Anda di halaman 1dari 20

CLINICAL SCIENCE SESSION

TERAPI CAIRAN

Pembimbing:
Yovita Hartantri, dr, Sp.PD-KPTI
Hendarsyah Suryadinata, dr., Sp.PD

Oleh :
Satyadinesh
1301 1214 2543

PROGRAM STUDI PROFESI DOKTER


BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN
RUMAH SAKIT HASAN SADIKIN
BANDUNG
2016

1
TERAPI CAIRAN&ELEKTROLIT

FISIOLOGI CAIRAN TUBUH


Jumlah total air pada tubuh manusia kurang lebih 57% dari berat badan, dan pada
bayi bisa mencapai sampai 75%, namun jumlah ini akan menurun pada usia tua dan juga
menurun pada obesitas.
Asupan cairan berasal dari mulut (per oral) kira-kira 2/3 nya dalam bentuk air
murni dan sianya dalam bentuk minuman lain dan makanan. Sejumlah kecil juga
disintesis dari tubuh berkisar antara 150 sampai 250 cc/hari, tergantung kecepatan
metabolisme. Asupan normal cairan, termasuk yang disintesis oleh tubuh rata-rata 2300
cc/hari.
Pengeluaran cairan tubuh dapat disadari yaitu melalui air seni, keringat, feses dan
secara tak disadari : kulit dan traktus respiratorius. Volume cairan yang hilang juga
bergantung pada suhu dan aktifitas.
Kompartemen cairan tubuh tersebar sebagai berikut:
1. Cairan intraseluler (CIS), yaitu cairan yang berada dalam sel-sel tubuh sekitar 30-40%
berat badan. Volumenya diperngaruhi oleh tekanan osmotik cairan ekstraselular.
2. Cairan ekstraseluler (CES), yaitu semua cairan yang berada di luar sel. Cairan
ekstraseluler terdiri dari cairan interstisial, plasma, cairan serebrospinal, cairan
intraokuler, cairan dalam saluran cerna, dan cairan pada rongga potensial. CES ekstra
seluler dapat dibagi pula menjadi cairan yang terdapat intravaskuler (5%)ataupun
intersisial (15%).
Distribusi volume cairan tubuh berdasar umur adalah sebagai berikut :
Jenis Bayi baru Bayi 3 Dewasa Orang tua
lahir bulan
Cairan intra seluler 40% 40% 40% 27%
Cairan Plasma 5% 5% 5% 7%
Intersisial 35% 25% 15% 18%
ekstraseluler
Total cairan 80% 70% 60% 52%

Komposisi Ion
Cairan tubuh mengandung elektrolit yaitu :

2
- zat non ion : dekstrosa, ureum, kreatinin
- zat ion : Kation : Na+, K+, Ca++, Mg++
Anion : HCO3-, Cl-, fosfat, serat protein, asam organik
Air melintasi membran sel dengan mudah, tetapi zat-zat lain membutuhkan proses
khusus melintasinya, dan dengan demikian komposisi elektrolit di dalam dan luar sel
berbeda. Pada cairan intraseluler K+ merupakan kation utama dan PO43- merupakan anion
utama. Pada cairan ekstra seluler Na+ merupakan anion utama dan Cl- merupakan anion
utama.

DINAMIKA CAIRAN TUBUH ANTAR KOMPARTEMEN


Komposisi dan volume cairan tubuh dipertahankan pada keadaan yang relatif
stabil yang disebut keseimbangan dinamik atau homeostatis. Perpindahan air dan zat
terlarut di antara bagian-bagian tubuh melibatkan mekanisme transpor aktif dan pasif.
Transpor pasif tidak membutuhkan energi, sementara transpor aktif berhubungan dengan
pompa Natrium Kalium dan memerlukan ATP.
Pergerakan cairan tubuh antar kompartemen dapat berlangsung secara:

1. Osmosis
Osmosis adalah pergerakan molekul (zat terlarut) melalui membran
semipermeabel dari larutan berkadar lebih rendah menuju ke kadar yang lebih tinggi
hingga kadar keduanya sama. Seluruh membran sel dan kapiler permeabel terhadap air
sehingga tekanan osmotik cairan tubuh seluruh kompartemen sama. Membran semi
permeabel ialah membran yang dapat dilalui air (pelarut) namun tak dapat dilalui zat
terlarut semisal protein. Tekanan osmotik plasma darah adalah 2855 mOsm/L. Larutan
dengan tekanan osmotik yang sama disebut isotonis (NaCl 0,96%, dekstrosa 5%, Ringer
Laktat). Larutan dengan tekanan osmotik lebih rendah disebut hipotonik (misal akuades),
sedangkan yang lebih tinggi disebut hipertonik (misal mannitol).

