Anda di halaman 1dari 2

MATA KULIAH: KEJAHATAN TRANSNASIONAL DI BIDANG LINGKUNGAN

Universitas Diponegoro
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Departemen Hubungan Internasional

Nama : Addien Mirza Pratama Dosen Pengampu : Drs. Edi Santoso, SU


NIM : 14010413140066

Review Materi Kuliah Kejahatan Transnasional di Bidang Lingkungan

Dari perkuliahan minggu lalu, disini saya menyimpulkan bahwa kejahatan


transnasional di bidang lingkungan dapat dianalisis melalui empat perspektif. Yang pertama
yakni melalui teori, kemudian yang kedua melalui kebijakan (policy), yang ketiga melalui
peraturan (regulation), dan yang terakhir melalui praxis.

1. Lokal
2. Regional
Teori 1. Bilateral
2. Multilateral
3. Global
3. Unilateral

Regulasi
4 Kebijakan
Perspektif

1. MoU
2. Paper
Praxis 3. Case Study

Kemudian terdapat Indonesia Transnasional Crime Centre (TNCC) yang merupakan


salah satu program dari pemerintah Australia untuk memperluas kapasitas anti-terror di
Indonesia dan merupakan program pendukung untuk Polri. TNCC sendiri secara resmi dimulai
pada Juli 2003 dan bertempat di Jakarta. Merupakan sebuah langkah yang sangat baik untuk
kedua negara jika bekerja sama dalam memberantas berbagai kejahatan transnasional yang
semakin hari semakin banyak terjadi. Kejahatan Transnasional sendiri merupakan kejahatan
yang sudah terorganisir. TNCC juga merupakan kerjasama antara polri dan Australia Federal

1
MATA KULIAH: KEJAHATAN TRANSNASIONAL DI BIDANG LINGKUNGAN

Police (AFP) dalam memahami ancaman kejahatan lintas negara yang memiliki dampak bagi
apparat di masing-masing negara. Melalui kerjasama ini, TNCC atau TCA Indonesia pertama
dirilis pada tahun 2008 menjelaskan mengenai ancaman yang memiliki dampak terhadap
Indonesia dan Australia seperti terorisme, penyelundupan manusia (human smuggling),
perdagangan manusia (human trafficking), obat-obat terlarang (counterfeit drugs), wisata sex
anak (sex tourism), kejahatan lingukngan (environmental harm), pencucian uang (money
laundering), kejahatan berbasis teknologi, bajak laut, penyelundupan senjata, pelanggaran hak
cipta, serta kejahatan identitas. Kerjasama tersebut mempunyai dampak yang bagus bagi kedua
negara itu, terutama di bidang terorisme pasca tragedy Bom Bali I dan Bom Bali II dimana
banyak sekali warga negara Australia menjadi korban dalam tragedy tersebut. Dengan adanya
kerjasama ini diharapkan penegak hukum di masing-masing negara dapat ikut serta dalam
pencegahan dan meminimalisir dampak kejahatan transnasional yang terjadi di dunia
internasional.
Selanjutnya mengenai illegal logging, seperti yang kita tahu bahwa Indonesia memiliki
banyak sekali kawasan hutan dengan luas kurang lebih 132.397.729 ha atau dalam presentase
yakni 71% dari daratan Indonesia. Hutan-hutan tersebut terbagi menjadi hutan produksi
sebanyak 62,57%, hutan konservasi sebanyak 14,88%, dan hutan lindung sebanyak 22,55%.
Hal ini membuat Indonesia kaya akan jenis flora dan fauna yang tersebar di seluruh wilayah di
Indonesia. Dengan adanya sumber daya alam yang melimpah, menyebabkan adanya potensi
masalah tersendiri bagi hutan di Indonesia, salah satunya yakni illegal logging. Masalah illegal
logging penting diperhatikan oleh pemerintah Indonesia karena itu menyangkut hal ekonomi,
kerusakan lingkungan, serta mampu merusak aspek sosial-budaya masyarakat Indonesia.
Illegal logging sendiri dapat menjadi kejahatan transnasional yang mengancam kedaulatan
Indonesia. Oleh sebab itu, di dalam masalah illegal logging tidak hanya lembaga terkait
kehutanan saja yang bertanggung jawab, tetapi Polri dan lembaga penegak hukum di Indonesia
juga mempunyai peranan penting dalam menindak tegas pelaku dari kejahatan illegal logging.
Banyaknya kejahatan lingkungan yang mengancam keanekaragaman hayati di
Indonesia beberapa di antaranya yakni perburuan dan perdagangan satwa liar, serta
pembalakan liar. Kejahatan ini memberikan ancaman serius bagi Indonesia baik dari
kepunahan, bencana, ekonomi, pemerintah, serta masyarakat Indonesia sendiri. Dengan
perkembangan globalisasi membuat oknum untuk melakukan kejahatan tanpa diketahui oleh
aparat hukum.