Anda di halaman 1dari 18

Rehabilitasi

A. Definisi

Rehabilitasi jantung adalah suatu program dimana pasien dengan


penyakit jantung, kerjasama dengan tim kesehatan professional yang
berasal dari multidisiplin ilmu, keluarga, dan masyarakat; guna
mendukung dan mensuport pasien untuk mencapai dan mengatur
kesehatan fisik dan psikososial yang optimal.Program ini berisi tentang
rekomendasi angka kejadian untuk rehabilitasi jantung yang terutama
berhubungan dengan rehabilitasi pada miokard infark (MI), revaskularisasi
koroner, serta kebutuhan rehabilitasi pada pasien dengan angina dan
gagal jantung. Rehabilitasi jantung bisa dilakukan bersamaan dengan
prevensi sekunder. Untuk memahami perbedaannya, harus diingat bahwa
rehabilitasi jantung memfasilitasi penyembuhan sedangkan prevensi
sekunder mencegah penyakit lebih lanjut.

B. Fase-fase rehabilitasi jantung

Merupakan hal yang penting untuk mengetahui 4 fase rehabilitasi jantung


yang masing-masing mempresentasikan komponen perjalanan penyakit
yang berbeda. Perawatan pasien, periode awal lepas RS, training exercise,
dan follow up. Beberapa negara hanya menggunakan 3 fase, dengan
menamakan fase periode awal lepas RS sebagai fase 2A dan training
exercise sebagai fase 2B. berdasar pada masing masing fase dan terlepas
dari rehabilitasi jantung mana yang dipilih, merupakan hal yang penting
akan adanya intervensi pada pasien dan komunikasi yang baik dengan
penyedia layanan spesial jantung, pelayanan primer, dan pelayanan
komunitas. Fase-fase rehabilitasi jantung adalah sebagai berikut:

1. Fase 1
Fase 1 adalah fase perawatan pasien. Fase ini terutama terjadi selama
perawatan dalam rumah sakit atau setelah terdapat step change pada
kondisi pasien jantung (MI, angina, coronary heart disease (CHD), bedah
jantung (angioplasty), gagal jantung). Selama fase eveluasi medis
terdapat elemen-elemen kunci yang harus diperhatikan yaitu kepastian
dan edukasi, koreksi terhadap kesalahpahaman konsep/gambaran
penyakit jantung, assessment, factor resiko, mobilisasi dan rencana
pemulangan pasien.

Merupakan hal yang biasa untuk melibatkan keluarga, teman/patner, dan


perawat sejak stadium awal. Seorang perawat dapat meningkatkan
pengetahuan pasien ataupun patnernya mengenai penyakit jantung,
mengurangi kecemasan dan depresi yang digabungkan dengan
perawatan rutin yang didapatkan pasien.

2. Fase 2

Fase 2 adalah fase dimana pasien merasa terisolasi dan tidak


nyama/gelisah.Dukungan terhadap pasien dapat diberikan dengan home
visite, kontak telpon,dan memperhatikan manfaat heart manual. Heart
manual merupakan self help program bagi pasien untuk penyembuhan
dari serangna jantung, mengurangi kecemasan, depresi, dan angka rata-
rata kembali ke RS.

3. Fase 3

Fase tiga merupakan fase training exercise, dimana fase ini telah
mencakup bentuk-bentuk program latihan terstruktur di RS, dengan
mendukung edukasi dan psikologi serta informasi dan saran mengenai
fakto resiko yang ada. Fase ini menunjukkan bahwa program antar
komponen dapat dijalankan secara amandan lancar pada masyarkat.
4. Fase 4

Fase 4 meliputi pengaturan jangka panjang dari aktivitas fisik dan


perubahan gaya hidup.

