Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PENDAHULUAN

STEVEN JOHNSON

OLEH:
ANNA MARIA FRANSISCA
NIM.113063J116005

PROGRAM PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SUAKA INSAN
BANJARMASIN
2016
I. KONSEP TEORI
a. Pengertian
Sindrom Steven Johnson adalah sindroma yang mengenai kulit, selaput lendir
di orifisium dan mata dengan keadaan umum bervariasi dari ringan sampai berat,
kelainan pada kulit berupa eritema, vesikel/bula, dapat disertai purpura ( Mochtar
Hamzah, 2005 : 147 )
Sindrom Steven Johnson adalah sindrom kelainan kulit berupa eritema,
vesikel/bula, dapat disertai purpura yang mengenai kulit, selaput lender di
orifisium dan mata dengan keadaan umum bervariasi dari baik sampai buruk.
(Mansjoer, A. ,Kapita Selekta Kedokteran, 2000 : 136 )
Sindrom Steven Johnson adalah penyakit kulit akut dan berat yang terdiri dari
erupsi kulit, kelainan dimukosa dan konjungtifitis. ( Junadi, 1982: 480

b. Etiologi
Penyebab belum diketahui dengan pasti, namun beberapa factor yang dapat
dianggap sebagai penyebab adalah:
a. Alergi obat secara sistemik ( misalnya penisilin, analgetik, anti piretik )
Penisilline
Sthreptomicine
Sulfonamide
Tetrasiklin
Anti piretik atau analgesic ( derifat, salisil/pirazolon, metamizol,
metampiron dan paracetamol )
Kloepromazin
Karbamazepin
Kirin Antipirin
Tegretol

b. Infeksi mikroorganisme ( bakteri, virus, jamur dan parasit )


c. Neoplasma dan factor endokrin
d. Factor fisik ( sinar matahari, radiasi, sinar-X )
e. Makanan (coklat)

c. Tanda dan Gejala


Keadaan umumnya bervariasi dari ringan sampai berat. Pada yang berat
kesadarannya menurun, penderita dapat soporous sampai koma. Mulainya
penyakit akut dapat disertai gejala prodromal berupa demam tinggi, malaise, nyeri
kepala, batuk, pilek dan nyeri tenggorokan. Trias Steven Johnson (Hudak & Gallo,
2010. Hlm: 601) adalah :
1) Kelainan kulit
Kelainan kulit terdiri dari eritema, vesikel dan bula. Vesikel dan
bula kemudian memecah sehingga terjadi erosi yang luas. Disamping itu
dapat juga terjadi purpura. Pada bentuk yang berat kelainannya
generalisata.
2) Kelainan selaput lendir di orifisium
Kelainan selaput lendir yang tersering ialah pada mukosa mulut
(100%) kemudian disusul oleh kelainan dilubang alat genetal (50%)
sedangkan dilubang hidung dan anus jarang (masing-masing 8% dan 4%).
Kelainan berupa vesikel dan bula yang cepat memecah sehingga
menjadi erosi dan ekskoriasi dan krusta kehitaman. Juga dalam terbentuk
pseudomembran. Dibibir kelainan yang sering tampak ialah krusta
berwarna hitam yang tebal.
Kelainan dimukosa dapat juga terdapat difaring, traktus
respiratorius bagian atas dan esopfagus. Stomatitis ini dapat menyebabkan
penderita sukar tidak dapat menelan. Adanya pseudomembran di faring
dapat menyebabkan keluhan sukar bernafas.
3) Kelainan mata
Kelainan mata merupakan 80% diantara semua kasus yang
tersering ialah konjungtivitis kataralis. Selain itu juga dapat berupa
kongjungtifitis purulen, perdarahan, ulkus korena, iritis dan iridosiklitis.
Disamping trias kelainan tersebut dapat pula terdapat kelainan lain,
misalnya: nefritis dan onikolisis.

