Anda di halaman 1dari 13

Pendidikan Kewarganegaraan

SISTEM KETATANEGARAAN INDONESIA


Menurut
UNDANG UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA
1945

Oleh :
Sertin Novita Melani Mooy
1221103

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL S-1


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL MALANG
2013
KATA PENGANTAR DAFTAR ISI

Pada tempat pertama penulis memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan HALAMAN JUDUL
Yang Maha Esa yang atas rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan KATA PENGANTAR .......................................................................................
tugas makalah Sistem Ketatanegaraan Indonesia Menurut Undang Undang Dasar DAFTAR ISI ....................................................................................................
1945 dengan baik. PEMBAHASAN ...............................................................................................
Tak lepas dari berbagai hambatan, rintangan, dan kesulitan yang muncul, Sebelum Amandemen UUD 1945 ....................................................................
namun berkat petunjuk dan bimbingan dari semua pihak, penulis dapat Setelah Amandemen UUD 1945 ......................................................................
menyelesaikan tugas ini. Sehubungan dengan hal tersebut maka dalam kesempatan Kajian Sistem Ketatanegaraan Setelah Amandemen UUD 1945 ......................
ini penulis menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar- besarnya PENUTUP ........................................................................................................
kepada semua pihak yang telah membantu.
Penulis pun sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun
demi penyempurnaan tugas ini agar menjadi lebih baik. Akhir kata, penulis
berharap penyelesaian tugas ini dapat memberikan konstribusi bagi
terselenggaranya pendidikan yang berkualitas.