C. Perkembangan rehabilitasi medik

Program latihan rehabilitasi kardiak terus berkembang sejak British


Cardiac Society Working Party Report menampilkan 99 program dan terus
berkembang hingga mencapai 300 pada tahun 1997. Namun,
perkembangan jumlah tersebut tidak diikuti oleh perkembangan kualitas.
Program-program tersebut cenderung kekurangan sumber daya dan tidak
mengikuti petunjuk nasional yang telah menjadi ketetapan. Suatu
penelitian di Skotlandia selama tahun 2000 menunjukkan bahwa nilai
median dari durasi dan frekuensi program exercise adalah 11 minggu
(2x/minggu), sedangkan program edukasi diselenggarakan pada waktu
yang terpisah dari kelas exercise,tergantung pada ketersediaan fasilitas.
Program ini memiliki nilai median 6 minggu.

INTERVENSI PSIKOLOGI DAN EDUKASI

Rehabilitasi jantung yang terkomprehensi meliputi exercise training


dengan dukungan psikologi dan edukasi. Tujuan dari intervensi tersebut
adalah untuk memfasilitasi pengembalian ke kehidupan normal dan
mendukung pasien untuk menciptakan perubahan gaya hidup dengan
tujuan mencegah kejadian/serangan yang akan datang. Dukungan edukasi
dan psikologi juga diperlukan untuk menghadapi stress psikologis yang
sering mengikuti kejadian myocard infarct (MI).

1. Prediktor Psikologis

Penelitian menunjukkan bahwa stress psikologis dan dukungan sosial yang


rendah sangat mempengaruhi gejala yang timbul pasca MI, sehingga hal
tersebut dapat digunakan sebagai prediktor luaran pasca MI. Stress
psikologis juga merupakan prediktor penting dari pembiayaan RS pada
kejadian penyakit jantung, yaitu pasien yang disertai stres psikologis
menghabiskan rata-rata 4 kali biaya pasien nonstres. Depresi dan
kecemasan juga memegang peranan penting pada etiologi CHD.

a. Depresi

Rata-rata prevalensi kejadian depresi pada pasien MI adalah 15-45%.


Depresi dihubungkan mortalitas kardiak yaitu dengan mningkatkan angka
mortalitas 3-4 kali lipat. Depresi biasa terjadi pada pasien dengan CHD
dan dihubungkan dengan peningkatan resiko dari kejadian cardiacpada
unstable angina.

b. Kecemasan

Tingkat kecemasan yang tinggi akan memberikan hasil perawatan medis


yang kurang memuaskan. Pada unit perawatan coroner, tingkat
kecemasan dihubungkan dengan peningkatan resiko sindrom coronary
akut, dan aritmia setelah 12 bulan. Kecemasan juga akan meningkatkan
angka kematian. Berdasarka hal tersebut maka pasien dengan penyakit
koroner hendaknya melewati screening kecemasan dan depresi, umtuk
perlunya dilakukan terapi psikologis.

c. Personality

Suatu penelitian menyatakan bahwa tipe kelakuan juga mengambil


peranan, dimana disebutkan bahwa kelakuan yang agresif kompetitif, dan
sikap yang bermusuhan (type A) merupakan faktor resiko independent
dari CHD.

d. Cardiac Misconseption

Cardiac Misconseption merupakan kepercayaan yang salah tentang


problem mengenai jantung yang sering menyebabkan masyarakat
menjadi berlebihan dalam memberikan perhatian dan berespon tidak
sebagaimana mestinya. Suatu penelitian menyatakan bahwa kapasitas
fungsional pada 12 bulan paska MI sangat berhubungan dengan umur dan
penyebab awal yang mempengaruhi. Penelitian lain menyatakan bahwa
pasien angina pria lebih sering berhubungan denga angina dengan faktor
yang lebih terkontrol daripada pasien wanita, dimana penyebab semakin
tidak dapat dikontrol oleh pasien (misalnya merasa bahwa pekerjaan yang
penuh stress menyebabkan MI) akan cenderung memiliki masalah untuk
kembali bekerja, kembali pada fungsi sosial dan domestik, serta memiliki
masalah seksual dan sedikitnya keinginan untuk mengikuti program
rehabilitasi jantung. Untuk itu, seharusnya para petugas di bidang
rehabilitasi jantung seharusnya mengidentifikasi dan memberi informasi
serta meluruskan kepercayaan atau anggapan mengenai kesehatan dan
misconception pada pasien dengan PJK.

