Anda di halaman 1dari 16

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kangkung merupakan salah satu tanaman holtikultura sayuran ang sangat


di gemari oleh masyarakat Indonesia, selain rasanya yang gurih, tanaman
kangkung mudag di dapat di pasar tradisional dan cara mengolahnya mudah.
Kangkung merupakan tanaman semusim berumur pendek. Berasal dari india yang
kemudian menyebar ke Malayia, Burma, Indonesia, Cina Selatan dan bagian
Negara Afrika. Kangkung disebut juga Swamp cabbage, water convolculus, water
spinach.

Kangkung termasuk suku Convolvulaceae ( keluarga kangkung-


kangkungan ). Kedudukan tanaman kangkung dlam sistematika tubuh-tumbuhan
diklasifikasikan ke dalam :

Divisio : Spermatophyte

Sub-divisio : Angiospermae

Kelas : Dicotyledonae

Family : Convolvulaceae

Genus : Ipomoea

Species : Ipomoea aquatic

Berdasarkan tempat tumbuhnya, kangkung di bedakan dua macam


yaitu kangkung darat dan kangkung air yang hidup di tempat yang berair dan
basah.Ipomoea aquatic meiliki daun panjang, ujung agak tumpul, berwarna hijau
tua, bunga putih kekuningan atau kemerah-merahan. Ipomoea aquatic dapat

1
2

mengurangi pencemaran limbah roti , tekstil, dan limbah idustri obat-obat.


Tanaman tersebut pada siang hari dapat meningkatkan kualitas oksigen (O2)
terlarut dan menurunkan kandungan karbondioksida (CO2) bebas di perairan
tercemar, sehingga tanaman ini dapat juga digunakan sebagai alternatif untuk
mengurangi pencemaran.

Kangkung (Ipomoea aquatik ) dapat dijadikan sebagai indicator suatu


peraiaran. Dari hasil penelitian Seregeg (2005) dalam zahroh (2010) juga
menunjukan bahwa tanaman Ipomoea aquatic termasuk salah satu tanaman yang
mudah menyerap logam berat dari media tumbuhnya. Pada penelitian Kohar,
Hardjo dan Agustanti (2004), tentang studi kandungan logam Pb dalam batang
dan daun kangkung yang di rebus dengan penambahan NaCl dan asam asetat
mendapatkan hasil pada tanaman kangkung ternyata kadar Pb pada bagian daun
lebih tinggi di banding batang, hal ini disebabkan karena setelah diserap oleh
akar, maka Pb akan di transfer ke daun untuk di asimilasi lebih lanjut.

Tanaman bioindikator dalam suatu ekosistem akan beriinteraksi dengan


lingkungannya dengan menunjukan perubahan pada morfologi, anatomi,
biokimia, maupun fisiologi. Perubahan yang terlihat dapatberupa nekrosis,
perubahan bentuk dan wara daun, atau dengan kata lain dapat secara cepat terlihat
dan terukur tanpa mendeteksi keberadaan polutan di dalam jaringan tanaman.
Sehingga dari tanggapan yang di perlihatkan, tanaman bioindikator dapat di
gunakan untuk memastikan adanya bahan pencemar di lingkungan tersebut yang
terakumulasi dalam jaringan atau organ tumbuhnya (Widowati, 2013).

Tanaman dapat menjadi perantara penyebaran logam berat pada makhluk


hidup karena masuknya logam tersebut pada tumbuhan melalui akardan mulut
daun (stomata). Sayur-sayuran sebagai konsumsi bagi manusia maupun hean
menyebabkan berpindahnya logam yang terdapat di dalamnya seperti timbal,
cadmium (Cd), kromium (Cr), dan seng (Zn) masuk ke dalam tubuh makluk
3

hidup lainya. Menurut Soerodikusuma dan Hartika(1980) dalam Haryanti,dkk


(2012) adaptasi tanaman terhadap lingkungan merupakan cara khusus sifat-sifat
karakteristik anatomi dan fisiologi untuk memberkan peluang keberhasilan
menyesuaikan kehidupan di habitat tertentu. Oleh karena itu adaptasi anatomi dan
fisiologi sapat di jadikan indicator terhadap perubahan lingkungan hidup tanaman.