Malang, April 2013

Penulis
PEMBAHASAN Undang-Undang Dasar 1945 ini, telah membawa implikasi terhadap sistem
( Sistem Ketatanegaraan Indonesia menurut UUD 1945 ) ketatanegaraan Indonesia. Dengan berubahnya sistem ketatanegaraan Indonesia,
maka berubah pula susunan lembaga-lembaga negara yang ada. Berikut ini akan
dijelaskan sistem ketatanegaraan Indonesia sebelum dan sesudah Amandemen
Negara adalah suatu organisasi yang meliputi wilayah, sejumlah rakyat,
UUD 1945.
dan mempunyai kekuasaan berdaulat. Negara Indonesia adalah Negara Kesatuan
yang berbentuk Republik (seperti pada bab 1 pasal 1 ayat 1 UUD 1945) . Setiap
Sebelum Amandenen UUD 1945
negara memiliki sistem politik (political system) yaitu pola mekanisme atau
pelaksanaan kekuasaan. Sedang kekuasaan adalah hak dan kewenangan serta
Sebelum diamandemen, UUD 1945 mengatur kedudukan lembaga
tanggung jawab untuk mengelola tugas tertentu. Pengelolaan suatu negara inilah
tertinggi dan lembaga tinggi negara, serta hubungan antar lembaga-lembaga
yang disebut dengan sistem ketatanegaraan.
tersebut. Undang-Undang Dasar merupakan hukum tertinggi, kemudian
Di Indonesia pengaturan sistem ketatanegaraan diatur dalam Undang-
kedaulatan rakyat diberikan seluruhnya kepada MPR (Lembaga Tertinggi). MPR
Undang Dasar 1945, yang kemudian dijabarkan pula ke dalam Undang-Undang
mendistribusikan kekuasaannya (distribution of power) kepada 5 Lembaga Tinggi
atau Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang, Peraturan Pemerintah,
yang sejajar kedudukannya, yaitu Mahkamah Agung (MA), Presiden, Dewan
Peraturan Presiden, dan Peraturan Daerah. Sedangkan kewenangan kekuasaan
Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dan Badan
berada di tingkat nasional sampai kelompok masyarakat terendah yang meliputi
Pemeriksa Keuangan (BPK).
MPR, DPR, Presiden dan Wakil Presiden, Menteri, MA, MK, BPK, DPA,
Adapun kedudukan dan hubungan antar lembaga tertinggi dan lembaga-
Gubernur, Bupati/ Walikota, sampai tingkat RT.
lembaga tinggi negara menurut UUD 1945 sebelum diamandemen, dapat
Lembaga-lembaga yang berkuasa ini berfungsi sebagai perwakilan dari
diuraikan sebagai berikut :
suara dan tangan rakyat, sebab Indonesia menganut sistem demokrasi. Dalam
sistem demokrasi, pemilik kekuasaan tertinggi dalam negara adalah rakyat.
Kekuasaan bahkan diidealkan penyelenggaraannya bersama-sama dengan rakyat.
Undang Undangn Dasar 1945 sebagai konstitusi Negara Indonesia terdiri
atas pembukaan & pasal-pasal yang mana memuat tentang sistem ketatanegaraan
Indonesia yakni mengenai bagaimana negara Indonesia menjalankan
pemerintahannya.
Pada kurun waktu tahun 1999 - 2002, Undang-Undang Dasar 1945 telah
mengalami empat kali perubahan (amandemen). Perubahan (amandemen)
c. BPK ( pasal 23 ayat 5)
Badan Pemeriksa Keuangan (disingkat BPK) adalah lembaga tinggi negara
dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yang memiliki wewenang memeriksa
pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. Menurut UUD 1945,
BPK merupakan lembaga yang bebas dan mandiri.
Anggota BPK dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan
pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah, dan diresmikan oleh Presiden.
Pasal 23 ayat (5) UUD Tahun 1945 menetapkan bahwa untuk memeriksa
tanggung jawab tentang Keuangan Negara diadakan suatu Badan Pemeriksa
Keuangan yang peraturannya ditetapkan dengan Undang-Undang. Hasil
pemeriksaan itu disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat.
d. DPR (Bab VII)
a. MPR (Bab II Pasal 2 & 3) Tugas dan wewenang DPR sebelum amandemen UUD 1945 adalah
Sebelum perubahan UUD 1945, kedudukan MPR berdasarkan UUD 1945 memberikan persetujuan atas RUU [pasal 20 (1)], mengajukan rancangan
merupakan lembaga tertinggi negara dan sebagai pemegang dan pelaksana Undang-Undang [pasal 21 (1)], Memberikan persetujuan atas PERPU [pasal
sepenuhnya kedaulatan rakyat (bab 1 pasal 1 ayat 2) . MPR diberi kekuasaan 22 (2)], dan Memberikan persetujuan atas Anggaran Pendapatan dan Belanja
tak terbatas (Super Power). karena kekuasaan ada di tangan rakyat dan Negara [pasal 23 (1)]. UUD 1945 tidak menyebutkan dengan jelas bahwa
dilakukan sepenuhnya oleh MPR dan MPR adalah penjelmaan dari DPR memiliki fungsi legislasi, fungsi anggaran dan pengawasan.
seluruh rakyat Indonesia yang berwenang menetapkan UUD, GBHN (pasal e. Presiden (pasal 4 dan 5)