d. Epidemiologi
Steven Johnson merupakan sindrom kelainan kulit pada selaput lendir
orifisium mata gebital. Prediksi : mulut, mata, kulit, ginjal, dan anus. Steven
Johnson tersebut disebabkan oleh beberapa mikroorganisme virus. Sindrom ini
jarang dijumpai pada usia 3 tahun, kebawah kemudian umurnya bervariasi dari
ringan sampai berat. Pada yang berat kesadarannya menurun, penderita dapat
soporous sampai koma, mulainya penyakit akut dapat disertai gejala prodiomal
berupa demam tinggi, malaise, nyeri kepala, batuk, pilek dan nyeri
tenggorokan.4Sindrom Steven Johnson ditemukan oleh dua dokter anak Amerika.
A. M. Steven dan S.C Johnson, 1992 Sindrom Steven Johnson yang bisa disingkat
SSJ merupakan reaksi alergi yang hebat terhadap obat-obatan. Angka kejadian
Sindrom Steven Johnson sebenarnya tidak tinggi hanya sekitar 1-14 per 1 juta
penduduk. Sindrom Steven Johnson dapat timbul sebagai gatal- gatal hebat pada
mulanya, diikuti dengan bengkak dan kemerahan pada kulit. Setelah beberapa
waktu, bila obat yang menyebabkan tidak dihentikan, serta dapat timbul demam,
sariawan pada mulut, mata, anus, dan kemaluan serta dapat terjadi luka-luka
seperti keropeng pada kulit. Namun pada keadaan-keadaan kelainan sistem imun
seperti HIV dan AIDS angka kejadiannya dapat meningkat secara tajam. SSJ
diperkirakan 2-3% perjuta populasi setiap tahun di Eropa dan Amerika
Serikat.Berdasarkan kasus yang terdaftar dan diobservasi kejadian SSJ terjadi 1-3
kasus per satu juta penduduk setiap tahunnya, yang umumnya dewasa. Angka
kematian akibat SSJ bervariasi antara 5-12%. Walaupun SSJ mempengaruhi orang
dari semua umur, tampaknya anak lebih rentan terkena sindrom ini. Dari data
diatas penulis tertarik mengangkat kasus Sindrom Steven Johnson karena Sindrom
Steven Johnson sangat berbahaya bahkan dapat menyebabkan kematian. Sindrom
tidak menyerang anak dibawah 3 tahun, dan penyebab Sindrom Steven Johnson
sendiri sangat bervariasi ada yang dari obat-obatan dan dari alergi yang hebat,
dan ciri-ciri penyakit Steven Johnson sendiri gatal-gatal pada kulit dan badan
kemerah-merahan dan Sindrom ini bervariasi ada yang berat dan ada yang ringan

e. Pathofisiologi
Sindrom Stevens-Johnson merupakan penyakit hipersensitivitas yang
diperantarai oleh kompleks imun yang mungkin disebabkan oleh beberapa jenis
obat, infeksi virus dan keganasan. Patogenesisnya belum jelas, diduga disebabkan
oleh reaksi hipersensitif tipe III dan IV. Reaksi tipe III terjadi akibat terbentuknya
kompleks antigen antibody yang membentuk mikro-presitipasi sehingga terjadi
akumulasi neutrophil yang kemudian melepaskan lisozim dan menyebabkan
kerusakan jaringan pada target organ. Reaksi hipersensitifitas tipe IV terjadi akibat
limfosit T yang tersintesisasi berkontak kembali dengan antigen yang sama
kemudian limfokin dilepaskan sehingga terjadi reaksi peradangan (Corwin, 2001)
f. Diagnosa Medik
1 Pemeriksaan laboratorium:
Tidak ada pemeriksaan laboratorium (selain biopsi) yang dapat
membantu dokter dalam menegakkan diagnosa.
2 Pemeriksaan darah lengkap (CBC)
dapat menunjukkan kadar sel darah putih yang normal atau
leukositosis nonspesifik. Penurunan tajam kadar sel darah putih dapat
mengindikasikan kemungkinan infeksi bakterial berat.
3 Determine renal function and evaluate urine for blood.
4 Pemeriksaan elektrolit.
5 Kultur darah, urine, dan luka diindikasikan ketika infeksi dicurigai terjadi.
6 Pemeriksaan bronchoscopy, esophagogastro duodenoscopy (EGD), dan
kolonoskopi dapat dilakukan.
7 Chest radiography untuk mengindikasikan adanya pneumonitis.
8 Pemeriksaan histopatologi dan imonohistokimia dapat mendukung
ditegakkannya diagnosa.
9 Tes lainya :
- Biopsi kulit memperlihatkan luka superiderma
- Adanya mikrosis sel epidermis
- Infiltrasi limposit pada daerah ferivaskulator

g. Penatalaksanaan
1. Terapi suportif
Merupakan penatalaksaan standar pada klien SSJ. Klien yang umumnya
dating dengan keadaan umum berat membutuhkan cairan dan elektrolit, serta
kebutuhan kalori dan proten yang sesuai parenteral. Pemberian cairan
tergantunga dari luasnya kelainan kulit dan mukosa yang terlibat. Pemberian
nutrisi melalui NGT dilakukan sampai mukosa oral kembali normal. Lesi di
mukosa mulut diberikan obat pencuci mulut dan salep gliserin.
2. Antibiotik
Bagi klien dengan infeksi diberikan antibiotic spektrum luas, biasanya
dipergunakan gentamisin 5mg/kgBB/hari intramuscular dalam dua dosis.
Pemberian antibiotic selanjutnya berdasarkan hasil biakan dan uji esistensi
kuman dari sediaan lesi kulir dan darah.
3. Obat Kortikosteroid
DIberikan secara parenteral, biasanya deksametason dengan dosis awal
1mg/kgBB bolus, kemudian selama 3 hari 0,2-0,5mg/kgBB setiap 6jam,
setelah itu diturunkan berangsur-angsur dan bila mungkin diganti dengan
prednisone per oral.
4. Human Intravenous Immunoglobulin (IVIG)
Penggunaannya dapat menghentikan progretivitas penyakit SSJ dengan
dosis 1gr/kgBB selama 3 hari berturut-turut.
5. Perawatan kulit dan mata
Kulit dibersihkan dengan larutan saling fisiologis atau dikompres dengan
larutan Burrow. Pada kulit atau epidermis yang mengalami nekrosis dapat
dilakukan debridement. Untuk mencegah sekuele ocular dapat diberikan obat
tetes mata dengan antriseptik.
6. Faktor penyebab harus segera diatasi atau dihindari
7. Antihistamin
Bila diperlukan terutama bila ada rasa gatal.
8. Lesi mulut diberi kenalog in orabase
9. Tidak diperbolehkan menggunakan steroid topical pada lesi kulit

II. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


a. Pengkajian
1. Keluhan utama
Adanya kerusakan atau perubahan struktur kulit dan mukosa
berupa kulit melepuh, mata merah, mukosa mulut mengelupas
2. Pemeriksaan Fisik
Lakukan pengkajian fisik dengan penekanan khusus:
- Adanya eritema, yaitu kemerahan yang disebabkan oleh peningkatan
jumlah darah yang teroksigenasi pada vaskularisasi dermal.
- Vesikel, bula dan purpura
- Ekimosis, yaitu kemerahan yang terlokalisir atau perubahan warna
keunguan yang disebabkan oleh ekstravasasi darah ke dalam jaringan
kulit dan subkutan
- Ptekie, yaitu bercak kecil dan berbatas tajam pada lapisan epidermis
superfisial
- Lesi sekunder, yaitu perubahan kulit yang terjadi karena perubahan
pada lesi primer, yang disebabkan oleh obat, involusi dan pemulihan.
- Konjungtivitis, ulkus korena, iritis dan iridoksiklitis
- Kelainan selaput lendir di mukosa mulut, genetalia, hidung dan anus
b. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan integritas kulit b.d. inflamasi dermal dan epidermal
2. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d. kesulitan menelan
3. Gangguan intoleransi aktivitas b.d. kelemahan fisik

c. Intervensi dan Rasional


Diagnosa 1 :
a. Observasi kulit setiap hari catat turgor sirkulasi dan sensori serta perubahan
lainnya yang terjadi.
Rasional: menentukan garis dasar dimana perubahan pada status dapat
dibandingkan dan melakukan intervensi yang tepat
b. Gunakan pakaian tipis dan alat tenun yang lembut
Rasional: menurunkan iritasi garis jahitan dan tekanan dari baju, membiarkan
insisi terbuka terhadap udara meningkat proses penyembuhan dan menurunkan
resiko infeksi
c. Jaga kebersihan alat tenun
Rasional: untuk mencegah infeksi
d. Kolaborasi dengan tim medis
Rasional: untuk mencegah infeksi lebih lanjut

Diagnosa 2:
a. Kaji kebiasaan makanan yang disukai/tidak disukai
Rasional: memberikan pasien/orang terdekat rasa kontrol, meningkatkan
partisipasi dalam perawatan dan dapat memperbaiki pemasukan
b. Berikan makanan dalam porsi sedikit tapi sering
Rasional: membantu mencegah distensi gaster/ketidaknyamanan
c. Hidangkan makanan dalam keadaan hangat
Rasional: meningkatkan nafsu makan
d. Kerjasama dengan ahli gizi
Rasional: kalori protein dan vitamin untuk memenuhi peningkatan kebutuhan
metabolik, mempertahankan berat badan dan mendorong regenerasi jaringan.

Diagnosa 3 :
a. Kaji respon individu terhadap aktivitas
Rasional: mengetahui tingkat kemampuan individu dalam pemenuhan
aktivitas sehari-hari.
b. Bantu klien dalam memenuhi aktivitas sehari-hari dengan tingkat
keterbatasan yang dimiliki klien
Rasional: energi yang dikeluarkan lebih optimal
c. Jelaskan pentingnya pembatasan energi
Rasional: energi penting untuk membantu proses metabolisme tubuh
d. Libatkan keluarga dalam pemenuhan aktivitas klien
Rasional: klien mendapat dukungan psikologi dari keluarga

d. Evaluasi
- Menunjukkan kulit dan jaringan kulit yang utuh
- Menunjukkan berat badan stabil/peningkatan berat badan
- Klien melaporkan peningkatan toleransi aktivitas

III. DAFTAR PUSTAKA


Arif Mansjoer, Suprohaitan, Wahyu Ika W, Wiwiek S. Kapita Selekta Kedokteran.
Penerbit Media Aesculapius. FKUI Jakarta : 2000.
Hamzah, Mochtar. 2005. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi 4. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI.
Hamzah M. Sindrom Steven Johnson, 2002 ; ilmu penyakit kulit dan kelamin.
Edisi keempat. Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Jakarta