Anda di halaman 1dari 44

MAKALAH EKONOMI ISLAM

Tinjauan Akuntansi Islam (Syariah) dalam Konsep

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ekonomi Islam


Diampuh Oleh :
Arista Fauzi Kartika Sari, S.Pd., M.SA.

Disusun Oleh Kelompok 6:

Nurlailatul Jamilah (21401082001)

Cahyani Nurlaela (21401082015)

Sarce (21401082025)

UNIVERSITAS ISLAM MALANG


FAKULTAS EKONOMI
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
TAHUN AJARAN 2016/2017
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah swt. yang telah melimpahkan


rahmat, taufiq, serta hidayahNya kepada kami, sehingga kami dapat
mengerjakan tugas kelompok Makalah Mata Kuliah Ekonomi Islam yang
berjudul Tinjauan Akuntansi Islam (Syariah) dalam Konsep, yang sangat
di butuhkan sebagai penambah wawasan khususnya bagi mahasiswa jurusan
Akuntansi, semoga persembahan kami dapat bermanfaat bagi pembaca pada
umumnya.
Sholawat serta salam marilah selalu kita hadiahkan keharibaan
Rasulullah Muhammad SAW sebagai hambah Allah yang paling sempurna,
sebagai pendakwah syariat Islam, sebagai Uswatun Hasanah umat Islam,
Allahumma shollialaa sayyidina Muhammad waalaa alihi wa shohbihi
ajmain..
Tidak lupa kami sampaikan banyak terima kasih kepada Ibu Arista
Fauzi Kartika Sari, S.Pd., M.SA. selaku dosen pengampu Mata Kuliah
Ekonomi Islam, untuk ridho dan bimbingan dari beliau sangat kami
harapkan menuju jalan ilmu yang manfaat.
Terima kasih juga atas semua pihak yang telah membantu
menyelesaikan penulisan makalah ini dengan ucapan, Jazaakumulloh
ahsanal jaza.
Akhir kata, kami sangat mengharap kritik dan saran dari pembaca
sehingga makalah ini bisa lebih sempurna dan bermanfaat.

Malang, 15 Mei 2017

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . i

DAFTAR ISI . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ii

BAB I : PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1
1.2 Rumusan Masalah . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2
1.3 Tujuan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2

BAB II : PEMBAHASAN
2.1 Konsep Akuntansi Islam (Syariah) . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3
2.2 Tinjauan PSAK Syariah . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 6
2.3 Prinsip Dasar Pelaporan Akuntansi Islam . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 34

BAB III : PENUTUP


3.1 Kesimpulan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 40

DAFTAR PUSTAKA . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 41

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Benarkah ilmu akuntansi ada dalam Islam? Karena agama


sebagaimana dipahami banyak kalangan, hanyalah kumpulan norma yang
lebih menekankan pada persoalan moralitas. Dan karenanya prinsip-prinsip
kehidupan praktis yang mengatur tata kehidupan modern dalam bertransaksi
yang diatur dalam akuntansi, tidak masuk dalam cakupan agama. Anggapan
terhadap akuntansi Islam (akuntansi yang berdasarkan syariah Islam) wajar
saja dipertanyakan orang. Sama halnya pada masa lalu orang meragukan
dan mempetanyakan seperti apakah ekonomi islam.
Jika kita mengkaji lebih jauh dan mendalam terhadap sumber dari
ajaran Islam Al-Quran maka kita akan menemukan ayat-ayat maupun
hadits-hadits yang membuktikan bahwa Islam juga membahas ilmu
akuntansi. Agama diturunkan untuk menjawab persoalan manusia, baik
dalam tataran makro maupun mikro.. Ajaran aama memang harus
dilaksanakan dalam segala aspek kehidupan.
Eksistensi akuntansi dalam Islam dapat kita lihat dari berbagai bukti
sejarah maupun dari Al-Quran. Dalam Surat Al-Baqarah ayat 282, dibahas
masalah muamalah. Termasuk di dalamnya kegiatan jual-beli, utang-piutang
dan sewa-menyewa. Dari situ dapat kita simpulkan bahwa dalam Islam telah
ada perintah untuk melakukan sistem pencatatan yang tekanan utamanya
adalah untuk tujuan kebenaran, kepastian, keterbukaan, dan keadilan antara
kedua pihak yang memiliki hubungan muamalah. Dalam bahasa akuntansi
lebih dikenal dengan accountability. Wacana Akuntansi Syariah
Akuntansi konvensional yang sekarang berkembang adalah sebuah disiplin
dan praktik yang dibentuk dan membentuk lingkungannya. Oleh karena itu,
jika akuntansi dilahirkan dalam lingkungan kapitalis, maka informasi yang
disampaikannyapun mengandung nilai-nilai kapitalis. Kemudian keputusan
dan tindakan ekonomi yang diambil pengguna informasi tersebut juga
mengandung nilai-nilai kapitalis. Singkatnya, informasi akuntansi yang

1
kapitalistik akan membentuk jaringan kuasa yang kapitalistik juga. Jaringan
inilah yang akhirnya mengikat manusia dalam samsara kapitalisme.dan
nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat Islam dan barat terdapat
perbedaan yang sangat besar. Dalam masyarakat Islam terdapat sistem nilai
yang melandasi setiap aktivitas masyarakat, baik pribadi maupun komunal.
Hal ini tidak ditemukan dalam kehidupan masyarakat barat. Perbedaan
dalam budaya dan sistem nilai ini menghasilkan bentuk masyarakat, praktik,
serta pola hubungan yang berbeda pula.
Tujuan akuntansi syariah adalah terciptanya peradaban bisnis dengan
wawasan humanis, emansipatoris, transendental, dan teologis. Dengan
akuntansi syariah, realitas sosial yang dibangun mengandung nilai tauhid
dan ketundukan kepada ketentuan Allah swt.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah yang akan dibahas, sebagai berikut :
1. Bagaimana Konsep Akuntansi Islam (Syariah) ?
2. Apa Maksud dari Tinjauan PSAK Syariah ?
3. Bagaimana Prinsip Dasar Pelaporan Akuntansi Islam ?

1.4 Tujuan
Tujuan dari makalah ini bukan hanya untuk memenuhi tugas dalam
mata kuliah ekonomi islam, juga agar para pembaca dapat memahai dan
mengetahui tujuan dibuatnya makalah ini, antara lain:
1. Untuk Mengetahui Bagaimana Konsep Akuntansi Islam
(Syariah).
2. Untuk Mengetahui Apa Maksud dari Tinjauan PSAK Syariah.
3. Untuk Mengetahui Bagaimana Prinsip Dasar Pelaporan
Akuntansi Islam.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Konsep Akuntansi Islam (Syariah)

Dalam konsep akuntansi syariah, akuntansi adalah sebuah entitas yang


mempunyai dua arah kekuatan, ia dapat dibentuk oleh lingkungannya maupun
mempengaruhi leingkungannya. Karena itu penyusunan bentuk akuntansi syariah
juga akan berdampak dalam mengarah perilaku manusia kearah perilaku yang etis
dan kearah terbentuknya peradaban bisnis yang ideal.

Konsep dasar (basic consepts/basic feature) disebut juga asumsi atau


postulat, adalah aksioma atau pernyataan yang tidak perlu dibuktikan lagi
kebenarannya karena secara umum telah diterima kesesuaiannya dengan
tujuan laporan keuangan, dan menggambarkan lingkungan ekonomi, politik,
sosial, dan hukum dimana akuntansi beroperasi. Jelas bahwa penentuan
konsep dasar dipengaruhi oleh karakteristik lingkungan di mana akuntansi
beroperasi. Ia diturunkan dari tujuan laporan keuangan berfungsi sebagai
fondasi bagi prinsip-prinsip akuntansi. Sebagaimana dibahas sebelumnya,
tujuan laporan keuangan akuntansi syariah adalah untuk memberikan
pertanggungjawaban dan informasi. Menurut Belkoui, seperti dikutip oleh
Rosjidi, konsep dasar akuntansi adalah entitas akuntansi, kesinambungan,
unit pengukuran, dan periode akuntansi, yang masing-masing konsep dasar
dibahas di bawah ini:

1. Entitas Bisnis (Business Entity/al-Wihdah al-Iqtishadiyah).


Entitas atau kesatuan bisnis adalah perusahaan dianggap sebagai
entitas ekonomi dan hukum terpisah dari pihak-pihak yang
berkepentingan atau para pemiliknya secara pribadi. Syahatah
menyebutnya sebagai kaidah independensi jaminan keuangan. Oleh
karena itu seluruh transaksi keuangan dan informasi akuntansi hanya
berhubungan dengan entitas dimaksud perusahaan yang membatasi
kepentingan para pemiliknya.

