Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

MASA USIA DINI (2 6 TAHUN)

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Perkembangan Peserta Didik

Dosen Pengajar :
Dr. H. Iskandar Zulkarnain, M.Si
Juhairiah,S.Pd., M.Pd.
Mitra Pramita, M.Pd.

Disusun oleh :
RINDA ALVINA :1610118120014
NIDA :1610118320028
RAHMADANIAH : A1C615026
MUHAMMAD MILKY :1610131310012
AHMAD RIFAI :1610131210002
M. REZEKI ALFARIZZI :1610118310020

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ILMU KOMPUTER & MATEMATIKA


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
2017
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb
Segala puji dan syukur hanya bagi Allah SWT semata atas rahmat dan
hidayah-Nya. Salawat dan salam tercurahkan kepada Rasulullah SAW beserta
keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga akhir zaman. Alhamdulillah hanya
dengan kekuatan dan kemudahan yang diberikan-Nya, maka penulis dapat
menyelesaikan karya tulis yang disusun untuk memenuhi tugas
perkembangan peserta didik dengan membahas Masa Usia Dini (2-6
tahun).
Penulis sepenuhnya menyadari bahwa segala daya upaya yang telah penulis
lakukan tidak terlepas dari bantuan dan dukungan berbagai pihak. Oleh karena itu,
pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada Bapak Dr. H. Iskandar Zulkarnain, M.Si
Penulis menyadarari bahwa masih banyak kekurangan yang ditemukan
dalam karya tulis ini. Oleh karena itu penulis mengharapkan saran, kritik, dan
masukan yang sifatnya membangun. Selanjutnya apabila terdapat kesalahan
baik materi yang tersaji maupun dalam teknik penyelesaiannya, penulis
memohon maaf yang sebesar-besarnya. Akhir kata, semoga apa yang terdapat
dalam karya tulis ini dapat bermanfaat bagi pihak yang berkepentingan.

Banjarmasin, 17 Februari 2017

Penulis,

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................i

DAFTAR ISI............................................................................................................ii

BAB I.......................................................................................................................1

PENDAHULUAN...................................................................................................1

A. Latar Belakang..............................................................................................1

B. Rumusan Masalah.........................................................................................2

C. Tujuan...........................................................................................................2

BAB II......................................................................................................................3

KAJIAN TEORI......................................................................................................3

A. Anak Usia Dini..............................................................................................3

B. Perkembangan Fisik pada Anak Usia Dini...................................................4

C. Perkembangan Kognitif atau Intelektual pada Anak Usia Dini....................5

D. Perkembangan Emosi....................................................................................6

E. Perkembangan Sosial dan Moral pada Anak Usia Dini................................8

F. Implementasi pada Pendidikan Anak Usia Dini.........................................10

BAB III..................................................................................................................13

PENUTUP..............................................................................................................13

A. Kesimpupulan.............................................................................................13

B. Saran............................................................................................................13

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................14

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkembangan yang terjadi pada anak meliputi segala aspek kehidupan
yang mereka jalani baik bersifat fisik maupun non fisik. Perkembanmgan
berarti serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari
proses kematangan dan pengalaman.
Perkembangan adalah suatu proses perubahan, yaitu perubahan dari
suatu keadaan menjadi keadaan yang lain, dan ini terjadi pada diri seseorang
secara terus-menerus sepanjang hayatnya. Perkembangan meliputi
perkembangan fisik dan non fisik. Beberapa teori perkembangan manusia
telah mengungkapkan bahwa manusia telah tumbuh dan berkembang dari
masa bayi kemasa dewasa melalui beberapa langkah jenjang. Dalam
perjalanan hidupnya menjadi dewasa, perkembangan ruhani tidak lepas dari
pengaruh keturunan dan pengaruh dunia lingkungan tempat seseorang hidup
dan dibesarkan.
Setiap fenomena/gejala perkembangan anak merupakan produk dari
kerja sama dan pengaruh timbal balik antara potensi alitas hereditas dengan
faktor-faktor lingkungan, jelasnya perkembangan merupakan produk dari :
1. pertumbuhan berkat pematangan fungsi-fungsi fisik,
2. pematangan fungsi-fungsi psikis,
3. usaha belajar oleh anak, dalam mencoba segenap potensialitas rohani dan
jasmaniah.
Perkembangan itu bukan proses yang selalu digerakkan oleh faktor atau
pengaruh dari luar (di luar individu anak). Akan tetapi setiap gejala
perkembangan dikendalikan dan diberi corak tertentu oleh pembawaan bakat
dan kemauan anak. Jiwa anak yang dinamis memberikan kekuatan atau daya
dan corak tertentu. Pada segala tingkah lakunya, dan mendorong fase-fase
perkembangan. Juga ada impuls bawaan yang menghidupkan setiap
mekanisme proses jasmaniah rohaniah untuk terus berfungsi.

