Anda di halaman 1dari 52

ENTOMOLOGI KESEHATAN

TUNGAU DAN KUTU

OLEH:

KELOMPOK 2

RAHMAYUNINGSIH J1A1 14 045

SITTI MEYDINA CAHYANI J1A1 14 055

SULTAN J1A1 14 092

CHIN HOY J1A1 14 115

RIKA MARIYANA J1A1 14 123

ASKIKAH J1A1 14 146

MALIKUL NUR RAZAK J1A1 14 149

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2017
2

KATA PENGANTAR
Puji syukur tak henti-hentinya kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas
berkah, rahmat dan inayahnya sehingga kita masih sempat diberikan kesempatan
untuk menikmati kehidupan yang indah ini. Terlebih lagi nikmat kesehatan yang
Dia berikan sehingga tak menghambat setiap kegiatan yang kami lakukan. Dan
Alhamdulillah kami telah menyelesaikan penyusunan sebuah makalah yang
berjudul Tungau dan Kutu.
Makalah ini telah kami susun dengan menggunakan kata-kata baku yang
mudah dipahami oleh pembaca, sehingga dapat memberikan kesan positif bagi
kami terlebih lagi dapat menambah wawasan pembaca. Makalah ini kami susun
dengan memadukan antara materi dari internet dan pengetahuan-pengetahuan
yang telah kami dapatkan sebelumnya. Oleh karena itu hendaknya ini dapat
menjadi sebuah langkah awal untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.
Akhir kata kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang
telah ikut membantu dan mendukung dalam penyusunan makalah ini, meskipun
makalah ini telah kami susun dengan usaha sebaik-baiknya, namun kesalahan
mungkin tak akan luput apalagi kami sebagai manusia biasa. Oleh karena itu kami
pun memberikan kesempatan kepada pembaca untuk memberikan masukan dan
saran guna memberikan suatu pelajaran agar dapat meminimalkan kesalahan
dalam pembuatan karya tulis berikutnya.

Kendari, 24 Mei 2017

Penyusun
3

DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL.............................................................................................i
KATA PENGANTAR..............................................................................................ii
DAFTAR ISI...........................................................................................................iii
DAFTAR GAMBAR..............................................................................................iv
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
A. Latar Belakang..............................................................................................1
B. Rumusan Masalah.........................................................................................2
C. Tujuan...........................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................3
A. Tungau..........................................................................................................3
1. Pengertian..................................................................................................3
2. Morfologi Tungau.....................................................................................4
3. Bionomi Tungau........................................................................................5
4. Siklus Hidup Tungau...............................................................................12
5. Peran Tungau dalam Bidang Kesehatan..................................................13
6. Pengendalian...........................................................................................15
B. Kutu.............................................................................................................19
1. Pengertian................................................................................................19
2. Morfologi................................................................................................20
3. Bionomik Kutu........................................................................................22
4. Siklus Hidup Kutu...................................................................................30
5. Peran Kutu dalam Bidang Kesehatan......................................................30
6. Pengendalian...........................................................................................32
BAB III PENUTUP...............................................................................................35
A. Kesimpulan.................................................................................................35
B. Saran...........................................................................................................36
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................37
4
5

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2. 1. Tungau................................................................................................3
Gambar 2. 2. Morfologi Tungau..............................................................................4
Gambar 2. 3. Demodex brevis.................................................................................6
Gambar 2. 4. Dermatophagoides pteronyssinus......................................................7
Gambar 2. 5. Sarcoptes scabiei................................................................................8
Gambar 2. 6. Pyemotes herfsi................................................................................10
Gambar 2. 7. Acarus siro.......................................................................................11
Gambar 2. 8. Tydeus molestus................................................................................12
6

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Serangga dan tungau / akarina kalau diperhatikan ternyata paling banyak


berasosiasi dengan kehidupan manusia, dan berbagai usaha telah dilakukan
untuk menunjang kelangsungan hidupnya. Hal ini disebabkan oleh adanya
keragaman genetik yang dimiliki oleh serangga dan tungau, sehingga dapat
beradaptasi pada berbagai habitat alamiah maupun habitat buatan yang
dikembangkan oleh manusia. Sejak jaman dahulu manusia telah bersaing
dengan Arthropoda dalam mendapatkan makanan, ternyata manusia tidak
selalu menang.

Tungau yang dalam bahasa Inggris disebut mites atau ticks, merupakan
salah satu hama yang mempunyai arti ekonomi yang cukup penting. Tungau /
akarina sangat melimpah dan terjadi pada beberapa habitat yang dapat hidup
pada berbagai jenis tanaman, bahan yang disimpan, dalam tanah, bahkan pada
tubuh manusia atau hewan.

Sebagian hama menyerang manusia dan hewan ternak baik secara


langsung dengan menghisap darahnya, maupun tidak langsung sebagai
penular berbagai jenis penyakit atau sebagai pengganggu dengan caranya
nimbrung/ menempel pada inangnya sehingga menimbulkan gangguan fisik
maupun psikis pada inangnya. Beberapa jenis hama diantaranya yaitu lalat,
nyamuk, kutu, pinjal, caplak, tungau dan lain-lain .
7

Kutu adalah serangga yang sangat mengganggu manusia karena


menghisap darah. Kutu juga bisa menjadi vector penyakir. Di Indonesia,
sampai akhir tahun 1970an, permasalahan kutu banyak ditemukan di rumah,
gedung pertunjukan, hotel atau tempat lainnya dimana manusia tidur atau
duduk. Tetapi karena keberhasilan pengendalian dengan insektisida berbasis
organoklorin (al. DDT), kutu busuk hampir dapat dikendalikan secara penuh,
dan hampir tidak ada informasi tentang serangan kutu busuk dalam kurun
waktu 1980-2000. Tetapi akhir-akhir ini, terutama dalam 3-5 tahun terakhir,
kutu busuk mulai menjadi masalah, banyak ditemukan di hotel berbintang,
losmen asrama, dan sedikit di rumah tinggal. Sebenarnya permasalahan yang
(mulai) terjadi di Indonesia tidak separah permasalahan yang sudah terjadi di
banyak negara di Eropa, Amerika Serikat, Canada, dan Australia; bahkan
Malaysia dan Singapura mulai melaporkan adanya permasalahan dengan kutu
busuk. Di AS, misalnya pada tahun 2007 dilaporkan telah terjadi peledakan
populasi (out breaks) kutu busuk di 50 negara bagian.

Diberbagai belahan dunia, laporan kasus scabies yang disebabkan oleh


serangga tungau ini sering ditemukan pada keadaan lingkungan yang padat
penduduk, status ekonomi yang rendah, tingkat pendidikan yang rendah dan
kualitas higienis pribadi yang kurang baik atau cenderung jelek. Sehingga
sangat berbahaya bagi kehidupan bermasyarakat.

Oleh sebab itu, makalah ini kami buat untuk lebih mendalami avertebrata
khususnya serangga. Serangga dalam hal ini yaitu tungau dan kutu.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan kutu dan tungau?
8

2. Bagaimana morfologi vector kutu dan tungau?

3. Bagaimana bionomic vector kutu dan tungau?

4. Apa saja peran tungau dan kutu dalam bidang kesehatan?

5. Bagaimana pengendalian vector kutu dan tungau?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian kutu dan tungau.

2. Untuk mengetahui morfologi vector kutu dan tungau.

3. Untuk mengetahui bionomic vector kutu dan tungau.

4. Untuk mengetahui peran tungau dan kutu dalam bidang kesehatan.

5. Untuk mengetahui pengendalian vector kutu dan tungau.

BAB II
PEMBAHASAN
9

A. Tungau
1. Pengertian

Tungau (Mites) adalah arachnida yang memiliki suatu gnathosoma


(suatu kapitulum anterior mulut) yang mudah dibedakan dari arachnida
lain, karena tidak adanya pembagian yang jelas antara cephalothorax
(prosoma) dan perut (opisthosoma).Tungau merupakan hewan bertubuh
kecil sampai mikroskopis dan umumnya berukuran 1 mm atau kurang.

Tungau merupakan spesies yang melimpah diperkirakan terdiri atas


20.000 spesies dengan memiliki habitat antara lain tanah, humus, air
tawar, air laut, dan tumbuhan, serta bersifat parasit pada hewan dan
tanaman. Beberapa dari mereka memakan tumbuhan dan hewan yang
masih hidup maupun yang sudah mati, sedangkan yang lain menghisap
cairan tumbuhan. Selain itu beberapa dari mereka memiliki kebiasaan
berada di kulit, darah atau jaringan dari vertebrata darat.

