Anda di halaman 1dari 22

Tugas kelompok 6

MANAJEMEN PERMODALAN BANK SYARIAH

Di Susun Oleh :

Ahmad Al-Hafiz 1551020104

Fitra Rismawan 1551020032

Imelda Onestia 1551020041

Indri Nadya 1551020182

Dosen Pembimbing :

Muhammad Iqbal, S.E.I., M.E.I.

PROGRAM STUDI PERBANKAN SYARIAH

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

UIN RADEN INTAN LAMPUNG

TAHUN AKADEMIK 2016/2017

BAB I

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang

Bank syariah merupakan lembaga keuangan syariah, yang


berorientasi pada laba (profit). Namun, Laba di sini bukan hanya
untuk kepentingan pemilik saja, melainkan untuk
mengembangkan usaha bank syariah. Laba bank syariah
terutama diperoleh dari selisih antara pendapatan atas
penanaman dana dan biaya-biaya yang dikeluarkan selama
periode tertentu. Untuk dapat memperoleh hasil yang optimal,
bank syariah dituntut untuk melakukan pengelolaan dananya
secara efisien dan efektif, baik atas dana-dana yang dikumpulkan
dari masyarakat (Dana Pihak Ketiga), serta dana modal
pemilik/pendiri bank syariah maupun atas pemanfaatan atau
penanaman dana tersebut.

Kekuatan aspek permodalan ini memungkinkan


terbangunnya kondisi bank yang dipercaya oleh
masyarakat.Permodalan bagi industri perbankan sangat penting
karena berfungsi sebagai penyangga terhadap kemungkinan
terjadinya risiko. Besar kecilnya modal sangat berpengaruh
terhadap kemampuan bank untuk melaksanakan kegiatan
operasinya. Selain itu modal juga berfungsi untuk menjaga
kepercayaan terhadap aktivitas perbankan dalam menjalankan
fungsinya sebagai lembaga intermediasi atas dana yang diterima
dari nasabah.

Dalam makalah ini akan diuraikan pola dalam manajemen


dana bank syariah. Ada beberapa perbedaan pola manajemen
dana antara bank konvensional dengan bank syariah. Perbedaan
tersebut dapat ditemukan dalam uraian-uraian topik makalah ini.
Dalam makalah ini ditulis dengan harapan mampu memberikan
rambu-rambu dalam manajemen dana bank syariah secara baik.

1
Minimal dapat memenuhi tingkat likuiditas, rentabilitas dan
solvabilitas yang baik.

2. Rumusan Masalah
a. Apa yang dimaksud dengan manajemen permodalan bank
syariah?
b. Apa fungsi modal bank?
c. Darimana sumber-sumber permodalan bank syariah?
d. Bagaimana cara menghitung kecukupan modal bank
syariah?
e. Bagaimana penerapan CAR untuk perbankan Indonesia?
f. Bagaimana aktiva tertimbang menurut resiko bank
syariah ?
g. Bagaimana kualitas aktiva produktif bank syariah ?

3. Tujuan Masalah
a. Mengetahui pengertian permodalan bank syariah
b. Mengetahui fungsi modal bank
c. Mengetahui sumber-sumber permodalan bank syariah
d. Mengetahui perhitungan kecukupan modal bank syariah
e. Mengetahui penerapan CAR untuk perbankan Indonesia
f. Mengetahui aktiva tertimbang menurut resiko bank syariah
g. Mengetahui kualitas aktiva produkti bank syariah

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Manajemen Permodalan Bank Syariah

Menurut Zainul Arifin secara tradisional, modal


didefinisikan sebagai sesuatu yang mewakili kepentingan pemilik
dalam suatu perusahaan.1 Berdasarkan nilai buku, modal
didefinisikan sebagai kekayaan bersih yaitu selisih antara nilai
buku dari aktiva dikurangi dengan nilai buku dari kewajiban.