B. Rumusan Masalah
a. Apa Pengertian Masa Anak Usia Dini
b. Bagaimana Perkembangan Fisik pada Anak Usia Dini

1
c. Bagaimana Perkembangan Intelektual pada Anak Usia Dini
d. Bagaimana Perkembangan Emosi pada Anak Usia Dini
e. Bagaimana Perkembangan Sosial dan Moral pada Anak Usia Dini
f. Implikasi pada Pendidikan Anak Usia Dini

C. Tujuan
a. Memahami jenis-jenis Perkembangan Anak Usia Dini
b. Mengetahui Tahapan Perkembangan pada Anak Usia Dini
c. Memahami Implementasi Pendidikan pada Anak Usia Dini
d.

2
BAB II
KAJIAN TEORI

A Anak Usia Dini


1. Pengertian anak usia dini
Anak usia dini adalah anak yang berada pada rentan usia 0-8 tahun.
Menurut Beichler dan Snowman (Dwi Yulianti, 2010: 7), anak usia dini
adalah anak yang berusia anatara 3-6 tahun. Sedangkan hakikat anak usia dini
(Augusta 2012) adalah individu yang unik dimana ia memiliki pola
pertumbuhan dan perkembangan dalam aspek fisik, kognitif, sosio-emosional,
kreativitas, bahasa dan komunikasi yang khusus sesuai dengan tahapan yang
sedang dilalui anak tersebut. Dari berbagai definisi, peneliti menyimpulkan
bahwa anak usia dinia adalah anak yang berusia 0-8 tahun yang sedang dalam
tahap pertumbuhan dan perkembngan, baik fisik maupun mental.
Masa anak usia dini sering disebut dengan istilah golden age atau
masa emas. Pada masa ini hampir seluruh potensi mengalami masa peka
untuk tumbuh dan berkembang secara cepat. Perkembngan setiap anak tidak
sama karena setiap individu memiliki perkembangan yang berbeda.
Masa kanak-kanak merupakan masa saat anak belum mampu
mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Mereka cenderung senang
bermain pada saat bersamaan, ingin menang sendiri dan sering mengubah
aturan main untuk kepentingan diri sendiri. Dengan demikian, dibutuhkan
upaya pendidikan untuk mencapai optimalisasi semua aspek perkembngan,
baik perkembngan fisik maupun perkembngan fisikis. potensi anak sangat
penting untuk dikembangkan. potensi-potensi tersebut meliputi kognitif,
bahasa, sosio-emosional, kemampuan fisik dan lain sebagainya.
2. Karakteristik Anak Usia Dini
Anak usia dini memiliki karakter yang khas baik secara fisik, moral,
sosial dan sebagainya. Menurut Siti Aisyah, dkk (2010: 1.4-1.9)
kharakteristik anak usia dini antara lain;
a. Memiliki rasa ingi tahu yang sangat besar,
b. Merupakan pribadi yang unik,
c. Suka berfantasi dan berimajinasi,
d. Masa paling potensial untuk belajar,
e. Menunjukkan sikap egosentris,
f. Memiliki rentan daya konsentrasi yang pendek,