2. Difusi

3
Difusi adalah bergeraknya molekul melewati pori-pori. Larutan akan bergerak
dari konsentrasi tinggi ke arah rendah. Tekanan hidrostatik membran juga
memperngaruhi terdorongnya air masuk berdifusi melewati pori-pori tersebut. Difusi
bergantung kepada perbedaan konsentrasi dan tekanan hidristatik. Kecepatan difusi
tergantung pada:
1. Permeabilitas zat menembus membran
2. Perbedaan konsentrasi di antara dua ruang yang terpisah
3. Adanya perbedaan tekanan satu sama lain.
4. Potensial listrik

3. Tekanan Starling
Tekanan osmotik protein sekitar 25 mmHg sedangkan tekanan darah pada ujung arteri
sekitar 35 mmHg dan pada akhir vena 15 mmHg. Akibatnya proses difusi air dan
elektrolit keluar dari kapiler dan kemudian masuk ke cairan intersisial pada ujung arterial
kapiler serta absorpsi air dan elekrolit sekitar 90% di ujung vena.

4. Gibbs-Donna Equilibrium
Cairan intraseluler mengandung lebih banyak anion protein dinding cairan
intersisial. Karenanya kation yang berdifusi (kalium, natrium) meningkat dan anion yang
berdifusi (klorida) menurun sehingga jumlah ion yang berdifusi pada cairan intraseluler
lebih banyak.

5. Pompa Natrium Kalium


Transpor aktif dibagi dua tipe menurut energi yang digunakan yaitu transpor aktif
primer dan sekunder. Pada primer, energi secara langsung dipakai dari pemecahan ATP
atau beberapa senyawa fosfat berenergi tinggi lainnya. Pada transpor aktif sekunder
energi berasal dari energi yang disimpan dalam bentuk perbedaan konsentrasi ionik
antara kedua sisi membran, yang pada salah satu sisi dibentuk oleh transpor aktif primer.
Transpor aktif bergantung pada protein pembawa (transporter) yang melintasi membran,
di mana protein memiliki kemampuan memberi energi untuk zat yang ditranspor untuk
bergerak melawan gradien elektrokimia.

4
Pompa natrium-kalium mentranspor ion kalium keluar dari membran sel dan pada
saat yang sama memompa ion kalium dari luar ke dalam, Tujuannya adalah mencegah
keadaan hiperosmolar intrasel.
Pada saat 3 ion natrium terikat pada bagian protein pembawa, fungsi ATPase ada
protein menjadi aktif, dan akan memecah satu molekul ATP menjadi ADP dan fosfat yang
bernergi tinggi. Energi ini kemudian yang diduga menyebabkan perubahan bentuk pada
protein pembawa, mendorong ion natrium dan ion kalium ke dalam.

RESUSITASI CAIRAN
Sebelum memulai resusitasi cairan, maka sangat penting untuk mendapatkan
akses pembuluh darah yang adekuat dan memungkinkan untuk dilakukan resusitasi
cairan. Sebaiknya perlu dibuat 2 akses pembuluh darah yang efektif. Dapat dibuat 2
akses, dengan menggunakan kateter vena berukuran besar (minimal 16-gauge). Semakin
besar dan pendek kaliber dan ukuran kateter, maka dapat memasukkan cairan dalam
jumlah lebih besar dan cepat. Biasanya dilakukan pada vena-vena lengan bawah.
Pemasangan kateter vena sentral (CVP) juga bermanfaat untuk menilai respon pasien
terhadap resusitasi, monitoring perubahan status cairan. Untuk mengevaluasi
keberhasilan resusitasi sekaligus menilai perfusi ginjal, maka perlu dilakukan
pemasangan kateter.
Resusitasi cairan secara cepat merupakan dasar dari terapi awal cairan pada syok.
Tujuannya adalah segera menstabilkan volume vaskuler dengan mengisi intravaskuler
dengan kehilangan cairan, dan meningkatkan perfusi ke jaringan.
Beberapa literatur tidak menyebutkan seberapa banyak resusitasi cairan yang
harus kita mulai pada awal resusitasi, kecuali berdasarkan monitoring keberhasilan terapi
melalui evaluasi klinis penderita. Namun terdapat sebuah rumusan sederhana untuk
memberikan resusitasi cairan, terutama bila defisit terjadi pada ekstraseluler:
- Cairan : RL atau NaCl 0.9% 20-40 ml/kgBB dalam 1 2 jam, diulang bila syok
masih terjadi
- Kemudian dievaluasi hemodinamik (Tekanan darah dan nadi)
- Perfusi jaringan perifer yang membaik (hangat dan kemerahan)
- CVP normal

