Anda di halaman 1dari 11

MANAJEMEN AGROEKOSISTEM

LAHAN AGROFORESTRI
ASPEK BUDIDAYA PERTANIAN

Disusun Oleh:

Siti Aisyah (155040200111022)


Choirun Nisa (155040200111022)
Refri Fahmi Kurnia (155040200111087)
Izza Azkiya Rachma (155040200111099)
Muhammad Hadi Syarifuddin (155040200111144)
Kharisma Ratu (155040200111152)
Gunawan Wibisono (155040201111025)
Desy Ayu Puspita Sari (155040201111052)
Susila Dewi Agustin (155040201111219)
Yusup Agung Sutejo (155040201111222)

Kelas : M

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2017
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb.
Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan
laporan besar Manajemen Agroekosistem aspek budidaya pertanian
Merupakan suatu penghormatan bagi kami untuk menyajikan karya kecil ini
dalam rangka menyelesaikan laporan praktikum Manajemen Agroekosistem. Pada
kesempatan ini, kami tidak lupa untuk mengucapkan terimakasih kepada beberapa pihak
yang turut membantu dalam penyelesaian laporan praktikum ini baik secara langsung
maupun tak langsung. Maka pada kesempatan ini kami sebagai penulis mengucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1 Bapak dan ibu dosen pengampu mata kuliah Manajemen Agroekosistem yang
telah memberikan mata kuliah Manajemen Agroekosistem dan memberikan
ilmunya kepada kami.
2 Asisten praktikum Manajemen Agroekosistem kelas M yang telah membimbing
kami hingga laporan ini dapat terselesaikan dengan sebaik mungkin.
3 Semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu yang membantu
pembuatan makalah ini.
Kami berharap karya tulis ini bermanfaat bagi semua orang yang membacanya.
Wassalamualaikum Wr.Wb
Malang, 08 Mei 2017

penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.........................................................................................................i
DAFTAR ISI.....................................................................................................................ii
1. PENDAHULUAN.........................................................................................................1
1.1 Latar Belakang.........................................................................................................1
2. PROBLEMATIKA WILAYAH.....................................................................................2
2.1 Problematikan Petani...............................................................................................2
3. PELAKSANAAN DALAM PRAKTEK BUDIDAYA.................................................3

2
3.1 Analisis Kesesuaian Lokasi.....................................................................................3
3.2 Metode Yang Digunakan Untuk Praktek Budidaya.................................................4
3.3 Praktik Keberlanjutan..............................................................................................6
4. ANALISIS USAHATANI.............................................................................................8
5. KESIMPULAN...........................................................................................................10
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................11

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Agroforestri adalah budidaya tanaman kehutanan (pohon-pohon) bersama


dengan tanaman pertanian (tanaman semusim). Manajemen agroekosistem, yakni suatu
ilmu yang menerapkan prinsip-prinsip ekologi didalam merancang, mengelola, dan
mengevaluasi sistem pertanian yang produktif dan lestari, yang disana akan dipelajari
tentang agroekosistem (putra dkk 2013). Pada observasi ini kami menggunakan lahan
UB Forest yang bertempatkan di Desa Sumbersari, Kecamatan Karangploso, Kabupaten
Malang. Jawa Timur. Narasumber kami bernama Bapak Suli, beliau menanam tanaman
kopi komoditas utamanya. Kopi yang di tanam Bapak Suli terdapat dua jenis komoditas,
yaitu arabika dan robusta. Lahan Bapak Suli juga terdapat tanaman selanya, yaitu ada
tanaman kunyit, jahe, dan talas.
Pencapaian keberlanjutan pada aspek lingkungan artinya petani telah melakukan
atau menerapkan pratik budidaya yang ramah lingkungan sehingga menjaga
keberlanjutan lahan untuk digunakan sebagai lahan dalam jangka waktu yang panjang.
Bapak Suli awal tanam sampai pemanenan tidak menggunakan pupuk kimia sama
sekali, beliau hanya menggunakan pupuk organik dari seresah tanaman secara alami.
Irigasi yang dilakukan hanya tergantung curah hujan saja. Putra dkk (2013),
menyatakan, Berkelanjutan secara lingkungan mengandung arti bahwa kegiatan tersebut
harus dapat mempertahankan integritas ekosistem, memelihara daya dukung lingkungan
dan konservasi sumber daya alam termasuk keanekaragaman hayati (biodiversity).
Tujuan dari observasi ini agar kita tahu mengenai lahan yang di olah oleh Bapak
Suli. Dalam lahan tersebut sudah baik apa belum mengenai penggunaan lahannya. Pada
lahan tersebut juga kita tahu nantinya agroekosistem di dalamnya sudah mencakup
empat aspek yang sesuai apa belum, yaitu produktivitasnya, sustaibilytas, stabilitas, dan

3
equability. Serta memberikan rekomendasi untuk aspek budidaya pertaniannya
selanjutnya yang lebih baik.