3
B Perkembangan Fisik pada Anak Usia Dini
Perkembangan fisik atau motorik akan mempengaruhi kehidupan anak
baik secara langsung ataupun tidak langsung (Hurlock, 1978: 114). Hurlock
menambahkan bahwa secara langsung , perkembangan fisik akan menentukan
kemampuan dalam bergerak. Secara tidak langsung, perkembangan fisik
akan mempengaruhi bagaimana anak akan memandang dirinya dan orang
lain.
Perkembangan fisik meliputi perkembangan badan, otot kasar dan otot
halus, yang selanjutnya lebih disebut motorik kasar dan motorik halus
(Slamet Suyanto, 2005: 49). Perkembagan motorik kasar berhubungan
dengan gerakan kasar yang terkordinasi dengan otak seperti berlari, berjalan,
melompat, memukul dan menarik. Sedangkan motorik halus berfungsi untuk
melakukan gerakan yang lebih spesifik seperti menulis, melipat,
menggunting, mengancing baju dan mengikat tali sepatu.
Berk menyatakan bahwa anak usia lima tahun memiliki banyak tenaga
seperti anak usia empat tahun, tetapi keterampilan gerak motorik halus
maupun kasar sudah mulai terarah dan terfokus pada tindakan mereka (Caroll
Seefelt dan Barbara A.Wasik, 2008: 67). Keterampilan gerak motorik lebih
diperhalus dan keterampilan gerak motorik kasar lebih gesit dan serasi.
Pada usia 4-6 tahun, keterampilan dalam menggunakan otot tangan dan
otot kaki sudah mulai berfungsi. Keterampilan yang berhubungan dengan
tangan adalah kemampuan memasukkan sendok kedalam mulut, menyisir
rambut, mengikat tali sepatu sendiri, mengancing baju, melempar dan
menangkap bola, menggunting, menggores pensil atau krayon, melipat kertas,
serta mengecet gambar dalam pola tertentu.
Dari kajian tentang perkembangan fisik-motorik dapat diketahui bahwa
pada anak usia 5-6 tahun (kelompok B) otot kasar dan otot halus pada anak
sudah berkembang. Anak memiliki banyak tenaga untuk melakukan kegiatan
dan umumnya mereka sangat aktif. Anak sudah dapat melakukan gerakan
yang terkordinasi. Keterampilan yang menggunakan otot kaki dan tangan
sudah berkembang dengan baik. Anak sudah dapat menggunakan tangannya
untuk menggoreskan pensil atau krayon sehingga anak dapat membuat
gambar yang diinginkannya. Gambar anak tersebut akan digunakan dalam
peningkatan kemampuan bicara anak.

4
D. Perkembangan Kognitif atau Intelektual pada Anak Usia Dini
Perkembangan kognitif menggambarkan bagaimana fikiran anak
berkembang dan berfungsi sehingga dapat berfikir (Mansur, 2005: 33). Keat
menyatakan bahwa perkembangan kognitif merupakan proses mental yang
mencakup pemahaman tentang dunia, penemuan pengetahuan, pembuatan
perbandingan, berfikir dan mengerti (Endang Purwanti dan Nur Widodo,
2005: 40). Proses mental yang dimaksud adalah proses pengolahan informasi
yang menjangkau kegiatan kognisi, intelgensi, belajar pemecahan masalah
dan pembentukan konsep. Hal ini juga menjangkau kreativitas, imajinasi dan
ingatan.
Anak pada usia 5-6 tahun berada pada tahap praoprasional. Pada tahap
ini anak mulai menunjukkan proses berpikir yang jelas. Anak mulai
mengenali beberapa simbol dan tanda termasuk bahasa dan gambar.
Penguasaan bahasa anak sudah sistematis, anak dapat melakukan permainan
simbolis. Namu, pada tahap ini anak masih egosentris (Slamet Suyanto, 2005:
55).
Sementara itu Santrock (2007: 153) menyatakan bahwa pada tahap
praoprasional, anak mulai merepresentasikan dunianya dengan kata-kata,
bayangan dan gambar-gambar. Anak mulai berfikir simbolik, pemikiran-
pemikiran mental muncul, egosentrisme tumbuh, dan keyakinan magis mulai
terkonstruksi. Pada tahap praoperasional dapat dibagi dalam sub-sub tahap,
yaitu sub tahapan fungsi simbolik dan sub tahapan pemikiran intuitif.
Sub tahap fungsi simbolik terjadi antara usia 2 sampai 4 tahun. Dalam
sub tahap ini anak mulai dapat menggambarkan secara mental sebuah objek
yang tidak ada. Menurut DeLoache, kemampuan ini akan sangat memperluas
dunia anak. Pada usia ini anakanak mulai menggunakan desain-desain acak
untuk menggambar orang, rumah, mobil, awan dan sebagainya (Santrock,
2007: 253). Mereka mulai menggunakan bahasa dan melakukan permainan
pura-pura. Namun pada sub tahap ini anak masih berfikir egosentris dan
animisme. Anak belum mampu membedakan perspektif diri sendiri dan
perspektif orang lain.
Sub-tahap pemikiran intuitif, terjadi antara usia 4 sampai 7 tahaun.
Anak mulai mempraktikan penalaran primitif dan ingin mengetahui jawaban
dari berbagai pertanyaan. Namun anak masih berfikir secara sentralisasi, yaitu

