Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Puskesmas merupakan unit pelayanan kesehatan yang letaknya berada
paling dekat ditengah-tengah masyarakat dan mudah dijangkau dibandingkan
dengan unit kesehatan lainnya (Rumah Negeri maupun Swasta). Fungsi
Puskesmas adalah mengembangkan pelayanan kesehatan yang menyeluruh seiring
dengan misinya. Pelayanan kesehatan tersebut harus bersifat menyeluruh atau
yang disebut dengan Comprehensive Health Care Service yang meliputi aspek
promotive, preventive, curative dan rehabilitatif. Prioritas yang harus
dikembangkan oleh puskesmas harus diarahkan ke bentuk pelayanan kesehatan
dasar (basic health care services) yang lebih mengedepankan upaya promosi dan
pencegahan (public helath service).1
Angka kejadian penyakit alergi akhir-akhir ini meningkat sejalan dengan
perubahan pola hidup masyarakat modern, polusi baik lingkungan maupun zat-zat
yang ada di dalam makanan. Salah satu penyakit alergi yang banyak terjadi di
masyarakat adalah penyakit asma. Asma merupakan penyakit inflamasi kronis
saluran napas yang ditandai dengan. Dalam 30 tahun terakhir prevalensi asma
terus meningkat terutama di negara maju Gejala klinis yang terjadi dapat berupa
mengi, sesak napas, dada terasa berat, batuk-batuk, yang derajatnya bervariasi dan
bersifat reversibel secara spontan. Gejala ini berhubungan dengan luasnya proses
inflamasi yang sedang berlangsung, yang akan memicu terjadinya berbagai
kondisi (edema, bronkokonstriksi, hipersekresi kelenjar, dan lain-lain). Kondisi ini
menyebabkan pembatasan aliran udara di saluran pernapasan, yang akan
menimbulkan sesak napas sebagai manifestasi klinis utama, yang sangat
mengganggu aktivitas, produktivitas dan kualitas hidup pasien asma. Peningkatan
terjadi juga di negara-negara Asia Pasifik seperti Indonesia. Studi di Asia Pasifik
baru-baru ini menunjukkan bahwa tingkat tidak masuk kerja akibat asma jauh
lebih tinggi dibandingkan dengan di Amerika Serikat dan Eropa. Hampir separuh
dari seluruh pasien asma pernah dirawat di rumah sakit dan melakukan kunjungan
ke bagian gawat darurat setiap tahunnya. Hal tersebut disebabkan manajemen dan

1
2

pengobatan asma yang masih jauh dari pedoman yang direkomendasikan Global
Initiative for Asthma (GINA).12
Penyakit asma memberi dampak yang luas terhadap aktivitas, produktivitas,
dan berbagai kondisi sosial masyarakat khususnya di kalangan pasien asma, yang
sudah barang tentu akan meningkatkan beban pembiayaan kesehatan dan beban
ekonomi masyarakat. Mereka akan mengalami kehilangan hari kerja,
ketidakhadiran di sekolah, serta gangguan aktivitas sosial lainnya (Mangunegoro,
2004, Sundaru 2002).
Prevalensi asma meningkat dari waktu ke waktu menyerang negara maju
maupun negara sedang berkembang. Namun 80% kematian yang disebabkan oleh
asma terjadi pada negara yang berpendapatan rendah dan sedang kebawah.
Peningkatan prevalensi tersebut berhubungan dengan tidak terdiagnosa atau jika
terdiagnosa, penderita asma tidak memiliki akses terhadap pengobatan dasar,
akses kesehatan, dan kurangnya tingkat pendidikan penderita.3
Pada umumnya, penyakit asma dijumpai di seluruh dunia, dan menyerang
baik pria maupun wanita, dari seluruh lapisan sosial ekonomi dengan prevalensi
yang berkisar antara 1-10 %. Hal ini tampak pada berbagai penelitian
epidemiologis. Pada tahun 2011, 300 juta orang di dunia mengalami penyakit
asma,dan sekitar 250.000 orang meninggal per tahun akibat penyakit ini. Jumlah
bervariasi antara negara-negara dengan prevalensi antara 1 dan 18%. Hal ini lebih
sering terjadi pada negara maju dibandingkan negara-negara berkembang. Hasil
penelitian pada tahun 2005 menunjukkan bahwa di Indonesia prevalensi penyakit
asma meningkat dari 4,2% menjadi 5,4%. Diperkirakan prevalensi asma di
Indonesia 5% dari seluruh penduduk Indonesia, artinya saat ini ada 12,5 juta
pasien asma di Indonesia.4
Peran dokter dalam mengatasi penyakit asma sangatlah penting. Dokter
sebagai pintu pertama yang akan diketuk oleh penderita dalam menolong
penderita asma, harus selalu meningkatkan pelayanan, salah satunya yang sering
diabaikan adalah memberikan edukasi atau pendidikan kesehatan. Pendidikan
kesehatan kepada penderita dan keluarganya akan sangat berarti bagi penderita,
terutama bagaimana sikap dan tindakan yang bisa dikerjakan pada waktu
menghadapi serangan, dan bagaimana caranya mencegah terjadinya serangan
3

asma. Direktorat Jenderal PPM & PLP, Departemen Kesehatan Republik


Indonesia. Pedoman Pengendalian Penyakit Asma. Departemen Kesehatan RI ;
2009; 5-11.

