Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH EVOLUSI

TEORI-TEORI EVOLUSI

Oleh:
NI MADE AYU LARASHATI
163112620120102

JURUSAN S1 BIOLOGI MEDIK


FAKULTAS BIOLOGI
UNIVERSITAS NASIONAL JAKARTA
2017

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kenyataan menunjukkan bahwa makhluk hidup penghuni planet bumi kita sangat
beranekaragam yang tertampak dari struktur tubuh, fungsi-fungsi tubuh, dan perilaku setiap
jenis (spesies) makhluk. Walaupun di antara jenis-jenis makhluk hidup itu beranekaragam,
namun kemiripan dalam hal-hal tertentu masih juga terlihat. Berlandaskan pada kenyataan
yang demikian ini para ilmuwan mencoba untuk menafsirkan bahwa jenis-jenis yang
beraneka-ragam itu terlihat pola yang sama, sehingga diduga berasal dari moyang yang sama.
Dengan kata lain, antara jenis satu dengan yang lain ada hubungan kekerabatan. Pendapat ini
merupakan paham dalam teori evolusi.
Evolusi makhluk hidup merupakan salah satu teori yang dikaji atau dipelajari oleh
Biologi. Teori ini sebenarnya telah dipersoalkan sejak perkembangan ilmu di masa Romawi
dan Yunani kuno, namun secara ilmiah terori ini baru dikemukakan oleh Charles Robert
Darwin yang ditulis dalam buku yang berjudul : The Origin of Species diterbitkan 24
Nopember 1859. Secara garis besar teori ini menyatakan bahwa makhluk hidup yang ada di
dunia sampai dengan saat ini merupakan hasil perkembangan dari makhluk yang telah ada
sebelumnya, baik yang menyangkut struktur maupun fungsi, secara turun-temurun dari
generasi ke generasi. Dengan demikian, perubahan yang merupakan hasil perkembangan itu
berlangsung dalam waktu yang amat panjang, yaitu jutaan tahun seiring dengan evolusi alam
semesta.
Walaupun para ahli telah mengemukakan pemikirannya tentang teori evolusi, namun
teori evolusi masih banyak dipertentangkan hingga saat ini. Dan nampaknya belum ada satu
pun teori yang dapat menjawab semua fakta dan fenomena tentang sejarah perkembangan
makhluk hidup. Terlebih lagi jika penentang itu berasal dari tokoh agama, sehinga untuk lebih
menetralisasi (memperlunak) agar pertentangan tidak lebih meruncing paham evolusi sering
juga disebut sebagai Hipotesis Evolusi, yang kebenarannya masih perlu diuji lebih lanjut.
B. Tujuan
1. Untuk dapat mengetahui pengertian evolusi.
2. Untuk dapat mengetahui teori-teori evolusi dari para ahli.
3. Untuk dapat menganalisis perbandingan teori evolusi Lamarck, Weismann, dan Darwin.
4. Untuk dapat menjelaskan mekanisme evolusi.
5. Untuk mengetahui bukti evolusi