2. PROBLEMATIKA WILAYAH

2.1 Problematikan Petani

Petani bernama pak suli memiliki lahan seluas 3 ha, produksi tanaman kopi
yang rendah disebabkan karena tanaman kopi dengan naungan pinus yang tidak sesuai
dengan ketentuan yang ada yaitu rendahnya intensitas cahaya yang diterima oleh
tanaman kopi dikarenakan terlalu rapatnya populasi pohon penaung pinus sehingga
intensitas cahaya matahari juga terhalang oleh kanopi pohon pinus. Menurut
Siswoputranto (1992) bahwa tanaman kopi dapat tumbuh baik pada intensitas sekitar 30
-50 persen dari radiasi penuh. Dengan rapatnya populasi pohon pinus tersebut
kemungkinan besar intensitas matahari yang diterima kurang dari 30 persen,sehingga
petani dapat mengatakan produksi kopinya menurun. Kemudian masalah lain tanpa
adanya pemupukan tambahan baik kimia maupun organik, sehingga mempengaruhi
hasil produksi.
Permasalahan lain pada sistem budidaya dilahan agroforestri yaitu petani kopi
baru memulai usaha tani dengan penanaman yang tidak serempak antar dua varietas
kopi, hal ini menyebabkan panen kopi yang tidak seragam sehingga dari 3 ha lahan
hanya menghasilkan produksi 50kg sekali panen dalam luasan 0,5 ha dengan harga biji
kopi kering 20.000/kg dan biji kopi basah 5000/kg pemanenan menggunakan tenaga
kerja 4 orang dengan upah 60.000/orang/hari. Jadi keuntungan yang diperoleh hanya
760.000. Varietas yang pertama kali ditanam adalah robusta kemudian arabica. Dan juga
belum mengoptimalkan penggunaan lahan sehingga masih banyak lahan yang kosong.
Permasalahan lain petani menanam tanaman sela berupa talas dan kunyit secara
tidak teratur sehingga efisiensi penggunaan lahannya sangat rendah, serta pemanenan
kunyit yang terbilang membutuhkan waktu yang lama dan harga yang berubah-ubah,
sehingga tidak dapat mengembalikan modal awal petani.

2
3. PELAKSANAAN DALAM PRAKTEK BUDIDAYA

3.1 Analisis Kesesuaian Lokasi

Suatu ekosistem terbentuk dari dua susunan komponen utama yaitu komponen
biotik dan abiotik, dari kedua komponen tersebut memiliki peran yang berpengaruh
pada kesesuaian lahan untuk pertumbuhan tanaman budidaya, sehingga kegiatan
produksi dapat optimal. Menurut Supardi (2003) lingkungan abiotik adalah segala
benda mati dan keadaan fisik yang berada di sekitar individu misalnya batu-batuan,
mineral, air, udara, unsur-unsur iklim, kelembaban, angin dan lain-lain. Sedangkan
lingkungan biotik adalah segala makhluk hidup yang berada di sekitar individu baik
manusia, hewan dan tumbuhan. Kedua unsur tersebut saling berhubungan dan saling
mempengaruhi satu sama lain, tiap unsur biotik, berinteraksi antar unsur biotik dan juga
dengan atau lingkungan abiotik.
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan pada lahan agroforestri dengan
sistem tanam polikultur yang memiliki komoditas kopi dan pinus, serta tanaman sela
talas dan kunyit yang berada di dusun Sumbersari, desa Tawang Agro kecamatan
Karangploso, kabupaten Malang. Dimana tanaman kopi yang ditanam juga berdeda-
beda, seperti Arabika, Robusta. Kondisi topografi di daerah ini merupakan pegunungan
dengan rata - rata ketinggian wilayah sekitar 1.200 mdpl (BPS, 2014). Dengan
ketinggian tersebut maka tanaman kopi jenis Arabika lah yang paling tepat untuk
dibudidayakan. Hal tersebut dikarenakan kondisi ketinggian yang mendukung untuk
jenis kopi Arabika. Sesuai dengan pernyataan Hulupi (2013), bahwa tanaman kopi jenis
Arabika dapat dibudidayakan pada ketinggian tempat 1.000 2.000 meter dpl, dengan
curah hujan 1.250 2.500 mm setiap tahunnya, bulan kering (curah hujan < 60
mm/bulan) 1-3 bulan serta suhu udara rata rata 15-25C. Sedangkan kopi jenis
Robusta lebih tepat dibudidayakan pada ketinggian 40 900 meter dpl. Kopi Arabika
yang cocok pada ketinggian >1000 meter dpl ini juga menghendaki tanah yang subur
untuk dapat berproduksi dengan optimal. Hal ini dikarenakan tanaman kopi Arabika
bersifat rakus hara atau membutuhkan unsur hara yang banyak. Terutama unsur hara
nitrogen (N), fosfor (F), kalium (K), kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) (Hulupi, 2013).
Adapun syarat dalam budidaya tanaman kopi yang mewajibkan adanya
penaungan membuat adanya sistem polikultur dengan pohon pinus merupakan pilihan