5
- Produksi urine 0,5 1 ml/kgBB/jam
Secara umum, cairan yang dipakai dalam resusitasi terbagi menjadi kristaloid dan
cairan koloid.
A. Kristaloid
Kristaloid merupakan golongan cairan yang terdiri atas air dan beberapa zat
terlarut. Terdiri dari kristaloid isotonik (NaCl 0,9% atau normal saline) dan balanced salt
solution (ringer laktat, isolyte, plasma lyte). Yang dapat dipakai dalam resusitasi cairan
adalah cairan yang isotonik dengan plasma yang memiliki natrium sebagai partikel aktif
prinsip osmotiknya. Karena kristaloid memiliki osmolalitas yang sama dengan cairan
tubuh, maka tidak akan terjadi perpindahan cairan dari atau ke dalam kompartemen
intraseluler, sehingga kristaloid memiliki sifat sama dengan cairan ekstraseluler:
75% cairan di ekstravaskuler dan 25% cairan berada di intravaskuler.
Bila digunakan dalam resusitasi cairan, maka diperlukan penggunaan sebanyak 3
4 kali dari estimasi defisit cairan yang terjadi untuk mengatasi distribusi cairan diantara
ruang intravaskuler dan ekstravaskuler. Masa paruhnya dalam intravaskuler sekitar 20
30 menit, dan hanya sekitar 20% yang tersisa dalam intravaskuler setelah 2 jam.
Pemilihan kristaloid yang tepat juga menentukan prognosis selanjutnya.
Penggunaan NaCl 0,9% sebagai larutan resusitasi dapat diterima secara umum baik
karena dapat bercampur dengan baik dengan darah. Namun pada penderita dapat terjadi
asidosis metabolik hiperkloremia akibat kadar klorida yang lebih tinggi daripada plasma.
Larutan Ringer Laktat memiliki keuntungan lebih banyak karena memiliki komposisi
elektrolit yang lebih fisiologis. Laktat yang ditambahkan dapat berubah menjadi
bikarbonat di hepar. Cairan hipertonis kurang baik dipakai sebagai cairan pengganti.
Larutan ini mengekspansi ruang ekstraseluler dengan memindahkan cairan kompartemen
intraseluler. Selain itu juga memiliki efek inotropik positif ringan dan efek vasodilatasi
sistemik dan pulmonal.