2. Ukuran kesejahteraan Psikologis

Tidak ada consensus yang telah tercapai yang menyatakan adanya suatu
alat sebagai ukuran kesejahteraan psikologis, namun yang paling
sederhana dan banyak digunakan adalah Hospital Anxietas and
Depression Scale (HADS) yang meliputi 14 pertanyaan dengan subskala
terpisah untuk anxietas dan depresi. Skor 0-7 : pada skala menunjukkan
keadaan normal, 8-10 = borderline, >11 adanya indikasi klinis
depresi/anxietas.
HADS seharusnya diulangi 6-12 minggu setelah kejadian /serangan karena
waktu sangat menentukan kecemasan dan depresi, dimana symptom
yang pesisten dari waktu ke waktu berhubungan dengan prognosis yang
buruk dan membutuhkan terapi segera.

3. Keefektifan Intervensi Psikologis dan Edukasi

Intervensi Psikologis meliputi konseling individual dan group, managemen


stres, relaksasi, psikoterapi grup, pendekatan kelakuan kognitif, seting
tujuan, dan hipnoterapi.
Intervensi edukasi meliputi intervensi terhadap edukasi individual dan
grup pada aspek dari CHD, diet yang sehat, pengurangan rokok,,
hipertensi, olahraga, self monitoring,pemberian buklet tentang MI, saran
kesehatan dan konseling vokasional.

a. Hasil di Bidang Kardiovaskuler

Analisis terhadap 8.988 pasien menunjukkan bahwa program rehabilitasi


kardiak menghasilkan penurunan 34% mortalitas karena penyakit jantung
dan 29% penurunan MI berulang. Study dengan respon terbesar terhadap
intervensi menunjukkan penurunan terbesar pada mortalitas dan MI
berulang mengimplikasi kesuksesan yang berhubungan dengan factor
resiko, termasuk tingkah laku, emosi, distress yang berhubungan dengan
penurunan serangan jantung.

b. Hasil di Bidang Psikologis

Kejadian terapi psikologis dan edukasi pada kardiak rehabilitasi akan


menurunkan faktor resiko dan stress psikologis merupakan hal yang masih
berupa dugaan dan belum dapat disimpulkan. Dua meta analisis
mendukung penggunaan terapi tersebut tetapi 3 meta analisis lain tidak.
Penjelasan yang mungkin dari hal tersebut adalah karena subjek yang
digunakan memiliki gejala psikologis yang relative rendah, tidak adanya
alat ukur yang tepat umtuk mengukur perubahan psikologis, dan
kurangnya pelatihan terhadap para pelaku intervensi psikologis.
4. Prinsip perubahan tingkah laku