3
yang tepat. Akan tetapi pengaturan jarak tanam pada pohon pinus yang salah juga akan
menimbulkan masalah seperti terhambatnya pertumbuhan tanaman kopi sebagai
komoditas utama. Pohon pinus yang ditanam terlalu berdekatan membuat penaungan
pada tanaman kopi menjadi sangat tinggi, sehingga proses fotosintesis menjadi
terhambat. Seperti yang dikatakan oleh Sakiroh (2013) bahwa Tanaman kopi pada fase
vegetatif memerlukan intensitas cahaya 34% dan fase generatif 50 60%.
Pada lahan kopi yang diamati sudah memiliki tanah yang terbilang subur dan
bertekstur gembur yang memungkinkan memiliki bahan organik cukup tinggi, yang
dapat dilihat dari adanya pengelolaan seresah dengan cara pembalikan tanah yang
dilakukan setiap 6 bulan sekali dan pemberian pupuk organik kompos ke dalam tanah
pada awal penanaman. Tingkat kesuburan tanah pada lahan juga dijelaskan oleh pak
Suli bahwa lahan cukup subur, tanaman dapat tumbuh dengan baik, dan tingkat erosi
cukup rendah bahkan tidak pernah terjadi.
Dari segi biotik terdapat pak Suli yang berperan sebagai manajer lahan yang
berperan sebagai pengelola ekosistem di sekitar lahan agar produksi tanaman yang
dibudidayakan dapat menghasilkan produktivitas yang optimal dan berkelanjutan.
Selain itu juga terdapat cacing dan mikroorganisme lainnya yang berperan dalam
perombakan seresah, dimana biota tanah tersebut terjaga lingkungan hidupnya karena
intensitas penggunaan pupuk kimia yang tidak menyeluruh dan hanya dilakukan pada
awal penanaman kopi.
3.2 Metode Yang Digunakan Untuk Praktek Budidaya

Dalam praktek budidaya pada lahan agroforestri, kita tidak hanya harus
memperhatikan tanaman yang akan kita tanam tetapi juga harus memperhatikan dan
menyesuaikan dengan keadaan lingkungan sekitar lahan. Tidak semua jenis tanaman
dapat ditanam di lahan lahan agroforestri, karena pada lahan tersebut terdapat tanaman
naungan yang dapat mengurangi intensitas pencahayaan yang diperoleh tanaman yang
ada dibawahnya. Menurut Budi Hadi (2002) Dalam penentuan jenis tanaman
memerlukan pengetahuan yang cukup banyak untuk menentukan jenis tanaman yang
cocok untuk dibudidayakan.
Hal-hal yang dilakukan untuk praktek budidaya pada lahan agroforestri di
wilayah UB Forest antara lain yaitu :
1. Penataan tanaman naungan