Modal merupakan bagian dari dana yang dapat digunakan


bank dalam aktivitas kesehariannya. Hal penting berkaitan
dengan masalah modal adalah bagaimana melakukan aktivitas
manajemen modal.

Sebagaimana diketahui bersama, bahwa bank adalah


lembaga kepercayaan. Sehingga ketika sudah terkait dalam
persoalan kepercayaan masyarakat terhadap bank tersebut,
maka manajemen bank harus berusaha maksimal dalam
menjaga kepercayaan tersebut. Dan hal yang paling urgen di sini
adalah dari aspek modal yang diatur secara efisien sehingga
dapat memadai. Oleh karena itu, modal juga harus dapat
digunakan untuk menjaga kemungkinan terjadinya resiko
kerugian atas investasi pada aktiva, terutama yang berasal dari
mana-mana pihak ketiga atau masyarakat.

Pada suatu bank, modal pendirian bank diperoleh dari para


pendiri dan para pemegang saham. Pemegang saham

1 Zainal Arifin, Dasar-dasar Manajemen Bank Syariah, (Jakarta:


Alfabeta, 2002), hlm. 157.

3
menempatkan modalnya pada bank dengan harapan
memperoleh hasil keuntungan dimasa yang akan datang.2

B. Fungsi Modal Bank

Bank sebagai unit bisnis membutuhkan darah bisnis, yaitu


berbentuk modal. Dengan kata lain, modal bank adalah aspek
penting bagi suatu unit bisnis bank. Sebab beroperasi tidaknya
atau dipercaya tidaknya suatu bank, salah satunya sangat
dipengarui oleh kondisi kecukupan modalnya.

Modal bank pada prinsipnya memiliki tiga macam fungsi


utama yaitu :

a) Fungsi operasional
b) Fungsi perlindungan
c) Fungsi pengaturan.

Dari tiga fungsi utama tersebut, maka fungsi modal dapat


disimpulkan sebagai berikut :

a) Untuk melindungi deposan dengan menyanggah semua


kerugian atau bila terjadi insolvensi dan dilikuidasi,
terutama bagi sumber dana yang tidak diasuransikan.
b) Untuk memenuhi kebutuhan gedung, inventaris guna
menunjang kegiatan operasional dan aktiva tidak produktif
lainnya.
c) Memenuhi ketentuan permodalan minimum yaitu untuk
menutupi kemungkinan terjadi kerugian pada aktiva yang
memiliki risiko yang tidat dapat diperkirakan sehingga
operasi bank dapat tetap berjalan tanpa mengalami
gangguan yang berarti.

2 Muhammad, Manajemen Perbankan Syariah, (Jakarta:PT RajaGrafindo


Persada, 2014), hlm. 135.

4
d) Untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat mengenai
kemampuan bank memenuhi kewajibannya yang telah
jatuh tempo dan memberi keyakinan mengenai kelanjutan
operasi bank meskipun terjadi kerugian.

Sedangkan menurut Johnson and Johnson, modal bank


mempunyai tiga fungsi.3 Fungsi modal bank sebagai berikut:

a) Sebagai penyangga untuk menyerap kerugian operasional


dan kerugian lainya. Dalam fungsi ini modal memberikan
perlindungan terhadap kegagalan atau kerugian bank dan
perlindungan terhadap kepentingan para deposan.
b) Sebagai dasar untuk menetapkan batas maksimum
pemberian kredit. Hal ini adalah merupakan pertimbangan
operasional bagi bank sentral, sebagai regulator, untuk
membatasi jumlah pemberian kredit kepada setiap individu
nasabah bank.
c) Modal juga menjadi dasar perhitungan bagi para partisipan
pasar untuk mengevaluasi tingkat kemampuan bank
secara relative untuk menghasilkan keuntungan.

Menurut fungsi modal pada suatu bank yang disampaikan


di atas menunjukkan, bahwa kedudukan modal merupakan hal
penting yang harus dipenugi terutama oleh pendiri bank dan
4
para manajemen bank selama beroperasi bank tersebut.

