Anda di halaman 1dari 41

KATA PENGANTAR

Om Swastiastu

Rasa angayu bagia dan puja stuti kami haturkan kepada Sang Hyang Widhi Wasa / Tuhan Yang
Maha Esa, atas asung kertha wara nugrahaNya sehingga kami dapat menyusun dan
menyelesaikan makalah ini yang berjudul CRONIC KIDNEY DISEASE (CKD) dengan
baik walaupun masih jauh dari kesempurnaan.
Adapun tujuan dari Penyusunan makalah ini adalah sebagai salah satu tugas mata ajar KD
(Keperawatan Dasar) dan mengetahui lebih luas lagi tentang penyakit CKD yang berdampak
di kehidupan masyarakat. Dalam Penyusunan makalah ini, kami banyak
mengalami kesulitan dan hambatan, hal ini disebabkan oleh keterbatasan ilmu pengetahuan
yang kami miliki, kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami pada
khususnya, dan bagi para pembaca pada umumnya. Kami sebagai penyusun sangat menyadari
bahwa dalam Penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan.
Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang ditujukan untuk membangun,
sebagai masukan bagi kami dan dijadikan tambahan pengetahuan dan pengalaman untuk
pembuatan makalah berikutnya. Mudah-mudahan makalah ini dapat memberikan manfaat bagi
kita semua.

Akhir kata Kami sebagai Penyusun mengucapkan banyak terimakasih.

Om Santih, Santih, Santih Om

Denpasar, Maret 2016

Penyusun

1
CRONIC KIDNEY DISEASE

( CKD )

A. Tinjauan Teori Penyakit Cronic Kidney Disease (CKD)


1. Definisi
Gagal ginjal kronik atau penyakit ginjal tahap akhir (ERSD) adalah gangguan
fungsi ginjal yang menahun bersifat progresif dan irreversible. Dimana, kemampuan
tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan
elektrolit yang menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam
darah) ( Brunner & Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikak-Bedah. Vol.2.
hal. 1448. Jakarta: EGC).
Gagal ginjal kronis adalah suatu sindrom klinis yang disebabkan penurunan fungsi
ginjal yanng bersifat menahun, berlangsung progresif dan cukup lanjut. Hal ini terjadi
bila laju filtrasi glomerulus kurang dari 50ml/menit (Suyono RF, hal. 21. 2001).
Gagal ginjal kronis atau penyakit ginjal tahap akhir (ESRD) merupakan gangguan
fungsi ginjal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk
mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit,menyebabkan
uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah). (Brunner & Suddarth,
2001; 1448)
Perjalanan umum gagal ginjal progresif dapat dibagi menjadi 3 stadium yaitu :
a. Stadium 1 (penurunan cadangan ginjal)
Ditandai dengan kreatinin serum dan kadar blood ureum nitrogen (BUN) normal
dan penderita asimtomatik.
b. Stadium 2 (insufiensi ginjal)
Lebih dari 75% jaringan yang berfungsi telah rusak (glumerulo filtrationrate
besarnya 25% dari normal) pada tahap ini BUN mulai meningkat diatas normal
,kadar kreatinin serum mulai meningkat melebihi kadar normal azotemia ringan,
timbulnya nokturia dan poliuri.
c. Stadium 3 (gagal ginjal stadium akhir atau uremia)
Timbul apabila 90% masa nefron telah hancur, nilai GFR 10% dari normal ,
kreatinin clearance 5-10 ml/ menit atau kurang. Pada tahap ini kreatinin serum
dan kadar BUN meningkat sangat mencolok dan timbul oliguri.

2
2. Klasifikasi Gagal Ginjal Kronik
Pada tahun 2002, KDOQI menerbitkan klasifikasi tahapan penyakit gagal ginjal
kronis, sebagai berikut :
a. Tahap1 : Kerusakan ginjal dengan GFR normal atau meningkat (> 90
mL/min/1.73 m2)
b. Tahap 2 : Penurunan ringan pada GFR (60-89 mL/min/1.73 m2)
c. Tahap 3 : Penurunan maderat pada GFR (30-59 mL/min/1.73 m2)
d. Tahap 4 : Penurunan berat pada GFR (15-29 mL/min/1.73 m2)
e. Tahap 5 : Gagal ginjal (GFR <15 mL/min/1.73 m2 atau dialisis)
Pada tahap 1 dan 2 penyakit ginjal kronis, GFR saja tidak dapat dilakukan
diagnosis. Tanda lain dari kerusakan ginjal, termasuk kelainan dalam komposisi
darah atau urine atau kelainan pada studi pencitraan juga harus ada dalam
menetapkan diagnosis tahap 1 dan tahap 2 penyakit ginjal kronis.

3. Patofisiologi
Adanya infeksi, peradangan, penyakit vaskuler hipertensi, gangguan jaringan
penyambung, gangguan kongenital, gangguan metabolik,nefropati toksik, nefropati
obstruksi menimbulkan reaksi antigen dan antibody membentuk imun kompleks
sehingga menimbulkan 2 respon. Nefron yang terserang hancur dan nefron yang
masih tersisa berusaha menjaga homeostatisnya mengalami hipertrofi dalam usaha
melaksanakan seluruh beban kerja ginjal. Filtrasi dari glomerulus semakin
menurun beban solute meningkat sedangkan GFR sedikit menurun dari batas
normal. Ketiga hal tersebut menyebabkan keseimbangan antara peningkatan filtrasi
dan peningkatan reabsorpsi oleh tubulus tidak dapat dipertahankan, lama kelamaan
filtrasi di glomerulus semakin menurun, beban solute meningkat sedangkan GFR
sendiri menurun dari batas normal. Akibatnya terjadi ketidakseimbangan cairan
elektrolit diantaranya ureum meningkat, defisiensi asam folat, menurunya produksi
testostertone dan spermatogenesis dalam darah. Jika GFR semakin rendah maka
semakin maka semakin besar perubahan kecepatan ekskresi pernefron, hal ini
menyebabkan ginjal kehilangan fleksibilitas baik dalam memekatkan maupun
mengencerkan kemih sehingga merupakan penyebab terjadinya poliuria dan
nokturia.

3
Metode adaptif ini memungkinkan ginjal untuk berfungsi sampai dari nefron-
nefron rusak. Beban bahan yang harus dilarut menjadi lebih besar dari pada yang
bisa direabsorpsi, berakibat dieresis osmotic disertai poliuri dan haus. Selanjutnya
karena jumlah nefron yang rusak bertambah banyak , oliguri timbul disertai retensi
produk sisa. Titik dimana timbulnya gejala-gejala pada pasien menjadi lebih jelas
dan muncul gejala-gejala khas kegagalan ginjal bila kira-kira fungsi ginjal telah
hilang 80%-90%. Pada fungsi renal yang demikian , nilai kreatinin clearance turun
sampai 15ml/menit atau lebih rendah. Menurut Barbara C. Long (1996; 368) saat
fungsi renal menurun, produksi akhir metabolisme protein (yang dieksresikan ke
dalam urine) tertimbundalam darah. Terjadi uremia dan mempengaruhi setiap
sistem tubuh. Semakin banyak timbunan produk sampah, maka gejala akan
semakain berat. Banyak gejala uremia membaik setelah dialysis (Brunner &
Suddart, 2001; 1448).
Pada kerusakan ginjal yang disebabkan oleh diabetes mellitus, terjadi peningkatan
konsentrasi gula darah sehingga ginjal tidak dapat menyerap semua. Jika keadaan
ini terus berlanjut, maka akan berkurangnya fungsi nefron dan terjadi kerusakan
pada nefron tersebut. Sehingga glukosa muncul di urin dan menyebabkan
glukosuria serta dapat meningkatkan pengeluaran cairan dan elektrolit. Ini
mengakibatkan pada pasien akan terjadi poliuri (banyak kencing), polidipsi
(banyak minum) dan turgor kulit menurun. Selain itu kerusakan ginjal juga dapat
disebabkan oleh glomerulonefritis kronis (peradangan pada glomerulus) yaitu
antibody (IgG) dapat diditeksi pada kapiler glomerular dan terjadi reaksi antigen-
antibodi sehingga terbentuk agregat molekul. Agregat molekul tersebut diedarkan
ke seluruh tubuh dan ada beberapa yang terperangkap di glomerulus menyebabkan
respon inflamasi, jika kejadian ini berulang akan mengakibatkan ukuran ginjal
berkurang seperlima dari ukuran normal. Respon imflamasi juga menyebabkan
korteks mengecil menjadi lapisan yang tebalnya 1mm-2mm. Ini mengakibatkan
berkas jaringan parut merusak sisa korteks dan permukaan ginjal menjadi kasar dan
ireguler sehingga glomeruli dan tubulus menjadi jaringan parut serta terjadi
kerusakan glomerulus yang parah sehingga respon ginjal yang sesuai terhadap
masukan cairan dan elektrolit tidak terjadi serta terjadi retensi cairan dan natrium
yang akan menyebabkan oedema. Kerusakan glomerulus yang parah juga
menyebabkan uremia dan anemia.