1.2. Tujuan Penulisan


1.2.1. Tujuan Umum
Penulisan laporan kasus kepaniteraan klinik ilmu kedokteran keluarga
disusun sebagian syarat untuk mengikuti Kepanitraan Klinik bagian
Kedokteran Keluarga Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah
Palembang.
1.2.2. Tujuan Khusus
Sebagai sarana pembelajaran dan penerapan prinsip-prinsip pelayanan
kedokteran keluarga dalam mengatasi masalah tidak hanya pada penyakit
pasien tetapi juga faktor psikososial dari keluarga yang mempengaruhi
timbulnya penyakit serta peran serta keluarga dalam mengatasi masalah
kesehatan.

1.3. Manfaat Penelitian


1.3.1. Manfaat untuk Puskesmas
Sebagai sarana kerjasama yang saling menguntungkan untuk dapat
meningkatkan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat dan mendapatkan
umpan balik dari hasil evaluasi konsisten dalam rangka mengoptimalkan
peran puskesmas.
1.3.2. Manfaat untuk mahasiswa
Sebagai sarana keterampilan dan pengalaman dalam upaya pelayanan
kesehatan dengan menerapkan prinsip-prinsip kedokteran keluarga.

BAB II
TINJAUAN LITERATUR

2.1. Tinjauan Kasus


2.1.1. Definisi
4

Asma adalah gangguan inflamasi kronik saluran napas yang


melibatkan banyak sel dan elemennya. Inflamasi kronik menyebabkan
peningkatan hiperresponsif jalan napas yang menimbulkan gejala episodik
berulang berupa mengi, sesak napas, dada terasa berat dan batuk-batuk
terutama pada malam hari atau dini hari. Episodik tersebut berhubungan
dengan obstruksi jalan napas yang luas, bervariasi dan seringkali bersifat
reversibel dengan atau tanpa pengobatan.5
Asma adalah suatu kelainan berupa inflamasi (peradangan) kronik
saluran napas yang menyebabkan hipereaktivitas bronkus terhadap
berbagai rangsangan yang ditandai dengan gejala episodik berulang berupa
mengi, batuk, sesak napas dan rasa berat di dada terutama pada malam dan
atau dini hari yang umumnya bersifat reversibel baik dengan atau tanpa
pengobatan.6
Secara khas, sebagian besar serangan berlangsung singkat selama
beberapa menit hingga beberapa jam setelah itu, pasien tampak mengalami
kesembuhan klinik yang total. Namun demikian, ada suatu fase ketika
pasien mengalami obstruksi jalan napas dengan derajat tertentu setiap
harinya. Fase ini dapat ringan dengan atau tanpa disertai episode yang
berat atau yang lebih serius lagi, dengan obstruksi hebat yang berlangsung
selama berhari-hari atau berminggu-minggu. Keadaan semacam ini
dikenal sebagai status asmatikus. Pada beberapa keadaan yang jarang
ditemui, serangan asma yang akut dapat berakhir dengan kematian.

2.1.2. Epidemiologi
Penyakit asma merupakan kelainan yang sangat sering ditemukan
dan diperkirakan 45% populasi penduduk di Amerika Serikat terjangkit
oleh penyakit ini. Asma bronkial terjadi pada segala usia tetapi terutama
dijumpai pada usia dini. Sekitar separuh kasus timbul sebelum usia 10
tahun dan sepertiga kasus lainnya terjadi sebelum usia 40 tahun. Pada usia
kanak-kanak terdapat predisposisi laki-laki : perempuan = 2 : 1 yang
kemudian menjadi sama pada usia 30 tahun.
Asma merupakan 10 besar penyebab kesakitan dan kematian di Indonesia,
hal itu tergambar dari data studi Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT)
5

