Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN

PRAKTIKUM MESIN FLUIDA DAN SISTEM


SEMESTER GENAP 2013/2014

OLEH:
KELOMPOK 03
1. RICARDO MARTIN LOPULALAN 4212100032
2. TEGUH JULIANTO 4212100038
3. RENNA WIDIASTITI WIDODO 4212100044
4. FEBI SETYOWIDODO 4212100045
5. FAISAL ADAM 4212100048
6. DONNY ENDRA PRASTYA 4212100050
7. USWATUL CHASANAH 4212100051
8. MUHAMMAD HIZBULLAH ABRORI 4212101005
9. ABDUL HAFIDH MUHAMMAD 4212101006
10. USMAN NUR FAJAR 4213106003

LABORATORIUM MESIN FLUIDA DAN SISTEM


JURUSAN TEKNIK SISTEM PERKAPALAN
FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
2014
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PRAKTIKUM MESIN FLUIDA DAN SISTEM
SEMESTER GENAP 2013/2014

Disusun oleh:
KELOMPOK III
RICARDO MARTIN LOPULALAN 4212100032
TEGUH JULIANTO 4212100038
RENNA WIDIASTITI WIDODO 4212100044
FEBI SETYOWIDODO 4212100045
FAISAL ADAM 4212100048
DONNY ENDRA PRASTYA 4212100050
USWATUL CHASANAH 4212100051
MUHAMMAD HIZBULLAH ABRORI 4212101005
ABDUL HAFIDH MUHAMMAD 4212101006
USMAN NUR FAJAR 4213106003

Dengan ini Dapat Mengikuti Ujian Akhir Praktikum

Mengetahui/Menyetujui
Kepala Laboratorium Mesin Fluida dan Sistem

Sutopo Purwono Fitri, ST, M.Eng, Ph.D


NIP. 1975 1006 2002 12 1003

LABORATORIUM MESIN FLUIDA DAN SISTEM


JURUSAN TEKNIK SISTEM PERKAPALAN
FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
2014
PRAKTIKUM III
TURBIN PELTON
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PRAKTIKUM MESIN FLUIDA DAN SISTEM
TURBIN PELTON

Disusun oleh:
KELOMPOK III
RICARDO MARTIN LOPULALAN 4212100032
TEGUH JULIANTO 4212100038
RENNA WIDIASTITI WIDODO 4212100044
FEBI SETYOWIDODO 4212100045
FAISAL ADAM 4212100048
DONNY ENDRA PRASTYA 4212100050
USWATUL CHASANAH 4212100051
MUHAMMAD HIZBULLAH ABRORI 4212101005
ABDUL HAFIDH MUHAMMAD 4212101006
USMAN NUR FAJAR 4213106003

Dengan ini Telah Menyelesaikan Praktikum Mesin Fluida dan Sistem


TURBIN PELTON

Mengetahui/Menyetujui
Grader

Rafli Ramadani
NRP. 421 110 0017

LABORATORIUM MESIN FLUIDA DAN SISTEM


JURUSAN TEKNIK SISTEM PERKAPALAN
FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
2014
LEMBAR ASISTENSI
LAPORAN RESMI
PRAKTIKUM MESIN FLUIDA DAN SISTEM
TURBIN PELTON
TANGGAL
NO MATERI GRADER 1 GRADER 2
PENGESAHAN
ABSTRAK
I DASAR TEORI
II TAHAPAN PRAKTIKUM
2.1. TUJUAN PRAKTIKUM
2.2. PERALATAN PRAKTIKUM
2.3. GAMBAR RANGKAIAN
2.4. PROSEDUR PRAKTIKUM
2.5. DATA HASIL PRAKTIKUM
III ANALISA DATA
3.1. PERHITUNGAN
3.2. ANALISA GRAFIK
IV KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN (HASIL PRAKTIKUM)

LABORATORIUM MESIN FLUIDA DAN SISTEM


JURUSAN TEKNIK SISTEM PERKAPALAN
FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
2014
LEMBAR LOG-BOOK
LAPORAN RESMI
PRAKTIKUM MESIN FLUIDA DAN SISTEM
TURBIN PELTON

LABORATORIUM MESIN FLUIDA DAN SISTEM


JURUSAN TEKNIK SISTEM PERKAPALAN
FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
2014
ABSTRAK
Turbin air merupakan sarana untuk merubah energi potensial air menjadi energi mekanis. Energi potensial air
merupakan energi yang tersimpan oleh air itu sendiri. Sedangkan energi mekanis diubah oleh generator listrik
menjadi energi listrik. Turbin pelton merupakan turbin impuls (turbin air). Turbin pelton terdiri dari satu set sudu
jalan diputar oleh pancaran air yang disemprotkan dari satu atau lebih alat yang disebut nosel. Turbin pelton
adalah turbin yang cocok digunakan untuk head tinggi.Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui
performansi atau efisiensi dari turbin pelton. Dengan didapatkan data dari grader seperti tingkatan rpm 1000,
1200, 1400, 1600, dan 1800. Dengan bukaan spear 1, 2, 3, dan 4. Dalam praktikum ini diperlukan peralatan
antara lain: turbin Pelton, pompa, pressure gauge, spear, indikator gaya rem, rem prony, tachometer, flow
meter, dan motor. Dalam praktikum terdapat tiga variabel yaitu variabel kontrol, variabel manipulasi, dan
variabel respon. Variabel kontrolnya adalah Z discharge, panjang lengan, diameter turbin. Variabel
manipulasinya adalah rpm, bukaan spear, sedangkan variabel responnya adalah tekanan, kapasitas, dan gaya
rem. Rata-rata effiensi pada spear 1 sebesar 23,87 %, pada spear 2 sebesar 24,74 %, pada spear 3 sebesar
25,51 %, dan pada spear 4 sebesar 27,57 %. Aplikasi turbin pelton dalam dunia marine adalah sebagai
konfigurasi mesin utama seperti jet turbin.

