Anda di halaman 1dari 4

POTENSI EMAS DI PROVINSI SULAWESI TENGAH, KABUPATEN BUOL , DAERAH

BULAGIDUN

Kabupaten Buol adalah salah satu kabupaten di provinsi Sulawesi Tengah,


Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Kota Buol. Kabupaten ini memiliki luas
wilayah 3.507 km. Wilayah Buol merupakan salah satu Kabupaten di provinsi Sulawesi
Tengah yang beribukota di Lipunoto, secara geografis terletak di 0,35o- 1,20o LU dan
antara120,12o- 122,09o BT. Daerah ini berbatasan dengan Laut sulawesi sekaligus
berbatasn dengan Negara Philipina di utara, Kabupaten Toli-toli dan Kabupetn Parimo di
selatan, Kabupetn gorontalo di Provinsi Gorontalo di timur, Kabupaten Tolitoli di barat.
Luas wilayah daerah ini adalah 4.043, 57 Km2. Secara administratif, daerah ini terbagi
menjadi 9 Kecamatan, 98 Desa, dan 4 Kelurahan. Daerah ini mempunyai potensi yang
besar untuk dikembangkan antara lain di sector pertambangan terdapat potensi tambang
emas, bijih besi, batu bara, pasir kuarsa, dan gas.

Emas dapat dijumpai dalam jumlah cukup besar pada inti bumi dan batuan-batuan
yang berukuran halus, seperti lempung hitam. Dua hal ini merupakan reservoar potensial
dari logam emas ini. Perpindahan emas dari reservoar ke permukaan bumi diperlukan
pengangkut, dalam hal ini larutan air panas (larutan hidrotermal). Di samping itu harus
ada suatu logan yang dapat menyebabkan emas dapat larut ke dalam larutan
hidrothermal, misalnya larutan komplek sulfida, larutan komplek klorida dan larutan
tiokomplek. Dalam proses geokimia, emas biasanya dapat diangkut dalam bentuk larutan
komplek sulfida atau klorida. Proses pengangkutan emas dapat dilihat pada reaksi
berikut: [Au(HS)2]- + H+ + 1/2 H2O = Au0 + 2H2S + 1/4O2
Dari reaksi ini dapat dilihat bahwa pengendapan emas sangat tergantung kepada besarnya
perubahan pH, H2S, oksidasi, pendidihan, pendinginan, dan adsorpsi oleh mineral lain.
Sebagai contoh, emas akan mengendap jika keadaan sedikit basa dan terjadi perubahan
dari reduksi menjadi oksidasi. Atau emas akan mengendap jika terikat mineral lain,
seperti pirit.
Emas murni sangat mudah larut dalam KCN, NaCN, dan Hg (air raksa). Sehingga
emas dapat diambil dari mineral pengikatnya melalui amalgamasi (Hg) atau dengan
menggunakan larutan sianida (biasanya NaCN) dengan karbon aktif. Di antara kedua
metode ini, metode amalgamasi paling mudah dilakukan dan dengan biaya relatif rendah.
Hanya dengan modal air raksa dan alat pembakar, emas dengan mudah dapat diambil dari
pengikatnya. Metode ini umumnya dipakai oleh penduduk lokal untuk mengambil emas
dari batuan pembawanya.

Kabupaten Buol, salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah, menyimpan


potensi tambang yang terdapat di perut bumi kabupaten yang memiliki luas wilayah
3.507 km dan berpenduduk sebanyak 97.134 jiwa.