3 Muhammad, Manajemen Perbankan Syariah, (Jakarta:PT RajaGrafindo


Persada, 2014), hlm. 136. Mengutip dari Frank P. Johnson dan Richard D.
Johnson, Commerscial Bank Manajement, New York: The Dryden Press, 1985,
hlm. 331-332., diakses tanggal 22 september 2013.

4 Muhammad, Manajemen Perbankan Syariah, (Jakarta:PT RajaGrafindo


Persada, 2014), hlm. 137

5
C. Sumber-sumber Permodalan Bank Syariah

Sumber dana bank adalah usaha bank dalam menghimpun


dana dari masyarakat. Perolehan dana ini tergantung dari bang
itu sendiri, apakah dari simpanan masyarakat atau dari lembaga
lainnya.5

Kemudian untuk membiayai operasinya, dana dapat pula


diperoleh dari modal sendiri, yaitu dengan mengeluarkan atau
menjual saham. Perolehan dana disesuaikan pula dengan tujuan
dari penggunaan dana tersebut.

Perolehan dana dari sumber bank itu sendiri (modal


sendiri) maksudnya adalah dana yang diperoleh dari dalam bank.
Perolehan dana ini biasanya digunakan apabila bank mengalami
kesulitan untuk memperoleh modal dari luar.

Adapun pencarian modal yang bersumber dari bank itu sendiri


6
terdiri sendiri terdiri dari :

- Setoran modal dari pemegang saham, yaitu merupakan


modal dari para pemegang saham lama atau pemegang
saham baru
- Cadangan laba, yaitu merupakan laba yang setiap tahun
dicadangkan oleh bank dan sementara waktu belum
digunakan. Cadangan ini sengaja disediakan untuk
mengantisipasi laba tahun yang akan datang.
- Laba bank yang belum dibagi, merupakan laba tahun
berjalan tapi belum dibagikan kepada para pemegang

5 Kasmir, Manajemen Perbankan, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada,


2000), hlm. 45.

6 Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, (Jakarta : PT Raja


Grafindo Persada, 1998) hlm. 59.

6
saham. Sehingga dapat dijadikan sumber modal untuk
sementara waktu

Modal inilah yang berfungsi sebagai penyangga dan


penyerap kegagalan atau kerugian bank dan melindungi
kepentingan para pemegang rekening titipan (wadiah) atau
pinjaman (qardh).

D. Kecukupan Modal Bank Syariah

Tingkat kecukupan modal sangat tergantung dari portofolio


asetnya. Sehingga semakin besar penempatan dana pada aset
beresiko tinggi, maka semakin rendah rasio kecukupan modal
yaitu dengan asumsi bahwa tidak ada tambahan modal yang
proporsional. Sebaliknya, penempatan dana pada aset beresiko
rendah, maka dapat menaikkan tingkat kecukupan modal. 7
Tingkat kecukupan modal bank dinyatakan dengan suatu ratio
tertentu yang disebut ratio kecukupan modal atau capital
edequasy ratio (CAR).

Alasan bank untuk memenuhi kecukupan modal antara lain


8
:

1) menghindarkan bank terhadap kemungkinan terjadinya


kegagalan bank,
2) jumlah modal yang dimiliki bank mempengaruhi
pendapatan pemilik bank/pemegang saham,
3) memenuhi batas minimum modal bank (bank capital
reqruitment) yang ditentukan regulator.

7 Taswan, Manajemen Perbankan, Konsep, Teknik dan Aplikasi


(Yogyakarta: UPP STIM YKPN) hlm. 224.

8 Ktut Silvanita Mangani, Lembaga Keuangan Lain, (Penerbit Erlangga,


2009), hlm. 21.