4
Nefrotik toksik juga menyebabkan kerusakan pada ginjal yang diakibatkan
karena penurunan fungsi filtrasi dan menyebabkan kerusakan nefron sehingga dapat
juga menyebabkan kerusakan glomerulus yang parah. Penyebab kerusakan ginjal
yang lain yaitu nefropati obstruktif (batu saluran kemih). Infeksi saluran kemih dan
gangguan pada jaringan penyambung.

A. Etiologi
Menurut Price (1992; 817) penyebab GGK dibagi menjadi 8 kelas antara lain:
a. Infeksi saluran kemih misalnya pielonefritis kronik
b. Penyakit peradangan misalnya glomerulonefritis
c. Penyakit vaskuler hipertensif misalnya nefrosklerosis benigna, nefrosklerosis
maligna stenosis arteria renalis
d. Gangguan pada jaringan penyambung (biasanya pada jaringan endotel)
misalnya lupus eritematosus sistemik, poliarteritis nodosa, sklerosis sistemik
progresif
e. Gangguan kongenital dan herediter misalnya penyakit ginjal polikistik , asidosis
tubulus ginjal
f. Penyakit metabolic misalnya DM, gout,hiperparatiroidisme, amiloidosis
g. Nefropati Toksik (obat-obat analgetik), misalnya penyalahgunaan analgesic,
nefropati timbale
h. Nefropati obstruktif (batu saluran kemih) misalnya saluran kemih bagian atas :
kalkuli neoplasma, fibrosis, netroperitoneal. Saluran kemih bagian bawah :
hipertropi prostat, striktur uretra, anomaly congenital pada leher kandung kemih
dan uretra.

B. Proses Terjadinya
Perjalanan umum gagal ginjal progresif dapat dibagi menjadi 3 stadium:
Stadium I
Penurunan cadangan ginjal (faal ginjal antar 40 % 75 %). Tahap inilah
yang paling ringan, dimana faal ginjal masih baik. Pada tahap ini penderita ini
belum merasakan gejala-gejala dan pemeriksaan laboratorium faal ginjal masih
dalam batas normal. Selama tahap ini kreatinin serum dan kadar BUN (Blood
Urea Nitrogen) dalam batas normal dan penderita asimtomatik. Gangguan
fungsi ginjal mungkin hanya dapat diketahui dengan memberikan beban kerja

5
yang berat, sepersti tes pemekatan kemih yang lama atau dengan mengadakan
test GFR yang teliti.

Stadium II
Insufiensi ginjal (faal ginjal antar 20 % 50 %). Pada tahap ini penderita
dapat melakukan tugas-tugas seperti biasa padahal daya dan konsentrasi ginjal
menurun. Pada stadium ini pengobatan harus cepat dalam hal mengatasi
kekurangan cairan, kekurangan garam, gangguan jantung dan pencegahan
pemberian obat-obatan yang bersifat mengganggu faal ginjal. Bila langkah-
langkah ini dilakukan secepatnya dengan tepat dapat mencegah penderita
masuk ke tahap yang lebih berat. Pada tahap ini lebih dari 75 % jaringan yang
berfungsi telah rusak. Kadar BUN baru mulai meningkat di atas batas normal.
Peningkatan konsentrasi BUN ini berbeda-beda, tergantung dari kadar protein
dalam diit.Pada stadium ini kadar kreatinin serum mulai meningkat melebihi
kadar normal.
Poliuria akibat gagal ginjal biasanya lebih besar pada penyakit yang terutama
menyerang tubulus, meskipun poliuria bersifat sedang dan jarang lebih dari 3
liter / hari. Biasanya ditemukan anemia pada gagal ginjal dengan faal ginjal di
antara 5 % 25 % . Faal ginjal jelas sangat menurun dan timbul gejala-gejala
kekurangan darah, tekanan darah akan naik,aktifitas penderita mulai terganggu.

Stadium III
Uremi gagal ginjal (faal ginjal kurang dari 10 %). Semua gejala sudah
jelas dan penderita masuk dalam keadaan dimana tak dapat melakukan tugas
sehari-hari sebaimana mestinya. Gejal-gejal yang timbul antara lain mual,
muntah, nafsu makan berkurang, sesak nafas, pusing, sakit kepala, air kemih
berkurang, kurang tidur, kejang-kejang dan akhirnya terjadi penurunan
kesadaran sampai koma. Stadum akhir timbul pada sekitar 90 % dari massa
nefron telah hancur. Nilai GFR-nya 10 % dari keadaan normal dan kadar
kreatinin mungkin sebesar 5-10 ml / menit atau kurang.
Pada keadaan ini kreatinin serum dan kadar BUN akan meningkat
dengan sangat mencolok sebagai penurunan. Pada stadium akhir gagal ginjal,
penderita mulai merasakan gejala yang cukup parah karena ginjal tidak sanggup
lagi mempertahankan homeostatis cairan dan elektrolit dalam tubuh. Penderita

6
biasanya menjadi oliguri (pengeluaran kemih) kurang dari 500 ml / hari karena
kegagalan glomerulus meskipun proses penyakit mula-mula menyerang tubulus
ginjal,kompleks menyerang tubulus ginjal, kompleks perubahan biokimia dan
gejala gejala yang dinamakan sindrom uremik mempengaruhi setiap sistem
dalam tubuh. Pada stadium akhir gagal ginjal, penderita pasti akan meninggal
kecuali ia mendapat pengobatan dalam bentuk transplantasi ginjal atau dialisis.

C. Manifestasi Klinis
Karena pada gagal ginjal kronis setiap sistem tubuh dipengaruhi oleh
kondisi uremia, maka pasien akan memperlihatkan tanda dan gejala. Keparahan
tanda dan gejala bergantung pada bagian dan tingkat kerusakan ginjal, kondisi
lain yang mendasari dan usia pasien.
1) Manifestasi kardiovaskuler
Hipertensi
Pitting edema (kaki, tangan, sakrum)
Edema periorbital
Friction rub pericardial
Pembesaran vena leher
2) Manifestasi integumen
Warna kulit abu-abu mengkilat
Kulit kering bersisik
Pruritus
Ekimosis
Kuku tipis dan rapuh
Rambut tipis dan kasar
3) Manifestasi pulmoner
Krekels
Sputum kental dan liat
Napas dangkal
Napas kussmaul
4) Manifestasi gastrointestinal
Napas berbau amonia
Ulserasi dan perdarahan mulut
Anoreksia, mual, muntah

7
Konstipasi dan diare
Perdarahan saluran GI
5) Manifestasi neurologi
Kelemahan dan keletihan
Konfusi
Disorientasi
Kejang
Kelemahan pada tungkai
Rasa panas pada telapak kaki
Perubahan perilaku
6) Manifestasi muskuloskeletal
Kram otot
Kekuatan otot hilang
Fraktur tulang
Foot drop
7) Manifestasi reproduktif
Amenore
Atrofi testikuler

( Brunner & Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikak-Bedah.


