Anda di halaman 1dari 9

KONSEP KESEHATAN KERJA

Pengertian

Menurut National Safety Council-USA, kesehatan kerja sangat berkaitan dengan satu atau
lebih kondisi kerja yang dapat menimbulkan penyakit akibat kerja, serta dapat menurunkan
produktivitas kerja yang pada akhirnya menimbulkan kerugian bagi perusahaan. Menurut Hugh
Rodman Leavell dan Gurney Clark, kesehatan kerja diartikan sebagai sejumlah upaya untuk
meningkatkan kesehatan para pekerja atau karyawan di dalam masyarakat dan perusahaan atau
industri.

Sumamur mengemukakan, kesehatan kerja merupakan spesialisasi ilmu


kesehatan/kedokteran beserta prakteknya yang bertujuan agar pekerja/masyarakat pekerja
memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya, baik fisik, atau mental, maupun sosial, dengan
usaha-usaha preventif dan kuratif terhadap penyakit/gangguan kesehatan yang diakibatkan
faktor-faktor pekerjaan dan lingkungan kerja, serta terhadap penyakit-penyakit umum lainnya.
Sasarannya adalah manusia dan bersifat medis.

Tujuan
Konsep kesehatan kerja dewasa ini semakin banyak berubah, bukan lagi sekedar kesehatan pada
sektor industri saja melainkan juga mengarah pada upaya kesehatan untuk semua orang dalam
melakukan pekerjaannya (total health of all at work). Oleh sebab itu, kesehatan kerja memiliki
tujuan untuk :

Meningkatkan dan memelihara derajat kesehatan pekerja.


Melindungi dan mencegah pekerjaan dari semua gangguan kesehatan akibat lingkungan kerja
atau pekerjaannya.
Menempatkan pekerja sesuai dengan kemampuan fisik, mental, dan pendidikan atau
ketrampilannya.
meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

Ruang Lingkup
Ruang lingkup kesehatan kerja mencakup kegiatan yang bersifat komprehensif, yaitu berupa :

Upaya Promotif

Upaya yang berupa pelatihan, penyuluhan, dan peningkatan pengetahuan tentang upaya hidup
sehat dalam bekerja.

Upaya Preventif

Yaitu kegiatan pencegahan terhadap risiko kesehatan.

Upaya Kuratif

Lebih menekankan pada angka absensi karena sakit dan angka kesakitan.

Upaya Rehabilitatif

Menekankan upaya penyembuhan dan pemeliharaan kesehatan setelah sakit.

Komponen Kesehatan Kerja


Di tempat kerja, kesehatan dan kinerja seorang pekerja sangat dipengaruhi oleh :

Beban Kerja
Baik beban kerja berupa fisik, mental, dan sosial, sehingga upaya penempatan kerja yang sesuai
dengan kemampuannya perlu diperhatikan. Derajat tepat suatu penempatan meliputi kecocokan
pengalaman, ketrampilan, motivasi dan lainnya.

Kapasitas Kerja

Kapasitas kerja banyak tergantung pada pendidikan, ketrampilan, kesegaran jasmani, ukuran
tubuh, keadaan gizi, dan lainnya.

Lingkungan Kerja

Lingkungan kerja sebagai beban tambahan, baik berupa fisik, kimia, biologis, ergonomis,
maupun aspek psikososial.Berbagai potensial bahaya kesehatan dan kemungkinan dampaknya
antara lain:

Faktor mesin /peralatan: cidera, kecelakaan kerja.


Faktor psikologik dan beban kerja: gangguan musculo skeletal, low back pain, kelelahan.
Faktor fisik : noise induced hearing loss, gangguan neuro vascular, efek radiasi.
Faktor kimia : intoksikasi, alergi, kanker.
Faktor biologis: infeksi, alergi.
Faktor psikologik : stres psikis, depresi, ketidakpuasan.
Faktor psikososial: konflik, monotoni, kualitas kerja.

