Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN DISKUSI KASUS II

BLOK BIOETHICS AND HEALTH LAW V

Tutor: dr. Fibi Niken D S

Kelompok 3
Irma Nuraeni Hidayat G1A011005
Raditya BagasWicaksono G1A011006
Mona Septina Rahayu G1A011030
Viny Agustiani Lestari G1A011031
Tri Susanti Wahyuputri G1A011054
Auladi Mizani G1A011055
Dhea Danni Agisty G1A011078
Setya Aj Priyatna G1A011079
Pratiwi Ariefianti Nurhikmah G1A011096
Stella Gracia Octarica G1A011097

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KEDOKTERAN
PURWOKERTO
2014
DISKUSI KASUS II
The Patient with HIV

Tn. P, 60 tahun, didampingi oleh istrinya,datang ke IGD dengan keluhan nyeri


perut. Pasien merasa terganggu dengan sakitnya karena dalam beberapa bulan terakhir dia
terus menerus menderita sakit yang berbeda-beda. Ia juga mengeluhkan sariawan di mulut
yang tidak kunjung sembuh serta luka seperti sariawan pada alat kelaminnya. Pasien adalah
seorang pensiunan ABRI yang sempat bertugas tanpa didampingi oleh istrinya di beberapa
daerah. Setelah melakukan pemeriksaan, dokter IGD menyarankan agar pasien dirawatdi
rumah sakit agar dapat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan diagnosis
penyakit. Dokter curiga akan kemungkinan infeksi HIV dan merasa perlu untuk melakukan
tes HIV, tetapi merasa ragu dan enggan untuk menyampaikannya kepada pasien maupun
istrinya. Dokter kemudian meminta perawat agar berkomunikasi dengan pasien untuk
menjajaki kesediaan pasien melakukan tes HIV.Perawat kemudian minta bantuan psikolog
untuk melakukan assesment (penilaian) awal. Psikolog memberikan rekomendasi bahwa
pasien dalam kondisi psikologis yang cukup baik untuk menerima kabar buruk tentang
kecurigaan dokter. Berdasarkan rekomendasi dari psikolog serta perawat, dokter akhirnya
memberitahukan kemungkinan penyakit kepada pasien, tanpa sepengetahuan istrinya, serta
meminta kesediaan pasien untuk tes HIV. Akan tetapi, pasien menolak untuk dilakukan tes
HIV dan meminta untuk pulang.
NOTULENSI DISKUSI

1. Diskusikan kasus menggunakan metode Seven Step!


a. Clarification of terms and context related to case (clarification)
1. VCT : voluntary counseling and testing

b. What is (are) the ethical problem(s) in this case? (brainstorming)


1. Dokter ragu dan enggan menyampaikan kemungkinan infeksi HIV dan
keperluan melakukan tes HIV kepada pasien maupun istrinya, sehingga
melimpahkan tugas kepada perawat
2. Perawat minta bantuan psikolog untuk meminta pasien melakukan tes HIV
3. Kecurigaan dokter tentang kemungkinan penyakit pada pasien dirahasiakan
kepada istrinya
4. Pasien menolak untuk dilakukan tes HIV dan meminta untuk pulang

c. Why are they considered as ethical problems? What values/norms/principles are at