3
2. Kesinambungan (going concern)
Konsep ini merupakan suatu konsep yang menganggap entitas akan
berjalan terus, apabila tidak terdapat bukti sebaliknya. Ini didasarkan
pada pengertian bahwa kehidupan ini juga berkesinambungan. Manusia
memang akan fana, tapi Allah akan mewariskan semua yang ada di alam
ini. Maka, seorang Muslim yakin bahwa anak-anaknya dan saudara-
saudaranya akan meneruskan aktifitas itu setelah ia meninggal. Mereka
juga yakin bahwa harta yang diperoleh dari aktifitas kerjanya itu adalah
milik Allah, seperti firman Allah, Berimanlah kamu kepada Allah dan
Rasul-Nya, dan nafkahkanlah sebagian harta kamu yang Allah telah
menjadikan kamu menguasainya... . Hal ini dapat dikaitkan dengan sabda
Rasulullah SAW, sebagai berikut, Allah menyayangi orang yang mencari
nafkah yang baik dan menafkahkannya secara sederhana (tidak berlebih-
lebihan) serta menabung sisanya untuk persiapan pada hari ia
membutuhkan dan pada hari fakirnya. Ali bin Abi Thalib juga pernah
berkata, berusahalah untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup
selama-lamanya dan berusahalah untuk akhiratmu seolah-olah kamu akan
mati esok hari . Pengaplikasian kaidah ini adalah untuk penentuan dan
penghitungan laba serta menghitung harga-harga sisa suplai untuk tujuan
penghitungan zakat harta. Dari sini dapat dipahami bahwa perhitungan
zakat itu berdasarkan kesinambungan (kontinuitas) sebuah perusahaan
dan bukan berdasar penutupan atau likuidasi suatu perusahaan. Tidak ada
perbedaan pendapat dikalangan ulama mengenai masalah ini.

3. Stabilitas Daya Beli Unit Moneter (The Stability of the Purchasing


Power of the Monetary Unit).
Postulat ini merupakan term yang digunakan oleh Adnan dan
Gaffikin terhadap suatu term yang biasanya disebut unit pengukuran
(unit of measure) atau unit moneter (moneter unit) seperti digunakan
oleh beberapa penulis buku. Postulat ini menunjukkan pentingnya
menilai aktifitas-aktifitas ekonomi dan mengesahkannya atau
menegaskannya dalam surat-surat berdasarkan kesatuan moneter, dengan

4
memposisikannya sebagai nilai-nilai terhadap barang-barang, serta
ukuran untuk penentuan harga dan sekaligus sebagai pusat harga.
Mempertimbangkan bahwa uang yang biasa dipahami dalam akuntansi
konvensional uang kertas dan logam, rentan terhadap ketidakstabilan,
maka satuan maneter yang memenuhi syarat postulat ini adalah mata
uang emas dan perak. Mata uang emas dan perak tidak mengenal
dikotomi nilai nominal dan nilai intrinsik, nilai uang emas dan perak
adalah senilai emas dan peraknya. Hal inilah yang menyebabkan uang
emas dan perak resisten terhadap efek inflasi. Pada zaman Rasulullah
Saw., satu dirham (uang perak) senilai seekor ayam, satu dinar adalah
nilai tukar seekor kambing dewasa, harga ini berlaku sampai sekarang.
Mempertimbangkan kompleksitas lingkungan bisnis masa sekarang,
pengaplikasiannya menjadi satu hal yang tidak dapat diterapkan
sepenuhnya. Dalam suatu negara yang tidak menggunakan mata uang
emas dan perak, postulat ini jelas tidak dapat dipenuhi. Beberapa pakar
akuntansi menjadikan ini sebagai rukhsah (keringanan) sebagai suatu
kondisi darurat, untuk dapat menggunakan standar nilai uang sebagai unit
pengukuran, selama belum ada solusi yang mampu mengatasinya.
Penulis berharap akan ada usaha menuju perbaikan ke arah penerapan
standar emas dan perak ini, secara bertahap.

4. Periode Akuntansi
Dalam Islam, ada hubungan erat antara kewajiban membayar zakat
dengan dasar periode akuntansi (haul). Hal ini sehubungan dengan sabda
Rasulullah Saw., Tidak wajib zakat pada suatu harta kecuali telah
sampai haulnya. Berdasarkan hadis ini, setiap Muslim secara otomatis
diperintahkan untuk menghitung kekayaannya setiap tahun untuk
menentukan besarnya zakat yang harus ia bayar . Mengenai waktu
pembayarannya, bila menggunakan kalender Hijriyah, maka awal tahun
penghitungan zakat adalah bulan Muharram. Adapun bila menggunakan
kalender Masehi, awal tahun adalah bulan Januari.

5
2.2 Tinjauan PSAK Syariah
2.2.1 PSAK 101: Penyajian Laporan Keuangan Syariah

SEJARAH

PSAK 101 pertama kali dikeluarkan oleh Dewan Standar Akuntansi


Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia (DSAK IAI) pada 27 Juni 2007. PSAK
ini menggantikan ketentuan terkait penyajian laporan keuangan syariah
dalam PSAK 59: Akuntansi Perbankan Syariah yang dikeluarkan pada 1
Mei 2002.

Berdasarkan surat Dewan Pengurus Nasional (DPN) IAI No. 0823-


B/DPN/IAI/XI/2013 maka seluruh produk akuntansi syariah yang
sebelumnya dikeluarkan oleh DSAK IAI dialihkan kewenangannya kepada
Dewan Standar Akuntansi Syariah (DSAS) IAI.

Setelah pengesahan awal di tahun 2007, PSAK 101 mengalami


amandemen dan revisi sebagai berikut:

1. 16 Desember 2011 sehubungan dengan adanya revisi atas PSAK 1:


Penyajian Laporan Keuangan.
2. 15 Oktober 2014 sehubungan dengan adanya revisi atas PSAK 1
terkait penyajian laba rugi dan penghasilan komprehensif lain.
3. 25 Mei 2016 terkait penyajian laporan keuangan asuransi syariah
pada Lampiran B. Perubahan ini merupakan dampak dari revisi
PSAK 108: Akuntansi Transaksi Asuransi Syariah. Perubahan ini
berlaku efektif 1 Januari 2017.

IKHTISAR RINGKAS

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 101: Penyajian Laporan


Keuangan Syariah (selanjutnya disebut PSAK 101) menetapkan dasar
penyajian laporan keuangan bertujuan umum untuk entitas syariah.
Pernyataan ini mengatur persyaratan penyajian laporan keuangan, struktur

6
laporan keuangan, dan persyaratan minimal isi laporan keuangan atas
transaksi syariah.

PSAK 101 memberikan penjelasan atas karakteristik umum pada


laporan keuangan syariah, antara lain terkait:

Penyajian secara wajar dan kepatuhan terhadap SAK;

Dasar akrual;

Materialitas dan penggabungan;

Saling hapus;

Frekuensi pelaporan;

Informasi komparatif; dan

Konsistensi Penyajian

PSAK 101 juga memberikan penjabaran struktur dan isi pada laporan
keuangan syariah, mencakup:

1. Laporan Posisi Keuangan

2. Laporan Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain

3. Laporan Perubahan Ekuitas

4. Laporan Arus Kas

5. Catatan atas Laporan Keuangan

2.2.2 PSAK 102: Akuntansi Murabahah

SEJARAH

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 102: Akuntansi


Murabahah (PSAK 102) dikeluarkan oleh Dewan Standar Akuntansi
Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia (DSAK IAI) pada 27 Juni 2007. PSAK
102 menggantikan pengaturan mengenai akuntansi murabahah dalam PSAK
59: Akuntansi Perbankan Syariah yang dikeluarkan pada 1 Mei 2002.

7
Berdasarkan surat Dewan Pengurus Nasional (DPN) IAI No. 0823-
B/DPN/IAI/ XI/2013 maka seluruh produk akuntansi syariah yang
sebelumnya dikeluarkan oleh DSAK IAI dialihkan kewenangannya kepada
Dewan Standar Akuntansi Syariah (DSAS) IAI.

Setelah pengesahan awal di tahun 2007, PSAK 102 mengalami


perubahan sebagai berikut:

1. 13 November 2013 sehubungan dengan keluarnya Fatwa Dewan


Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) No.
84/DSNMUI/ XII/2012 tentang Metode Pengakuan Keuntungan
Tamwil Bi Al-Murabahah (Pembiayaan Murabahah) di Lembaga
Keuangan Syariah.
2. 06 Januari 2016 terkait terkait definisi nilai wajar yang disesuaikan
dengan PSAK 68: Pengukuran Nilai Wajar. Perubahan ini berlaku
efektif 1 Januari 2017 secara retrospektif.

Pengaturan yang terkait dengan PSAK 102 adalah Bultek


5: Pendapatan dan Biaya Terkait Murabahah.

IKHTISAR RINGKAS

PSAK 102: Akuntansi Murabahah mengatur pengakuan, pengukuran,


penyajian, dan pengungkapan transaksi murabahah.

PSAK 102 diterapkan untuk:

a) Lembaga keuangan syariah dan koperasi syariah yang melakukan


transaksi murabahah baik sebagai penjual maupun pembeli; dan
b) Pihak-pihak yang melakukan transaksi murabhah dengan lembaga
keuangan syariah atau koperasi syariah.

Akuntansi untuk Penjual

Pada saat perolehan, aset murabahah diakui sebagai persediaan


sebesar biaya perolehan.

8
Akuntansi untuk Pembeli Akhir

Aset yang diperoleh melalui transaksi murabahah diakui sebesar biaya


perolehan murabahah tunai. Selisih antara harga beli yang disepakati dengan
biaya perolehan tunai diakui sebagai beban murabahah tangguhan.

Penyajian

Piutang murabahah disajikan sebesar nilai neto yang dapat


direalisasikan, yaitu saldo piutang murabahah dikurangi penyisihan
kerugian piutang.

Marjin murabahah tangguhan disajikan sebagai pengurang (contra


account) piutang murabahah.

Beban murabahah tangguhan disajikan sebagai pengurang (contra


account) utang murabahah.

2.2.3 PSAK 103: Akuntansi Salam

SEJARAH

PSAK 103: Akuntansi Salam (PSAK 103) dikeluarkan oleh Dewan


Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia (DSAK IAI) pada
27 Juni 2007. PSAK 103 menggantikan pengaturan mengenai akuntansi
salam dalam PSAK 59: Akuntansi Perbankan Syariah yang dikeluarkan
pada 1 Mei 2002.