KONSEP KECELAKAAN KERJA

A. Pengertian Kecelakaan Kerja

Kecelakaan adalah suatu kejadian yang tidak diinginkan datangnya dengan tiba-tiba dan

tidak terduga yang bisa menyebabkan kerugian pada manusia, perusahaan, masyarakat dan

lingkungan. Kecelakaan adalah akibat kontak antara sumber energi (kimia, thermal, acoustica,

mekanikal, elektrikal, dan lain-lain) melebihi ambang batas tubuh dan struktur (Sumamur,

2006).

Kecelakaan akibat kerja adalah kecelakaan berhubungan dengan pekerjaan pada

perusahaan. Kecelakaan tidak terjadi secara kebetulan, melainkan ada penyebabnya oleh karena

itu kecelakaan akibat kerja dan lingkungan yang meliputi segala sesuatu selain manusia itu

sendiri yang merupakan penyebab kecelakaan (Suma'mur, 2006).

Kecelakaan akibat kerja menurut PerMenaker No.03/Men/1998 adalah suatu kejadian

yang tidak dikehendaki dan tidak diduga semula yang dapat menimbulkan korban jiwa dan harta

benda.

B. Penyebab Kecelakaan Kerja

Kecelakaan kerja merupakan salah satu masalah yang besar di perusahaan dan banyak

menimbulkan kerugian. Menurut statistik 85% penyebab kecelakaan adalah tindakan yang
berbahaya (unsafe act) dan 15% disebabkan oleh kondisi yang berbahaya (unsafe condition). Secara

garis besar sebab-sebab kecelakaan adalah :

1. Kondisi yang berbahaya (unsafe condition) yaitu faktor-faktor lingkungan fisik yang dapat

menimbulkan kecelakaan seperti mesin tanpa pengaman, penerangan yang kurang baik, Alat

Pelindung Diri (APD) tidak efektif, lantai yang berminyak, dan lain-lain.
2. Tindakan yang berbahaya (unsafe act) yaitu perilaku atau kesalahan-kesalahan yang dapat

menimbulkan kecelakaan seperti cerobah, tidak memakai alat pelindung diri, dan lain-lain,

hal ini disebabkan oleh gangguan kesehatan, gangguan penglihatan, penyakit, cemas serta

kurangnya pengetahuan dalam proses kerja, cara kerja, dan lain-lain.

Banyak faktor yang dapat menjadi penyebab kecelakaan kerja. Ada faktor yang

merupakan unsur tersendiri dan beberapa diantaranya adalah faktor yang menjadi unsur

penyebab bersama-sama.

C. Teori Penyebab Kecelakaan Kerja


Kecelakaan kerja merupakan suatu hal yang sering terjadi dalam dunia kerja, terjadinya

kecelakaan kerja ini dapat kita pelajari dan diupayakan pencegahannya. Adapun beberapa teori

mengenai penyebab kecelakaan kerja, yaitu:


1. Teori Heinrich ( Teori Domino)

Teori ini mengatakan bahwa suatu kecelakaan terjadi dari suatu rangkaian kejadian . Ada lima

faktor yang terkait dalam rangkaian kejadian tersebut yaitu : lingkungan, kesalahan manusia,

perbuatan atau kondisi yang tidak aman, kecelakaan, dan cedera atau kerugian ( Ridley, 1986 ).

2. Teori Multiple Causation

Teori ini berdasarkan pada kenyataan bahwa kemungkinan ada lebih dari satu penyebab

terjadinya kecelakaan. Penyebab ini mewakili perbuatan, kondisi atau situasi yang tidak aman.

Kemungkinan-kemungkinan penyebab terjadinya kecelakaan kerja tersebut perlu diteliti.