3), mengangkat presiden dan wakil presiden. Presiden memegang posisi sentral dan dominan sebagai mandataris MPR,
b. MA (Bab IX) meskipun kedudukannya tidak neben akan tetapi untergeordnet. Presiden
Mahkamah Agung (disingkat MA) adalah lembaga tinggi negara dalam menjalankan kekuasaan pemerintahan negara tertinggi (consentration of
sistem ketatanegaraan Indonesia yang merupakan pemegang kekuasaan power and responsiblity upon the president). Presiden selain memegang
kehakiman bersama-sama dengan Mahkamah Konstitusi dan bebas dari kekuasaan eksekutif (executive power), juga memegang kekuasaan
pengaruh cabang-cabang kekuasaan lainnya. Mahkamah Agung membawahi legislative (legislative power) dan kekuasaan yudikatif (judicative power).
badan peradilan dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan Presiden mempunyai hak prerogatif yang sangat besar. Tidak ada aturan
agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara.
mengenai batasan periode seseorang dapat menjabat sebagai presiden serta a. Tidak adanya check and balances antar lembaga negara dan kekuasaan
mekanisme pemberhentian presiden dalam masa jabatannya. terpusat pada presiden.
b. Infra struktur yang dibentuk, antara lain partai politik dan organisasi
Namun kenyataannya pada sistem ketata negaraan ini, terjadi
masyarakat.
penyelewengan kekuasaan melalui penafsiran yang berbeda dengan nilai dasar
c. Pemilihan Umum (Pemilu) diselenggarakan untuk memenuhi persyaratan
UUD 1945. Undang-Undang Dasar 1945 membentuk struktur ketatanegaraan yang
demokrasi formal karena seluruh proses tahapan pelaksanaannya dikuasai
bertumpu pada kekuasaan tertinggi di tangan MPR yang sepenuhnya
oleh pemerintah.
melaksanakan kedaulatan rakyat. Hal ini berakibat pada tidak terjadinya checks
d. Kesejahteraan sosial berdasarkan Pasal 33 UUD 1945 tidak tercapai, justru
and balances pada institusi-institusi ketatanegaraan. UUD 1945 memberikan
yang berkembang adalah sistem monopoli dan oligopoli.
kekuasaan yang sangat besar kepada pemegang kekuasaan eksekutif (Presiden).
Sistem yang dianut UUD 1945 adalah executive heavy yakni kekuasaan dominan Undang-Undang Dasar merupakan hukum tertinggi, kemudian kedaulatan
berada di tangan Presiden dilengkapi dengan berbagai hak konstitusional yang rakyat diberikan seluruhnya kepada MPR (Lembaga Tertinggi). MPR
lazim disebut hak prerogatif (antara lain: memberi grasi, amnesti, abolisi dan mendistribusikan kekuasaannya (distribution of power) kepada 5 Lembaga Tinggi
rehabilitasi) dan kekuasaan legislatif karena memiliki kekuasan membentuk yang sejajar kedudukannya, yaitu Mahkamah Agung (MA), Presiden, Dewan
Undang-undang. Pasal-pasalnya pun terlalu luwes dan fleksibel sehingga Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dan Badan
dapat menimbulkan lebih dari satu penafsiran (multitafsir), misalnya Pasal 7 UUD Pemeriksa Keuangan (BPK).
1945 (sebelum di amandemen). UUD 1945 terlalu banyak memberi kewenangan MPR
kepada kekuasaan Presiden untuk mengatur hal-hal penting dengan Undang- Sebagai Lembaga Tertinggi Negara diberi kekuasaan tak terbatas (super
undang. Presiden juga memegang kekuasaan legislatif sehingga Presiden dapat power) karena kekuasaan ada di tangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya
merumuskan hal-hal penting sesuai kehendaknya dalam Undang-undang. oleh MPR dan MPR adalah penjelmaan dari seluruh rakyat Indonesia
Rumusan UUD 1945 tentang semangat penyelenggaraan negara belum yang berwenang menetapkan UUD, GBHN, mengangkat presiden dan wakil
cukup didukung ketentuan konstitusi yang memuat aturan dasar tentang kehidupan presiden.
yang demokratis, supremasi hukum, pemberdayaan rakyat, penghormatan hak Susunan keanggotaannya terdiri dari anggota DPR dan utusan daerah serta
asasi manusia dan otonomi daerah. Hal ini membuka peluang bagi berkembangnya utusan golongan yang diangkat.
praktek penyelengaraan negara yang tidak sesuai dengan Pembukaan UUD 1945, Dalam praktek ketatanegaraan, MPR pernah menetapkan antara lain:
antara lain sebagai berikut: Presiden, sebagai presiden seumur hidup.
Presiden yang dipilih sampai 7 (tujuh) kali berturut turut.
Memberhentikan sebagai pejabat presiden. Sesudah Amandemen UUD 1945
Meminta presiden untuk mundur dari jabatannya.
Tidak memperpanjang masa jabatan sebagai presiden. Tujuan perubahan UUD 1945 waktu itu adalah menyempurnakan aturan