a. Target terapi
Berdasarkan bukti penelitian, didapatkan bahwa metode yang
menggunakan target terapi sesuai kebutuhan pasien secara individu
akan lebih efektif dalam merubah tingkah laku daripada
menerapkan semua aspek dalam suatu program kepada setiap
pasien. Hal ini sesuai dengan program yang telah diterapkan oleh
British Association for Cardiac Rehabilitation (BACR) dan Scottish
Needs assessment Programme (SNAP). Dengan demikian maka
terapi psikologi dan intervensi terhadap tingkah laku harus
diterapkan sesuai target yang disesuaikan degna kebutuhan pasien
secara individu.
b. Prinsip psikologi dan model perubahan tingkah laku
Beberapa model terapi psikologi memberikan keberhasilan dalam
perubahan tingkah laku, yaitu :
Cognitive Behavioural Therapy (CBT) adalah struktur terapi
yang bertujuan membengkitkan kepercayaan, asumsi, pola
pikir dan kebiasaan. CBT dapat membantu pasien
mengidentifikasi pemikiran yang tidak berguna dan
mengetahui penyebab yang mendasarinya, dan serta
memberi solusi yang dapat diterapkan untuk mengelola
perubahan tingkah laku, pola pikir, dan keadaan jiwa/suasana
hati. CBT efektif dalam kondisi psikis yang beragam, misalnya
kecemasan, depresi, gangguan pasca trauma, dan kondisi
medis (misalnya pada pasien angina).
Health Behavioural and Illness Representation Models,
bersama-sama dengan metode enhancing self-effifacy,
memberikan kekuatan tambahan dalam proses perubahan
tingkah laku. Model ini juga termasuk dalam prinsip cognitive-
behavioural.
Motivational interviewing adalah model yang dapat membantu
pasien membangun komitmen dan merealisasikan suatu
keputusan untuk berubah. Dengan metode ini, maka motivasi
yang timbul berasal dari pasien sendiri (intrinsik), bukan
berupa paksaan, sehingga akan memperkuat perubahan
tingkah laku. Metode ini dapat digunakan ketika pasien
ambivalen atau menentang untuk berubah. Strategi ini
berasal dari beberapa model terapi. Motivasi ini dapat
diterapkan secara jelas kepada pasien jantung dan digunakan
efektif dalam penelitian secara randomize trial mengenai
perubahan tingkah laku sebelum revaskularisasi koroner.
Metode sistematik dan pendekatan secara individual di atas
berbeda secara kualitatif dibandingkan edukasi, dimana jika
diterapkan tanpa metode lain tidak efektif untuk
menghasilkan perubahan tingkah laku.
c. Prinsip edukasi
Dari analisis mengenai edukasi kesehatan pada pasien penyakit
jantung menyatakan bahwa hal terpenting untuk efektifitas edukasi
adalah kualitas dari intervensi, yang tergantung dari hubungan
kelima prinsip pembelajaran pada obyek dewasa, yaitu :
Relevansi (menyesuaikan pengetahuan, kepercayaan, dan kondisi
pasien)
Individualisasi (menyesuaikan kebutuhan personal)
Feedback (memberikan informasi mengenai kemajuan dengan
pembelajaran atau perubahan)
Reinforcement (memberikan hadiah/penghargaan atas kemajuan)
Fasilitas (memberikan cara untuk melakukan sesuatu dan
mengurangi rintangan)
Behavioural technique seperti self-monitoring dan personal
communication, termasuk teknik tertulis atau teknik audiovisual
akan meningkatkan hasil yang dicapai. Jenis atau durasi intervensi
dinyatakan tidak berhubungan dengan efektivitas intervensi.
Rehabilitasi jantung komprehensif diartikan sebagai prinsip edukasi
pada obyek dewasa dan perubahan tingkah laku.

4. Intervensi edukasi dan psikologi


a. Heart manual
Heart Manual adalah rehabilitasi behavioural kognitif selama 6
minggu pada pasien post miokard infark. Dikembangkan dari
Health Belief Model, program ini didesain untuk mengoreksi
perbedaan persepsi tentang penyebab serangan jantung, dan
dalam waktu yang sama membantu pasien membangun
strategi untuk mengahadapi stres. Hal tersebut meneankan
pada self-management, tetapi harus direkomendasikan oleh
seorang dokter dan dilayani oleh perawat professional. Healt
manual adalah salah satu jalan memberikan edukasi dan
dukungan psikologi untuk pasien post infark miokard, walaupun
beberapa pasien tetap membutuhkan bantuan orang lain.
Heart Manual direkomendasikan untuk memfasilitasi rehabilitasi
jantung secara komprehensif.
b. Terapi depresi dan kecemasan
Antidepresan dapat menurunkan depresi pada pasien dengan
penyakit-penyakit fisik seperti penyakit jantung kongestif.
Beberapa randomisasi trial mengindikasikan bahwa intervensi
psikologi dini dapat memperbaiki suasana hati pada pasien
jantung.

