Anda di halaman 1dari 20

TUGAS 1 (SATU)

KELOMPOK 1

Patofisiologi dan Askep Gangguan Sistem Endokrin pada Anak

HIPOTIROID

DOSEN :

Ns. Lenni Sastra, S. Kep, MSN

PROGRAM STUDI S 1 KEPERAWATAN

STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

2016

NAMA ANGGOTA KELOMPOK :

1
1. CAHYA DELFIA 14121954
2. DIFA AIDILA 14121931
3. ELSI KAMILATUL IZZATI 14121934
4. FEGA DEFRIYANTI 14121940
5. FAUZIYAH ELITA APZA 14121962
6. GEBBY PRATIWI 14121960
7. HERMIN LESTARI ZALUKHU 14121930
8. MHD. NIBROS HANAFI RITONGA 14121929
9. NIRMALA GINTA 14121942
10.PUTRI LAWITRA 14121961
11.RIA AMYA 14121955

KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, karena atas
anugerah dan petunjuk serta hidayah-Nya lah, makalah ini dapat terselesaikan
meskipun memiliki banyak sekali kekurangan.

2
Diharapkan dengan adanya makalah ini dapat memberikan pengetahuan
tentang Patofisiologi dan Asuhan Keperawatan pada Klien Hipotiroid yang
merupakan salah satu penyakit pada sistem endokrin.

Tentunya masih banyak sekali kekurangan dan kesalahan di dalam


pembuatan makalah ini. Oleh karena keterbatasan ilmu dan referensi yang kami
jadikan sebagai acuan untuk menyusun makalah ini ataupun karena hal hal
lain. Namun, karena adanya niat untuk belajar, maka dengan antusias dan
semangat yang tinggi, akhirnya makalah ini dapat terselesaikan. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan kita semua umumnya.

Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
terkait dalam penyusunan makalah ini, serta kepada teman teman yang telah
memberikan dukungannya yang sangat berharga bagi penulis untuk dapat
menyelesaikan makalah ini.

Padang, 11 Maret 2016

Penulis

DAFTAR ISI

1. KATA PENGANTAR i
2. DAFTAR ISI ii
3. BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang
1
B. Tujuan 2

3
4. BAB II PEMBAHASAN 3
A. KONSEP PATOFISIOLOGI PENYAKIT HIPOTIROID
3
2.1Pengertian 3
2.2Anatomi Fisiologi 3
2.3Etiologi 5
2.4Klasifikasi 5
2.5Manifestasi Klinik 5
2.6Komplikasi 6
2.7Patofisiologi 6
2.8WOC 7
2.9Pemeriksaan diagnostic 8
2.10 Penatalaksanaan 8
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN HIPOTIROID 8
2.11 Pengkajian 8
2.12 Diagnosa Keperawatan 10
2.13 Intervensi 11
5. BAB III PENUTUP 15
3.1 Kesimpulan 15
3.2 Saran 15
DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sistem endokrin adalah sistem kontrol kelenjar tanpa saluran (ductless)
yang menghasilkan hormon yang tersirkulasi di tubuh melalui
aliran darah untuk mempengaruhi organ-organ lain (Alvyanto, 2010).
Sistem endokrin, dalam kaitannya dengan sistem saraf, mengontrol
dan memadukan fungsi tubuh. Kedua sistem ini bersama-sama bekerja
untuk mempertahankan homeostasis tubuh. Fungsi mereka satu sama lain
saling berhubungan, namun dapat dibedakan dengan karakteristik tertentu.
Misalnya, medulla adrenal dan kelenjar hipofise posterior yang mempunyai

4
asal dari saraf (neural). Jika keduanya dihancurkan atau diangkat, maka
fungsi dari kedua kelenjar ini sebagian diambil alih oleh sistem saraf.
Dalam system endokrin terbagi atas dua bagian yaitu system endokrin
dan system eksokrim. System eksokirm merupakan system yang
mengeluarkan enzim pada permukaan tubuh seperti kulit, dan dinding
pembuluh darah. System endokrin membahas tentang system pengeluaran
enzim ke dalam organ- organ dalam tubuh seperti ginjal, hati, pancreas,
pembuluh darah, dll. Salah satu penyakit yang disebabkan oleh system
endokrin ini diantaranya adalah hipotiroidisme. Merupakan salah satu
penyakit yang disebabkan oleh kekurangan kelenjar tyroid dalam
menghasilkan hormone T3 ( triodotironin ) dan t4 (tiroksin). Penyakit ini
merupakan salah satu penyakit autoimun yang dapat menyerang pada
manusia utamanya pada laki-laki. Penyakit ini juga salah satu penyakit yang
dapat menyebabkan kematian pada stadium lanjut.
Berdasarkan uraian dari latar belakang diatas maka penulis dalam
pembahasan makalah ini membahas lebih lanjut tentang penyakit
hipotiroidisme serta asuhan keperawatan secara mendasar sehingga kita
dapat mengetahui secara dini tentang penyakit ini dan cara perawatannya.