di berbagai propinsi di Indonesia. SKRT 1986 menunjukkan asma


menduduki urutan ke 5 dari 10 penyebab kesakitan bersama-sama dengan
bronkitis kronik dan emfisema. Pada SKRT 1992, asma, bronkitis kronik
dan emfisema sebagai penyebab kematian ke 4 di Indonesia atau sebesar
5,6%. Tahun 1995, prevalensi asma di Indonesia sekitar 13 per 1.000
penduduk, dibandingkan bronkitis kronik 11 per 1.000 penduduk dan
obstruksi paru 2 per 1.000 penduduk.
Woolcock dan Konthen pada tahun 1990 di Bali mendapatkan
prevalensi asma pada anak dengan hiperreaktivitas bronkus 2,4% dan
hiperreaktivitas bronkus serta gangguan faal paru adalah 0,7%. Studi pada
anak usia SLTP di Semarang dengan menggunakan kuisioner International
Study of Asthma and Allergies in Childhood (ISAAC), didapatkan hasil
dari 402 kuisioner yang kembali dengan rata-rata umur 13,8 0,8 tahun
didapatkan prevalensi asma (gejala asma 12 bulan terakhir/recent asthma),
6,2% dari 64% diantaranya mempunyai gejala klasik. Bagian anak FKUI-
RSCM melakukan studi prevalensi asma pada anak usia SLTP di Jakarta
pusat pada 19951996 dengan mengunakan kuisioner modifikasi dari ATS,
ISAAC dan Robertson, serta melakukan uji provokasi bronkus secara
acak. Seluruhnya 1.296 siswa dengan usia 11 tahun 5 bulan 18 tahun 4
bulan, didapatkan 14,7% dengan riwayat asma dan 5,8% dengan recent
asthma. Tahun 2001, Yunus dkk melakukan studi prevalensi asma pada
siswa SLTP se Jakarta Timur, sebanyak 2.234 anak usia 1314 tahun
melalui kuisioner ISAAC, pemeriksaan spirometri dan uji provokasi
bronkus pada sebagian subjek yang dipilih secara acak. Dari studi tersebut
didapatkan prevalensi asma (recent asthma) 8,9% dan prevalensi
kumulatif (riwayat asma) 11,5%.

2.1.3. Faktor predisposisi dan presipitasi


Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan
presipitasi timbulnya serangan asma bronkial7.
1. Faktor predisposisi
a. Genetik
6

Belum diketahui cara penurunanbakat alergi asma yang jelas.


Penderita dengan penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga
dekat juga menderita penyakit alergi. Karena adanya bakat alergi ini,
penderita sangat mudah terkena penyakit asthma bronkhial jika
terpapar dengan foktor pencetus. Selain itu hipersentifisitas saluran
pernafasannya juga bisa diturunkan.
2. Faktor presipitasi
a. Alergen
Alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :
- Inhalan, sesuatu yang masuk melalui saluran pernapasan seperti
debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan
polusi
- Ingestan, sesuatu yang masuk melalui mulut seperti makanan
dan obat-obatan
- Kontaktan, sesuatu yang masuk melalui kontak dengan kulit
sepeti perhiasan, logam dan jam tangan
b. Perubahan cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering
mempengaruhi asma. Atmosfir yang mendadak dingin merupakan
faktor pemicu terjadinya serangan asma. Kadang kadang serangan
berhubungan dengan musim, seperti: musim hujan, musim kemarau,
musim bunga. Hal ini berhubungan dengan arah angin serbuk bunga
dan debu.
c. Lingkungan.
Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan
asma. Hal ini berkaitan dengan dimana dia berada.
d. Olah raga/ aktifitas jasmani yang berat
Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika
melakukan aktifitas jasmani atau aloh raga yang berat. Lari cepat
paling mudah menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena
aktifitas biasanya terjadi segera setelah selesai aktifitas tersebut.

2.1.4. Faktor Pencetus


7

Penelitian yang dilakukan oleh pakar di bidang penyakit asma sudah


sedemikian jauh, tetapi sampai sekarang belum menemukan penyebab yang
pasti. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa saluran pernapasan
penderita asma mempunyai sifat sangat peka terhadap rangsangan dari luar
yang erat kaitannya dengan proses inflamasi. Proses inflamasi akan
meningkat bila penderita terpajan oleh alergen tertentu.8
Penyempitan saluran pernapasan pada penderita asma disebabkan
oleh reaksi inflamasi kronik yang didahului oleh faktor pencetus. Beberapa
faktor pencetus yang sering menjadi pencetus serangan asma adalah :
1. Faktor Lingkungan
a. Alergen dalam rumah
b. Alergen luar rumah
2. Faktor Lain
a. Alergen makanan
b. Alergen obat obat tertentu
c. Bahan yang mengiritasi
d. Ekspresi emosi berlebih
e. Asap rokok bagi perokok aktif maupun perokok pasif
f. Polusi udara dari dalam dan luar ruangan

2.1.5. Klasifikasi
Berat-ringannya asma ditentukan oleh berbagai faktor, antara lain
gambaran klinik sebelum pengobatan (gejala, eksaserbasi, gejala malam
hari, pemberian obat inhalasi -2 agonis dan uji faal paru) serta obat-obat
yang digunakan untuk mengontrol asma (jenis obat, kombinasi obat dan
frekuensi pemakaian obat). Tidak ada suatu pemeriksaan tunggal yang dapat
menentukan berat-ringannya suatu penyakit. Dengan adanya pemeriksaan
klinis termasuk uji faal paru dapat menentukan klasifikasi menurut berat-
ringannya asma yang sangat penting dalam penatalaksanaannya.9
Asma diklasifikasikan atas asma saat tanpa serangan dan asma saat
serangan (akut) :
1. Asma saat tanpa serangan
Asma saat tanpa atau diluar serangan, terdiri dari: 1) Intermitten; 2)
Persisten ringan; 3) Persisten sedang; dan 4) Persisten berat (Tabel.1)
Derajat Gejala Gejala Faal
8

asma malam paru

Intermitt Bulanan APE


en Gejala < 2x/bula 80%
1x/mingg n VEP1
u 80% nilai
Tanpa gejala prediksi
diluar APE
serangan 80% nilai