B. Koloid

6
Koloid merupakan cairan pengganti pilihan kedua dalam resusitasi cairan pada
syok. Walaupun masih diperdebatkan mengenai kegunaan koloid dalam resusitasi cairan,
tetapi koloid dapat dipilih sebagai pengganti dalam resusitasi cairan pada syok.
Koloid merupakan cairan yang mengandung partikel onkotik, yang dikenal juga
sebagai plasma expander atau plasma substitute. Karena sifatnya yang permeabel parsial
terhadap sawar antara intra- dan ekstravaskuler, maka koloid cenderung bertahan dalam
ruang intravaskuler lebih lama daripada kristaloid. Sejumlah kecil saja koloid yang
diperlukan untuk memperbaiki volume darah sirkulasi. Karena sifat onkotiknya, koloid
cenderung untuk menarik cairan dalam ruang ekstravaskuler ke intravaskuler. Masa
paruhnya dalam ruang intravaskuler jauh lebih lama daripada kristaloid. Larutan koloid
terbagi atas koloid alami (fraksi protein plasma dan human albumin) dan koloid sintetik
(Dekstran, Hetastarch, fluid gelatin).
- Koloid Alami
Contohnya adalah larutan albumin 5 sampai 25%. Memiliki berat molekul 66.000
69.000, dan merupakan yang paling sering dipakai dalam resusitasi cairan. Setiap gram
albumin dapat menahan sekitar 18mL cairan dalam ruang intravaskuler. Masa paruh
albumin sekitar kurang dari 8 jam, dan kurang dari 10% yang meninggalkan rongga
intravaskuler setelah 2 jam. Seperti halnya kristaloid, sulit menilai kapan mengakhiri
resusitasi cairan dengan albumin. Namun karena efeknya yang dapat mengurangi fungsi
paru maka perlu hati-hati dalam penggunaannya.
- Koloid Sintetik
a/. Hetastarch
Hetastarch (hidroksietil starch) merupakan produk sintetis yang tersedia dalam
sediaan 6% dalam larutan saline. Sekitar 46% dari dosis pemberian diekskresi oleh ginjal
dalam 2 hari dan sisa 64% sekitar 8 hari. Merupakan plasma ekspander yang efektif yang
dapat bertahan 3-24 jam dalam intravaskuler. Sebagian besar pasien berespon terhadap
500 1000 ml pemberian.
b/. Dekstran
Terdapat dekstrasn 40 (BM 40.000) dan 70 (BM 70.000), dimana keduanya dapat
dipakai sebagai plasma expander. Merupakan polimer glukosa larut air yang terbuat dari
sukrosa dengan sintesis dari bakteri dan akan didegradasi menjadi glukosa. Makin berat

7
molekulnya, maka makin lama masa paruhnya dalam ruang intravaskuler. Dekstran 70
merupakan plasma expander yang baik, tetapi Dekstran 40 dapat memperbaiki aliran
darah lewat sirkulasi mikro karena dapat menurunkan viskositas darah. Kerugiannya
adalah kemungkinan gagal ginjal, reaksi anafilaksi dan perdarahan.
c/. Lainnya
Golongan lainnya misalnya modified urea gelatin (MFG) dan urea-bridged
gelatin dengan kadar 3,5% dan 4% dalam larutan saline. Keduanya merupakan plasma
expander yang baik.
Sampai saat ini masih menjadi perdebatan mengenai keuntungan dan kerugian
antara penggunaan kristaloid dan koloid dalam resusitasi cairan. Berikut ini diberikan
gambaran keuntungan dan kerugian diantara keduanya.
Kristaloid Koloid
Keuntungan - Murah - bertahan lebih lama
- meningkatkan vol. intravaskuler
intravaskuler - mempertahankan tekanan
- terpilih untuk penanganan onkotik plasma
awal resusitasi cairan - memerlukan volume yang
pada trauma atau lebih sedikit
pembedahan - edema perifer minimal
- mengisi volume - menurunkan tekanan
intravaskuler cepat intrakranial
- mengisi kekosongan
rongga ketiga
Kerugian - menurunkan tekanan - mahal
osmotik - dapat menimbulkan
- menimbulkan edema koaguopati
perifer - pada kebocoran kapiler
- kejadian edema paru cairan pindah ke
meningkat interstitium
- memerlukan volume yang - mengencerkan faktor
lebih banyak pembekuan dan trombosit
- efeknya sementara - menurunkan adhesi

8
trombosit
- dapat menimbulkan reaksi
anafilaktik
- dapat menyumbat tubulus
renal dan RES di hepar

Cara mengetahui kehilangan cairan yang telah terjadi


a. Dari berat badan
Kehilangan air = berat badan normal berat badan sekarang
Jika berat badan turun lebih dari 500gr/hari menunjukkan air telah hilang dari
dalam tubuh(berat badan menurun hanya 100-300gr/hari disebabkan hal lain)
Tambahan berat badan menunjukkan retensi
b.Dari Serum Na+
Air yang hilang = 0,6 x berat badan x serum Na+ yang terukur- 142
Serum Na+ yang terukur
c. Melihat dari gejala
Ringan Rasa haus Dewasa
Tidak minum 1-2 hari Berat badan turun Kehilangan air
1-2 L (2% berat badan)
Sedang Rasa haus berat Dewasa
Tidak minum 3-4 hari Sangat lelah Kehilangan air
3-4 L ( 6%) berat badan
Lidah kering
Oliguria
Serum Na naik
Temperatur tubuh tinggi
Hipertonik
Berat jenis urin naik
Berat Gejala-gejala diatas akan Dewasa
Tidak minum lebih dari 5 bertambah berat Kehilangan air
hari Koma 5-10L (7-14% dari berat
badan)