Vol.2. hal. 1450. Jakarta: EGC)

4. Pemeriksaan Diagnostik
A. Jenis Pemeriksaan Diagnostik

a. Urin
- Volume: biasanya kurang dari 400ml/24 jam atau tak ada (anuria)
- Warna: secara abnormal urin keruh kemungkinan disebabkanoleh pus,
bakteri, lemak, fosfat atau uratsedimen kotor, kecoklatan menunjukkkan
adanya darah, Hb, mioglobin, porfirin
- Berat jenis: kurang dari 1,010 menunjukkn kerusakan ginjal berat
- Osmoalitas: kuran gdari 350 mOsm/kg menunjukkan kerusakan ginjal
tubular dan rasio urin/serum sering 1:1
- Klirens kreatinin: mungkin agak menurun

8
- Natrium:lebih besar dari 40 mEq/L karena ginjal tidak mampu mereabsorbsi
natrium
- Protein: Derajat tinggi proteinuria (3-4+) secara kuat menunjukkkan
kerusakan glomerulus bila SDM dan fragmen juga ada
b. Darah
- BUN/ kreatinin: meningkat, kadar kreatinin 10 mg/dl diduga tahap akhir
- Ht : menurun pada adanya anemia. Hb biasanya kurang dari 7-8 gr/dl
- SDM: menurun, defisiensi eritropoitin
- GDA:asidosis metabolik, ph kurang dari 7,2
- Natrium serum : rendah
- Kalium: meningkat
- Magnesium;
- Meningkat
- Kalsium ; menurun
- Protein (albumin) : menurun

c. Osmolalitas serum: lebih dari 285 mOsm/kg


d. Pelogram retrograd: abnormalitas pelvis ginjal dan ureter
e. Ultrasono ginjal : menentukan ukuran ginjal dan adanya masa , kista, obstruksi
pada saluran perkemihan bagian atas
f. Endoskopi ginjal, nefroskopi: untuk menentukan pelvis ginjal, keluar batu,
hematuria dan pengangkatan tumor selektif
g. Arteriogram ginjal: mengkaji sirkulasi ginjal dan mengidentifikasi
ekstravaskular, masa.
h. EKG: ketidakseimbangan elektrolit dan asam basa

(Doenges, E Marilynn, 2000, hal 628- 629)

A. Parameter yang Diperiksa


B. Hasil Temuan (yang tidak normmal)
1. Komplikasi

9
a. Hiperkalemia
b. Perikarditis, efusi perikardialdan tamponade jantung
c. Hipertensi
d. Anemia
e. Penyakit tulang
( Brunner & Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikak-Bedah. Vol.2.
hal. 1449. Jakarta: EGC)

5. Penatalaksanaan

Menurut (Arif Mansjoer, hal 534)


1) Keperawatan
a. Mengutamakan keselamatan pasien dengan selalu memasang sampiran
tempat tidur agar pasien tidak terjatuh.
b. Optimalisasi dan pertahankan keseimbangan cairan dan garam. Biasanya
diusahakan agar tekanan vena jugularis sedikit meningkat dan terdapat
edema betis ringan. Pengawasan dilakukan melalui pemantauan berat
badan, urine serta pencatatan keseimbangan cairan.
c. Diet TKRP (Tinggi Kalori Rendah Protein). Diet rendah protein (20-240
gr/hr) dan tinggi kalori menghilangkan gejala anoreksia dan nausea dari
uremia serta menurunkan kadar ereum. Hindari pemasukan berlebih dari
kalium dan garam.
d. Kontrol hipertensi. Pada pasien hipertensi dengan penyakit ginjal,
keseimbangan garam dan cairan diatur tersendiri tanpa tergantung pada
tekanan darah. Sering diperlukan diuretik loop selain obat anti hipertensi.
e. Kontrol ketidak seimbangan elektrolit. Yang sering ditemukan adalah
hiperkalemia dan asidosis berat. Untuk mencegah hiperkalemia hindari
pemasukan kalium yang banyak (batasi hingga 60 mmol/hr), diuretik
hemat kalium, obat-obat yang berhubungan dengan ekskresi kalium
(penghambat ACE dan obat anti inflamasi nonsteroid), asidosis berat, atau
kekurangan garam yang menyebabkan pelepasan kalium dari sel dan ikut
dalam kaliuresis. Deteksi melalui kalium plasma dan EKG.
2) Medis

10
a. Mencegah dan tatalaksana penyakit tulang ginjal. Hiperfosfatemia
dikontrol dengan obat yang mengikat fosfat seperti aluminium hidroksida
(300-1800 mg) atau kalsium karbonat (500-3000 mg) pada saat fase
nyemil.
b. Deteksi dini dan terapi infeksi. Pasien uremia harus diterapi sebagai
pasien imunosupresif dan diterapi lebih ketat.
c. Modifikasi terapi obat dengan fungsi ginjal. Banyak obat-obatan yang
harus diturunkan dosisnya karena metabolismenya toksik dan dikeluarkan
oleh ginjal.
d. Deteksi dini dan terapi komplikasi. Awasi dengan ketat kemungkinan
ensefalopati uremia, perkarditis, neuropati perifer, hiperkalemia yang
meningkat, kelebihan cairan yang meningkat, infeksi yang mengancam
jiwa, kegagalan untuk bertahan sehingga diperlukan dialisis.
e. Persiapkan dialisis dan program transplantasi. Segera disiapkan setelah
GGK di deteksi. Indikasi dilakukan dialisis biasanyanya gagal ginjal
dengan gejala klinis yang jelas meski telah dilakukan terapi konservatif,
atau terjadi komplikasi.

(Rendy, M. Clevo dan Margareth TH. 2012. Auhan Keperawatan Medikal


Bedah dan Penyakit Dalam. Hal. 35-36. Yogyakarta: Nuha Medika).

6. PENCEGAHAN
1) Kurangi makanan yang manis jika sudah terdeteksi menderita DM agar tidak
berakhir pada GGK.
2) Ubah gaya hidup dengan berolahraga 30 menit/hari.

ASUHAN KEPERAWATAN

CRONIC KIDNEY DISEASE

11
( CKD )

1. Pengkajian

1. PENGUMPULAN DATA
a. Identitas pasien dan penanggung
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, agama dan alamat, serta
data penanggung jawab.
b. Riwayat kesehatan
1. Keluhan utama masuk rumah sakit
Biasanya pasien merasakan sakit pada pinggangnya dan sulit untuk berkemih
2. Keluhan utama saat pengkajian
Pasien tidak bisa berkemih, tungkai bawah terasa lemas, dan tidak bertenaga.
3. Riwayat penyakit sekarang
Pasien merasakan sakit pada pinggangnya, adanya edema pada kakinya,
merasakan mual dan muntah, nafas pendek dan cepat letih.
4. Riwayat penyakit sebelumnya
5. Riwayat penyakit keluarga
c. Pola kebiasaan
1. Pernapasan
Gejala : Napas pendek.
Tanda : dispnea, peningkatan frekuensi, kedalamaman (pernapasan kussmaul),
napas ammonia, batuk produktif dengan sputum kental merah muda (edema
paru).
2. Makanan/cairan
Gejala : Peningkatan berat badan (edema), penurunan berat badan (dehidrasi)
Mual, muntah, anoreksia, nyeri ulu hati. Penggunaan diuretik.
Tanda : Perubahan turgor kulit/kelembaban dan edema (umum, bagian bawah).

3. Eliminasi
Gejala : Perubahan pola berkemih biasanya: peningkatan frekuensi, poliuri
(kegagalan dini), atau penurunan frekuensi/oliguri, (fase akhir) disuria ragu-

12
ragu, dorongan dan retensi, (inflamasi/obstruksi, infeksi), dan abdomen
kembung, diare atau konstipasi, riwayat BPH, batu/kalkuli.
Tanda : Perubahan warna urin. Contoh: kuning pekat, merah, coklat, berawan,
oliguria (biasanya 12-21 hari), poliuri (2-6 L/ hari).
4. Aktivitas
Gejala: Keletihan, kelemahan, malaise.
Tanda: Kelemahan otot, kehilangan tonus.
5. Rasa nyaman
Gejala: Nyeri tubuh, sakit kepala.
Tanda: Perilaku berhati-hati/distraksi, gelisah.
6. Keamanan
Gejala: Adanya reaksi transfuse (kulit gatal, ada/berulangnya infeksi)
Tanda: Demam (sepsis, dehidrasi), petekie (area kulit ekimosis), dan pruritus
(kulit kering).
7. Pengetahuan
Gejala: Riwayat DM keluarga (resiko tinggi untuk gagal ginjal), penyakit
polikistik, nefritis herediter, kalkulus urinaria, malignansi. Riwayat terpajan
pada toksin, contoh obat, racun lingkungan.Penggunaan antibiotik nefrotoksik
saat ini/berulang.
d. Pemeriksaan Fisik
Adanya Peningkatan vena jugularis
Adanya edema pada papelbra dan ekstremitas
Anemia dan kelainan jantung
Hiperpigmentasi pada kulit
Mulut dan bibir kering
Adanya kejang-kejang
Gangguan kesadaran
Terdapat Pembesaran ginjal
Adanya neuropati perifer

e. Pemeriksaan penunjang
1. Urin
- Volume: biasanya kurang dari 400ml/24 jam atau tak ada (anuria)