BAB II
PEMBAHASAN

1. PENGERTIAN EVOLUSI
Evolusi adalah merupakan kata yang berasal dari bahasa latin yakni evolvere yang
artinya membuka gulungan atau membuka lapisan, kemudian bahasa itu diserap dalam
bahasa inggris menjadi evolution yang berarti perkembangan secara bertahap. Istilah evolusi
digunakan pertama kali dalam pengertian ilmiah modern pada tahun 1832 oleh seorang
Geologis berkebangsaan Skotlandia bernama Charles Lyell. Selanjutnya, Charles Darwin
kemudian menggunakan istilah ini satu kali dalam paragraf penutup bukunya yang berjudul
The Origin of Species (Asal Mula Spesies) pada tahun 1859. Dalam buku itu Charles Darwin
juga menjelaskan bahwa setiap spesies sebenarnya berasal dari sekumpulan gen yang sama.
Teori inilah yang mengawali masa biologi modern dan satu-satunya teori yang dapat
menjelaskan tentang keanekaragaman hayati di dunia ini. Istilah ini kemudian dipopulerkan
oleh Herbert Spencer dan ahli biologi lainnya (Saputra, 2011).
Evolusi juga dapat diartiakan sebagai suatu proses perubahan atau perkembangan
secara bertahap atau perlahan. Perubahan yang dimaksudkan disini adalah perubahan struktur
dan fungsi makhluk hidup dari yang sederhana menuju struktur dan fungsi yang kompleks
dan beragam. Perubahan yang terjadi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu; perubahan
progresif dan perubahan retrogresif. Perubahan progresif yaitu perubahan struktur dan fungsi
makhluk hidup dari kondisi sederhana menuju kondisi yang maju atau modern untuk dapat
bertahan hidup. Perubahan retrogresif yaitu perubahan struktur dan fungsi yang menuju
kepunahan. Kepunahan terjadi tidak hanya karena mundurnya struktur dan fungsi tetapi juga
dapat terjadi karena perkembangan struktur dan fungsi yang melebihi proporsinya sehingga
makhluk hidup tersebut tidak mampu bertahan hidup.
Evolusi juga dapat dikatakan sebagai perubahan sifat yang diturunkan dari generasi ke
generasi selanjutnya. Sifat-sifat yang muncul adalah sifat genetik yang mampu dipertahankan
setelah melalui proses adaptasi, seleksi, dan mutasi. Sifat baru muncul ketika sebuah populasi
berpindah dari suatu habitat dan harus beradaptasi dengan lingkungan baru atau sifat baru
juga bisa muncul karena adanya perkawinan dari individu yang berbeda. Dalam proses
adaptasi akan tersisa individu yang bisa beradaptasi dan bisa bertahan di habitat baru,
sedangkan yang tidak mampu beradaptasi dan bertahan maka individu itu akan mati/punah.
Suatu perubahan disebut evolusi apabila memenuhi kriteria: harus terjadi pada populasi,
bersifat selektif, terjadi perubahan frekuensi gen pada populasi bahan evolusi, frekuensi gen
yang tetap pada populasi hasil evolusi, dan memakan waktu yang lama (Asterisma, 2013).
2. TEORI-TEORI EVOLUSI MENURUT PARA AHLI
Teori evolusi sudah dikemukakan sejak zaman Aristoteles dimana teori tersebut
berusaha menjelaskan proses evolusi yang meliputi sumber variabilitas, organisasi variasi
genetic dalam populasi, diferensiasi populasi, isolasi reproduktif, asal mula spesies dan
hibridisasi. Teori tentang evolusi merupakan teori yang tetap hangat dipertentangkan hingga
saat ini. Banyak teori yang telah dikemukakan para ahli, tetapi tampaknya belum satupun
teori yang dapat menjawab semua fakta dan fenomena tentang sejarah perkembangan
makhluk hidup. Sejak abad ke-6 sebelum masehi, para ahli sudah mencoba mengemukakan
pendapatnya tentang asal usul berbagai jenis makhluk hidup yang ada di dunia, misalnya
(Memet, 2013):
1. Aristoteles (384322 SM)
Aristoteles adalah seorang filosof yang berasal dari Yunani, yang mencetuskan teori
evolusi. Ia mengatakan bahwa evolusi yang terjadi berdasarkan metafisika alam,
maksudnya metafisika alam dapat mengubah organisme dan habitatnya dari bentuk
sederhana ke bentuk yang lebih kompleks.
2. Anaximander (500 SM)
Filsuf Yunani ini sering disebut sebagai evolusionis pertama. Anaximander mempercayai
bahwa manusia berevolusi dari makhluk akuatik mirip ikan yang pindah ke barat.
3. Empedocles (495-435 SM)
Empedocles adalah filsuf Yunani yang menyatakan bahwa kehidupan muncul dari
lumpur dan tumbuhan, kemudian berubah menjadi hewan. Menurut Empedocles,
makhluk-makhluk pertama memilki bentuk seperti monster. Bentuk makhluk-makhluk
ini berubah dan makhluk-makhluk yang memiliki bentuk paling baik yang mampu
bertahan hidup. Pemikiran Empledocles ini adalah bentuk dari seleksi alam yang
merupakan mekanisme penting dalam evolusi.
4. Teori Kreasionisme
Teori kreasionisme merupakan teori tentang penciptaan yang terjadi dalam sekali waktu
kehidupan sekaligus lengkap, kemudian selesai dan tidak ada lagi evolusi atau
perubahan. Paham ini dianut berdasar pada keyakinan agama, juga berdasarkan
keterangan Aristoteles. Teori kreasionisme dianggap tidak valid karena kenyataannya
banyak spesies yang hidupnya tidak sekaligus ada pada satu zaman.Misalnya masa hidup
dinosaurus tidak bersamaan dengan masa hidup manusia.
5. James Hutton (Teori Gradualisme)
Teori gradualisme dikemukakan oleh ahli Geologi Swedia bernama James Hutton ( 1726
1797). Paham tersebut menyatakan bahwa perubahan geologis berlangsung pelan-pelan
tetapi pasti.Tetapi teori gradualisme ini tidak mampu dijelaskan dengan mekanisme yang
meyakinkan.
6. Erasmus Darwin (1731-1802)
Ia menulis prosa berjudul Zoonomia yang intinya menyatakan kehidupan itu berawal dari
asal mula yang sama dan bahwa respons fungsional akan diwariskan pada keturunannya.
Erasmus Darwin adalah kakek dari Charles Darwin.
7. Sir Charles Lyell (1797-1875) (Teori Uniformitarianisme)
Lyell adalah seorang ahli geologi Skotlandia yang berpendapat bahwa permukaan bumi
terbentuk melalui proses bertahap dalam jangka waktu yang lama. Pendapatnya
bertentangan dengan pendapat kebanyakan pada waktu itu yang menganggap bumi masih
berusia muda. Lyell menerbitkan teorinya dalam buku Principles of Geology. Hasil
karnya ini mempengaruhi pemikiran Charles Darwin, dan Lyell menjadi salah satu
pendukung Darwin di kemudian hari.
8. Thomas Robert Malthus (1766-1834)
Malthus adalah ahli ekonomi Inggris dengan bukunya Essay on the Principle of
Population, yang intinya menyatakan tidak adanya keseimbangan antara penduduk dan
bahan makanan. Selanjutnya, muncullah kata-kata yang digunakan oleh Darwin, yaitu
perjuangan untuk hidup (struggle for life)
9. George Cuvier (1769-1832) (Teori Katastropisme)
Menyatakan bahwa pada setiap masa diciptakan makhluk hidup yang berbeda. Teori ini
disebut katastropisme.
10. Count De Buffon (1707 1788)
Buffon berpendapat bahwa variasi-variasi yang terjadi karena pengaruh alam sekitar
diwariskan sehingga terjadi penimbunan variasi.
Setelah masa itu, bermunculan pendapat para ahli biologi lain. Mereka menyatakan
bahwa makhluk hidup senantiasa mengalami perubahan secara berangsur-angsur dalam
waktu yang lama. Perubahan-perubahan itu menyebabkan munculnya sifat-sifat baru. Sifat
baru ini pada mulanya hanya penunjukkan sedikit penyimpangan dari moyangnya. Akan
tetapi, pada generasi selanjutnya penyimpangan-penyimpangan itu semakin banyak sehingga
muncul spesies baru. Hal itu kemudian dasar teori evolusi. Beberapa tokoh pencetus teori
evolusi adalah (Niamullah, 2012):
A. Jean Baptise de Lamarck (1744 1829)
Seorang ahli biologi kebangsaan Perancis yang membuat suatu teori tentang
makhluk hidup sederhana dan yang modern memiliki suatu hubungan asal-muasal. J.B
Lamarck mengungkapkan bahwa makhluk hidup merupakan tingkat-tingkat
perkembangan kehidupan, sedang manusia berada di puncak perkembangan tersebut.
Yang artinya bahwa tidak akan muncul lagi makhluk hidup yang lebih tinggi tingkat
kesempurnaannya di masa yang akan datang. Proses perkembangan tersebut menurut
Lamarck dipengaruhi oleh kebiasaan. Kebiasaan tersebut akan menyebabkan perubahan
struktur tubuh (anatomi) dan diwariskan kepada keturunannya. Sebagai akibat pengaruh
kebiasaan tersebut, Lamarck menyimpulkan bahwa organ-organ yang digunakan akan
berkembang sedangkan organ yang tidak digunakan akan mengalami kemunduran (use
and disuse) (Suryati, 2009). Selanjutnya teori Lamarck dikenal dengan paham Use And
Diuse dari buku Philosophie Zoologique. Dalam bukunya, Lamarck menjelaskan
teorinya dengan intisari sebagai berikut.
- Makhluk hidup sederhana adalah nenek moyang dari makhluk hidup yang
sempurna/modern dengan tingkat kompleksitas yang tinggi.
- Makhluk hidup akan senantiasa beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan
lingkungan sekitarnya dengan menggunakan organ tubuhnya.
- Organ tubuh yang sering dipakai atau digunakan akan berkembang ke taraf yang
lebih baik, sedangkan organ yang jarang ataupun tidak pernah digunakan akan
menghilang.
- Perubahan organ tubuh akan diwariskan dan diturunkan ke generasi berikutnya
atau keturunannya.