Walaupun derajat ansietas dan depresi berhubungan dengan


gejala seperti sulit tidur, sulit konsentrasi, kurang energi,
suasana hati kurang baik sering didapatkan pada pasien
penyakit jantung. Perasaan tidak senang yang berkepanjangan
atau ansietas tidak selalu dan tidak harus diterima sebagai
reaksi yang tepat. Semua pasien jantung yang mengalami
kecemasan dan depresi harus mendapatkan terapi yang tepat.
Bila diperlukan antidepresan maka harus dipiliha yang tidak
menimbulkan efek samping pada jantung.
c. Terapi psikologis
Terapi psikologi merupakan kelanjutan dari konseling secara
umum, yang awalnya para praktisi menggunakan metode
psikologis namun tidak ada pelatihan secara khusus, sampai
dengan sekarang digunakan model teori spesifik dengan
praktisi yang di latih secara khusus. Program rehabilitasi
jantung mempunyai akses terbatas untuk melatih para terapis,
sehingga implikasinya adalah banyak distress psikologis yang
dialami pasien dengan penyakit jantung.
Terapi psikologi sederhana, seperti terapi yang memfokuskan terhadap
solusi, mungkin lebih tepat untuk pasien dengan stress tingkat ringan,
dan akan mendapat hasil efektif bila petugas rehabilitasi mengetahui
kebutuhan pasien. Pengalaman terapis sangat mempengaruhi
keberhasilan suatu terapi. Pasien dengan problem yang lebih komplek
(menengah-berat) membutuhkan terapis yang telah dilatih khusus dan
berpengalaman menggunakan teknik khusus misalnya teknik cognitive
behavioural therapy.

6. Aspek perubahan tingkah laku


a. Berhenti merokok
Status merokok pasien harus diketahui pada semua pasien serta
metode berhenti merokok pada pasien perokok. Nasehat singkat
dari praktisi kesehatan, konseling kelompok dan perorangan, dan
nicotine replacement teraphi dapat meningkatkan jumlah perokok
yang berhenti merokok.
b. Pola makan dan diet yang sehat
British Dietetic Association membuat panduan diet pada prevensi
sekunder penyakit jantung, dimana dengan meningkatkan konsumsi
asam lemak omega-3 (dari minyak ikan dan minyak lobak) dan
meningkatkan konsumsi buah dan sayur minimal 5 porsi tiap hari.
Dianjurkan untuk mengurangi konsumsi lemak jenuh dan diganti
secara parsial maupun total dengan lemak tidak jenuh. Pedoman ini
khususnya ditujukan kepada pasien yang membutuhkan penurunan
berat badan atau tidak berhasil dalam program penurunan kadar
lipid.

c. Aktivitas seksual
British Heart Foundation telah menerbitkan fakta-fakta tentang
aktivitas seksual pada pasien infark miokard.
TERAPI LATIHAN
Komponen latihan pada rehabilitasi jantung terdiri dari pengenalan
kondisi fisik pasien dan pengetahuan tentang latihan rutin untuk
melindungi serangan penyakit jantung. Fisik yang tidak aktif
meningkatkan risiko tinggi terjadinya penyakit jantung koroner dua
kali lipat. Latihan terstruktur merupakan terapi intervensi yang
merupakan inti dari rehabilitasi jantung.

A. Manfaat terapi latihan kebugaran

Latihan ketahanan
Kunci keberhasilan rehabilitasi jantung adalah untuk
mengembalikan aktifitas hidup sehari-hari secara penuh. Hal ini
membutuhkan latihan kekuatan otot sebaik latihan ketahanan
aerobik. Ketahanan ( atau kekuatan) latihan mampu meningkatkan
kekuatan otot, fungsi kardiovaskuler, resiko penyakit kardiovaskuler,
dan psikologis dengan baik. Kebanyakan penelitian, dari latihan
ketahanan rendah- sedang, (<70% kontraksi volunter maksimum)
akan menyatu dalam badan setelah empat minggu setelah kejadian.
Pelatihan ketahanan secara tunggal atau single set, yakni dua
sampai tiga kali perminggu (ketika latihan ditampilkan satu set
sebagai pengulangan 10-15 detik), sama efektifnya dan lebih
menghemat waktu dengan berlatih sekali tiap minggu dengan
program multi set (ketika latihan dilakukan setiap dua atau lebih
pada satu sesi).
Resiko sakit jantung ringann sampai sedang dapat ditangani dengan
latihan ketahanan.
1. Pasien dapat mengambil keuntungan dari latihan aerobik yang
diawasi terlebih dahulu daripada latihan ketahanan untuk
memungkinkan mereka menguasai kemampuan memonitor dirinya
dan secara teratur dan berlatih dengan giat.