B. Tujuan
a. Tujuan Umum

Mampu mengetahui dan memahami patofisiologi dan asuhan


keperawatan gangguan sistem endokrin pada anak.

b. Tujuan Khusus
1. Mengetahui dan memahami pengertian hipotiroid
2. Mengetahui dan memahami anatomi dan fisiologi hipotiroid
3. Mengetahui dan memahami etiologi hipotiroid
4. Mengetahui dan memahami klasifikasi hipotiroid
5. Mengetahui dan memahami manifestasi klinis hipotiroid
6. Mengetahui dan memahami komplikasi hipotiroid
7. Mengetahui dan memahami patofisiologi hipotiroid
8. Mengetahui dan memahami WOC hipotiroid
9. Mengetahui dan memahami pemeriksaan diagnostik hipotiroid
10.Mengetahui dan memahami penatalaksanaan hipotiroid
11.Mengetahui dan memahami pengakajian pada klien hipotiroid
12.Mengetahui dan memahami diagnosa keperawatan pada klien
hipotiroid

5
13.Mengetahui dan memahami intervensi pada klien hipotiroid

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. KONSEP PATOFISIOLOGI PENYAKIT HIPOTIROID


2.1 Pengertian
Hipotiroid terjadi akibat penurunan kadar hormone tiroid yang
bersirkulasi. Hipotiroidisme pada anak merupakan defisiensi sekresi
hormone tiroid selama perkembangan janin dan pada awal usia bayi akan
mengakibatkan kretinisme infantilis (hipotiroidisme congenital).(Jenifer,
2011)
2.2 Anatomi & Fisiologi
1) Anatomi
Terdiri atas dua buah lobus yang terletak disebelah kanan trakea,
diikat bersama oleh jaringan tiroid yang melintasi trakea disebelah depan.
Kelenjer ini merupakan kelenjar yang terdapat didalam leher bagian depan
bawah, melekat pada dinding laring. Atas pengaruh hormone yang
dihasilkan oleh kelenjer hipofise lobus anterior, kelenjer tiroid ini dapat
memproduksi hormone tiroksin. Adapun fungsi dari hormone troksin
adalah mengatur pertukaran zat/metabolisme dalam tubuh dan mengatur
pertumbuhan jasmani dan rohani. (H Syaifuddin, 2006)
Struktur kelenjar tiroid terdiri atas sejumlah besar vesikel-vesikel
yang dibatasi oleh epithelium silinder, disatukan oleh jaringan ikat. Sel-
selnya mengeluarkan sera, cairan yang bersifat lengket yaitu koloid tiroid
yang mengandung zat senyawa yodium yang dinamakan hormone
tiroksin. Secret ini mengisi vesikel dan dari sini berjalan kealiran darah
baik langsung maupun saluran limfe. (H Syaifuddin, 2006)
Hipofungsi kelenjer ini menyebabkan penyakit kretinismus dan
penyakit miksedema. Hiperfungsi menyebabakan penyakit eksoftalmik