stake? (moral reasoning)
1. Melanggar privacy dan confidenciality: dokter memberikan informasi tentang
kemungkinan penyakit pasien pada perawat dan psikolog.
Dokter ragu dan enggan menyampaikan kemungkinan infeksi HIV dan
keperluan melakukan tes HIV kepada pasien maupun istrinya, sehingga
melimpahkan tugas kepada perawat.
Keraguan ini beralasan karena dokter belum mengetahui bagaimana kondisi
dan kesiapan psikis/mental pasien sehingga ragu apabila pasien belum siap,
akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Maka, dokter menjunjung prinsip
non maleficence. Namun apabila dokter ragu dan enggan, sebaiknya dokter
dapat berkoordinasi langsung kepada psikolog untuk meminta bantuan
melakukan penilaian awal, karena dapat terjadi kejadian dimana perawat yang
langsung menyampaikan mengenai informasi tersebut. Apabila har tersebut
terjadi, maka dapat mencederai prinsip justice mengenai hak untuk mendapatkan
informed consent dari dokter yang berwenang memeriksa pasienSudah tepat
karena perawat menjunjung princip non maleficence dan beneficence bagi
pasien walaupun privasy dan confidenciality pasien terungkap.
Jika masih kecurigaan belum merupakan diagnosis pasti perlu memperhatikan
privasy dan confidenciality, tapi untuk konsultasi dengan tim medis lain masih
diperbolehkan dalam batas wajar dan tidak boleh disebarluaskan lagi.
2. Dokter tidak memberitahukan kepada istrinya karena memperhatikan prinsip
non maleficience bagi istrinya, harusnya dokter menanyakan pada pasien
informasi ini ingin diberitahukan kepada dirinya sendiri atau juga kepada
keluarganya (istrinya).
Hal ini merupakan langkah yang tepat mengingat informasi medis mengenai
tubuh pasien merupakan hak setiap pasien (autonomy), dan pasien memiliki
kendali untuk memutuskan apakah kemudian informasi tersebut akan
diberitahukan kepada keluarganya atau tidak. Namun, sebaiknya dokter
menanyakan keinginan pasien terlebih dahulu pada saat delivering bad news,
apakah akan disampaikan kepada pasien saja atau juga kepada keluarga pasien,
tidak langsung memutuskan secara sepihak.
Jika masih merupakan kecurigaan dokter: tetap memperhatikan non
maleficence bagi istrinya dan melakukan skrining pada istrinya, tetap
menanyakan informasi ini ingin di beritahukan kepada dirinya sendiri atau juga
kepada keluarganya (istrinya), jika pasien masih menolak berikan penjelasan
bahwa hal tersebut penting untuk diketahui oleh istrinya.
3. Pasien menolak melakukan tes HIV melanggar beneficence dan non maleficence
bagi dirinya dan keluarga, namun hal tersebut merupakan autonmy pasien untuk
menolak melakukan tes. Selain itu dokter dan tenaga medis memiliki tanggung
jawab moral untuk melakukan standar profesi tertinggi dalam setiap kasus, yaitu
dalam hal ini adalah melakukan tes HIV sebagai prinsip memberikan yang
terbaik dan mencegah kemungkinan terburuk untuk terjadi (beneficence-
nonmaleficence).
d. How do you see the problems from different perspectives (from different persons
and different aspects)?(seeing from different perspective, reflection, empathy)
1. Dokter
Dokter mengalami kebimbangan untuk menyampaikan informasi tersebut
kepada istri pasien karena memperhatikan prinsip autonomy pasien tetapi justru
melanggar prinsip non-maleficence karena jika pasien positif terdiagnosis HIV
maka akan membahayakan kesehatan pasien. Dokter juga mengalami
kebimbangan untuk menentukan tindakan selanjutnya saat pasien menolak
untuk tes HIV, antara memperbolehkan pulang atau melarang pulang dan
memaksa untuk tes diagnosis.
2. Pasien
Pasien bimbang untuk melakukan tes diagnosis tersebut atau tidak. Hal ini
dikarenakan pasien takut untuk menerima kenyataan bahwa dirinya mengalami
penyakit HIV yang tidak dapat disembuhkan serta takut akan konsekuensi sosial
yang akan ia terima jika ia menderita penyakit tersebut. Tapi disisi lain, ia ingin
mendapatkan pengobatan dan tidak ingin istri dan keluarganya tertular
penyakitnya sehingga harus melakukan tes diagnosis HIV tersebut.
3. Istri Pasien
Sebagai keluarga pasien, penting bagi keluarga untuk mengetahui tentang
kemungkinan pasien menderita HIV/AIDS. Untuk itu, keluarga berharap pasien
dapat memberitahu kepada keluarga, atau paling tidak, pasien setuju agar dokter
juga memberitahukan kepada keluarga. Keluarga merupakan orang-orang
terdekat bagi pasien yang akan senantiasa melayani dan membantu apabila
pasien membutuhkan apapun dalam masa perawatannya nanti. Selain itu,
keluarga dapat membantu pasien untuk meyakinkannya agar pasien bersedia
datang ke klinik VCT untuk menjalani tes HIV/AIDS dan mendapatkan
pengobatan lebih lanjut. Dengan meminta ijin terhadap pasien untuk
menyampaikan informasi ke keluarga, dokter tetap memenuhi hak pasien atas
privacy dan confidentiality, sekaligus memberikan standar medis terbaik
(beneficence) dan mencegah komplikasi lebih lanjut (nonmaleficence).
e. Are there any legal aspects to consider in this case?
Keputusan Mentri Kesehatan Indonesia No.1507 Tahun 2005 Tentang Pedoman
Testing dan Konseling HIV secara sukarela : lebih menekankan pada testing HIV
yang dilakukan secara sukarela tanpa paksaan, keputusan terletak ditangan klien,
saling menjaga dan saling percaya untuk menjaga confidenciality, testing
merupakan bagian dari VCT.
UNAIDS: kebijakan pada masing-masing Negara untuk melakuan VCT
UU No 23 tahun 1992 tentang Kesehatan: hilangnya hak pribadi untuk menjaga
kerahasiaan dalam keadaan:
a. Perintah UU
b. Peradilan
c. Izin yang bersangkutan
d. Kepentingan masyarakat
e. Kepentingan orang tersebut

f. What are the alternatives in problem solving for these problems?