Tungau merupakan sekelompok hewan kecil bertungkai delapan yang,


bersama-sama dengan caplak, menjadi anggota superordo Acarina. Tungau
bukanlah kutu dalam pengertian ilmu hewan walaupun sama-sama
berukuran kecil (sehingga beberapa orang menganggap keduanya sama).
Apabila kutu sejati merupakan anggota Insecta (serangga), tungau lebih
berdekatan dengan laba-laba dilihat dari kekerabatannya.
10

Gambar 2. 1. Tungau

2. Morfologi Tungau

Tungau merupakan binatang yang berukuran sangat kecil, yakni 250-


300 mikron berbentuk oval, punggungnya cembung dan bagian perutnya
rata. Tungau memiliki ciri umum memiliki tubuh tersegmentasi dengan
segmen disusun dalam dua tagmata: sebuah prosoma (cephalothorax) dan
opisthosoma (perut). Namun, hanya jejak-jejak samar segmentasi utama
tetap di tungau, sedangkan prosoma dan opisthosoma menyatu.

Tungau dewasa memiliki empat pasang kaki, seperti arachnida lain,


tetapi beberapa memiliki kaki lebih sedikit. Beberapa tungau parasit hanya
memiliki satu atau tiga pasang kaki dalam tahap dewasa. Tungau dewasa
dengan hanya tiga pasang kaki dapat disebut 'larviform'.

Tungau bernapas melalui tracheae, stigmata (lubang kecil pada kulit),


usus dan kulit. Kebanyakan tungau tidak memiliki mata. Mata pusat
arachnida selalu hilang, atau mereka menyatu menjadi satu mata.Panjang
tungau dewasa hanya 0,3-0,4 milimeter. Tungau memiliki tubuh
semitransparan memanjang yang terdiri dari dua segmen menyatu. Tungau
memiliki delapan kakipendek, kaki yang tersegmentasi melekat pada
segmen tubuh pertama. Tubuh ditutupi dengan sisik untuk penahan dirinya
dalam folikel rambut, dan tungau memiliki pin (seperti mulut) yaitu bagian
untuk makan sel-sel kulit dan minyak (sebum) yang menumpuk di folikel
rambut. Tungau dapat meninggalkan folikel rambut dan perlahan-lahan
berjalan-jalan pada kulit, dengan kecepatan 8-16 mm per jam, terutama
pada malam hari, ketika mereka mencoba untuk menghindari cahaya.
11

Gambar 2. 2. Morfologi Tungau

3. Bionomi Tungau

Tungau termasuk dalam filum Arthropoda, sub filum Chelicerata, kelas


Arachnida, dan ordo Acarina. Acarina berasal dari bahasa Yunani, yaitu
akari yang berarti tungau. Kebanyakan tungau yang menyerang tanaman
umumnya berukuran sangat kecil, panjangnya 0,2 0,8 mm sehingga sulit
dilihat dengan mata. Tubuhnya tidak mempunyai segmen sehingga
menyerupai kantong, dan hanya pada bagian mulut yang menonjol mejadi
satu dengan badannya. Adapun klasifikasi tungau/mites yaitu:

Kingdom : Animalia

Phylum : Arthropoda

Kelas : Arachanida

Ordo : Acarinida

Famili : Demodicidae, Psorergatidae, Tydeidae, dll


12

Genus : Demodex, Psorergates, Tydeus, dll

Spesies : Demodexbrevis, Psorergatesovis, Tydeusmolestus, dll


a. Demodexbrevis

Demodex brevis merupakan salah satu bagian dari Famili


Demodicidae. Demodex brevis merupakan tungau wajah yang
menimpa manusia, biasanya ditemukan dalam kelenjar sebaceous dari
tubuh manusia. Dalam kondisi normal mereka tidak berbahaya, dan
diklasifikasikan sebagai commensals (tidak ada kerugian atau
keuntungan ke host) dibandingkan dikatakan sebagai parasit (di mana
tuan rumah yang dirugikan), meskipun dalam kondisi wabah
(demodicosis) mereka bisa berbahaya.

Gambar 2. 3. Demodex brevis

Brevis demodex biasanya ditemukan pada manusia. D. brevis


tinggal di kelenjar sebaceous terhubung ke folikel rambut.
13

Dapatditemukan di wajah, dekat hidung, bulu mata dan alis, dan juga
terdapat di tempat lain pada tubuh.

Tungau demodex jantan dan betina memiliki pembukaan genital,


dan pembuahan internal. Perkawinan berlangsung di pembukaan
folikel, dan telur diletakkan di dalam folikel rambut atau kelenjar
sebaceous. Larva tungau menetas setelah tiga sampai empat hari, dan
larva berkembang menjadi dewasa dalam waktu sekitar tujuh hari.
Umur total tungau demodex adalah beberapa minggu. Tungau mati
membusuk di dalam folikel rambut atau kelenjar sebaceous. Penelitian
terbaru telah menunjukkan bahwa penyakit kulit yang umum rosacea
dapat disebabkan oleh tungau membusuk.Infestasi pada manusia
disebut demodicosis atau demodex (radang kelopak mata).
b. Dermatophagoides pteronyssinus

Dermatophagoides pteronyssinus (tungau debu rumah /TDR)


adalah tungau debu rumahyang berukuran 0,2 1,2 mm, badannya
berbulu dan berkaki 4 pasang(dewasa).

TDR termasuk ordo acari, mengalami metamorfosis tidak


sempurna dan ditemukan pada debu rumah terutama di tempat tidur
(sprei, kasur, bantal), karpet, lantai dan juga ditemukan di luar rumah,
misalnya pada sarang burung, permukaan kulit mamalia dan binatang
lainnya. Makanannya adalah serpihan kulit (skuama) manusia /
binatang.

Tungau merupakan komponen alergenik utama dari debu rumah.


Bagian TDR yang mengandung alergen adalah kutikula, organ seks
dan saluran cerna. Selain bagian badan, feses TDR juga mempunyai
14

sifat antigenik. Antigen yang berasal dari tubuh TDR masuk ke dalam
tubuh manusia melalui penetrasi kulit, sedangkan yang berasal dari
feses masuk ke dalam tubuh manusia melalui inhalasi. Tungau ini
diketahui sebagai pemicu serangan asma dan gejala-gejala alergi di
seluruh dunia. Penyebabnya adalah enzim-enzim (terutama protease)
yang keluar dari perut bersama-sama kotorannya. Tungau debu
merupakan alergen hirup sebagai faktor pencetus timbulnya penyakit
alergi seperti dermatitis atopik, asma bronkial dan rinitis.

Gambar 2. 4. Dermatophagoides pteronyssinus

c. Sarcoptes scabei

Sarcoptes scabiei adalah tungau yang termasuk famili Sarcoptidae,


ordo Acari kelas Arachnida. Badannya transparan, berbentuk oval,
pungggungnya cembung, perutnya rata, dan tidak bermata.
Ukurannya,yang betina antara 300-450 mikron x 250-350 mikron,
sedangkan yang jantan lebih kecil, antara 200-240 mikron x 150-200
mikron. Bentuk dewasa tungau ini memiliki 4 pasang kaki, 2 pasang
merupakan pasangan kaki depan dan 2 pasang lainnya kaki belakang.
Pasangan kaki yang pertama berakhir sebagai tabung panjang masing-
masing dengan sebuah alat penghisap berbentuk bel dan dengan kuku.
Kaki belakang berakhir menjadi bulu keras yang panjang kecuali
15

pasangan kaki ke-4 pada jantan yang mempunyai alat penghisap. Pada
permukaan sebelah dorsal terdapat garis-garis yang berjalan
transversal yang mempunyai duri, sisik, dan bulu keras. Bagian
mulutnya terdiri atas selisera yang bergigi, pdipalpi berbentuk kerucut
yang bersegmen tiga dan palp bibir yang menjadi satu dengan
hipostoma.

Tungau membuat terowongan pada bagian permukaan kulit tubuh


pada lekukan lutut dan siku berada diantara sela sela jari dan
pergelangan tangan serta pada daerah sekitar puting payudara wanita
dan penis serta kantung zakar pada laki laki dan di pantat bagian
bawah.

Tungau penyebab penyakit scabies ini distribusinya hampir di


seluruh penjuru dunia namun kebanyakan di beberapa negara
berkembang dimana prevalensi skabies sekitar 6% - 27% populasi
umum dan cenderung tinggi pada anak serta orang dewasa. Di
Indonesia banyak menyebar di kampung kampung yang padat
penduduknya, di rumah penjara, asrama, dan panti asuhan yang kurang
terjaga kebersihannya. Terjadi juga pada satu keluarga atau tetangga
yang berdekatan. Infestasi dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi dan
keadaan demografis serta ekologisnya.