Berdasarkan surat Dewan Pengurus Nasional (DPN) IAI No. 0823-


B/DPN/IAI/XI/2013 maka seluruh produk akuntansi syariah yang
sebelumnya dikeluarkan oleh DSAK IAI dialihkan kewenangannya kepada
Dewan Standar Akuntansi Syariah (DSAS) IAI.

Setelah pengesahan awal di tahun 2007, PSAK 103 mengalami


perubahan pada 06 Januari 2016 terkait terkait definisi nilai wajar yang
disesuaikan dengan PSAK 68: Pengukuran Nilai Wajar. Perubahan ini
berlaku efektif 1 Januari 2017 secara retrospektif.

9
IKHTISAR RINGKAS

Pernyataan ini diterapkan untuk entitas yang melakukan transaksi


salam, baik sebagai penjual atau pembeli. Pernyataan ini tidak mencakup
pengaturan perlakuan akuntansi atas obligasi syariah (sukuk) yang
menggunakan akad salam. Salam adalah akad jual beli barang pesanan
(muslam fiih) dengan pengiriman di kemudian hari oleh penjual (muslam
illaihi) dan pelunasannya dilakukan oleh pembeli pada saat akad disepakati
sesuai dengan syarat-syarat tertentu.

Akuntansi untuk Pembeli

Piutang salam diakui pada saat modal usaha salam dibayarkan atau
dialihkan kepada penjual. Pembeli menyajikan modal usaha salam yang
diberikan sebagai piutang salam.Denda yang diterima oleh pembeli diakui
sebagai bagian dana kebajikan.

Pembeli dalam transaksi salam mengungkapkan:

a. Besarnya modal usaha salam, baik yang dibiayai sendiri maupun


yang dibiayai secara bersama-sama dengan pihak lain;
b. Jenis dan kuantitas barang pesanan; dan
c. Pengungkapan lain sesuai dengan PSAK 101: Penyajian Laporan
Keuangan Syariah.

Akuntansi untuk Penjual

Kewajiban salam diakui pada saat penjual menerima modal usaha


salam sebesar modal usaha salam yang diterima. Kewajiban salam
dihentikan pengakuannya (derecognation) pada saat penyerahan barang
kepada pembeli. Penjual menyajikan modal usaha salam yang diterima
sebagai kewajiban salam.

Penjual dalam transaksi salam mengungkapkan:

a. Piutang salam kepada produsen (dalam salam paralel) yang


memiliki hubungan istimewa;
b. Jenis dan kuantitas barang pesanan; dan

10
c. Pengungkapan lain sesuai dengan PSAK 101: Penyajian Laporan
Keuangan Syariah.

2.2.4 PSAK 104: Akuntansi Istishna

SEJARAH

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 104: Akuntansi


Istishna (PSAK 104) dikeluarkan oleh Dewan Standar Akuntansi
Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia (DSAK IAI) pada 27 Juni 2007. PSAK
104 menggantikan pengaturan mengenai akuntansi istishna dalam PSAK
59: Akuntansi Perbankan Syariah yang dikeluarkan pada 1 Mei 2002.

Berdasarkan surat Dewan Pengurus Nasional (DPN) IAI No. 0823-


B/DPN/IAI/XI/2013 maka seluruh produk akuntansi syariah yang
sebelumnya dikeluarkan oleh DSAK IAI dialihkan kewenangannya kepada
Dewan Standar Akuntansi Syariah (DSAS) IAI.

PSAK 104 mengalami penyesuaian pada 6 Januari 2016 terkait


definisi nilai wajar yang disesuaikan dengan PSAK 68: Pengukuran Nilai
Wajar.

IKHTISAR RINGKAS

PSAK 104 mengatur pengakuan, pengukuran, penyajian, dan


pengungkapan transaksi istishna. Pernyataan ini diterapkan untuk lembaga
keuangan syariah dan koperasi syariah yang melakukan transaksi istishna,
baik sebagai penjual maupun pembeli.

Istishna adalah akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan


barang tertentu dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati
antara pemesan (pembeli, mustashni) dan penjual (pembuat, shani).

Akuntansi untuk Penjual

Pendapatan istishna diakui dengan menggunakan metode persentase


penyelesaian atau metode akad selesai.

Penjual menyajikan:

11
a. Piutang istishna yang berasal dari transaksi istishna sebesar
jumlah yang belum dilunasi oleh pembeli akhir.
b. Termin istishna yang berasal dari transaksi istishna sebesar
jumlah tagihan termin penjual kepada pembeli akhir.

Akuntansi untuk Pembeli

Pembeli mengakui aset istishna dalam penyelesaian sebesar jumlah


termin yang ditagih oleh penjual dan sekaligus mengakui
utang istishnakepada penjual. Beban istishna tangguhan diamortisasi
secara proporsional sesuai dengan porsi pelunasan utang istishna.

Pembeli menyajikan:

a. Utang ishtisna sebesar tagihan dari produsen atau kontraktor


yang belum dilunasi.
b. Aset istishna dalam penyelesaian sebesar:
i. Persentase penyelesaian dari nilai kontrak penjualan
kepada pembeli akhir, jika istishna paralel; atau
ii. Kapitalisasi biaya perolehan, jika istishna
(bukan istishna paralel).

PSAK ini juga memberikan pengungkapan minimum bagi penjual dan


pembeli, termasuk metode akuntansi yang digunakan dalam pencatatan
akuntansi istishna.

Selain mengatur transaksi istishna, PSAK ini mengatur ketentuan


akuntansi transaksi istishna paralel.

2.2.5 PSAK 105: Akuntansi Mudharabah

SEJARAH

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 105: Akuntansi Mudharabah


(PSAK 105) pertama kali dikeluarkan oleh Dewan Standar Akuntansi
Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia (DSAK IAI) pada 27 Juni 2007. PSAK
ini menggantikan ketentuan terkait penyajian laporan keuangan syariah

12
dalam PSAK 59: Akuntansi Perbankan Syariah yang dikeluarkan pada 1
Mei 2002.

Berdasarkan surat Dewan Pengurus Nasional (DPN) IAI No. 0823-


B/DPN/IAI/XI/2013 maka seluruh produk akuntansi syariah yang
sebelumnya dikeluarkan oleh DSAK IAI dialihkan kewenangannya kepada
Dewan Standar Akuntansi Syariah (DSAS) IAI.

Setelah pengesahan awal di tahun 2007, PSAK 105 belum ada


perubahan atau revisi apapun.

IKHTISAR RINGKAS

PSAK 105 mengatur pengakuan, pengukuran, penyajian, dan


pengungkapan transaksi mudharabah. Pernyataan ini diterapkan untuk
entitas yang melakukan transaksi mudharabah baik sebagai pemilik dana
(shahibul maal) maupun pengelola dana (mudharib).

Pernyataan ini tidak mencakup pengaturan perlakuan akuntansi atas


obligasi syariah (sukuk) yang menggunakan
akad mudharabah. Mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara dua
pihak di mana pihak pertama (pemilik dana) menyediakan seluruh dana,
sedangkan pihak kedua (pengelola dana) bertindak selaku pengelola, dan
keuntungan dibagi di antara mereka sesuai kesepakatan sedangkan kerugian
finansial hanya ditanggung oleh pemilik dana.

Dana mudharabah yang disalurkan oleh pemilik dana diakui sebagai


investasi mudharabah pada saat pembayaran kas atau penyerahan aset
nonkas kepada pengelola dana.

Dana yang diterima dari pemilik dana dalam akad mudharabah diakui
sebagai dana syirkah temporer sebesar jumlah kas atau nilai wajar aset
nonkas yang diterima. Pada akhir periode akuntansi, dana syirkah temporer
diukur sebesar nilai tercatatnya.

PSAK 105 juga memberikan ketentuan penyajian dan pengungkapan


bagi pemilik dana dan pengelola dana mudharabah.

13
2.2.6 PSAK 106: Akuntansi Musyarakah

SEJARAH

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 106: Akuntansi


Musyarakah (PSAK 106) pertama kali dikeluarkan oleh Dewan Standar
Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia (DSAK IAI) pada 27 Juni
2007. PSAK ini menggantikan ketentuan terkait penyajian laporan keuangan
syariah dalam PSAK 59: Akuntansi Perbankan Syariah yang dikeluarkan
pada 1 Mei 2002.

Berdasarkan surat Dewan Pengurus Nasional (DPN) IAI No. 0823-


B/DPN/IAI/XI/2013 maka seluruh produk akuntansi syariah yang
sebelumnya dikeluarkan oleh DSAK IAI dialihkan kewenangannya kepada
Dewan Standar Akuntansi Syariah (DSAS) IAI.

Setelah pengesahan awal di tahun 2007, PSAK 106 belum ada


perubahan atau revisi apapun.

IKHTISAR RINGKAS

PSAK 106 mengatur pengakuan, pengukuran, penyajian, dan


pengungkapan transaksi musyarakah, tetapi tidak me tidak mencakup
pengaturan perlakuan akuntansi atas obligasi syariah (sukuk) yang
menggunakan akad musyarakah.

Untuk pertanggungjawaban pengelolaan usaha musyarakah dan


sebagai dasar penentuan bagi hasil, maka mitra aktif atau pihak yang
mengelola usaha musyarakah harus membuat catatan akuntansi yang
terpisah untuk usaha musyarakah tersebut.