Serangan terbaik

singkat Variabilitas
APE <
20%
Persisten Mingguan > APE >
ringan Gejala > 2x/bula 80%
1x/minggu n VEP1
tetapi < 80%
1x/hari nilai
Serangan dpt prediksi
mengganggu APE
aktivitas dan 80% nilai
tidur terbaik
Variabi
litas APE
20-30%
Persisten Harian > APE 60-
sedang Gejala setiap 1x/ming 80%
hari gu VEP1 60-
Serangan 80% nilai
mengganggu prediksi
aktivitas dan APE 60-
tidur 80% nilai
terbaik
9

membutuhka Variabilitas

n APE >
bronkodilator 30%
setiap hari
Persisten Kontinua Sering APE
berat Gejala terus 60%
menerus VEp1
Sering 60% nilai
kambuh prediksi

Aktivitas fisik 60% nilai

terbatas terbaik
Variabilitas
APE >
30%

2. Asma saat serangan


Klasifikasi derajat asma berdasarkan frekuensi serangan dan obat
yang digunakan sehari-hari, asma juga dapat dinilai berdasarkan
beratringannya serangan. Global Initiative for Asthma (GINA) membuat
pembagian derajat serangan asma berdasarkan gejala dan tanda klinis, uji
fungsi paru, dan pemeriksaan laboratorium. Derajat serangan
menentukan terapi yang akan diterapkan. Klasifikasi tersebut meliputi
asma serangan ringan, asma serangan sedang dan asma serangan berat.
Perlu dibedakan antara asma (aspek kronik) dengan serangan asma
(aspek akut). Sebagai contoh: seorang pasien asma persisten berat dapat
mengalami serangan ringan saja, tetapi ada kemungkinan pada pasien
yang tergolong episodik jarang mengalami serangan asma berat, bahkan
serangan ancaman henti napas yang dapat menyebabkan kematian.
Tabel 2. Klasifikasi asma menurut derajat serangan akut

Gejala dan Berat Serangan Akut Keadaan


Tanda Ringan Sedang Berat mengancam Jiwa

Sesak nafas Berjalan Berbicara Istirahat


10

Dapat tidur Duduk


Posisi Duduk
terlentang Membungkuk

Cara berbicara Satu kalimat Beberapa kata Kata demi kata

Mengantuk,
Mungkin gelisah,
Kesadaran Gelisah Gelisah
gelisah kesadaran
menurun

Frekuensi
< 20/menit 20-30 /menit >30/menit
nafas

Nadi < 100 100 120 >120 Bradikardi

Pulsus
- 10 - 20 +
paradoksus

Otot Bantu
Nafas dan Torako-abdominal
- + +
retraksi paradoksal
Suprasternal

Akhir ekspirasi Inspirasi dan


Mengi Akhir ekspirasi Silent Chest
paksa ekspirasi

APE >80% 80-60% <60%

PaO2 >80mmHg 80-60 <60mmHg

PaCO2 <45mmHg <45mmHg >45mmHg

SaO2 >95% 91-95% < 90%

2.1.6. Patogenesis
Asma merupakan inflamasi kronik saluran napas dan disebabkan oleh
hiperreaktivitas saluran napas yang melibatkan beberapa sel inflamasi
terutama sel mast, eosinofil, sel limfosit T, makrofag, neutrofil dan sel epitel
yang menyebabkan pelepasan mediator seperti histamin dan leukotrin yang
dapat mengaktivasi target saluran napas sehingga terjadi bronkokonstriksi,
kebocoran mikrovaskular, edema dan hipersekresi mukus. Inflamasi saluran
napas pada asma merupakan proses yang sangat kompleks melibatkan faktor
11

genetik, antigen dan berbagai sel inflamasi, interaksi antara sel dan mediator
yang membentuk proses inflamasi kronik.9
Proses inflamasi kronik ini berhubungan dengan peningkatan
kepekaan saluran napas sehingga memicu episode mengi berulang, sesak
napas, batuk terutama pada malam hari. Hiperresponsivitas saluran napas
adalah respon bronkus berlebihan yaitu penyempitan bronkus akibat
berbagai rangsangan spesifik dan non-spesifik.9

Gambar 1. Patogenesis Asma


Tabel 3. Mediator Sel Mast dan Pengaruhnya terhadap Asma10

Mediator Pengaruh terhadap


Asma

Histamin Kontruksi otot polos


LTC4, D4,E4
Prostaglandin dan Thromboksan
A2
Bradikinin
Platelet-activating factor (PAF)

Histamin Udema mukosa


LTC4, D4,E4
Prostaglandin dan Thromboksan
E2
Bradikinin
Platelet-activating factor (PAF)
Chymase
Radikal oksigen