5
pemusatan perhatian pada suatu kerakteristik dan pengabaian karakteristik
lain. Cara berfikir anak pada tahap ini masih irreversible (tidak dapat dibalik).
Anak belum mampu meniadakan suatu tindakan dari arah sebaliknya.
Caroll Seefelt dan Barbara A.Wasik (2008: 81) menyatakan bahwa
imajinasi anak anak usia 5 tahun mulai berkembang, masih berfikir hal yang
konkret, dapat melihat benda dari kategori yang berbeda, senang menyortir
dan mengelompokan, pemahaman konsep meningkat, dan mengetahui tentang
apa yang asli dan palsu.
Dari kajian mengenai perkembangan kognitif anak diketahui bahwa
unsur yang menonjol pada tahap pra-operasional adalah mulai digunakanya
bahasa simbolis yang berupa gambaran dan bahasa ucapan. Anak dapat
berbicara tanpa dibatasi waktu sekarang dan dapat membicarakan satu hal
bersama-sama. Dengan bahasa anak dapat mengenal bermacam benda dan
mengetahui nama-nama benda yang dikenal melalui pendengaran dan
penglihatanya. Perkembangan bahasa ini akan sangat memperlancar
perkembangan kognitif anak.

E. Perkembangan Emosi
Emosi merupakan perasaan atau afeksi yang melibatkan perpaduan
antara gejolak fisiologis dan gelaja perilaku yang terlihat (Mansur, 2005: 56).
Perkembangan emosi memainkan peranan yang penting dalam kehidupan
terutama dalam hal penyesuaian pribadi dan sosial anak dengan lingkungan.
Adapun dampak perkembangan emosi adalah sebgaai berikut:
1) emosi menambah rasa nikmat bagi pengalaman sehari-hari,
2) emosi menyiapkan tubuh untuk melakukan tindakan,
3) emosi merupakan suatu bentuk komunikasi,
4) emosi mengganggu aktifitas mental, dan
6) reaksi emosi yang diulang-ulang akan menjadi kebiasaan (Soemantri,
2004: 142-143).
Seiring dengan bertambahnya usia anak, berbagai ekspresi emosi
diekspresikan secara lebih terpola karena anak sudah dapat mempelajari
reaksi orang lain (Yudha M Saputra dan Rudyanto, 2005: 26). Reaksi emosi
yang timbul berubah lebih proporsional, seperti sikap tidak menerima dengan
cemberut dan sikap tidak patuh atau nakal. Yudha M Saputra dan Rudyanto
(2005: 145) menambahkan beberapa ciri-ciri emosi pada anak antara lain:
1) emosi anak berlangsung singkat dan sementara,