Berdasarkan uraian diatas, dapat di ketahui bahwa kangkung dapat


dijadikan sebagai indicator suatu perairan.menurut Alfa (2013), kesanggupan
kangkung hidup pada perairan tercemar dan kangkung juga dapat hidup pada
perairan yang bersih dapat di jadikan sebagai bioindikator, maka peneliti ingin
meneliti tentang Perbandingan Struktur Anatomi Organ vegetative Tumbuhan
Kangkung Air (Ipomoea aquatic) pada Perairan Bersih dan Tercemar di Sungai
Aur Pasaman Barat.

B. Batasan Masalah

Batasan masalah pada penelitian ini adalah:

1. Membandingkan efek perairan tercemar terhadap struktur anatomi organ


vegetatif Ipomea aquatica dengan anatomiorgan vegetative Ipomea aquatica
yang tumbuh di perairan bersih.
2. Ipomoea aquatica pada Kolam penampungan hasil buangan limbah pabrik
sawit PT. Agrowiratama Sungai Aur Pasaman barat.
3. Ipomoea aquatica pada Kolam buatan sendiri.

C. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada penelitian ini adalah Bagaimanakah
perbandingan struktur organ vegetative Ipomoea aquatica yang tumbuh di
perairan bersih dan perairan tercemar.

D. Tujuan penelitian
4

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan struktur


anatomi organ vegetative tumbuhan kangkung air (Ipomoea aquatica) yang
tumbuh di perairan bersih dan perairan tercemar.

E. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian adala:
1) Memperkaya informasi tentang efek pencemaran terhadap struktur
anatomi tumbuhan bagi masyarakat.
2) Sebagai bahan masukan untuk penelitian selanjutnya
3) Sebagai informasi bagi masyarakat ilmiah tentang struktur anatomi
tumbuhan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Ipomea aquatic Forsk

Genus iphomea termasuk dalam kingdom : Plantae, divisi

:Spermatophyta, sub divisi: Angiospermae, kelas: Dicotyledoneae, ordo:

Tubiflorae, family: Convolvulaceae, genus: Iphomea, species: Ipomea aquatic


5

forsk (Lawrence,1964). Famili Convulvulaceae berupa herba atau semak kayu,

kebanyakan merayap atau membelit, daun tunggal, duduk tersebar tanpa daun

penumpu. Famili ini memiliki sekitar 50 genus dan lebih dari 1200 species,

dimana 400 species diantaranya termasuk dalam genus Ipomea. Ipomea aquatic

Forsk memiliki daun panjang, ujung agak tumpul, bewarna hijau tua, bunga putih

kekuningan atau kemerahan. Ipomea reptans memiliki daun panjang, ujung agak

runcing, warna hiaju keputih-putihan dan bunga putih. Kangkung merupakan

tanaman menetap yang dapat tumbuh yang lebih dari satu tahun, tumbuh di

daratan rendah sampai daratan tinggi 2000 m dpl (sunardi,2011).

Kangkung air (Ipomea aquatica) merupakan tanaman air yang banyak

ditemukan dibeberapa wilayah Asia Tenggara, India, dan Cina bagian Tenggara.

Tanaman ini tumbuh dengan cara merambat dan juga mengapung diatas air.

Klasifikasi kangkung air (Ipomea aquatica) adalah sebagai berikut : kingdom:

Plantae, divisi: Spermatopyta, sub divisi: Anggiospermae, kelas: Dicotyledoneae,

ordo: Tubiflorae, family: Convolvulaceae, genus: Ipomea, species: ipomea


5
aquatica Forsk (Lawrence, 1964).