7
Tingkat kecukupan modal ini dapat diukur dengan cara (1)
membandingkan modal dengan dana-dana pihak ketiga dan (2)
membandingkan modal dengan aktiva beresiko.9

1) Membandingkan modal dengan dana-dana pihak ketiga

Dilihat dari sudut perlindungan kepentingan para deposan,


perbandingan antara modal dengan pos-pos pasiva merupakan
petunjuk tentang tingkat keamanan simpanan masyarakat pada
bank. Perhitungannya merupakan ratio modal dikaitkan dengan
simpanan pihak ketiga (giro, deposito dan tabungan) sebagai
berikut :

Modal danCadangan
=10
Giro+ Deposito+Tabungan

Dari perhitungan tersebut diketahui bahwa ratio modal


atas simpanan cukup dengan 10 % dan dengan ratio itu
permodalan bank dianggap sehat. Ratio antara modal dan
simpanan masyarakat harus dipadukan dengan
memperhitungkan aktiva yang mengandung resiko. Oleh karena
itu modal harus dilengkapi oleh berbagai cadangan sebagai
penyangga modal, sehingga secara umum modal bank terdiri
dari modal inti dan modal pelengkap.10

2) Membandingkan modal dengan aktiva beresiko

Ukuran kedua inilah yang dewasa ini menjadi kesepakatan


BIS (Bank for International Settlements) yaitu organisasi bank
sentral dari negara-negara maju yang disponsori oleh Amerika

9 Muhammad, Manajemen Perbankan Syariah, (Jakarta:PT RajaGrafindo


Persada, 2014), hlm. 140.

10 Ibid

8
Serikat, Kanada, negara-negara Eropa Barat dan Jepang.
Kesepakatan tentang ketentuan permodalan itu dicapai pada
tahun 1988, dengan menetapkan CAR, yaitu ratio minimum yang
mendasarkan kepada perbandingan antara modal dengan aktiva
beresiko.

Kesepakatan ini dilatar-belakangi oleh hasil pengamatan


para ahli perbankan negara-negara maju, termasuk para pakar
IMF dan World Bank, tentang adanya ketimpangan struktur dan
sistem perbankan internasional. Hal ini didukung oleh beberapa
indikasi sebagai berikut :

Krisis pinjaman negara-negara Amerika Latin telah


mengganggu kelancaran arus peredaran uang
internasional.
Persaingan yang dianggap unfair antara bank-bank Jepang
dengan bank-bank Amerika dan Eropah di Pasar Uang
Internasional. Bank-bank Jepang memberikan pinjaman
amat lunak (bunga rendah) karena ketentuan CAR di
negara itu amat lunak, yaitu antara 2% sampai 3% saja.
Terganggunya situasi pinjaman internasional yang
berakibat terganggunya perdagangan internasional.

Berdasarkan indikasi-indikasi itu lalu BIS menetapkan


ketentuan perhitungan Capital Edequacy Ratio (CAR) yang harus
diikuti oleh bank-bank di seluruh dunia sebagai aturan main
dalam kompetisi yang fair di pasar keuangan global, yaitu ratio
11
minimum 8% permodalan terhadap aktiva berisiko.

E. Penerapan CAR untuk Perbankan Indonesia

11 Ibid

9
Pada dasarnya setiap bank akan selalu berusaha untuk
meningkatkan jumlah dana sendiri, selain untuk memenuhi
kewajiban menyediakan modal minimum (CAR = Capital
Adequacy Ratio) juga untuk memperkuat kemampuan ekspansi
dan bersaing. Kemampuan setiap bank untuk meningkatkan
modal akan tercermin dari besarnya CAR bank tersebut. Hal ini
merupakan salah satu ukuran tingkat kemampuan dan kesehatan
suatu bank, yang akhirnya akan meningkatkan kepercayaan
masyarakat terhadap suatu bank (baik di dalam maupun di luar
negeri).12

Sebagaimana disinggung sebelumnya, modal bank dibagi


kedalam modal inti dan modal pelengkap, modal inti terdiri dari:

a) Modal setor, yaitu modal yang disetor secara efektif oleh


pemilik. Bagi bank milik koperasi modal setor terdiri dari
simpanan pokok dan simpanan wajib para anggotanya.

b) Agio saham, yaitu selisih lebih dari harga saham dengan nilai
nominal saham.

c) Modal sumbangan, yaitu modal yang diperoleh kembali dari


sumbangan saham, termasuk selisih nilai yang tercatat
dengan harga (apabila saham tersebut dijual).

d) Cadangan umum, yaitu cadangan yang dibentuk dari


penyisihan laba yagn ditahan dengan persetujuan RUPS.

e) Cadangan tujuan, yaitu bagian laba setelah pajak yang


diselisihkan untuk tujuan tertentu atas persetujuan RUPS.