6
goiter. Sekresi tiroid diatur oleh sebuah hormone dari lobus anterior
kelenjar hipofiseyaitu oleh hormone tirotropik. (H Syaifuddin, 2006)
Fungsi kelenjar tiroid sangat erat dengan kegiatan metabolik dalam
hal pengaturan susunan kimia dan jaringan bekerja sebagai perangsang
proses oksidasi, mengatur penggunaan oksigen dan mengatur
pengeluaran karbondioksida. Hiposekresi/hipotiroidisme terjadi bila
kelenjar kurang mengeluarkan secret pada waktu bayi, mengakibatkan
suatu keadaan yang dikenal sebagai kretinisme berupa hambatan
pertumbuhan mental dan fisik. Pada orang dewasa kekurangan sekresi
menyebabakn miksedema, proses metabolic mundur dan terdapat
kecendrungan untuk bertambah berat, gerakannya lambat, cara berfikir
dan berbicara lamban, kulit menjadi tebal dan berkeringat, rambut rontok,
suhu badan dibawah normal dan denyut nadi melambat. (H Syaifuddin,
2006)
Hipertiroid dimana gejalanya merupakan kebalikan dari meksedema
yaitu: kecepatan metabolisme meningakat, suhu tubuh tinggi, berat badan
turun, gelisah, mudah marah, denyut nadi naik. Pengaruhnya pada
vaskuler mencakup fibrilasi atrium, kegagalan jantung. Pada keaadaan
yang dikenal sebagai penyakit trauma atau gondok eksoftalmus, mata
menonjol keluar. Efek ini disebabkan terlampau aktifnya hormone tiroid,
adakalanya tidak hilang dengan pengobatan. (H Syaifuddin, 2006)
2) Fisiologi
Kelenjar ini menghasilkan hormone tiroksin yang memegang peranan
penting dalam mengatur metabolisme yang dihasikannya, merangsang
laju sel-sel dalam tubuh melakukan oksidasi terhadap bahan makanan,
memegang peranan penting dalam pengawasan metabolisme secara
keseluruhan. Hormone tiroid memerlukan bantuan TSH (thyroid
stimulating hormone) untuk endositosis koloid oleh mikrovili, enzim
proteolitik untuk memecahkan ikatan hormone T3 (triidotironin) dan T4
(tetraidotironin) dari triglobulin untuk melepaskan T3 dan T4 (H
Syaifuddin, 2006)
Distribusi dalam plasma terikat pada protein plasma (protein bound
iodine, PBI). Sebagian besar FBI T4 dan sebagian PBI T3 terikat pada
protein jaringan yang bebasa dan seimbang. Reaksi yang diperlukan untuk
sintesis dan sekresi hormone adalah:
1. Transpor aktif iodida (senyawa yodium) dari plasma dalam tiroid
dan lumen folikel dari folikel dibantu oleh TSH.
2. Dalam kelenjar tiroid iodida dioksidasi menjadi ionin aktif dibantu
TSH.

7
3. Iodin mengalami perubahan kondensasi oksidatifbantuan
peroksidase
4. Tahap terakhir pelepasan iodotironin yan bebas ke dalam darah. (H
Syaifuddin, 2006)

2.3 Etiologi
1. perkembangan embrionik mengalami defek sehingga timbul kelainan
congenital, yakni kelenjar tiroid tidak terdapat atau tidak berkembang
(kretinisme pada bayi)
2. defek resesif autosom yang diturunkan pada sintesis tiroksin
3. obat-obat anti tiroid yang digunakan selama kehamilan dan
menyebabkan kretinisme pada bayi
4. tiroiditis autoimun yang kronis (kretinisme terjadi sesudah usia 2 tahun)
5. defisiensi yodium selama kehamilan(Jenifer, 2011)

2.4 Klasifikasi
a. Hipotiroidisme primer
- Goiter: tiroiditis hashimotofase penyembuhan setelah tiroiditis,
defisiensi yodium
- Non-goiter: destruksi pembedahan, kondisi setelah pemberian
yodium radioaktif atau radiasi eksternal, agenesis amiodaron
b. Hipotiroidisme sekunder: kegagalan hipotalamus (menurunnya TRH,
TSH yang berubah-ubah, menurunnya T4 bebas) atau kegagalan
pituitary (menurunnya TSH, menurunnya T4 bebas) (Jenifer, 2011)
2.5 Manifestasi Klinik
1. Bayi terlihat seperti kesulitan bernapas
2. Sianosis
3. Ikterus yang persisten
4. Letargi
5. Somnolensia
6. Lidah yang besar
7. Distensi abdomen
8. Tidak mau menyusui
9. Tangisan yang kasar
10.Reflex tendon yang abnormal
11.Kulit yang dingin dan berbintik bintik akibat sirkulasi darah yang
buruk dan rambut yang kering rapuh serta suram
12.Erupsi gigi yang terlambat dan gigi yang mudah keropos
13.Suhu tubuh dibawah normal, dan frekuensi denyut nadi yang lambat
14.retardasi pertumbuhan berupa tubuh pendek(Jenifer, 2011)

2.6 Komplikasi
1. malformasi skeletal dan retardasi mental yang ireversibel (bagi bayi
hipotiroid yang tidak ditangani hingga usia 3 bulan penanganan yang
dini membantu mencegah retardasi).
2. Kesulitan belajar
3. Maturasi seksual yang cepat atau lambat(Jenifer, 2011)