2. Tekanan darah dapat meningkat selama latihan


ketahanan lebih tinggi daripada selama latihan aerobik.
Pasien hipertensi sebaiknya jangan didaftarkan terlebih
dahullu sampai tekanan darah mereka terkontrol
dengan baik

PRINSIP PROGRAM REHABILITASI


M e n u r u t Pa l m e r- E r b s , C o n n o l l y , B r a c h , d a n H o ff ( 1 9 9 5 )
p r i n s i p - p r i n s i p rehabilitasi sebagai berikut :
1. Percaya bahwa pasien dengan gangguan jiwa mengalami proses
penyembuhan.
2. Program yang diberikan mampu memberdayakan pasien.
3. P r o g r a m yang diberikan harus b e rd a s a r k a n ke b u t u h a n
pasien terkait d e n g a n kebutuhan fisik, sosial, emosi, intelektual,
dan spiritual pasien.
4. Pasien diberikan kesempatan untuk memilih program yang diminati.
5. Program yang diberikan mampu memberikan kesempatan pada pasien
gangguan jiwa untuk mempelajari keterampilan dan pengetahuan
sehingga mereka mmapuhisup mandiri dalam melakukan aktivitasnya
sehari-hari.
6. Kerja sama dengan keluarga dan tenaga profesional lainnya harus
dipertahankandemi tercapainya tujuan.

C. TUJUAN
Dalam undang-undang Nomor 4 tahun 1997 dijelaskan
b a h w a re h a b i l i t a s i diarahkan untuk memfungsikan kembali dan
mengembangkan kemampuan fi sik,m e n t a l , dan sosial
penyandang cacat agar dapat melaksanakan fungsi
s o s i a l n y a secara wajar sesuai dengan bakat, kemampuan, pendidikan
dan pengalaman.M a k s u d d a n t u j u a n r e h a b i l i t a s i p a d a k l i e n
mental dalam psikiatri y a i t u mencapai perbaikan fisik dan
mental sebesar-besarnya, penyaluran dalam pekerjaandengan kapasitas
maksimal dan penyesuaian diri dalam hubungan perseorangan
dans o s i a l sehingga bisa berfungsi sebagai anggota
m a s y a r a k a t y a n g m a n d i r i d a n berguna.
D. TAHAPAN
Upaya rehabilitasi terdiri dari 3 tahap, yaitu:
1. Tahap Persiapan
a. Orientasi: selama fase orientasi klien akan
m e m e r l u k a n d a n m e n c a r i bimbingan seorang yang profesional.
Perawat menolong klien untuk m e n g e n a l i dan memahami
masalahnya dan menentukkan apa
y a n g diperlukannya.
b. I d e n t i fi k a s i : perawat m e n g i d e n t i fi k a s i dan mengkaji
perasaan klien s e r t a membantu klien seiring penyakit yang ia
rasakan sebagai sebuah pengalamand a n memberi orientasi
positif akan perasaan dan ke pri ba di an nya
s e r t a memberi kebutuhan yang diperlukan.
2. Tahap pelaksanaan: perawat melakukan eksploitasi dimana selama
fase ini klienmenerima secara penuh nilai-nilai yang ditawarkan
kepadanya melalui sebuahh u b u n g a n . Tu j u a n baru yang
akan dicapai melalui usaha personal
d a p a t diproyeksikan, dipindah dari perawat ke klien ketika klien
menunda rasa puasnyauntuk mencapai bentuk baru dari apa yang
dirumuskan
3. Tahap pengawasan: tahap pengawasan perawat melakukan
resolusi. Tujuan barud i m u n c u l k a n s e c a r a b e r t a h a p d a n t u j u a n
l a m a d i h i l a n g k a n . I n i a d a l a h p ro s e s dimana klien membebaskan
dirinya dari ketergantungan terhadap orang lain.