3. Teori Gordon

Menurut Gordon (1949), kecelakaan merupakan akibat dari interaksi antara korban kecelakaan,

perantara terjadinya kecelakaan, dan lingkungan yang kompleks, yang tidak dapat dijelaskan

hanya dengan mempertimbangkan salah satu dari 3 faktor yang terlibat. Oleh karena itu, untuk

lebih memahami mengenai penyebab-penyebab terjadinya kecelakaan maka karakteristik dari

korban kecelakaan, perantara terjadinya kecelakaan, dan lingkungan yang mendukung harus

dapat diketahui secara detail.

4. Domino terbaru
Setelah tahun 1969 sampai sekarang, telah berkembang suatu teori yang mengatakan bahwa

penyebab dasar terjadinya kecelakaan kerja adalah ketimpangan manajemen. Widnerdan Bird

dan Loftus mengembangkan teori Domino Heinrich untuk memperlihatkan pengaruh manajemen

dalam mengakibatkan terjadinya kecelakaan.

5. Teori Reason

Reason (1995-1997) menggambarkan kecelakaan kerja terjadi akibat terdapat lubang dalam

sistem pertahanan. Sistem pertahanan ini dapat berupa pelatihan-pelatihan, prosedur atau

peraturan mengenai keselamatan kerja.

6. Teori Frank E. Bird Petersen

Penelusuran sumber yang mengakibatkan kecelakaan . Bird mengadakan modifikasi dengan teori

domino Heinrich dengan menggunakan teori manajemen, yang intinya sebagai berikut:

a. Manajemen kurang control


b. Sumber penyebab utama
c. Gejala penyebab langsung (praktek di bawah standar)
d. Kontak peristiwa ( kondisi di bawah standar )
e. Kerugian gangguan (tubuh maupun harta benda)

Usaha pencegahan kecelakaan kerja hanya berhasil apabila dimulai dari memperbaiki

manajemen tentang keselamatan dan kesehatan kerja. Kemudian, praktek dan kondisi di bawah

standar merupakan penyebab terjadinya suatu kecelakaan dan merupakan gejala penyebab utama

akibat kesalahan manajemen (Soekidjo, 2010).

D. Klasifikasi Kecelakaan Kerja


Menurut Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), kecelakaan akibat kerja ini diklasifikasikan

berdasarkan 4 macam penggolongan, yakni:


1. Klasifikasi menurut jenis kecelakaan :
a. Terjatuh
b. Tertimpa benda
c. Tertumbuk atau terkena benda-benda
d. Terjepit oleh benda
e. Gerakan-gerakan melebihi kemampuan
f. Pengaruh suhu tinggi
g. Terkena arus listrik
h. Kontak bahan-bahan berbahaya atau radiasi.
2. Klasifikasi menurut penyebab :
a. Mesin, misalnya mesin pembangkit tenaga listrik.
b. Alat angkut: alat angkut darat, udara, dan air.
c. Peralatan lain misalnya dapur pembakar dan pemanas, instalasi pendingin, alat-alat listrik,

dan sebagainya.
d. Bahan-bahan,zat-zat dan radiasi, misalnya bahan peledak,gas, zat-zat kimia, dan sebagainya.
e. Lingkungan kerja ( diluar bangunan, di dalam bangunan dan di bawah tanah )
f. Penyebab lain yang belum masuk tersebut di atas.
3. Klasifikasi menurut sifat luka atau kelainan :
a. Patah tulang
b. Dislokasi ( keseleo )
c. Regang otot (urat)
d. Memar dan luka dalam yang lain
e. Amputasi
f. Luka di permukaan
g. Geger dan remuk
h. Luka bakar
i. Keracunan-keracunan mendadak
j. Pengaruh radiasi
k. Lain-lain.
4. Klasifikasi menurut letak kelainan atau luka di tubuh :
a. Kepala
b. Leher
c. Badan
d. Anggota atas
e. Anggota bawah
f. Banyak tempat
g. Letak lain yang tidak termasuk dalam klsifikasi tersebut.
E. Dampak Kecelakaan Kerja
Berikut ini merupakan penggolongan dampak dari kecelakaan kerja :
1. Meninggal dunia
Dalam hal ini termasuk kecelakaan yang paling fatal yang menyebabkan penderita meninggal

dunia walaupun telah mendapatkan pertolongan dan perawatan sebelumnya.