9
Konsentrasi darah tinggi
Serum Na naik
Menyebabkan kematian
karena tekanan osmotic
meningkat
Viskositas plasma
meningkat
Gangguan mental
Delirium

INDIKASI CAIRAN INTRAVENA


1. Indikasi Ringer Laktat
Ringer laktat dapat digunakan sebagai pengganti cairan ekstraseluler karena
kompisisinya mendekati CES. Larutan RL mengatasi asidosis karena mengandung laktat
yang akan berubah menjadi HCO3-.
a. Bermanfaat untuk profilaksis dan suplai kehilangan cairan ekstraseluler akibat
stress waktu operasi
b. Mempertahankan keseimbangan cairan tubuh dan fungsi ginjal.
c. Mengatasi anuria dan oligouria.
d. Mengatasi kehilangan cairan ekstraselular abnormal akut.
e. Mengatasi asidosis karena sirkulasi perifer tidak cukup.
f. Memperbaiki gangguan pada darah.
2. Indikasi KA-EN
Suplai ataupun penambahan air dan elektrolit pada kondisi berikut:
a. Dehidrasi
b. Penyakit yang tidak diketahui penyebabnya
c. Sebelum dan sesudah pembedahan
d. Suplai air pada bayi premature atau baru lahir.
3. Indikasi Manitol
a. Penatalaksanaan oligouria

10
b. Menurunkan tekanan intracranial dan massa otak serta menurunkan TIO yang
meningkat
c. Meningkatkan diuresis pada intoksikasi obat.

KH Elektrolit
(mEq/L)
Sediaan Glukosa Na+ K+ Ca++ Cl- Laktat Asetat (mOsm/L) Vol(ml)
(gr/L)
Larutan 5% 50 - - - - - - 278 1000&500
Glucose(BP) ml
Larutan 20% 100 - - - - - - 556 500 ml
Glucose (BP)
NaCl 0,9% - 154 - - 154 - - 308 500 ml
N/1- D5 50 154 - - 154 - - 578 500ml
N/2-D2,5 25 77 - - 77 - - 289 500ml
N/4-D5 50 38,5 - - 38,5 - - 353 500ml
N/5-D4 40 31 - - 31 - - 282 500ml
N/5-D10 100 31 - - 31 - - 615 500ml
KAEN 1B 37,5 38,5 - - 38,5 - - 285 500ml
KAEN 3A 27 60 10 - 50 20 - 290 500ml
KAEN 3B 27 50 20 - 50 20 - 290 500ml
KAEN MG3 100 50 20 - 50 20 - 695 500ml
DGAA 25 61 17,5 - 52 26,5 - 296 500ml
Larutan - 147 4 4,5 155,5 - - 310 500ml
Ringer
Lactated - 130 4 3 109 28 - 273 500ml
Ringer(RL)

11
Asering - 130 4 3 109 - 28 273 500ml
(Ringer
Asetat)
Asering -5 50 130 4 3 109 - 28 551 500ml
RL-D5 50 130 4 3 109 28 - 551 500ml
RD5 50 147 4 4,5 155,5 - - 589 500ml
3A 16,7 106 - - 51 55 - 305 500ml
KANDUNGAN CAIRAN INFUS

DEHIDRASI
JENIS DEHIDRASI
1. DEHIDRASI HIPERTONIS
Berkurangnya air tubuh di atas normal tanpa disertai hilangnya elektrolit(garam0,
sehingga tekanan osmotic cairan ekstraseluler naik.
2. DEHIDRASI HIPOTONIS
Berkurangnya total elektrolit(garam) dari tubuh di atas normal tanpa disertai
hilangnya air dari tubuh, sehingga tekanan osmotic cairan ekstraseluler turun.
3. DEHIDRASI ISOTONIS
Kehilangan air dan elektrolit(garam) tubuh di atas normal. Air hilang lebih dulu,
kemudian tahap berikutnya terjadi kehilangan garam, sehingga diperoleh gejala
campuran.