Musyarakah adalah akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk
suatu usaha tertentu, di mana masing-masing pihak memberikan kontribusi
dana dengan ketentuan bahwa keuntungan dibagi berdasarkan kesepakatan
sedangkan kerugian berdasarkan porsi kontribusi dana. Dana tersebut
meliputi kas atau aset nonkas yang diperkenankan oleh syariah.

14
PSAK 106 juga memberikan ketentuan pengakuan akuntansi untuk
mitra aktif dan mitra pasif, pada saat akad, selama akad, dan saat akhir akad.

Pernyataan ini juga memberikan ketentuan minimum penyajian bagi mitra


aktif dan mitra pasif. Untuk mendukung transparansi pelaporan transaksi
Mitra mengungkapkan hal-hal yang terkait transaksi musyarakah, seperti isi
kesepakatan utama usaha musyarakah, pengelola usaha, dan pengungkapan
sesuai PSAK 101: Penyajian Laporan Keuangan.

2.2.7 PSAK 107: Akuntansi Ijarah

SEJARAH

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 107: Akuntansi


Ijarah (PSAK 107) pertama kali dikeluarkan oleh Dewan Standar Akuntansi
Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia (DSAK IAI) pada 21 April 2009.
PSAK ini menggantikan ketentuan terkait penyajian laporan keuangan
syariah dalam PSAK 59: Akuntansi Perbankan Syariah yang dikeluarkan
pada 1 Mei 2002.

Berdasarkan surat Dewan Pengurus Nasional (DPN) IAI No. 0823-


B/DPN/IAI/XI/2013 maka seluruh produk akuntansi syariah yang
sebelumnya dikeluarkan oleh DSAK IAI dialihkan kewenangannya kepada
Dewan Standar Akuntansi Syariah (DSAS) IAI.

Setelah pengesahan awal di tahun 2007, PSAK 107 mengalami


penyesuaian pada 06 Januari 2016 terkait definisi nilai wajar yang
disesuaikan dengan PSAK 68: Pengukuran Nilai Wajar. Perubahan tersebut
berlaku efektif secara prospektif untuk periode tahun buku yang dimulai
pada atau setelah 1 Januari 2017.

IKHTISAR RINGKAS

PSAK 107 mengatur pengakuan, pengukuran, penyajian, dan


pengungkapan transaksi ijarah. Ijarah adalah akad pemindahan hak guna
(manfaat) atas suatu aset dalam waktu tertentu dengan pembayaran sewa

15
(ujrah) tanpa diikuti dengan pemindahan. Aset ijarah adalah aset baik
berwujud maupun tidak berwujud, yang atas manfaatnya disewakan.

2.2.8 PSAK 108: Akuntansi Penyelesaian Utang Piutang Murabahah


Bermasalah

DEFINISI

Berikut ini adalah pengertian istilah yang digunakan dalam Pernyataan


ini:

1. Harga pasar adalah jumlah yang dapat diperoleh dari kredituran


suatu aset dalam pasar yang aktif.
2. Jumlah tercatat adalah nilai buku, yaitu biaya perolehan suatu aset
setelah dikurangi akumulasi penyusutan/amortisasi dan akumulasi
rugi penurunan nilai.
3. Nilai wajar adalah suatu jumlah yang dapat digunakan sebagai dasar
pertukaran aset atau penyelesaian kewajiban antara pihak yang
paham dan berkeinginan untuk melakukan transaksi secara wajar.

KARAKTERISTIK

Penyelesaian piutang murabahah melalui restrukturisasi piutang


murabahah dapat dilakukan terhadap debitur yang mengalami penurunan
kemampuan dalam membayar angsuran atau tagihan murabahah.

Kreditur yang melakukan restrukturisasi atas piutang murabahah-nya


yang bermasalah akibat penurunan kemampuan pembayaran dari debitur
dapat dilakukan dengan cara, satu atau lebih kombinasi berikut:

(a) Memberi potongan tagihan murabahah;


(b) Melakukan penjadualan kembali tagihan murabahah;
(c) Melakukan konversi akad murabahah.

Pemberian potongan tagihan murabahah dilakukan terhadap debitur


yang mengalami penurunan kemampuan pembayaran yang bersifat

16
permanen sehingga debitur hanya mampu membayar lebih kecil daripada
utang murabahah-nya.

Penjadwalan kembali pembayaran angsuran murabahah dilakukan


terhadap debitur yang mengalami penurunan kemampuan pembayaran
sehingga tidak mampu membayar angsuran sesuai jumlah dan waktu dalam
akad murabahah. Namun, debitur tersebut masih mampu membayar sisa
seluruh utangnya jika dilakukan penjadualan kembali.

Konversi akad murabahah dengan membuat akad dilakukan terhadap


debitur yang mengalami penurunan kemampuan pembayaran atas angsuran
murabahah-nya, namun debitur tersebut masih prospektif. Konversi akad
murabahah dilakukan dengan menghentikan akad murabahah dan membuat
akad baru dengan skema ijarah muntahiyah bittamlik, mudharabah atau
musyarakah.

Sedangkan bagi debitur yang tidak mampu membayar tagihan


murabahah dapat diselesaikan melalui penjualan obyek murabahah dan atau
jaminan lainnya sesuai prinsip syariah.

PENGAKUAN DAN PENGUKURAN

AKUNTANSI KREDITUR

1. Potongan Tagihan Murabahah

Potongan yang diberikan dalam rangka restrukturisasi piutang


murabahah diakui sebagai pengurang jumlah tercatat marjin murabahah
tangguhan sampai habis sebelum pada akhirnya menggurangi biaya
perolehan aset murabahah yang tersisa dalam piutang murabahah yang
direstrukturisasi.

Jika jumlah potongan yang diberikan melebihi saldo margin


keuntungan murabahah tangguhan, maka selisih tersebut diakui sebagai
kerugian.

17
2. Penjadwalan Kembali Tagihan Murabahah

Penjadwalan kembali tagihan murabahah, dalam rangka


restrukturisasi, diberikan kepada debitur yang tidak bisa melunasi utangnya
sesuai jumlah dan waktu yang telah disepakati. Penjadwalan kembali
tagihan murabahah dilakukan dengan ketentuan:

(a) Tidak menambah jumlah utang yang tersisa;


(b) Pembebanan biaya dalam proses penjadualan kembali adalah biaya
riil; dan
(c) Perpanjangan masa pembayaran harus berdasarkan kesepakatan
kedua belah pihak.

Biaya riil yang terkait dengan proses penjadualan kembali tagihan


murabahah yang dibebankan kepada debitur diakui sebagai pendapatan.

Biaya riil dalam proses penjadualan kembali piutang murabahah


adalah biaya langsung (direct cost) dari aktivitas kreditur dalam melakukan
penjadualan kembali tersebut.

3. Konversi Akad Murabahah


Konversi akad murabahah menjadi akad lainnya bagi debitur yang
tidak bisa menyelesaikan utang murabahah sesuai dengan jumlah dan waktu
yang telah disepakati, tetapi debitur tersebut masih prospektif dimungkinkan
dengan ketentuan:
(a) Akad murabahah dihentikan dengan cara:
(i) Obyek murabahah dijual oleh debitur kepada kreditur dengan
harga pasar;
(ii) Debitur melunasi sisa utangnya kepada kreditur dari hasil
penjualan dengan ketentuan sebagai berikut:
(1) jika hasil penjualan melebihi sisa utang, maka kelebihan itu
dapat dijadikan uang muka ijarah muntahiyah bittamlik,
bagian modal mudharabah musytarakah, atau bagian modal
musyarakah;

18
(2) jika hasil kredituran lebih kecil dari sisa utang maka utang
yang penjualan setelah hasil kredituran tetap menjadi utang
debitur yang cara pelunasannya disepakati antara kreditur
dan debitur;
(b) Para pihak di atas (kreditur dan debitur) selanjutnya dapat
membuat akad baru dengan akad:
(i) Ijarah Muntahiyah Bittamlik;
(ii) Mudharabah; atau
(iii) Musyarakah.

Kelebihan sisa hasil penjualan, jika ada, diakui sebagai uang muka
ijarah muntahiyah bittamlik, bagian modal mudharabah musytarakah atau
bagian modal musyarakah, sesuai dengan akad baru yang disepakati.

Perlakuan akuntansi untuk akad baru sesuai dengan PSAK terkait.

1. Debitur Tidak Mampu Bayar

Debitur yang tidak mampu melunasi utang murabahah sesuai jumlah


dan waktu yang telah disepakati dapat melakukan restrukturisasi utangnya
sesuai kesepakatan dengan kreditur dengan cara sebagai berikut:

(a) debitur menjual obyek murabahah dan atau jaminan lainnya


kepada atau melalui kreditur dengan harga pasar;
(b) debitur selanjutnya melunasi sisa utangnya kepada kreditur dari
hasil penjualan dengan ketentuan sebagai berikut:
(i) jika hasil penjualan lebih besar daripada sisa utang, maka sisa
penjualan adalah hak debitur;
(ii) jika hasil penjualan lebih kecil daripada sisa utang, maka
selisihnya tetap menjadi utang debitur, atau kreditur dapat
membebaskannya jika debitur tidak mampu membayar sisa
utangnya.

Pembebasan kewajiban debitur (debitur) untuk membayar sisa


utangnya diakui sebagai kerugian.

19
Pernyataan

Kerugian yang timbul, jika ada, atas restrukturisasi piutang murabahah


disajikan secara terpisah dalam laporan laba rugi.

AKUNTANSI DEBITUR

Perlakuan akuntansi untuk restrukturisasi utang murabahah melalui


konversi akad dilakukan sesuai dengan PSAK terkait untuk akad yang baru.

