Anda di halaman 1dari 10

1

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN KEBUDAYAAN DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS HASANUDDIN
FAKULTAS KEDOKTERAN
KOMISI ETIK PENELITIAN KESEHATAN
Sekretariat : Lantai 3 Gedung Laboratorium Terpadu
Jl. Perintis Kemerdekaan Kampus Tamalanrea Km. 10, Makassar 90245
dr.Agussalim Bukhari,M.Med.PhD,SpGK (HP.081241850858), email :
agussalimbukhari@yahoo.com

Lampiran 6

DESKRIPSI PENELITIAN

A. Latar Belakang
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang telah cukup

bulan atau dapat hidup diluar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan lain, dengan

bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri) (Manuaba,2010). Persalinan diartikan pula

sebagai peregangan dan pelebaran mulut rahim. Kejadian itu terjadi ketika otot-otot rahim

berkontraksi mendorong bayi keluar. Otot-otot rahim atau kantong muskuler yang bentuknya

menyerupai buah pir terbalik menegang selama kontraksi. Bersamaan dengan setiap

kontraksi, kandung kemih, rectum, tulang belakang dan tulang pubic menerima tekanan kuat

dari rahim. Berat dari kepala bayi ketika bergerak kebawah saluran lahir juga menyebabkan

tekanan (Saiffudin, 2009)


Persalinan tidak selalu berjalan lancar, terkadang ada kelambatan dan kesulitan yang

dinamakan distosia. Salah satu penyebab distosia itu adalah karena kelainan his yaitu suatu

keadaan dimana his tidak normal, baik kekuatannya maupun sifatnya sehingga menghambat

kelancaran persalinan. Kelainan his dapat diklasifikasikan menjadi Insersia uteri hipotoni

(disfungsi uteri hipotonik) yaitu kontraksi uterus terkoordinasi tetapi tidak adekuat. Disini
2

kekuatan his lemah dan frekuensinya jarang. Sering dijumpai pada penderita dengan

keadaan umum kurang baik seperti anemia, uterus yang terlalu teregang misalnya akibat

hidramnion atau kehamilan kembar atau makrosomia, grandemultipara atau primipara, serta

pada penderita dengan keadaan emosi kurang baik. dan Insersia uteri hipertoni (disfungsi

uteri hipertonik / disfungsi uteri inkoordinasi) yaitu kontraksi uterus tidak terkoordinasi,

kuat tetapi tidak adekuat, kelainan his dengan kekuatan cukup besar (kadang sampai

melebihi normal) namun tidak ada koordinasi kontraksi dari bagian atas, tengah dan bawah

uterus, sehingga tidak efisien untuk membuka serviks dan mendorong bayi keluar. Pada

kasus-kasus tersebut di atas yang sering terjadi di masyarakat jika tidak tertangani dengan

baik akan berefek pada peningkatan Angka Kematian Ibu (AKI) dimana salah satunya

adalah perdarahan dan infeksi dan Angka Kematian Bayi (AKB).


Berdasarkan penelitian World Health Organisation (WHO) di seluruh dunia, terdapat

kematian ibu sebesar 500.000 per tahun dan kematian bayi khususnya neonatus sebesar

10.000.000 jiwa per tahun. Kematian maternal dan bayi tersebut terjadi terutama di Negara

berkembang sebesar 99%. WHO memperkirakan jika ibu hanya melahirkan rata-rata 3 bayi,

maka kematian ibu dapat diturunkan menjadi 300.000 jiwa dan kematian bayi sebesar

5.600.000 jiwa per tahun Angka kejadian kehamilan lewat waktu kira-kira 10%, bervariasi

antara 3,5-14%. Data statistik menunjukkan, angka kematian dalam kehamilan lewat waktu

lebih tinggi ketimbang dalam kehamilan cukup bulan, dimana angka kematian kehamilan

lewat waktu mencapai 5-7% (Manuaba, I.B.G. 2011).


Di Negara Association of South East Nations (ASEAN) angka kematian ibu (AKI)

masih cukup tinggi pada tahun 2007. Seperti di Malaysia berkisar 5,5 per 100.000 kelahiran

hidup, Singapura 3 per 100.000 kelahiran hidup, Thailand 17 per 100.000 kelahiran hidup,
3

Vietnam 18 per 100.000 kelahiran hidup, Philipina 26 per 100.000 kelahiran hidup, dan

Indonesia menempati posisi tertinggi berkisar 248 per 100.000 kelahiran hidp (PutraHendry.