GEJALA DEHIDRASI
GEJALA HIPERTONIK HIPOTONIK
Rasa haus +++ -
Lelah + +++
Hipotensi ortostatik - +++
Membran mukosa kering + -
Volume urin Oliguria Normal
NaCl dalam urin Umumnya + -
Muntah - Mungkin +++
Kejang - Mungkin +++
NaCl plasma Kenaikan rendah atau Penurunan +++
normal

12
Volume plasma Normal sampai tahap Penurunan +++
terakhir
Kenaikan NPN plasma + +++
Konsentrasi darah Ringan/tidak terjadi Penurunan +++
Tekanan darah Normal sampai tahap Penurunan +++
terakhir
Penyerapan air Cepat Lambat
Penyebab kematian Tekanan osmotic tinggi Gangguan sirkulasi perifer

TINGKAT DEHIDRASI
Parameter Ringan Sedang Berat
Kesadaran CM Somnolen/Sopor Soporocomatous
Tensi Normal Agak turun Turun hebat/shok
Nadi Normal Agak cepat Cepat sekali
Asidosis Ringan Berat
Turgor Normal Turun Sangat turun
Ekstremitas Hangat Dingin Dingin,sianosis
Mukosa mulut Basah Kering Sangat kering
Diuresis N/turun Oliguri Anuria

TANDA KLINIK DEHIDRASI


Dehidrasi (%) Observasi klinik
5-6 Heart rate (10% sampai 15% diatas nilai normal)
Selaput lendir agak kering
Urin pekat
Produksi air mata kurang*
7-8 Keparahan tanda diatas bertambah
Turgor kulit berkurang
Oliguria
Mata cekung*
Ubun-ubun depan cekung*
>9 Keparahan tanda-tanda diatas mencolok
Tekanan darah menurun
Pengisian kapiler terlambat(>2 detik)

13
Asidosis(deficit basa)
* Tanda-tanda ini mungkin kurang sensitif daripada indikator dehidrasi lainnya

CARA REHIDRASI
Nilai Status Rehidrasi
I. Dehidrasi (I)
Ringan : Dewasa =4%
Anak = 4%-5%
Sedang: Dewasa = 6%
Anak = 5%-10%
Berat : Dewasa = 8%
Anak = 10%-15%
Shock: 15%-20%

II. Maintenance
Dewasa: 40 cc/kgBB/24jam
Anak:
BB: 0-10 kg = 100 cc/kgBB
10- 20 kg = (1000+50 X)/24 jam
X = setiap kelebihan BB diatas 10 kg
>20 kg = (1500 + 20Y)/24 jam
Y = setiap kelebihan BB diatas 20 kg
Atau,
Berat <10 kg: 100ml/kg/hari
Berat 11 kg sampai 20 kg: 1000 ml+ 50 ml/kg/hari untuk setiap kg diatas 10 kg
Berat >20 kg: 1500 ml+20 ml/kg/hari untuk setiap kg diatas 20 kg

Pemberian:
6 Jam I = 1/2 D + 1/4 M
18 Jam II berikutnya = 1/2 D + 3/4 M

14
Kebutuhan elektrolit rumatan
Na+: 3mEq/kg/hari, atau 3 mEq/100 ml H2O
K+: 2mEq/kg/hari atau 2 mEq/100 ml H20 (dewasa:50 mEq/hari)
Cl-: 3mEq/100mlH20
Glukosa: 5gr/100 ml H20

Evaluasi Resusitasi Cairan dan Perfusi Organ


I. Umum
Selama dan setelah resusitasi cairan kita perlu mengevaluasi keadaan umum
penderita untuk melihat respons terapi yang telah diberikan. Keadaan umum syok yang
telah teratasi biasanya pasien telah sadar atau tingkat kesadarannya mengalami
peningkatan. Tekanan darah normal, dengan nadi yang kuat dan tidak terlalu cepat
sebagai tanda perfusi yang kembali berangsur-angsur menjadi normal. Parameter ini
dapat dipakai untuk menilai kapan perlu dihentikannya resusitasi cairan. Perfusi jaringan
yang baik dapat pula terlihat dari perubahan warna mukosa menjadi lebih kemerahan dan
ekstremitas yang lebih hangat dan merah. Tekanan vena sentral juga dapat
dipertimbangkan penggunaannya terutama pada pasien dengan status cairan yang belum
diketahui sebelumnya atau pada orangtua dan gangguan ginjal, sehingga dapat dihindari
beban cairan berlebih (overload) dan mencegah terjadinya edema pulmonum.