Lembaga Negara yang paling mungkin menandingi MPR adalah Presiden, dasar seperti tatanan negara, kedaulatan rakyat, HAM, pembagian kekuasaan,

yaitu dengan memanfaatkan kekuatan partai politik yang paling banyak eksistensi negara demokrasi dan negara hukum, serta hal-hal lain yang sesuai

menduduki kursi di MPR. dengan perkembangan aspirasi dan kebutuhan bangsa. Perubahan UUD 1945

PRESIDEN dengan kesepakatan diantaranya tidak mengubah Pembukaan UUD 1945, tetap

Presiden memegang posisi sentral dan dominan sebagai mandataris MPR, mempertahankan susunan kenegaraan (staat structuur) kesatuan atau selanjutnya

meskipun kedudukannya tidak neben akan tetapi untergeordnet. lebih dikenal sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta

Presiden menjalankan kekuasaan pemerintahan negara tertinggi mempertegas sistem pemerintahan presidensiil.

(consentration of power and responsiblity upon the president). Sistem ketatanegaraan Indonesia sesudah Amandemen UUD 1945, dapat
dijelaskan sebagai berikut: Undang-Undang Dasar merupakan hukum tertinggi
Presiden selain memegang kekuasaan eksekutif (executive power), juga
dimana kedaulatan berada di tangan rakyat dan dijalankan sepenuhnya menurut
memegang kekuasaan legislative (legislative power) dan kekuasaan yudikatif
(judicative power). UUD. UUD memberikan pembagian kekuasaan (separation of power) kepada 6
lembaga negara dengan kedudukan yang sama dan sejajar, yaitu Presiden, Majelis
Presiden mempunyai hak prerogatif yang sangat besar.
Permusyawaratan Rakyat (MPR), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan
Tidak ada aturan mengenai batasan periode seseorang dapat menjabat
Perwakilan Daerah (DPD), Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Mahkamah Agung
sebagai presiden serta mekanisme pemberhentian presiden dalam masa
(MA), dan Mahkamah Konstitusi (MK).
jabatannya.
DPR
Memberikan persetujuan atas RUU yang diusulkan presiden.
Memberikan persetujuan atas PERPU.
Memberikan persetujuan atas Anggaran.
Meminta MPR untuk mengadakan sidang istimewa guna meminta
pertanggungjawaban presiden.
DPA DAN BPK : UUD 1945 tidak banyak mengintrodusir lembaga negara lain
seperti DPA dan BPKdengan memberikan kewenangan yang sangat minim.
Dengan adanya perubahan UUD 1945, terjadi perubahan pula pada sistem berdasarkan perimbangan kekuasaan (check and balances) yaitu setiap kekuasaan
ketatanegaraan negara. Yang mana didalamnya menjelaskan tentang : dibatasi oleh Undang-undang berdasarkan fungsi masing-masing. Menata kembali
Pertama, penegasan prinsip negara berdasarkan atas hukum [Pasal 1 ayat lembaga-lembaga negara yang ada serta membentuk beberapa lembaga negara
(3)]. Negara Indonesia berdasar atas hukum, tidak berdasarkan atas kekuasaan baru agar sesuai dengan sistem konstitusional dan prinsip negara berdasarkan
belaka. Hal ini mengandung arti negara yang di dalamnya termasuk pemerintah hukum. Contoh presiden merupakan penyelenggara pemerintahan tertinggi di
dan lembaga-lembaga negara lainnya dalam melaksanakan tugas dan tindakan samping MPR dan DPR, karena Presiden dipilih langsung oleh rakyat. Jadi
apapun harus berdasarkan dan dilandasi oleh peraturan hukum serta dapat menurut UUD 1945, Presiden bukan lagi sebagai mandataris MPR. Dengan
dipertanggungjawabkan secara hukum pula. Menempatkan kekuasaan kehakiman demikian Presiden bertanggung jawab langsung terhadap rakyat sehingga tidak
sebagai kekuasaan yang merdeka (pasal , penghormatan kepada hak asasi manusia lagi terjadi tumpang tindi kekuasaan. Penyempurnaan pada sisi kedudukan dan
serta kekuasaan yang dijalankan atas prinsip due process of law. Mengatur kewenangan maing-masing lembaga negara disesuaikan dengan perkembangan
mekanisme pengangkatan dan pemberhentian para pejabat negara, seperti Hakim. negara demokrasi modern.
Kedua, Negara menganut sistem konvensional. Pemerintahan Indonesia Kelima, presiden tidak bertanggung jawab kepada DPR. DPR mempunyai
berdasarkan atas sistem konstitusi, tidak bersifat absolute (mempunyai kekuasaan kedudukan yang sejajar dengan Presiden. Sehingga Presiden harus mendapatkan
yang tidak terbatas). Sistem konvensional ini memberikan penegasan bahwa cara persetujuan DPR untuk membentuk Undang-Undang (pasal 20) dan menetapkan
pengendalian pemerintahan dibatasi oleh ketentuan-ketentuan konstitusi dan oleh APBN. Oleh karena itu Presiden harus bekerjasama dengan DPR. Namun,
ketentuan-ketentuan hukum lain yang merupakan produk konstitusional, seperti Presiden tidak bertanggung jawab kepada DPR. Ini berarti bahwa kedudukan
Ketetapan MPR, Undang-Undang, dan sebagainya. Sehingga sistem konstitusional Presiden tidak tergantung pada DPR.