8
2.7 Patofisiologi
Hipotiroidisme pada bayi dan anak-anak berhubungan dengan
penurunan produksi atau sekresi hormone tiroid. Kehilangan jaringan
fungsional tiroid dapat disebabkan oleh proses autoimun. Sintesis tiroid
yang mengalami defek dapat berkaitan dengan defek congenital, dan
disgenesis tiroid (perkembangan yang defektif) merupakan penyebab yang
paling sering. Defisiensi yodium atau pemakaian obat anti tiroid oleh ibu
selama kehamilannya dapat pula turut menyebabkan. Hipotiroidisme dapat
pula berhubungan dengan penurunan sekresi TSH atau resistensi terhadap
TSH. (Jenifer, 2011)
Hipotiroid ini bisa terjadi karena adanya disfungsi dari dari
hipotalamus, kelenjer hipofise atau pada kelenjer tiroid sendiri, jika terjadi
disfungsi dari hipotalamus maka produksi TRH akan menurun sehingga
rangsangan TRH ke kelenjar hipofise juga akan menurun dengan demikin
sesuai informasi yang didapatkan oleh hipofisie yang sedikt itu maka disini
hipofise juga mengelurkan TSH yang sedikit sehingga rangsangan ke tiroid
untuk membentuk tiroksin juga sedekit. Apabila terjadi disfungsi pada
hipofise meskipun kerja dan TRH yang dihasilkan hipotialamus dalam
keadan baik tetap saja produksi TSH akan menurun sehingga rangsangan
TSH kepada tiroid untuk membentuk tiroksin juga akan terganggu apalagi
kerusakan tersebut terjadi pada tiroid itu sendiri
Bayi yang mengalami hipotiroid biasanya terlihat seperti kesulitan
bernapas, Sianosis, Ikterus yang persisten, Letargi, Somnolensia, Lidah yang
besar, Distensi abdomen, Tidak mau menyusui, Tangisan yang kasar, Reflex
tendon yang abnormal, Kulit yang dingin dan berbintik bintik akibat
sirkulasi darah yang buruk dan rambut yang kering rapuh serta suram,
Erupsi gigi yang terlambat dan gigi yang mudah keropos, Suhu tubuh
dibawah normal, dan frekuensi denyut nadi yang lambat dan retardasi
pertumbuhan berupa tubuh pendek(Jenifer, 2011)
Gagguan seperti diatas bisa terjadi bila perkembangan embrionik
mengalami defek sehingga timbul kelainan congenital, yakni kelenjar tiroid
tidak terdapat atau tidak berkembang (kretinisme pada bayi), defek resesif
autosom yang diturunkan pada sintesis tiroksin, obat-obat anti tiroid yang
digunakan selama kehamilan dan menyebabkan kretinisme pada bayi,
tiroiditis autoimun yang kronis (kretinisme terjadi sesudah usia 2 tahun) dan
defisiensi yodium selama kehamilan(Jenifer, 2011)

9
Klien anak yang sudah mengalami gangguan ini dari lahir maka
kemungkinan untuk mengalami malformasi skeletal dan retardasi mental
yang ireversibel (bagi bayi hipotiroid yang tidak ditangani hingga usia 3
bulan penanganan yang dini membantu mencegah retardasi). Kesulitan
belajar Maturasi seksual yang cepat atau lambat(Jenifer, 2011

2.8 Woc

Virus hasimoto Malfungsi Malfungsi hipofisis


hipotalamus
Kelainan kongenital
tiroiditis TRH menurun dan TRH meningkat dan
2.9 TSH menurun TSH menurun
Obat obat anti tiroid
Malfungsi kelenjar
tiroid
2.10 Hormon tiroid Hormon tiroid
Kekurangan yudium menurun menurun
TRH meningkat TSH
meningkat
hipotiroid

Hormon tiroid
menurun Laju metabolisme
menurun

fungsi
fungsi Fungsi ATP dan Otot Sekresi sistem
pernafasan ADP kekuranga pencernaan
O2
Produksi Peristaltic
Depresi ventilasi Suplai O ke 2 Proses kalor usus
jaringan oksidasi Distensi
Suhu tubuh
dispnea sianosis anaerob abdoment
Asam laktat
Mk: Mk: konstipasi
Mk: pola nafas Mk: resiko
Hipotermia
tidak efektif perfusi Mk: nyeri
jaringan otak
Kelelaha pada
otot
Mk: intoleransi aktivitas