12 Veithzal Rivai, Commercial Bank Management Manajemen


Perbankan dari Teori ke Praktik, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada,
2013), hlm. 183.

10
f) Laba ditahan, yaitu saldo laba bersih setelah pajak yang oleh
RUPS diputuskan untuk tidak dibagikan.

g) Laba tahun lalu, yaitu laba bersih tahun lalu setelah pajak,
yang belum ditetapkan penggunaanya oleh RUPS.

h) Laba tahun berjalan, yaitu laba sebelum pajak yang diperoleh


dalam tahun berjalan.
o Laba ini diperhitungkan hanya 50% sebagai modal
inti.
o Bila tahun berjalan rugi, harus dikurangkan terhadap
modal inti.
i) Bagian kekayaan bersih anak perusahaan yang laporan
keuangannya dikonsolidasikan, yaitu modal inti anak
perusahaan setelah dikompensasikan dengan pertanyaan
bank pada perusahaan tersebut.

Jika kita amati lebih detail lagi, dari modal inti yang berupa;
modal setor, agio saham, modal sumbangan, cadangan umum,
cadangan tujuan, laba ditahan, laba tahun lalu, laba tahun
berjalan, bagian kekayaan bersih anak perusahaan yang laporan
keuangannya dikonsolidasikan, yaitu modal inti anak perusahaan
setelah dikompensasikan dengan penyertaan bank pada anak
perusahaan tersebut, Maka jika dalam pembukuan bank terdapat
goodwill, maka jumlah modal inti harus dikurangkan dengan nilai
goodwill tersebut. Itu artinya, Bank syariah dapat mengikuti
sepenuhnya pengkategorian unsur-unsur tersebut di atas sebagai
modal inti, karena tidak ada hal-hal yang bertentangan dengan
prinsp-prinsp syariah.

11
Sementara jika kita melihat dari modal pelengkap yang terdiri
atas:

a. Cadangan penghapusan aktiva yang diklasifkaskan

b. Modal pinjaman yang mempunyai ciri-ciri :

1. Tidak dijamin oleh bank yang bersangkutan dan


dipersamakan dengan modal dan telah dibayar
penuh
2. Tidak dapat dilunasi atas inisiatif pemilik, tanpa
persetujuan BI
3. Mempunyai kedudukan yang sama dengan modal
dalam hal memikul kerugian bank
4. Pembayaran bunga dapat ditangguhkan bila bank
dalam keadaan rugi

c. Pinjaman subordinasi yang memenuhi syarat-syarat sbb:

1) Ada perjanjian tertulis antara pemberi pinjaman


dengan bank
2) Mendapat persetujuan dari BI
3) Tidak dijamin oleh bank yang bersangkutan
4) Minimal berjangka waktu 5 tahun
5) Pelunasan pinjaman harus dengan persetujuan BI
6) Hak tagih dalam hal terjadi terjadi likuidasi berlaku
paling akhir (kedudukannya sama dengan modal)

Maka, Modal pelengkap ini hanya dapat diperhitungkan


sebagai modal setinggi-tingginya 100 % dari jumlah modal inti.
Khusus menyangkut modal pinjaman dan pinjaman subordinasi,
bank syariah tidak dapat mengkategorikannya sebagai modal,
karena sebagaimana diuraikan di atas, pinjaman harus tunduk
pada prinsip qard dan qard tidak boleh diberikan syarat-syarat

12
seperti ciri-ciri atau syarat-syarat yang diharuskan dalam
ketentuan tersebut.13

Besar kecilnya kecukupan modal sebuah bank dipengaruhi


oleh :

1.Tingkat kualitas manajemen bank yang bersangkutan apabila


suatu bank dipimpin/dikelola oleh suatu kelompok
manajemen yang berkualitas tinggi yang ditinjau dari
berbagai aspek, maka hasilnya tentu akan berlainan
dengan bank yang dikelola oleh suatu kelompok
manajemen yang berkualitas rendah dan tidak kompak.