Keuntungan neto atas restrukturisasi utang murabahah setelah pajak,


jika ada, diakui dalam laporan laba rugi dalam periode terjadinya dan
disajikan tersendiri sebagai bagian pendapatan non usaha. Keuntungan neto
yang timbul dari restrukturisasi utang murabahah sebesar selisih utang
murabahah tercatat dikurangi jumlah yang harus diselesaikan, atau selisih
hasil kredituran dengan nilai aset termasuk biaya-biaya yang terkait
langsung dengan restrukturisasi utang murabahah tersebut.

PENGUNGKAPAN

Kreditur mengungkapkan informasi yang berkaitan dengan


restrukturisasi piutang murabahah bermasalah meliputi tetapi tidak terbatas
pada, nama debitur, jumlah piutang yang direstrukturisasi, alasan, dan
metode restrukturisasi yang digunakan.

Kreditur juga mengungkapkan keberadaan hubungan istimewa dengan


debitur yang direstrukturisasi, jika ada.

Debitur mengungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan


informasi yang terkait dengan restrukturisasi utang murabahah meliputi
tetapi tidak terbatas pada, nama kreditur, jumlah utang yang
direstrukturisasi, alasan, dan metode restrukturisasi yang digunakan.

20
2.2.9 PSAK 109: Akuntansi Zakat dan Infak/Sedekah

TUJUAN

01. Pernyataan ini bertujuan untuk mengatur pengakuan, pengukuran,


penyajian dan pengungkapan transaksi zakat dan infak/sedekah.

RUANG LINGKUP

02. Pernyataan ini berlaku untuk amil yang menerima dan menyalurkan
zakat dan infak/sedekah.

03. Amil yang menerima dan menyalurkan zakat dan infak/sedekah, yang
selanjutnya disebut amil, merupakan organisasi pengelola zakat yang
pembentukannya dimaksudkan untuk mengumpulkan dan menyalurkan
zakat dan infak/ sedekah.

04. Pernyataan ini tidak berlaku untuk entitas syariah yang menerima dan
menyalurkan zakat dan infak/ sedekah, tetapi bukan kegiatan utamanya.
Entitas tersebut mengacu ke PSAK 101: Penyajian Laporan Keuangan
Syariah.

DEFINISI

05. Definisi-definisi berikut digunakan dalam Pernyataan ini:

Amil adalah entitas pengelola zakat yang pembentukannya dan atau


pengukuhannya diatur berdasarkan peraturan perundang-undangan yang
dimaksudkan untuk mengumpulkan dan menyalurkan zakat, infak/sedekah.

Dana amil adalah bagian amil atas dana zakat dan infak/ sedekah serta
dana lain yang oleh pemberi diperuntukkan bagi amil. Dana amil digunakan
untuk pengelolaan amil.

Dana infak/sedekah adalah bagian nonamil atas penerimaan


infak/sedekah.

Dana zakat adalah bagian nonamil atas penerimaan zakat.

21
Infak/sedekah adalah harta yang diberikan secara sukarela oleh
pemiliknya, baik yang peruntukannya dibatasi (ditentukan) maupun tidak
dibatasi.

Mustahiq adalah orang atau entitas yang berhak menerima zakat.M u s


t a h i q terdiri dari:

1. Fakir;
2. Miskin;
3. Riqab;
4. Orang yang terlilit utang(ghorim);
5. Muallaf;
6. Fisabilillah;
7. Orang dalam perjalanan (ibnu sabil); dan
8. Amil.

Muzakki adalah individu muslim yang secara syariah wajib membayar


(menunaikan) zakat.

Nisab adalah batas minimum harta yang wajib dikeluarkan zakatnya.

Zakat adalah harta yang wajib dikeluarkan olehmuzakki sesuai dengan


ketentuan syariah untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya( m u s
t a h i q ).

KARAKTERISTIK

06. Zakat merupakan kewajiban syariah yang harus diserahkan olehmuzakki


kepadamustahiq baik melalui amil maupun secara langsung. Ketentuan
zakat mengatur mengenai persyaratannisab,haul (baik yang periodik
maupun yang tidak periodik), tarif zakat (qadar), dan peruntukannya.

07. Infak/sedekah merupakan donasi sukarela, baik ditentukan maupun tidak


ditentukan peruntukannya oleh pemberi infak/sedekah.

08. Zakat dan infak/sedekah yang diterima oleh amil harus dikelola sesuai
dengan prinsip-prinsip syariah dan tata kelola yang baik.

22
PENGAKUAN DAN PENGUKURAN

Zakat

Pengakuan awal

09. Penerimaan zakat diakui pada saat kas atau aset lainnya diterima.

10. Zakat yang diterima darimuzakki diakui sebagai penambah dana zakat:

(a) jika dalam bentuk kas maka sebesar jumlah yang diterima;
(b) jika dalam bentuk nonkas maka sebesar nilai wajar aset nonkas
tersebut.

11. Penentuan nilai wajar aset nonkas yang diterima menggunakan harga
pasar. Jika harga pasar tidak tersedia, maka dapat menggunakan metode
penentuan nilai wajar lainnya sesuai yang diatur dalam PSAK yang relevan.

12. Zakat yang diterima diakui sebagai dana amil untuk bagian amil dan
dana zakat untuk bagian nonamil.

13. Penentuan jumlah atau persentase bagian untuk masing-masingmustahiq


ditentukan oleh amil sesuai dengan prinsip syariah dan kebijakan amil.

14. Jikamuzakki menentukanmustahiq yang harus menerima penyaluran


zakat melalui amil maka aset zakat yang diterima seluruhnya diakui sebagai
dana zakat. Jika atas jasa tersebut amil mendapatkanujrah/fee maka diakui
sebagai penambah dana amil.

Pengukuran setelah pengakuan awal

15. Jika terjadi penurunan nilai aset zakat nonkas, jumlah kerugian yang
ditanggung harus diperlakukan sebagai pengurang dana zakat atau
pengurang dana amil tergantung dari sebab terjadinya kerugian tersebut.

16. Penurunan nilai aset zakat diakui sebagai:

(a) pengurang dana zakat, jika terjadi tidak disebabkan oleh kelalaian
amil;

23
(b) kerugian dan pengurang dana amil, jika disebabkan oleh kelalaian
amil.

Penyaluran zakat

17. Zakat yang disalurkan kepada mustahiq diakui sebagai pengurang dana
zakat sebesar

(a) jumlah yang diserahkan, jika dalam bentuk kas;


(b) jumlah tercatat, jika dalam bentuk aset nonkas.

Infak/Sedekah

Pengakuan awal

18. Infak/sedekah yang diterima diakui sebagai dana infak/sedekah terikat


atau tidak terikat sesuai dengan tujuan pemberi infak/sedekah sebesar:

(a) jumlah yang diterima, jika dalam bentuk kas;


(b) nilai wajar, jika dalam bentuk nonkas.

19. Penentuan nilai wajar aset nonkas yang diterima menggunakan harga
pasar untuk aset nonkas tersebut. Jika harga pasar tidak tersedia, maka dapat
menggunakan metode penentuan nilai wajar lainnya sesuai yang diatur
dalam PSAK yang relevan.

20. Infak/sedekah yang diterima diakui sebagai dana amil untuk bagian amil
dan dana infak/sedekah untuk bagian penerima infak/sedekah.

21. Penentuan jumlah atau persentase bagian untuk para penerima


infak/sedekah ditentukan oleh amil sesuai dengan prinsip syariah dan
kebijakan amil.

Pengukuran setelah pengakuan awal

22. Infak/sedekah yang diterima dapat berupa kas atau aset nonkas. Aset
nonkas dapat berupa aset lancar atau tidak lancar.

24
23. Aset tidak lancar yang diterima oleh amil dan diamanahkan untuk
dikelola dinilai sebesar nilai wajar saat penerimaannya dan diakui sebagai
aset tidak lancar infak/sedekah. Penyusutan dari aset tersebut diperlakukan
sebagai pengurang dana infak/sedekah terikat apabila penggunaan atau
pengelolaan aset tersebut sudah ditentukan oleh pemberi.

24. Amil dapat pula menerima aset nonkas yang dimaksudkan oleh pemberi
untuk segera disalurkan. Aset seperti ini diakui sebagai aset lancar. Aset ini
dapat berupa bahan habis pakai, seperti bahan makanan; atau aset yang
memiliki umur ekonomi panjang, seperti mobil ambulance.

25. Aset nonkas lancar dinilai sebesar nilai perolehan sedangkan aset nonkas
tidak lancar dinilai sebesar nilai wajar sesuai dengan PSAK yang relevan.

26. Penurunan nilai aset infak/sedekah tidak lancar diakui sebagai:

(a) pengurang dana infak/sedekah, jika terjadi bukan disebabkan oleh


kelalaian amil;
(b) kerugian dan pengurang dana amil, jika disebabkan oleh kelalaian
amil.

27. Dalam hal amil menerima infak/sedekah dalam bentuk aset (nonkas)
tidak lancar yang dikelola oleh amil, maka aset tersebut harus dinilai sesuai
dengan PSAK yang relevan.

28. Dana infak/sedekah sebelum disalurkan dapat dikelola dalam jangka


waktu sementara untuk mendapatkan hasil yang optimal. Hasil dana
pengelolaan diakui sebagai penambah dana infak/sedekah.

Penyaluran infak/sedekah

29. Penyaluran dana infak/sedekah diakui sebagai pengurang dana


infak/sedekah sebesar:

(a) jumlah yang diserahkan, jika dalam bentuk kas;


(b) nilai tercatat aset yang diserahkan, jika dalam bentuk aset nonkas.