B. Anatomi Organ Vegetatif Tumbuhan

Tumbuhan memiliki tiga organ vegetatf: akar, batang, dan daun. Akar

merupakan bagian tumbuhan yang biasanya berkembang dibawah permukaan

tanah. Akar pertama pada tumbuhan berbiji berkembang dari meristem apeks di
6

ujung akar embrio dalam biji yang berkecambah. Kondisi lingkungan sering

memengaruhi system akar. Susunan internal akar juga beragam namun lebih

sederhana dari segi filogeni lebih primitive di bandingkan dengan batang. Tidak

adanya daun mengakibatkan struktur yang seragam di sepanjang akar. Pada ujung

akar tampak tudung akar.

Penampang melintang melalui akar primer ( yang belum mengalami

penebalan sekunder) akan menunjukan luar kedalam epidermis, korteks, dan

ikatan pembuluh. Sel epidermis akar berdinding tipis dan biasanya tanpa kutikula,

namun kadang-kadang sel paling luar berkutikula. Korteks akar pada umumnya

terdiri dari sel parenkimtersebut dianggap berperan dalam pengankatan gas dan

sebagai wadah oksigen (O2) yang di perlukan dalam resprasi jaringan yang tidak

bisa memperoleh oksigen (O2) dari udara luar.

Endodermis adalah sel yang terdapat dibawah jaringan korteks, digunakan

sebagai daerah penyerapan. Silinder pembuluh terdiri dari jaringan pembuluh

dengan satu lapisan perisekel disebelah luarnya. Sesuai dengan jumlah betkas

xillem di tepi, akar dinamakan diark bila terdapat dua berkas pembuluh, triak jika

tiga berkas, tetrak bila jumlahnya empat dan seterusnya. Pada akar pentark tidak

terisi metaxillem, melainkan parenkim empulur. Metaxilem terdapat di tepi bagian

dalam protoxilem. Bila jumlah kutub lebih bnyak, akar disebut poliark disertai

empulur yang luas. Tumbuhan yang hidup diperairan memiliki aerenkim yang
7

mengisi jaringan korteksnya. Aerenkim pada akar berfungsi sebagai pengontrolan

kadar oksigen (O2) yang berlebih. (hidayat,1995).

Pada perkembangan biji, embrio membesar dan mulai tumbuh, meristem

pucuk batang muda menambah primodia daun dan buku. Batang primer

berkembang dari protoderm, prokambium dan meristem dasar. Batang dikelilingi

oleh epidermis. Di antara sel epidermis ada yang berubah menjadi sel penutup,

idioblas, dan berbagai tipe trikoma. Di sebelah dalam epidermis terdapat korteks

yang terdiri atas berbagai macam tipe sel. Korteks yang sederhana terdiri atas sel

parenkim berdinding tipis. Batas antar korteks dan stele adalah endodermis,

disebelah dalam adaalah stele yang berisi sitem pembuluh pada Gymnospermae

dan bagian besar Dycotiledoneae, system pembuluh terdiri atas silinder bercelah

dan bagian tengahnya disebut empulur. Terdapat dua macam jaringan pembuluh,

yaitu floem yang biasanya terletak di bagian luar dan xylem yang biasanya di

bagian dalam (mulyani,2006)

Daun mempunyai beberapa fungsi, yaitu sebagai tempat berlangsungnya

fotosintesis menyerap CO2 dari udara, dan sebagai tempat pengeluaran kelebihan

air. Daun tersusun dari beberapa jaringan, yaitu jaringan dermal(epidermis),

jaringan dasar(mesofil), jaringan pembuluh(berkas pengankut). Jaringan

epidermis daun tersusun ats selapis sel-sel kompak. Dinding sel dilapisi dengan

kutikula (lilin) dan diantara sel-selnya terdapat stomata. Stomata dibentuk oleh

dua sel penutup yang berasal dari sel epidermis yang mengandung kloroplas.
8

Stomata berfungsi sebagai alat pertukaran gas. Pada jenis tumbuhan air, letak

stomata biasanya terletak di permukaan atas daun, sedangkan padajenis tumbuhan

darat biasanya dipermukaan bawah daun (Hidayat, 1995).