Gambar 1. Jean Baptise de Lamarck


Sumber: http://www.ourstory.info/library/3-FF/SLF/prof8.html

Contoh yang digunakan Lamarck untuk memperkuat teorinya adalah pada


binatang/hewan menjangan. Pada awal mula ceritanya, menjangan tidak memiliki tanduk.
Akan tetapi karena kepalanya sering digunakan untuk beradu kepala dengan menjangan
yang lain maka tumbuhlah tanduk panjang. Semakin sering beradu kepala maka semakin
panjang tanduknya.
Contoh lain yang dapat digunakan oleh Lamarck adalah jerapah.
Menurut Lamarck, pada awalnya jerapah memiliki leher pendek. Oleh karena
makanannya berupa daun-daun yang tinggi, maka jerapah berusaha untuk dapat
menjangkaunya. Karena terbiasa dengan hal ini maka semakin lama leher jerapah menjadi
semakin panjang dan pada generasi berikutnya akan lebih panjang lagi. Dari contoh
tersebut jelas bahwa faktor lingkungan yakni pucuk dedaunan yang makin tinggi untuk
dijangkau, telah memengaruhi jerapah untuk menjulurkan lehernya. Akhirnya terjadi
perubahan struktur anatomi leher jerapah menjadi semakin panjang dan sifat ini
diwariskan kepada keturunannya (Rochmah, 2009).

Gambar 2. Perkembangan leher jerapah berdasarkan teori use dan disuse


Sumber: Biologi, 2009

Teori Lamarck ditentang oleh Erasmus Darwin (kakek dari Charles Darwin)
yang mengatakan bahwa populasi jerapah adalah heterogen, ada yang berleher pendek
dan ada yang berleher panjang. Jerapah-jerapah tersebut berkompetisi untuk mendapatkan
makanan. Dari persaingan tersebut jerapah berleher panjang akan menang dan akan tetap
hidup, sifat ini akan diwariskan kepada keturunannya. Jerapah yang berleher pendek akan
mati dan perlahan- lahan mengalami kepunahan.
B. Alfred Russel Wallace
Alfred Russel Wallace (1823-1913) mengembangkan suatu teori seleksi alam
yang pada dasarnya sama dengan yang dikemukakan oleh Darwin. Teori evolusi Wallace
berasal dari hasil ekspedisi ke daerah bekas jajahan Inggris di Malaysia, kemudian
Borneo (Kalimantan), Sulawesi, dan Maluku. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa
fauna di Indonesia Barat berbeda dengan Indonesia Timur. Pengamatan yang lain tentang
hukum alam yaitu terjadinya persaingan antara individu intra maupun interspesies atau
survival of the fittest.

Gambar 3. Alfred Russel Wallace


Sumber: https://diogenesii.wordpress.com/tag/alfred-russel-wallace/

C. Charles Robert Darwin


Charles Robert Darwin (1809-1882) yang dikenal sebagai Bapak Teori Evolusi
lahir di daerah Inggris bagian barat. Teori evolusi Darwin tidak muncul begitu saja,
namun berdasarkan hasil perjalanannya dengan kapan Beagle ke kepulauan Galapagos
dan studi terhadap berbagai disiplin ilmu.
a. Pelayaran Darwin ke Kepulauan Galapagos
Saat berlayar dari Inggris menggunakan kapal HMS Beagle, Darwin berusia 22
tahun (bulan Desember 1831). Tujuan utama pelayaran tersebut adalah untuk
memetakan pesisir pantai Amerika Selatan yang masih belum jelas. Pada saat
awak kapal sibuk memetakan pesisir pantai, Darwin turun ke pantai, mengamati
dan mengoleksi ratusan spesimen fauna dan flora Amerika Selatan yang beraneka
ragam dan endemik. Selain itu, saat kapal mengelilingi benua Amerika, Darwin
mengamati berbagai adaptasi tumbuhan dan hewan yang menempati hutan Brazil,
bentangan padang rumput di Argentina, daratan terpencil Tierra del Fuego dekat
Argentina, dan pegunungan Andes. Setelah mencatat flora dan fauna di berbagai
wilayah Amerika Selatan, Darwin menyimpulkan bahwa flora dan fauna di
Amerika Selatan mempunyai karakteristik khusus yang sangat berbeda dengan
flora dan fauna di Eropa. Darwin juga mengatakan bahwa flora dan fauna di
daerah beriklim sedang mempunyai hubungan yang lebih dekat dengan spesies
yang hidup di wilayah tropis benua tersebut, dibandingkan spesies di daerah
beriklim sedang di Eropa. Fauna yang paling membingungkan Darwin ditemukan
di Kepulauan Galapagos, yaitu kepulauan yang berada di sebelah barat pesisir
Amerika Selatan. Pada umumnya, spesies fauna di Galapagos tidak ditemukan
hidup di tempat lain, meskipun ada kesamaan dengan hewan di Amerika Selatan.
Setelah mengadakan pengamatan, diantaranya Darwin menemukan 14 jenis
burung finch di Galapagos. Meskipun jenis-jenis tersebut agak mirip, namun
terlihat sebagai spesies yang berbeda yang menunjukkan hubungan dengan burung
Finch yang ada di Amerika Selatan.