Gambar 2. 5. Sarcoptes scabiei


16

Siklus hidup Sarcoptes scabiei dari telur hingga dewasa


berlangsung selama satu bulan. Sarcoptes scabei memiliki empat fase
kehidupan yaitu telur, larva nimfa dan dewasa. Berikut ini siklus hidup
Sarcoptes scabiei :

1) Betina bertelur pada interval 2-3 hari setelah menembus kulit.

2) Telur berbentuk oval dengan panjang 0,1-0,15 mm

3) Masa inkubasi selama 3-8 hari. Setelah telur menetas, terbentuk


larva yang kemudian bermigrasi ke stratum korneum untuk
membuat lubang molting pouches. Stadium larva memiliki 3
pasang kaki.

4) Stadium larva terjadi selama 2-3 hari. Setelah stadium larva


berakhir, terbentuklah nimfa yang memiliki 4 pasang kaki.

5) Bentuk ini berubah menjadi nimfa yang lebih besar sebelum


berubah menjadi dewasa. Larva dan nimfa banyak ditemukan di
molting pouches atau di folikel rambut dan bentuknya seperti
tungau dewasa tapi ukurannya lebih kecil. Perkawinanterjadi antara
tungau jantan dengan tungau betina dewasa.

6) Tungau betina memperluas molting pouches untuk menyimpan


telurnya. Tungau betina mempenetrasi kulit dan menghabiskan
waktu sekitar 2 bulan di lubang pada permukaan.
17

Tungau pada famili ini melakukan metamarfose tidak sempurna


sehingga larva, nimfa dan imago memiliki bentuk yang sama,
dibedakan pada jumlah kaki dan kelengkapan alat kelamin. Tubuhnya
dibagi atas kapitulum, thorax, dan abdomen yang pembagiannya tidak
begitu jelas serta batas batas segmen yang tidak jelas. Tungai scabies
betina membuat liang yang panjang dalam kulit dan mereka
meletakkan 40 50 telur dalam liang. Larva dan nimfa berkembang
dan membuat liang dalam kulit. Siklus hidup mencapai 1 3 minggu
tergantung dari kondisi lingkungan. Tungau ini dapat menimbulkan
penyakit skabies pada anak anak dan orang dewasa.

d. Pyemotes herfsi

Pyemotes herfsi, juga dikenal sebagai kutu daun oak empedu atau
tungau gatal, adalah tungau ectoparasitic diidentifikasi di pusat Eropa
pada tahun 1936 dan kemudian ditemukan di India, Australia, dan
Amerika Serikat. Tungau yang nyaris tak terlihat, berukuran sekitar 0,2
mm, potensi besar reproduksi mereka, ukuran kecil, dan kapasitas
tinggi untuk penyebaran oleh angin membuat mereka sulit untuk
mengontrol diri.

Siklus hidup tungau ini diawali dengan perkawinan tungau baru


dan tungau betina lalukemudian menyuntikkan air liur neurotoksin ke
dalamhost, yang melumpuhkan tuan rumah dan memungkinkan tungau
betina hamil dan memakan Hemolimf host. Bagian posterior
(opisthosoma) membesar sebagai tempat berkembangnya anak tungau,
dan dalam beberapa hari, hingga 250 tungau dewasa menetas dari
tungau betina.
18

Gambar 2. 6. Pyemotes herfsi

Bruce dan Wrensch (1990) menemukan bahwa keturunan dari


tungau gatal jerami rata-rata 254 anak yang 92% adalah perempuan.
Pria muncul sebelum perempuan, memposisikan diri di sekitar
pembukaan genital ibu, dan kawin dengan perempuan yang muncul.
Kemudian, betina dikawinkan untuk menemukan host baru. Tungau ini
sering tersebar oleh angin, dan ketika mereka mendarat di vertebrata
host, mereka mencoba untuk makan dengan menggigit. Sebuah siklus
hidup dapat diselesaikan dalam waktu tujuh hari, dan munculnya
keturunan dapat diperpanjang sampai 15 hari.

P. herfsi telah ditemukan di Cekoslovakia, Mesir, Australia, India


utara, dan Amerika Serikat.Tungau ini menimbulkan gigitan pada
manusia, menyebabkan merah, gatal, dan bercak menyakitkan (bekas).

e. Acarus siro

Acarus siro merupakan salah satu anggota dari Famili Acaridae.


Tubuh berwarna agak kemerah merahan / merah muda, tungkai
mempunyai kuku pada bagian ujung. Tungkai depan lebih besar
dibandingkan dengan tungkai belakang dan mempunyai duri yang
tebal pada bagian ventral.
19

Tungau betina dapat menghasilkan 500 800 telur selama


hidupnya. Telur menetas menjadi nimfa. Bentuk nimfa dapat
mengalami bentuk yang disebut hypopus (bentuk yang tidak bergerak)
dan sangat resisten terhadap kekeringan. Bentuk hypopus tahan
terhadap insektisida. Siklus hiduponya berlangsung 17 hari. Tungau ini
biasa hidup di gudang gudang penyimpanan tepung dan biji bijian.
Acarus siro dapat menyebabkan dermatitis dan alergi.

Gambar 2. 7. Acarus siro

f. Tydeus molestus

Tydeus molestus merupakan salah satu anggota dari Famili


Tydeidae. Tydeidae hidup di tanah, humus, sampah, lumut, jamur,
rumput, di pohon (di kulit, pada daun dan buah-buahan), jerami dan
jerami, dalam produk yang disimpan, dan sarang burung, mamalia, dan
lebah stingless (Meliponini). Tungau yang bersifat kosmopolit, dapat
bersifat sebagai predator, pemakan tumbuhan, tetapi dapat juga
mengganggu ketentraman manusia. Tydeus molestus, dapat menyerang
manusia dan hewan, dan menyebabkan iritasi pada permukaan kulit.
20

Gambar 2. 8. Tydeus molestus

4. Siklus Hidup Tungau

Daur hidup tungau ada 4 fase, yaitu : telur larvanimfa tungau


dewasa. Siklus hidup tungau mulai dari telur sampai dewasa memerlukan
waktu selama 8-12 hari. (Hamzah, 2007)

a. Fase telur : Pada tungau betina yang dewasa biasanya bertelur setiap
hari. Sehari rata-rata menghasilkan telur 5 butir.

b. Fase larva : Setelah 3-4 hari telur menetas menjadi larva. Larva tungau
hidup dan makan selama 4 hari kemudian beristirahat selama 24 jam.
Selama masa istirahat tersebut terjadi pergantian kulit (molting)
menuju tahap berikutnya.

c. Fase nimfa : Pada tahap ini bentuk tungau sudah seperti bentuk
dewasanya dengan 4 pasang kaki. Bentuk nimfa ini terdiri dari dua
fase yaitu protonimfa dan deutonimfa. Masing-masing fase nimfa
makan selama 3-5 hari, istirahat , kemudian molting menuju tahap
berikutnya.
21

d. Fase tungau dewasa : Tungau dewasa berukuran 0,4 mm, berwarna


putih-krem atau kecoklatan dan dapat dilihat oleh mata telanjang atau
kaca pembesar. Tungau dewasa dapat hidup dan mencapai umur 2
bulan. Pada tungau dewasa setelah kopulasi (perkawinan) yang terjadi
di atas kulit, yang jantan akan mati, kadang-kadang masih dapat hidup
beberapa hari dalam terowongan yang digali oleh betina. Tungau
betina yang telah dibuahi mempunyai kemampuan untuk membuat
terowongan pada kulit sampai diperbatasan stratum korneum dan
startum granulosum dengan kecepatan0,5-5 mm per hari. Di dalam
terowongan ini tungau betina akan bertelur sebanyak 2-3 butir setiap
hari. Seekor tungau betina akan bertelur sebanyak 40- 50 butir semasa
siklus hidupnya yang berlangsung kurang lebih 30 hari.

5. Peran Tungau dalam Bidang Kesehatan


a. Scabies
Scabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau (mite)
Sarcoptes scabei, yang termasuk dalam kelas Arachnida. Tungau ini
berukuran sangat kecil dan hanya bisa dilihat dengan mikroskop atau
bersifat mikroskopis.
Skabies dapat menyebabkan gatal-gatal hebat yang biasanya
semakin memburuk pada malam hari. Lubang tungau tampak sebagai
garis bergelombang dengan panjang sampai 2,5 cm, kadang pada
ujungnya terdapat beruntusan kecil. Lubang atau terowongan tungau
dan gatal-gatal paling sering ditemukan dan dirasakan di sela-sela jari
tangan, pada pergelangan tangan, siku, ketiak, disekitar putting
payudara wanita, alat kelamin pria (penis dan kantung zakar), di
sepanjang garis ikat pinggang dan bokong bagian bawah. Infeksi
jarang mengenai wajah, kecuali pada anak-anak yaitu lesinya muncul
sebagai lepuhan berisi air. Lama-lama terowongan ini sulit untuk
22

dilihat karena tertutup oleh peradangan yang terjadi akibat


penggarukan.