13
- Warna: secara abnormal urin keruh kemungkinan disebabkanoleh
pus,bakteri, lemak, fosfat atau uratsedimen kotor, kecoklatan
menunjukkkan adanya darah, Hb, mioglobin, porfirin
- Berat jenis: kurang dari 1,010 menunjukkan kerusakan ginjal berat
- Osmoalitas:kurangdari 350 mOsm/kg menunjukkan kerusakan ginjal
tubular dan rasio urin/serum sering 1:1
- Klirens kreatinin: mungkin agak menurun
- Natrium:lebih besar dari 40 mEq/L karena ginjal tidak mampu
mereabsorbsi natrium
- Protein: Derajat tinggi proteinuria (3-4+) secara kuat menunjukkkan
kerusakan glomerulus bila SDM dan fragmen juga ada
2. Darah
- BUN/ kreatinin: meningkat, kadar kreatinin 10 mg/dl diduga tahap
akhir
- Ht : menurun pada adanya anemia. Hb biasanya kurang dari 7-8 gr/dl
- SDM: menurun, defisiensi eritropoitin
- GDA:asidosis metabolik, ph kurang dari 7,2
- Natrium serum : rendah
- Kalium: meningkat
- Magnesium;Meningkat
- Kalsium ; menurun
- Protein (albumin) : menurun
3. Osmolalitas serum: lebih dari 285 mOsm/kg
4. Pelogram retrograd: abnormalitas pelvis ginjal dan ureter
5. Ultrasono ginjal : menentukan ukuran ginjal dan adanya masa , kista,
obstruksi pada saluran perkemihan bagian atas
6. Endoskopi ginjal, nefroskopi: untuk menentukan pelvis ginjal, keluar batu,
hematuria dan pengangkatan tumor selektif
7. Arteriogram ginjal: mengkaji sirkulasi ginjal dan mengidentifikasi
ekstravaskular, masa.
8. EKG: ketidakseimbangan elektrolit dan asam basa
2. DATA FOKUS
(DS & DO)
3. ANALISA DATA

14
(DS, DO, masalah)
4. RUMUAN MASALAH KEPERAWATAN
(hanya masalah keperawatan saja yang ditulis)
5. ANALISA MASALAH
(PES, proses terjadi dan akibat jika tidak ditanggulangi)

2. Diagnosa Keperawatan

Menurut Doenges (1999) dan Lynda Juall (2000), diagnosa keperawatan yang
muncul pada pasien CKD adalah:

1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan frekuensi jantung yang


ditandai dengan edema pada paru, dispnea, perubahan warna kulit, distensi vena
jugularis, keletihan.
2. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
Kelebihan volume cairan berhubungan dengan kelebihan asupan natrium dan cairan
yang ditandai dengan edema, perubahan tekanan darah, dispnea, oliguria, distensi
vena jugularis, penambahan berat badan pada waktu yang singkat.
3. Perubahan nutrisi
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
factor biologis yang ditandai dengan mual, muntah.
4. Perubahan pola nafas
5. Gangguan perfusi jaringan
6. Intoleransi aktivitas
7. Kurang pengetahuan tentang tindakan medis
8. Resti terjadinya infeksi

(Rendy, M. Clevo dan Margareth TH. 2012. Auhan Keperawatan Medikal


Bedah dan Penyakit Dalam. Hal.40. Yogyakarta: Nuha Medika).

3. Perencanaan Keperawatan

15
NO RASIONAL
DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI
DX
1. Penurunan curah Setelah diberikan Mandiri:
jantung asuhan keperawatan 1. monitor TD, Untuk mengetahui
berhubungan selama 3x24 jam nadi, dan RR keadaan umum
dengan perubahan diharapkan dan
frekuensi jantung penurunan curah perkembangan
yang ditandai jantung dapat penyakit pasien.
dengan edema pada teratasi dengan 2. monitor Untuk mengetahui
paru, dispnea, kriteria hasil : frekuensi dan adanya masalah
perubahan warna 1. Tanda vital irama pada
kulit, distensi vena dalam rentang pernapasan pernapasannya
jugularis, keletihan. normal: 3. anjurkan pasien Agar tidak
TD: 100-120 untuk mengatur memperparah
/60-80 mmHg periode latihan fungsi ginjal
RR: 16- dan istirahat
24x/menit untuk
Nadi: 60-100x/ menghindari
menit kelelahan
2. Dapat 4. jelaskan pada
mentoleransi pasien tujuan Agar pasien tidak
aktivitas dari pemberian bertanya-tanya
3. Tidak ada edema oksigen dan takut saat
paru perawat
4. tidak ada distensi Kolaborasi: memberikan
vena jugularis 5. kolaborasi tindakan.
5. warna kulit dalam Untuk
normal pemberian obat mengurangi
antikoagulan dan hipertensi yang
vasodilator. diderita pasien
dan memulihkan
jalan napas pasien.

16
2. Setelah diberikan Mandiri: Untuk mengetahui
asuhan keperawatan intake dan output
1. monitor mual
selama 3x24 jam nutrisi pasien.
dan muntah
diharapkan
ketidakseimbangan
Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari 2. kaji intake Untuk mengetahui
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh nutrisi takaran nutirisi
kebutuhan tubuh
dapat teratasi yang pas yang
berhubungan
dengan kriteria hasil sesuai dengan
dengan factor
: kebutuhan pasien.
biologis yang
1. pasien tidak mual 3. berikan nutrisi
ditandai dengan Agar asupan
dan muntah parenteral
mual, muntah. nutrisi pasien
2. berat badan sesuai
tetap adekuat.
pasien kembali kebutuhan
normal 4. timbang berat
3. pasien mau badan setiap
Untuk mengetahui
menghabiskan hari
apakah nutrisi
makanannya Kolaborasi:
pasien terpenuhi .
sesuai dengan
5. kolaborasi
porsi yang
dengan ahli gizi
diberikan
untuk Untuk
menentukan memberikan
nutrisi yang takaran yang pas
3. Setelah diberikan
dibutuhkan untuk pasien
asuhan keperawatan
pasien.
selama 3x24 jam
Mandiri:
diharapkan
Kelebihan volume 1. Pertahankan
cairan dapat teratasi catatan intake
dengan kriteria dan output
Kelebihan volume
hasil: yang akurat
cairan berhubungan
1. tidak terdapat 2. Monitor vital
dengan kelebihan
edema sign
asupan natrium dan

17
cairan yang 2. bunyi nafas Untuk
ditandai dengan bersih, tidak ada 3. Monitor tanda mempertahankan
edema, perubahan dispnea dan gejala nutrisi pasien.
tekanan darah, 3. tidak terdapat edema
dispnea, oliguria, distensi vena
distensi vena jugularis Untuk mengetahui
jugularis, 4. Monitor berat keadaan umum
penambahan berat badan pasien
badan pada waktu
Agar dapat
yang singkat.
memberikan
Kolaborasi: intervensi
mencegah edema
5. Kolaborasi
dalam
pemberian
Untuk mengetahui
diuretik
adanya kelebihan
volume cairan
pada pasien

Untuk membantu
dalam
pengeluaran
cairan.

18
4. Pelaksanaan / Implementasi

Merupakan langkah ke empat dalam tahap proses keperawatan dengan


melaksanakan berbagai strategi keperawatan( tindakan keperawatan) yang telah
direncanaan dalam rencana tindakan keperawatan (Azis Alimul, 2009).

5. Evaluasi
Menurut Craven dan Hirnle (2000) evaluasi didefenisikan sebagai keputusan
dari efektifitas asuhan keperawatan antara dasar tujuan keperawatan klien yang
telah ditetapkan dengan respon prilaku klien yang tampil.

Evaluasi dapat digunakan dengan menggunakan SOAP sebagai pola pikir.

1. S (Subjective) : adalah informasi berupa ungkapan yang didapat dari klien


setelah tindakan diberikan.
2. O (Objective) : adalah informasi yang didapat berupa hasil pengamatan,
penilaian, pengukuran yang dilakukan oleh perawat setelah tindakan
dilakukan.
3. A (Analisis) : adalah membandingkan antara informasi subjective dan
objective dengan tujuan dan kriteria hasil, kemudian diambil kesimpulan
bahwa masalah teratasi, teratasi sebahagian, atau tidak teratasi.
4. P (Planning) : adalah rencana keperawatan lanjutan yang akan
dilakukan berdasarkan hasil analisa.

Pada klien dengan Cronic Kidney Disease ( CKD ), evaluasi keperawatan yang
diharapkan sebagai berikut :

1. Kelebihan volume cairan


2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
3. Penurunan curah jantung

19
TINJAUAN TEORI HEMODIALISA

2. Hemodialisa

a. Pengertian

Hemodialisa adalah proses pembersihan darah oleh akumulasi sampah buangan.


Hemodialisis digunakan bagi pasien dengan tahap akhir gagal ginjal atau pasien
berpenyakit akut yang membutuhkan dialysis waktu singkat (DR. Nursalam M. Nurs,
2006).