Perbedaan utama burung finch, yaitu pada bentuk dan ukuran paruhnya yang
merupakan adaptasi terhadap makanan tertentu. Kelompok pertama burung Finch
yang hidup di tanah (Geospiza magnirostris) mempunyai paruh yang besar yang
teradaptasi untuk memecahkan biji, kelompok kedua finch (Camarhynchus
pallidus) yang menggunakan suatu duri kaktus atau ranting kecil sebagai alat
untuk mengorek semut atau serangga lainnya, dan kelompok ketiga adalah
kelompok kecil finch (Camarhynchus parvulus) yang menggunakan paruhnya
untuk menangkap serangga.

b. Teori Evolusi Darwin


Charles Darwin mengemukakan teori evolusinya secara lengkap dalam buku
yang berjudul On The Origin of Species by Means of Natural Selection (Asal mula
spesies yang terjadi melalui seleksi alam) yang diterbitkan pada 24 November 1859.
Dalam buku ini dikemukakan dua teori pokok, yaitu:
1) Spesies yang hidup sekarang berasal dari spesies-spesies yang hidup di
masa silam.
2) Evolusi terjadi melalui seleksi alam.
Teori Evolusi Darwin juga menjelaskan bahwa proses seleksi alam memastikan
bahwa perubahan genetik meningkatkan proses reproduksi dan mereka menjadi lebih
umum dari generasi ke generasi berikutnya. Dengan demikian, banyak sifat yang
terbukti bermanfaat dan diteruskan kepada keturunannya. Lebih banyak keturunan
yang dihasilkan sehingga proses ini dapat bekerja dan memastikan bahwa keturunan
yang masih hidup adalah individu yang paling cocok atau yang paling sesuai dengan
habitat atau lingkungan baru. Akhirnya, spesies ini mulai bersaing untuk bertahan
hidup antara satu sama lain. Sekali lagi, proses seleksi alam memastikan bahwa salah
satu yang terkuat akan bertahan. Spesies yang tidak dapat beradaptasi atau bertahan
menjadi punah. Beberapa faktor tentang spesies cenderung beradaptasi selama proses
ini termasuk didalamnya adalah tinggi badan, berat badan, rambut tubuh, dan
sebagainya. Ciri lain yang menjadi penting adalah daya tarik suatu spesies terhadap
satu sama lain atau spesies lain untuk tujuan memastikan mitra reproduksi potensial.
Ini disebut sebagai seleksi seksual (Alim, 2013).

Dua teori utama Darwin merupakan hasil pengamatan Darwin sebagai berikut:
Pengamatan ke-1, setiap spesies mempunyai potensial fertilisasi yang besar
sehingga ukuran populasinya akan meningkat secara eksponensial bila setiap
individu yang dilahirkan berhasil melakukan percobaan.
Pengamatan ke-2, ukuran populasi cenderung menjadi stabil kecuali fluktuasi
musiman.
Pengamatan ke-3, sumber daya alam terbatas.
Pengamatan ke-4, individu-individu populasi sangat bervariasi dalam hal ciri-ciri
tubuh, namun tidak ada dua individu yang benar-benar sama.
Pengamatan ke-5, kebanyakan variasi diwariskan pada keturunannya. Setelah
Darwin menyelesaikan perjalanannya dan kembali ke Inggris, ia banyak
mempelajari geologi, terutama tentang fosil. Buku yang berpengaruh besar
terhadap Darwin adalah Principles of Geology (Prinsip-Prinsip Geologi) karangan
Charles Lyell. Setelah mempelajari buku tersebut, Darwin berkesimpulan bahwa:
1) deretan fosil yang terdapat di batuan muda berbeda dengan fosil pada
batuan yang lebih tua.
2) Perbedaan itu disebabkan adanya perubahan secara perlahan-lahan.
Darwin juga mempelajari buku mengenai hubungan ekonomi dan penduduk dunia
di antaranya buku karangan Thomas R. Malthus (1766-1834) yang berjudul An
Essay on The Principle of Population, dimana Malthus berpendapat bahwa
kenaikan jumlah penduduk cenderung lebih cepat daripada kenaikan produksi
pangan. Oleh karena itu, timbul masalah bagi manusia dalam menyelamatkan diri
dari bahaya kelaparan.