Penyakit Scabies sering disebut kutu badan. Penyakit ini juga


mudah menular dari manusia ke manusia, dari hewan ke manusia dan
sebaliknya. Scabies mudah menyebar baik secara langsung melalui
sentuhan langsung dengan penderitamaupun secara tak langsung
melalui baju, seprai, handuk, bantal, air, atau sisir yang pernah
digunakan penderita dan belum dibersihkan dan masih terdapat tungau
Sarcoptesnya. Skabies identik dengan penyakit anak pondok.
b. Asma bronkial

Penyakit Asma terdiri dari beberapa jenis asma namun kebanyakan


orang awam lebih mengenal asma pada jenis bronkial karena memang
jenis asma inilah yang paling banyak penderitanya. Asma bronkial
sendiri merupakan asma (sesak nafas) yang muncul akibat
penyempitan saluran pernafasan.Salah satu penyebabnya adalah
Dermatophagoides pteronyssinus (tungau debu rumah).

Penyakit asma bronkial ini merupakan salah satu penyakit kronik


(menahun) dengan pasien terbanyak di dunia. diperkirakan 300 juta
orang di dunia menderita asma jenis ini. Angka ini akan jauh lebih
besar jika kriteria diagnosanya diperlonggar. Bahkan tahun ini paling
tidak ada tambahan sekitar 100 juta pasien asma lagi. Di Indonesia,
diperkirakan sampai 10 persen penduduk (sekitar 12 juta orang )
mengidap dalam berbagai jenis penyakit asma
c. Demodicosis
Demodicosis disebabkan oleh Demodex brevis. Orang tua lebih
rentan untuk terkena tungau. Sekitar sepertiga dari anak-anak dan
23

remaja, setengah dari orang dewasa, dan dua-pertiga dari orang tua
diperkirakan membawa tungau.

Tingkat intensitas tungau untuk menyerang lebih rendah anak-anak


disebabkan karena anak-anak memproduksi sebum lebih sedikit.
Tungau ditransfer antara host melalui kontak rambut, alis dan kelenjar
sebaceous pada hidung.
d. Tifus Semak (schrub typhus)
Tifus semak adalah jenis penyakit yang ditularkan ke manusia dari
tikus ladang dan tikus besar (rat) melalui gigitan tungau yang hidup
pada hewan hewan tersebut. Tifus ini disebabkan oleh Rickettsia
tsutsugamushi yang hidup dalam Leptotrombidium akamushi (berasal
dari Famili Trombiculidae). Hanya bentuk larva yang dapat
menularkan penyakit. Larva tungau (chigger) melekatkan tubuh
mereka ke permukaan kulit dalam proses untuk mendapatkan
makanan. Tungau ini dapat menginfeksi inang atau menularkan
riketsia ke mamalia lain atau tubuh manusia.

Tifus ini sering disebut penyakit tsutsugamushi atau tifus tropis


karena hanya terbatas di daerah tropis Asia Tenggara, India, Australia
Utara dan pulau pulau di sekitarnya. Infeksi disebut tifus semak
karena penyakit ini biasanya terjadi sesudah orang mengunjungi
semak. Namun telah ditemukan juga bahwa penyakit ini dapat terjadi
juga di area area seperti pantai berpasir, hutan hujan di katulistiwa.
e. Rosacea

Penyebab dari rosacea adalah Demodex follicularum, yang


merupakan jenis tungau rumah. Tungau rumah adalah relatif
mikroskopis yang biasanya berada di kulit sehat dan feed pada sebum,
24

minyak disekresikan oleh kulit. Hal ini biasanya melihat pertama di


bawah bulu mata. Seseorang dengan tungau bawah mata mereka
menderita dari mata terbakar, mata lengket dan gatal. Tungau
mikroskopis juga tinggal pada wajah, pipi, dahi, pada saluran telinga
eksternal dan di mana saja pada anjing.

6. Pengendalian

Beberapa usaha pengendalian yang dapat dilakukan untuk menghidari


terjadinya peningkatan populasi tungau, diantaranya dengan cara mekanis,
teknik budidaya, biologis, dan penggunaan bahan kimia (pestisida).

a. Mekanis

Pengendalian tungau yang seringkali dilakukan dengan cara


mekanis yaitu, mengambil secara langsung telur, larva, nimfa, atau
imago kemudian dimusnahkan; dapat juga dengan menyemprotkan air
beberapa kali sehingga tungau tercuci.

b. Teknik Budidaya

Pengendalian dengan teknik budidaya dapat dilakukan dengan


menggunakan tanaman atau varietas yang resisten (tahan), rotasi
(pergiliran) tanaman, pemupukan, dan sanitasi lingkungan. Pemakaian
varietas resisten terhadap serangan tungau belum banyak dilakukan.
Hal ini disebabkan karena belum banyak para ahli yang menelitinya,
lebih-lebih di negara kita ini.
25

Di Mesir telah ditemukan varietas kapas yang tahan terhadap


serangan tungau Tetranychus telarius yaitu Rahtim-101. Varietas ini
memiliki bulu yang lebat dan bercabang sehingga menyulitkan stilet
(alat mulut) tungau tersebut untuk menusuknya. Varietas ubi kayu
Adira 4, Adira 1, Adira 2, Malang 2, dan Malang 6 adalah tahan
terhadap tungau merah ubi kayu (Sinuraya, 2005).

Pemupukan tanaman dapat dilakukan dengan tujuan untuk


mengusahakan agar pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik,
sehingga diperoleh hasil yang cukup tinggi; akan tetapi apabila jenis
dan dosisnya kurang tepat maka dapat memberikan dampak
sebaliknya. Sebagai contoh pada pemupukan N yang berlebihan pada
tanaman kacang tanah, ternyata dapat meningkatkan serangan tungau
Tetranychus telarius lebih tinggi.

Sanitasi merupakan tindakan yang cukup penting, khususnya


terhadap tanaman yang telah mendapat serangan tungau berat. Pada
tanaman yang terserang berat, apabila telah dipanen sebaiknya
dibersihkan dari sisa-sisa bagian tanaman yang menjadi tempat
persembunyian tungau.

Pengaturan pergiliran tanaman merupakan salah satu cara usaha


pengendalian yang baik terhadap serangan tungau. Pada rotasi tanaman
yang perlu diperhatikan adalah agar dalam penanaman berikutnya
tidak menanam tanaman yang sama atau tanaman yang sedang menjadi
inang bagi tungau saat itu. Selain itu diusahakan menanam tepat
waktu, misalnya menanam ubi kayu pada lahan kering hendaknya
diusahakan pada saat awal musim hujan.
26

c. Biologis (Hayati)

Usaha pengendalian biologis dapat dilakukan dengan


menggunakan musuh alami, namun demikian di lapang masih belum /
bahkan kurang mendapat perhatian pada pengendalian serangan
tungau. Penggunaan musuh alami ini akan dapat membantu pelestarian
lingkungan (alam sekitarnya), bahkan dapat menghindari terjadinya
resistensi (kekebalan) tungau terhadap bahan pengendali kimiawi
(pestisida).

Pada suatu percobaan di dalam green house (rumah kaca)


menggunakan tungau Tarsonemus pallidus sebagai hama tanaman
strawberry dengan menggunakan predator Typhlodromus bellinus,
ternyata menunjukkan adanya goncangan-goncangan populasi yang
teratur antara kedua populasi tersebut.

Apabila populasi hama tinggi maka predator akan aktif, akan tetapi
apabila populasi mangsa (hama) rendah maka hama tersebut relatif
lebih aman sebab terdapat pelindung yang cukup pada bulu-bulu, duri-
duri, maupun lekukan-lekukan tanaman inang; sedangkan predator
akan bertahan pada embun-embun madu dan substitusi makanan
lainnya, sambil menunggu meningkatnya populasi mangsa (Metcalf
dan Flint, 1979).

d. Bahan Kimia (Pestisida)

Pengendalian tungau dengan menggunakan pestisida (akarisida)


hendaknya dilakukan, bilamana usaha-usaha pengendalian yang
lainnya sudah tidak mungkin dapat dilakukan.
27

Tidak semua pemakaian bahan kimia dalam menekan populasi


hama akan berakibat lebih baik dalam menurunkan populasinya,
bahkan hama tersebut bisa menjadi resisten. Selain itu tanpa
memperhatikan keselamatan lingkungan akan dapat meningkatkan
populasi hama yang kurang mendapat perhatian, juga secara langsung
kemungkinan dapat mematikan serangga-serangga berguna sebagai
akibat penggunaan pestisida. Akibat secara tidak langsung
menyebabkan adanya bahaya kelaparan serangga berguna (musuh
alami), sebagai akibat sangat berkurangnya mangsa sebagai
makanannya.