ABSTRACT
Principle of turbine is change water potential energy becomes to mechanical energy. Pelton's turbine
comprises impulse turbine type that change all water energy become kinetic energy before enter turbines
runner. Changing energy it is done inside nozzle where water that originally has kinetic energy, in this case that
acquired of energy that gave by pump then is changed as kinetic energy on turbine blade. Turbine Pelton is
turbine would be convenient be utilized for high of head. The purpose of pelton's turbine attempt is meant to
know pelton's turbine performancy. And then of each that attempt will exist data that gave by guider which is
1200, 1400, 1600, 1800, 2000 Rpm and spear open 1, 2, 3, dan 4. From it attempt will get variables or data that
props, such as: capacity(Q), prony's arm size(L), brakes force(F), pressure(P). Average efficien on spear 1 get
the value 14.08 %,on spear 2 get the value 17.69 %,on spear 3 get the value 18.24 %,dan on spear 4 get the
value 19.70 %.Then by using known formula, we can get new data, are next to be plotted into graph.from all
graph, pelton's turbine performancy can be known. Aplication turbine pelton in marine is as main engine
configuration.
BAB I
DASAR TEORI

1.1. Pengertian Turbin

Turbin adalah sebuah mesin berputar yang mengambil energi dari aliran fluida, dimana energi fluida
kerja dipergunakan langsung untuk memutar roda turbin. Turbin sederhana memiliki satu bagian yang
bergerak, asembli rotor-blade. Bagian turbin yang berputar dinamakan rotor atau roda turbin, sedangkan
bagian yang tidak berputar dinamakan stator atau rumah turbin. Fluida yang bergerak menjadikan baling-baling
berputar dan menghasilkan energi untuk menggerakkan rotor. Contoh awal dari turbin adalah kincir
angin dan roda air. Sebuah turbin yang bekerja terbalik disebut kompresor atau pompa turbo.
Turbin gas, uap dan air biasanya memiliki casing sekitar baling-baling yang memfokus dan
mengontrol fluida. Casing dan baling-baling mungkin memiliki geometri variabel yang dapat membuat operasi
efisien untuk beberapa kondisi aliran fluida. Energi diperoleh dalam bentuk tenaga putaran shaft.
Penggunaan paling umum dari turbin adalah pemroduksian tenaga listrik. Hampir seluruh tenaga
listrik diproduksi menggunakan turbin dari jenis tertentu.
Turbin kadangkala merupakan bagian dari mesin yang lebih besar. Sebuah turbin gas, sebagai
contoh, dapat menunjuk ke mesin pembakaran dalam yang berisi sebuah turbin, kompresor, kombustor, dan
alternator.
Turbin dapat memiliki kepadatan tenaga (power density) yang luar biasa (berbanding dengan
volume dan beratnya). Ini karena kemampuan mereka beroperasi pada kecepatan sangat tinggi. Mesin utama
dari Space Shuttle menggunakan turbopumps (mesin yang terdiri dari sebuah pompa yang didorong oleh
sebuah mesin turbin) untuk memberikan propellant (oksigen cair dan hidrogen cair) ke ruang pembakaran
mesin. Turbopump hidrogen cair ini sedikit lebih besar dari mesin mobil dan memproduksi
70.000 hp (52,2 MW). Turbin juga merupakan komponen utama mesin jet.

1.2. Jenis Turbin


1.2.1. Berdasarkan Benda Kerja

Turbin angin adalah kincir angin yang digunakan untuk membangkitkan tenaga listrik. kini turbin
angin lebih banyak digunakan untuk mengakomodasi kebutuhan listrik masyarakat, dengan menggunakan
prinsip konversi energy dan menggunakan sumber daya alamyang dapat diperbarui yaitu angin.

Turbin gas adalah sebuah mesin berputar yang mengambil energy dari arus gas pembakaran. dia
memiliki kompressor naik ke atas dipasangkan dengan turbin turun ke bawah, dan sebuah bilik pembakaran di
tengahnya. Energi ditambahkan di arus gas pembakaran, di mana udara dicampur dengan bahan bakar dan
dinyalakan. Pembakaran meningkatkan suhu, kecepatan dan volume dari gas aliran. Kemudian diarahkan
melalui nozel melalui baling-baling turbin, memutarnya dan mentenagai kompressor.

Turbin air adalah sebuah mesin berutar yang mengambil energy kinetik dari arus air. salah satu
jenis turbin air adalah turbin pelton.
Turbin pelton atau biasa disebut turbin impuls adalah turbin reaksi di mana satu atau lebih pancaran
air menumbuk roda yang terdapat sejumlah mangkok. masing-masing pancaran keluar melalui nozzle dengan
valve untuk mengatur aliran. Turbin pelton hanya digunakan untuk head tinggi. Nozzle turbin berada searah
dengan piringan runner.

Gambar 1.2.1.1. Turbin Pelton Gambar 1.2.1.2. Turbin Pelton

Sumber: www.enginewords.com

Pemanfaatan turbin pelton biasa digunakan di bendungan atau di dam dan air terjun. Energi kinetik
yang timbul dari gerakan air melalui sudu-sudu turbin dimanfaatkan sebagai salah satu sumber tenaga.
Semakin besar energi kinetik dari air yang melalui sudu-sudu turbin, maka semakin besar pula tenaga yang
dihasilkan sebagai sebuah pembangkit.Turbin peleton juga biasa dimanfaatkan di Industri Industri untuk head
antara 100 - 150 sampai 1000 m lebih.

Turbin Pelton disebut juga turbin impuls atau turbin tekanan rata atau turbin pancaran bebas karena
tekanan air keluar nosel sama dengan tekanan atmosfer. Dalam instalasi turbin ini semua energi ( geodetic dan
tekanan ) diubah menjadi kecepatan keluar nosel. Konstruksi nosel ada pada gambar di atas. Tidak semua
sudu menerima hempasan air, tetapi secara bergantian tergantung posisi sudu tersebut. Jumlah tergantung
besarnya kapasitas air, dapat bervariasi satu sampai enam. Turbin pelton dipakai untuk tinggi jatuh air yang
besar, dengan kecepatan spesifik 1 sampai 15.

Instalasi dan begian utama turbin pelton. Turbin pelton biasanya berukuran besar. Hal ini dapat
dimaklumi karena dioperasikan pada tekananyang tinggi danperubahan momentum yang diterima sudu-sudu
sangat besar, dengan sendiri struktur turbin harus kuat.