Gambar 4. Charles Robert Darwin


Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Portraits_of_Charles_Darwin

Seleksi Buatan, Seleksi Alam dan Adaptasi


Darwin mengajukan sebuah mekanisme seleksi alam untuk menjelaskan pola-
pola evolusi yang teramati. Manusia telah memodifikasi spesies lain selama beberapa
generasi dengan cara menyeleksi dan membiakkan individu-individu yang memiliki sifat-
sifat yang diinginkan-proses yang disebut seleksi buatan (artificial selection). Akibat dari
seleksi buatan, tanaman pangan dan hewan yang dibiakkan sebagai ternak atau hewan
peiharaan sering kali amat berbeda dari nenek moyangnya di alam bebas (Irwanda, 2013).
Darwin menyadari hubungan penting antara seleksi alam dan kemampuan
organisme untuk menghasilkan keturunan secara berlebih. Dari banyak telur yang
dihasilkan, anak yang dilahirkan, dan biji yang disebarkan, hanya sekian persen yang
menuntaskan perkembangan mereka dan menghasilkan keturunan sendiri. Sisanya
dimakan, mati kelaparan, mati sakit, tidak kawin, atau tidak mampu bertoleransi terhadap
kondisi fisik lingkungan seperti kadar garam atau suhu (Irwanda, 2013).
Sifat-sifat suatu organisme dapat memengaruhi tidak hanya kinerjanya, namun juga
sebaik apa keturunannya menghadapi tantangan lingkungan. Misalnya suatu organisme
mungkin memiliki satu sifat warisan yang memberi keuntungan bagi keturunannya untuk
meloloskan diri dari predator, memperoleh makanan, atau bertoleransi terhadap kondisi
fisik. Oleh karena itu, seiring waktu, seleksi alam yang disebabkan oleh faktor-faktor
seperti predator, kekurangan makanan, atau kondisi fisik yang tak bersahabat dan
meningkatkan presentase sifat-sifat yang menguntungkan di dalam populasi (Irwanda,
2013).
Darwin menalar bahwa jika seleksi buatan dapat menyebabkan perubahan
dramatis dalam periode waktu yang relatif singkat, maka seleksi alam dapat
mengakibatkan modifikasi penting dari spesies lebih dari ratusan generasi. Seiring waktu,
proses ini akan meningkatkan frekuensi individu-individu dengan adaptasi yang
menguntungkan sehingga meningkatkan kecocokan antara organisme-organisme dan
lingkungannya (Irwanda, 2013).
Seleksi alam berlangsung melalui interaksi antara orgaisme individual dan
lingkungannya, namun individu tidak berevolusi. Sebenarnya, populasilah yang
berevolusi seiring waktu. Seleksi alam dapat memperbanyak atau mengurangi sifat-sifat
warisan saja-sifat yang diwariskan dari organisme pada keturunannya. Walaupun suatu
organisme mungkin termodifikasi semasa hidupnya dan karakteristik yang diperoleh
dapat membantu organisme tersebut di lingkungannya, hanya ada sedikit bukti bahwa
sifat yang diperoleh semacam itu diwariskan pada keturunan. Faktor lingkungan variasi
menurut tempat dan waktu. Sifat yang menguntungkan disuatu tempat atau waktu
mungkin tak berguna-atau bahkan mematikan-ditempat atau waktu lain. Seleksi alam
selalu bekerja, namun sifat mana yang menguntungkan bergantung pada konteks alam
(Irwanda, 2013).
Mata rantai terlemah dalam teori Darwin mengenai seleksi alam adalah
pengabaiannya akan mekanisme pewarisan. Tanpa adanya cukup pemahaman mengenai
hukum-hukum genetika. Darwin tak dapat menjelaskan variasi-variasi yang muncul
sebagai perkecualian dari kecenderungan yang mirip menghasilkan yang mirip,
walaupun variasi-variasi tersebut yang penting sekali artinya bagi teorinya (Irwanda,
2013).
Teori seleksi alam bersandar pada tiga prinsip utama. Yang pertama, pada setiap
generasi dihasikan anak-anak yang luar biasa berlebih jumlahnya-lebih banyak daripada
yang dapat didukung oleh sumber-sumber yang terbatas (makanan, air, tempat berteduh,
pasangan kawin) di lingkungan. Yang kedua, terdapat variasi yang dapat diwariskan
dalam populasi anak yang terlalu besar itu. Yang ketiga, terjadi kompetisi yang
menyebabkan varian-varian yang teradaptasi dengan lebih baik terhadap lingkungan
tertentu-lah yang akan berhasil dan menghasilkan keturunan yang mewarisi sifat-sifat
adaptif tersebut. Seiring berlalunya waktu, sifat-sifat yang memberikan keadaptifan, atau
kelestarian (fitness) tersebut menjadi terakumulasi dalam populasi, sedangkan sifat-sifat
yang mengurangi pelestarian cenderung semakin sedikit atau bahkan menghilang. Aspek
terakhir inilah-keberhasilan reproduktif dari bentuk-bentuk yang lebih teradaptasi yang
diberi istilah tepat seleksi alam (natural selection) (Irwanda, 2013).
Teori Darwin dan teori-teori berurutan setelah itu yang didasarkan pada konsep
seleksi alam telah mengalami beberapa kontroversi. Kepala di antara orang-orang
menentangnya adalah Kreasionis yang memiliki dasar teologis atau keagamaan bagi
argumen mereka. Mereka percaya bahwa entitas supernatural seperti Allah memiliki
tangan dalam menciptakan manusia di Bumi. Teori Darwin karena berdiri melawan
kepercayaan mereka lama memegang dan sistem pemikiran keagamaan. Ketika Darwin
pertama kali keluar dengan teorinya pada tahun 1859, ia menghadapi banyak perlawanan
dari bukan hanya masyarakat agama , tetapi juga dari masyarakat ilmiah. Namun,
kemudian percobaan ilmuwan lain di lapangan telah mengungkapkan teori Darwin untuk
menjadi kenyataan (Rochmah, 2009).

D. Friedrich Leopold August Weismann


Teori Darwin sangat mempengaruhi perkembangan prinsip seleksi alam.
Weismann mencoba menerapkan teori Darwin dalam peristiwa genetika. Weismann
berpendapat bahwa sel-sel tubuh tidak dipengaruhi oleh lingkungan. Ia membuktikan
pendapatnya dengan mengawinkan dua tikus yang dipotong ekornya. Hingga generasi ke-
21, semua tikus tadi berekor panjang. Dalam hal ini Weismann menyimpulkan bahwa:
a. Perubahan sel tubuh karena pengaruh lingkungan tidak akan diwariskan ke generasi
berikutnya. Hal ini membuktikan bahwa teori Lamarck tidak benar.
b. Evolusi adalah masalah pewarisan gen-gen melalui sel kelamin atau evolusi adalah
gejala seleksi alam terhadap faktor-faktor genetika.
Gambar 5. August Weismann
Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/August_Weismann

3. PERBANDINGAN TEORI EVOLUSI LAMARCK, WEISMANN, DAN


DARWIN
a. Teori Evolusi Lamarck vs Teori Evolusi Weismann
Lamarck berpendapat bahwa makhluk hidup beradaptasi terhadap lingkungannya
melalui perubahan pada organ tubuhnya. Kemudian, sifat atau fungsi organ
tersebut diwariskan kepada keturunannya. Menurut Lamarck, nenek moyang
menjangan tidak bertanduk. Namun, dikarenakan sering mengadu kepala maka
tanduk tumbuh di kepala menjangan. Teori Lamarck ditentang oleh Weismann.
Weismann berpendapat bahwa perubahan sel-sel tubuh akibat pengaruh
lingkungan tidak diwariskan pada keturunannya. Weismann membuktikan
teorinya dengan mengawinkan dua ekor tikus yang masing-masing ekornya telah
dipotong. Kemudian, anak-anak yang sudah dewasa dipotong ekornya dan
dikawinkan dengan sesamanya. Hasilnya tetap anak-anak tikus yang berekor
panjang. Percobaan ini dilakukan hingga 21 generasi tikus dan hasilnya tetap
sama.
b. Teori Evolusi Darwin vs Teori Evolusi Weismann
Sebenarnya, Weismann tidak menentang pandangan Darwin tetapi lebih
menjelaskan pandangan Darwin mengenai seleksi alam. Weismann berpendapat
bahwa perubahan sel tubuh karena pengaruh lingkungan tidak akan diwariskan
kepada keturunannya. Evolusi menyangkut bagaimana pewarisan gen-gen melalui
sel-sel kelamin, artinya evolusi adalah gejala seleksi alam terhadap faktor-faktor
genetika. Sifat leher panjang atau pendek jerapah dikendalikan oleh gen. Gen
untuk leher panjang bersifat dominan. Sedangkan, gen untuk leher pendek adalah
resesif. Karena jerapah berleher pendek tidak mampu beradaptasi dengan
lingkungan maka jerapah ini akan punah.