Di dalam kebun-kebuin yang tidak terpelihara ternyata populasi


tungau hama Paratetranychus sp. tetap rendah, karena predator-
predator sepanjang musim panas terus menerus aktif, sedangkan dalam
kebun-kebun yang terpelihara baik ternyata jumlah predator sangat
berkurang, sebagai akibat penyemprotan dengan pestisida (Collyer
dalam Hadiwidjaja, 1955).

Beberapa akibat buruk penggunaan DDT (Dikhloro diphenyl


trikhlor etana) pada waktu yang lalu, ternyata dapat mematikan
beberapa musuh alami dalam menekan populasi tungau. Pada
percobaan di Bogor ternyata semua daun tanaman kapas gugur akibat
gangguan tungau sesudah penyemprotan dengan DDT yang berulang-
ulang. Percobaan lain menunjukkan bahwa serangan tungau lebih
hebat pada kapas dalam pertengahan musim hujan, sebagai akibat dari
percobaan DDT setiap minggu sehingga berakibat tanaman-tanaman
gugur daunnya.
28

Pada pohon apel di Selandia Baru ternyata serangan tungau


Paratetranychus pilosus dan Bryobia praetiosa lebih berat akibat
terbunuhnya predator. Demikian juga naiknya populasi tungau
Paratetranychus citri disebabkan terbunuhnya predator Stethorus
picvipes Csy., Conwentzia hageni Banks., dan Chrysopa californica
Coq.

Pada waktu lalu penggunaan sulfur yang digunakan secara


langsung di atasnya, juga ditempatkan dalam tanah pada pengendalian
tungau ternyata cukup efektif. Beberapa produk pestisida ternyata
efektif apabila pertama kali dipakai, akan tetapi gejala resistensi telah
berkembang pesat dan sering mengalami kesulitan untuk menemukan
akarisida atau kombinasi yang efektif.

Akarisida berasal dari nama latin, yaitu acari yang berarti tungau
dan coedos yang berarti membunuh. Akarisida dalam bahasa Inggris
disebut mitecide, adalah bahan yang mengandung senyawa kimia
beracun dan dapat mematikan tungau. Insektisida biasanya ada yang
berfungsi ganda yaitu sebagai pembunuh serangga dan tungau.
Akarisida yang pertama kali digunakan terhadap tungau fitofag adalah
Azobenzine yang digunakan dalam green house. Perkembangan
selanjutnya dihasilkan Sulphenone, Diphenysulphone, dan Tetradifon.
Sulphide dihasilkan pada tahun 1953 dengan nama Chlorbeside, dan
Fluorbenside dihasilkan pada tahun 1955; selanjutnya dihasilkan
Chlorfenson dan Fenson, juga efektif terhadap beberapa tungau.
29

B. Kutu
1. Pengertian
Kutu adalah ektoparasit yang kecil, tidak bersayap, dari unggas dan
mamalia. Serangga ini sering kali dibagi menjadi 2 ordo yang terpisah
yaitu Mallophaga (kutu penggigi) dan Anoplura (kutu penghisap). Subordo
Anoplura mengandng beberapa jenis sebagai parasit pada hewan-hewan
peliharaan dan dua jenis yang menyerang manusia. Serangga ini adalah
ektoparasit yang menggangu, dan beberapa vector penyakit penting.
Banyak kutu penggigit (sub family amblycera dan ishnocera) adalah hama
hewan-hewan peliharaan terutama unggas.

Mallophaga Anoplura
Kutu dapat menyebabkan iritasi yang menyakitkan, dan hewan-hewan
yang terinfestasi kesehatan dan berat badannya menurun. Kutu yang
berbeda jenis menyerang unggas dan mamalia, namun tidak ditemukan
kutu penggigit yang menyerang manusia.
Anoplura dan Mallophaga memiliki daur hidup sederhana. Keduanya
termasuk serangga yang siklus hidupnya mengalami metamorphosis tidak
sempurna, dimana dari fase telur lalu melalui fase nimfa. Nimfa terjadi
dari nimfa 1 yang berukran kecil dan putih, sampai nimfa 4 yang sudah
berdifferensiasi kelaminnya dan berwarna hitam.
30

2. Morfologi

Kutu dewasa memiliki bentuk pipih dan memanjang, berwarna putih


abu-abu, kepala ovoid bersudut, abdomen terdiri dari 9 ruas, Thorax dan
abdomen bersatu. Pada kepala tampak sepasang mata sederhana disebelah
lateral, sepasang antenna pendek yang terdiri atas 5 ruas dan proboscis,
alat penusuk yang dapat memanjang. Tiap ruas thorax yang telah bersatu
mempunyai sepasang kaki kuat yang terdiri dari 5 ruas dan berakhir
sebagai satu sapit menyerupai kait yang berhadapan dengan tinjolan tibia
untuk berpegangan erat pada rambut.
Kutu rambut jantan berukuran 2mm, alat kelamin berbentuk seperti
huruf V. Sedangkan kutu rambut betina berukuran 3mm, alat kelamin
berbentuk seperti huruf V terbalik. Pada ruas abdomen terakhir
mempunyai lubang kelamin di tengah bagian dorsal dan 2 tonjolan genital
di bagian lateral yang memegang rambut selama melekatkan telur. Jumlah
telur yang diletakkan selama hidupnya diperkirakan 140 butir.
Nimfa berbentuk seperti kutu rambut dewasa, hanya bentuknya lebih
kecil.Telur berwarna putih mempunyai oper culum 0,6-0,8 mm disebut
nits. Bentuknya lonjong dan memiliki perekat, sehingga dapat melekat
erat pada rambut. Telur akan menetas menjadi nimfa dalam waktu 5-10
hari (Anonim, 2011).
Deskripsi diatas adalah deskripsi gambar kutu rambut manusia
(Pediculus humanus capitis) yang merupakan ordo Anoplura. Pada kutu
31

penggigit yang berasal dari ordo Mallophaga memiliki perbedaan pada


ukuran kepala, dimana lebih melebar minimal sama lebarnya dengan
torax dan terjadi pembesaran pada mandibula.Namun fase hidup hampir
sama dengan ordo Anoplura (Anonim 1, 2011).

3. Bionomik Kutu
a. Kutu Busuk
1) Pengertian Kutu Busuk
Kutu busuk adalah serangga parasit dari keluarga Cimicidae.
Kutu busuk dikenal sebagai spesies yang meminum darah manusia
dan hewan berdarah panas lainnya. Kutu busuk senang tinggal di
rumah manusia, khususnya pada tempat tidur.Kutu busuk biasa
tinggal dan bertelur di lipatan tempat tidur atau bantal dan tempat-
tempat tersembunyi lainnya. Kutu busuk bisa menggigit tanpa
disadari korbannya, biasanya ia akan agresif pada malam hari. ia
akan menimbulkan bekas gigitannya yang berupa bentol dan terasa
gatal serta panas pada korbannya. Serangga parasit ini bisa
menimbulkan penyakit ruam-ruam, efek psikologis, dan gejala
alergi. Hewan ini beraroma tidak sedap dan sangat menyengat di
hidung.
2) Morfologi Kutu Busuk
a) Telur
Telur Phthirus pubis berwarna putih kekuningan, memiliki
panjang sekitar 1 mm dan melekat kuat pada rambut atau
32

pakaian. Beberapa telur dapat melekat pada sehelai rambut.


