Anda di halaman 1dari 7

Nama : Kangen Drivama WMJ

NIM : 1510851029

Analisis kepentingan Qatar dalam pendanaan White Helmet di Suriah

Latar belakang konflik Suriah

Suriah adalah adalah salah satu negara yang berada di regional Asia Barat yang memiliki
ibu kota Damaskus. Pada awalnya, negara ini berbentuk kerajaan dari tahun 1918 hingga pada
tahun 1938 beralih menjadi negara Republik dimana selama periode ini suriah masih dalam
keadaan stabil dan belum memiliki konflik masif apapun sebagai suatu negara. Kemudian seiring
pergantian rezim, pada tahun 1971, ketika Hafez Al-Hassad terpilih menjadi presiden Suriah dan
menjabat hingga tahun 2000, Suriah mengalami kesenjangan ekonomi yang menjadi akar konflik
sipil. Kesenjangan ekonomi ini disebabkan oleh fokus pemerintahan Hafez Al-Hassad yaitu
mengembangkan militer. Kurang lebih 50% dari total pendapatan Suriah digunakan oleh Hafez
Al-Hassad untuk pertahanan negara dan memperdayakan militer Suriah. Disisi lain, suriah pada
masa itu sering mengalami fluktuasi, pengangguran akibat lapangan kerja terbatas, penurunan
produksi minyak, hingga cuaca yang semakin memburuk sehingga menurunkan produktivitas di
bidang agrikultur, membuat Suriah semakin terpuruk dan sarat akan kesenjangan. Akan tetapi,
kesenjangan ini tidak menyebabkan kekuasaan Hafez Al-Hassad tumbang karena raktyat Suriah
belum memiliki momentum untuk menggugat pemerintah. Setelah lebih dari 30 tahun menjabat,
akhirnya Hafez Al-Hassad memutuskan untuk mengakhiri masa jabatannya. Dengan sistem
penunjukan eksekutif yang berbeda dengan legislatif membuat Hafez Al-Assad dapat
menentukan sendiri siapa penerus tampuk kekuasaan presiden. Adalah Bashar Al-Assad yang
kemudian ditunjuk menjadi pengganti ayahnya Hafez Al-Assad, karena Basil-Al Assad, kakak
dari Bashar Al-Ashad yang sebelumnya dipersiapkan untuk menjadi presiden, tewas dalam
kecelakaan mobil tahun 1994. Bashar Al-Assad yang awalnya menumpuh studi London di
bidang kedokteran akhirnya kembali ke Suriah untuk menjadi Presiden pada tahun 2000. Tidak
jauh berbeda dengan ayahnya, kepemimpinan Bashar Al-Assad juga menyebabkan kesenjangan
ekonomi. Produksi minyak suriah terus turun menjadi 400.000 barel perhari hingga pada tahun
2010 hanya mencapai 385.000 barel perhari dengan kondisi Suriah adalah negara yang
Nama : Kangen Drivama WMJ

NIM : 1510851029

mengandalkan minyak sebagai pendapatan terbesar. Disamping itu turunnya produksi minyak
membuat pemerintah sulit menghadirkan pelayanan publik dan menstabilisasi ekonomi dengan
pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat1. Padahal ketika dilantik menjadi presiden,
Assad berjanji akan membuat Suriah menjadi lebih demokratis dan modern dengan membuat
kebijakan zona perdagangan bebas, mengizinkan lebih banyak Koran dan universitas Swasta,
serta memberantas korupsi dan pemborosan anggaran seperti rezim sebelumnya.2 Keadaan ini
kemudian menjadi momentum bagi rakyat Suriah menggugat khususnya ketika fenomena Arab
Spring meruak di timur tengah tidak terkecuali di Deera,Suriah. 3 Pada Februari 2011, rakyat
suriah melakukan protes terhadap pemerintah khususnya lewat sosial media untuk melaksanakan
reformasi. Namun, pemerintah Suriah tetap bergeming bahkan terkesan mengindahkan protes
tersebut. Kemudian pada Bulan Maret protes merebak 10-15 tahun yang menulis hingga As
Shaab Yoreed Eskaat el Nizam yang berarti Rakyat Ingin Menumbangkan Pemerintahan di
dinding sekolahnya.4 Sekali lagi, Pemerintah Suriah tetap mengindahkan tuntutan rakyatnya
dengan menahan 15 anak tersebut. Penahanan anak-anak ini, membuat protes semakin meluas

1 Jean Shaoul and Chris Marsden. (2000). The Bitter legacy of Syrias Hafez Al-
Assad. Tersedia pada https://www.wsws.org/en/articles/2000/06/assa-j16.html
diakses pada 1 april 2017.