10
2.11 Pemeriksaan Diagnostik
1. T4 serum
Penentuan t4 serum dengan teknik immunoassay pada hipotirois
ditemukan kadar T4 serum normal sampai rendah.kadar normal T4
serum diantara 4,5 dan 11,5 mg/dl
2. T3 serum
Kadar T3 serum biasanya dalam keadaan normal rendah. Normal kadar
T3 serum adalah 70 hingga 220 mg/dl
3. Tes T3 ambilan resin
Pada hipotiroid, maka hasil tesnya kurang dari 25%
4. Tes TRH (thyrotropin releasing hormone)
Pada hipotiroid yang disebabkan oleh keadaan kelenjer tiroid maka akan
ditemukan peningkatan kadar TSH serum

2.12 Penatalaksanaan
a. Pengobatan
Deteksi dini harus dilakukan untuk mencegah retardasi mental yang
ireversibel dan memungkinkan perkembangan fisik yang normal.
Penanganan meliputi:
- Pemberian levotiroksin oral (synthroid), yang dimulai dengan dosis
sedang dan secara bertahap dinaikkan hingga mencapai dosis yang
cukup untuk rumatan seumur hidup (peningkatan dosis yang cepat
dapat menimbulkan tirotoksisitas); pasien akan memerlukan dosis
yang lebih tinggi menurut proporsi tubuhnya jika dibandingkan pasien
dewasa karena anak-anak memetabolisasi hormone tiroid lebih cepat
(bayi yang berusia kurang dari 1 tahun) (Jenifer, 2011)
- Koma miksedema adalah situasi yang mengancam nyawa yang
ditandai oleh eksaserbasi (perburukan) semua gejala hipotiroidisme
termasuk hipotermi tanpa menggigi,hipotensi, hipoglikemia,
hipoventilasi, dan penurunan kesadaran hingga koma. Kematian dapat
terjadi apabila tidak diberikan HT dan stabilisasi semua gejala. Dalam
keadaan darurat (misalnya koma miksedem), hormon tiroid bisa
diberikan secara intravena.
- Tes-tes laboratium yang digunakan untuk memastikan hipotiroidisme
antara lain: kadar tiroksin dan dan triyodoronin serum yang rendah,

11
BMR yang rendah, dan peningkatan kolesterol serum. Kadar TSH
serum mungkin tinggi mungkin pula rendah, bergantung pada jenis
hipotiroidisme. Pada hipotiroidisme primer, kadar TSH serum akan
tinggi, sedangkan kadar tiroksin rendah. Sebaliknya, kedua
pengukuran tersebut akan rendah pada pasien dengan hipotiroidisme
sekunder.
- Pengobatan hipotiroidisme antara lain dengan pemberian tiroksin,
biasanya dimulai dalam dosis rendah (50 g/hari), khususnya pada
pasien yang lebih tua atau pada pasien dengan miksedema berat, dan
setelah beberapa hari atau minggu sedikit demi sedikit ditingkatkan
sampai akhirnya mencapai dosis pemeliharaan maksimal 150 g/hari.
Pada dewasa muda, dosis pemeliharaan maksimal dapat dimulai
secepatnya. Pengukuran kadar TSH pada pasien hipotiroidisme primer
dapat digunakan untuk menentukan manfaat terapi pengganti. Kadar
ini harus dipertahankan dalam kisaran normal. Pengobatan yang
adekuat pada pasien dengan hipotiroidisme sekunder sebaiknya
ditentukan dengan mengikuti kadar tiroksin bebas.
- Hipotiroidisme diobati dengan menggantikan kekurangan hormon
tiroid, yaitu dengan memberikan sediaan per-oral (lewat mulut). Yang
banyak disukai adalah hormone tiroid buatan T4. Bentuk yanglain
adalah tiroid yang dikeringkan (diperoleh dari kelenjar tiroid hewan).
- Pengobatan selalu mencakup pemberian tiroksin sintetik sebagai
pengganti hormone tiroid. Apabila penyebab hipotiroidism berkaitan
dengan tumor susunan saraf pusat, maka dapat diberikan kemoterapi,
radiasi, atau pembedahan.