25
30. Penyaluran infak/sedekah kepada amil lain merupakan penyaluran yang
mengurangi dana infak/ sedekah sepanjang amil tidak akan menerima
kembali aset infak/sedekah yang disalurkan tersebut.

31. Penyaluran infak/sedekah kepada penerima akhir dalam skema dana


bergulir dicatat sebagai piutang infak/sedekah bergulir dan tidak
mengurangi dana infak/ sedekah.

Dana Nonhalal

32. Penerimaan nonhalal adalah semua penerimaan dari kegiatan yang tidak
sesuai dengan prinsip syariah, antara lain penerimaan jasa giro atau bunga
yang berasal dari bank konvensional. Penerimaan nonhalal pada umumnya
terjadi dalam kondisi darurat atau kondisi yang tidak diinginkan oleh entitas
syariah karena secara prinsip dilarang.

33. Penerimaan nonhalal diakui sebagai dana nonhalal, yang terpisah dari
dana zakat, dana infak/ sedekah dan dana amil. Aset nonhalal disalurkan
sesuai dengan syariah.

PENYAJIAN

34. Amil menyajikan dana zakat, dana infak/ sedekah, dana amil, dan dana
nonhalal secara terpisah dalam neraca (laporan posisi keuangan).

PENGUNGKAPAN

Zakat

35. Amil harus mengungkapkan hal-hal berikut terkait dengan transaksi


zakat, tetapi tidak terbatas pada:

(a) kebijakan penyaluran zakat, seperti penentuan skala prioritas


penyaluran, dan penerima;
(b) kebijakan pembagian antara dana amil dan dana nonamil atas
penerimaan zakat, seperti persentase pembagian, alasan, dan
konsistensi kebijakan;

26
(c) metode penentuan nilai wajar yang digunakan untuk penerimaan
zakat berupa aset nonkas;
(d) rincian jumlah penyaluran dana zakat yang mencakup jumlah beban
pengelolaan dan jumlah dana yang diterima langsung mustahiq; dan
(e) hubungan istimewa antara amil danm u s t a h i q yang meliputi:
(i) sifat hubungan istimewa;
(ii) jumlah dan jenis aset yang disalurkan; dan
(iii) presentase dari aset yang disalurkan tersebut dari total
penyaluran selama periode.

Infak/Sedekah

36. Amil harus mengungkapkan hal-hal berikut terkait dengan transaksi


infak/sedekah, tetapi tidak terbatas pada:

(a) metode penentuan nilai wajar yang digunakan untuk penerimaan


infak/sedekah berupa aset nonkas;
(b) kebijakan pembagian antara dana amil dan dana nonamil atas
penerimaan infak/sedekah, seperti persentase pembagian, alasan, dan
konsistensi kebijakan;
(c) kebijakan penyaluran infak/sedekah, seperti penentuan skala
prioritas penyaluran, dan penerima;
(d) keberadaan dana infak/sedekah yang tidak langsung disalurkan tetapi
dikelola terlebih dahulu, jika ada, maka harus diungkapkan jumlah
dan persentase dari seluruh penerimaan infak/sedekah selama
periode pelaporan serta alasannya;
(e) hasil yang diperoleh dari pengelolaan yang dimaksud di huruf (d)
diungkapkan secara terpisah;
(f) penggunaan dana infak/sedekah menjadi aset kelolaan yang
diperuntukkan bagi yang berhak, jika ada, jumlah dan persentase
terhadap seluruh penggunaan dana infak/sedekah serta alasannya;
(g) rincian jumlah penyaluran dana infak/sedekah yang mencakup
jumlah beban pengelolaan dan jumlah dana yang diterima langsung
oleh penerima infak/sedekah;

27
(h) rincian dana infak/sedekah berdasarkan peruntukannya, terikat dan
tidak terikat; dan
(i) hubungan istimewa antara amil dengan penerima infak/sedekah yang
meliputi:
(i) sifat hubungan istimewa;
(ii) jumlah dan jenis aset yang disalurkan; dan
(iii) presentase dari aset yang disalurkan tersebut dari total
penyaluran selama periode.

37. Selain membuat pengungkapan di paragraf

35 dan 36, amil mengungkapkan hal-hal berikut:

(a) keberadaan dana nonhalal, jika ada, diungkapkan mengenai


kebijakan atas penerimaan dan penyaluran dana, alasan, dan
jumlahnya; dan
(b) kinerja amil atas penerimaan dan penyaluran dana zakat dan dana
infak/sedekah

KETENTUAN TRANSISI

38. Pernyataan ini berlaku untuk transaksi zakat dan infak/sedekah yang
terjadi pada atau setelah tanggal efektif.

2.2.10 PSAK 110: Akuntansi Hawalah

Tujuan
01. Pernyataan ini bertujuan untuk mengatur pengakuan,pengukuran,
penyajian, dan pengakuan transaksi hawalah.

Ruang Lingkup

02. Pernyataan ini diterapkan untuk entitas keuangansyariah yang


melakukan transaksi hawalah.
03. Entitas keuangan syariah yang dimaksud, antara lain, adalah:

28
(a) perbankan syariah sebagaimana yang dimaksud dalamperaturan
perundang-undangan yang berlaku;
(b) entitas keuangan syariah nonbank, seperti lembagapembiayaan; dan
(c) entitas keuangan lain yang diizinkan oleh peraturan perundang-
undangan yang berlaku untuk melakukan transaksi hawalah.

Definisi
04. Berikut ini adalah pengertian istilah yangdigunakan dalam Pernyataan
ini:
Hawalah adalah pengalihan utang dari satu pihak kepadapihak lain, terdiri
atas hawalah muqayyadah dan hawalah muthlaqah.

Hawalah muqayyadah adalah hawalah di mana muhil adalah pihak


yang berutang sekaligus berpiutang kepada muhal alaih.

Hawalah muthlaqah adalah hawalah di mana muhil adalah pihak yang


berutang, tetapi tidak berpiutang kepada muhal alaih.

Hawalah bil ujrah adalah hawalah dengan pengenaan ujrah/fee yang


berlaku pada hawalah muthlaqah.

Muhil adalah pihak yang berutang dan sekaligus berpiutang.

Muhal adalah pihak yang berpiutang kepada muhil.

Muhal alaih adalah pihak yang berutang kepada muhil dan wajib
membayar utang kepada muhal.

Pengambil alihan utang adalah pemindahan utang nasabah dari suatu


entitas keuangan syariah ke entitas keuangan syariah lain.

Karakteristik
05. Hawalah yang dimaksud meliputi pengalihan utangsyariah.

06. Dalam hal hawalah dilakukan dengan pengalihan utangsyariah maka


hanya boleh dilakukan dengan hawalahmuthlaqah di mana tidak ada

29
hubungan utang piutang antara muhal alaih dengan muhil sebelum
transaksi hawalah

07. Entitas keuangan syariah yang bertindak sebagai muhalalaihboleh


mendapatkan ujrah (fee) atas kesediaan dankomitmen untuk membayar
utang muhil. Besarnya ujrah harusditetapkan pada saat akad secara jelas,
tetap, dan pasti.

08. Jika hawalah telah dilakukan, maka hak penagihan muhalberpindah


kepada muhal alaih.

PENGAKUAN DAN PENGUKURAN

Akuntansi Pihak yang Mengalihkan Utang

09.Pihak yang mengalihkan utang (muhil) kepada pihak yang menerima


pengalihan utang (muhal alaih) menghentikan pengakuan utang kepada
pihak berpiutangsebelumnya (muhal) dan mengakui utang baru kepada
muhal alaih pada saat selesainya pengalihan utang.
10.Pengalihan utang diselesaikan apabila muhal alaihtelah menyelesaikan
seluruh utang muhil kepada muhal danantara muhal dan muhil sudah tidak
ada lagi hubungan utang-piutang.

11.Perlakuan akuntansi untuk transaksi antara muhalalaih dengan muhil


setelah pengalihan utang sesuai denganakad yang digunakan yang diatur
dalam PSAK yang relevan.
12.Ujrah (fee) yang dibayarkan kepada muhal alaih diakui sebagai beban
pada saat terjadinyapengambilalihan utang jika utang harus dilunasi
dalamjangka pendek sejak pengalihan, namun diakui secaragaris lurus
selama periode pelunasan untuk utang jangkapanjang.

13. Biaya transaksi hawalahyang dikeluarkan diakuisebagai beban pada


saat terjadinya

30
14. Biaya transaksi yang harus diselesaikan ataudibayarkan kepada muhal
alaih , termasuk tetapi tidak terbataspada biaya legal dan biaya
administrasi.

15.Utang kepada muhal alaih dihentikan-pengakuannya pada saat


diselesaikan.

Akuntansi Pihak yang Menerima Pengalihan Utang

16.Pihak yang menerima pengalihan utang (muhalalaih) mengakui piutang


dari muhil pada saatpembayaran kepada pihak muhal sebesar jumlah
utangyang diambil alih.

17.Pengambilalihan diselesaikan apabila muhal alaih telah menyelesaikan


seluruh utang muhil kepada muhal danantara muhal dan muhil sudah tidak
ada lagi hubungan utang-piutang.

18.Perlakuan akuntansi untuk transaksi antara muhalalaih dengan muhil


setelah pengalihan utang sesuai denganakad yang digunakan yang diatur
dalam PSAK yang relevan.

19.Ujrah (fee) yang diterima diakui sebagai pendapatan pada saat terjadinya
pengambilalihan utang, jika piutang dari muhil akan dilunasi dalam jangka
pendek sejak pengalihan, namun diakui secara proporsional dengan jumlah
piutang yang dapat ditagih untuk piutang jangka panjang.