2. Cacat permanen total

Merupakan cacat yang mengakibatkan penderita secara permanen tidak mampu lagi sepenuhnya

melakukan pekerjaan produktif karena kehilangan atau tidak berfungsinya lagi bagian-bagian

tubuh seperti: kedua mata, satu mata adan satu tangan atau satu lengan atau satu kaki. Dua

bagian tubuh yang tidak terletak pada satu ruas tubuh.

3. Cacat permanen sebagian

Cacat yang mengakibatkan astu bagian tubuh hilang atau terpaksa dipotong atau sama sekali

tidak berfungsi.

4. Tidak mampu bekerja sementara

Kondisi sementara ini dimaksudkan baik ketika dalam masa pengobatan maupun karena harus

beristirahat menunggu kesembuhan, sehingga ada hari-hari kerja hilang dalam arti yang

bersangkutan tidak melakukan kerja produktif.

F. Pencegahan Kecelakaan Kerja


Kecelakaan-kecelakaan akibat kerja dapat dicegah dengan :
1. Perundang-undangan, yaitu ketentuan-ketentuan yang diwajibkan mengenai kondisi-kondisi

kerja pada umumnya, perencanaan, konstruksi, perawatan dan pemeliharaan, pengawasan,

pengujian dan cara kerja peralatan industry, tugas-tugas pengusaha dan buruh, latihan, supervisi

medis dan pemeriksaan kesehatan.


2. Standarisasi, yaitu penetapan standar-standar resmi, setengah resmi atau tidak resmi mengenai

misalnya konstruksi yang memenuhi syarat-syarat keselamatan jenis-jenis peralatan industri

tertentu, praktek-praktek keselamatan dan hygiene umum atau alat-alat perlindungan diri.
3. Pengawasan, yaitu pengawasan tentang dipatuhinya ketentuan-ketentuan perundang-undangan

yang diwajibkan.
4. Penelitian bersifat teknik, yang meliputi sifat dan cirri-ciri, bahan-bahan yang berbahaya,

penyelidikan tentang pagar pengaman, pengujian alat-alat perlindungan diri, penelitian tentang

pencegahan peledakan gas dan debu atau penelaahan tentang bahan-bahan dan desain paling

tepat untuk tambang-tambang pengangkatan dan peralatan pengangkat lainnya.


5. Riset medis, yang meliputi terutama penelitian tentang efek-efek fisiologis dan patologis faktor-

faktor lingkungan dan teknologis, dan keadaan-keadaan fisik yang mengakibatkan kecelakaan.
6. Penelitian psikologis, yaitu penyelidikan tentang pola-pola kejiwaan yang menyebabkan

terjadinya kecelakaan.
7. Penelitian secara statistik, untuk menetapkan jenis-jenis kecelakaan yang terjadi, banyaknya,

mengenai siapa saja, dalam pekerjaan apa dan apa sebab-sebabnya.


8. Pendidikan, yang menyangkut pendidikan keselamatan dalam kurikulum teknik, sekolah-sekolah

perniagaan atau kursus-kursus pertukangan.


9. Latihan-latihan, yaitu latihan praktek bagi tenaga kerja, khususnya tenaga kerja yang baru dalam

keselamatan kerja.
10. Penggairahan, yaitu penggunaan aneka cara penyuluhan atau pendekatan lain untuk

menimbulkan sikap untuk selamat.


11. Asuransi, yaitu insentif finansial untuk meningkatkan pencegahan kecelakaan misalnya dalam

bentuk pengurangan premi yang dibayar oleh perusahaan, jika tindakan-tindakan keselamatan

sangat baik.
12. Usaha keselamatan pada tingkat perusahaan yang merupakan ukuran utama efektif tidaknya

penerapan keselamatan kerja. Pada perusahaanlah kecelakaan-kecelakaan terjadi, sedangkan

pola-pola kecelakaan pada suatu perusahaan sangat tergantung kepada tingkat kesadaran akan

keselatan kerja oleh semua pihak yang bersangkutan.