Jaringan dasar (mesofil) merupakan bagian yang memiliki kloroplas

(klorofil). Mesofil terdiri atas dua lapisan yaitu lapisan parenkim palisade dan

parenkim spons. Parenkim palisade terdidri atas sel-sel berbentuk pagar dan rapat

dan banyak mengandung kloroplas.parenkim spons terdiri atas sel-sel lonjong

yang tidak teratur mengandung banyak ruang interseluler, serta sedikit

mengandung kloroplas. Parenkim spons berfungsi untuk memasukan gas

pernafasan dan udara lewat stomata. ( Essau,1976).

Jaringan pembuluh pada bagian daun berbentuk suatu ikatan yang disebut

tulang daun. Beberapa tulang daun membentuk beberapa pola yang disebut

pertulangan daun. Jaringan pengangkut (xylem dan floem) terdapat pada

pertulangan daun dan mempunyai susunan seperti berkas pengangkut pada

batang. Semakin dekat dengan ujung tulang daun, susunan berkas pengangkut

semakin sederhana.(hidayat,1995)

C. KARAKTERISTIK PERAIRAN TERCEMAR DAN BERSIH

Perairan tercemar adalah suatu badan perairan yang menerima banyak

masukan dari berbagai limbah yang dapat mencemari badan perairan serta

ekosistem yang terdapat didalamnya seperti logam yang bersal dari limbah hasil
9

buangan manusia yang bukan merupakan logam alami. Perairan bersih adalah

suatu perairan yang tidak menerima masukan dari berbagai limbah hasil buangan

manusia. Menurut sutrisno dan suciastuti (2002) dalam susanto (2009).

Persyaratan air bersih secara fisik meiliputi air harus jernih, tidak berwarna, tidak

berbau, dan tidak mengandung zat padatan

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan bulan Maret-Juni 2017 di Laboratorium
Botani STKIP PGRI Sumbar. Sampel I. aquatica yang hidup pada air tercemar
diperoleh dari Kolam penampungan hasil buangan limbah pabrik sawit PT.
Agrowiratama, Sungai Aur, Pasaman Barat. Sedangkan yang hidup di air
bersih diperoleh dari penanaman di kolam buatan sendiri.

B. Alat dan Bahan


Alat-alat yang digunakan adalah cutter, pisau silet gold,pinset, rol,
botol plastic, kaca objek, kaca objek, kaca penutup, pipet tetes, petridish,
mikroskop elektrik, micrometer, alat-alat tulis, label, dan kamera digital.
10

Bahan yang digunakan adalah organ vegetative Ipomoea aquatica,


FAA, Formalin 40 %, larutan Alkohol 96%, 70%, Alkohol Absolut, Safranin,
Aquades, kertas tissue, gabus, dan kertas label.

C. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif
kuantitatif dan pengamatan langsung dib laboratorium dengan pembuatan
preparat permanen.

BAB IV
10
HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasrkan hasil pengamatan yang telah dilakukan pada I.aquatica terhadap

struktur anatomi yang di sayat secara melintang dapat dijelaskan hasil

pengamatannya sebagai berikut :

A. Struktur Umum Anatomi Akar I.Aquatica

Strutur umum anatomi akar I.aquatica pada sayatan melintang secara

sentripetal memperlihatkan 3 lapisan sel epidermis yang berbeda bentuk dan ukuran

nya. Sel epidermis paling luar ditutupi oleh kutikula, katebalan kutikula yang

melapisi epidermis dari I.aquatica yang hidup pada perairan yang berbeda ini

memiliki ketebalan kutikula yang berbeda juga.


11

Di bawah epidermis terdapat jaringan korteks yang terdiri dari sel-sel

parenkim berbentuk bulat yang saling berkesinambungan memunuhi korteks, selain

parenkim terdapat parenkim udara ( aerenkim ). Aerenkim pada I.aquatica yang

hidup pada perairan yang berbeda memiliki rasio yang berbeda dengan luas sayatan

melintang akarnya. Antar sel parenkim didapatkan rongga antar sel berbentuk

segitiga.