c. Teori Evolusi Lamarck vs Darwin


Teori Evolusi Lamarck berisi dua gagasan utama, yaitu:
1) Gagasan use and disuse (digunakan dan tidak digunakan) bagian tubuh
yang digunakan secara intensif untuk menghadapi suatu lingkungan
tertentu akan menjadi besar dan kuat. Sementara itu, bagian tubuh yang
jarang digunakan akan mengalami kemunduran.
2) Sifat atau ciri-ciri dari lingkungan dapat diwariskan kepada keturunannya.
Contoh teori ini adalah evolusi pada jerapah berleher panjang. Menurut Lamarck,
nenek moyang jerapah sebenarnya berleher pendek. Jerapah yang berleher pendek
menjulurkan lehernya untuk mencapai makanannya pada daun-daun cabang pohon
yang tinggi. Oleh karena itu, leher jerapah menjadi panjang. Sifat leher jerapah
yang panjang tersebut akan diwariskan pada keturunannya. Dengan demikian, saat
ini semua jerapah berleher panjang. Sebaliknya, menurut Darwin, evolusi terjadi
melalui seleksi alam dengan adanya adaptasi makhluk hidup. Darwin berpendapat
bahwa nenek moyang jerapah terdiri atas jerapah yang berleher panjang dan
jerapah berleher pendek. Karena makanan jerapah adalah daun-daunan di pohon
yang tinggi, maka hanya jerapah berleher panjang yang dapat menjangkaunya.
Jerapah berleher pendek tidak dapat menjangkau daun-daun di pohon yang tinggi
tersebut sehingga kekurangan makanan dan akhirnya mati (survival of the fittest).
Gambar 6. Gambaran perbandingan teori evolusi Lamarck dan Darwin
Sumber: https://www.pinterest.com/jea910/science-7/

Gambar 7. Bagan alir konsep teori evolusi Darwin


Sumber: Biologi, 2009
Dari pendapat para ahli di atas, munculah Teori Evolusi yang terbaru yakni yang
dikenal sebagai Teori Sintetik. Teori ini merupakan gabungan dari teori Lamarck,
Darwin, dan hukum pewarisan Mendel yang isinya mengungkapkan bahwa
evolusi terjadi karena perubahan frekuensi gen dari suatu generasi ke generasi
berikutnya. Ahli lain bernama De Vries melengkapi teori ini dengan menyatakan
bahwa evolusi terjadi karena perubahan frekuensi gen akibat mutasi (Rochmah,
2009).

4. MEKANISME EVOLUSI
Tidak ada makhluk hidup yang sama persis meskipun berada dalam satu spesies.
Keberadaan macam-macam karakteristik yang dimiliki individu berperan sebagai
pembeda antara individu yang satu dengan yang lain. Sifat-sifat yang berbeda yang
terdapat pada individu-individu dalam satu spesies disebut variasi. Individu yang
mengalami variasi disebut varian. Jika satu spesies hidup pada suatu tempat yang berbeda
dari asal-usulnya, keturunan-keturunan berikutnya akan mengalami perubahan sehingga
spesies tersebut tidak sama dengan spesies dari asal usulnya, dengan demikian muncul
varian. Sifat dan karakteristik yang dimiliki suatu individu ditentukan oleh gen.
Perubahan yang terjadi pada gen menyebabkan terjadinya perubahan sifat pada individu.
Mutasi gen adalah perubahan susunan kimia dari suatu gen. Mutasi gen merupakan
mekanisme evolusi yang sangat penting. Pewarisan sifat dari induk ke generasi
berikutnya terjadi melalui gamet induk. Kenyataan itu menyebabkan setiap gamet
mengandung beribu-ribu gen, setiap individu menghasilkan beribu-ribu gamet, sehingga
jumlah generasi yang terjadi sedemikian banyak selama masih adanya spesies tersebut.
Berdasarkan kenyataan tersebut, dapat diprediksi jumlah mutasi gen melalui laju mutasi
gen dari suatu spesies. Pemunculan mutasi gen seakan-akan terjadi secara spontan,
misalnya di antara seribu biji yang normal ditemukan satu biji yang tidak normal. Biji
yang tidak normal tersebut menghasilkan embrio yang abnormal. Hal ini terjadi melalui
mutasi gen sehingga laju mutasi spontan pada biji tersebut dikatakan 1:1.000 atau 103.
Laju mutasi suatu spesies adalah angka-angka yang menunjukkan jumlah gen-gen yang
bermutasi di antara seluruh gamet yang dihasilkan oleh satu individu dari suatu spesies
(Memet, 2013).
Adanya perubahan lingkungan yang terjadi dari masa ke masa, mengakibatkan
individu-individu yang hidup pada masa-masa tersebut mengalami perubahan pula.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa spesies-spesies yang hidup dari
masa ke masa mengalami perubahan-perubahan. Demikianlah yang menjadi dasar
terjadinya evolusi. Evolusi juga didukung adanya faktor-faktor sebagai berikut (Memet,
2013).

1. Seleksi Alam
Alam mengadakan seleksi terhadap makhluk hidup yang ada di dalamnya. Hanya
makhluk hidup yang dapat beradaptasi yang mampu bertahan hidup dan berkembang
biak, sedangkan yang tidak mampu beradaptasi akan punah dan gagal melanjutkan
kehidupannya.
2. Migrasi
Migrasi adalah perpindahan spesies-spesies ke tempat-tempat baru. Perpindahan
tersebut menghasilkan pola kehidupan baru yang mendukung terjadinya perubahan
pada spesies-spesies tersebut. Pada tempat yang baru generasi-generasi yang muncul
akan berbeda dari spesies-spesies nenek moyang asal-usulnya.
3. Rekombinasi Gen
Rekombinasi gen terjadi melalui perkawinan yang menyebabkan perubahan frekuensi
gen pada generasi berikutnya. Melalui perkawinan silang, akan dihasilkan varietas
baru. Varietas baru ini terjadi akibat pembuahan atau penyerbukan dari individu lain
sehingga terjadi rekombinasi gen. Rekombinasi gen-gen yang disebabkan oleh
perkawinan silang merupakan dasar terjadinya evolusi, karena melalui rekombinasi
memungkinkan adanya variasi baru. Apabila varietas-varietas baru yang terbentuk
menempati daerah yang sangat berbeda dan tidak memungkinkan terjadinya
interhibridisasi, dua varietas baru tersebut akan mengalami perubahan-perubahan
yang pada akhirnya akan menjadi dua spesies yang berbeda.