Pada turbin pelton semua energi potensial dan tekanan ketika masuk kesudu jalan turbin telah telah
diubah menjadi energi kecepatan Seperti terlihat pada gambar dibawah ini.
Gambar 1.2.1.3. Buckets
Sumber: http://s3.amazonaws.com/ppt-download/

1.2.2. Berdasarkan Prinsip Kerja

Klasifikasi Turbin berdasarkan Prinsip Kerjanya

1. Turbin Impulse

Turbin impuls atau turbin tahapan impuls adalah turbin sederhana berrotor satu atau banyak
(gabungan) yang mempunyai sudu-sudu pada rotor itu. Sudu biasanya simetris dan mempunyai sudut
masuk dan sudut keluar.

Turbin satu tahap.


Turbin impuls gabungan.
Turbin impuls gabungan kecepatan.
Ciri-ciri dari turbin impuls antara lain:
Proses pengembangan uap / penurunan tekanan seluruhnya terjadi pada sudu diam / nosel.
Akibat tekanan dalam turbin sama sehingga disebut dengan Tekanan Rata.

2. Turbin Reaksi

Turbin reaksi mempunyai tiga tahap, yaitu masing-masingnya terdiri dari baris sudu tetap dan dua
baris sudu gerak. Sudu bergerrak turbin reaksi dapat dibedakan dengan mudah dari sudu impuls
karena tidak simetris, karena berfungsi sebagai nossel bentuknya sama dengan sudu tetap walaupun
arahnya lengkungnya berlawanan.

1.2.3. Jenis Turbin dan Kecepatan Sepesifikasinya

Berdasarkan fluida kerjanya turbin dapat digolongkan menjadi tiga jenis antara lain:

1. Turbin Air adalah turbin dengan air sebagai fluida kerjanya. Air mengalir dari tempat yang lebih tinggi
menuju tempat yang lebih rendah. Dalam hal tersebut air memiliki energi potensial. Dalam proses
aliran di dalam pipa energi potensial tersebut berangsur-angsur berubah menjadi energi kinetik di mana
air tersebut memutar roda turbin.
2. Turbin Gas turbin yang memanfatkan aliran gas untuk menggerakkan sudu-sudunya. Umumnya turbin
gas memiliki putaran yang sangat tinggi.
3. Turbin Uap atau Steam Turbin adalah turbin yang memanfaatkan uap panas sebagai penggeraknya.
Uap panas yang digunakan berasal dari ketel uap atau boiler.

Dari tiga macam jenis turbin tersebut Turbin Pelton merupakan salah satu turbin yang digolongkan dalam turbin
air.

Di dalam kita mempelajari turbin, kita mengenal istilah kecepatan spesifik, yaitu kecepatan turbin di
mana dapat dihasilkan 1 HP untuk setiap tinggi air jatuh H = 1 m.

Tabel I.1.1. Jenis Roda Turbin Air dan Kecepatan Spesifiknya


Kecepatan
Efisiensi T Tinggi air jatuh H
Jenis turbin spesifik nq,
(%) (ft)
(rpm)
Impuls (Pelton) 30 82 90 - 82 6000-2000

Francis 100 140 94 - 93 2000-500

Propeller 140 250 94 - 85 500-70

Kecepatan spesifik [nq] Efisiensi [T] Tinggi air jatuh [H]


Jenis turbin
(rpm) (%) (ft)
Impuls (Pelton) 10 - 40 89 - 90 1.800 - 300

Francis 20 - 165 90 - 94 12 - 50

Propeller 40 - 550 85 - 94 350 - 25

Hmin Hmax
Jenis
(%H rencana) (%H rencana)

Turbin Francis 65 65

Turbin Propeler 50 50

Sumber: www.enginewords.com
1.3. Rumus-Rumus Turbin

1.3.1. Momen Torsi (Mt)



= = = () efisiensi tidak memiliki satuan jadi tidak

berpengaruh terhadap persamaan berikut.

dimana: Mt = momen turbin (Nm)


F = gaya pada rem prony (N)
rem = efisiensi rem dengan harga 0,95
l = panjang lengan momen (m)

Sumber: Modul Praktikum Mesin Fluida


Rev.02/ODDMESFLU/APR/2014

1.3.2. Daya Turbin (BHP)

Yaitu daya yang dihasilkan oleh mesin dalam hal ini turbin (watt)

= 2
= 2
= () karena 2 dan N merupakan variable sehingga satuannya
tidak mempengaruhi hitungan.

dimana: N = putaran turbin (Rps)


Mt = Momen puntir (Nm)

Sumber: Modul Praktikum Mesin Fluida


Rev.02/ODDMESFLU/APR/2014

1.3.3. Kecepatan Aliran

Yaitu jarak yang ditempuh fluida tiap satuan waktu dalam suatu penampang, dalam hal ini adalah
pipa.

=

3
=
2

= ()

dimana: v = kecepatan aliran (m/s)


Q = kapasitas/debit air (m3/s)
A = luas penampang pipa (m2)

Sumber: Modul Praktikum Mesin Fluida


Rev.02/ODDMESFLU/APR/2014

1.3.4. Daya Air (WHP)

Yaitu daya yang berasal dari fluida yaitu dipengaruhi oleh besarnya kapasitas / debit dan head dan
juga berat jenis fluida atau dapat didefinisikan sebagai daya efektif yang diterima oleh air dari pompa per
satuan waktu.

dimana: g = specific grafity (10000 kg/m3)


Q = kapasitas turrbin (m3/s)
1.3.5. Efisiensi Turbin

Efisiensi merupakan suatu ukuran dalam membandingkan rencana penggunaan keluaran (output)
dengan penggunaan masukan pada turbin. Nilai maksimum dari efisiensi adalah 1 atau 100%. Pada praktikum
turbin pelton, output yang digunakan adalah daya pengereman pada turbin (BHP) sedangkan input yang
digunakan adalah daya air itu sendiri (WHP).