Histamin Sekresi mukus


LTC4, D4,E4
Prostaglandin
12

Hidroxyeicosatetraenoic acid

Radikal oksigen Deskuamasi epitel


Enzim proteolitik bronkial
Faktor inflamasi dan sitokin

2.1.7. Diagnosis
Diagnosis dapat ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan laboratorium, dan pemeriksaan penunjang.9
Anamnesis
Anamnesis meliputi adanya gejala yang episodik, gejala berupa batuk,
sesak napas, mengi, rasa berat di dada dan variabiliti yang berkaitan
dengan cuaca. Faktor faktor yang mempengaruhi asma, riwayat
keluarga dan adanya riwayat alergi.9
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik pada pasien asma tergantung dari derajat obstruksi
saluran napas. Tekanan darah biasanya meningkat, frekuensi pernapasan
dan denyut nadi juga meningkat, ekspirasi memanjang diserta ronki
kering, mengi.9
Pemeriksaan Laboratorium
Darah (terutama eosinofil, Ig E), sputum (eosinofil, spiral Cursshman,
kristal Charcot Leyden).9
Pemeriksaan Penunjang
- Spirometri
Spirometri adalah alat yang dipergunakan untuk mengukur faal ventilasi
paru. Reversibilitas penyempitan saluran napas yang merupakan ciri
khas asma dapat dinilai dengan peningkatan volume ekspirasi paksa
detik pertama (VEP1) dan atau kapasiti vital paksa (FVC) sebanyak
20% atau lebih sesudah pemberian bronkodilator.
- Uji Provokasi Bronkus
Uji provokasi bronkus membantu menegakkan diagnosis asma. Pada
penderita dengan gejala sma dan faal paru normal sebaiknya dilakukan
uji provokasi bronkus. Pemeriksaan uji provokasi bronkus
merupakan cara untuk membuktikan secara objektif hiperreaktivitas
saluran napas pada orang yang diduga asma. Uji provokasi bronkus
terdiri dari tiga jenis yaitu uji provokasi dengan beban kerja (exercise),
hiperventilasi udara dan alergen non-spesifik seperti metakolin dan
histamin.
13

- Foto Toraks
Pemeriksaan foto toraks dilakukan untuk menyingkirkan penyakit lain
yang memberikan gejala serupa seperti gagal jantung kiri, obstruksi
saluran nafas, pneumothoraks, pneumomediastinum. Pada serangan
asma yang ringan, gambaran radiologik paru biasanya tidak
memperlihatkan adanya kelainan.

2.1.8. Diagnosis Banding


Bronkiolitis kronik
Bronkitis kronik ditandai dengan batuk kronik yang mengeluarkan
sputum 3 bulan dalam setahun untuk sedikitnya 2 tahun. Gejala utama
batuk yang disertai sputum. Gejala dimulai dengan batuk pagi, lama
kelamaan disertai mengi dan menurunkan kemampuan jasmani.
Emfisema paru
Sesak napas merupakan gejala utama emfisema, sedangkan batuk dan
mengi jarang menyertainya.
Bronkopneumonia.

2.1.9. Penatalaksanaan
Tujuan utama penatalaksanaan asma adalah meningkatkan dan
mempertahankan kualitas hidup agar penderita asma dapat hidup normal
tanpa hambatan dalam melakukan aktiviti sehari-hari.9
Tujuan penatalaksanaan asma9:
Menghilangkan dan mengendalikan gejala asma
Mencegah eksaserbasi akut
Meningkatkan dan mempertahankan faal paru seoptimal mungkin
Mengupayakan aktiviti normal termasuk exercise
Menghindari efek samping obat
Mencegah terjadi keterbatasan aliran udara (airflow limitation)
Ireversibel
Mencegah kematian karena asma
Penatalaksanaan asma bertujuan untuk mengontrol penyakit, disebut
sebagai asma terkontrol. Asma terkontrol adalah kondisi stabil minimal
dalam waktu satu bulan.9
Penatalaksanaan asma bronkial terdiri dari pengobatan
nonmedikamentosa dan pengobatan medikamentosa :
Pengobatan non-medikamentosa
Penyuluhan
Menghindari faktor pencetus
14

Pengendali emosi
Pemakaian oksigen

Pengobatan medikamentosa

1. Penatalaksanaan asma akut (saat serangan)

Serangan akut adalah episodik perburukan pada asma yang harus diketahui
oleh pasien. Penatalaksanaan asma sebaiknya dilakukan oleh pasien di
rumah dan apabila tidak ada perbaikan segera ke fasilitas pelayanan
kesehatan. Penanganan harus cepat dan disesuaikan dengan derajat
serangan. Penilaian beratnya serangan berdasarkan riwayat serangan
termasuk gejala, pemeriksaan fisik dan sebaiknya pemeriksaan faal paru,
untuk selanjutnya diberikan pengobatan yang tepat dan cepat.