2 Sabar Subekti. (2014). Profile Bashar Al-Assad: Pria Canggung yang Mewarisi
Rezim Represif. Tersedia pada http://www.satuharapan.com/read-detail/read/profile-
bashar-al-assad-pria-canggung-yang-mewarisi-rezim-represif diakses pada 1 april
2017

3 Arab Spring adalah peristiwa protes kepada pemerintah yang dianggap dzalim
yang pada awalnya dilakukan oleh Bouazizi seorang pedagang buah dari Tunisia.
Dengan membakar dirinya, Bouazizi menyuarakan tindakan pemerintah Tunisia
yang dzalim secara ekonomi karena membiarkan seorang aparat menghancurkan
gerobak buah miliknya yang ia gunakan untuk mencari pendapatan sekitar hanya
10$ tunis per hari

4 Trias Kuncahyono. Musim Semi di Suriah Anak-anak Penyulut Revolusi. (Kompas:


Jakarta, 2012), hlm. 114
Nama : Kangen Drivama WMJ

NIM : 1510851029

dan membuat rakyat Suriah turun ke jalan melakukan demonstrasi massif. Pihak pemerintah
khusunya aparat melakukan pertahanan dengan menembaki warga sipil. Kemarahan rakyat
memuncak dan kemudian membuat gerakan oposisi terhadap pemerintah. Protes yang awalnya
berangkat dari kekecewaan kinerja pemerintah Assad akibat dari kesenjangan ekonomi meluas
hingga menyangkut isu sektarian. Bashar Al-Assad yang notabenenya penganut aliran Syiah
dianggap tidak represntatif untuk rakyat Suriah yang mayoritas penganut aliran Sunni. Hal inilah
yang kemudian dikaitkan kenapa dalam pemerintahan Assad terkesan tidak berpihak kepada
rakyat khususnya penganut aliran sunni. Isu sektarian ini terus diberitakan media sehingga
menyulut pertentangan sipil yang berubah menjadi gerakan ideologis dan memperumit situasi
yang akar permasalahannya adalah ekonomi. Menurut data pengamat HAM di Suriah total
korban perang Suriah mencapai 466.000 jiwa.5 Dengan kondisi seperti ini, sudah barang tentu
angka harapan hidup di Suriah turun drastis hingga hanya mencapai 55,1%. Akibat rendahnya
angka harapan hidup di Suriah, membuat tidak sedikit rakyat Suriah memutuskan untuk menjadi
pengungsi ke Negara lain, yang kemudian menjadi permasalah internasional karena menyangkut
interaksi dan kebijakan Negara-negara lain di dunia serta respon dari organanisasi internasional.

Posisi dan keterkaitan Qatar dalam konflik Suriah

Setelah perang saudara yang diawali dengan kepentingan ekonomi berkecamuk bersamaan
dengan isu sektarian, banyak penduduk Suriah memutuskan untuk menjadi pengungsi. Tercatat
sepanjang dari tahun 2011-2015 lebih dari 4 juta penduduk Suriah mengungsi ke berbagai
Negara di dunia seperti Turki , Suriah,Libanon,Irak,Mesir ,dan Yordania. Untuk di daratan
eropa, terdapat Jerman dan juga Denmark yang terbuka terhadap pengungsi. Ditengah
berjibakunya Negara Negara di dunia kepada pengungsi Suriah, Negara teluk yang notabene
adalah tetangga dari Suriah dan dapat mengambil peran yang signifikan dalam mengatasi
masalah pengungsi tengah bersifat pasif jika ditinjau dari praktikal . Hal ini terbukti dari
kebijakan yang diambil oleh Negara teluk yaitu menutup diri dari kedatangan pengungsi.