2011).
Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia tertinggi di kawasan Asia Tenggara

(ASEAN). Jumlahnya mencapai 228 dari 100.000 kelahiran hidup, Ditinjau dari profil

kementrian kesehatan Indonesia menduduki ranking 109 dari 174 negara jauh tertinggal dari

Negara-negara ASEAN lainnya. Ranking ini relatif tak beranjak, bahkan cenderung lebih

buruk. Sementara itu, AKI Indonesia juga menduduki urutan yang tak dapat dibanggakan.

Data menunjukkan masih tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) yaitu 461 per 100.000

kelahiran hidup, dan juga Angka Kematian Balita (AKB) yaitu 42 per 1.000 kelahiran hidup.

Pada tahun 2010 tercatat 98 orang (0,30%) meninggal dari 31.855 ibu hamil yang

mengalami kehamilan lewat waktu. Berdasarkan kecenderungan angka-angka tersebut, akan

sulit dicapai target Millenium Develompment Goals (MDG) tahun 2015. Penurunan AKI

hanya mencapai 52% dari keadaan tahun 2009 (Putra Hendry. 2011).
Data sekunder yang diperoleh dari Dinas Kesehatan propinsi Sulawesi Selatan AKI

tahun 2009 yaitu 114/100.000 kelahiran hidup dengan penyebab yaitu perdarahan 59 orang

(51,75%) , preeklamsia/eklamsia 35 orang (30,70%), infeksi 8 orang (7,01%) dan lain-lain

12 orang (10,52%). Penyebab lain yang berhubungan dengan kehamilan, persalinan dan

nifas seperti komplikasi aborsi, partus lama dan kehamilan serotinus (Profil Dinas Kesehatan

Sul-Sel, 2009).
Secara global, lima penyebab utama kematian ibu adalah perdarahan, hipertensi dalam

kehamilan (HDK), infeksi, partus lama/macet dan abortus. Kematian ibu di Indonesia tetap

didominasi oleh tiga penyebab utama kematian yaitu perdarahan, hipertensi dalam
4

kehamilan (HDK) dan infeksi. Proporsi ketiga penyebab kematian ini telah berubah, dimana

perdarahan dan infeksi semakin menurun sedangkan HDK dalam kehamilan proporsinya

semakin meningkat, hampir 30 % kematian ibu di Indonesia pada tahun 2011 disebabkan

oleh HDK. (Depkes, 2013)


Salah satu indikator penting dalam upaya penurunan AKI dan AKB adalah persalinan

ditolong oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan. Pada tahun 2000

Pemerintah Indonesia telah mencanangkan Making Pregnancy Saver (MPS) dan merupakan

kelanjutan dari program Safe Motherhood. Kegiatan-kegiatan yang tercakup dalam program

MPS merupakan kegiatan yang terfokus sesuai dengan penyebab masalah yang terbukti

menjadi penyebab utama tingginya angkaa kematian ibu dan neonatal di Indonesia. MPS

mengharapkan agar ibu hamil, melahirkan dan dalam masa setelah persalinan (post natal)

mempunyaai akses terhadap tenaga kesehatan terlatih. (Depkes, 2010)


Upaya untuk mengendalikan terjadinya perdarahan dengan memperbaiki kontraksi dan

retraksi serta miometrium yang kuat. Oleh karena itu upaya mempertahankan kontrkasi

uterus melalui massage manual ataupun merangsang keluarnya hormon oksitoksin

merupakan bagian penting dalam proses persalinan (Bobak, lowdermik, jensen, 2005).

Pengeluaran oksitosin ini akan menyebabkan kontraksi dan retraksi uterus yang kuat, terus

menerus sehingga dapat mempercepat proses persalinan. Dengan demikian jelas bahwa

oksitosin juga berperan dalam proses persalinan sehingga tindakan perawatan untuk

merangsang pengeluaran hormon oksitosin segera dilaksanakan pada saat ibu masuk dalam

fase inpartu.
Oksitosin adalah suatu hormon yang dihasilkan oleh lobus posterior hipofise.

