jauh
berkurang dengan adanya surfaktan nonionik,
seperti polisorbat 80, sebagai akibat dari
aktivitas pembentukan misel. Namun, propilen
glikol (10%) telah ditunjukkan untuk
mempotensiasi antimikroba yang dari paraben
di hadapan surfaktan nonionik dan mencegah
interaksi antara metil dan 80 polisorbat.
Inkompatibilitas lain dengan zat, seperti
bentonit, magnesium trisilikat, talk, tragacanth,
natrium alginat, minyak esensial, sorbitol, dan
atropin juga bereaksi dengan berbagai gula.
11. Fungsi Pengawet (antimikroba). Biasanya digunakan kombinasi
sebagai pengawet dengan perbandingan metal paraben
(0,185) dan propil paraben (0,02%).
12. Aplikasi Penggunaan Konsentrasi (100%)

Sediaan topikal 0,02-0,3

Larutan oral dan suspensi 0,015-0,2

Sediaan rektal 0,1-0,18

2.2.5. Gliserin

Rumus Molekul C3H8O3

Pemerian Cairan jernih seperti sirup, tidak


berwarna, rasa manis, berbau khas lemah
(tajam atau tidak enak), higroskopik,
netral terhadap lakmus.

Kelarutan Dapat bercampur dengan air dan dengan


etanol, tidak larut dalam kloroform,
dalam eter, dalam minyak lemak dan
minyak menguap

Stabilitas Bersifat Higroskopis, dekomposisi oleh


pemanasan, gliserin akan mengkristal
pada suhu rendah

Inkompatibilitas Kromium trioksida, Potassium Klorat,


Potassium permanganat

Penyimpanan Dalam wadah tertutup rapat, ditempat


berudara kering dan dingin

Fungsi Humektan/ Pelembab Kulit

2.2.6. Setil Alkohol

Rumus Molekul C16H34O

Pemerian bentuknya seperti lilin, lapisan putih,


granul, bau lemah.

Inkompatibilitas Pengoksidasi Kuat

Penyimpanan Dalam wadah tertutup rapat, ditempat


berudara kering dan dingin

Fungsi pembasah 5%, pengemulsi 2-5%,


stiffening 2-10%, emolient 2-5%.

2.2.7. Vitamin E

Pemerian Cairan berminyak kental, jernih,


tidak berwarna, atau cokelat
kekuningan; tidak berbau dan tidak
berasa.

Kelarutan Praktis tidak larut dalam air, mudah larut


dalam aseton, etanol, eter, dan minyak
nabati.

Stabilitas Tokoferol teroksidasi oleh adanya


oksigen atmosfer secara perlahan dan
dipercepat oleh adanya garam besi dan
perak. Tokoferol harus disimpan dalam
gas inert, dalam wadah kedap udara yang
sejuk dan kering dan terlindung dari
cahaya.

Fungsi AntiOksidan
BAB III
METODOLOGI KERJA

3.1. Prosedur Kerja

Fase minyak (Olive oil, asam Fase Air (TEA, Gliserin,


stearat, Setil Alkohol) Nipagin, Air) dipanaskan di
dilebur di atas penangas air atas penangas air hingga
hingga 70oC suhu 70oC

Setelah dingin (40oC)


Campurkan fase minyak dan
tambahkan vit E, kemudian
fase air kedalam mortir
ditambahkan parfum dan
yang sebelumnya telah
diaduk hingga homogen
dihangatkan. Aduk hingga
terbentuk massa putih