5 http://mediaindonesia.com/news/read/96349/total-korban-tewas-dan-hilang-di-
suriah-capai-466-ribu-jiwa/2017-03-14
Nama : Kangen Drivama WMJ

NIM : 1510851029

Alasannya cukup rasional yaitu tidak tersedianya tempat atau area pemukiman bagi pengungsi
karena luas wilayah dan juga permasalahan pemukiman yang masih juga dihadapi oleh penduduk
yang berada di Negara teluk, salah satunya adalah Qatar . Qatar mengklaim negaranya akan tetap
berkontribusi dengan memberikan bantuan kepada Suriah sekalipun negaranya tidak ramah
pengungsi. Dislain itu, Qatar juga berargumen bahwa negaranya akan berpihak kepada oposisi
yang memperjuangkan kemerdekaan dan hak warga sipil. Bentuk nyata dari keberpihakan Qatar
adalah memberikan bantuan bersifat non Lethal kepada pihak oposisi berupa bahan makanan dan
obat-obatan. Respon tidak hanya dating dari Qatar namun juga dari Negara besar seperti
AS,Turkey,China,Russia,Iran,dll yang masinng-masing memiliki blok baik mendukung oposisi
maupun pemerintah. Permasalahan muncul ketika Qatar tidak memberikan bantuannya kepada
UNHCR dalam rangka membuat ulang pemukiman pengungsi. Sebaliknya Qatar lebih memilih
merapatkan diri kepada blok barat khususnya Amerika Serikat yang lebih melakukan pendekatan
agresif seperti embargo, dan mempersentai pihak opisisi serta mendanai lembaga-lembaga yang
disebut-sebut sebagai lembaga independen bernama White Helmet organisasi kemunusiaan yang
bertujuan membantu warga sipil yang ada di Suriah. Pertanyaan yang muncul dari anomali
prilaku Qatar adalah ; mengapa Qatar mendanai White Helmet? Bukankah sangat mudah bagi
Qatar menyepakati usulan UNHCR dan mendanai program tersebut, ketimbang mendanai White
helmet jika target utama dari Qatar adalah 4 juta warga sipil yang sudah ditolaknya masuk ke
Qatar? Petanyaan tersebut akan menjadi fokus paper ini yang akan penulis jawab dengan
kerangka konseptual sebagai berikut.

Kerangka Konseptual

Dalam paper ini penulis menggunakan salah satu paradigma dalam Ekonomi Politik Global yaitu
Merkantilisme. Menurut merkantilisme, ekonomi suatu Negara dijalankan dengan politik yang
bertujuan untuk meraih kekuasaan yang maksimal. Dengan kata lain ekonomi dijalankan untuk
meningkatkan power suatu negara. Bengan dari asumsi dasar ini, menurut merkantilisme
membangun ekonomi suatu negara harus berdasarkan power yang dimiliki dan bersifat ekspantif
terhadap Negara lain tanpa menghilangkan kontrol domestik. Tujuan akhir dari praktik ekspantif
Nama : Kangen Drivama WMJ

NIM : 1510851029

adalah membuat Negara mencapai kekuasaan maksimal (maximize power), menghilangkan


ketergantungan terhadap Negara lain (self-help), sehingga dapat bertahan dalam persaingan
ekonomi politik global (Survive).

Adapun konsep yang penulis juga gunakan dalam paper ini adalah kepentingan nasional.
Menurut Andrew Hewyood dalam bukunya Global Politics, kepentigan nasional dapat diartikan
sebagai preferensi dan kebijakan luar negeri suatu Negara yang menguntungkan bagi warga
Negara tersebut secara komprehensif. 6Kepentingan nasional ini jugalah yang semaksimal
mungkin akan diraih Negara agar tujuan dari Negara tersebut tercapai.

Qatar, Suriah, dan White Helmet

Seperti yang telah penulis uraikan diatas, konflik Suriah sangat sarat akan kepntingan ekonomi.
Ketika konflik suriah dimulai pada tahun 2011, Disaat yang sama juga terdapat pengajuan
proposal dari Qatar,Turkey,dan beberapa Negara teluk untuk membangun jalur pipa gas yang
akan melalui Suriah. Tujuan dari pembangunan pipa gas ini adalah membuat aliran gas yang
lebih efisien dimana sebelumnya Qatar harus memutar jalur untuk menyalurkan gas dari timur
tengah ke Eropa yang berimbas kepada naiknya harga. Namun proposal ini ditolak oleh Bashar
Al-Assad karena Assad lebih memilih untuk membuat jalur pipa gas bersama Iran. Kesepakatan
ini resmi diumumkan oleh pemerintah Suriah pada tahun 2015. Jalur pipa gas menjadi kunci
penting bagaimana blok di konflik Suriah tercipta. Blok pertama adalah blok pendukung
pemerintah Suriah dibawah Assad, bersama Iran,Irak,Russia, dan juga China. Negara-negara
tersebut seringkali memberikan bantuan militer kepada Suriah, agar Assad tetap bertahan sebagai
presiden. Sedangkan dari blok rival, Turkey, Qatar, beberapa Negara teluk bersama AS berpihak
kepada oposisi di Suriah. Disaat blok-blok terbentuk, Organisasi kemanusiaan juga bermunculan
di Suriah, salah satunya White Helmet. White Helmet atau helm putih adalah organisasi