Beberapa Kesalahpahaman Tentang Evolusi (Mamet, 2013)


Evolusi tidaklah sebagaimana yang disangka banyak orang yang menyatakan bahwa
kera berevolusi menjadi manusia. Tetapi, manusia dan kera yang ada sekarang
mempunyai nenek moyang yang sama. Pengertian moyang ini harus dipahami sebagai
moyang secara fisik, bukan spiritual.
Evolusi tidak berarti membuat mahluk hidup tambah bagus atau tambah intelek.
Contohnya, ular adalah hasil evolusi proses dari semacam kadal yang tidak lagi
memerlukan tangan dan kaki.
Evolusi tidak mempunyai tujuan tertentu. Organisme adalah hasil dari mutasi yang
sukses maupun gagal tergantung dari kondisi lingkungan pada saat itu.
Manusia tidak mempunyai tempat yang khusus di dalam pohon evolusi, manusia
hanyalah salah satu cabang dari pohon itu.
Evolusi tidak berhenti. Evolusi adalah proses basis dari biologi dan terus berlangsung.
Tidak ada bukti-bukti evolusi. Evolusi sudah banyak diobservasi di laboratorium
maupun bukti-bukti seperti biogeografi, catatan fosil, anatomi perbandingan, dan
embriologi perbandingan (Irwanda, 2013).

5. BUKTI ADANYA EVOLUSI


Kecaman dari berbagai pihak tentang teori evolusi, mendorong para pendukung teori
evolusi membuktikan kebenaran teori evolusi. Hal-hal yang perlu dibuktikan dalam teori
evolusi sebenarnya sudah dibahas dalam buku Darwin The Origin of Species by Means
Natural Selection. Upaya untuk mencari bukti sampai sekarang lebih mengarah pada
petunjuk adanya evolusi daripada bukti adanya evolusi. Pemaparan bukti evolusi harus
dilakukan dengan pendekatan multidisipliner.
Adapun bukti evolusi yang sering dipakai adalah fosil, anatomi komparatif, struktur
sisa, embriologi komparatif, biokimia komparatif dan biogeografi.
a. Petunjuk adanya evolusi dari segi palaentologi
Fossil merupakan sisa bagian jejak tubuh makhluk hidup yang telah membatu atau
tertinggal dalam batuan.

Charles Darwin menyatakan bahwa fosil adalah bukti perkembangan makhluk hidup
masa lampau, yang menunjukkan suatu perkembangan yang terus menerus secara
evolutif. Perkembangan evolusi kuda sering digunakan sebagai contoh perkembangan
makhluk hidup secara palaentologik.
Gambar: Evolusi Kuda
Perkembangan kuda dimulai dari apa yang disebut Hyracotherium, termasuk
kelompok Eohippus, yang muncul dari Eocene awal di Amerika Utara dan Eropa. Nenek
moyang kuda ini hanya sekitar 11 inci, berleher pendek dan mempunyai kaki depan yang
berbeda dengan kaki belakang, kaki depan jumlah jari kakinya empat dan kaki belakang
jumlah jarinya hanya tiga; jari keempat dan kelima masih ada tapi kecil sekali. Pada
oligocene muncul Mesohippus yang lebih besar daripada Eohippus, yakni sekitar 24 inci.
Kaki depan dan kaki belakang semua berjari 3. Pada Miocene dijumpai adanya
Parahippus dan Merychippus, yang pertama adalah pemakan daun dan yang kemudian
adalah pemakan rumput. Baru pada Pleiocene muncul apa yang disebut Pliohippus yang
jari sampingnya sudah mereduksi. Pada akhir Pleiocene akhir sudah muncul nenek
moyang kuda yang berjari satu, yang menyebar ke seluruh dunia kecuali Australia.
Kalau diikuti uraian tersebut di atas seakan-akan perkembangan kuda secara evolusi
seperti garis lurus. Dalam kenyataannya perkembangan tersebut bercabang-cabang.
Sebagai contoh adalah pada Miocene selain terdapat Parahippus dan Merychippus seperti
disebut di atas, juga ada Hypohippus, namun kemudian tidak berkembang dan akhirnya
punah.
b. Petunjuk adanya Evolusi berupa Anatomi Komparatif
Dikenal adanya keadaan yang disebut homologi dan analogi. Homologi adalah adanya
fungsi yang berbeda beragai hewan yang bila dianalisa secara cermat ternyata
mempunyai bentuk dasar yang sama, sedangkan analogi adalah adanya fungsi yang sama
pada beberapa makhluk hidup yang secara anatomik organ yang mengemban fungsi
tersebut tidak mempunyai struktur dasar yang sama. Para ahli berpendapat bahwa
peristiwa analogi ini adalah merupakan proses perkembangan evolusi konvergen. Suatu
peristiwa yang bertolak dari adaptasi anggota makhluk hidup dari beberapa bentuk
berbeda namun berada dalam lingkungan yang sama untuk jangka waktu yang sangat
lama. Yang biasa dipakai petunjuk evolusi adalah homologi struktur ekstrimitas anterior
beberapa hewan vertebrata (gambar)

Gambar: Homologi ekstremitas anterior beberapa binatang vertebrata

c. Petunjuk Evolusi Embriologi Komparatif


Hubungan perkembangan embrio dengan evolusi dinyatakan dalam Ernst Haeckel bahwa
ontogeni adalah pilogeni yang dipersingkat. Ia menyebut sebagai teori rekapitulasi atau
teori biogenetik. Perkembangan embrio pada hewan vertebrata dijumpai kenyataan
bahwa perkembangan embrio dari zigot menujukkan struktur yang sama, namun
selanjutnya berkembang berbeda satu dengan yang lainnya sehingga bentuk dewasanya
mejadi sangat berbeda (gambar).
Gambar: Embriologi Komparatif Beberapa hewan Vertebrata
d. Petunjuk dari Fisiologi Komparatif
Kemiripan faal tubuh dijumpai pada makhluk hidup mulai dari tingkat rendah sampai
tingkat tinggi meliputi:
- kemiripan dalam faal respiratoria
- kemiripan dalam metabolisme
- proses sintesis protein
- pembentukkan ATP sebagai molekul berenergi tinggi
e. Petunjuk dari usaha domestifikasi
Hasil perjalanan Darwin menunjukkan bahwa spesiasi dapat terjadi karena upaya
domestifikasi oleh manusia, misalnya upaya pemuliaan tanaman maupun hewan.
f. Petunjuk dari Alat Tubuh yang tersisa
Alat-alat sisa digunakan sebagai petunjuk adanya evolusi, karena dalam kenyataanya
meskipun alat tersebut tidak lagi menunjukkan suatu fungsi nyata tapi tetap dijumpai
secara nyata dan jumlahnya boleh dikatakan cukup banyak. Penganut faham evolusi
melihat adanya kelemahan dari penganut faham ciptaan khusus, bertolak dari alat-alat
tersisa yang tidak lagi ada gunanya itu. Adapun organ-organ sisa antara lain: apendiks,
selaput mata sebelah dalam, otot-otot penggerak telinga, tulang ekor, gigi taring yang
runcing, geraham ketiga, rambut didada, mammae pada laki-laki, musculus piramidalis
dan masih banyak lagi (Gambar 4).