PRINSIP HIGIENE PERUSAHAAN


Higiene Perusahaan adalah spesialisasi dalam ilmu higiene beserta prakteknya yang
dengan mengadakan penilaian kepada faktor-faktor penyebab penyakit kualitatif dan kuantitatif
dalam lingkungan kerja dan perusahaan melalui pengukuran yang hasilnya dipergunakan untuk
dasar tindakan korektif kepada lingkungan tersebut serta bila perlu pencegahan, agar pekerja dan
masyarakat sekitar suatu perusahaan terhindar dari bahaya akibat kerja serta dimungkinkan
mengecap derajat kesehatan setinggi-tingginya. (Menurut Sumamur, 1976). Jenis sifat-sifat
Higiene Perusahaan; sasaran adalah lingkungan kerja dan bersifat teknik.
Kesehatan kerja adalah spesialisasi dalam ilmu kesehatan/kedokteran beserta prakteknya
yang bertujuan, agar pekerja/masyarakat memperoleh derajat kesehatan setingg-tingginya, baik
fisik, atau mental, maupun sosial, dengan usaha-usaha preventif dan kuratif, terhadap penyakit-
penyakit/gangguan-gangguan kesehatan yang diakibatkan faktor-faktor pekerjaan dan
lingkungan kerja, serta terhadap penyakit-penyakit umum. Jenis sifat-sifat kesehatan kerja yaitu;
sasaran adalah manusia dan bersifat medis.
Kesehatan lingkungan kerja yang sering kali dikenal juga dengan istilah Higiene Industri
atau Higiene Perusahaan. Tujuan utama dari Higiene Perusahan dan Kesehatan Kerja adalah
menciptakan tenaga kerja yang sehat dan produktif. Selain itu Kegiatannya bertujuan agar tenaga
kerja terlindung dari berbagai macam resiko akibat lingkungan kerja, masyarakat sekitar
perusahaan dan masyarakat umum yang menjadi konsumen dari hasil-hasil produksi perusahaan,
diantaranya melalui pengenalan, evaluasi, pengendalian dan melakukan tindakan perbaikan yang
mungkin dapat dilakukan. Sehingga dibutuhkan pemahaman mengenai hygiene perusahaan dan
kesehatan kerja.
Tujuan utama dari Higene Perusahaan dan Kesehatan Kerja adalah menciptakan tenaga
kerja yang sehat dan produktif. Tujuan demikian mungkin dicapai, oleh karena terdapatnya
korelasi diantara derajat kesehatan yang tinggi dengan produktivitas kerja atau perusahaan, yang
didasarkan kenyataan-kenyataan sebagai berikut :

1. Untuk efisiensi kerja yang optimal dan sebaik-baiknya. Pekerjaan harus dilakukan
dengan cara dan dalam lingkungan kerja yang memenuhi syarat-syarat kesehatan.
Lingkungan dengan cara yang dimaksud meliputi diantaranya : tekanan panas,
penerangan ditempat kerja, debu di udara ruang kerja, sikap badan, perserasian manusia
dan mesin, pengekonomisan upaya. Cara dan lingkungan tersebut perlu disesuaikan pula
dengan tingkat kesehatan dan keadaan gizi tenaga kerja yang bersangkutan.

2. Biaya dari kecelakaan dan penyakit akibat kerja, serta penyakit umum yang meningkat
jumlahnya oleh karena pengaruh yang memburukkan keadaan oleh bahaya-bahaya yang
ditimbulkan oleh pekerjaan adalah sangat mahal dibandingkan dengan biaya untuk
pencegahannya. Biaya-biaya kuratif yang mahal seperti itu meliputi : pengobatan,
peralatan rumah sakit, rehabilitasi, absenteisme, kerusakan mesin, peralatan dan bahan
oleh karna kecelakaan, terganggunya pekerjaan, dan cacat yang menetap.