Betina meletakkan sekitar tiga telur per hari, dan kesuburan
pada 26-30 telur. Penetasan terjadi dalam 6-8 hari, dan
pertumbuhan membutuhkan waktu 13-17 hari pada suhu kulit
normal.
b) Nimfa
Nimfa menyerupai dewasa, tetapi lebih kecil. Tahap ketiga
pada nimfa jantan memiliki panjang 1,3-1,4 mm dan biasanya
dengan dua tuberkel lateral. Tahap ketiga nimfa betina
memiliki panjang 1,0-1,5 mm panjang dan biasanya dengan
empat tuberkel lateral
c) Dewasa
Phthirus pubis berbentuk pipih dorsoventral, bilateral
simetris, tidak bersayap. Bentuk mulut tipe menusuk dan
menghisap. Mempunyai spirakel di bagian dorso ventral. Ada
yang berpleural plate ada yang tidak. Metamorfosis tidak
lengkap, terjadi perubahan dari telur, nimfa, akhirnya menjadi
dewasa.
Kepala Phthirus pubis terdapat clupeus, frons, letaknya
antara antena dan mata, sepasang mata faset (jelas terlihat),
sepasang antena yang bersegmen empat buah dan haustellum,
terdapat labrum, epifaring, dan prestomal teeth.
Thorax pada Phthirus 1 pasang scpirakel dan 3 pasang kaki
kuat dengan claw (cengkram). Segmen thorax tidak terlihat
jelas pada Phthirus, terdiri atas prothorax, mesothorax dan
metathorax. Kaki terdiri atas: coxa, trochanter, femur, tibia
tumb, tarsus, tarsal claw (kuku).
Abdomen Phthirus pada tiap segmen terdapat pleural plate,
di bagian dorso lateral terdapat abdominal spirakel dan
tranverse band. Segmen abdominal ada 9 buah. Pada hewan
jantan segmen terakhir ada adeagus dan bentuknya asimetris,
sedangkan pada betina terdapat gonopodia, simetris. Segmen
33

ke 3-5 bersatu dan pada segmen tersebut terdapat 3 pasang


spirakel yang bersatu dalam satu segmen. Pada segmen ke 6-8
hanya terdapat 1 pasang spirakel saja pada tiap segmen. Pada
segmen ke 1 dan 2 menghilang. Segmen ke 9 yaitu alat kelamin
3) Klasifikasi Kutu Busuk
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Classis : Insecta
Ordo : Hemiptera
Family : Cimicidae
Genus : Cimex Spesies, Cimex lectularius
b. Kutu Kucing

1) Pengertian Kutu kucing

Kutu kucing adalah kutu dari keluarga puliciade. Kutu kucing


dikenal juga sebagai kutu yang berparasit pada kucing yang dapat
menyebabkan gatal pada tubuh kucing. Kutu kucing terdapat di
dalam bulu-bulu kucing

2) Morfologi

Kutu jenis ini memiliki ciri-ciri tidak bersayap, memiliki


tungkai panjang, dan koksa-koksa sangat besar, Tubuh gepeng di
sebelah lateral dilengkapi banyak duri yang mengarah ke belakang
dan rambut keras, Sungut pendek dan terletak dalam lekuk-lekuk di
dalam kepala, Bagian mulut tipe penghisap dengan 3 stilet
penusuk, Metamorfosis sempurna (telur-larva-pupa-imago), Telur
tidak berperekat, abdomen terdiri dari 10 ruas, Larva tidak
bertungkai kecil, dan keputihan, Memiliki 2 ktinidia baik genal
maupun prenatal. Perbedaan antara jantan dan betina dapat dilihat
dari struktur tubuhnya, yaitu jika jantan pada ujung posterior
34

bentuknya seperti tombak yang mengarah ke atas dan antenna lebih


panjang, sedangkan tubuh betina berakhir bulat dan antenna nya
lebih pendek dari jantan Kutu kucing ini berwarna coklat
kemerahan sampai hitam, dengan betina yang warna nya sedikit
berbeda. Selain dari sedikit perbedaan dalam ukuran dan warna,
fitur utama lainnya membedakan antara jantan dan betina adalah
adanya kompleks, alat kelamin berbentuk bekicot pada laki-laki.
Ctenocephalides felis dibedakan dari kutu lain dengan ctenidia
karakteristik, atau sisir, tetapi memiliki ctenidium pronotal dan
ctenidium genal dengan lebih dari 5 gigi. Morfologi kutu kucing
adalah mirip dengan kutu anjing, canis Ctenocephalides, tetapi
kutu kucing memiliki karakteristik dahi miring. Tibia belakang
juga berbeda dari spesies loak lainnya dalam hal ini tidak memiliki
gigi apikal luar. Semua anggota ordo Siphonaptera memiliki otot
yang kuat berisi bresilin, protein sangat elastis, di kaki mereka,
yang memungkinkan kutu melompat setinggi 33 cm.Larva kutu
mirip belatung kecil dengan bulu pendek dan rahang untuk
mengunyah. Kepompong hidup terbungkus dalam kepompong
sutra-puing bertaburan gerti dengan alur kehidupan

3) Klasifikasi Kutu Kucing

Domain : Eukaryota (Whittaker & Margulis, 1978)

Kingdom : Animalia (Linnaeus, 1758)

Phylum : Arthropoda (Latreille, 1829)

Subphylum : Mandibula (Snodgrass, 1938)


35

Class : Insecta (Linnaeus, 1758)

Subclass : Dicondylia

Order : Siphonaptera

Family : Pulicidae

Subfamily : Pulicinae

Genus : Ctenocephalides (Stiles & Collins, 1930)

Spesies : Ctenocephalides felis (Bouche, 1835)


c. Kutu Kepala

1) Pengertian kutu kepala

Peduculosis adalah gangguan pada rambut kepala yang


disebabkan oleh infeksi kutu rambut, yang disebut Pediculus
humanus capitis atau Pediculus hamnus var capitis
(Ph.capitis). Pediculosis telah dikenal sejak jaman dahulu dan
ditemukan kosmopolit (di seluruh dunia).

Kutu rambut ini merupakan ektroparasit bagi manusia. Tempat-


tempat yang disukainya adalah rambut bagian belakang kepala,
yang paling sering menggigit pada bagian belakang kepala dan
kuduk. Gigitannya akan menyebabkan iritasi pada kulit yang
36

disebabkan oleh air liur yang dikeluarkan pada waktu menghisap


darah penderita.

2) Morfologi Kutu Kepala

Kutu rambut dewasa berbentuk pipih dan memanjang,


berwarna putih abu-abu, kepala ovoid bersudut, abdomen terdiri
dari 9 ruas, thorax dari khitir seomennya bersatu. Pada kepala
tampak sepasang mata sederhana disebelah lateral, sepasang antena
pendekyang terdiri atas 5 ruas dan probocis, alat penusuk yang
dapat memanjang. Tiap ruas thorax yang telah bersatu mempunyai
sepasang kaki kuat yang terdiri dari 5 ruas dan berakhir sebagai
satu sapit menyerupai kait yang berhadapan dengan tonjolan tibia
yang berpegangan erat pada rambut.

Kutu rambut jantan berukuran 2mm, alat kelamin berbentuk


seperti huruf V. Sedangkan kutu rambut betina berukuran 3mm,
alat kelamin berbentuk seperti huruf V terbalik. Pada ruas
abdomen terakhir mempunyai lubang kelamin di tengah bagian
dorsal dan 2 tonjolan genital di bagian lateral yang memegang
rambut selama melekatkan telur. Jumlah telur yang diletakkan
selama hidupnya diperkirakan 140 butir.

Nimfa

Nimfa berbentuk seperti kutu rambut. Dewasa hanya berbentuk


lebih kecil.
37

Telur

Telur berwarna putih mempunyai oper culum 0,6-0.8 mm disebut


Nits. Bentuknya lonjong dan memiliki perekat, sehingga melekat
erat dalam waktu 5-10 hari.

3) Klasifikasi Kutu Kepala

Kingdom : Animalia

Phyllum : Arthropoda

Kelas : Insecta

Ordo : Phthiraptera

Sub Ordo : Anoplura

Famili : Pediculidae

Genus : Pediculus

Spesies : Pediculus humanus capitis


d. Kutu Beras
1) Pengertian kutu beras
Kutu beras adalah nama umum bagi sekelompok serangga kecil
anggota marga Tenebrio dan Tribolium (ordo Coleoptera) yang
dikenal gemar menghuni biji-bijian/serealia yang disimpan.
Kumbang beras adalah hama gudang yang sangat merugikan dan
38