Potensi Emas Daerah Bulagidun

Buol juga memiliki potensi tambang emas. Potensi ini terletak di


lokasi masyarakat melalui pertambangan rakyat terdapat di beberapa tempat contohnya di
Desa Bulagidun Kecamatan Bunobogu. Sumberdaya tereka bahan galian emas antara
kedalaman 100-200 m di daerah ini sebesar 3,975 ton Au , dengan asumsi kadar rata-
rata Au > 10 ppm. Diperlukan suatu kajian ekonomi kelayakan tambang yang rinci
mengingat jumlah bahan galian emas relatif kecil dan letak endapan bahan galian relatif
dalam. Kendala lain yang perlu diperhatikan yaitu bentang alam bagian atas telah
relatif rusak akibat kegiatan penambangan rakyat, yang menyebabkan berkurangnya
kestabilan lereng dan kekuatan batuan penyangga disekitarnya. Tambang dalam
diterapkan untuk menambang endapan yang berada relatif jauh di bawah permukaan
dengan hanya membuka sebagian kecil lahan di permukaan untuk akses peralatan dan
fasilitas pengolahan, dengan penggalian dilakukan tanpa mengganggu kondisi atas
permukaan. Tambang dalam sangat baik untuk diterapkan disamping karena kondisi
cebakannya yang cocok untuk tambang dalam, juga apabila terdapat infrastruktur atau
kawasan lindung di permukaan diatas endapan, seperti permukiman atau kawasan hutan
lindung tidak terganggu oleh adanya kegiatan tambang dalam tersebut.
Ada empat kriteria pemilihan metode penambangan yakni karakteristik endapan,
lingkungan, keselamatan kerja dan biaya. Meskipun demikian, endapan mineral tidak
dapat ditambang secara tambang bawah tanah jika kekuatan batuan di sekitarnya sangat
lemah, sehingga apabila diterapkan metode ini berisiko untuk runtuh dan membahayakan
keselamatan pekerja.

Potensi Tambang Dalam

Di daerah kajian saat ini terdapat pertambangan emas rakyat. Kondisi urat yang
ada pada bagian atas sebagian telah ditambang oleh rakyat sesuai dengan teknologi rakyat
sederhana hanya mampu menggali terowongan pada kedalaman 30m. Zona urat pada
kedalaman 100 m dari puncak Bukit telah ditambang oleh Pertambangan
Belanda. Apabila akan dilakukan pengembangan pertambangan emas dengan cara
tambang dalam, maka potensi bahan galian emas yang masih utuh terletak pada
kedalaman dibawah 100 m. Dari perhitungan sumberdaya emas pada kedalaman antara
100 sampai 200 m adalah 3,975 ton. Jumlah tersebut relatif kecil untuk dikembangkan
menjadi tambang dalam sekala menengah-besar.

Diperlukan suatu kajian ekonomi kelayakan tambang yang rinci mengingat


jumlah bahan galiannya relatif kecil, letak/posisi bahan galian dalam dan memerlukan
teknologi tinggi. Beberapa kendala yang perlu diperhatikan yaitu bentang alam bagian
atas telah relatif rusak akibat penambangan rakyat yang ada, yang menyebabkan
berkurangnya stabilitas lereng dan kekuatan batuan penyangga disekitarnya. Salah satu
syarat tambang dalam yang baik, bagian atas bentang alam harus dilindungi dari
kerusakan yang akan berpengaruh terhadap kestabilan lahan yang ada (longsor, hidrologi
dan kekuatan lereng). Seluruh kondisi diatas memerlukan penanganan teknis yang cukup
tinggi dan memerlukan biaya yang cukup besar, disamping penanganan keselamatan
kerja yang harus lebih diperhatikan. Dalam usaha pengembangan pertambangan di daerah
kajian, disamping perlunya kajian dari aspek teknologi pertambangan perlu juga
diperhatikan aspek ekonomi, sosial dan budaya, sehingga keberadaan pertambangan
disamping dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), juga dapat membantu
meningkatkan perekonomian masyarakat sekitarnya, tanpa menimbulkan kecemburuan
sosial dan merubah tatanan budaya yang ada.

Pertambangan Rakyat
Secara teknologi pertambangan emas rakyat sangat kecil
kemungkinannnya untuk menambang bijh pada kedalaman dibawah 30 m,
sehinggga sumberdaya emas di bawah kedalaman 100 m tidak dapat ditambang.
Apabila pertambangan emas rakyat yang ada sekarang akan dikembangkan
menjadi pertambangan rakyat sekala kecil secara resmi dalam bentuk Wilayah
Pertambangan Rakyat (WPR), dengan konsekuensi tidak seluruh bijih tertambang,
perlu ditekankan mengenai aspek legalitas hukumnya, karena pada umumnya
pertambangan sekala kecil yang tidak/kurang mengindahkan hal ini. Aspek
hukum yang terkait berupa perijinan, pengaturan tata ruang atau kawasan,
termasuk kebijaksanaan tentang zonasi, pertanahan, pengendalian pencemaran
dan reklamasi serta hukum adat.