Setelah korteks terdapat endodermis yang terdiri dari satu lapis sel

endodermis yang memanjang pada sisi tangensial. Perisikel terdapat di bawah

endodermis yang memiliki bentuk yang sama dengan endodermis.

11
Ikatan pembuluh dari kedua I.aquatica yang hidup diperairan bersih dan

tercemar ini memiliki tipe ikatan pembuluh yang sama. Metaxilem dari kedua

I.aquatica ini memiliki jumlah yang berbeda.

1. Akar I.aquatica Peraiaran Bersih

Struktur penampang melintang akar epidermis pada akar I.aquatica perairan

bersih memiliki 3 lapis sel epidermis, selanjutnya terlihat jaringan korteks yang

terdiri dari sel-sel parenkim 10-12 lapis sel, parenkim bagian dalam berbatas dengan

endodermis, di bawah endodermis terdapat perisikel yang bentuk dan ukuran selnya

mirip dengan endodermis. Pada stele terdapat berkas pengangkut tipe poliark yang

memiliki 6 berkas pembuluh. Pada akar I.aquatica mengandung banyak pati dalam

parenkim korteks
12

2. Akar I.aquatica Peraiaran Tercemar

Akar I.aquatica pada perairan tercemar memiliki kutikula yang lebih tebal

dibandingkan I.aquatica pada perairan bersih. Sama hal nya dengan I.aquatica

perairan bersih struktur penampang melintang akar epidermis pada akar I.aquatica

pada perairan tercemar memiliki 3lapis sel epidermis, selanjutnya berkesinambungan

dengan korteks yang teriri dari sel-sel parenkim 14-16 lapis sel, parenkim bagian

dalam berbatas dengan endodermis, dibawah endodermis terdapat perisikel yang

selnya tidak dapat dibedakan bentuknya dari endodermis, namun bisa di bedakan dari

letaknya. Pada stele terdapat berkas pengangkut tipe poliark yang memiliki 11 berkas

pembuluh. Pada akar I.aquatica perairan tercemar tidak mengandung pati seperti

I.aquatica perairan bersih.

B. Struktur Umum Anatomi Batang I.aquatica

Batang I.aquatica pada sayatan melintang memperlihatkan epidermis yang

berlapis, dan berkas pengangkut yang tersusun sepanjang lingkar batang. Struktur

anatomi batang I.aquatica yang dilihat pada sayatan melintang secara sentripetal

memperlihatkan lapisan epidermis, korteks, ikatan pembuluh dan parenkim empulur.

Lapisan kutikula berada pada lapisan paling luar yang mengelilingi batang.

Epidermis pada batang I.aquatica terdiri dari 3 lapis sel epidermis. Sel epidermis

terlihat seperti persegi panjang pada sisi tangensial.setelah lapisan epidermis terdpata
13

jaringan korteks yang terdiri dari jarngan parenkim. Jaringan korteks I.aquatica

berbeda antara I.aquatica bersih dan tercemar berbeda dari bentuk dan ukuranya.

1. Batang I.aquatica Perairan Bersih

Struktur penampang melintang I.aquatica perairan bersih memilki 3 lapis sel

epidermis, selanjutnya berkesinambungan dengan korteks yang terdiri dari parenkim

yang memiliki sifat sklerenkim atous. Setelah korteks terdapat ikatan pembuluh yang

memiliki tipe bikolateral . Batang I.aquatica pada sayatan melintang mengandung

pati pada jaringan parenkim.

2. Batang I.aquatica Perairan Tercemar

Struktur penampang melintang pada batang I.aquatica perairan tercemar

memilki 3 lapis sel epidermis, selanjutnya berkesinambungan dengan korteks yang

terdiri dari aerenkim yang terlihat jelas daripada batang I.aquatica perairan bersih.

Setelah korteks terdapat ikatan pembuluh yang memiliki tipe bikolateral . Batang

I.aquatica perairan tercemar pada sayatan melintang parenkim nya tidak mengandung

pati seperti pada perairan bersih.