Gambar: Organ vestigial

g. Petunjuk dari struktur DNA dan Protein


Semua organisme hidup tersusun oleh kode genetik (DNA=Dioksiribonukleotid Acid)
yang sama. Kode genetik makhluk hidup tersusun oleh gula ribosa, pospat, dan empat
basa nitrogen yang saling berkombinasi menghasilkan sifat-sifat fenotif yang berbeda.
Kode genetik ini bersifat universal. Melalui proses transkripsi dan tranlasi kode-kode
genetik ini diterjemahkan menjadi asam amino-asam amino yang menyusun protein.
Secara universal protein seluruh makhluk hidup tersusun oleh kombinasi 20 asam amino
(Gambar 5 dan 6).
Gambar: Homologi Kode Genetik

Gambar. Kode Genetik


BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Evolusi adalah perubahan secara bertahap dalam waktu yang lama akibat seleksi alam
pada variasi gen dalam suatu individu/spesies yang menghasilkan perkembangan
spesies baru (terkait dengan perkembangan makhluk hidup dari bentuk yang
sederhana ke bentuk yang lebih kompleks menuju kesempurnaan).
2. Teori-teori evolusi dicetuskan oleh banyak ahli diantaranya Jean Baptise de
Lamarck dengan paham use and disuse, Charles Robert Darwin yang menekankan
pada adaptasi dan seleksi alam, dan August Weismann yang berpendapat bahwa
evolusi adalah gejala seleksi alam terhadap faktor-faktor genetika.
3. Secara singkat mekanisme evolusi dapat dituliskan sebagai berikut.
Mutasi genvariasi genetikseleksi alamevolusi
Mekanisme evolusi ini dapat dipengaruhi oleh faktor seleksi alam, migrasi, dan
rekombinasi gen.

B. Saran
Manusia bisa mengembangkan maksud dari evolusi itu dan juga ikut berperan dalam
menggali evolusi di muka bumi ini yang mana kita tahu bahwa evolusi adalah suatu hal
yang belum jelas dan dapat di buktikan secara langsung. Oleh karena itu teori teori
tentang evolusi janganlah dijdikan sebuah momen untuk berperang pemikiran karena
akan menimbulkan perpecahan. Dalam perjalanannya perlu dilakukan penemuan
penemuan untuk mendukung adanya teori evolusi yang saat ini.
DAFTAR PUSTAKA

Alim, T., 2013, Teori Evolusi Charles Darwin, (online), available: http://www.biologi-
sel.com/2013/09/teori-evolusi-charles-darwin.html, (23 Februari 2016).

Asterisma, G., 2013, Pop-Up Rumus Biologi, Jakarta: Kompas Ilmu.

BSCS. 2002. Biology, an Ecological Approach. Ninth Edition. Iowa: Kendall / Hunt
Publishing Company.

BSCS. 2006. Biology, A Molecular Approach. Ninth edition. NewYork: Mc Graw Hill.

Campbell, N. A., J. B. Reece and L.G. Mitchell. 1999. Biology. Fifth Edition. NewYork:
Addison Wesley Longman, Inc.

Darwin, Charles. 2007. Penerjemah: Tim UNAS. The origin of Species Asal-usul Spesies.
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Etty Indriati. (2009). Warisan Budaya dan Manusia Purba Indonesia Sangiran.
Yogyakarta : P T Citra Aji Parama.
Firmansyah, R., Mawardi, A., dan Riandi, U., 2007, Mudah dan Aktif Belajar Biologi,
Bandung: PT. Setia Purna Inves.
Futuyma, Douglas J. (2005). Evolution. Massachusetts, USA : Sinauer Associates, Inc
Publisher.
Henuhili, V., dkk. 2012. Diktat Kuliah Evolusi. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

Irwanda, 2013, Makalah Evolusi Biologi, (online) available:


http://irwanda132.blogspot.co.id/2013/12/makalah-evolusi-biologi-umum.html, (23
Februari 2016).
Lawson, Anton E. (1995). Science Teaching and the Development of Thinking. California :
Wadsworth Publishing Company.
Lewin, R. (1993). Human Evolution. New York : Blackwell Scientific Publications.
Memet, 2013, Makalah Tentang Teori Evolusi, (online), available:
http://memet32.blogspot.co.id/2013/07/makalah-tentang-teori-evolusi-dalam.html, (23
Februari 2016).
Niamullah, A., 2012, Makalah Teori Evolusi, (online), available:
http://alvitaniamullah.blogspot.co.id/2012/12/makalah-teori.html, (23 Februari 2016).
Palmer, D. 2009. The Evolution Story of Life. California: University of California Press.
http://ncse.com/files/pub/evolution/Evolution--StoryofLife--fb.pdf. diakses pada
tanggal 14 April 2016.
Prawoto, Sudjoko, Siti Mariyam. (1987). Evolusi. Jakarta : Universitas Terbuka, Departemen
pendidikan dan Kebudayaan.
Rochmah, N., 2009, Biologi, Jakarta: Pusat Perbukuan Depdinkas.

Saputra, 2011, Teori Evolusi, (online), available: http://sap-fad-yan-yen-


makalahbiologi.blogspot.co.id/2011/03/makalah-biologi-teori-evolusi.html, (23
Februari 2016).
Solomon, E.P., L.R. Berg, D.W. Martin. (2008). Biology. 8th Edition. Australia : Thomson
Brooks / Cole.
Suryati, T., 2009, Biologi, Jakarta: Quadra.

Tuomi, J. 1981. Stucture and Dynamics of Darwinian Evolutionary Theory. Finland:


University of Turku.

Zihlman, Adrienne L. (1982). The Human Evolution Coloring Book. New York : Harper
Collins Publisher.