E. JENIS KEGIATAN
Jenis kegiatan dalam rehabilitasi pada klien dengan gangguan jiwa, yaitu:
1. Orientation: pencapaian tingkat orientasi dan
kesadaran terhadap realita yanglebih baik. Orientasi
berhubungan dengan pengetahuan dan pemahaman
klienterhadap waktu, tempat, atau maksud dan tujuan.
Sedangkan kesadaran dapatdikuatkan melalui interaksi dan aktifitas
pada semua klien.
2. Assertion: kemampuan mengekspresikan perasaan
sendiri dengan tepat. Hal ini dapat dilakukan dengan cara
mendorong klien dalam mengekspresikan diri secaraefektif dengan
tingkah laku yang dapat diterima masyarakat melalui
kelompok asertif, kelompok klien dengan kemampuan fungsional yang
rendah atau elompok interkasi klien.
3. Accuption: kemampuan klien untuk dapat percaya diri dan
berprestasi melaluiketerampilan membuat kerajinan tangan. Hal
ini dapat idlakukan dengan caramemeberikan aktifi tas klien
dalam bentuk kegiatan sederhana seperti teka-
teki,mengembangkan aktifitas fisik seperti menyulam, membuat
bungan, melukis, danmeingkatkan manfaat interkasi sosial.
4. Recreation: kemampuan menggunakan dan
membuat a k t i fi t a s y a n g menyenangkan dan relaksasi.
Hal ini memberi kesekmpatan pada klien untuk mengikuti
bermacam reaksi dan membantu klien menerapkan keterampilan
yangtelah ia pelajari, seperti: orientasi asertif, interaksi sosial,
ketangksan fisik. Contohaktifitas relaksasi seperti: permainan kartu,
menebak kata dan jalan-jalan, bermainmusik dan drama
F. BENTUK
1. Rehabilitasi fisik
A k t i v i t a s s e h a r i - h a r i ( A D L ) : Ke t e r a m p i l a n - ke t e r a m p i l a n
i n i d a p a t d i l a t i h melalui program rehabilitasi di rumah dan di luar
rumah. Keterampilan ADLyang dapat dilakukan di rumah antara
lain : kebersihan diri, berhias, makan,minum, membersihkan
rumah, mempersiapkan alat masak, mengatur uang belanja,
menyusun kegiatan sehari-hari, dan melakukan
olahraga.Keterampilan yang dapat dilakukan di luar rumah
misalnya menggunakanfasilitas umum (bank, pusat perbelanjaan,
kantor pos).
Keterampilan belajar (tenang, memperhatikan, mengobservasi).
Keterampilan bekerja (menggunakan perkakas pertanian,
perkebunan, dankerajinan tangan).2. Rehabilitasi emosional
Aktitivitas sehari-hari: hubungan dengan orang lain, kontrol diri,
mekanismekoping pemecahan masalah.
Keterampilan belajar Membuat pertanyaan dan berusaha menjawab,
mengikuti petunjuk, dan aktif mendengarkan.
Ke t e r a m p i l a n b e ke r j a : wawancara p e ke r j a a n , dan
h u b u n g a n s o s i a l t e r k a i t pekerjaan.3. Rehabilitasi intelektual
Aktivitas sehari-hari: Manajemen keuangan, menggunakan sumber
dukungansosial, mempunyai tujuan.
Keterampilan belajar: membaca, menulis, berhitung, mengetik.
Keterampilan bekerja: mencari pekerjaan yang sesua
2. Rehabilitasi emosional
Aktitivitas sehari-hari: hubungan dengan orang lain, kontrol diri,
mekanismekoping pemecahan masalah.
Keterampilan belajar Membuat pertanyaan dan berusaha menjawab,
mengikuti petunjuk, dan aktif mendengarkan.
Ke t e r a m p i l a n b e ke r j a : wawancara p e ke r j a a n , dan
h u b u n g a n s o s i a l t e r k a i t pekerjaan.3. Rehabilitasi intelektual
Aktivitas sehari-hari: Manajemen keuangan, menggunakan sumber
dukungansosial, mempunyai tujuan.
Keterampilan belajar: membaca, menulis, berhitung, mengetik.
Keterampilan bekerja: mencari pekerjaan yang sesuai
3. Rehabilitasi intelektual
Aktivitas sehari-hari: Manajemen keuangan, menggunakan sumber
dukungansosial, mempunyai tujuan.