Pada serangan asma obat-obat yang digunakan adalah :

bronkodilator (2 agonis kerja cepat dan ipratropium bromida)

kortikosteroid sistemik

Pada serangan ringan obat yang digunakan hanya 2 agonis kerja cepat
yang sebaiknya diberikan dalam bentuk inhalasi. Bila tidak memungkinkan
dapat diberikan secara sistemik. Pada dewasa dapat diberikan kombinasi
dengan teofilin/aminofilin oral. Pada keadaan tertentu (seperti ada riwayat
serangan berat sebelumnya) kortikosteroid oral (metilprednisolon) dapat
diberikan dalam waktu singkat 3- 5 hari. Pada serangan sedang diberikan 2
agonis kerja cepat dan kortikosteroid oral. Pada dewasa dapat ditambahkan
ipratropium bromida inhalasi, aminofilin IV (bolus atau 14 drip). Pada
anak belum diberikan ipratropium bromida inhalasi maupun aminofilin IV.
Bila diperlukan dapat diberikan oksigen dan pemberian cairan IV Pada
serangan berat pasien dirawat dan diberikan oksigen, cairan IV, 2 agonis
kerja cepat ipratropium bromida inhalasi, kortikosteroid IV, dan aminofilin
IV (bolus atau drip). Apabila 2 agonis kerja cepat tidak tersedia dapat
digantikan dengan adrenalin subkutan. Pada serangan asma yang
mengancam jiwa langsung dirujuk ke ICU. Pemberian obat-obat
15

bronkodilator diutamakan dalam bentuk inhalasi menggunakan nebuliser.


Bila tidak ada dapat menggunakan IDT (MDI) dengan alat bantu (spacer).

Pengobatan ditujukan untuk mengatasi dan mencegah gejala obstruksi jalan


napas, terdiri atas pengontrol dan pelega.9
Pengontrol (Controllers)
16

Penatalaksanaan asma jangka panjang

Penatalaksanaan asma jangka panjang bertujuan untuk mengontrol asma dan


mencegah serangan. Pengobatan asma jangka panjang disesuaikan dengan
klasifikasi beratnya asma.

Prinsip pengobatan jangka panjang meliputi: 1) Edukasi; 2) Obat asma


(pengontrol dan pelega); dan Menjaga kebugaran.

Edukasi
Edukasi yang diberikan mencakup :

Kapan pasien berobat/ mencari pertolongan


17

Mengenali gejala serangan asma secara dini


Mengetahui obat-obat pelega dan pengontrol serta cara dan waktu
penggunaannya
Mengenali dan menghindari faktor pencetus
Kontrol teratur

Medikasi asma ditujukan untuk mengatasi dan mencegah gejala obstruksi


jalan napas, terdiri dari pengontrol dan pelega.

1. Pengontrol (controller)
Pengontrol adalah medikasi asma jangka panjang untuk mengontrol asma,
diberikas setiap hari untuk mencapai dan mempertahankan keadaan asma
terkontrol pada asma persisten. Pengontrol sering disebut pencegah. Yang
termasuk obat pengotrol :

Kortikosteroid inhalasi
Kortikosteroid sistemik
Sodium kromoglikat
Nedokromil sodium
Metilsantin
Agonis beta-2 kerja lama, inhalasi
Agonis beta-2 kerja lama, oral
Leukotrien modifier
Antihistamin generasi ke dua (antagonis-H1)
2. Pelega (reliever)
Prinsipnya adalah untuk mendilatasi jalan napas melalui relaksasi otot polos,
memperbaiki dan atau menghambat bronkokonstriksi yang berkaitan dengan
gejala akut, seperti mengi, rasa berat di dada dan batuk, tidak memperbaiki
inflamasi jalan napas. Termasuk pelega adalah :

Agonis beta-2 kerja singkat


Kortikosteroid sistemik (steroid sistemik digunakan sebagai obat pelega
bila penggunaan bronkodilator yang lain sudah optimal tetapi hasil belum
tercapai, penggunaannya dikombinasikan dengan bronkodilator lain).
18

Antikolinergik
Aminofilin
Adrenalin
Medikasi asma dapat diberikan melalui berbagai cara, yaitu inhalasi, oral
dan parenteral (subkutan, intramuskular dan intravena). Kelebihan pemberian
medikasi langsung ke jalan napas adalah :

1. Lebih efektif untuk dapat mencapai konsentrasi tinggi di jalan napas


2. Efek sistemik minimal atau dihindarkan
3. Beberapa obat hanya dapat diberikan melalui inhalasi, karena tidak terabsorbsi
pada pemberian oral (antikolinergik dan kromolin). Waktu kerja bronkodilator
adalah cepat bila diberikan secara inhalasi daripada oral.