= 100%

dimana: BHP = adalah daya yang dihasilkan oleh mesin dalam hal ini turbin (watt)
WHP= adalah daya yang berasal dari fluida yaitu dipengaruhi oleh besarnya kapasitas / debit dan head
dan juga berat jenis fluida. (watt)

1.4. Head Turbin

Head adalah energi persatuan beart yang terkandung dalam fluida, yang terdiri dari head tekanan,
head kecepatan dan head ketinggian, yang dapat dirumuskan:

(1 2 ) (12 22 )
= (( )+( ) + (1 2 ))
2

dimana: HT = head turbin (m)


P1 = tekanan pada permukaan fluida 1 (N/m2)
P2 = tekanan pada permukaan fluida 2 (N/m2)
v1 = kecepatan aliran di titik 1 (m/s)
v2 = kecepatan aliran di titik 2 (m/s)
= massa jenis suatu fluida (kg/m3)
g = grafitasi bumi (=9,8 m/s2)
Z1 = tinggi aliran di titik 1 (m)
Z2 = tinggi aliran di titik 2 (m)

Sumber: Modul Praktikum Mesin Fluida


Rev.02/ODDMESFLU/APR/2014

Head Statik (Static Head) Merupakan head karena perbedaan ketinggian antara 2 permukaan.

= 2 1
=
= ()

dimana: HS = static head (m)


Z1 = tinggi aliran di titik 1 (m)
Z2 = tinggi aliran di titik 2 (m)

Sumber:(pompa dan kompresor; Ir.Sularso, Msme, tahun 2000,hal 26)


Gambar 1.2.1. Head Statis
Sumber:(pompa dan kompresor; Ir.Sularso, Msme, tahun 2000,hal 26)

Head Tekanan (Pressure Head) Merupakan head karena adanya pebedaan tekanan.
2 1
=

/ / 2 2 / 1/
= = = = =
/3 / 2 1/3 2 12

= ()

dimana: HP = pressure head (m)


P1 = tekanan pada permukaan fluida 1 (N/m2)
P2 = tekanan pada permukaan fluida 2 (N/m2)
= berat jenis fluida (kg/m2s2)

Sumber:(pompa dan kompresor; Ir.Sularso, Msme, tahun 2000,hal 26)

Head Kecepatan (Velocity Head) Merupakan energi dari fluida yang dihasilkan dari gerakan pada suatu pipa.

22 12 (/)2
= =
2 / 2

= ()

dimana: HV = velocity head (m)


v1 = kecepatan aliran di titik 1 (m/s)
v2 = kecepatan aliran di titik 2 (m/s)

Sumber:(pompa dan kompresor; Ir.Sularso, Msme, tahun 2000,hal 26)


Head Kerugian (Friction Head) dibagi menjadi 2 bagian yaitu:

1. Head mayor adalah head kerugian yang disebabkan oleh panjang pipa.
2 ()2
= = = ()
2 2

dimana: L = panjang pipa (m)


D = diameter pipa (m)
v = kecepatan fluida yang melalui pipa (m/s)
= koefisien friksi untuk pipa panjang
untuk aliran laminar, f = 64/Re
untuk aliran turbulen menggunakan formula darcy
f diperoleh dari diagram moody
g = percepatan gravitasi (9,8 m/s2)

Sumber:(pompa dan kompresor; Ir.Sularso, Msme, tahun 2000,hal 26)

2. Head Minor adalah head kerugian dari fitting pipa.


Head losses minor untuk pipa yang menggunakan perlengkapan pipa (out fittings) maka dapat
dirumuskan:
2 ()2
= = = ()
2 2
dimana: f = koefisien kerugian (pompa dan compressor, sularso)
v = kecepatan rata-rata fluida yang melalui pipa (m/s)
g = percepatan gravitasi (9,8 m/s2)

Sumber:(pompa dan kompresor; Ir.Sularso, Msme, tahun 2000,hal 32)

Sehingga Head Kerugian (Hf) = Hmayor Hminor

Gambar 1.2.2. Skema dari macam-macam head


Sumber:(pompa dan kompresor; Ir.Sularso, Msme, tahun 2000,hal 32)
Menghitung kecepatan fluida
Dari data percobaan didapatkan nilai Q yang kemudian kita cari nilai kecepatan fluida dengan
menggunakan rumus perhitungan data diatas.

=

dimana: v = kecepatan aliran (m/s)


Q = kapasitas/debit air (m3/s)
A = luas penampang pipa (m2)

Gaya yang bekerja pada turbin


Beban yang terdapat pada turbin dalam satuan kilogram sedangkan gaya dalam satuan
Newton konversi dari kilogram ke Newton.

dimana: F = Gaya (N)


m = massa (kg)
g = grafitasi (9,8 m/s2)

Menghitung momen torsi


Dalam menghitung momen torsi diketahui panjang lengan gaya pada rem prony sepanjang 16
cm dari pusat putaran torsi. Dengan menggunakan rumus perhitungan momen torsi, akan didapatkan :

dimana: Mt = momen turbin (Nm)


F = gaya pada rem prony (N)
rem = efisiensi rem dengan harga 0,95
l = panjang lengan momen (m)

Menghitung head total dari instalasi


Untuk menghitung head total instalasi pada system, beriktu ini rumusan head total dari sistem
instalasinya :

2
= ( ) + ( )
2

dimana: Htotal= head total (m)


P = pressure (N/m2)
v = kecepatan (m/s)
g = grafitasi (10 m/s2)
Z = head static (m)
Hl = head loses (m)

Menghitung BHP
Dengan menggunakan rumus perhitungan Ht kita dapat menghitung daya BHP.

= 2

dimana: N = putaran turbin (Rps)


Mt = Momen puntir (Nm)
Menghitung WHP
Untuk menghitung WHP dapat menggunakan rumusan yang telah ada yaitu:

dimana: WHP= daya air (watt)


Htotal= head total (m)
Q = kapasitas turrbin (m3/s)
= berat jenis zat cair (N/m3)

Menghitung efesiensi dari turbin


Efisiensi turbin merupakan perbandingan BHP dan WHP, berikut ini cara mencari efesiensi.

= 100%

dimana: = 2 (watt)
= (watt)

Sumber: Modul Praktikum Mesin Fluida


Rev.02/ODDMESFLU/APR/2014

1.5. Pemanfaatan Turbin Pelton

Pemanfaatan atau penggunaan Turbin Pelton sudah banyak dijumpai, kebanyakan aplikasi
digunakan sebagai pembangkit listrik mulai dari yang mikro hidro sampai yang skla besar yaitu PLTA.
BAB II
TAHAPAN PRAKTIKUM

2.1. Tujuan Praktikum

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui performansi (efisiensi) dari Turbin Pelton.