Hemodialisis adalah suatu usaha untuk memperbaiki kelainan biokimiawi darah


yang terjadi akibat terganggunya fungsi ginjal, dilakukan dengan menggunakan mesin
hemodialisis. Hemodialisis merupakan salah satu bentuk terapi pengganti ginjal (renal
replacement therapy/RRT) dan hanya menggantikan sebagian dari fungsi ekskresi
ginjal. Hemodialisis dilakukan pada penderita PGK stadium V dan pada pasien dengan
AKI (Acute Kidney Injury) yang memerlukan terapi pengganti ginjal. Menurut
prosedur yang dilakukan HD dapat dibedakan menjadi 3 yaitu: HD darurat/emergency,
HD persiapan/preparative, dan HD kronik/reguler (Daurgirdas et al., 2007).

Hemodialisa berasal dari kata hemo = darah, dan dialisis = pemisahan atau
filtrasi. Hemodialisis adalah suatu metode terapi dialis yang digunakan untuk
mengeluarkan cairan dan produk limbah dari dalam tubuh ketika secara akut ataupun
secara progresif ginjal tidak mampu melaksanakan proses tersebut. Tetapi ini dilakukan
dengan menggunakan sebuah mesin yang dilengkapi dengan membran penyaring
semipermeabel (ginjal buatan). Hemodialisis dapat dilakukan pada saar toksin atau zat
beracun harus segera dikeluarkan untuk mencegah kerusakan permanen atau
menyebabkan kematian (Mutaqin & Sari, 2011).

Hemodialisa adalah suatu teknologi tinggi sebagai terapi pengganti fungsi ginjal
untuk mengeluarkan sisa-sisa metabolisme atau racun tertentu dari peredaran darah
manusia seperti air, natrium, kalium, hydrogen, urea, kreatinin, asam urat, dan zat-zat
lain melalui membran semi permeable sebagai pemisah darah dan cairan dialisat pada
ginjal buatan dimana terjadi proses difusi, osmosis dan ultra filtrasi (Kusuma & Nurarif,
2012).

b. Tujuan Hemodialisa

20
Tujuan dari hemodilisis adalah untuk memindahkan produk-produk limbah
terakumulasi dalam sirkulasi klien dan dikeluarkan ke dalam mesin dialisis. Pada klien
gagal ginjal kronik, tindakan hemodialisis dapat menurunkan risiko kerusakan organ-
organ vital lainnya akibat akumulasi zat toksik dalam sirkulasi, tetapi tindakan
hemodialisis tidak menyembuhkan atau mengembalikan fungsi ginjal secara permanen,
memperbaiki keseimbangan cairan elektrolit serta asam garam. Klien CKD biasanya
harus menjalani terapi dialisis sepanjang hidupnya (biasanya tiga kali seminggu selama
paling sedikit 3 atau 4 jam perkali terapi) atau sampai mendapat ginjal baru melalui
transplantasi ginjal (Mutaqin & Sari, 2011).

c. Indikasi Hemodialisa

Indikasi HD dibedakan menjadi HD emergency atau HD segera dan HD kronik.


Hemodialis segera adalah HD yang harus segera dilakukan, Indikasi hemodialisis
segera antara lain (D87uaurgirdas et al., 2007):

1) Kegawatan ginjal

a) Klinis: keadaan uremik berat, overhidrasi

b) Oligouria (produksi urine <200 ml/12 jam)

c) Anuria (produksi urine <50 ml/12 jam)

d) Hiperkalemia (terutama jika terjadi perubahan ECG, biasanya K >6,5 mmol/l )

e) Asidosis berat ( pH <7,1 atau bikarbonat <12 meq/l)

f) Uremia ( BUN >150 mg/dL)

g) Ensefalopati uremikum

h) Neuropati/miopati uremikum

i) Perikarditis uremikum

j) Disnatremia berat (Na >160 atau <115 mmol/L

k) Hipertermia

2) Keracunan akut (alkohol, obat-obatan) yang bisa melewati membran dialisis.

3) Indikasi Hemodialisis Kronik

21
Hemodialisis kronik adalah hemodialisis yang dikerjakan berkelanjutan seumur
hidup penderita dengan menggunakan mesin hemodialisis. Menurut K/DOQI
dialisis dimulai jika GFR <15 ml/mnt. Keadaan pasien yang mempunyai GFR
<15ml/menit tidak selalu sama, sehingga dialisis dianggap baru perlu dimulai jika
dijumpai salah satu dari hal tersebut di bawah ini (Daurgirdas et al., 2007):

a) GFR <15 ml/menit, tergantung gejala klinis

b) Gejala uremia meliputi; lethargy, anoreksia, nausea, mual dan muntah.

c) Adanya malnutrisi atau hilangnya massa otot.

d) Hipertensi yang sulit dikontrol dan adanya kelebihan cairan.

e) Komplikasi metabolik yang refrakter.

d. Kontra indikasi

1) Gangguan pembekuan darah

2) Anemia berat

3) Thrombosis/emboli pembuluh darah yang berat

e. Komplikasi

1) Hipotensi

2) Mual dan muntah

3) Sakit kepala

4) Demam disertai menggigil

5) Nyeri dada

6) Gatal-gatal

7) Pendarahan AV shunt setelah dialysis

8) Kram otot

9) Dialiser leak/ bocor

10) Dialiser beku

22
11) Emboli udara

12) Hipertensi

f. Prinsip Hemodialisis

Seperti pada ginjal, ada tiga prinsip yang mendasari kerja hemodialisis, yaitu:
difusi, osmosis, dan ultrafiltrasi.

1) Proses difusi adalah proses berpindahnya suatu zat (solute) karena tenaga yang
ditimbulkan oleh perbedaan kadar zat (konsentrasi) didalam darah dan diali zat
yaitu semakin tinggi kadar zat darah semakin banyak yang berpindah ke diali
zat, kecepatan berpindah ini dipengaruhi oleh Konsentrasi zat, Berat molekul,
QB (Quick blood) dan QD (Quick Dializat), Luas permukaan membrane,
Permeabilitas membrane

2) Proses osmosis adalah proses berpindahnya air karena tenaga kimiawi yaitu
perbedaan osmolalitas dan dialisat.

3) Proses Ultrafiltrasi adalah proses berpindahnya zat dan air karena perbedaan
hidrostatik didalam darah dan dialisat.

Luas permukaan membran dan daya saring membran mempengaruhi jumlah zat
dan air yang berpindah. Pada saat dialisis, pasien, dialiser dan rendaman dialisat
memerlukan pemantauan yang konstan untuk mendeteksi berbagai komplikasi yang
dapat terjadi, misalnya: emboli udara, ultrafiltrasi yang tidak adekuat atau berlebihan
(hipotensi, kram, muntah) perembesan darah, kontaminasi, dan komplikasi
terbentuknya pirau atau fistula (Mutaqin & Sari, 2011)

g. Komponen utama hemodialisi

Sirkulasi darah :

1) Sirkulasi darah arteri (arteri line) : saluran darah sebelum dialyser yang
berwarna merah (ABL)

2) Sirkulasi darah vena (vena line) : saluran darah setelah dialyser, yang berwarna
biru (UBL).

h. Cairan Dializat

23
Cairan dializat ada 2 yaitu :

1) Acide dengan komposisi

Konsentrate Solution (gr/Hr) Delute Solution (mmol/L)

Sodium chloride 172,9 Sodium Na+ 80,00

Potasium chloride 5,49 Potasium K+ 2,00

Magnesium chloride 3,74 Magnesium Mg+ 0,50

Tolsium chloride 9,47 Kalsium Ca+ 1,75

Acatic chloride 8,85 Chlorida Cl- 86,50

Purifed chloride 1 liter Acotate CH3COO 4,00

2) Bicarbonat dengan komposisi

Concentrate Solution (gr/liter) Delute Solution (mmol/L)

Sodium chloride 23,53 Sodium Na+ 99,0

Sodium bikarbonat 65,95 Karbonat CO3H+ 39,0

Purifet water 1 liter Chlorida 20,0

i. Dializer

Dializer adalah suatu zat yang digunakan untuk mengeluarkan sampah hasil
metabolisme/zat toksik lainnya dari dalam tubuh. Dializer dibagi 2 ruangan
kompartement oleh suatu membrane semipermiable yaitu kompartement dializat dan
kompartement darah dan mempunyai 4 jalan masuk/keluar, 2 buah berhubungan
dengan kompartement darah dan 2 buah berhubungan dengan ke dializat.

j. Heparinsasi

24
Heparinsasi merupakan cara untuk mencegah pembekuan darah ke dalam kedua
sirkulasi sistemik dan sirkulasi ekstrakorporal.