ini merupakan penegasan dari sistem hukum yang telah dijelaskan pada poin Keenam, menteri negara adalah pembantu presiden, menteri negara tidak
pertama diatas. bertanggung jawab kepada DPR. Dalam menjalankan tugas pemerintahannya,
Ketiga, kekuasaan negara tertinggi ada di tangan rakyat. Sebelum Presiden dibantu oleh menteri-menteri negara sesuai dengan pasal 17 ayat 1 UUD
dilakukan amandemen terhadap UUD 1945 pada tahun 2002, kekuasaan negara 1945. Menteri negara diangkat dan diberhentikan oleh Presiden. Sehingga Menteri
tertinggi ada di tangan MPR. Dimana MPR yang merupakan penjelmaan dari Negara tidak bertanggung jawab kepada DPR. Kedudukan Menteri Negara juga
seluruh rakyat Indonesia juga memegang kedaulatan rakyat. Namun setelah tidak tergantung kepada DPR.
dilakukan amandemen, kekuasaan negara tertinggi beralih ke tangan rakyat dan Ketujuh, kekuasaan kepala negara tidak tak terbatas. Hasil Amandemen
dilaksanakan menurut UUD 1945 sesuai dengan pasal 1 ayat 2. UUD 1945 menyebutkan bahwa Presiden dan Wakil Presiden dipilih secara
Keempat, Berdasarkan UUD 1945 hasil amandemen, Setiap lembaga langsung oleh rakyat. Sehingga dalam sistem kekuasaan kelembagaan negara,
negara sejajar kedudukannya di bawah UUD 1945. Sistem konstitusional Presiden tidak lagi merupakan Mandataris MPR bahkan sejajar dengan MPR dan
DPR. namun apabila Presiden terbukti melanggar Undang-Undang maupun UUD Mempertegas fungsi DPR, yaitu: fungsi legislasi, fungsi anggaran, dan fungsi
1945, maka MPR dapat melakukan IMPEACHMANT (pemberhentian) sesuai pengawasan sebagai mekanisme kontrol antar lembaga negara.
pasal 7a dan 7b . DPD
Sistem pemerintahan negara Indonesia seperti diatas merupakan Lembaga negara baru sebagai langkah akomodasi bagi keterwakilan
perwujudan kedaulatan rakyat. Oleh karena itu sistem pemerintahan di Indonesia kepentingan daerah dalam badan perwakilan tingkat nasional setelah
dikenal dengan Tujuh Kunci Pokok Sistem Pemerintahan Negara. Dalam sistem ditiadakannya utusan daerah dan utusan golongan yang diangkat sebagai
ketatanegaraan Indonesia setelah UUD 1945, setiap lembaga negara memiliki anggota MPR.
susunan kedudukan, wewenang dan tugas yang didasarkan pada sistem kesetaraan Keberadaanya dimaksudkan untuk memperkuat kesatuan Negara Republik
lembaga negara, yakni : Indonesia.
MPR Dipilih secara langsung oleh masyarakat di daerah melalui pemilu.
Lembaga tinggi negara sejajar kedudukannya dengan lembaga tinggi negara Mempunyai kewenangan mengajukan dan ikut membahas RUU yang
lainnya seperti Presiden, DPR, DPD, MA, MK, BPK. berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, RUU lain
Menghilangkan supremasi kewenangannya. yang berkait dengan kepentingan daerah.
Menghilangkan kewenangannya menetapkan GBHN. BPK
Menghilangkan kewenangannya mengangkat Presiden (karena presiden Anggota BPK dipilih DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD.
dipilih secara langsung melalui pemilu). Berwenang mengawasi dan memeriksa pengelolaan keuangan negara
Tetap berwenang menetapkan dan mengubah UUD. (APBN) dan daerah (APBD) serta menyampaikan hasil pemeriksaan kepada
Susunan keanggotaanya berubah, yaitu terdiri dari anggota Dewan DPR dan DPD dan ditindaklanjuti oleh aparat penegak hukum.
Perwakilan Rakyat dan angota Dewan Perwakilan Daerah yang dipilih secara Berkedudukan di ibukota negara dan memiliki perwakilan di setiap provinsi.
langsung melalui pemilu. Mengintegrasi peran BPKP sebagai instansi pengawas internal departemen
DPR yang bersangkutan ke dalam BPK.
Posisi dan kewenangannya diperkuat. PRESIDEN
Mempunyai kekuasan membentuk UU (sebelumnya ada di tangan presiden, Membatasi beberapa kekuasaan presiden dengan
sedangkan DPR hanya memberikan persetujuan saja) sementara pemerintah memperbaiki tata cara pemilihan dan
berhak mengajukan RUU. pemberhentian presiden dalam masa jabatannya
Proses dan mekanisme membentuk UU antara DPR dan Pemerintah. serta memperkuat sistem pemerintahan
presidensial.
Kekuasaan legislatif sepenuhnya diserahkan kepada DPR. memutus sengketa hasil pemilu dan memberikan putusan atas pendapat DPR
Membatasi masa jabatan presiden maksimum menjadi dua periode saja. mengenai dugaan pelanggaran oleh presiden dan atau wakil presiden menurut
Kewenangan pengangkatan duta dan menerima duta harus memperhatikan UUD.
pertimbangan DPR. Hakim Konstitusi terdiri dari 9 orang yang diajukan masing-masing oleh
Kewenangan pemberian grasi, amnesti dan abolisi harus memperhatikan Mahkamah Agung, DPR dan pemerintah dan ditetapkan oleh Presiden,
pertimbangan DPR. sehingga mencerminkan perwakilan dari 3 cabang kekuasaan negara yaitu