Oksitosin dapat diberikan secara langsung baik oral, intra nasal, intra muskular maupun
5

dengan pemijatan yang dapat merangsang keluarnya hormon oksitosin. Salah satu tindakan

tersebut adalah pijat oksitosin, dengan demikian pijat oksitosin perlu dilakukan dalam

mekanisme kontraksi uterus adalah terdapatnya tiga pengatur yang berhubungan dengan

reaksi hormon dan unsur-unsur farmakologi dalam kontraksi uterus. Adapun tiga pengatur

reaksi hormon tersebut adalah myosin light chain kinase, calcium calmodulin dan cAMP

mediated phosphorylation (Dasuki, Rumekti, et all, 2008)


Pijat oksitosin adalah suatu tindakan pemijatan tulang belakang mulai dari costa ke 5-

6 sampai scapula akan mempercepat kerja saraf parasimpatis untuk menyampaikan perintah

ke otak bagian belakang sehingga oksitosin keluar (Suherni, 2008; Suradi, 2006). Hormon

oksitosin berguna untuk memperkuat dan mengatur kontraksi uterus, mengompresi

pembuluh darah dan membantu hemostasis ibu sehingga mengurangi kejadian atonia uteri

terutama pada persalinan lama (Cunningham, 2006).


Sehubungan dengan itu maka peneliti tertarik untuk meneliti lebih lanjut tentang

pengaruh pijat oksitosin terhadap peningkatan konsentrasi hormon oksitosin pada ibu inpatu

di RSIA Siti Khadijah I Makassar.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas maka rumusan masalah dalam penelitian

ini adalah Adakah pengaruh pijat oksitosin terhadap peningkatan konsentrasi hormon

oksitosin pada ibu inpatu?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengaruh pijat oksitosin terhadap peningkatan konsentrasi hormon

oksitosin pada ibu inpatu.


2. Tujuan Khusus
6

a. Mengetahui konsentrasi hormon oksitosin pada ibu inpartu kala I fase laten sebelum

pemijatan oksitosin.
b. Mengetahui konsentrasi oksitosin pada ibu inpartu kala I fase aktif setelah pemijatan

oksitosin.
c. Menganalisa pengaruh pijat oksitosin terhadap perubahan konsentrasi oksitosin.
D. Kegunaan Penelitian
1. Manfaat Praktis
Sebagai pengembangan ilmu pengetahuan dan menambah informasi ilmiah tentang

pengaruh pijat oksitosin terhadap konsentrasi hormon oksitosin pada ibu inpartu serta

menjadi pengalaman berharga khususnya di bidang penelitian serta memperkaya

wawasan dan upaya meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak.


2. Manfaat Ilmiah

Diharapkan menjadi reverensi, sumbangan ilmiah dan memperkaya khasanah

keilmuan dalam bidang kesehatan khususnya kebidanan serta dapat dijadikan sebagai

bahanacuan bagi penulis selanjutnya

E. Hipotesis

Hipotesis yang diambil dalam penelitian ini adalah ada pengaruh pemberian pijat

oksitosin terhadap peningkatan hormon oksitosin pada ibu inpartu dengan persalinan normal.

F. Lokasi dan Waktu

Penelitian akan dilaksanakan di RSIA ST.KHADIJAH I Makassar . waktu

penelitian dilaksanakan pada bulan Februari 2016 s.d April 2016.

G. Rancangan Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian ini

menggunakan desain quasi experimental dengan two group pre dan post test
H. Populasi, Sampel dan Teknik Sampel
1. Populasi
7

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian. Populasidalam penelitian ini adalah

seluruh ibu inpartu di RSIA Siti Khadijah I Makassar pada saat penelitian ini

berlangsung. Berdasarkan data awal yang didapatkan pada bulan Oktober 2015

jumlah ibu ipartu yang dirawat sebanyak 30 orang. dengan estimasi 30 s.d 40 orang

setiap bulannya.

2. Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh ibu inpartu yang melahirkan

(pervaginam) yang memenuhi kriteria inklusi.