Untuk penerapan higiene perusahaan di tempat kerja suatu perusahaan akan di perlukan
pemahaman terhadap tiga prinsip dasar yaitu :

1. Pengenalan terhadap bahaya faktor-faktor lingkungan kerja.


Pengenalan dalam prinsip dasar penerapan Higiene Industri/perusahaan yang pertama
adalah pengenalan terhadap bahaya faktor faktor yang timbul di lingkungan kerja sebagai
akibat penerapan teknologi proses produksi suatu industri (yang meliputi faktor kimia, faktor
fisik, faktor ergonomik dan faktor biologi) yang dapat berpengaruh buruk kepada pekerjaan dan
lingkungan kerja, yang terhadap tenaga kerja dapat mengakibatkan gangguan kesehatan (sakit)
yang akan mencakup pengetahuan dan pengertian tentang berbagai jenis bahaya serta
pengaruhnya terhadap kesehatan tenaga kerja atau akibat akibat yang dapat ditmbulkan kepada
kesehatan tenaga kerja.
Mengenal atau rekognisi merupakan serangkaian kegiatan untuk mengenali suatu bahaya
lebih detil dan lebih komprehensif dengan menggunakan suatu metode yang sistematis sehingga
dihasilkan suatu hasil yang objektif dan bisa dipertanggungjawabkan. Dimana dalam rekognisi
ini kita melakukan pengenalan dan pengukuran untuk mendapatkan informasi tentang
konsentrasi, dosis, ukuran (partikel), jenis, kandungan atau struktur, dan sifat. Adapun tujuan dari
pengenalan, yaitu :
Mengetahui karakteristik suatu bahaya secara detil (sifat, kandungan, efek, severity, pola
pajanan, besaran).

Mengetahui sumber bahaya dan area yang berisiko.

Mengetahui pekerja yang berisiko.

2. Penilaian/evaluasi terhadap bahaya faktor-faktor lingkungan kerja.


Di dalam higiene industry/perusahaan evaluasi adalah proses pengambilan keputusan
untuk menilai tingkat resiko pajanan dari bahaya semua faktor yang timbul (yang ada) di
lingkungan tempat kerja kepada tenaga kerja, sebagai akibat penerapan teknologi proses
produksi suatu industry ( termasuk faktor kimia, faktor fisik, faktor ergonomic, dan faktor
biologi ).
Kebutuhan untuk melakukan evaluasi terhadap bahaya tersebut didorong oleh suatu
kenyataan bahwa faktor yang timbul dilingkungan tempat kerja dapat menyebabkan sakit, lika,
cacatdan kematian yang lebih cepat kepada tenaga kerja yag terpajan kepadanya. Maka dengan
evaluasi telah diperoleh suatu manfaat yang berupa keinginan melakukan upaya pencegahan
terhadap pajanan faktor faktor lingkungan kerja yang berbahaya yang dapat menghasilkan
pengaruh yang merugikan keehatan.
Pada tahap penilaian/evaluasi lingkungan, dilakukan pengukuran, pengambilan sampel
dan analisis di laboratorium. Melalui penilaian lingkungan dapat ditentukan kondisi lingkungan
kerja secara kuantitatif dan terinci, serta membandingkan hasil pengukuran dan standar yang
berlaku, sehingga dapat ditentukan perlu atau tidaknya teknologi pengendalian, ada atau tidaknya
korelasi kasus kecelakaan dan penyakit akibat kerja dengan lingkungannya , serta sekaligus
merupakan dokumen data di tempat kerja. Tujuan dari pengukuran dalam evaluasi, yaitu :

Untuk mengetahui tingkat risiko.

Untuk mengetahui pajanan pada pekerja.

Untuk memenuhi peraturan (legal aspek).

Untuk mengevaluasi program pengendalian yang sudah dilaksanakan.