Memperbaiki syarat dan mekanisme pengangkatan calon presiden dan wakil yudikatif, legislatif, dan eksekutif.

presiden menjadi dipilih secara langsung oleh rakyat melui pemilu, juga KOMISI YUDISIAL

mengenai pemberhentian jabatan presiden dalam masa jabatannya. Merupakan lembaga mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan
MAHKAMAH AGUNG hakim agung dan penegakan kehormatan dan perilaku hakim.

Lembaga negara yang melakukan kekuasaan kehakiman, yaitu kekuasaan Anggotanya diangkat dan diberhentikan oleh Presiden dengan persetujuan
yang menyelenggarakan peradilan untuk menegakkan hukum dan keadilan DPR.
[Pasal 24 ayat (1)].
Berwenang mengadili pada tingkat kasasi, menguji peaturan perundang- Kajian Sistem Ketatanegaraan Indonesia setelah amandemen UUD 1945
undangan di bawah Undang-undang dan wewenang lain yang diberikan
Undang-undang. Berdasarakan hasil perubahan UUD 1945, sistem ketatanegaraan disusun

Di bawahnya terdapat badan-badan peradilan dalam lingkungan Peradilan berdasarkan asas demokrasi dan menjunjung tinggi hukum yang mana menjadikan

Umum, lingkungan Peradilan Agama, lingkungan Peradilan militer dan UUD sebagai dasar pelaksanaan sistem pemerintahan dengan kesetaraan lembaga

lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN). negara. Diharapkan sistem seperti ini dapat memberikan kesempatan yang lebih

Badan-badan lain yang yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan luas kepada rakyat untuk turut berpartisipasi dalam pemerintahan negara melalui

kehakiman diatur dalam Undang-undang seperti : Kejaksaan, Kepolisian, mekanisme yang ditepkan dalam undang-undang. Sehingga tujuan utama

Advokat/Pengacara dan lain-lain. terjadinya reformasi dapat terlaksana dalam sistem pemerintahan ini.