II. Produksi Urine


Jumlah produksi urine merupakan indikator yang baik dalam menilai perfudi
jaringan. Produksi urine yang cukup menggambarkan membaiknya perfusi ke ginjal
sehingga dapat mempertahankan aliran darah ke ginjal dan laju filtrasi glomerulus.
Produksi urine yang diharapkan adalah 0,5 1 ml/kgBB/jam pada orang dewasa, 1
mlc/kgBB/jam pada anak, dan 2 ml/kgBB/jam pada bayi dibawah 1 tahun. Bila produksi
urine masih kurang, maka kemungkinan proses resusitasi belum berhasil dan ginjal
mengalami gagal ginjal akut.

15
III. Keseimbangan Asam-Basa
Penderita syok dapat mengalami ketidakseimbangan asam basa alkalosis
respiratorik ringan yang diikuti asidosis metabolik ringan. Terutama pada keadaan syok
yang lama atau sangat berat. Disebabkan karena meningkatnya kadar laktat darah karena
meningkatnya metabolisme anaerob. Penting untuk menilai defisit basa melalui analisa
gas darah arteri. Resusitasi cairan dan pemberian terapo oksigen yang baik dapat
memperbaiki perfusi jaringan sehingga keadaan asidosis dapat teratasi.

KELAINAN ELEKTROLIT DAN METABOLISME


A. Natrium
1. Hiponatremia
Batasannya adalah kadar Natrium dibawah 135 mEq/L. Dapat disebabkan
pada keadaan hipervolemik oleh gangguan ekskresi air. Keadaan retensi air bisa
disebabkan oleh gagal jantung kongestif (CHF), sirosis dan asites serta gagal
ginjal dan sindroma nefrotik. Dapat juga ditemukan keadaan hiponatremia semu
akibat hiperglikemia atau hiperlipidemia. Setiap kenaikan kadar glukosa 100
mg/dl akan menurunkan natrium serum 1,7 mEq/L..
Keadaaan hiponatremia hipovolemik (hiponatremia disertai kehilangan
air) dapat terjadi pada kedaan muntah kronik, suction NGT, diare kronis, third
space loss (seperti pada luka bakar) serta kelainan di ginjal (hipoaldosteron,
Addison disease).
Keadaan hiponatremia juga bias terjadi pada kadar air normal,
hipoinatremia euvolemik, umumnya akibat SIADH.
Manajemen pada hiponatremia yang pertama adalah mencari dan
mengkoreksi penyebab. Lakukan koreksi secara bertahap, jangan berlebihan
karena dapat menyebabkan central pontine myelosis. Jangan koreksi lebih dari 12
mEq/L dalam 24 jam. Untuk menghitung jumlah Natrium yang dibutuhkan
gunakan rumus :
( 125 kadar Na serum actual ) x (0,6 x BB) = Jumlah Na (mEq)

16
2. Hipernatremia
Didefinisikan sebagai kadar Natrium serum diatas 145 mEq/L. Disebabkan oleh
a. Kehilangan cairan hipotonik
b. Invinsible water loss (cairan tidak keluar melalui ginjal)
c. Hiperalimentasi
Pasien biasanya mengeluh kejang, otot terasa kaku. Serta gejala otak lainnya.
Penatalaksanaan pada hipernatremia dibagi 2 tergantung pada keadaan jumlah air
tubuh.
a. Hipernatremia hipovolemik harus dikoreksi dengan pemberian normal saline
sampai hemodinamik stabil.
b. Hipernatremia hipovolemik dikoreksi dengan diuresis dilanjutkan dengan
dekstrosa 5%.