4
2. Pelaksanaan polikultur
3. Pemanfaatan lahan kosong
4. Pembuatan saluran drainase.
Pada lahan agroforestri yang telah diamati, tanaman naungan (tanaman pinus)
tidak tertata dengan rapih. Maka dari itu metode yang akan dilakukan adalah penataan
tanaman naungan, yaitu dengan cara penebangan pohon pinus yang memiliki jarak
tanam terlalu rapat. Hal tersebut bertujuan agar jarak tanam antar pohon pinus tidak
terlalu rapat dan sehingga intensitas cahaya matahari yang masuk ke lahan dan
ketanaman bisa tercukupi.
Apabila pohon pinus telah tertata dengan baik, maka hal yang selanjutnya
dilakukan adalah pelaksanaan polikultur, yaitu dengan penanaman tanaman kopi di sela-
sela pohon pinus, serta penanaman tanaman talas sebagai tanaman sela. Pelaksanaan
polikultur bertujuan untuk meningkatkan biodiversitas pada lahan tersebut. Selain itu,
pelaksanaan polikultur juga dapat meningkatkan pendapatan petani karena semakin
banyak tanaman yang menghasilkan. Pada lahan agroforestri yang telah diamati, masih
terdapat pula beberapa daerah lahan yang masih kosong. Agar pemanfaatan lahan
menjadi maksimal, maka daerah kosong tersebut dapat dimanfaatkan dengan cara
ditanami tanaman kopi dan tanaman sela talas. Setiap lahan pertanian membutuhkan
saluran drainase atau saluran pembuangan agar lahan tersebut tidak mengalami
kelebihan air ataupun penggenangan air. Begitu pula dengan lahan agroforestri, dalam
praktek pelaksanaan budidaya nya dibutuhkan saluran drainase yang baik. Oleh sebab
itu, pada setiap lorong guludan dan ditengah-tengah lahan diberi saluran drainase guna
mengurangi kelebihan air. Menurut Suhardjono (1984) Tujuan saluran drainase ini
antara lain : mengeringkan daerah becek dan genangan air sehingga tidak ada akumulasi
air tanah, menurunkan permukaan air tanah pada tingkat yang ideal, mengendalikan
erosi tanah, kerusakan jalan dan bangunan yang ada, dan mengendalikan air hujan yang
berlebihan sehingga tidak terjadi bencana banjir.
3.3 Praktik Keberlanjutan

Pada lahan yang telah disurvei kita dapatkan bahwa petani yang kita
wawancarai tidak menggunakan pupuk organik maupun pupuk kimia,karena bapak Suli
hanya mengandalkan seresah daun dari tanaman pinus,karena menurut bapak Suli
cukup dengan serasah yang jatuh sudah dapat menyediakan unsur hara bagi tanaman
kopi maupun tanaman sela yang berada dilahan tersebut. Serasah yang jatuh akan

5
terdekomposisi oleh mikroorganisme dan termineralisasi menjadi unsur-unsur yang
siap digunakan oleh tanaman dan dapat memberikan nutrisi bagi organisme yang berada
disekitarnya.
Pada lahan bapak Suli tersebut sudah dapat dikatakan sistem pertanian
berkelanjutan (sustainability) karena bapak Suli tidak menggunakan pupuk kimia
maupun pestisida sehingga dapat menjaga lingkungan mengurangi rusaknya struktur
tanah dan musnahnya mikroba tanah sehingga dari hari ke hari lahan pertanian kita
menjadi semakin kritis.
Pertanian berkelanjutan sebenarnya mempertahankan basis sumberdaya alam
seperti tanah, air, dan keanekaragaman hayati yang memberikan sumbangan bagi
perlindungan modal alami. Dan pertanian berkelanjutan juga mempunyai tujuan yaitu
meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat tani secara luas melalui
peningkatan produksi pertanian yang dilakukan secara seimbang dengan memperhatikan
daya dukung ekosistem sehingga keberlanjutan produksi dapat terus dipertahankan
dalam jangka panjang dengan meminimalkan terjadinya kerusakan lingkungan
(Tandisau dan Herniwati, 2009).
Menurut Mason, John. (2003), sistem pertanian berkelanjutan harus memenuhi
tiga prinsip dasar seperti yang dijelaskan berikut ini.
1. Keberlanjutan Ekonomi. Agar sebuah kegiatan bisa berlanjut, sebuah usahatani
harus secara ekonomi menguntungkan. Pertanian berkelanjutan dapat
meningkatkan kelayakan ekonomi melalui banyak cara. Secara singkat,
meningkatkan pengelolaan tanah dan rotasi tanaman akan meningkatkan hasil,
dalam jangka pendek maupun jangka panjang, karena meningkatkan kualitas
tanah dan ketersediaan air
2. Keberlanjutan Lingkungan. Pertanian berkelanjutan sering digambarkan sebagai
kegiatan yang layak secara ekologis yang tidak atau sedikit memberikan dampak
negatif terhadap ekosistem alam, atau bahkan memperbaiki kualitas lingkungan
dan sumberdaya alam pada mana kegiatan pertanian bergantung. Biasanya hal di
dicapai dengan cara melindungi, mendaur-ulang, mengganti dan/atau
mempertahankan basis sumberdaya alam seperti tanah dan air yang memberikan
sumbangan terhadap perlindungan modal alami. Dalam pertanian berkelanjutan,
penggunaan bahan kimia yang dikenal berbahaya bagi organisme tanah, struktur
tanah dan keanekaragaman hayati dihindari atau dikurangi sampai minimum.