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN HIPOTIROID


A) Riwayat kesehatan
1) Riwayat kesehatan dahulu
Biasanya klien dengan gangguan hipotiroid biasanya klien memiliki
riwayat konsumsi yodium yang sedikit
2) Riwayat kesehatan sekarang
Biasanya klien mengeluhkan sesak nafas bagi klien anak dan jika
klien nya adalah bayi maka klien dikeluhkan menangis, dan hisapan
bayi untuk menyusui kurang.
3) Riwayat kesehatan keluarga
Biasanya penyakit ini bukan penyakit keturunan namun lebih ke
penyakit congenital dimana pola kesehatan ibu saat kehamilan juga
sangat menentukan.
B) Pengkajian fisik
1. Keadaan umum klien

12
a) Tingkat kesadaran
Biasanya klien dengan hipotiroida mengalami penurunan
tingkat kesadaran seperti somnolen
b) Berat badan
Biasanya klien hipotiroid ini memiliki berat badan yang
rendah karena klien dengan hipotiroid memiliki gangguan
pertumbuhan.
c) Tinggi badan
Biasanya klien akan memiliki tinggi badan yang rendah karena
klien dengan hipotiroid ini akan terlihat cebol.
d) Teperatur
Biasanya klien dengan hipotiroid tidak mengalami perubahan
peningkatan pada suhu. (36 derjat C- 37 derjat C).
e) Nadi
Biasanya nadi klien mengalami perubahan yaitu lemah
karena kehilangan akibat kompensasi asidosis (60-100x/menit).
f) Tekanan darah
Biasanya tekanan darah klien mengalami peningkatan ( 110-
140mmHg).
g) Pernapasan
Pada klien dengan hipotiroid biasanya akan mengalami sesak
napas ( 16-24x/menit) (Kushariyadi,2011).
2. Kepala
a. Rambut
Biasanya rambut klien tampak kering dan kasar dan juga
mudah rontok.
b. Wajah
Biasanya diwajah klien tidak terdapat edema, tidak ada
perlukaan diwajah, simetris kiri dan kanan.
c. Mata
Biasanya klien dengan gangguan ini matanya akan terlihat
ikterik bagi klien bayi dan ini bersifat persisten.
d. Hidung
Biasanya keadaa hidung simetris kiri dan kanan, tidak ada
pembenggakan pada hidung, septum nasi biasanya normal,
lubung hidung biasanya tidak ada secret, serta tidak ada
cupping hidung.
e. Bibir
Biasanya mukosa bibir terlihat kering, pucat dan tidak adanya
idema.
f. Gigi
Klien anak yang telah menderita hipotiroid dari lahir biasanya
mengalami erupsi gigi yang terlambat dan gigi yang mudah
keropos
g. Lidah

13
Biasanya klien dengan gangguan hipotiroid memilki lidah
yang yang besar.
h. Telinga
Biasanya simetris kanan dan kiri dan mungkin tidak terjadi
penurunan pendengaran.
3. Leher
Biasanya tidak ada pembesaran kelenjer tiroid, kelenjer getah
bening serta deviasi trakea, pergerakan leher tidak terganggu, tidak
ada perlukaan pada leher klien dan JVP normal 5-2 cm air
(Kushariyadi,2011).
4. Thorak
a. Inspeksi : Biasanya rongga dada simetris kiri dan kanan,
bentuknya normal, frekunsi nafas normal sedikit meningkat (16-
24kali/menit), irama pernapasan biasanya kurang, tidak adanya
perlukaan, ictuscordis tidak terlihat dan tida ada terlihat
pembenggakan.
b. Palpasi : Biasanya gerakan antara paru-paru kiri dan kanan
sama, tidak ada nyeri tekan dan udema.
c. Perkusi : Biasanya suara nafas terdengar normal yaitu sonor.
d. Auskultasi : Biasanya suara nafas terdengar cepat atau sesak.
5. Jantung
a. Inspeksi : biasanya ictus kordis tidak terlihat
b. Palpasi : biasanya ictus kordis teraba
c. Perkusi : biasanya batas jantung dalam batas normal, yaitu :
Kanan atas SIC II line para sternalis dextra
Kanan bawah SIC IV line para dextralis dextra
Kiri atas SIC II line para sternalis sinistra
Kiri bawah SIC IV medioklavikula sinistra.
d. Auskultasi: biasanya irama jantung terdengar normal.
6. Abdomen
a. Inspeksi : biasanya tidak terrjadi masalah abdomen klien
simetris kiri dan kanan,
b. Auskultasi : biasanya tidak ada gangguna bunyi bising usus
normal 5-35x/menit
c. Palpasi : tidak ada pembesaran hepar atau kelenjar limfa
d. Perkusi : apabila diperkusi tidak terjadi perubahan bunyi
tetap pada bunyi normal yaitu timpani.
7. Ekstremitas
Biasanya klien dengan tidak memiliki gangguan pada
ekstremitas
8. Genitourinaria
Tidak ada ganngguan perkemihan padaklien dengan hipotiroid
9. System integumen
Kulit klien terlihat kuning, pucat, kering bersisik dan menebal,
pertumbuhan kuku memburuk kuku menebal.
10.Aktivitas sehari-hari
1) Pola kebiasaan makan dan minum