B. Kalium
1. Hipokalemia
Ditandai dengan kadar K serum dibawah 3,5 mEq/L. Etiologi,
d. Kehilangan melalui GI Track
Misal pada muntah, diare kronis, sindrom malabsorbsi, sedot NGT.
e. Terapi diuretic klasik (tiazid, furosemid, etakrinat acid)
f. Hiperaldosteronisme
g. Pengaturan diet yang tidak seimbang

Gambaran klinis yang paling penting adalah kaku otot, hipotensi


ortostatik, ileus paralisis. Pada pemeriksaan EKG didapat gambaran depresi
segmen ST, pendataran gelombang T.
Penatalaksanaan pada hipokalemia harus selalu memperhatikan kadar
magnesium. Hal ini dikarenakan keadaan hipomagnesemia akan menghambat
penyerapan kalium. Keadaan ini sering terjadi pada pemberian diuretic boros
kalium. Penatalaksanaan hipokalemia adalah sebagai berikut :

17
a. Terapi oral diberikan pada pasien yang mendapatkan diuretic boros kalium.
Suplementasi Kalium 20 mEq diberikan dengan kadar K dicek tiap 2-4
minggu.
b. Terapi Intravena diberikan pada keadaan hipokalemia berat atau pasien
dengan malabsorbsi. Kecepatan pemberian harus terukur. Jika kadar K serum
>2,4 mEq/L tanpa perubahan pola EKG, infus diberikan dengan kecepatan 10-
20 mEq/jam dengan maksimum 200 mEq/24 jam. Jika ada kelainan EKG,
terapi harus agresif dengan kecepatan >40 mEq/jam, periksa K serum tiap 4
jam dan gunakan larutan bebas glukosa. Jangan berikan KCl melalui vena
perifer karena dapat menyebabkan sklerosis vena.

2. Hiperkalemia
Didefinisikan sebagai kadar K serum diatas 5,5 mEq/L. Etiologinya antara lain
a. Renal clearance yang inadekuat
b. Penumpukan kalium akibat nekrosis sel yang luas, misal pada luka bakar, pelvic
trauma.
c. Perpindahan antar rongga tubuh yang cepat, seperti pada perubahan osmolaritas
mendadak, asidosis
d. Addison disease
e. Hipoaldosteron sekunder
Hiperkalemia menunjukkan bermacam gambaran klinis. Yang paling penting
adalah perubahan eksitabilitas jantung, ditandai dengan perunbahan pola EKG. Pada
permulaan terlihat gelombang T meruncing (K.>6,5 mEq) disusul dengan
pemanjangan interval PR, QRS segmen melebar. Akhirnya terjadi pemanjangan
interval QT dan gambaran gelombang sinusoid. Fibrilasi ventrikel terjadi pada kadar
K>10 mEq/L.
Penatalaksanaan pada Hiperkalemia meliputi
a. Calsium Glukonas 10 % diberikan IV diencerkan. Ca-glukonas dapat
menstabilkan otot jantung dan system konduksi jantung.
b. Natrium Bikarbonat, membuat darah jadi alkali dan memindahkan
kalium ke intraseluler. Diberikan IV sebanyak 40-150 mEq selama 30

18
menit atau boleh dibolus pada hiperkalsemia berat. Jangan diberikan
pada pasien CHF karena menambah loading jantung.
c. Insulin, memindahkan Kalium dari ekstrasel ke intrasel. Diberikan IV
10 U dalam dekstrosa 10% selama 5 menit. Respon baru akan terlihat
setelah 1 jam.
d. Obat pertukaran kation seperti natrium polistiren sulfonat
(Kayexalate), menukar Kalium bebas di saluran cerna dengan natrium
yang dikandungnya. Jangan diberikan pada pasien CHF karena
mneningkatkan beban natrium.

19
DAFTAR PUSTAKA

1. Graber MA, Kelainan Elektrolit dan Metabolik, Terapi Cairan, Elektrolit dan
Metabolik, Edisi ke-2, Jakarta: Farmedia: 2003.
2. NN, Protokol Tindakan Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Bandung:
2003
3. NN, Indikasi Cairan IV, Pedoman Cairan Infus ed.V, PT. Otsuka Indonesia,
Jakarta:1994

20