Dosis heparin :
a. Dosis awal : 2500 ml dimasukkan pada awal hemodialisa
b. Dosis lanjutan : 1250 ml unit/jam diberikan selama hemodialisis berlangsung dan
disetok 1 jam sebelum hemodialisis berakhir.

k. Akses Vaskuler

a. Permanen : Digunakan sebagai hemodialisis, jenisnya AN fistula dan AV Shunt


(cimino). AV- shunt adalah penyambungan pembuluh darah vena dan arteri dengan
tujuan untuk memperbesar aliran darah vena supaya dapat digunakan untuk
keperluan hemodialisis.
b. Sementara : Jenisnya femoral (double lumen, akses femoral).
- Double lumen : akses sirkulasi yang pasang secara temporer pada vena juguralis
dan subclavia terdiri dari dua lumen untuk menghubungkan sirkulasi darah (
sirkulasi ekstraporeal) dengan tubuh (sirkulasi sistemik) dengan tujuan untuk
melancarkan proses hemodialisa, mencegah terjadinya infeksi, mencegah adanya
bekuan diselang kateter double lumen.
- Akses femoral: pemasangan kanul kateter secara percutaneous pada vena
femoralis. Kateter dimasukan kedalam vena femoralis yang terletak dibawah
ligament inguinalis.

l. Perawatan pasien hemodialisis

1) Pre hemodialisis
a) Persiapan mesin
- Mesin HD
- Listrik (stop kontak)
- Air RO (Reverse osmosis)
- Cairan dializat (Acide dan bikarbonat)
- Hemodialisis set :
Hallow fiber/ginjal buatan
Blood line (AVL dan VBL)
Vistula sesuai ukuran

25
Blood set
b) Persiapan alat
- NaCl 0,9% (2 flash /2000cc)
- Kupet steril, yang berisi :
Spuit 5cc
Spuit 20cc
Spuit 1cc
Gaas/kasa steril
Duk kecil
Handscoon steril
- Gunting
- Plester
- klem
- Timbangan
- Tempat sampah
- Desinfektan (alcohol+betadine)
- Antikoagulan (heparine)
c) Persiapan pasien
- Perjanjian HD (inform consent)
- Persiapan mental
- Anamnesa keadaan umum pasien
- Pemeriksaan fisik
- Timbang BB pasien
- Beri posisi nyaman untuk pasien
- Ukur tanda vital pasien yang terdiri dari TD, S, N, dan RR
2) Intra hemodialisa
a) Monitoring penderita : KU dan observasi TTV
b) Monitoring mesin HD
- QB
- Conductivity
- Trans membrane pressure
- Venus pressure
- Ultra filtrasi goal
- Ultra filtrasi rate

26
- Ultrafiltrasi
- Kecepatan aliran dializat
- Kecepatan aliran darah
- Hipernisasi
- Temperature
3) Post hemodialisa
a) Darah dimasukkan didorong NaCl 0,9%
b) Tekan luka bekas tusukan ditutupi dengan gaas berisi betadine
c) Perhatikan keadaan umum pasien
d) Ukur tanda vital pasien
e) Timbang BB pasien

m. Nutrisi pada pasien penyakit ginjal kronik dengan hemodialisa :

Ketika ginjal tidak dapat bekerja dengan baik, sampah-sampah hasil metabolism
dari apa yang dimakan dan diminum akan menumpuk didalam tubuh karena tidak dapat
dikeluarkan oleh ginjal. Hal inilah mengapa diet khusus penting untuk dipatuhi oleh
pasien. Pola makan harus diubah pada pasien yang mengalami gagal ginjal terminal
yang menjalani hemodialisa.

Tujuan terapi diet dari intervensi nutrisi pada pasien yang dilakukan
hemodialisa antara lain :

1) Untuk mencapai dan menjaga status nutrisi yang baik

2) Untuk mencegah atau memperlambat penyakit kardiovaskuler,


cerebrovaskuler, dan penyakit vaskuler perifer

3) Untuk mencegah atau menangani hiperparatiroidisme dan bentuk-bentuk lain


dari osteodysthropy ginjal

4) Untuk mencegah dan memperbaiki keracunan uremik dan gangguan


metabolic lainnya.

27
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian
1. Anamnesa
Anamnesa adalah mengetahui kondisi klien dengan cara wawancara atau interview.
Mengetahui kondisi klien untuk saat ini dan masa lalu. Anamnesa mencakup identitas
klien, keluhan utama, riwayat kesehatan sekarang, riwayat kesehatan dahulu, riwayat
kesehatan keluarga, riwayat imunisasi, riwayat kesehatan lingkungan dantempat
tinggal.
a. Identitas
Meliputi identitas klien yaitu: nama lengkap, tempat tanggal lahir, jenis kelamin,
agama, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, suku/bangsa, golongan darah,
tangggal MRS, tanggal pengkajian, no.RM, diagnose medis, alamat.
b. Keluhan utama
Kapan keluhan mulai berkembang, bagaimana terjadinya, apakah secara tiba-tiba
atau berangsur-angsur, apa tindakan yang dilakukan untuk mengurangi keluhan,
obat apa yang digunakan.
Keluhan utama yang didapat biasanya bervariasi, mulai dari urine output sedikit
sampai tidak ada BAK, glisah sampai penurunan kesadaran, tidak selera makan
(anoreksia), mual, muntah, mulut terasa kering, rasa lelah, napas berbau (ureum),
dan gatal pada kulit.
c. Riwayat kesehatan sekarang (PQRST)
Mengkaji keluhan kesehatan yang dirasakan klien pada saat di anamnesa meliputi
palliative, provocative, quality, quantity, region, radiation, severity scala dan time.
Untuk kasus gagal ginjal kronis, kaji onset penurunan urine output, penurunan
kesadaran, perubahan pola nafas, kelemahan fisik, adanya perubahan kulit, dan
pemenuhan nutrisi. Kaji pula sudah kemana saja klien meminta pertolongan untuk
mengatasi masalahnya dan mendapat pengobatan.
d. Riwayat penyakit dahulu
Kaji adanya penyakit gagal ginjal akut, infeksi saluran kemih, payah jantung,
penggunaan obat-obat nefrotoksik, Benign Prostatic Hiperplasia, dan prostektomi.
Kaji adanya riwayat penyakit batu saluran kemih, infeksi system perkemihan yang
berulang. Penyakit diabetes mellitus, dan penyakit hipertensi pada masa
sebelumnya yang menjadi predisposisi penyebab. Penting untuk dikaji mengenai
riwayat pemakaian obat-obatan masa lalu dan adanya riwayat alergi terhadap jenis
obat kemudian dokumentasikan.

e. Riwayat kesehatan keluarga


Mengkaji ada atau tidak salah satu keluarga yang mengalami penyakit yang sama.
Baaimana pola hidup yang biasa diterapkan dalam keluarga, ada atau tidaknya
riwayat infeksi sistem perkemihan yang berulang dan riwayat alergi, penyait
hereditas dan penyakit menular pada keluarga.

28
f. Riwayat psikososial
Adanya perubahan fungsi struktur tubuh dan adanya tindakan dialysis akan
menyebabkan enderita mengalami gangguan pada gambaran diri. Lamanya
perawatan, banyaknya biaya perawatan dan pengobatan menyebabkan klien
mengalami kecemasan, gangguan konsep diri (gambaran diri) dan gangguan peran
pada keluarga.
g. Lingkungan dan tempat tinggal
Mengkaji lingkungan tmpat tinggal klien, mengenai kebersihan lingkungan tempat
tinggal, area lingkungan rumah.
2. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum dan TTV
Keadaan umum: klien lemah dan terlihat sakit berat
Tingkat kesadaran: menurun esuai dengan tingkat uremia dimana dapat
mempengaruhi system saraf pusat
TTV: sering didapatkan adanya perubahan RR meningkat, tekanan darah terjadi
perubahan dari hipertensi ringan sampai berat.
b. Sistem pernapasan
Klien bernapas dengan bau uremia didapatkan adanya pernapasa kusmaul. Pola
napas cepat dan dalam merupakan upaya untuk melakukan pembuangan karbon
dioksida yang menumpuk di sirkulasi.
c. Sitem hematologi
Pada kondisi uremia berat tindakan auskultasi akan menemukan adanya friction rub
yang merupakan tanda khas efusi pericardial. Didapatkan tanda dan gejala gagal
jantung kongestif. TD meningkat, akral dingin, CRT > 3 detik, palpitasi, nyeri dada
dan sesak napas, gangguan irama jantung, edem penurunan perfusi perifer sekunder
dari penurunan curah jantung akibat hiperkalemi, dan gangguan kondisi elektrikal
otot ventrikel.
Pada sistem hematologi sering didapatkan adanya anemia. Anemia sebagai akibat
dari penurunan produksi eritropoitin, lesi gastrointestinal uremik, penurunan usia
sel darah merah, dan kehilangan darah, biasanya dari saluran GI, kecenderungan
mengalami perdarahan sekunder dari trombositopenia.
d. Sistem neuromuskuler
Didapatkan penurunan tingkat kesadaran, disfungsi serebral, seperti perubahan
proses berfikir dan disorientasi. Klien sering didapatkan adanya kejang, adanya
neuropati perifer, burning feet syndrome, retless leg syndrome, kram otot, dan nyeri
otot.
e. Sistem kardiovaskuler
Hipertensi akibat penimbunan cairan dan garam atau peningkatan aktivitas system
rennin angiostensin aldosteron. Nyeri dada dan sesak napas akibat perikarditis, efusi
pericardial, penyakit jantung koroner akibat aterosklerosis yang timbul dini, dan
gagal jantung akibat penimbunan cairan dan hipertensi.
f. Sistem Endokrin
Gangguan seksual : libido, fertilisasi dan ereksi menurun pada laki-laki akibat
produksi testosterone dan spermatogenesis yang menurun. Sebab lain juga