Keterampilan belajar: membaca, menulis, berhitung, mengetik.


Keterampilan bekerja: mencari pekerjaan yang sesuai.

G. PERAN PERAWAT DALAM REHABILITASI


1. Pada tahap persiapan, peran perawat klien dengan gangguan jiwa:
a. Peran stranger (orang yang tidak dikenal) : hal yang
pertama terjadi ketika perawat dan klien bertemu mereka belum
saling kenal, maka kliendiperlakukan secara biasanya. Perawat
menolong klien untuk mengenali danmemahami masalahnya dan
menentukkan apa yang diperlakukannya. Hal inidilakukan dengan
cara bina hubungan saling percaya dengan memebrikan s a l a m
pada klien, bersikap terbuka dengna mendengarkan apa
y a n g k l i e n sampaikan, menyapa klien dengan ramah sesuai dengan
panggilan kesukaan.
b. Peran pendidik: perawat memberikan jawaban dari
pertanyaan-pertanyaanyang spesifikmeliputi segala hal tentang
rehabilitaasi yang dijalani oleh kliendan menginterpretasikan pada
klien dan keluarga bagaimana cara perawatan klien dan rencana
perawatan selanjutnya setelah rehabiliatsi
c. Peran wali: klien menganggap perawat sebagai walinya,
sikap dan tingkahl a ku perawat menciptakan suatu
p e r a s a a n t e r t e n t u d a l a m d i r i k l i e n y a n g bersifat reaktif dan
muncul dari hubungan sebelumnya.
d. Pe r a n ke p e m i m p i n a n : mebantu klien mengerjakan
tugas-tugas m e l a l u i hubungan yang kooperatif dan
partisipasi aktif yang demokratis antar timkesehatan yang
terlibat dengan mengkomunikasikan tim rehabiliatsi
tentang jadwal dan jenis kegiatan rehabilitasi yang dilaksanakan
klien untuk kelangsungan perawatan yang berkesinambungan.
e. Peran pelaksana: memberikan obat sesuai dengan hasil
kolaborasi denganmedis yang diperlukan.
2. Pada tahap pelaksanaanPeran perawat pada klien dengan gangguan
jiwa, yaitu:
a. Peran pelaksana: membimbing klien dengan jenis
kegiatan rehabilitasi sesuaid e n g a n ke m a m p u a n klien,
m e n g o b s e r v a s i p e r i l a ku k l i e n s e l a m a ke g i a t a n rehabilitasi,
memberikan pujian atas keberhasilan klien dalam
melaksanakank e g i a t a n rehabilitasi, memberikan
dukungan jika klien belum b i s a menyelesaikan
kegiatan.
b. Pe r a n w a l i : m e m b i m b i n g k l i e n m e n g e n a l i d i r i n y a
d e n g a n s o s o k y a n g i a bayangkan dengan mendampingi klien
selama kegiatan rehabilitasi

3. Tahap pengawasan dan evaluasiPeran perawat pada klien dengan


gangguan jiwa, yaitu:
a. Peran pendidik: kombinasi dari seluruh peran dan selalu berasal dari
apa yangklien tidak ketahui dan dikembangkan dari keinginan
dan minatnya dalammenerima dan menggunakan informasi.
Perawat memberikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang
spesifik meliputi segala hal tentang rehabilitasiyang dijalani oleh
klien dan menginterpretasikan kepada klien dan
keluarga bagaimana cara perawatan klien dan rencana perawatan
selanjutnya setelahdilakukan rehabilitasi
b. Pe r a n ke p e m i m p i n a n : m e m b a n t u k l i e n m e n g e r j a k a n
t u g a s - t u g a s m e l a l u i hubungan yang kooperatif dan partisipasi
aktif yang demokratis antar timkesehatan yang terlibat dalam
pelaksanaan rehabilitasi dalam hal ini dengan
social worker untuk home visite apabila klien
s u d a h k o o p e r a t i f d a n direncanakan akan dilakukan pemulangan
ke rumah.
c. P e r a n p e l a k s a n a : m e l a k u k a n d o k u m e n t a s i d e n g a n
m e n e r a p k a n p r i n s i p dokumen.