2.2. Peralatan Praktikum

Pada percobaan ini, peralatan yang digunakan adalah sebagai berikut:

NO NAMA FUNGSI GAMBAR

Mengubah energi potensial air


1 Turbin Pelton
menjadi energi gerak.

Memindahkan suatu zat cair dari


2 Pompa
satu tempat ke tempat yang lain.

digunakan untuk mengukur


3 Pressure gauge
tekanan

4 Tachometer untuk mengukur RPM turbin

digunakan untuk mengatur luasan


5 Spear
fluida.

Digunakan untuk memberikan


6 Rem prony
pembebanan pada Turbin pelton.

7 Flowmeter Untuk mengukur kapasitas air.


Untuk mengetahui besar gaya
8 Indikator Gaya Rem
rem pada turbin

Digunakan untuk menggerakkan


9 Motor
pompa

2.3. Gambar Rangkaian Praktikum

Gambar 2.3.1. Rangkaian praktikum

Sumber: Modul Praktikum Mesin Fluida


Rev.02/ODDMESFLU/APR/2014

Penjelasan:

Dari bak penampungan air, air dihisap oleh pompa, pompa yang biasa digunakan adalah pompa
sentrifugal. Kemudian melewati pressure gauge sehingga bisa dibaca berapa tekanan yang mengalir pada
pipa. terdapat sebuah Spear untuk mengatur bukaan aliran air. Air yang melewati spear akan melalui nosel
yang menggerakkan turbin pelton. Dalam praktikum ini rem prony digunakan untuk menentukan rpm dan hasil
pembacaan gaya rem, sedangkan tachometer digunakan untuk mengukur putaran turbin. air yang melewati
turbin kembali lagi ke bak penampungan air. perlu diketahui nilai Z (tinggi aliran) adalah nol karena kedudukan
discharge dengan section sama.
2.4. Prosedur Praktikum

Didalam melakukan pecobaan ini harus diperhatikan urutan langkah-langkah percobaan sebagai
berikut :

1. Menghidupkan motor pompa dengan putaran pada kedudukan yang diberikan oleh asisten/grader.
2. Mengatur kapasitas fluida yang menuju turbin dengan mengatur spear pada kedudukan satu (bukaan
penuh).
3. Mengatur rem prony untuk setiap kedudukan spear sehingga putaran turbin sesuai yang diinginkan
hingga pada putaran 1200.1400.1600.1800.dan 2000 RPM.
4. Mengukur dan mencatat semua data yang diperlukan yaitu Q, P dan F.rem
5. Ulangi langkah pada point b,c dan d untuk kedudukan spear pada kedudukan 1,2,3,dan 4 dengan
memutar spear 2 kali putaran untuk setiap perubahan kedudukan.

2.5. Data Hasil Praktikum

Tabel 2.5.1. Tabel untuk spear 1


no Rpm Q (l/s) P (mH2O) F (kgf)
1 1000 4.6 17 0.95
2 1200 4.8 16 0.8
3 1400 5 16 0.65
4 1600 5 16 0.45
5 1800 4.9 16 0.25

Tabel 2.5.2. Tabel untuk spear 2


no Rpm Q (l/s) P (mH2O) F (kgf)
1 1000 4.4 17 0.95
2 1200 4.4 17 0.8
3 1400 4.5 17 0.65
4 1600 4.6 17 0.45
5 1800 4.9 17 0.25

Tabel 2.5.3. Tabel untuk spear 3


no Rpm Q (l/s) P (mH2O) F (kgf)
1 1000 4.4 17 0.9
2 1200 4.5 17 0.8
3 1400 4.7 17.5 0.7
4 1600 4.8 17.5 0.5
5 1800 4.8 17.5 0.35

Tabel 2.5.4. Tabel untuk spear 4


no Rpm Q (l/s) P (mH2O) F (kgf)
1 1000 4.3 18 1
2 1200 4.4 18 0.9
3 1400 4.5 18 0.75
4 1600 4.8 18 0.55
5 1800 4.9 18 0.4
BAB III
ANALISA DATA
3.1. Perhitungan Data

Tabel 3.1. Tabel untuk spear 1


no Rpm Q (l/s) P (psi) F (kgf)
1 1000 4.6 17 0.95
2 1200 4.8 16 0.8
3 1400 5 16 0.65
4 1600 5 16 0.45
5 1800 4.9 16 0.25

Tabel 3.2. Tabel untuk spear 2


no Rpm Q (l/s) P (psi) F (kgf)
1 1000 4.4 17 0.95
2 1200 4.4 17 0.8
3 1400 4.5 17 0.65
4 1600 4.6 17 0.45
5 1800 4.9 17 0.25

Tabel 3.3. Tabel untuk spear 3


no Rpm Q (l/s) P (psi) F (kgf)
1 1000 4.4 17 0.9
2 1200 4.5 17 0.8
3 1400 4.7 17.5 0.7
4 1600 4.8 17.5 0.5
5 1800 4.8 17.5 0.35

Tabel 3.4. Tabel untuk spear 4


no Rpm Q (l/s) P (psi) F (kgf)
1 1000 4.3 18 1
2 1200 4.4 18 0.9
3 1400 4.5 18 0.75
4 1600 4.8 18 0.55
5 1800 4.9 18 0.4

Tabel 3.5. Tabel konversi


CONVERSION
1 Rpm 0.01667 Rps
1 L/s 0.001 m2/s
1 psi 6894.757 N/m2
1 kgf 9.80665 N
Hasil dari data yang telah dikonversi adalah:

Tabel 3.6. Tabel konversi untuk spear 1


no Rps Q (m2/s) P (N/m2) F (N)
1 16.67 0.0046 117211 9.32
2 20.00 0.0048 110316 7.85
3 23.34 0.0050 110316 6.37
4 26.67 0.0050 110316 4.41
5 30.01 0.0049 110316 2.45

Perhitungan untuk spear 1 sebagai perwakilan :

1. Luas permukaan pipa (A) = ..D2


= .22/7.0,042
= 0.001257 m2

2. Kecepatan fluida (v) = Q / A


= 0.0046 m2/s / 0.001257 m2
= 3,66 m/s

3. Moment (Mt) = ( F.L ) / rem


= (9,32 N . 0,16 m) / 0,95
= 1,57 Nm

2
4. Head total (Htotal) = ( ) + ( )
2

117211 N/m2 3,662


=( )+( )
9800 2.9,8

= 12,64 m

5. BHP = 2.Mt.n

=2 . 22/7 . 1,57 Nm . 16,67 rps

= 164,51 watt

6.WHP =

= 9800 . 0.0046 m2/s . 12,64 m

= 569,96 watt

7. Effisiensi = 100%

164,51
= 100%
569,96

= 28,82 %
Tabel 3.7. Tabel konversi untuk spear 2
no Rps Q (m2/s) P (N/m2) F (N)
1 16.67 0.0044 117211 9.32
2 20.00 0.0044 117211 7.85
3 23.34 0.0045 117211 6.37
4 26.67 0.0046 117211 4.41
5 30.01 0.0049 117211 2.45

Tabel 3.8. Tabel konversi untuk spear 3


no Rps Q (m2/s) P (N/m2) F (N)
1 16.67 0.0044 117211 8.83
2 20.00 0.0045 117211 7.85
3 23.34 0.0047 120658 6.86
4 26.67 0.0047 120658 4.90
5 30.01 0.0048 120658 3.43

Tabel 3.9. Tabel konversi untuk spear 4


no Rps Q (m2/s) P (N/m2) F (N)
1 16.67 0.0043 124106 9.81
2 20.00 0.0044 124106 8.83
3 23.34 0.0045 124106 7.35
4 26.67 0.0048 124106 5.39
5 30.01 0.0049 124106 3.92

Panjang lengan : 0.16 m


Diameter : 0.04 m
Hasil perhitungan lain yang diperoleh dengan cara yang sama, kemudian ditabelkan sebagai berikut:

SPEAR 1
No Rpm Q (l/s) P (psi) F (kgf) Rps Q (m2/s) P (N/m2)
1 1000 4.6 17 0.95 16.67 0.0046 117211
2 1200 4.8 16 0.8 20.00 0.0048 110316
3 1400 5 16 0.65 23.34 0.0050 110316
4 1600 5 16 0.45 26.67 0.0050 110316
5 1800 4.9 16 0.25 30.01 0.0049 110316

F (N) A (m2) v (m/s) Mt (Nm) Ht (m) BHP (Watt) WHP (Watt) t (%)
9.32 0.001257 3.66 1.57 12.64 164.26 569.96 28.82
7.85 0.001257 3.82 1.32 12.00 165.99 564.51 29.40
6.37 0.001257 3.98 1.07 12.06 157.35 591.13 26.62
4.41 0.001257 3.98 0.74 12.06 124.49 591.13 21.06
2.45 0.001257 3.90 0.41 12.03 77.81 577.77 13.47

SPEAR 2
No Rpm Q (l/s) P (mH2O) F (kgf) Rps Q (m2/s) P (N/m2)
1 1000 4.4 17 0.95 16.67 0.0044 117211
2 1200 4.4 17 0.8 20.00 0.0044 117211
3 1400 4.5 17 0.65 23.34 0.0045 117211
4 1600 4.6 17 0.45 26.67 0.0046 117211
5 1800 4.9 17 0.25 30.01 0.0049 117211

F (N) A (m2) v (m/s) Mt (Nm) Ht (m) BHP (Watt) WHP (Watt) t (%)
9.32 0.001257 3.50 1.57 12.59 164.26 542.68 30.27
7.85 0.001257 3.50 1.32 12.59 165.99 542.68 30.59
6.37 0.001257 3.58 1.07 12.61 157.35 556.28 28.29
4.41 0.001257 3.66 0.74 12.64 124.49 569.96 21.84
2.45 0.001257 3.90 0.41 12.74 77.81 611.55 12.72

SPEAR 3
No Rpm Q (l/s) P (mH2O) F (kgf) Rps Q (m2/s) P (N/m2)
1 1000 4.4 17 0.9 16.67 0.0044 117211
2 1200 4.5 17 0.8 20.00 0.0045 117211
3 1400 4.7 17.5 0.7 23.34 0.0047 120658
4 1600 4.8 17.5 0.5 26.67 0.0047 120658
5 1800 4.8 17.5 0.35 30.01 0.0048 120658

F (N) A (m2) v (m/s) Mt (Nm) Ht (m) BHP (Watt) WHP (Watt) t (%)
8.83 0.001257 3.50 1.49 12.59 155.62 542.68 28.68
7.85 0.001257 3.58 1.32 12.61 165.99 556.28 29.84
6.86 0.001257 3.74 1.16 13.03 169.45 599.94 28.24
4.90 0.001257 3.74 0.83 13.03 138.33 599.94 23.06
3.43 0.001257 3.82 0.58 13.06 108.93 614.15 17.74
SPEAR 4
No Rpm Q (l/s) P (mH2O) F (kgf) Rps Q (m2/s) P (N/m2)
1 1000 4.3 18 1 16.67 0.0043 124106
2 1200 4.4 18 0.9 20.00 0.0044 124106
3 1400 4.5 18 0.75 23.34 0.0045 124106
4 1600 4.8 18 0.55 26.67 0.0048 124106
5 1800 4.9 18 0.4 30.01 0.0049 124106

F (N) A (m2) v (m/s) Mt (Nm) Ht (m) BHP (Watt) WHP (Watt) t (%)
9.81 0.001257 3.42 1.65 13.26 172.91 558.81 30.94
8.83 0.001257 3.50 1.49 13.29 186.74 573.01 32.59
7.35 0.001257 3.58 1.24 13.32 181.55 587.30 30.91
5.39 0.001257 3.82 0.91 13.41 152.16 630.70 24.13
3.92 0.001257 3.90 0.66 13.44 124.49 645.34 19.29

3.2. Grafik

Grafik 3.2.1. fungsi Q terhadap n

Grafik fungsi Q terhadap n


0.0051
0.0050
0.0049
Kapasitas (m2/s)

0.0048 spear 1
0.0047 spear 2
0.0046 spear 3
0.0045
spear 4
0.0044
0.0043
0.0042
0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00 35.00
Putaran (RPS)

Dalam tabel di atas, menunjukkan bahwa kapasitas dan siklus cenderung berbanding lurus, hal
tersebut sesuai dengan rumus yang menyatakan bahwa hubungan antara rotasi dan kapasitas secara
langsung proporsional. Rumusnya adalah ditampilkan sebagai berikut:
BHP 2 .Mt.n
= x 100% = x 100%
WHP Q. .Ht
2 .Mt.n
Or Q = 100%
.Ht.
Grafik 3.2.2. fungsi H terhadap Q

grafik fungsi Q terhadap head


13.60
13.40
13.20
HEAD (m)