2. Tingkat likuiditas yang dimilikinya.

Suatu bank yang memiliki alat-alat likuid yang sangat


terbatas dalam memenuhi kewajiban-kewajibannya, akan
ada kemungkinan penyediaan likuiditas tersebut akan
diambil dari permodalannya. Dengan demikian akan
dirasakan oleh manajemen bank yang bersangkutan
betapa terbatasnya modal yang dimiliki oleh bank.

3. Tingkat kualitas dari asset

Suatu bank yang banyak memiliki debitur dan non earning


asset lainnya yang kurang produktif maka sudah dapat
dipastikan bank tersebut tidak dapat melaksanakan
kegiatannya secara lancar. Dan sebaliknya bagi bank yang
mempunyai earning assets yang memadai maka kebutuhan
modalnya akan dapat diperoleh dari laba usaha bank yang
bersangkutan, yang akan berkembang secara komulatif.
Dan sebaliknya apabila bank tersebut rugi terus-menerus
13 Muhammad, Manajemen Perbankan Syariah, (Jakarta:PT
RajaGrafindo Persada, 2014), hlm. 144.

13
maka akan ada kemungkinan pula modalnya akan terkikis
sedikit demi sedikit.

4. Struktur deposito

Apabila bank memperoleh dana sebagian besar berupa


deposito berjangka dan dana-dana mahal lainnya, tentu
akan menimbulkan pula biaya yang tinggi. Apabila biaya itu
tidak dapat ditutup dari penghailan operasionil/ non
operasionil dari bank yang bersangkutan, tentu kerugian
tersebut harus diserap oleh modal/kapital yang dimiliki
hingga akan terasa modal manajemen bank yang
bersangkutan terjadinya kekuarangan modal.

5. Tingkat kualitas dari sistem dan prosedurnya

Sistem dan prosedur operasi suatu bank yang baik tentu


akan menunjang kegiatan usaha bank yang bersangkutan
pada tingkat efisiensi yang tinggi. Dengan efisiensi yang
tingggi in akan memungkinkan bank untuk memperoleh
laba yang akan memperkuat capital dari bank yang
bersangkutan.

6. Tingkat kualitas dan karakter para pemilik saham

Para pemilik saham yang berorientasi kemasa depan bank


yang dimilikinya agar lebih baik dikemudian hari tentu akan
berusaha membentuk akumulasi modal secara maksimal
hingga capital/modal bank yang bersangkutan akan
semakin kuat. Tentu yang terjadi akan sebaliknya apabila
para pemilik saham tersebut menghendaki agar laba yang
diperoleh langsung dibagikan saja, maka capital dari bank
yang bersangkutan tentu tidak akan mengalami
perkembangan.

14
7. Kapasitas untuk memenuhi kebutuhan keuangan jangka
pendek maupun jangka panjang.

8. Riwayat pemupukan modal dan peraturan pembagian laba


yang diperolehnya.

Pada bank-bank pemerintah telah ditetapkan tata cara


pembagian laba yang diperoleh tiap tahun secara pasti,
tentu tidak ada keleluasaan lagi bagi bank yang
bersangkutan dalam memupuk modalnya sesuai dengan
keinginan maupun kebutuhan investasi pengembangan
bank tersebut dikemudian hari.

Hal ini tentu berbeda dengan bank-bank swasta yang


pembagiannya dapat diatur lebih bebas, maka bank-bank ini
akan mempunyai kesempatan mengembangkan capitalnya
secara maksimal.

F. Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (ATMR) Bank


Syariah

Resiko atas modal berkaitan dengan dana yang


diinvestasikan pada aktiva beresiko, baik yang beresiko rendah
ataupun yang resikonya lebih tinggi dari yang lain. ATMR adalah
faktor pembagi (denominator) dari CAR sedangkan modal adalah
faktor yang dibagi (numerator) untuk mengukur kemampuan
modal menanggung resiko atas aktiva tersebut.

Dalam menelaah ATMR pada bank syariah, terlebih dahulu


harus dipertimbangkan , bahwa aktiva bank syariah dapat dibagi
atas:

Aktiva yang didanai oleh modal sendiri dan/atau kewajiban


atau hutang (wadiah atau qard dan sejenisnya) dan

15
Aktiva yang didanai oleh rekening bagi hasil (Profit and loss
Sharing Investment Account) yaitu mudharabah (baik
General Investment Account/mudharabah mutlaqah yang
tercatat pada neraca/on balance sheet maupun Restricted
Investment Account/mudharabah muqayyadah yang
dicatat pada rekening administratif/off balance sheet).

Aktiva yang didanai oleh modal sendiri dan kewajiban atau


hutang, resikonya ditanggung oleh modal sendiri, sedangkan
aktiva yang didanai oleh rekening bagi hasil, resikonya
ditanggung oleh dana rekening bagi hasil itu sendiri. Namun
demikian, sebagaimana telah diuraikan di atas, pemilik rekening
bagi hasil dapat menolak untuk menanggung resiko atas aktiva
yang dibiayainya, apabila terbukti bahwa resiko tersebut timbul
akibat salah urus (mis management), kalalaian atau kecurangan
yang dilakukan oleh manajemen bank selaku mudharib.
Berdasarkan pembagian jenis aktiva tersebut di atas, maka pada
prinsipnya bobot resiko bank syariah atas :

1. Aktiva yang dibiaya oleh modal bank sendiri dan / atau dana
pinjaman (wadiah, card dan sejenisnya) adalah 100 %.

2. Aktiva yang dibiaya oleh pemegang rekening bagi hasil (baik


general ataupun restricted investment account) adalah 50 %

Penggolongan lebih lanjut (berdasarkan rating pihak-pihak


yang dibiayai / pengelola dana investasi atau penjaminnya)
dapat mengkuti ketentuan Bank Indonesia ataupun Busle
commitee yang ada.

G. Kualitas Aktiva Produktif (KAP)

Kualitas aktiva Produktif (KAP) adalah sebagai nilai tingkat


kemungkinan diterimanya kembali dana yang ditanamkan dalam

16
aktiva produktif berdasarkan kriteria tertentu. Aktiva diartikan
sebagai jasa yang akan datang dalam bentuk uang atau jasa
mendatang yang dapat ditukarkan menjadi uang (kecuali jasa-
jasa yang timbul dari kontrak yang belum dijalankan kedua belah
pihak secara sebanding) yang didalamnya terkandung
kepentingan yang bermanfaat yang dijamin menurut hukum atau
keadilan bagi orang atau sekelompok orang tertentu. Aktiva juga
diartikan sebagai manfaat ekonomi yang sangat mungkin
diperoleh atau dikendalikan oleh entitas tertentu pada masa
mendatang sebagai hasil transaksi atau kejadian masa lalu

Kualitas piutang penjualan (murabahah) dana sewa


(ijarah) didasarkan pada kemampuan membayar, kondisi
keuangan dan prospek usaha.
Kualitas investasi pada musyarakah dan mudharabah
dapat didasarkan pada tingkat kesesuaian antara realisasi bagi
hasil dengan proyeksinya, kondisi keuangan dan prospek usaha.
Dalam pembiayaan mudharabah, bank dapat menolak
untuk menanggung risiko, bila disebabkan oleh kesengajaan,
kelalaian atau pelanggaran nasabah. Faktor jaminan dalam
pembiayaan mudharabah dapat diperhitungkan untuk menutup
risiko itu.