14
a. Makan
Sehat : biasanya klien makan 3x sehari, porsi habis
Sakit : biasanya makan klien 3X sehari
b. Minum
Sehat: biasanya 6-7 gelas sehari (air putih dan teh )
Sakit :biasanya 6-7 gelas sehari
2) Eliminasi
a. Miksi
Sehat : biasanya 4-5 kali sehari
Sakit : biasanya tidak ada gangguan.
b. Defekasi
Sehat : biasanya 1 kali sehari
Sakit : biasanya tidak ada gangguan
3) Istirahat dan tidur
Sehat : biasanya 7-8 jam sehari
Sakit : biasanya tidak ada gangguan
4) Kebersihan diri
1. Mandi
Sehat : biasanya 2 kali sehari
Sakit : biasanya 2 kali sehari
2. Mencuci rambut
Sehat : biasanya 1 kali sehari
Sakit : biasanya 1 kali sehari dan tidak mengalami perubahan
klien.
5) Berpakaian
Sehat: biasanya 2 kali sehari
Sakit : biasanya 2 Kali sehari
1. Data social ekonomi
Biasanya penyakit hipotiroid terjadi pada golongan okonomi rendah
11.Data psikososial
Perasaan tidak berdaya, hilang harapan, emosi yang labil dan
marah yang tidak tepat kesedihan, kegembiraan, kesulitan, berekpresi
diri, gangguan dalam memutuskan , perhatian sedikit dalam
keamanan, berkurangnya kesadaran diri, rasa takut, bermusuhan dan
marah.
C) Pemeriksaan Diagnostik
1) T4 serum
Penentuan t4 serum dengan teknik immunoassay pada hipotirois
ditemukan kadar T4 serum normal sampai rendah.kadar normal T4
serum diantara 4,5 dan 11,5 mg/dl
2) T3 serum
Kadar T3 serum biasanya dalam keadaan normal rendah. Normal kadar
T3 serum adalah 70 hingga 220 mg/dl
3) Tes T3 ambilan resin
Pada hipotiroid, maka hasil tesnya kurang dari 25%
4) Tes TRH (thyrotropin releasing hormone)
Pada hipotiroid yang disebabkan oleh keadaan kelenjer tiroid maka akan
ditemukan peningkatan kadar TSH serum

1. Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul

15
1. Pola nafas tidak efektif b.d kelehan akibat penurunan metabolisme
2. Intoleransi aktivitas b.d penurunan ATP akibat penurunan metabolism
tubuh.
3. Konstipasi b.d penurunan fungsi gastrointestinal akibat penurunan
metabolisme tubuh.
4. Resiko Perfusi jaringan otak b.d penurunan ADP akibat penurunan
metabolisme.
5. Nyeri b.d peningkatan produksi asam laktat
6. Hipotermi b.d penurunan laju metabolisme

2. Intervensi Keperawatan

Diagnosa
No NOC NIC
Keperawatan
1. Pola nafas tidak Status respirasi Manajemant jalan nafas
efektif b.d 1. Frekuensi respirasi 1. Membuka jalan nafas
2. Irama pernapasan
penekanan dengan menggunakan
3. Kedalaman
trachea akibat teknik jau trash yang
pernapasan
pembesaran 4. Auskultasi suara sesuai
2. Posisikan pasien untuk
kelenjar tiroid di nafas
5. Kepatenan jalan memaksiamalkan potensi
leher
nafas ventilasi
6. Penggunaan otot 3. Mengjrkn klien bagaimana
bantu napas melakukan inhale yang
7. Sianosis
sesuai
2. Intoleransi Toleransi aktivitas Manajement energy
aktivitas b.d 1. Kecepatan respirasi saat 1. Gunakan peralatan yang
penurunan ATP beraktivitas valid untuk menentukan
2. Denyut nadi saat
akibat penurunan keletihan jika terindikasi
beraktivitas 2. Pilih perencanaan
metabolism
3. Tekanan sistol darah saat
peningkatan keletihan
tubuh.
beraktivitas
dengan berkolaborasi
4. Tekanan diastole darah
dengan pharmakologi atau
saat beraktivitas
nonpharmakologi dengan
tepat
3. Tentukan apa dan
bagaimana banyaknya
aktivitas yang diperlukan
untuk membangun daya
tahan
4. Konsultasi dengan ahli gizi