29
dihubungkan dengan metabolic tertentu. Pada wanita timbul gangguan menstruasi,
gangguan ovulasi sampaiamenorea.
Gangguan metabolism glukosa, resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin.
Pada gagal ginjal yang lanjut (klirens kreatinin < 15 ml/menit) terjadi penuruna
klirens metabolic insulin menyebabkan waktu paruh hormon aktif memanjang.
Keadaan ini dapat menyebabkan kebutuhan obat penurunan glukosa darah akan
berkurang. Gangguan metabolic lemak, dan gangguan metabolism vitamin D.
g. Sistem Perkemihan
Penurunan urine output < 400 ml/ hari sampai anuri, terjadi penurunan libido berat
h. Sistem pencernaan
Didapatkan adanya mual dan muntah, anoreksia, dan diare sekunder dari bau mulut
ammonia, peradangan mukosa mulut, dan ulkus saluran cerna sehingga sering di
dapatkan penurunan intake nutrisi dari kebutuhan.
i. Sistem Muskuloskeletal
Di dapatkan adanya nyeri panggul, sakit kepala, kram otot, nyeri kaki (memburuk
saat malam hari), kulit gatal, ada/ berulangnya infeksi, pruritus, demam ( sepsis,
dehidrasi ), petekie, area ekimosis pada kulit, fraktur tulang, deposit fosfat kalsium
pada kulit jaringan lunak dan sendi, keterbatasan gerak sendi. Didapatkan adanya
kelemahan fisik secara umum sekunder dari anemia dan penurunan perfusi perifer
dari hipertensi.

B. TINJAUAN ASKEP

1. Pengkajian
a) Pre HD
Data Subjektif
Klien mengatakan badan terasa lemas
Klien mengatakan terasa lebih berat
Klien mengatakan sesak nafas
Klien mengatakan cemas
Klien mengatakan belum pernah di hemodialisa
Data Objektif
Tampak terdapat edema di tubuh pasien
Klien tampak sesak
Pemeriksaan fisik: BB, suara nafas, edema, TTV setiap jam
Perhitungan UFGoals

30
Perhitungan Qb (Quick Blood)
Respon terhadap dialysis sebelumnya
Keseimbangan cairan tubuh (CM/CK)
Nilai laboratorium: Hb, ureum, creatinin, PH
Pasien tampak cemas
b) Intra HD
Data Subjektif
Klien mengatakan nyeri pada luka tusukan
Klien mengatakan terasa lemas
Data Objektif
Pemeriksaan fisik : Pengukuran TTV setiap jam
Klien tampak lemas
Hasil observasi : aliran darah pasien (Lancar/Tidak lancar)
c) Post HD
Data Subjektif
Klien mengatakan masih bingung dengan proses HD

Klien mengatakan lemas


Data Objektif
Pengukuran TTV
Pengukuran berat badan klien
Klien tampak lemas
2. Diagnosa
a) Pre
1) Kelebihan volume cairan
2) Resiko kerusakan integritas kulit
3) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
4) Gangguan pertukaran gas
5) Ansietas
6) Defisiensi pengetahuan
7) PK : Asidosis metabolic
b) Intra
1) Resiko infeksi

31
2) Resiko perdarahan
3) Nyeri akut
4) PK : Hipertensi
c) Post
1) Resiko perdarahan
2) Resiko infeksi
3. Perencanaan
a) Prioritas Masalah
Pre Hemodialisa
1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan haluaran urine, diet
berlebihan dan retensi cairan serta natrium.
2. PK asidosis metabolic.
3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kongesti paru, penurunan
curah jantung, penurunan perifer yang mengakibatkan asidosis laktat.
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anoreksia mual dan muntah, pembatasan diet, dan perubahan membrane
mukosa mulut.
5. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penumpukan ureum.
6. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurangnya pajanan.
7. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
Intra Hemodialisa
1. Resiko pendarahan berhubungan dengan pemberian obat anti koagulan
(Heparin).
2. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik.
3. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur infasif.
4. PK hipertensi.
Post Hemodialisa
1. Resiko pendarahan berhubungan dengan pemberian obat anti koagulan
(Heparin).
2. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan infasif
b) Rencana Keperawatan
Pre Hemodialisa

32
1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan haluaran
urine, diet berlebihan dan retensi cairan serta natrium.
- Tujuan dan Kriteria Hasil : Setelah diberikan asuhan
keperawatan selama 1 x 4 jam 30 menit diharapkan pasien :
1. Diharapkan pasien terbebas dari edema, efusi, anaskara.
2. Memelihara tekanan vena sentral, tekanan kapiler paru, dan
output jantung.
3. Vital sign dalam batas normal.
- Intervensi dan Rasional :
1. Kaji lokasi dan luas edema.
R/ Untuk mengetahui ada tidaknya edema pada pasien.
2. Tentukan kemungkinan factor resiko dari ketidakseimbangan
cairan.
R/ Untuk mengetahui ada atau tidaknya cairan yang berlebih
3. Monitor berat badan.
R/ Untuk memudahkan dalam menentukan tindakan yang akan
di berikan.
4. Anjurkan pasien untuk membatasi asuapan cairan.
R/ Untuk mencegah terjadinya kelebihan cairan.
5. Kolaborasi pemberian diuretic sesuai intruksi.
R/ Untuk memudahkan pengeluaran cairan berlebih dalam
tubuh.
2. PK asidosis metabolic.
3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kongesti paru,
penurunan
curah jantung, penurunan perifer yang mengakibatkan asidosis laktat.
- Tujuan dan Kriteria Hasil : Setelah diberikan asuhan
keperawatan selama 1 x 4 jam 30 menit diharapkan pasien :
1. Mendemonstrasikan peningkatan ventilasi dan oksigenasi
yang adekuat.
2. Memelihara kebersihan paru-paru dan bebas dari tanda-tanda
distress.
3. Vital sign dalam batas normal.
- Intervensi dan Rasional :

33
1. Observasi tanda-tanda vital.
R/ Untuk mengetahui keadaan umum pasien.
2. Berikan posisi semi fowler.
R/ Untuk memberikan rasa nyaman.
3. Berikan oksigen.
R/ Agar tubuh mendapatkan asupan oksigen yang cukup.
4. Kolaborasi pemeriksaan AGD.
R/ Untuk mengetahui kadar oksigen dalam darah.
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan anoreksia mual dan muntah, pembatasan diet, dan perubahan
membrane mukosa mulut.
- Tujuan dan Kriteria Hasil : Setelah diberikan asuhan
keperawatan selama 1 x 4 jam 30 menit diharapkan pasien :
1. Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan.
2. Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan.
3. Tidak ada tanda-tanda malnutrisi.
- Intervensi dan Rasional :
1. Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang
dibutuhkan.
R/ Untuk menghindari kelebihan asupan nutrisi.
2. Berikan makanan yang terpilih (yang sudah dikonsultasikan
oleh dokter).
R/ Untuk mendapatkan asupan nutrisi yang seimbang.
3. Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vit. C.
R/ Untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
4. Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi.
R/ Agar keluarga dan pasien mengetahui asupan nutrisi yang
dibutuhkan.
5. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk diet rendah protein dan
garam serta indicator kebutuhan protein.
R/ Untuk diet pasien gagal ginjal.
5. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penumpukan
ureum.