20.Penghasilan dalam bentuk ujrah dari pengalihan utang muhil kepada


muhal diakui sekaligus pada saat penyelesaian dan tidak diakui sesuai
dengan jatuh tempo atau penerimaan angsuran dari muhil , di mana
penghasilan tersebut tidak terkaitdengan penyelesaian piutang dari muhil.

21.Jika terdapat bukti obyektif atas penyelesaian piutang dari muhil yang
mengakibatkan jumlah yang dapat tertagih lebihrendah dari jumlah tagihan
maka harus dibuat penyisihan piutang dari muhil sesuai dengan PSAK yang
relevan.

22.Piutang kepada muhil dihentikan-pengakuannyapada saat diselesaikan.

31
PENYAJIAN
23.Entitas keuangan syariah menyajikan piutang dari muhil terpisah dari
piutang lainnya dalam neraca sebesarjumlah yang belum dilunasi.

24.Piutang dari muhil disajikan secara terpisah daripiutang lainnya atau pos
lainnya untuk membedakan piutangyang timbul dari penyaluran secara
internal dan piutang pihaklain yang dialihkan.

PENGUNGKAPAN
25. Entitas keuangan syariah mengungkapkan terkaitpengalihan utang,
tetapi tidak terbatas, pada:

(a) Jumlah dan saldo utang yang dialihkan pada tanggalpelaporan;


(b) Persentase utang yang dialihkan terhadap totalpiutang;
(c) Kebijakan manajemen risiko atas utang yangdialihkan; dan
(d) Kebijakan akuntansi yang digunakan untuk utangyang dialihkan.

TANGGAL EFEKTIF

26. Pernyataan ini berlaku untuk penyusunan dan penyajian laporan


keuangan yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2009. Penerapan
lebih dini dianjurkan. Jika entitas menerapkan Pernyataan ini untuk periode
yang dimulai sebelum 1 Januari 2009, maka fakta tersebut harus
diungkapkan.

2.2.11 PSAK 111: Akuntansi Transaksi Asuransi Syariah

SEJARAH

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 111: Akuntansi Transaksi


Asuransi Syariah (PSAK 110) pertamakali dikeluarkan oleh Dewan Standar
Akuntansi Syariah Ikatan Akuntan Indonesia (DSAS IAI) pada 26 Oktober
2011.

Setelah pertama kali disahkan di tahun 2011, PSAK 111 direvisi pada
24 Februari 2015 terutama terkait klasifikasi investasi sukuk yang mengacu

32
pada revisi atas International Financial Reporting Standards 9: Financia
lInstruments.

IKHTISAR RINGKAS

PSAK 110 mengatur mengatur pengakuan, pengukuran, penyajian,


dan pengungkapan transaksi sukuk ijarah dan sukuk mudharabah.

Pernyataan ini diterapkan untuk entitas yang melakukan transaksi


sukuk ijarah dan sukuk mudharabah, baik sebagai penerbit sukuk maupun
investor sukuk.

Sukuk adalah efek syariah berupa sertifikat atau bukti kepemilikan


yang bernilai sama dan mewakili bagian yang tidak tertentu (tidak
terpisahkan atau tidak terbagi) atas:

a. aset berwujud tertentu;

b. manfaat atas asetberwujud tertentu baik yang sudah ada


maupun yang akan ada;

c. jasa yang sudah adamaupun yang akan ada;

d. aset proyek tertentu;atau

e. kegiatan investasi yangtelah ditentukan.

Berbeda dengan PSAK 110 yang diterbitkan pertama kali pada tahun
2011, PSAK 110 (revisi 2015)memberikan perubahan terkait klasifikasi
sukuk pada laporan keuangan investor.Investasi sukuk kini diklasifikasikan
berdasarkan model usaha dan arus kaskontraktual.

Pada sisi investor,investasi sukuk diklasifikasikan sebagai diukur pada


biaya perolehan jika:

a. investasi tersebut dimiliki dalam suatu model usaha yang


bertujuan utama untuk memperoleh arus kaskontraktual; dan
b. persyaratan kontraktualmenentukan tanggal tertentu pembayaran
pokok dan/atau hasilnya.

33
2.3 Prinsip Dasar Pelaporan Akuntansi Islam

Prinsip akuntansi syariah merupakan aturan keputusan umum yang


diturunkan dari tujuan laporan keuangan dan konsep dasar akuntansi syariah
yang mengatur pengembangan tehnik akuntansi syariah. Prinsip-prinsip
akuntansi syariah sebagai berikut:

1. Prinsip pengungkapan penuh (full disclosure principle)

Prinsip ini mengharuskan laporan akutansi untuk mengungkapkan


hal-hal yang penting agar laporan tersebut tidak menyesatkan . Hal ini
dimaksudkan untuk menunjukkan pemenuhan hak dan kewajiban kepada
Allah, masyarakat, dan individu yang berkepentingan dengan perusahaan
. Dengan demikian, akuntansi syariah dilandasi oleh nilai kejujuran dan
kebenaran, sebagaimana telah diperintahkan Allah SWT,.... hendaklah
seorang penulis diantara kamu menuliskannya dengan benar. Dan
janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah
mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis.

2. Prinsip konsistensi ( consistensy principle)

Prosedur akuntansi yang digunakan oleh suatu entitas harus sesuai


untuk pengukuran posisi dan kegiatannya dan harus dianut secara
konsisten dari waktu ke waktu , sesuai denga prinsip yang dijabarkan
oleh syariah . Penekanan pada konsisten terhadap prinsip yang sesuai
dengan syariah berarti tak ada konsistensi terhadap suatu prinsip yang
tidak sesuai syariah, sehingga apabila pelaporan menggunakan prinsip
akuntansi yang tidak sesuai syariah dan harus dilakukan penyesuaian atas
perubahan prinsip akuntansi, dan hal ini harus dilaporkan dalam laporan
keuangan. Prinsip konsistensi menyebabkan penggunaan prinsip yang
sesuai dengan prinsip syariah tersebut harus dilaksanakan secara
konsisten dalam periode-periode selanjutnya.

34
3. Prinsip dasar akrual (accrual basis principle)
Akrual (accrual) diartikan sebagai proses pengakuan non-kas dan
keadaanya pada saat terjadinya. Akrual mengakibatkan pengakuan
pendapatan berarti peningkatan aset dan beban berarti peningkatan
kewajiban sebesar jumlah tertentu yang diterima atau dibayar-biasanya
dalam bentuk cash-dimasa depan . Penentuan hasil usaha periodik dan
posisi keuangan perusahaan dipengaruhi oleh metode pengakuan dan
pengukuran atas sumber-sumber ekonomi dan kewajiban perusahaan,
serta seluruh perubahannya pada saat realisasi penerimaan atau
pengeluaran uang (cash basis) . Dasar akrual ini berhubungan erat dengan
postulat periode akuntansi. Dengan kata lain, pengaplikasian dasar akrual
merupakan konsekuensi dari postulat periode akuntansi .
Sejalan dengan tujuan akuntansi syariah sebagai sarana penentuan
zakat, Syahatah menyatakan, Adapun untuk penghitungan zakat mal,
tidaklah perlu untuk menunggu pencairan (cash) harta itu. Memang,
hakikat laba akan lebih jelas dengan adanya jual beli, tetapi yang menjadi
patokan penghitungan zakat itu ialah pada penentuan nilai atau harga,
bukan dengan nyatanya laba dengan jual beli .
Namun prinsip itu menemukan pengecualian dalam syirkah
mudarabah yang bersifat sementara, yaitu pendapatan diakui dengan
dasar kas (cash basis) . Hal ini disebabkan syirkah mudarabah yang
sifatnya sementara, kelangsungan usahanya sebatas kontrak yang
disetujui, biasanya relatif pendek.

4. Prinsip nilai tukar yang sedang berlaku (exchange value general


level price)
Penilaian dan pengukuran harta, utang, modal, laba, serta elemen-
elemen lain laporan keuangan akuntansi syariah, menggunakan nilai
tukar yang sedang berlaku. Imam Malik, mengenai hal ini, berpendapat
bahwa dalam syirkah mudarabah, jika pemilik harta ingin melakukan
penghitungan harta sebelum semua barang terjual, yang dinilai adalah
barang-barang yang masih tersisa berdasarka harga jual waktu itu dan

35
penghitungan dilakukan dengan cara seperti ini. Namun padabarang yang
masih mempunyai pasar- belum terjual dan masih bertahan di pasar -,
barang-barang ini dinilai berdasarkan nilai jual yang mungkin.