sulit dikendalikan bila telah menyerang dan tidak hanya menyerang


gabah/beras tetapi juga bulir jagung, berbagai jenis gandum,
jewawut, sorgum, serta biji kacang-kacangan. Larvanya bersarang
di dalam bulir/biji, sedangkan imagonya memakan tepung yang
ada
2) Morfologi
Kumbang muda dan dewasa berwarna cokelat agak kemerahan,
setelah tua warnanya berubah menjadi hitam. Terdapat 4 bercak
berwarna kuningagak kemerahan pada sayap bagian depan, 2
bercak pada sayap sebelah kiri, dan 2 bercak pada sayap sebelah
kanan. Panjang tubuh kumbang dewasa 3,5-5 mm, tergantung
dari tempat hidup larvanya. Apabila kumbang hidup pada jagung,
ukuran rata-rata 4,5 mm, sedang pada beras hanya 3,5
mm. larva kumbang tidak berkaki, berwarna putih atau jernih dan
ketika bergerak akan membentuk dirinya dalam keadaan agak
membulat. Pupa kumbang ini tampak seperti kumbang dewasa.
Kumbang betina dapat mencapai umur 3-5 bulan dan dapat
menghasilkan telur sampai 300-400 butir. Telur diletakkan pada
tiap butir beras yang telah dilubangi terlebih dahulu. Lubang
gerekan biasanya dibut sedalam 1 mm dan telur yang dimasukkan
ke dalam lubang tersebut dengan bantuan moncongnya adalah telur
yang berbentuk lonjong. Stadia telur berlangsung selama 7
hari. Larva yng telah menetas akan langsung menggerek butiran
beras yang menjadi tempat hidupnya. Selama beberap waktu, larva
akan tetap berada di lubang gerekan, demikian pula imagonya juga
akan berada di dalam lubang selama 5 hari. Siklus hidup hama
ini sekitar 28-90 hari, tetapi umumnya selama 31 hari. Panjang
pendeknya siklus hidup ham ini tergantung pada temperatur ruang
simpan, kelembapan diruang simpan, dan jenis produk yang
diserang (Naynienay, 2008).
39

Sitophilus oryzae hidup di tumpukan bahan pangan, seperti


beras, jagung dan gandum. Kutu ini berkembang biak sangat cepat.
Bedasarkan penelitian, kutu betina dapat bertelur 2 - 6 butir setiap
harinya. Untuk menyimpan telurnya, kutu betina melubangi bulir
beras dengan rahangnya. Satu lubang hanya untuk satu butir telur.
Kutu beras dapat hidup selama beberapa bulan. Selama hidup, kutu
betina mampu menghasilkan sekitar 400 butir telur. Telur akan
menetas menjadi larva setelah 3 hari. Larva akan hidup pada
lubang beras selama 18 hari. Setelah itu akan menjadi pupa selama
5 hari, lalu bermetamorfosis menjadi kutu.
Kutu beras merupakan hama perusak bahan pangan. kutu ini
tidak hanya menyerang beras, jagung dan gandum, tetapi juga
merusak bahan pangan lainnya seperti sorgum, ketela, kedelai,
kacang hijau, biji semangka, hingga biji bunga matahari
3) Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Antropoda
Kelas : Insect
Ordo : Coleopteran
Famili : Cureulionidae
Genus : Sitophilus
Spesies : Sitophilus oryzae
e. Kutu Pubis (Kutu Kelamin)

1) Pengertian kutu pubis

Phthirus pubis adalah serangga parasit penghisap darah yang


hidup di kulit sekitar kelamin manusia. Kutu kelamin biasanya
menular melalui hubungan seksual. Penularan dari orang tua
kepada anak lebih mungkin terjadi melalui rute pemakaian handuk,
pakaian, tempat tidur atau closets yang sama secara bergantian.
Kutu Pubic menyebar melalui keringat saat kontak tubuh atau
seksual. Pasangan seks si pasien dalam waktu 30 hari sebelumnya
40

harus dievaluasi dan diobati, dan kontak seksual harus dihindari


sampai perawatan berakhir dengan kesembuhan.

2) Morfologi

Kepala :

Terdapat sepasang antenna

Sepasang mata facet

Haustellum alat mulut

Thorax :

Terdiri atas ( protothorax, mesothorax, metathorax) terdapat:

o Kaki yang kuat (3 pasang) berakhir

o Kuku

o Claw

Pada protothorax antara coxa kaki 1 dan 2 terdapat 1 pasang


spirakel

TELUR (NITS)
41

Putih jernih, < 1 mm, mempunyai corona (operkulum)

NYMPHA

Ukuran 1-2 mm

Antena hanya bersegmen 3 buah

Bentuk hampir sama dengan imago hanya alat kelaminbelum


sempurna

Telur berkembang menjadi nympha pada hari ke-5

3) Klasifikasi

Kindom : animalia

Pilum : arthtropoda

Class : insecta

Order : phthiraptera

Suborder : anoplura

Family : pthiridae
42

Genus : pthirus

Species : P. pubis

4. Siklus Hidup Kutu


Lingkaran hidup kutu rambut merupakan metamorfosis tidak lengkap,
yaitu telur-nimfa-dewasa. Telur akan menetas menjadi nimfa dalam waktu
5-10 hari sesudah dikeluarkan oleh induk kutu rambut. Sesudah
mengalami 3 kali pergantian kulit, nimfa akan berubah menjadi kutu
rambut dewasa dalam waktu 7-14 hari. Dalam keadaan cukup makanan
kutu rambut dewasa dapat hidup 27 hari lamanya.

5. Peran Kutu dalam Bidang Kesehatan

Peranan kutu dalam kesehatan manusia terutama adalah akibat gigitan


yang ditimbulkannya, apalagi pada infestasi yang tinggi. Gigitan kutu
menimbulkan kegatalan dan iritasi yang berakhir dengan perlukaan kulit
akibat garukan. Luka dapat diperparah dengan adanya infeksi sekunder
baik dari mikroba maupun jamur dan akhirnya membentuk kerak berwarna
gelap (hiperkeratinasi) dan penebalan dipermukaan kulit kepala terutama
pada tempat-tempat predileksi kutu. Tanda khas permukaan kulit kepala
ini dikenal sebagai Vagabonds disease.

Kutu bisa menjadi vektor tranmisi dari beberapa penyakit. Namun hal
ini belum pernah dilaporkan terjadi di Indonesia. penyakit-penyakit louse-
borne epidemic typhus, relapsing fever, dan trench fever merupakan
penyakit yang ditransmisikan oleh kutu. Louse born epidemica typhus dan
relapsing fever termasuk dalam kategori penyakit-penyakit karantina.
Penyakit-penyakit ini biasanya terdapat di mana banyak manusia hidup
padat bersama tanpa banyak memperhatikan kebersihan perorangan,
43

misalnya tidak atau jarang mandi, pakaian lama tidak dicuci, terutama
pakaian-pakaian tebal. Penyakit-penyakit ini banyak terdapat dalam
kazorne tentra, penjara, kamp konsentrasi dan sebagainya. Louse borne
epidemic typhus dulu pernah dikenal sebagai "demam penjara" ( "jail fever
" ). Dimasa perang penyakit ini banyak terdapat diantara prajurit-prajurit
di front depan. Beberapa penyakit yang diperantarai oleh kutu diantaranya
yaitu :

a. Louse borne thypus fever

Penyakit ini disebabkan oleh mikroorganisme Rickettsia


prowazekii dan merupakan penyakit akut dan infeksius yang ditandai
dengan sakit kepala, demam, dan gejala sakit pada umumnya. Penyakit
ini terutama dikenal didaerah dingin dan dimasa perang akibat tingkat
sanitasi yang rendah termasuk higiene pribadi yang memprihatinkan.
Transmisi penyakit ini masih ditemui di wilayah pegunungan di
Amerika tengah dan selatan, Afrika timur dan Himalaya. Transmisi
Rickettsia penyebab penyakit ini terjadi melalui luka pada kulit
manusia yang terkontaminasi dengan tinja kutu badan. Kutu badan
yang menghisap darah penderita akan mengeluarkan tinja yang
mengandung ricketsia dan apabila tinja ini mengering akan mudah
sekali menyebarkan bahkan ricketsia dapat bertahan hidup dalam tinja
kering kutu selama dua bulan.

b. Relapsing fever

Penyakit ini disebabkan oleh Borelia recurrentis. Sesuai dengan


namanya penderita mengalami demam turun naik. Demam terjadi
selama 2-9 hari, selanjutnya suhu tubuh turun selama 2-4 hari, dan
44

kembali terjadi demam. Tingkat kematian akibat penyakit ini cukup


tinggi bahkan mencapai 50% pada kejadian wabah. Seperti halnya
demam tifus, tranmisi penyakit ini terjadi melalui kontaminasi luka
oleh tinja kutu. Adapun penyakit ini dikenal di wilayah terbatas di
Afrika, Asia, dan Amerika selatan.

c. Trench fever

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Rochalimaea quintana, dan


menimbulkan gejala yang mirip dengan Relapsing fever yang diikuti
dengan kesakitan disekujur tubuh. Akan tetapi penyakit jarang
menimbulkan kematian. Negara-negara yang pernah terjangkit adalah
Bolivia, Burundi, Etiopia, dan beberapa negara di Rusia, terutama pada
para tahanan dimasa perang dunia pertama dan kedua. Hal ini terjadi
akibat sanitasi yang rendah dan penuh sesaknya tahanan, sehingga
transmisi penyakit yang melalui tinja kering kutu sangat mudah terjadi.