1. Dianjurkan untuk meminta informed consent, diobati sesuai gejala, melakukan
tes pada pasien tanpa sepengetahuan keluarga, dan disarankan untuk
memberitahukan sendiri oleh dirinya sendiri kepada keluarga saat sudah siap.
2. Jika masih curiga pastikan dulu diagnosis dengan tes, lakukan pendekatan pada
pasien sampaikan keuntungan dan kekurangan tes pada pasien, kemudian
lakukan pendekatan pada keluarga, dan lakukan tatalaksana
3. Lakukan VCT dengan memberikan tatalaksana sesuai gejala: lakukan konseling
(penjelasan HIV, manfaat testing) tujuannya untuk meyakinkan pasien
melakukan tes. Setelah itu meminta informed consent, dan diberi tatalaksana
lanjutan.

g. What is (are) the lesson learned from this case?


1. Dokter lebih mengutamakan beneficence bagi pasien.
2. Kerjasama antar bagian dalam RS diperlukan untuk penanganan pasien yg
komprehensif. Misal dalam kasus ini diperlukan kerjasama dokter dengan
bagian VCT.
3. Autonomi pasien bisa dikesampingan terlebih dulu untuk mengutamakan hal
lain yang lebih penting.
4. Kemampuan komunikasi dokter harus baik dalam menyampaikan infomasi
kepada pasien.
5. Dokter harus bisa mengubah paradigma HIV di masyarakat, dokter harus bisa
meyakinkan kepada pasien dan keluarganya bahwa HIV bukan penyakit yang
dikucilkan.
6. RS harus membuat SOP: jika menemukan kecurigaan pasien HIV segera kirim
ke bagian VCT .

2. Menurut Anda, bagaimanakah sebaiknya prosedur pemeriksaan HIV di


Indonesia?
(terlampir)

3. Apa yang Anda ketahui tentang VCT? Dalam kasus ini, apakah dokter perlu
minta bantuan tim VCT?
Keputusan Mentri Kesehatan Indonesia No.1507 Tahun 2005 Tentang Pedoman Testing
dan Konseling HIV secara sukarela : VCT merupakan kegiatan konseling, pemberian
informasi, edukasi, dukungan psikologis bagi pasien HIV
UNAIDS:
a. Tujuan untuk konseling yaitu mencegah trasmisi HIV serta memberi dukungan
emosinal bagi pasien dengan kecurigaan HIV untuk melakukan tes HIV
b. Tes diagnosis HIV: sekarang menggunakan tes ELISA
Kesimpulan:
Dokter perlu meminta bantuan VCT untuk meyakinkan pasien agar melakukan testing
serta untuk mngurangi kemungkinan keluarga untuk tertular

DAFTAR PUSTAKA

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2013. Kemenkes RI No


1507/MENKES/SK/X/2013 tentang Pedoman Pelayanan Konseling dan Testing
HIV/AIDS secara Sukarela.

Undang-Undang No 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan.


UNAIDS Policy

Pasien beresiko Pasien datang


sendiri

Konseling/edukasi KT
tentang HIV S

TIP
K
Konseling
Info pra test Tidak setuju pra-tes

setuju
Setuju

Ambil darah

Tes darah Hasil Konseling


paska tes

Hasil Negatif Hasil Positif


Pesan pencegahan Berikan dukungan
Pesan untukPedoman
tes ulangNasional
untuk Tes dan Konseling
Info HIV/AIDS
tentang pentingnya perawatan
populasi kunci Tentukan stadium klinis
Anjuran tes pasangan Skrining TB
Rujuk pemeriksaan CD4
Siapkan pengobatan ARV
Pesan pencegahan positif
Anjuran tes pasangan
Beri waktu pasien bernomor register
nasional
Isi lembar ikhtiar perawatan
Sumber : Kemenkes RI No 1507/MENKES/SK/X/2005 tentang Pedoman Pelayanan
Konseling dan Testing HIV/AIDS secara Sukarela