MAHKAMAH KONSTITUSI Namun, tak bisa dipungkiri bahwa masih terdapat kekurangan dalam sistem
ketatanegaraan seperti ini. Mengambil contoh dari asas demokrasi di Indonesia
Keberadaanya dimaksudkan sebagai penjaga kemurnian konstitusi (the
yang tidak berjalan maksimal. Dalam UUD 1945, ditegaskan bahwa rakyat
guardian of the constitution).
sebagai pemegang kekuasaan tertinggi. Implementasinya adalah keikutsertaan
Mempunyai kewenangan: Menguji UU terhadap UUD, Memutus sengketa
rakyat dalam pemilihan umum. Rakyat sebagai penentu awal berjalannya suatu
kewenangan antar lembaga negara, memutus pembubaran partai politik,
periode pemerintahan. Diharapkan melalui pemilihan langsung, kedaulatan rakyat Selanjutnya, apabila ditelaah substansi UUD 1945 sebelum perubahan baik
dapat terlaksakan dengan adanya aspirasi rakyat yang tersalurkan. Namun sangat dalam Batang Tubuh maupun dalam penjelasannya, tidak ditemukan istilah
disayangkan hal ini tak sesuai dengan pelaksanaan sistem pemerintahan seusai lembaga negara secara eksplisit. Namun hal ini tidak menimbulkan permasalahan
pemilihan umum. Dewan Perwakilan Rakyat yang mana merupakan baik secara konseptual maupun dalam praktek ketatanegaraan, karena pada masa
pengimplementasia rakyat yang duduk dalam pemerintahan justru malah itu melalui Ketetapan MPR No. III/MPR/1978 telah ditetapkan tentang
memerangi rakyatnya sendiri. Ketidak berhasilan DPR dalam menyalurkan kelembagaan Negara dengan mengelompokkan menjadi dua yaitu MPR sebagai
aspirasi rakyat menjadikan sistem pemerintahan tidak tepat sasaran. Terbukti dari Lembaga Tertinggi Negara dan Lembaga Tinggi Negara meliputi Presiden, DPR,
adanya berbagai kasus pelanggaran hukum anggota DPR yang justru merugikan MA, BPK dan DPA. Dalam Ketetapan MPR tersebut ditetapkan pula bagaimana
rakyat dan negara. hubungan diantara Lembaga Tinggi Negara dan juga dengan Lembaga Tertinggi
Tak hanya itu, berkaitan dengan struktur ketatanegaraan, meskipun telah Negara. Sistuasi dan kondisi setelah perubahan UUD 1945 (1999-2002) sangat
dilakukan perubahan UUD 1945 tetapi masih menimbulkan problematika berbeda dengan situasi dan kondisi sebelum perubahan UUD 1945. Hal ini
konstitusionalisme yang kontraproduktif terhadap penyelenggaraan Pemerintahan disebabkan dalam teks UUD 1945 hasil perubahan tidak secara eksplisit
Negara Indonesia di tingkat Pusat maupun Daerah. Timbul banyak polemik pro disebutkan mana yang termasuk lembaga tertinggi negara dan lembaga mana yang
dan kontra terhadap struktur ketatanegaraan hasil amandemen UUD 1945. Berikut dikategorikan sebagai lembaga tinggi negara. Dalam teks perubahan UUD 1945
paparannya. dijumpai adanya 2(dua) pasal yang menyebut secara eksplisit istilah Lembaga
Yang pertama, dari segi substansinya materi muatan UUD 1945 dinilai Negara, yaitu Pasal 24c ayat (1) tentang wewenang Mahkamah Konstitusi, antara
sudah mencerminkan paham kedaulatan rakyat tetapi dari segi sistem lain.. memustus sengketa kewenangan Lembaga Negara yang kewenangannya
pemerintahan dan operasionalisasinya justru menimbulkan berbagai persoalan diberikan oleh Undang-Undang Dasar. Dan dalam Pasal II Aturan Peralihan
baru, baik menyangkut hubungan Presiden dengan DPR maupun dengan lembaga- yang menyatakan Semua Lembaga Negara yang ada masih tetap berfungsi
lembaga Negara lainnya. Melihat dari perubahan I sampai dengan perubahan IV sepanjang untuk melaksanakan ketentuan Undang-Undang Dasar dan belum
yang paling banyak disorot adalah kekuasaan Presiden dan kejelasannya sistem diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar ini. Dari dua pasal tersebut
ketatanegaraan atau sistem pemerintahan yang dianut oleh Negara Indonesia. Dari di atas, untuk Pasal 24c ayat (1) UUD 1945 tidak jelas tentang kriteria Lembaga
hasil kajian tim amandemen Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (2000, 32) Negara, kecuali hanya disebutkan kriteria bahwa kewenangannya harus diberikan
yang menyimpulkan, antara lain amandemen tahap I hanya sekadar mewujudkan oleh UUD 1945. Sedangkan pasal II Aturan Peralihan dapat ditafsirkan meliputi
niat menggeser kekuasaan legislatif (legislative power) dari Presiden ke DPR. Lembaga-Lembaga yang dahulu disebut oleh MPR dengan Lembaga Tertinggi dan
Sementara masalah fundamental tentang sistem ketatanegaraan dan ketata Lembaga Tinggi Negara yang terdiri dari MPR, Presiden, DPR, DPA, MA dan
pemerintahan yang terbaik bagi Republik Indonesia sama sekali tidak tersentuh. BPK.
Lebih lanjut lagi mengenai tumpang tindihnya kewenangan antara Dalam pasal 6a dan Pasal 17 ayat (2) dinyatakan: Bahwa Presiden dan
Lembaga-Lembaga tersebut, sehingga kemudian terjadi kontradiksi dan Wakil Presiden di piilih langsung oleh Rakyat dan Menteri diangkat serta
kompleksitas hubungan antar Lembaga Negara. Contoh paling aktual dalam kasus diberhentikan oleh Presiden. Apabila konsekuen dengan isi pasal tersebut, maka
ini adalah tentang kewenangan pengawasan yang dimiliki Kornisi Yudisial. Dalam sudah semestinya UUD 1945 mengikuti pula tolok ukur sistem pemerintahan
pasal 14 UU No. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial menyebutkan Komisi presidensial yang antara lain:
Yudisial mempunyai kewenangan untuk menjaga dan mengawasi perilaku hakim. Kekuasaan bersifat tunggal (tidak bersifat
Sedangkan menurut UU No. 5 tahun 2004 tentang Perubahan atas UU No. 14 kolegial) baik sebagai kepala Negara maupun
tahun 1985 tentang Mahkamah Agung antara lain menyatakan MA berwenang kepala pemerintahan;
melakukan pengawasan terhadap kecakapan hakim dan perbuatan tercela dari Kedudukan presiden dan parlemen sama kuatnya