6. Pengendalian
Penanganan kutu sangat tergantung dari kebersihan pribadi dan
menghindari pemakaian alat-alat yang memungkinkan terjadi penularan
kutu secara bersama, seperti sisir, topi, pakaian, dll. Tindakan monitoring
terhadapkutu kepala dapat dilakukan terutama apabila terjadi kegatalan
kulit kepala dan ditemui keberadaan telur kutu pada rambut. Untuk itu
dapat digunakan sisir khusus yang memiliki jari-jari yang rapat (serit).
Penggunaan serit efektif menghilangkan nimfa dan kutu dewasa namun
tidak dengan telurnya, sehingga pemakaian serit harus dilakukan berulang
dan bersamaan dengan itu hindari kontak dengan orang atau barangyang
dapat menjadi sumber penularan. Yang penting diperhatikan kebersihan
45

serit itu sendirisetelah dipakai, hal ini untuk menghindari penularan


berulang. Secara sederhana penggunaan sabun untuk pencuci rambut dan
air hangat secara teratur dapat menurunkan populasi nimfa dan kutu
dewasa.

Aplikasi insektisida pada kulit kepala merupakan tindakan kontrol


yang paling efekif. Saat ini telah tersedia dalam bentuk shampo, lotion,
powder, dan emulsi. Dibandingkan yang lainnya bentuk powder atau
bubukmerupakan formulasi yang kurang disukai dan kurang efektif.
Emulsi merupakan bahan yang paling sering dijumpai bahkan di
indonesia, hingga saat ini hanya dikenal satu jenis insektisida emulsi untuk
kutu yang mengandung 1% lindan.

Berbagai perawatan yang bisa dilakukan agar menjaga kepala atau


tubuh dari kutu antara lain :

a. Perawatan kimia (Chemical treatments)

Dalam perawatan kutu secara kimia harus memperhatikan beberapa hal


sebagai berikut:

1) Pastikan agar kepala yang dirawat benar-benar mempunyai kutu


dan jangan dirawat jika tidak. Tidak ada perawatan pencegahan,
jadi merawat anggota keluarga yang tidak mempunyai kutu tidak
bermanfaat tetapi dapat menyumbang pada masalah bertambahnya
kekebalan kutu terhadap perawatan kimia.

2) Bayi di bawah usia dua belas bulan, wanita yang hamil atau
menyusui, atau orang yang mempunyai kulit kepala yang
46

terganggu atau mengalami peradangan tidak harus dirawat.


Konsultasikanlah dengan ahli kesehatan untuk meminta nasihat.

3) Jangan biarkan bahan kimia masuk ke dalam mata.

4) Banyak produk berbau kuat. Bahan berbau kuat yang dibiarkan


pada rambut untuk waktu yang lama mungkin mengganggu anak.

5) Sewaktu melakukan perawatan kutu, pastikan agar membaca label


terlebih dahulu dan menggunakannya sebagaimana yang diarahkan
saja.

6) Jangan gunakan insektisida, alkohol atau minyak tanah pada kepala


anak.

b. Metode sisir dan kondisioner (Comb and conditioner method)

Kutu bernapas melalui lubang kecil sepanjang perutnya. Dengan


menyaluti rambut dan makanya menyaluti kutu dengan bahan yang
pekat dan berminyak, lubang ini tutup,dan kutu tidak dapat bernapas
selama kira-kira 20 menit. Walaupun sayangnya kutu tidak mati
dengan metode ini, akibatnya kutu lebih lamban dan lebih mudah
ditangkap. Nitbusting merupakan metode yang menggunakan sisir dan
kondisioner (atau bahan lain yang berminyak) untuk merawat kutu.
Penggunaan metode ini tidak akan membunuh kutu atau telur tetapi siri
kutu yang berkualitas tinggi akan mengangkat kutu.
47
48

BAB III
PENUTUP
49

A. Kesimpulan

1. Morfologi Tungau:

Gnatosoma

Kapitulum

Podosoma

Opistosoma

Idiosoma

Tungkai

2. Bionomi Tungau:

Kingdom : Animalia

Phylum : Arthropoda

Kelas : Arachanida

Ordo : Acarinida

Famili : Demodicidae, Psorergatidae, Tydeidae, dll


50

Genus : Demodex, Psorergates, Tydeus, dll

Spesies : Demodexbrevis, Psorergatesovis, Tydeusmolestus, dll

3. Habitat Tungau:

Banyak diantara anggotanya yang hidup bebas di daratan, namun ada


anggotanya yang menjadi parasit pada hewan lain (mamalia maupun
serangga). Tungau menyukai tempat tempat yang lembab dan tempat
yang tidak terkena sinar matahari.

4. Penyakit yang disebabkan oleh vector tungau adalah Scabies, Asma


bronchial, Tifus Semak (schrub typhus), Demodicosis, dan Rosacea

5. Pengendalian vector mites diantaranya dengan cara mekanis, teknik


budidaya, biologis, dan penggunaan bahan kimia (pestisida).

6. Ada tiga spesies kutu dalam subordo Anoplura yang berpengaruh pada
kesehatan manusia, yaitu P.humanus capitis (kutu kepala), Pediculus
humanus humanus (kutu badan), Phthirus pubis (kutu kemaluan). Kutu
mengalami metamorfosis yang tidak sempurna yang diawali dengan telur,
nimfa, dan dewasa. Stadium nimfa tumbuh dan bertukar kulit (molting) 3
x dalam waktu 3-9 hari menjadi nimfa instar satu, dua, tiga dan berubah
menjadi kutu dewasa dengan ukuran maksimal 4,5 mm. Kutu bisa menjadi
vektor transmisi dari -penyakit louse-borne epidemic typhus, relapsing
fever, dan trench fever.
51

7. Pengendalian kutu sangat tergantung dari kebersihan pribadi dan


menghindari pemakaian aat-alat yang memungkinkan terjadi penularan
kutu secara bersama, seperti sisir, topi, pakaian, dll. Pengendalian lain
yang bisa dilakukan yaitu penggunaan serit, pencucian rambut, dan juga
insektisida. Berbagai perawatan yang bisa dilakukan agar menjaga kepala
atau tubuh dari kutu anatara lain perawatan secara kimia dan metode sisir
dan kondisioner (Comb and conditioner method).

B. Saran
Kepada seluruh masyarakat dan para mahasiswa diharapkan menjaga
kebersihan pribadi dan lingkungan lebih baik lagi sehingga kondisi kesehatan
dapat tercipta dengan baik. Selain itu, diharapkan agar tungau (mites) ini dapat
didalami lebih lanjut dengan melakukan penelitian sehingga kita dapat
mengetahui cara mencegah serta mengobati penyakit akibat serangga tungau
ini.

DAFTAR PUSTAKA

Aini, K. (2013, Oktober 18). Siklus Hidup Kutu. Retrieved Mei 5, 2017, from
http://midwifekusma.blogspot.co.id/2013/10/siklus-hidup-kutu.html

Darwanto, dkk. 2001. Atlas Parasitologi Kedokteran. Jakarta : Gramedia Pustaka


Utama.
52

Hama dan Penyakit pada Tanaman,


http://riyanbagus.blogspot.com/2011/05/hama-dan-penyakit-tanaman.html.
Diunduh pada tanggal 22 Mei 2017.
Jenis-jenis Tungau, http://digilib.upnjatim.ac.id/files/disk1/2/jiptupn-gdl-
mochsodiqp-52-7-v.jenis-u.pdf. Diunduh pada tanggal 22 Mei 2017.
Makalah tentang tungau, http://digilib.upnjatim.ac.id/files/disk1/2/jiptupn-gdl-
mochsodiqp-52-6-iv.peng-n.pdf. Diunduh pada tanggal 22 Mei 2017.
Morfologi Tungau.http://repository.ipb.ac.id. Diunduh pada tanggal 22 Mei 2017.
Pengertian Tungau, http://id.wikipedia.org/wiki/Tungau. Diunduh pada tanggal 22
Mei 2017.
Tungau, https://www.academia.edu/6530387/TUNGAU. Diunduh pada tanggal 22
Mei 2017.
Tungau (Mites), http://www.tanijogonegoro.com/2013/05/tungau.html. Diunduh
pada tanggal 22 Mei 2017.
Vektor pengganggu, http://juanna-kesling.blogspot.com/2011/05/vektor-binatang-
pengganggu.html. Diunduh pada tanggal 22 Mei 2017