Tehnik pemilihan sampel ini dilakukan dengan cara Purposive Sampling dengan

kriteria inklusi dan eksklusi.


a. Kriteria Inklusi
1) Ibu yang bersedia ikut dalam penelitian dengan persetujuan (informed

consent)
2) Ibu inpartu primi
3) Ibu yang dilakukan pijat oksitosin dan yang tidak dilakukan pemijatan

oksitosin
4) Kondisi psikologi responden baik
b. Kriteria Eksklusi
1) Ibu yang tidak mau dijadikan responden.
2) Ibu yang tidak mengalami penyulitan persalinan
3) Kondisi psikologi responden kurang baik
c. Besar Sampel dalam penelitian ini berdasarkan rumus Lemeshow
2

n=
{z
1 /2 P ( 1P ) +Z P ( 1P ) }
0 0 1 a a
2
( P aP0 )

Keterangan :
n : Besar sampel
Z1-/2 : Standar normal deviasi untuk = 95% = 1,96
Z1- : Standar normal deviasi untuk = 20% = 0,84
8

P0 : Proporsi involusi uterus normal = 60% = 0,6 (Hamranani,

2011)
Pa : Perkiraan proporsi di populasi = 80% = 0,8
Dengan perhitungan :

2
{1,96 0,6 (10,6 ) +0,84 0,8 ( 10,8 ) }
n1=n2=
( 0,80,6 )2

2
{1,96 0,6 ( 0,4 ) +0,84 0,8 ( 0,2 ) }
n1=n2=
( 0,2 )2

2
{ ( 1,96 ) ( 0,49 )+ ( 0,84 ) (0,4)}
n1=n2=
0,04

2
{ 0,96+0.34 }
n1=n2=
0,04

n1=n2=30,25=30 orang
9

A. Alur Penelitian

Mengurus Etika Penelitian


Mengurus Ijin Penelitian

Populasi dan Sampel di RSIA Siti Khadijah

Informed Consent kepada responden

Memberikan pemijatan oksitosin

Observasi His dan Hasil Konsentrasi Oksitosin

Membandingkan Kelompok Kontrol dan


kelompok intervensi
Analisa Data

Hasil dan Pembahasan

Kesimpulan
I. Prosedur Pengumpulan Data

Prosedur pengumpulan data terdiri dari 2 tahap yaitu

1. Prosedur administratif
Penelitian ini dimulai dengan proses pengajuan izin penelitian ke Komite Etik Fakultas

Kedokteran UNHAS setelah itu membawakan surat izin penelitian tersebut kepada

RSIA Siti Khadijah I Makassar.


2. Prosedur teknis
Langkah-langkah teknis adalah sebagai berikut :
a. Pemilihan kolektor data untuk menjalankan penelitian dengan kualifikasi pendidikan

DIII Kebidanan, masa kerja minimal 2 tahun dan bertugas di ruang bersalin RSIA

Siti Khadijah Makassar sebanyak 2 orang.


10

b. Peneliti memberikan penjelasan pada seluruh kolektor data tentang metode stimulasi

oksitosin melalui pijatan serta bagaimana berkomunikasi dengan responden dan

bagaimana melakukan penilaian dan mengisi lembar observasi.


c. Pemilihan responden dilakukan peneliti bekerjasama dengan bidan yang bertugas di

ruang bersalin RSIA Siti Khadijah I Makassar untuk menjaring responden sesuai

kriteria inklusi.
d. Peneliti memberikan penjelasan kepada responden dilanjutkan dengan

penandatanganan informed concent


e. Setelah itu peneliti melakukan stimulasi oksitosin dengn memberikan pijatan pada

kelompok perlakuan pada inpartu kala I fase laten dan fase aktif . Sedangkan pada

kelompok kontrol tidak diberikan stimulasi oksitosin.


f. Peneliti melakukan penilaian konsentrasi hormone oksitosin pada Inpartu kala I fase

laten dan Fase Aktif. Penilaian konsentrasi hormone oksitosin ini dilakukan pada

kelompok perlakuan dan kontrol.


g. Penilaian menggunakan lembar observasi meliputi : konsentrasi hormone oksitosin

pada inpartu kala I fase laten dan fase aktif.

J. Instrumen Pengumpulan Data

Instrumen pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah lembar

observasi.

K. Analisis Data

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :


1. Analisis univariat disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekwensi, ukuran tendensi

sentral atau grafik.


2. Analisis bivariat yang digunakan adalah uji Mann Whitney