16
tetang bagaimana untuk
meningkatkan intek dengan
makanan tinggi energy
5. Bantu pasien untuk
menetukan pilihan aktivitas
6. Hindari aktivitas perawatan
selama jadwal priode tidur
7. Gunakan ROM aktif dan
pasif untuk mengurangi
tekanan otot
3. Konstipasi b.d Eliminasi feses Manajeme usus
penurunan fungsi 1. Control buang air besar 1. Catat pergerakan terakhir
2. Konsistensi feses 2. Memantau gerakan usus
gastrointestinal
3. Kemudahan mengandan
termasuk frekuensi,
akibat penurunan
feses
konaiatensi, bentuk, volume
metabolisme 4. Otot untuk mengevakusi
dan warna yang sesuai
tubuh. feses
3. Evaluasi untuk inkontinensia
5. Mengandan feses tanpa
feses
alat bantu
4. Memulai pelatihan program
usus yang sesuai
5. Berikan cairan hangat
setelah makan.
4. Nyeri b.d Control nyeri Pemberian analgesic
peningkatan 1. Menilai lamanya nyeri 1. Tentukan lokasi
2. Menilai factor penyebab
produksi asam karakteristik dann drajat
3. Penggunaan nonanalgesik
laktat nyeri sebelum pemberian
untuk mengurangi nyeri
4. Penggunaan analgesic yang obat
2. Cek instruksi dokter tentang
disarankan
5. Melaporkan tanda atau jenis obat, dosis, dan
gejala nyeri pada teenage frekuensi
3. Pilih analgesic yang
kesehatan
6. Menilai gejala nyeri diperlukan
4. Pilih rute pemberian IV, IM
untuk pengobatan nyeri
secara teratur
5. Melaksanakan tindakan dari
efek yang tidak diinginkan
dari analgesic
6. Berkolaborasi dengan
dokter jika obat, dosis, cara
pemberian, atau interval

17
[erubahan ayng ditunjukkan
7. Ajarkan tentang
penggunaan analgesic,
strategi untuk mengurangi
efek samping dan harapan
untuk terlibat dalam
keputusan tentang nyeri
5. Hipotermi b.d Termoregulasi Terapi hipotermia
penurunan laju 1. Penurunan suhu tubuh 1. Monitor suhu pasien
2. Perubahan warna kulit
metabolisme menggunakan alat dan rute
3. Menggil sat kedinginan
4. Merinding saat kedinginan yang tepat
5. Laporan suhu yang nyaman 2. Pindahkan pasien dari
lingkungan dingin
3. Kurangi stimulasi dari
pasien
4. Berkan pemanas pasif
(selimut, penutup kepala
dan baju hangat)
5. Pemberian obat sesuai
aturan
6. Monitor tanda shok
7. Monitor warna kulit dan
suhu
8. Kenali obat, lingkungan dan
factor lain yang mungkin
meningkatkan hipotermi

18
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Sistem endokrin adalah sistem kontrol kelenjar tanpa saluran (ductless)
yang menghasilkan hormon yang tersirkulasi di tubuh melalui
aliran darah untuk mempengaruhi organ-organ lain (Alvyanto, 2010).

3.2 SARAN

Penulis menyarankan bagi keluarga sebaiknya memahami bagaimana


tatalaksana terapeutik untuk pasien hipotiroid.

19
DAFTAR PUSTAKA

Corwin, Elizabeth J. 2009. Patofisiologi : Buku Saku. Jakarta : EGC

Syaifuddin. 2006. Anatomi Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta: EGC

Herdman, T. heather, (2012), Diagnose Keperawatan Definisi Dan Klasifikasi


2012-2014, EGC, Jakarta

Gloria, M. bulecheck dkk, (2013), Nursing Intervension Classification (NIC), ed 6,


Mosby, California

Sue, Moorhead, (2013), Nursing Outcome Classification (NOC), ed 4, Mosby,


California

20