6
3. Keberlanjutan Sosial. Keberlanjutan sosial berkaitan dengan kualitas hidup dari
mereka yang bekerja dan hidup di pertanian, demikian juga dengan masyarakat
di sekitarnya Dalam konteks pengangguran yang tinggi, pertanian berkelanjutan
mempromosikan pembagian nilai tambah pertanian bagi lebih banyak anggota
mayarakat melalui lebih banyak penggunaan tenaga kerja yang tersedia, dan
akan meningkatkan kohesi dan keadilan sosial.
4. ANALISIS USAHATANI

Setelah melakukan wawancara terhadap narasumber pemilik lahan agroforestri


tersebut, dapat diketahui bahwa ada beberapa faktor yang dapat menjadi kendala dalam
produksi usahatani yang meliputi modal, tenaga kerja, teknis budidaya, pemasaran, dan
informasi serta teknologi yang dapat menunjang. Menurut Soekartawi (1986), tujuan
dari usahatani adalah untuk memaksimalkan keuntungan dan meminimalisir biaya input
dengan cara mengalokasikan sumberdaya dengan jumlah tertentu seefisien mungkin
untuk mendapatkan keuntungan dan dengan cara menekan biaya sekecil-kecilnya untuk
mencapai tingkat produksi tertentu.
Usahatani tersebut dilakukan perorangan tanpa adanya bantuan dari banyak
orang ataupun pihak-pihak terkait. Usahatani yang dilakukan termasuk usahatani
komersil dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan Pada usahatani ini, tenaga kerja
yang dibutuhkan hanya pada saat melakukan pemangkasan dan pemanenan kopi dengan
jumlah 4 orang dengan upah 60.000/orang/hari.Tanaman kopi tersebut didapatkan dari
pembelian benih sebanyak 500 benih dengan harga satuan Rp. 1500. Keuntungan yang
2
diterima saat panen kopi sebanyak 50 kg/ 500 m sebanyak Rp. 760.00 dengan

rincian harga kopi basah Rp. 5.000/kg dan harga kopi kering Rp. 20.000/kg. Selain
tanaman kopi sebagai tanaman utama, di lahan tersebut juga terdapat tanaman sela
seperti kunyit dan talas. Harga jual kunyit Rp 3.000/kg dan talas Rp. 5.000/kg
tergantung dari harga pasar.
Dalam hal teknis budidaya yang dilakukan, banyak ditemukan kesalahan
terutama dalam hal jarak tanam. Jarak tanam kopi yang dilakukan yakni 2x2 meter,
sedangkan untuk tanaman pinus yakni 2x3 meter. Padahal menurut Rahardjo (2012),
jarak tanam kopi yang sesuai yakni 2,5 x 2,5 meter. Dengan rapatnya jarak tanam
tersebut, petani memiliki masalah dalam hal rendahnya intensitas matahari yang