5. Prinsip penandingan (matching).


Prinsip penandingan menyatakan bahwa beban (expense) harus
diakui pada periode yang sama dengan pendapatan (revenue). Hubungan
terbaik dapat dicapai ketika hubungan tersebut menggambarkan
hubungan sebab-akibat antara biaya dan pendapatan. Jika laba dilaporkan
secara bertahap sepanjang keseluruhan proses operasi perusahaan,
pengukuran aktiva bersih perusahaan akam meningkat tatkala nilai
ditambahkan oleh perusahaan. Dalam kasus ini, tidak ada keperluan
untuk konsep penandingan. Akan tetapi, karena transaksi pendapatan dan
beban dilaporkan secara terpisah, karena perolehan dan pembayaran
barang dan jasa biasanya tidak bersamaan dengan proses penjualan dan
penagihan berkaitan dengan produk yang sama dari perusahaan,
penandingan harus dianggap diperlukan, atau setidaknya suatu ketentuan
yang diinginkan. Tenggang dan kesenjangan dalam perolehan dan
penggunaan, dan pembayaran dan jasa diasumsikan menjadi alasan untuk
akrual dan penanguhan untuk menandingkan bebabn dengan pendapatan
yang berhubungan . Bagaimanapun, prinsip penandingan mampu
menunjukkan konsep dasar akrual daripada konsep dasar kas .
Beberapa prinsip akuntansi konvesional tidak sesuai dengan
akuntansi syariah, di antaranya: prinsip konservatisme, prinsip biaya
historis, prinsip objektivitas, dan prinsip materialistas. Berikut ini
penjelasan penolakan syariah terhadap masing-masing prinsip:
1. Prinsip konservatisme (conservatism principle).
Prinsip konservatisme merupakan prinsip pengecualian atau
modifikasi, artinya bahwa prinsip tersebut bertindak sebagai batasan
untuk penyajian data akuntansi yang relevan dan dapat dipercaya.
Prinsip ini menyatakan bahwa ketika memilih diantara dua atau lebih
tehknik akuntansi yang dapat diterima, maka preferensinya adalah

36
memilih yang paling kecil dampaknya terhadap ekuitas pemegang
saham. Prinsip ini, dalam akuntansi konvesional berkaitan dengan
ketidakpastian, umumnya digunakan untuk mengartikan bahwa
akuntan harus melaporkan yang terendah dari beberapa nilai yang
mungkin untuk aktiva dan pendapatan; dan yang tertinggi dari
beberapa nilai yang mungkin untuk kewajiban dan beban. Ini berarti
bahwa beban harus diakui segera dan pendapatan harus diakui nanti,
bukan segera.
Oleh karena itu, aktiva bersih lebih cenderung diakui dibawah
nilai harga pertukaran kini daripada di atasnya; dan perhitungan laba
mungkin menghasilkanyang terendah dari beberapa jumlah alternatif.
Jadi, pesimisme diasumsikan lebih baik daripada optimisme dalam
pelaporan keuangan . Hendriksen dan Breda menilai prinsip
konservatisme ini sebagai metode yang sangat buruk untuk
menghitungkan adanya ketidakpastian dalam penilaian dan laba.
Konservatisme mempunyai pengaruh yang berubah-ubah, oleh
karena itu data yang dikumpulkan secara konservatif tidak dapat
diinterprestasikan dengan tepat bahkan oleh pembaca yang sangat
terinformasi. Konservatisme juga bertentangan dengan tujuan
mengungkapkan semua informasi yang relevan . Berdasarkan sifat-
sifatnya tersebut, secara jelas dan mudah dipahami bahwa prinsip ini
tidak sejalan dengan Al Quran dan Sunnah. Dengan demikian, bagi
akuntansi syariah, bahkan secara logis, prinsip konservatisme tidak
dapat diterima.
2. Prinsip biaya historis (historical cost principle)
Menyatakan bahwa aset, kewajiban, beban, keuntungan,
kerugian, dinilai sebesar nilai perolehan. Metode pengukuran beban
dan kerugian konvesional adalah dalam pengertian biaya historis
dalam perusahaan. Prinsip ini tidak mungkin dipakai untuk
menentukan besarnya zakat karena penentuan zakat menggunakan
nilai sekarang, sebagaimana firman Allah: Dan Dialah yang
menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung,

37
pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buhnya, zaitun
dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan yang tidak sama
(rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila ia
berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan
dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.
Perintah mengeluarkan zakat dengan ungkapan ... dan
tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya. Menegaskan bahwa
zakat berdasarkan harta yang dihitung dengan nilai sekarang. Prinsip
biaya historis juga tidak sejalan dengan konsep dasar stabilitas daya
beli unit moneter.
3. Prinsip obyektivitas (objectivity principle).
Kegunaan informasi keuangan tergantung pada tingkat
reliabilitas prosedur pengukuran yang digunakan. Karena menjamin
reliabilitas maksimum sangat sulit, akuntansi konvesional telah
menggunakan prinsip objektivitas untuk menjustifikasi pemilihan
prosedur pengukuran yang digunakan. Prinsip objektivitas,
bagaimanapun, telah menjadi objek interprestasi yang berbeda:
a. Pengukuran objektivitas merupakan pengukuran yang tidak
bersifat personal dalam pengertian bebas dari bias personal
pengukurnya. Dengan kata lain, objektivitas merujuk pada
realitas eksternal yang independen dari orang yang
menerimanya;
b. Pengukuran objektivitas merupakan pengukuran variabel dalam
pengertian bahwa pengukuran didasarkan pada bukti;
c. Pengukuran objektivitas merupakan hasil konsensus diantara
kelompok pengamat atau pengukur tertentu. Pandangan ini juga
memandang bahwa objektivitas tergantung pada kelompok
tertentu.
Dalam akuntansi konvesional, prinsip obyektivitas dilaksanakan
untuk memenuhi karakteristik reliabel dan netralitas, di mana
karakteristik ini diadakan untuk tujuan sekunder (current objective)

38
informasi akuntansi, yakni membantu dalam pembuatan keputusan
ekonomi. Namun demikian, prinsip objektivitas yang mempunyai
interprestasi-interprestasi di ats, tdak sejalan dengan tujuan utama (the
time pime objective) laporan keuangan akuntansi syariah yaitu zakat.
Zakat merupakan aturan yang pasti ketentuannya, besarnya telah
ditetapkan dalam syariah.
4. Prinsip matrealitas (materiality principle).
Seperti halnya prinsip konservatisme, materialitas merupakan
prinsip pengecualian atau modifikasi. Prinsip ini menyatakan bahwa
transaksi dan peristiwa yang tidak memiliki dampak ekonomi yang
signifikan dapat diatasi dengan cara yang paling tepat, apakah
transaksi dan peristiwa tersebut sesuai dengan prinsip yang diterima
umum atau tidak, dan tidak perlu diungkapkan. Materialitas berlaku
sebagai petunjuk implisit bagi akuntan, dalam arti apa yang
seharusnya diungkapkan dalam laporan keuangan, memungkinkan
akuntan untuk memutuskan apa yang tidak penting atau apa yang
tidak, menjadi masalah dalam pencatatan kos (biaya), keakuratan
laporan keuangan, dan relevansinya bagi pengguna. Karena
mengabaikan sejumlah nilai-baik kecil maupun besar- yang dianggap
tidak meterial, prinsip ini bertentangan dengantujuan utama laporan
keuangan akuntansi syariah, yakni bahwa zakat harus dihitung
berdasakan nilai yang sesungguhnya.

39
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari pembahasan diatas kami dapat menyimpulkannya sebagai


berikut:

Dalam konsep akuntansi syariah, akuntansi adalah sebuah entitas yang


mempunyai dua arah kekuatan, ia dapat dibentuk oleh lingkungannya
maupun mempengaruhi leingkungannya. Karena itu penyusunan bentuk
akuntansi syariah juga akan berdampak dalam mengarah perilaku manusia
kearah perilaku yang etis dan kearah terbentuknya peradaban bisnis yang
ideal.

Dalam Standar Akuntansi Syariah (SAS) adalah Pernyataan Standar


Akuntansi Keuangan (PSAK) Syariah yang ditujukan untuk entitas yang
melakukan transaksi syariah baik entitas lembaga syariah maupun lembaga
non syariah. Pengembangan SAS dilakukan dengan mengikuti model SAK
umum namun berbasis syariah dengan mengacu kepada fatwa MUI. SAS
ini terdiri dari PSAK 101 sampai dengan PSAK 111 yaitu; penyajian
laporan keuangan syariah; akuntansi murabahah; salam; istishna;
mudharabah; musyarakah; ijarah; akuntansi penyelesaian utang piutang
murabahah bermasalah; zakat infaq shadakah; hawalah; asuransi syariah.

40
DAFTAR PUSTAKA

Muhammad, 2002, Pengantar Akuntansi Syariah, Jakarta: PT Salemba


Standar Akuntansi Keuangan No. 101 s/d 111. 2012. Akuntansi Syariah.
Jakarta: IAI dan Salemba Empat.
http://iaiglobal.or.id/v03/standar-akuntansi-keuangan/pernyataan-sas-64-
psak-101-penyajian-laporan-keuangan-syariah
http://iaiglobal.or.id/v03/standar-akuntansi-keuangan/pernyataan-sas-65-
psak-102-akuntansi-murabahah
http://iaiglobal.or.id/v03/standar-akuntansi-keuangan/pernyataan-sas-66-
psak-103-akuntansi-salam
http://iaiglobal.or.id/v03/standar-akuntansi-keuangan/pernyataan-sas-67-
psak-syariah-104
http://iaiglobal.or.id/v03/standar-akuntansi-keuangan/pernyataan-sas-68-
psak-105-akuntansi-mudharabah
http://iaiglobal.or.id/v03/standar-akuntansi-keuangan/pernyataan-sas-69-
psak-106-akuntansi-musyarakah
http://iaiglobal.or.id/v03/standar-akuntansi-keuangan/pernyataan-sas-70-
psak-107-akuntansi-ijarah
http://iaiglobal.or.id/v03/standar-akuntansi-keuangan/pernyataan-sas-71-
psak-108-akuntansi-transaksi-asuransi-syariah
http://iaiglobal.or.id/v03/standar-akuntansi-keuangan/pernyataan-sas-72-
psak-109-akuntansi-zakat-dan-infaksedekah
http://iaiglobal.or.id/v03/standar-akuntansi-keuangan/pernyataan-sas-78-
psak-110-akuntansi-sukuk

41