Masukkan Wadah Lakukan Evaluasi


BAB IV
HASIL DAN PERHITUNGAN

4.1. Perhitungan Formula

Ekstrak Lidah Buaya : 2% x 100 gram = 2 gram

Asam Stearat : 4% x 100 gram = 4 gram

Olive Oil : 5% x 100 gram = 5 gram

Gliserin : 10% x 100 gram = 10 gram

TEA : 1% x 100 gram = 1 gram

Setil Alkohol : 1% x 100 gram = 1 gram

Nipagin : 0,1% x 100 gram = 0,1 gram

Vitamin E : 0,5% x 100 gram = 0,5 gram

Aquadest : 100 (23,6) = 76,4 gram

4.3. Hasil Praktikum

Keasaman pH 7

OrganOleptis Warna : Putih

Bau : Parfum

Tekstur : Konsistensi sedikit encer

Daya Sebar Baik

Homogenitas Homogen

Kenyamanan Nyaman, dengan hilangnya tidak terlalu


lama
BAB V
PEMBAHASAN

Emulsi adalah suatu sistem termodinamik yang stabil, suatu system heterogen
yangterdiri dari paling sedikit 2 cairan yang tidak bercampur, dimana salah satunya sebagai
fase dalam fase terdispersi (fase internal) terdispersi secara seragam dalam bentuk tetesan
tetesan kecil pada medium pendispersi (fase eksternal) yang distabilkan dengan emulitgator
yang cocok. Dimana komposis emulsi yaitu Emulsi mempunyai 3 komponen umum yaitu:
fase terdispersi atau fase internal, fase kontinyu atau fase eksternal, dan bahan pengemulsi.
Dalam percobaab kali ini formula yang akan dibuat yaitu tipe emulsi m/o (minyak dalam air).
Dimana tipe emulsi dalm minyak itu merupakan suatu emulsi dimana minyak terdispersi
sebagai tetesan-tetesan dalam fase air dan diistilahkan emulsi minyak dalam air.
Dalam sediaan kali ini menggunakan sediaan dalam bentuk emulsi dimana sediaan
tersebut adalah hand body lotion yang zat aktifnya terbuat dari vitamin E dan ekstrak lidah
buaya sebagai antioksidan. Dan jika di gabung mempunyai kekuatan yang lebih kuat.
Contohnya ketika tidak berdaya pada radikal bebas, akan dengan sendirinya menjadi radikal
bebas yang lemah, kemudian vitamin E didaur ulang sehingga menjadi vitamin E lewat
bantuan vitamin E kerjasama tersebut dengan cara menyumbangkan elektron ke vitamin E
sehingga dapat kembali menjadi antioksidan. Jadi kerjasama ini bermaksud untuk melindungi
sesama antoksidan agar tidak teroksidasi, siklus ini berjalan terus dan dapat memelihara
tubuh dan keseimbangan antioksidan dan bekerja secara sinergis dan memberikan efek yang
kuat. Adapun cara kerja dalam percobaan ini yaitu Disiapkan alat dan bahan yang akan
digunakan. Ditimbang semua bahan yang akan digunakan, setelah itu dipisahkan antara fase
air dan fase minyaknya, dimana bahan fase minyak yaitu olive oil, asam stearat, setil alkohol.
Minyak zaitun (Olive oil) digunakan sebagian pelembut yang banyak digunakan dalam
sediaan kosmetik. Bahan pada fase air yaitu TEA, gliserin, Nipagin, Aquades. Bahan pada
fase minyak dimasukkan semua kedalam wadah A dan pada fase air dalam wadah B, dengan
air suling masing-masing. Wadah A dipanaskan sampai semua bahan yang ada dalam wadah
melebur. Dicampurkan bahan yang ada dalam wadah A dan B dalam mortir kemudian
homogenkan dengan keras sampai homogen. Kemudian dimasukkan vitamin e, lalu
homogenkan kembali. Kemudian dituang kedalam botol dan diberi etiket.
Secara toritis, Vitamin E larut minyak dimana fungsi biologisnya belum diketahui
dengan jelas, mungkin sekali vit. E bekerja sebgaiantoksidan yang melindungi asam lemak
tak jenuh terhadap oksida radikal oksigen yang biasanya dibebaskan pada proses
metabolisme hati.
Pemilihan antioksidan banyak senyawa organik mudah mengalami antioksidan bila
dipaparkan ke udara dan lemak yang teremulsi terutama peka terhadap serangan.antioksedan
adalah suaturantai radikal bebas oksidasi . Oleh karena itu, reaksi tersebut dapat dihambat
dngan tidak hanya dengan oksigen, oleh pemecah rantai radikal bebas atau suatu zat
pereduksi. Bahan-bahan yang berguna yaitu asam galat, propil galat, asam askorbat, askorbil
palmitat, dan sulfit dimana pada konsentrasi berkisar 0,001-0,1%. Dan Alfatokoferol sebagai
sumber vitamin e dimana memperlihatkan berbgai macam antioksidan, beta, delta, dan
gamma tokoferol menjadi efektif sebagai antioksidan, alfa-tokoferolsangat mudah larut dalam
lemak dan bahan pelarut untuk berbagai obat dengan range konsentrasi 0,081-0,05 % v/v .
Dalam sediaan ini dibuat dalam bentuk emulsi mempunyai alasan dimana Emulsi untuk
pemakaian luar hampir tipe minyak dalam air. Rasa dan bau dari obat/fase minyak dapat
segera tertutupi jika diformulasi dalam bentuk emulsi.
Fase luar berair efektif mengisolasi minyak dari rasa dan pengurangan dosis sehingga
mudah ditelan dengan sejumlah minyak. Krim minyak dalam air mempunyai keuntungan
yaitu dapat cepat dioleskan diatas kulit, dicampur dengan eksudat air dan dapat dihilangkan
dari kulit dengan pencucian. Aksi obat diperpanjang dari beberapa emulsi karena obat -obatan
tersebut berdifusi dari fase air terdispersi melalui medium fase kontinyu minyak untuk
mencapai aliran/sirkulasi jaringan.
DAFTAR PUSTAKA

Suminar, Hart..2003. Kimia Organik Edisi Kesebelas.Jakarta: Erlangga


Fessenden dan Fessenden.1982.Kimia Organik Edisi Ketiga Jilid Dua.Jakarta:Erlangga
(___,https://kim.ung.ac.id%2FKIMFMIPA.pdf) (diakses pada tanggal 20 Maret 2017)
(___,http://library.usu.ac.id/download/ft/tkimia-Netti.pdf) (diakses pada tanggal 20 Maret
2017)
(___,https://prosiding.lppm.unisba.ac.id/Sains/article/download/125.pdf) (diakses pada
tanggal 20 Maret 2017)
(___,http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/tmp/analisis%20lipid.pdf) (diakses pada tanggal
20 Maret 2017)
(___,http://jtk.unsri.ac.id/index.php/jtk/article/viewFile/94/93.pdf) (diakses pada tanggal 20
Maret 2017)
(___,http://digilib.its.ac.id/public/ITS-NonDegree-30226-2310030059-Chapter1.pdf) (diakses
pada tanggal 20 Maret 2017)