6
2) terlihat lebih kuat dan hebat,
3) bersifat sementara,
4) sering terjadi dan
5) dapat diketahui dengan jelas dari tingkah lakunya.
Menurut Ericson, anak usia TK berada pada tahap innititive vs guilt
yang sedang berkembang kearah industry vs inferiority (Slamet Suyanto,
2005: 72). Ismail menyatakan bahwa pada tahap ini anak mengalami
perkembangan yang positif dalam kreativitas, banyak ide, imajinasi, bernani
mencoba, berani mengambil resiko dan mudah bergaul (Harun, 2009: 120).
Pada tahap ini anak dapat menunjukan sikap inisiatif, yaitu mulai lepas dari
ikatan orang tua, bergerak bebas dan mulai berinteraksi dengan lingkungan.
Mereka dituntut untuk mengembangkan perilaku yang diharapkan dalam
lingkungan sosialnya, serta bertanggungjawab atas apa yang dilakukanya. Hal
ini ditunjang dengan perkembangan motorik dan bahasanya yang sudah dapat
menjelaskan dan mencoba apa yang dia inginkan.
Menurut Caroll Seefelt dan Barbara A.Wasik (2008: 71-72), ada
beberapa karakteristik perkembangan sosial anak usia 5 tahun antara lain:
1) Dapat mengatur emosi dan mengungkapkan perasaan dengan cara yang
bisa diterima secara sosial.
2) Anak mampu memisahkan perasaan dengan tindakan mereka.
3) Mengahayati perilaku sosial yang pantas.
4) Kekerasan emosi dan ledakan fisik mulai berkurang karena anak telah
mampu mengungkapkan perasaan melalui kata-kata.

F. Perkembangan Sosial dan Moral pada Anak Usia Dini


1. Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial adalah proses pemerolehan kemampuan untuk
berperilaku yang sesuai dengan keinginan yang berasal dari dalam diri
seseorang dan sesuai dengan tuntunan dan harapan-harapan sosial yang
berlaku dalam masyarakat. Proses penanaman nilai sosial tersebut dilakukan
melalui tahap imitasi, identifikasi dan internalisasi. Proses imitasi adalah
proses peniruan terhadap tingkah laku atau sikap dan cara pandang orang
dewasa yang dilihat anak secara sengaja dari orang-orang terdekat. Proses
Identifikasi adalah proses terjadinya pengaruh sosial pada seseorang untuk
menjadi individu lain yang dikagumi/proses menyamakan tingkah laku sosial
orang yang berada disekitarnya sesuai dengan perannnya kelak di masyarakat.

7
Penting peran hukum dan hadiah untuk peniruan yang salah dan yang benar.
Dan proses internalisasi adalah proses penanaman dan penyerapan nilai-
nilai/relatif mantap dan menetapnya nilai-nilai sosial pada diri seseorang
sehingga nilai tersebut tertanam dan menjadi milik orang tersebut. Untuk itu
perlu pemahaman terhadap nilai yang baik dan yang buruk sehingga anak
dapat berkembang menjadi makhluk sosial yang sehat dan bertanggung jawab
Ciri anak yang masuk dalam masa peka perkembangan sosial adalah :
1.Adanya minat untuk melihat anak lain dan berusaha mengadakan kontak
2.Sosial dengan mereka. Mulai bermain dengan anak lain
3.Mencoba untuk bergabung dan bekerja sama dalam bermain.
4.Lebih menyukai bekerja dengan 2 sampai 3 anak yang dipilihnya sendiri.
Tahap perkembangan sosial pada anak usia 2-6 tahun.
18 bulan sampai 21 bulan Ketergantungan terhadap orang lain dalam
hal bantuan, perhatian dan kasih sayang. Mengerti sebagian apa yang
dikatakan kepada dirinya dan mengulangi kata yang diucapkan orang dewasa
dan banyak bercakap-cakap. Usia 3 tahun sampai 5 tahun anak sudah dapat
berbicara bebas pada diri 12 sendiri, orang lain, bahkan dengan mainannya,
mampu berbicara lancar, dan bermain dengan kelompok. Anak kadang
merasa puas bila bermain sendiri untuk waktu yang lama dan mulai
menyenangi kisah seseorang/tokoh dalam film. Dan 5 tahun sampai 6 tahun
Anak dapat bergaul dengan semua teman, merasa puas dengan prestasi yang
dicapai, tenggang rasa terhadap keadaan orang lain, dan dapat mengendalikan
emosi.
2. Perkembangan Moral
Pengertian perilaku moral secara umum adalah perilaku yang sesuai
dengan standar moral dari kelompok sosial tertentu. Perilaku moral ini
dikendalikan oleh konsep moral. Konsep moral terbentuk dari peraturan
perilaku yang telah menjadi kebiasaan bagi anggota suatu budaya. Jika ada
perilaku moral maka diidentifikasikan perilaku tak bermoral dan amoral.
Perilaku tak bermoral merupakan perilaku yang tidak sesuai dengan harapan
sosial atau konsep moral yang diakui masyarakat. Sedangkan perilaku
amoral/non moral merupakan perilaku yang ditampilkan karena
ketidakacuhan terhadap harapan kelompok sosial dan bisa saja terjadi karena
orang tersebut belum memahami peraturan atau ketentuan moral yang ada
dalam lingkungan tersebut (dilakukan tidak sengaja dilakukan). Perilaku