2.2.10. Komplikasi
Berbagai komplikasi yang mungkin timbul adalah9 :
1. Status asmatikus
2. Atelektasis
19

3. Hipoksemia
4. Emfisema

2.1.11. Prognosis
Mortalitas akibat asma sedikit nilainya. Gambaran yang paling akhir
menunjukkan kurang dari 5000 kematian setiap tahun dari populasi beresiko
yang berjumlah kira-kira 10 juta. Sebelum dipakai kortikosteroid, secara umum
angka kematian penderita asma wanita dua kali lipat penderita asma pria. Juga
kenyataan bahwa angka kematian pada serangan asma dengan usia tua lebih
banyak, kalau serangan asma diketahui dan dimulai sejak kanak kanak dan
mendapat pengawasan yang cukup kirakira setelah 20 tahun, hanya 1% yang
tidak sembuh dan di dalam pengawasan tersebut kalau sering mengalami
serangan common cold 29% akan mengalami serangan ulang. 14 Pada penderita
yang mengalami serangan intermitten angka kematiannya 2%, sedangkan
angka kematian pada penderita yang dengan serangan terus menerus angka
kematiannya 9%.6

2.2.1 Pendekatan Kedokteran Keluarga


Dokter keluarga adalah dokter yang mengutamakan penyediaan pelayanan
komprehensif bagi semua orang yang mencari pelayanan kedokteran, dan
mengatur pelayanan oleh provider lain bila diperlukan. Dokter ini adalah seorang
generalis yang menerima semua orang yang membutuhkan pelayanan kedokteran
tanpa adanya pembatasan usia, gender, ataupun jenis penyakit. Dikatakan pula
bahwa dokter keluarga adalah dokter yang mengasuh individu sebagai bagian dari
keluarga dan dalam lingkup komunitas dari individu tersebut. Tanpa membedakan
ras, budaya, dan tingkatan sosial. Secara klinis, dokter ini berkompeten untuk
menyediakan pelayanan dengan sangat mempertimbangkan dan memerhatikan
latar belakang budaya, sosioekonomi, dan psikologis pasien. Dokter ini
bertanggung jawab atas berlangsungnya pelayanan yang komprehensif dan
berkesinambungan bagi pasiennya8.
Pelayanan dokter keluarga adalah pelayanan kedokteran yang menyeluruh
yang memusatkan pelayanannya kepada keluarga sebagai suatu unit, di mana
tanggung jawab dokter terhadap pelayanan kesehatan tidak dibatasi oleh golongan
20

umur atau jenis kelamin pasien, juga tidak boleh oleh organ tubuh atau jenis
penyakit tertentu saja8.

2.2.2 Karakteristik Pelayanan Kedokteran Keluarga


Pelayanan dokter keluarga mempunyai beberapa karakteristik salah satunya
menurut Ikatan Dokter Indonesia melalui Muktamar ke-18 di Surakarta tahun
1982 sebagai berikut8.
a. Yang melayani penderita tidak hanya sebagai orang per orang, tetapi sebagai
anggota satu keluarga dan bahkan sebagai anggota masyarakat sekitarnya.
b. Yang memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan memberikan
perhatian kepada penderita secara lengkap dan sempurna, jauh melebihi jumlah
keseluruhan keluhan yang disampaikan.
c. Yang mengutamakan pelayanan kesehatan guna meningkatkan derajat
kesehatan seoptimal mungkin, mencegah timbulnya penyakit dan mengenal
serta mengobati penyakit sedini mungkin.
d. Yang mengutamakan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan dan
berusaha memenuhi kebutuhan tersebut sebaik-baiknya.
e. Yang menyediakan dirinya sebagai tempat pelayanan kesehatan tingkat
pertama dan bertanggung jawab pada pelayanan kesehatan lanjutan.
2.2.3.
Azas-azas / Prinsip-prinsip Pelayanan Kedokteran Keluarga
Prinsip-prinsip pelayanan dokter keluarga di Indonesia mengikuti anjuran
WHO dan WONCA. Prinsip-prinsip ini juga merupakan simpulan untuk dapat
meningkatkan kualitas layanan dokter primer dalam melaksanakan pelayanan
kedokteran. Prinsip pelayanan atau pendekatan kedokteran keluarga adalah
memberikan atau mewujudkan sebagai berikut8.
a. Pelayanan yang holistik dan komprehensif
b. Pelayanan yang kontinu.
c. Pelayanan yang mengutamakan pencegahan.
d. Pelayanan yang koordinatif dan kolaboratif.
e. Penanganan personal bagi setiap pasien sebagai bagian integral dari
keluarganya.
f. Pelayanan yang mempertimbangkan keluarga, lingkungan kerja, dan
lingkungan tempat tinggalnya.
g. Pelayanan yang menjunjung tinggi etika dan hukum.
h. Pelayanan yang dapat diaudit dan dapat dipertanggungjawabkan.
i. Pelayanan yang sadar biaya dan sadar mutu.
2.2.4.
Pola Pikir dan Pola Tindak Dokter Keluarga / Dokter Layanan Primer
21

Dokter keluarga bertanggung jawab meningkatkan derajat kesehatan


mitranya, dan ia berhubungan dengan mitranya di kala sehat maupun di kala sakit.
Tanggung jawab ini mengharuskan dokter keluarga menyediakan program
pemeliharaan kesehatan bagi mitranya yang sehat, dan program pengobatan atau
pemulihan bagi mitranya yang sedang jatuh sakit. Program ini harus spesifik dan
sesuai dengan kondisi dan kebutuhan setiap mitranya. Hal ini dapat dipenuhi bila
pola pikir dan pola tindaknya mengacu pada pendekatan Medifa yang menata alur
pelayanan dokter keluarga dalam 4 kegiatan (assessment targeting
intervention monitoring) yang membentuk satu siklus pelayanan terpadu9.