34
- Tujuan dan Kriteria Hasil : Setelah diberikan asuhan
keperawatan selama 1 x 4 jam 30 menit diharapkan pasien :
1. Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan.
2. Perfusi jaringan baik.
3. Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban
kulit dan perawatan alami.
- Intervensi dan Rasional :
1. Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien.
R/ Agar tidak terjadi kram otot dan dekubitus.
2. Anjurkan pasien untuk menggunakan baby oil.
R/ Untuk mengurangi kekeringan pada kulit.
3. Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar.
R/ Agar pasien tidak merasa panas.
6. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurangnya pajanan.
- Tujuan dan Kriteria Hasil : Setelah diberikan asuhan
keperawatan selama 1 x 4 jam 30 menit diharapkan pasien :
1. Pasien dan keluarga mengatakan pemahaman tentang
penyakit, kondisi, prognosis dan program pengobatan.
2. Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang
dijelaskan secara benar.
3. Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang
dijelaskan petugas.
- Intervensi dan Rasional :
1. Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal itu
berhubungan dengan anatomi dan fisiologi dengan cara yang
tepat.
R/ Agar kelurga dan pasien mengerti tentang penyakit yang
dideritanya.
2. Beri tahu tanda dan gejala yang bisa muncul pada penyakit
dengan cara yang tepat.
R/ Untuk menanggulangi komplikasi yang terjadi.
3. Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi dengan cara
yang tepat.
R/ Agar pasien paham tentang kondisinya.

35
7. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
- Tujuan dan Kriteria Hasil : Setelah diberikan asuhan
keperawatan selama 1 x 4 jam 30 menit diharapkan pasien :
1. Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala
cemas.
2. Mengidentifikasi, mengungkapkan dan menunjukkan tekhnik
untuk mengontrol cemas.
3. Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan tingkat
aktivitas menunjukkan berkurangnya kecemasan.
- Intervensi dan Rasional :
1. Observasi tingkat kecemasan pasien.
R/ Untuk mengetahui tingkat pemahaman dan pengetahuan
pasien tentang pnyakitnya.
2. Temani pasien untuk memberikan keamanan dan
mengurangi takut
R/ Agar pasien tampak lebih tenang.
3. Dengarkan dengan penuh perhatian.
R/ Agar pasien merasa dihargai dan diperhatikan.
4. Ajarkan pasien untuk tekhnik relaksasi.
R/ Agar pasien lebih rileks.
Intra Hemodialisa
1. Resiko pendarahan berhubungan dengan pemberian obat anti koagulan
(Heparin).
- Tujuan dan Kriteria Hasil : Setelah diberikan asuhan
keperawatan selama 1 x 4 jam 30 menit diharapkan pasien :
1. Tidak ada hematuria dan hematemesis.
2. Vital sign dalam batas normal.
3. Hemoglobin dan hematokrit dalam batas normal.
- Intervensi dan Rasional :
1. Monitor ketat tanda-tanda pendarahan.
R/ Untuk mencegah pendarahan yang berlebih.
2. Monitor tanda-tanda vital.
R/ Agar mengetahui keadaan umum pasien.
3. Edukasi tanda-tanda pendarahan.
36
R/ Untuk mencegah pendarahanyang berlebih.
4. Kolaborasi dalam pemberian produk darah (Platelet atau
Fresh Frozen Plasma)
R/ Agar pasien tidak kekurangan darah.
2. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik.
- Tujuan dan Kriteria Hasil : Setelah diberikan asuhan
keperawatan selama 1 x 4 jam 30 menit diharapkan pasien :
1. Mampu mengontrol nyeri (Tahu penyebab nyeri, mampu
menggunakan tekhnik non farmakologi untuk mengurangi
nyeri)
2. Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan
manajemen nyeri.
3. Mampu mengenali nyeri (Skala,intensitas,frekuensi, dan
tanda nyeri).
4. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang.
- Intervensi dan Rasional :
1. Observasi reaksi non verbal dari ketidaknyamanan.
R/untuk mengetahui ekspresi nyeri pasien
2. Gunakan tekhnik komunikasi terapeutik untuk mengetahui
pengalaman nyeri pasien.
R/ untuk mengetahui skala nyeri pasien
3. Anjurkan pasien untuk tekhnik distraksi dan relaksasi.
R/ untuk mengurangi nyeri pasien
4. Edukasi dalam melakukan teknik distraksi dan relaksasi
R/ agar pasien bisa melakukannya secara mandiri
5. Kolaborasi dalam pemberian analgetik
R/ untuk mengurangi nyeri yang di rasakan pasien
3. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur infasif.
- Tujuan dan Kriteria Hasil : Setelah diberikan asuhan
keperawatan selama 1 x 4 jam 30 menit diharapkan pasien :
1. klien bebas dari tanda dan gejala infeksi
2. pasien mampu untuk mencegah terjadinya infeksi
3. pasien mampu menunjukan perilaku hidup sehat
- Intervensi dan Rasional :

37
1. Observasi tanda-tanda infeksi
R/ Untuk mengetahui tanda tanda infeksi
2.Lakukan perawatan luka yang baik
R/ Untuk mencegah terjadinya infeksi
3.Edukasi dalam cara pencegahan infeksi
R/ Agar pasien mampu melakukan pencegahan infeksi secara
mandiri
4.Kolaborasi dalam pemberian antibiotic
R/ untuk mencegah penyebaran infeksi
4. PK hipertensi.
Post Hemodialisa
1. Resiko pendarahan berhubungan dengan pemberian obat anti koagulan
(Heparin).
- Tujuan dan Kriteria Hasil : Setelah diberikan asuhan
keperawatan selama 1 x 4 jam 30 menit diharapkan pasien :
1. Tidak ada hematuria dan hematemesis.
2. Vital sign dalam batas normal.
3. Hemoglobin dan hematokrit dalam batas normal.
- Intervensi dan Rasional :
1. Monitor ketat tanda-tanda pendarahan.
R/ Untuk mencegah pendarahan yang berlebih.
2. Monitor tanda-tanda vital.
R/ Agar mengetahui keadaan umum pasien.
3. Edukasi tanda-tanda pendarahan.
R/ Untuk mencegah pendarahanyang berlebih.
4. Kolaborasi dalam pemberian produk darah (Platelet atau
Fresh Frozen Plasma)
R/ Agar pasien tidak kekurangan darah.
2. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan infasif.
- Tujuan dan Kriteria Hasil : Setelah diberikan asuhan
keperawatan selama 1 x 4 jam 30 menit diharapkan pasien :
1. klien bebas dari tanda dan gejala infeksi
2. pasien mampu untuk mencegah terjadinya infeksi
3. pasien mampu menunjukan perilaku hidup sehat
38
- Intervensi dan Rasional :
1. Observasi tanda-tanda infeksi
R/ Untuk mengetahui tanda tanda infeksi
2.Lakukan perawatan luka yang baik
R/ Untuk mencegah terjadinya infeksi
3.Edukasi dalam cara pencegahan infeksi
R/ Agar pasien mampu melakukan pencegahan infeksi secara
mandiri
4.Kolaborasi dalam pemberian antibiotic
R/ untuk mencegah penyebaran infeksi

4. Implementasi
Implementasi merupakan langkah ke empat darri proses keperawatan yang
telah direncanakan oleh perawat untuk dikerjakan dalam rangka membantu klien
untuk mencegah, mengurangi dan menghilangkan dampak atau respon yang
ditimbulkan oleh masalah keperawatan dan kesehatan. (Zaidin Ali, 2014).

5. Evaluasi
Tahap penilaian atau evaluasi adalah perbandingan yang sistematis dan
terencaan tentang kesehatan klien dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan
dengan cara bersinambungan dengan melibatkan klien, keluarga, dan tenaga
kesehatan lainnya. Evaluasi dalam keperawatan merupakan kegiatan dalam menilai
kegiatan keperawatan yang telah ditentukan, untuk mengetahui pemenuhan kebutuhan
klien secara optimal dan mengukur hasil dari proses keperawatan.
Setiadi (2012).

39
40
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikak-Bedah. Vol.2. hal.
1448. Jakarta: EGC.

Sylvia A. dan Lorraine M. Wilson. 1995. Patofisiologi Konsep Klinis Proses -


Proses Penyakit. Jakarta : EGC

Rendy, M. Clevo dan Margareth TH. 2012. Auhan Keperawatan MedikalBedah


dan Penyakit Dalam. Hal.40. Yogyakarta: Nuha Medika.

Doenges, E Marilynn, 2000, hal 628- 629

Nanda. 2011. Diagnosis Keperawatan : Definisi dan Klasifikasi 2012-2014.


Jakarta: EGC

41