8
moral negatif anak termasuk dalam kelompok perilaku amoral karena anak
belajar untuk memahami peraturan yang berlaku dalam masyarakat. Contoh,
ketika anak bertamu kerumah orang, anak langsung duduk di atas meja, 2
selayaknya di rumah sendiri. Anak berlaku seperti itu karena anak belum
memahami dan belum tahu peraturan/tata krama bertamu kerumah orang.
Setelah orang tua memberi tahu bahwa apa yang dilakukan anak tidak benar
maka anak seharusnya tidak boleh melakukan hal yang sama sewaktu
bertamu. Namun jika perilaku negatif tersebut tetap diulangi maka tindakan
anak tidak dapat dikatakan sebagai perilaku amoral lagi tetapi perilaku tidak
bermoral.
Perkembangan moral pada anak-anak
1. Usia lahir sampai 3 tahun Seorang bayi yang baru dilahirkan merupakan
makluk yang belum bermoral (amoral/non moral). Bayi atau anak-anak
yang masih muda tidak mengetahui norma benar dan salah. Tingkah laku
anak dikuasai oleh dorongan yang tidak dikuasai tingkah laku tersebut
didasari dengan kecenderungan bahwa apa yang menyenangkan akan
diulang, sedangkan yang menyakitkan atau yang tidak enak tidak akan
diulang. Anak masih sangat muda intelek untuk menyadari dan
mengartikan bahwa suatu tingkah laku adalah tidak baik kecuali jika hal
itu menimbulkan rasa sakit.
2. Usia 3 sampai 6 tahun Dasar-dasar moralitas dalam kelompok sosial harus
sudah terbentuk pada usia 3 sampai 6 tahun. Anak tidak lagi terus menerus
diterangkan mengapa perbuatan ini salah atau benar namun ditunjukkan
bagaimana harus bertingkah laku dan jika tidak dilakukan maka anak akan
memperoleh hukuman. Anak melakukan perbuatan baik tanpa tahu
mengapa ia harus berbuat demikian. Anak melakukan perbuatan tersebut
untuk menghindar hukuman yang mungkin dialami dari lingkungan sosial
dan untuk mendapatkan pujian.
G. Implementasi pada Pendidikan Anak Usia Dini
Implementasi Pendidikan Karakter pada Pembelajaran Bahasa di PGA
Alam Uswatun Khasanah.
Implementasi pendidikan karakter pada pembelajaran bahasa di PGA
Uswatun Khasanah tampak dari pembelajaran yang terintegrasi. Selain
mengintegrasikan tiga keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, berbicara,