C. Struktur Umum Anatomi Daun I.Aquatica

Daun I.aquatica pada sayatan melintang memperlihatkan epidermis yang terdiri

dari 1 lapis sel epidermi bagian atas daun dan 1 lapis bagian bawah daun. Korteks ,
14

ikatan pembuluh, jaringan palisade, jaringan spons, kolenkim pada tulang daun utama

, epidermis bawah dan stomata. Daun I.aquatica memiliki kutikula yang tipis.

Jaringan palisade terdiri 3 lapis sel palisade.

1. Daun I.aquatica perairan bersih

Daun I.aquatica perairan bersih memiliki sel epidermis 1 lapis , 1 lapis

bagian adaksial dan 1 lapis bagian abaksial. Pada I.aquatica perairan bersih terdapat

jaringan palisade, jaringan spons dan stomata.

2. Daun I.aquatica Perairan Tercemar

Daun I.aquatica perairan tercemar memiliki sel epidermis 1 lapis, satu lapis

bagian adaksial dan 1 lapis bagian abaksial. Pada daun I.aquatica perairan bersih

terdapat jaringan palisade , jaringan spons dan stomata.


15

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan tentang Struktur Anatomi Organ

Vegetatif Tumbuhan Kangkung air (Ipomea aquatica) Pada perairan bersih

dan perairan tercemar di Kota Padang dapat disimpulkan sebagai berikut :


1. Struktur umum ( susunan jaringan) anatomi akar l. Aquatica yang tumbuh

pada perairan bersih dengan perairan tercemar tidak memperlihatkan

perbedaan yang signifikan. Perbedaan terlihat pada ukuran dan adanya

kandungan pati yang hidup diperairan bersih. perbedaannya terdapat pada

parenkim kortexs akar adanya kandungan pati pada I. aquatica yang

tumbuh diperairan bersih, dan pada perairan tercemar tidak ditemukan

pati pada kontexs akarnya. Kutikula pada I.aquatica perairan tercemar

terlihat lebih tebal daripada I. Aquatica perairan bersih. Aerenkim pada

I.aquatica perairan tercemar memiliki rongga lebih bnyak dibandingkan

rongga aerenkim pada i. Aquatica perairan bersih namun memiliki luas

yang lebih kecil dibandingkan I. Aquatica perairan bersih.


2. Struktur umum ( susunan jaringan )anatomi batang I. aquatica diperairan

bersih dan diperairan tercemar sama struktur dan susunan jaringannya.

16
16

Perbedaannya terlihat pada pati yang terdapat pada jaringan batang

padajaringan batang I.aquatica perairan bersih mengandung pati dan I.

Aquatica hidup di perairan tercemar tidak ada pati. Kutikula pada I.

Aquatica perairan tercemar juga lebih jelas dibandingkanI.

Aquaticaperairan bersih. pada sayatan melintang batang I.aquatica

perairan tercemar terlihat aerenkim yang besar dan jelas sedangkan pada

batang I. Aquatica perairan bersih aerenkim nya kecil.


3. Struktur umum (susunan jaringan) anatomi daun I. Aquatica perairan

bersih dan tercemar sama struktur dan susunan jaringannya. Tersusun atas

kutikula, jaringan epidermis atas (adaksial), jaringan mesofil yang

termodifikasi menjadi jaringan palisade dan jaringan spons, ikatan

pembuluh dan jaringan epidermis bawah (abaksial). Ukuran stomata pada

kedua daun I.Aquatica ini juga berbeda I.aquatica perairan bersih

memiliki ukuran yang lebih pendek dibandingkan I.aquatica perairan

tercema. Panjang sel kolenkim juga berbeda, sel kolenkimjuga berbeda ,

sel kolenkim pada I. Aquatica perairan tercemar memiliki diameter yang

lebih panjangdibandingkan kolenkim yang terdapat pada daun I. Aquatica

perairan bersih.
B. Saran
Bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk melakukan penanaman I. Aquatica

pada perairan bersih dengan waktu yang lebih lama, untuk mendapatkan

perbedaan yang lebih spesifik