7
diperoleh tanaman kopi akibat ternaungi oleh pohon pinus sehingga tanaman kopi
tersebut tidak dapat memproduksi secara maksimal.
Dari segi pemasaran, baik buah kopi, kunyit, dan talas dijual ke luar daerah
melalui tengkulak dikarenakan di daerah tersebut rata-rata setiap kepala keluarga juga
membudidayakan tanaman kopi, kunyit, dan talas. Dengan menjual ke luar daerah
diharapkan keuntungan yang didapatkan maksimal. Namun untuk hasil produksi talas,
sebagian dikonsumsi sendiri. Penjualan tersebut dalam bentuk mentahan tanpa adanya
pengolahan terlebih dahulu untuk menambah nilai ekonomis. Untuk permasalahan harga
tergantung dari harga pasar, jika terjadi panen raya maka harga jual menjadi rendah.
Dengan adanya berbagai permasalahan dalam usahatani tersebut, dibutuhkan
solusi-solusi untuk meningkatkan produktivitas dan memaksimalkan keuntungan yang
didapatkan. Perlu dilakukannya pemberian informasi mengenai teknis budidaya yang
tepat dan cara pemasaran yang dapat meningkatkan nilai jual. Untuk meningkatkan hasil
produksi tanaman kopi, perlu dilakukan penebangan beberapa tanaman pinus yang
menghalangi masuknya intensitas matahari. Sedangkan untuk meningkatkan nilai jual,
hasil produksi tersebut dilakukan pemrosesan atau pengolahan menjadi produk jadi
yang dapat meningkatkan nilai jual dan dalam pemasaran, harus mempersingkat rantai
pemasaran seperti tanpa menggunakan lembaga pemasaran yang terlalu banyak.
5. KESIMPULAN

Dalam praktek budidaya pada lahan agroforestri, tidak hanya harus


memperhatikan tanaman yang akan dibudidayakan tetapi juga harus memperhatikan dan
menyesuaikan keadaan lingkungan sekitar lahan. Tidak semua jenis tanaman dapat
ditanam di lahan lahan agroforestri, karena pada lahan tersebut terdapat tanaman
naungan yang dapat mengurangi intensitas pencahayaan yang diperoleh tanaman yang
ada dibawahnya. Oleh karena itu dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam melakukan
budidaya pada lahan agroforestri yang berkelanjutan, dapat digunakan metode antara
lain penataan tanaman naungan, pelaksanaan polikultur, pergiliran/rotasi tanaman,
pemanfaatan lahan kosong, dan pembuatan saluran drainase.
DAFTAR PUSTAKA

Budi, Hadi, Andi Gustaini S. 2002. Kesesuaian Jenis tanaman untuk rehabilitasi lahan
kritis bekas penambangan Batu Apung di Sub Das Serdang, DAS Menanga,
Lombok Timur. Lombok : Buletin Teknologi Pengelolaan DAS

8
De Foresta, H. and G. Michon. 1997. The agroforest alternative to Imperata grasslands:
when smallholder agriculture and forestry reach sustainability. Agroforestry
Systems 36:105-120.
Hulupi, Retno. 2013. Pedoman Budidaya dan Pemeliharaan Tanaman Kopi di Kebun
Campur. World Agroforestry Centre (ICRAF). Bogor.
Mason, John. 2003. Sustainable Agriculture. 2nd Edition. Land Links Press.
Collingwood, Victoria.
Putra, S., Purwanto dan kismartini. 2013. Perencanaan Pertanian Berkelanjutan di
Kecamatan Selo. Prosiding Seminar Nasonal Pengelolaan Sumberdaya Alam
dan Lingkungan.
Putra, S., Purwanto dan kismartini. 2013. Perencanaan Pertanian Berkelanjutan di
Kecamatan Selo. Prosiding Seminar Nasonal Pengelolaan Sumberdaya Alam
dan Lingkungan.
Rahardjo, Pudji. 2012. Panduan Budidaya dan Pengolahan Kopi Arabika dan Robusta.
Penebar Swadaya: Jakarta.
Sakiroh, Sobari I, Herman M. 2013. Pertumbuhan, Produksi, dan Cita Rasa Kopi pada
Berbagai Tanaman Penaung. Seminar Nasional Inovasi Teknologi Kopi. 157-
166.
Siswoputranto, P.S., 1992. Kopi Internasional dan Indonesia. Kanisius. Yogyakarta.
Soekartawi, dkk. 1986. Ilmu Usahatani dan Penelitian untuk Pengembangan Petani
Kecil. Penerbit Universtas Indonesia: Jakarta.
Suhardjono, 1984, Drainasi, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Malang
Tandisau, Peter Dan Herniwati (2009). Prospek Pengembangan Pertanian Organik Di
Sulawesi Selatan. Prosiding Seminar Nasional Serealia. 2009. Balai Pengkajian
Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan.