Anda di halaman 1dari 4

NAMA : BETTY ADINDA WIJAYA

KELAS : PAI 4-D

MATA KULIAH : USHUL FIQH

NPM : 21501011042

KAIDAH KE 7

Pada zaman modern ini, wacana perbudakan nampaknya sudah tidak populer lagi untuk
menjadi topik pembahasan. Apalagi pada era millenium seperti sekarang ini, dimana perjuangan
atas pergerakan Hak Asasi Manusia (HAM) telah diproklamirkan di seluruh pelosok negeri,
meski dengan tingkaat keseriusan yang bervariasi. Namun, meski secara istilah tidak lagi
populer, praktek-praktek perbudakan masih sering terjadi meski masih bersifat lokal dan
dilakukan oleh oknum per oknum.

Dikotomi semacam ini (status budak dan merdeka), pada zaman dahulu memang sangat
masyhur di kalangan bangsa Arab kuno dan kalangan Yunani kuno. Syariat islam pun tidak
luput untuk ikut mengulurkan tangan dalam menyikapi permasalahan ini. Dalam literatur-
literatur fiqh konvensional, konsep perbudakan ini dikupas secara komprehensif dan
proporsional. Namun, ada yang menarik dari perspektif fiqh konvensional tentang perbudakan
ini yang ternyata lebih menitik beratkan pada upaya pembebasannya atau biasa dikenal dengan
istilah tq daripada melanggengkan sistem perbudakan itu sendiri.

Uraian Kaidah

Orang merdeka adalah orang yang memiliki kekuasaan dan kewenangan penuh atas
segala hal yang berkaitan dengan pribadinya tanpa dapat dipengaruhi orang lain secara hukum. Ia
berhak dan berkuasa untuk menentukan jalan bidupnya sendiri. Oleh karenanya, secara yuridis
formal tidak dibenarkan segala bentuk penguasaan atas kebebasan dan kemerdekaannya baik
dalam bekerja, ataupun mengambil sikap terhadap apa yang dialaminya. Hal ini tentu sangat
berbeda dengan apa yang dialami oleh budak sahaya, dimana setiap aspek kehidupannya selalu
terikat secara hukum pada wewnang dan kehendak tuan (sayyid)nya secara absolut. Ia tidak
mempunyai kewenangan apapun atas dirinya. Oleh karenanya, tinajuan penetapan hukum atas
kedua golongan diatas tentunya sangat berbeda.

Penyanderaan terhadap orang merdeka, walaupun tetap menyediakan fasilitas


penghidupan yang layak, jika dalam prakteknya didapati keadaan sandera yang tidak layak dan
sampai menemui ajal dalam kekuasaannya, maka penyandera tidak diwajibkan untuk
menanggung ganti rugi atas jasa dan tenanga sandera yang sia-sia selama dalam pengaruhnya
ketika bekerja. Misalnya, hal ini disebabkan karena tidak ada yang berhak atas segala
kemanfaatan yang bisa dihasilkan oleh sandera selain dirinya sendiri.

Begitu pula apabila terjadi kehamilan akibat hubungan intim secara tidak sengaja terjadi
pada orang merdeka yang bukan istri sendiri (wathI syubhat) yang misalnya berimbas pada
kematian wanita tersebut dalam proses persalinannya, maka menurut pendapat yang paling kuat
tidak perlu divonis pembalasan setimpal (diyat) atas pelakunya karena wanita tersebut tidak
berada dalam kekuasaan dan wewenang mutlak pihak lain, sehingga tidak ada yang berhak
mengajukan tuntutan. Berbeda halnya bila obyek kejadian berstatus hamba sahaya yang berada
dibawah wewenang orang lain.

Dalam kasus pertama, penyandera tidak diwajibkan menanggung nilai jasa dan
kemanfaatan yang tersia-sia dihasilkan selama ini dalam penyanderaanm, misalnya. Dan dalam
kasus kedua, pelaku wathI syubhat diharuskan mengganti nilai jual hamba sahaya yang mati
akibat kecerobohannya. Sebab status hamba sahaya yang berada dalam status wewenang penuh
tuannya melegitimasi pemiliknya untuk mengajukan tuntutan atas kerugian yang dia alami.

Dari dua contoh ini, walaupun ia dinilai sebagai benda. Namun, pada dasarnya adalah
perlindungan yang secara tidk lansung diberikan oleh seorang tuan (sayyid). Ia ibarat uang
berjalan bagi sayyidnya, namun semua manfaatnya akan kembali pada diri seorang hamba
sahaya.

Dalam buku Hikmah al-Tasyri wa Falsafatuh, Ali Ahmad al-Jurjawi memaparkan,


walaupun hamba sahaya pada hakikatnya sama-sama manusia, namun dalam sisi lain dia
mempunyai sisi kekurangan yaitu karena ia berada dalam genggaman kekuasaan orang lain dan
punya nilai jual. Berbeda dengan orang merdeka yang sama seklai tidak mempunyai nilai
jual. Dari titik inilah yang mengakibatkan orang yang membunuhnya akan dikenai sanksi
pembayaran diyat yang diserahkan pada sayyidnya sesuai dengan nilai jualnya.

Beberapa Hukum Sputar Orang Merdeka Dan Hamba Sahaya

Sebenarnya tidak ada perbedaan yang mendengar antara orang yang merdeka dengan
hamba sahaya, syariat Islam dengan begitu rapi telah menempatkan masing-masing keduanya
sesuai dengan performa yang tepat dan sesuai. Hal-hal yang menjadikan keduanya berbeda
sebenarnya merupakan bentuk keadilan bagi mereka. Hukum-hukum yang terkait dengan hamba
sahaya dari orang merdeka secara sistematis akan terangkum seperti keterangan dibawah ini:

1) Hal-hal yang tidak dapat dibagi dan tidak didasarkan atas keutamaan. Dalam domain
ini, seorang budak akan sama dengan orang merdeka. Seperti halnya kewajiban shalat,
puasa, keharaman zhihar (berkata pada istrinya dnegan perkataan, misalkan engkau
seperti punggung ibuku), impoten (unnah) dan masa faskh nikah karenanya, ila
(sumpah untuk tidak berhubungan badan dengan istrinya dan ia akan sama dengan orang
merdeka selama dalam masa ila, yakni selama 4 bulan atau lebih). Ketika telah melewati
masa lebih dari empat bulan, maka akan terjadi talak; sama persis dengan orang yang
berstatus merdeka. Hukum potong tangan karena mencuri, dan hukum qishas.
2) Sesuatu yang didasarkan atas keutamaan seperti halnya penyaksian, perwalian, warisan,
dan shalat Jumat, atau sesuatu yang tidak dapat dibagi-bagi seperti halnya kandungan
yang ada didalam perut seorang hamba sahaya.
3) Sesuatu yang dapat dibagi dalam hal ini seorang hamba sahaya akan sama dengan orang
merdeka. Seperti halnya hukum jild yang menuduh orang zina, had menuduh zina
(qadzaf), had meminum minuman keras, talak dan masa iddah.

Kebebasa Ekspresi Seorang Hamba

Dalam domaain ini, al-Zarkasyi menampilkan contoh khuusus, yakni: seorang hamba
tidak dapat dikatakan mempunyai hutang terhadap sayyid, kecuali dalam akad kitabah. Dengan
tidak adanya beban hutang kecuali pada akad kitabah ini, maka ketika seorang hamba
mencederai orang lain lain maka ia tidak wajib membayar ursy, yakni denda sebesar harga
bagian tubuh dengan mengandaikan yang mengalami cedera adalah seorang hamba sahaya.
Beban yang tidak ditanggungnya ini, akan berlaku bagi orang yang berstatus merdeka. Hal ini
merupakan salah satu bentuk wujud nyata percepatan agar ia segera merdeka. Dan satu hal lagi,
apabila ia melakukan perusakan terhadap harta yang dimiliki sayyidnya, maka ia tidak
diwajibkan membayar denda baik ketika ia sedang menunggu kemerdekaanya atau setelah ia
merdeka.

Sebagaimana layaknya manusia yang normal, seorang hamba sahaya juga memiliki
kebutuhan biologis, ingin menikah dengan wanita idamannya. Ketika seorang sayyid
menikahkan hambanya dengan budak perempuannya, maka si budak jejaka yang ingin menikah
ini tidak dibebani membayar mahar. Menurut Syekh Abi Ali dalam menyikapi permasalahan ini
ada dua pendapat yang berbeda. Pertama, pendapat yang mengatakan secara de jure mahar wajib
pada permulaannya, namun pada akhirnya gugur, karena pada dasarnya menikah tidak boleh
dilaksanakan tanpa adanya mahar. Kedua, satu pendapat yang mengatakan tidak wajib dari
permulaannya. Dan tak ada seorang ulama pun yang mengatakan wajib pada permulaan dan
untuk seterusnya. Ini menunjukkan bahwa keinginan untuk memenuhi kebutuhan biologisnya
secara bebas dan beradab tetap diakomodir dalam syariat islam.

Termasuk ekspresi syariat terhadap seorang budak adalah tidak diwajibkannya shalat Jumat,
haji, dan zakat. Andaikan kewajiban-kewajiban itu dibebankan pada seorang budak, maka akan
menyulitkan seorang sayyid dan budaknya. Karena kewajiban-kewajiban ini membutuhkan biaya
yang akan mengurangi pendapatan seorang budak yang harusnya digunakan sebagai angsuran
dalam proses kemudahan pelaksanaan kitabah pada seorang sayyid agar dirinya segera merdeka.
Begitu juga andaikan budak tetap diwajibkan shalat Jumat dan haji juga akan mengurangi jam
kerjanya sehingga menjadikan proses kemerdekaannya tertunda semakin lama, dan sayyid tidak
segera mendapatkan harta dan cicilan dari budaknya.
Seorang hamba mukatab akan disamakan posisinya sama persis dengan orang merdeka
penuh dalam hal-hal yang pada akhirnya menjadi proses yang akan mempercepat ia merdeka.
Contoh-contoh ini disampaikan al-Suyuthi. Diantaranya adalah, ia dapat diberikan kepercayaan
penuh dalam hal jual beli oleh sayyidnya. Contoh lainnya adalah, dalam muamalah dengan
sayyidnya, dan ia akan mendapatkan nafkah ari hasil kerjanya, walaupun pada awalnya harus
diserahkan dulu pada sayyidnya.