9
dan membaca. Pembelajaran bahasa juga terkandung pendidikan karakter.
Pada awal dan akhir pembelajaran bahasa, siswa berdoa bersama. Hal ini
menunjukkan bahwa penanaman pendidikan karakter sudah dimulai dari awal
sampai akhir pembelajaran. Siswa ditanamkan rasa bersyukurdanmengenal
Tuhan. Pada pembelajaran anak usia 2-3 tahun, pada saat anak mendengarkan
cerita atau dongeng yang dibacakan oleh guru mereka belajar untuk
menyimak, menghargai orang lain, perhatian, dan fokus. Dongeng yang
dipilihdisesuaikandengan indikator moral agama, sosial, emosi, dan
kemandirian. Pada waktu melakukan sesuatu sesuai dengan perintah guru,
pendidikan karakter yang ditanamkan di antaranya merespons orang lain,
rapi, disiplin, dan berbagi dengan teman. Pembelajaran bahasa terkait
penghargaan terhadap buku, siswa diberikan pendidikan nilai tentang
menghargai sesuatu, merawat, dan mencintai lingkungan termasuk buku.
Kelompok usia 3-4 tahun, implementasi pendidikan karakter pada
pembelajaran bahasa dapat diamati ketika siswa menirukan cara orang
membaca buku, memegang buku, membaca dengan posisi yang benar. Siswa
menghargai orang lain ketika berbicara, menghargai sesuatu, dan tertib.
Selain itu, pendidikan nilai tampak juga pada saat siswa melakukan dua
perintah yang dilakukan secara bersamaan. Karakter yang ditanamkan
bersikap sopan, patuh, dan bertanggung jawab. Pembelajaran
mengungkapkan bahasa dengan topikmenceritakanpengalaman yang dialami
juga termuat pendidikan nilai tentang sikap berbagai kepada orang lain,
menghargai orang lain, meyayangi ciptaan Tuhan, orang tua, teman,
lingkungan, binatang, tanaman, dan sebagainya. Pada pembelajaran
mengungkapkan bahasa, siswa meminta guru membacakan buku, tampak cara
mengungkapkan keinginan mereka dengan bahasa yang baik, sopan,
menghargai orang lain, tertib, disiplin, dan menghargai sesuatu dengan
menggunakan dan mengembalikan buku di tempat se-mula.
Implementasi pendidikan karakter pada pembelajaran bahasa di usia
anak 4-5 tahun juga tampak pada kegiatan belajar menyimak bahasa orang
lain, melakukan dua perintah sekaligus, memahami cerita yang dibacakan
guru, dan mengenal beberapa kata sifat. Pendidikan karakter yang ditanamkan
dalam kegiatan belajar tersebut di antaranya mengahargai orang lain,

10
sopan,patuh,disiplin, tanggung jawab, perhatian, dan berani. Pada
pembelajaran mengungkapkan bahasa, terintegrasi antara pendidikan karakter
dengan keterampilan berbahasa. Siswa dapat mengulang kalimat sederhana
yang diucapkan orang lain, menjawab pertanyaan sederhana yang diajukan
guru, dan menyebutkan kata-kata yang berkaitan dengan kegiatan sehari-hari.
Hal ini mengandung nilai patuh, menghargai orang lain, disiplin, berani,
tanggung jawab. Penanaman pendidikan karakter juga tampak ketika siswa
mengutarakan pendapat kepada orang lain, menyatakan alasan terhadap
sesuatu yang diinginkan, dan menceritakan kembali dongeng yang pernah
didengar. Pendidikan karakter yang ditanamkan dalam kegiatan tersebut
adalah sikap berani, bertanggung jawab, supel, menghargai orang lain, dan
mencintai sesama.
tahun juga tampak pada kegiatan belajar menyimak bahasa orang lain,
melakukan dua perintah sekaligus, memahami cerita yang dibacakan guru,
dan mengenal beberapa kata sifat. Pendidikan karakter yang ditanamkan
dalam kegiatan belajar tersebut di antaranya mengahargai orang lain,
sopan,patuh,disiplin, tanggung jawab, perhatian, dan berani. Pada
pembelajaran mengungkapkan bahasa, terintegrasi antara pendidikan karakter
dengan keterampilan berbahasa. Siswa dapat mengulang kalimat sederhana
yang diucapkan orang lain, menjawab pertanyaan sederhana yang diajukan
guru, dan menyebutkan kata-kata yang berkaitan dengan kegiatan sehari-hari.
Hal ini mengandung nilai patuh, menghargai orang lain, disiplin, berani,
tanggung jawab. Penanaman pendidikan karakter juga tampak ketika siswa
mengutarakan pendapat kepada orang lain, menyatakan alasan terhadap
sesuatu yang diinginkan, dan menceritakan kembali dongeng yang pernah
didengar. Pendidikan karakter yang ditanamkan dalam kegiatan tersebut
adalah sikap berani, bertanggung jawab, supel, menghargai orang lain, dan
mencintai sesama. Anak diajak naik andong berkeliling desa. Anak diajak
menanam padi di sawah, mengenal nasi wiwityang dibuat petani, menangkap
ikan, memberikan bantuan atau paket sembako pada orang-orang yang
membutuhkan, dan sebagainya. Pelibatan anak secara langsung menjadi cara
untuk menanamkan pendidikan karakter. Pada diri anak ditunjukkan
bagaimana mensyukuri nikmat Tuhan dengan mengenal alam sekitar,