hakim. Kemudian menurut pasal 23 ayat (3) UU No. 24 tahun 2003 tentang dan tidak bisa saling menjatuhkan;
Mahkamah Konstitusi dinyatakan Pengawasan Hakim Konstitusi ditentukan oleh Masa jabatan presiden bersifat pasti (fix-term),
Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi. Hal ini mengakibatkan timbulnya tidak dapat diberhentikan kecuali melanggar
konflik antar Lembaga Negara yang mestinya tidak perlu terjadi apabila UUD konstitusi;
1945 hasil perubahan merumuskan dengan jelas kewenangan masing-masing Presiden dan Wakil Presiden tidak
lembaga tersebut. Dengan kata lain, perubahan UUD 1945 belum sepenuhnya bertanggungjawab kepada parlemen, tetapi
menjadi landasan perumusan peraturan-peraturan lain dibawahnya. Sehingga bertanggungjawab kepada rakyat;
menimbulkan kesenggangan keteraturan wewenang lembaga negara dalam sistem Presiden dipilih rakyat baik langsung maupun
ketatanegaraan. tidak langsung dengan suara mayoritas;
Terakhir, mengenani bentuk pemerintahan Indonesia. Tidak dapat Presiden dalam menjalankan tugasnya dibantu
dipastikan dengan jelas UUD 1945 setelah perubahan menganut sistem oleh menteri-menteri dan menteri
presidensial ataukah sistem parlementer, sebab meskipun secara minimal sudah bertanggungjawab kepada Presiden;
ada indikator prinsip sistem presidensial, namun dalam elaborasi pasal-pasalnya
Pertangungjawaban pemerintahan berada
menunjukkan sistem parlementer yang memperkuat posisi Dewan Perwakilan
ditangan Presiden.
Rakyat (DPR). Apalagi UUD 1945 perubahan memang memberikan kekuasaan
Oleh karena itu tidak tepat apabila DPR mencampuri kewenangan yang
yang lebih besar kepada DPR dibandingkan UUD 1945 yang asli. Dengan kata
seharusnya menjadi domain Presiden, bahkan dalam UUD 1945 sekarang ini
lain, DPR yang ada sekarang ini telah menjadi super parlemen, merupakan
nampak adanya dominasi legislatif terhadap eksekutif. Antara lain dalam:
lembaga perwakilan rakyat dengan kewenangan yang amat besar.
1. Pasal 5 ayat (1) Presiden hanya berhak mengajukan Rancangan Undang- 5. Pasal 30 berkorelasi dengan Ketetapan MPR No. VII/MPR/2000, Undang-
Undang (RUU) kepada DPR. Sebaliknya Pasal 20 ayat (1): DPR memegang Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara RI dan Undang-Undang
kekuasaan membentuk undang-undang.. Perubahan ini jelas bertujuan untuk No. 34 Tahun 2004 tentang TNI, Panglima TNI diangkat dan diberhentikan
menggrogoti kekuasaan Presiden dari pada melaksanakan prinsip demokrasi. oleh Presiden dengan persetujuan DPR. Jadi dapat disimpulkan banyak hal
2. Pasal 6A, Pasal 7A, dan Pasal 7B: sekalipun Presiden dan Wakil Presiden dalam pemerintahan yang harus melewati persetujuan DPR, termasuk urusan
dipilih secara langsung oleh rakyat, akan tetapi tetap dapat diberhentikan dari kepala negara.
masa jabatannya oleh MPR atas usul DPR dan putusan Mahkamah Konstitusi, Apabila UUD 1945 asli dibandingkan dengan UUD 1945 perubahan, maka
yaitu: apabila terbukti melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan nampak bahwa berdasarkan UUD 1945 asli Presiden memiliki 11 (sebelas)
terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau kewenangan. Dari 11 (sebelas) kewenangan Presiden tersebut hanya 2 (dua)
perbuatan tercela maupun apabila terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai kewenangan yang tidak merupakan kategori hak prerogatif Presiden, yaitu :
Presiden dan/atau Wakil Presiden. Perubahan ini, jelas menimbulkan polemik, Pertama, Pasal 5 ayat (1) yang menyatakan Presiden memegang kekuasaan
sebab Mahkamah Konstitusi diberikan kekuasaan peradilan pidana sekaligus membentuk undang-undang dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Ke
peradilan politik (untuk perbuatan tercela atau tidak memenuhi syarat sebagai dua, Pasal 12 yang menyatakan presiden menyatakan keadaan bahaya, syarat-
presiden yang dapat ditafsirkan secara politis). Padahal, setiap perbuatan tindak syarat dan akibatnya keadaaan bahaya ditetapkan dengan undang-undang.
pidana seharusnya diadili di peradilan umum baik tindak pidana umum Sedangkan menurut UUD 1945 perubahan telah ditetapkan 14 (empat belas)
maupun pidana khusus, serta tidak mengenal adanya peradilan politik. kewenangan Presiden, tetapi hanya 2 (dua) kewenangan yang berkategori hak
3. Pasal 13 ayat (2) yang menyatakan dalam hal ini mengangkat duta, Presiden prerogatif Presiden yaitu: Pertama, Pasal 10 yang menyatakan Presiden memegang
memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat dan ayat (3) kekuasaan yang tertinggi atas Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan
menyatakan Presiden menerima penempatan duta negara lain dengan Udara. Ke dua, Pasal 17 ayat (2) yang menyatakan menteri-menteri itu diangkat
memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat, Pasal 14 ayat (2) dan diberhentikan oleh Presiden, meskipun secara tidak langsung pasal 17 ayat 2
menyatakan Presiden memberi amnesti dan abolisi dengan memperhatikan ini tidak secara eksplisit dilaksanakan oleh presiden karena diintervensi oleh DPR
pertimbangan Dewan erwakilan Rakyat. dalam menentukan UU tentang kedudukan kementrian.
4. Pasal 17 ayat (4) yang menyatakan pembentukan, pengubahan, dan Dengan demikian, dipahami bahwa perubahan UUD 1945 belum dapat
pembubaran kementerian negara diatur dalam undang-undang. Dengan kata memaksimalkan sistem ketatanegaraan Indonesia sesuai dengan tujuan reformasi.
lain, DPR pun turut ikut campur dalam urusan kementrian yang seharusnya
menjadi tanggung jawab presiden.
PENUTUP