6 A. Hewyood, Global Politics, Palgrave Macmillan, Hampshire, 2011, hal. 130


Nama : Kangen Drivama WMJ

NIM : 1510851029

kemanusiaan independen dengan tujuan dasar membantu masyarakat di Suruiah. Pada awal
kemunculan white helmet sempat menyita perhatian. Namun seiring berjalannya waktu muncul
berbagai keanehan tentang organisasi independen ini. Pertama, white helmet yang merupakan
organisasi Independen mendapatkan dana bantuan dari beberapa Negara pada blok pro opposisi
salah satunya Qatar 7. Qatar development fund mengklaim dana bantuan akan disalurkan untuk
obat-obatan dan makanan di Alleppo. Tidak hanya Qatar, AS melalui USAID mengucurkan dana
sejumlah 16 juta US dollar kepada White Helmet. Kedua White helmet tertangkap kamera
membawa senjata dan membantu kelompok opposisi dalam melakukan aksi pemberontakan.8
Keanehan ini kemudian dijawab oleh Badan Integen Rusia yang membongkar siapa dibalik
White Helmet dan peran dari White Helmet di Suriah. Dilansir dari pernyataan kementrian
pertahanan Rusia segala informasi yang di dapatkan oleh blok pro opposisi berasal dari White
Helmet dan aktivis tidak dikenal9. Berdasarkan paradigma merkantilis apa yang terjadi di Suriah
antara White Helmet, Suriah dan Qatar adalah usaha Negara dalam memaksimalkan power
dalam hal ekonomi. Qatar bersama blok pro opposisi berada pada posisi actor yang sedang
memaksimalkan power mereka di Timur tengah. Serangan internal pun dilakukan dengan
menyusupkan actor yang terkesan tidak berbahaya namun memiliki pengaruh besar (White
Helmet). White Helmet berperan sebagai aktor yang ikut membantu Qatar beserta alliansinya
dalam usaha menjatuhkan Assad dan merebut power Suriah di Timur tengah. Kepentingan
nasional sangat jelas terlihat dari kasus ini yaitu kebutuhan pipa gas di timur tengah. Suriah yang
memiliki geografi yang strategis adalah kunci untuk membuat megaproyek pipa gas
Turkey,Qatar,AS, dan seluruh alliansi blok opposisi. Sedangkan Suriah,Russia,Iran, dan aktor pro
7 http://liputanislam.com/berita/qatar-salurkan-dana-untuk-organisasi-white-
helmets/ diakses pada 1 april 2017

8 https://geopolitics.co/2017/02/26/white-helmets-ok-for-propaganda-vs-assad-
putin-but-no-oscars-please/ diakses pada 1 april 2017

9
http://parstoday.com/id/news/worldi26161rusia_pro_teroris_helm_putih_suriah_supla
i_informasi_untuk_barat diakses pada 1 april 2017
Nama : Kangen Drivama WMJ

NIM : 1510851029

pemerintah juga memiliki pandangan yang sama yaitu memaksimalkan power di timur tengah
dan juga kepentingan nasional yang sama yaitu membangun pipa gas di Suriah hingga sampai ke
Iran lalu Eropa tanpa gangguan dari pihak opposisi yang di dukung oleh blok rival yaitu barat.

Kesimpulan

Dari dinamika konflik di Suriah dapat cermati bahwa akar konflik Suriah merupakan konflik
ekonomi. Setiap aktor yang terlibat dalam konflik ini memiliki tujuan yang sama yaitu mega
proyek pipa gas di timur tengah. Salah satu Negara yang terlibat dalam konflik ini adalah Qatar.
Qatar memiliki kepentingan nasional yaitu menjalankan pembangunan pipa gas, namun ditolak
oleh Presiden Suriah yaitu Bashar Al-Assad. Untuk mencapai tujuannya ini, Qatar dan aliansi
barat menggunakan White Helmet sebagai agen penyedia informasi. Sehingga dapat disimpulkan
kepentingan Qatar mendanai White Helmet adalah mendapatkan informasi yang berguna untuk
bloknya, dan juga mendorong kelompok opposisi menurunkan Assad agar mega proyek pipa gas
Qatar serta aliansi dapat terwujud sehingga Qatar dan aliansi dapat meningkatkan power di
kawasan timur tengah.