Aktiva produktif bank syariah dapat dibedakan atas :

1. Piutang penjualan (murabahah) dan sewa (ijarah)


2. Investasi pada:
Musyarakah
Mudharabah
Salam
Istishna
Persediaan
Aktiva yang disewakan.

17
Kualitas piutang penjualan (murabahah) dan sewa (ijarah)
didasarkan pada kemampuan membayar, kondisi keuangan dan
prospek usaha. Demikian juga kualitas investasi pada
musyarakah dan mudharabah dapat di dasarkan atas tingkat
kesesuaian antara realisasi bagi hasil dengan proyeksinya,
kondisi keuangan dan prospek usaha.

Dalam pembiayaan mudharabah, bank dapat menolak


untuk menanggung resiko, bila ternyata diakibatkan oleh
kesengajaan, kelalian atau pelanggaran oleh nasabah sebagai
mudharib. Berdasarkan hal itu maka faktor jaminan dalam
pembiayaan mudharabah dapat diperhitungkan untuk menutup
resiko tersebut.

Salam dan istishna adalah cara memperoleh barang


dengan membayar di muka sedang barangnya akan diterima
kemudian, dan bukan aktiva produktif. Oleh karena itu tidak
diperlukan perhitungan KAPnya. Sedangkan untuk masalah
pencadangannya diatur dalam standar akuntansi sebagaimana
unsur aktiva lain (seperti aktiva dalam proses). Demikian pula
halnya dengan persediaan dan aktiva yang disewakan.

18
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Modal merupakan faktor yang amat penting bagi


perkembangan dan kemajuan bank sekaligus menjaga
kepercayaan masyarakat. Adapun fungsi dari modal yaitu antara
lain :
1. sebagai penyangga untuk menyerap kerugian operasional
dan kerugian lainnya.
2. sebagai dasar bagi penetapan batas maksimum pemberian
kredit.
3. modal juga menjadi dasar perhitungan bagi para
partisipan pasar untuk mengevaluasi tingkat kemampuan
bank secara relatif dalam menghasilkan keuntungan.
Sumber-sumber permodalan bank syariah :
- Setoran modal dari pemegang saham, yaitu merupakan
modal dari para pemegang saham lama atau pemegang
saham baru
- Cadangan laba, yaitu merupakan laba yang setiap tahun
dicadangkan oleh bank dan sementara waktu belum
digunakan. Cadangan ini sengaja disediakan untuk
mengantisipasi laba tahun yang akan datang.
- Laba bank yang belum dibagi, merupakan laba tahun
berjalan tapi belum dibagikan kepada para pemegang
saham. Sehingga dapat dijadikan sumber modal untuk
sementara waktu

Tingkat kecukupan modal bank dinyatakan dengan suatu


ratio tertentu yang disebut dengan ratio kecukupan modal atau
capital edequacy ratio (CAR). Tingkat kecukupan modal ini dapat

19
diukur dengan cara membandingkan modal dengan dana-dana
pihak ketiga danmembandingkan modal dengan aktiva berisiko.

20
DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zainal. 2002. Dasar-dasar Manajemen Bank Syariah.


Jakarta: Alfabeta
Muhammad. 2014. Manajemen Perbankan Syariah. Jakarta:PT
RajaGrafindo Persada.
Kasmir. 2000. Manajemen Perbankan. Jakarta : PT Raja
Grafindo Persada.
Kasmir. 1998. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. Jakarta :
PT Raja Grafindo Persada.
Taswan. Manajemen Perbankan, Konsep, Teknik dan Aplikasi.
Yogyakarta: UPP STIM YKPN
Silvanita Mangani, Ktut. 2009. Lembaga Keuangan Lain.
Penerbit Erlangga.
Rivai,Veithzal. 2013. Commercial Bank Management
Manajemen Perbankan dari Teori ke Praktik. Jakarta : PT Raja
Grafindo Persada.

21