11
menghargai orang lain, menyayangi sesama, perhatian, berani, disiplin, patuh,
tanggung jawab, dan sopan.

12
BAB III
PENUTUP

A Kesimpupulan
Setiap organisme, baik manusia maupun hewan, pasti mengalami peristiwa
perkembangan selama hidupnya. Perkembangan ini meliputi seluruh
bagian dengan keadaan yang dimiliki oleh organisme tersebut, baik yang
bersifat kongret maupun yang bersifat abstrak, jadi arti peristiwa
perkembangan itu khususnya pada manusia tidak hanya tertuju pada aspek
psikologis saja, tetapi juga aspek biologis.
Perkembngan merupakan serangkain perubahan frogresif yang terjadi
sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman dan terdiri atas
serangkaian perubahan yang bersifat kualitatif dan kuantitatif ( E.B
harlock ). Dimaksudkan bahwa perkembngan adalah peroses perubahan
individu yang terjadi dari kematangan (kemampuan seseorang sesuai usia
normal ) dan pengalaman yang merupakan interaksi antara individu
dangan lingkungan sekitar yang menyebabkan perubhan kualitatif dan
kuantitatif yang menyebabkan perubahan pada diri individu tersebut.
Perkembangan anak berlangsung secara kontinum, tingkat perkembangan
yang dicapai pada suatu tahap diharapkan meningkat secara kuantitatif
maupun kualitatif pada tahap selanjutnya.
H. Saran
Sebagai seorang pendidik, selain memberikan rangsangan kepada peserta
didik untuk mengembangkan keterampilan dan keilmuan anak didik, kita
juga sebaiknya memperhatikan tingkah atau tahapan-tahapan
perkembangan anak. Dari uraian diatas maka penulis dalam hal ini
mengajukan beberapa saran antara lain:
1. Perlu adanya pengembangan yang lebih optimal terhadap pendidikan
anak usia dini, baik yang dilakukan oleh pemerintah, keluarga maupun
masyarakat.
2. Masa prasekolah yang disebut dengan masa keemasan perkembanga
intelektual seharusnya dijadikan dasar bagi upaya meningkatkan
kemajuan upaya meningkatkan kemajuan pendidikan di Indonesia.

13
DAFTAR PUSTAKA
Referensi

Elizabeth B Hurlock (1978). Perkembangan Anak Jilid 1. Jakarta:Erlangga.

Sunarto dan B. Agung Hartono. 2008. Perkembangan Peserta Didik, jakarta:


Rineka cipta

Djlani, M. Bisri. 2011. Pisikologi Pendidikan, Boston: PT indeks

http://PERKEMBANGAN%20PESERTA%20DIDIK/aspek-perkembangan-
pembiasaan%20moral%20dan%20sosial.pdf

14