Untuk memastikan apakah suatu area aman untuk dimasuki pekerja.

Mengetahui jenis dan besaran hazard secara lebih spesifik.

3. Pengendalian terhadap bahaya faktor-faktor lingkungan kerja.


Pengendalian faktor faktor lingkungan kerja sesungguhnya dimaksudkan untuk
menciptakan atau memelihara lingkungan kerja agar tetap sehat dan aman atau memenuhi
persyaratan kesehatan dan norma keselamatan, sehingga tenaga kerja terbebas dari ancaman
gangguan kesehatan dan keamanan atau tenaga kerja tidak menderita penyakit akibat kerja dan
tidak mendapat kecelakaan kerja.
Pengendalian faktor faktor lingkungan kerja sesungguhnya dimaksudkan untuk
menciptakan atau memelihara lingkungan kerja agar tetap sehat dan aman atau memenuhi
persyaratan kesehatan dan norma keselamatan, sehingga tenaga kerja terbebas dari ancaman
gangguan kesehatan dan keamanan atau tenaga kerja tidak menderita penyakit akibat kerja dan
tidak mendapat kecelakaan kerja. Ada beberapa bentuk pengendalian atau pengontrolan di
tempat kerja yang dapat dilakukan , yaitu :

Eliminasi : Merupakan upaya menghilangkan bahaya dari sumbernya serta menghentikan


semua kegiatan pekerja di daerah yang berpotensi bahaya.

Substitusi : Modifikasi proses untuk mengurangi penyebaran debu atau asap, dan
mengurangi bahaya, pengendalian bahaya kesehatan kerja dengan mengubah
beberapa peralatan proses untuk mengurangi bahaya, mengubah kondisi fisik bahan baku
yang diterima untuk diproses lebih lanjut agar dapat menghilangkan potensi bahayanya.

Isolasi : Menghapus sumber paparan bahaya dari lingkungan pekerja dengan


menempatkannya di tempat lain atau menjauhkan lokasi kerja yang berbahaya dari
pekerja lainnya, dan sentralisasi kontrol kamar.

Engineering control : Pengendalian bahaya dengan melakukan modifikasi pada faktor


lingkungan kerja selain pekerja.

Administrasi control: Pengendalian bahaya dengan melakukan modifikasi pada interaksi


pekerja dengan lingkungan kerja.

APD (Alat Pelindung Diri) : Langkah terakhir dari hirarki pengendalian.

Ventilasi umum : Mengalirkan udara bersih, aman, dan untuk menekan kadar kontaminan
dari bahan yang berbahaya.

Ventilasi lokal : Menangkap bahan kontaminan sebelum membahayakan pekerja.

PENGUJIAN LINGKUNGAN KERJA


Proses pengujian lingkungan kerja yang dilakukan oleh seorang ahli hygiene perusahaan
terutama ditujukan kepada faktor fisika, seperti suhu/tekanan panas, kelembaban, pencahayaan,
kebisingan, getaran, radiasi, dan faktor kimia berupa gas, uap, larutan kimia, debu. Akan tetapi
bersamaan dengan keahlian lain seperti ahli biologi, ahli ergonomi, psikolog, ahli lingkungan.
Pengujian lingkungan kerja dilakukan atas inisiatif pejabat yang berwenang untuk
menentukan sejauh mana pekerja terpajan oleh faktor lingkungan kerja, menentukan efektivitas
alat pengendali di perusahaan, meneliti tempat kerja berdasarkan keluhan atau gangguan
kesehatan pekerja, peningkatan kesehatan pekerja dan produktivitas pekerja dan memenuhi
komitmen perusahaan dalam penerapan Hiperkes dan Keselamatan Kerja dalam sistem
manajemen nasional dan internasional. Terdapat juga NAB yang ditentukan sebagai pengendali.
Nilai ambang batas (NAB) adalah sebagai pedoman dalam pengendalian bahaya lingkungan
kerja.