13.00 spear 1
12.80
spear 2
12.60
12.40 spear 3
12.20 spear 4
12.00
11.80
0.0042 0.0043 0.0044 0.0045 0.0046 0.0047 0.0048 0.0049 0.0050 0.0051
kapasitas(m2/s)

hubungan antara kapasitas dan head berbanding terbalik, karena menurut rumus di bawah ini jika
head semakin besar maka kapasitas menjadi kecil, tetapi dalam percobaan ada beberapa data yang tidak
sesuai dengan rumus, hal ini karena air di flowmeter yang bergerak turun naik, sehingga sulit untuk
menentukan nilai, dan skala flowmeter yang lumayan besar sehingga jika perubahan kapasitas terjad dalam
skala kecil tidak terlihat.
BHP 2 .Mt.n
= x 100% = x 100%
WHP Q. .Ht
2 .Mt.n
Or Q = 100%
.Ht.
Grafik 3.2.3. fungsi terhadap n

Grafik fungsi efisiensi terhadap n


35.00

30.00

25.00
spear 1
20.00
spear 2
15.00 spear 3
10.00 spear 4

5.00

0.00
0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00 35.00

Putaran (RPS)

Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa jumlah efisiensi putaran rpm berbanding terbalik dengan
jumlah yang diperoleh. Grafik di atas sesuai dengan teori bahwa efisiensi adalah sebanding dengan rotasi,
yang ditulis oleh rumus.
BHP 2 .Mt.n
= x 100% = x 100%
WHP Q. .Ht
Grafik 3.2.4. fungsi terhadap BHP

35.00

30.00
Efisiensi (%)

25.00
spear 1
20.00
spear 2
15.00
spear 3
10.00 spear 4

5.00

0.00
0.00 50.00 100.00 150.00 200.00

BHP (watt)

Dalam tabel di atas dapat dilihat bahwa semakin besar BHP, efisiensi akan semakin besar. Hal ini
konsisten dengan dasar teori sebelumnya yang menyatakan bahwa BHP berbanding lurus dengan efisiensi,
berdasarkan rumus:
BHP
= x 100%
WHP

Grafik 3.2.5. fungsi terhadap Q

Grafik fungsi terhadap Q


35.00
30.00
25.00
spear 1
20.00
spear 2
Q

15.00 spear 3
10.00 spear 4
5.00
0.00
0.0042 0.0043 0.0044 0.0045 0.0046 0.0047 0.0048 0.0049 0.0050 0.0051
Kapasitas (m2/s)

Secara umum dapat dilihat bahwa hubungan antara efisiensi berbanding terbalik dengan kapasitas,
yaitu jika kapsitasnya effisiensinya besar menjadi kecil jika dikaitkan dengan rumus itu akan memperoleh
hubungan berikut:

atau

Tapi di grafik di atas hasil yang diperoleh dari percobaan yang canggung dengan kapasitas yang
sama (konstan), meningkatkan effisiensinya. Hal ini disebabkan oleh perubahan dalam kapasitas dalam skala
kecil sehingga tidak bisa benar dibaca oleh para flowmeter.
Grafik 3.2.6. fungsi BHP terhadap Q

0.0051
0.0050
0.0049
Kapasitas(m2/s)

0.0048 spear 1

0.0047 spear 2
0.0046 spear 3
0.0045 spear 4
0.0044
0.0043
0.0042
0.00 50.00 100.00 150.00 200.00
BHP (watt)

BHP 2 .Mt.n
= x 100% = x
WHP Q. .Ht
100%
Q Ht
BHP
100%

Grafik di atas hasil yang diperoleh dari percobaan yang canggung dengan kapasitas yang sama
(konstan), BHP meningkat. Hal ini disebabkan oleh perubahan dalam kapasitas dalam skala kecil sehingga
tidak bisa benar dibaca oleh para flowmeter.

Grafik 3.2.7. fungsi efisiensi () terhadap WHP

35.00
30.00
25.00 spear 1
Efisiensi ()

20.00 spear 2

15.00 spear 3

10.00 spear 4

5.00
0.00
520.00 540.00 560.00 580.00 600.00 620.00 640.00 660.00
WHP

Sesuai dengan rumus yang menyatakan bahwa hubungan antara efisiensi adalah berbanding
terbalik dengan WHP. Rumusnya adalah ditampilkan sebagai berikut:

BHP
= x 100%
WHP
Namun, dalam grafik di atas hubungan antara WHP Efisiensi berbanding lurus, tidak tepat.
Kemungkinan karena dalam penentuan nilai WHP, kapasitas sangat relevan. Karena penambahan atau
pengurangan kapasitas pada percobaan sangat kecil, sulit untuk dibaca flowmeter. Sehingga tidak dapat
dipastikan bagaimana hubungan Anda.

Grafik 3.2.8. fungsi F terhadap Q

Graph function F to Q
12.00
10.00
8.00 spear 1
spear 2
Gaya (N)

6.00
spear 3
4.00
spear 4
2.00
0.00
0.0042 0.0043 0.0044 0.0045 0.0046 0.0047 0.0048 0.0049 0.0050 0.0051
Kapasitas (m2/s)

Secara umum, hubungan antara gaya adalah berbanding terbalik dengan rotasi. Hal ini karena
pengaruh kekuatan dalam menentukan torsi, dan tidak ada hubungannya dengan rotasi pada formula BHP
sebagai berikut:

dimana

atau

Namun dalam grafik di atas dapat dilihat bahwa nilai F adalah konstan (tetap) ketika meningkat
rotasi. Hal ini terjadi karena pembacaan gaya rem pada keakuratan pengukuran mencapai kurang dan alat-alat
fungsional kurang yang tidak tepat pada saat yang praktis, karena perangkat harus berada dalam beberapa kali
sentuhan agar sesuai dengan skala. Sedangkan pada tombak lain, ketentuan-ketentuan yang memenuhi rumus
di atas sesuai dengan teori.
Grafik 3.2.9. Fungsi WHP terhadap n

35.00
30.00
25.00 spear 1
(RPS)

20.00 spear 2
15.00 spear 3

10.00 spear 4

5.00
0.00
520.00 540.00 560.00 580.00 600.00 620.00 640.00 660.00
WHP

Pada grafik di atas dapat dilihat secara umum hubungan pada grafik proporsional, juga, sesuai
dengan penerapan rumus di bawah ini.

atau

Grafik 3.2.10. fungsi BHP terhadap n

35.00
30.00
25.00 spear 1
(RPS)

20.00 spear 2
15.00 spear 3

10.00 spear 4

5.00
0.00
0.00 50.00 100.00 150.00 200.00
BHP

Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa jumlah rotasi BHP berbanding terbalik dengan jumlah rotasi
sesuai dengan 1 tombak. Namun, grafik lain tombak tidak sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa rotasi
sebanding dengan BHP, yang ditulis dengan rumus: BHP = 2.Mt.n jadi jika nilai Gunung konstan akan
mendapatkan hubungan BHP berbanding lurus dengan rotasi. Hal ini karena pengaruh torsi. Pada putaran
yang sama, ketika saat torsi tumbuh lebih besar, semakin besar BHP. Sebaliknya, jika semakin kecil momen
torsi, maka BHP akan semakin kecil juga.
IV. KESIMPULAN
1. Turbin Pelton adalah sebuah alat yang mengubah energi fluida menjadi energi kinetic.
2. Kinerja turbin tergantung pada Kepala, kapasitas, putaran turbin, terlihat dalam perumusan teori
efektivitas yang eff. = (BHP / WHP) x 100% dimana BHP = 2 x x T xn, sedangkan WHP = Y x Q x Ht.
3. Hubungan antara sumber daya air berbanding lurus dengan kecepatan seperti yang ditemukan dalam
teori yang menyatakan WHP = Y x Q x Ht, dimana Q (kapasitas) adalah A x ay sehingga semakin tinggi
kecepatan semakin tinggi nilai sumber daya air dengan asumsi bahwa parameter lainnya yag
mempengaruhi nilai nilai konstan sumber daya air. Tetapi kadang-kadang ada suatu kondisi di mana
teori tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Ketidakakuratan dalam pengumpulan data
menyebabkan kurva deviasi.
4. Hubungan antara daya motor berbanding lurus dengan kecepatan seperti yang ditemukan dalam teori
yang menyatakan eff. = (BHP / WHP) x 100% BHP = 2 x x T xn WHP = Y x Q x Ht, dimana Q
(kapasitas) adalah A x ay sehingga semakin tinggi kecepatan semakin tinggi daya motor nilai dengan
asumsi bahwa parameter lain yang mempengaruhi nilai konstan notor sumber daya yang berharga.
Tapi kadang-kadang terjadi suatu kondisi dimana teori tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya,
ketidakakuratan dalam pengumpulan data menyebabkan kurva deviasi.
5. Hubungan antara beban dan laju aliran berbanding terbalik, hal ini sesuai dengan formulasi yang
menyebutkan bahwa BHP = 2 x x T x n. Dimana T = M x L. (F = loading). Jadi semakin besar beban
pada motor, semakin kecil kecepatan yang dihasilkan. Ketidakakuratan dalam pengumpulan data
menyebabkan kurva deviasi.
6. Hubungan antara beban dan rotasi secara langsung proporsional, hal ini sesuai dengan formulasi T xn
BHP = 2 x x, dimana T = M x L. ketidakakuratan dalam pengumpulan data menyebabkan kurva
deviasi.
7. Hubungan antara BHP dan rotasi secara langsung proporsional, hal ini sesuai dengan teori bahwa
BHP = 2 x xt xn. Ketidakakuratan dalam pengumpulan data menyebabkan kurva deviasi.
8. Hubungan antara efisiensi dengan kapasitas yang berbanding terbalik, sesuai dengan teori yang
menyatakan = BHP / WHP mana BHP = 2 x x T xn, sedangkan WHP = Y x Q x Ht. Ketidakakuratan
dalam pengumpulan data menyebabkan kurva deviasi.
9. Hubungan antara efisiensi berbanding lurus dengan rotasi, menurut teori yang menyatakan = BHP /
WHP mana BHP = 2 x x T xn, sedangkan WHP = Y x Q x Ht. Ketidakakuratan dalam pengumpulan
data menyebabkan kurva deviasi.
10. Hubungan antara kapasitas dan rotasi proporsional sesuai dengan teori yang menyatakan = BHP /
WHP mana BHP = 2 x x T xn, sedangkan WHP = Y x Q x Ht. Ketidakakuratan dalam pengumpulan
data menyebabkan kurva deviasi.
11. Hubungan antara kepala dengan kapasitas secara langsung proporsional, sesuai dengan teori yang
menyatakan:

Ht = P / + (v2/2g) + Z Ht = P / + ((Q / A) 2/2g) + Z

Ketidakakuratan dalam pengumpulan data menyebabkan kurva deviasi.

12. Hubungan antara BHP dengan kapasitas secara langsung proporsional, sesuai dengan teori yang
menyatakan = BHP / WHP mana BHP = 2 x x T xn,, sedangkan WHP = Y x Q x Ht.
Ketidakakuratan dalam pengumpulan data menyebabkan kurva deviasi.
DAFTAR PUSTAKA
1. Pompa dan Turbin, Univ. Sumatera Utara
2. Modul Praktikum Mesin Fluida Dan System, Tim Laboraturium Mesin Fluida Dan Sistem,
Rev.02/ODDMESFLU/APR/2014
3. http://en.wikipedia.org/wiki/pelton_wheel.
PERTANYAAN

1. Bagaimana pengaruh efisiensi turbin terhadap BHP?


2. Bagaimana pengaruh BHP terhadap kapasitas pompa?
3. Bagaimana pengaruh efisiensi turbin terhadap WHP?
4. Bagaimana pengaruh F terhadap putaran?

JAWABAN

1. semakin besar BHP, efisiensi akan semakin besar. Hal ini konsisten dengan dasar teori sebelumnya
yang menyatakan bahwa BHP berbanding lurus dengan efisiensi.
2. semakin besar BHP, semakin besar kapasitas yang didapat.
3. semakin kecil WHP semakin besar efisiensi turbin.
4. Semakin besar F maka cenderung semakin kecil/rendah putarannya.