A. Penilaian profil kesehatan pribadi (Assessment)


Dokter keluarga mengawali upaya pemeliharaan mitranya dengan
melakukan penilaian komprehensif terhadap faktor risiko dan kodisi kesehatan
dengan tujuan memperoleh profil kesehatan pribadi dari mitranya 22.

B. Penyusunan program kesehatan spesifik (Targeting)


Tersedianya profil kesehatan ini memberi kesempatan kepada dokter
keluarga untuk mempelajari masalah kesehatan yang dimiliki mitranya, sehingga
dokter keluarga dapat menyusun program kesehatan yang sesuai dengan
kebutuhan spesifik setiap mitra22.

C. Intervensi proaktif (Intervention)


Dengan demikian setiap mitra, apakah ia dalam kondisi sehat, menyandang
faktor risiko atau sakit, secara proaktif akan diajak mengikuti program
pemeliharaan kesehatan yang sepesifik dengan kebutuhannya. Melalui program
proaktif ini diharapkan mitra yang sehat dapat tetap sehat, yang saat ini
menyandang faktor risiko dapat dikurangi kemungkinan jatuh sakit berat di
kemudian hari, dan yang saat ini menderita suatu penyakit dapat segera pulih,
dicegah terjadinya komplikasi, atau diupayakan agar kecacatan seminimal
mungkin. Bila diperlukan si mitra akan dirujuk ke spesialis22.

D. Pemantauan kondisi kesehatan (Monitoring)


Selanjutnya pelaksanaan program dan hasilnya akan dipantau dan dievaluasi
terus menerus dan menjadi masukan bagi dokter keluarga untuk meningkatkan
kualitas program dan memotivasi mitranya (monitoring)22.
22

Upaya pemeliharaan yang sinambung ini dapat dilakukan berkat penerapan


teknologi informasi yang tepat sebagai alat kerja dokter keluarga9.
2.2.5.
Bentuk dan Fungsi Keluarga11
Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami-sitri,
atau suami-istri dan anak, atau ayah dengan anak atau ibu dengan anak11.
Bentuk keluarga dibagi menjadi 9 macam menurut Goldenberg (1980)
sebagai berikut11.
A. Keluarga inti (nuclear family)
Keluarga yang terdiri dari suami, istri, serta anak-anak kandung.
B. Keluarga besar (extended family)
Keluarga yang disamping terdiri dari suami, istri, dan anak-anak kandung, juga
terdiri dari sanak saudara lainnya, baik menurut garis vertikal (ibu, bapak, kakek,
nenek, mantu, cucu, cicit) dan ataupun menurut garis horizontal (kakak, adik,
ipar) yang dapat berasal dari pihak suami atau istri
C. Keluarga campuran (blended family)
Keluarga yang terdiri dari suami, istri, anak-anak kandung serta anak-anak tiri.
D. Keluarga menurut hukum umum (common law family)
Keluarga yang terdiri dari pria dan wanita yang tidak terikat dalam perkawinan
sah serta anak-anak mereka yang tinggal bersama.
E. Keluarga orang tua tunggal (single parent family)
Keluarga yang terdiri dari pria atau wanita, mungkin karena telah bercerai,
berpisah, ditinggal mati atau mungkin tidak pernah menikah, serta anak-anak
mereka tinggal bersama.
F. Keluarga hidup bersama (commune family)
Keluarga yang terdiri dari pria, wanita, dan anak-anak yang tinggal bersama,
berbagi hal dan tanggung jawab serta memiliki kekayaan bersama.
23

G. Keluarga serial (serial family)


Keluarga yang terdiri dari pria dan wanita yang telah menikah dan mungkin telah
mempunyai anak, tetapi kemudian bercerai dan masing-masing menikah lagi serta
memiliki anak-anak dengan pasangan masing-masing, semuanya mengganggap
sebagai satu keluarga.
H. Keluarga gabungan (composite family)
Keluarga yang terdiri dari suami dengan beberapa istri dan anak-anaknya atau istri
dengan beberapa suami dan anak-anaknya yang hidup bersama.
I. Keluarga tinggal bersama (whabilation family)
Pria dan wanita yang hidup bersama tanpa ada ikatan perkawinan.
2.2.6.
Klasifikasi Tingkat Kesejahteraan Keluarga
Tahapan keluarga sejahtera dibedakan atas 5 tingkatan menurut BKKBN
(2011) sebagai berikut.
A. Keluarga pra sejahtera
Keluarga-keluarga yang belum dapat memenui kebutuhan dasarnya secara
minimal, seperti kebutuhan agama, pangan, sandang, papan, kesehatan, dan
keluarga berencana.
B. Keluarga sejahtera tahap I
Keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secara
minimal tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal tetapi
belum dapat memenuhi keseluruhan kebutuhan sosial psikologisnya, seperti
kebutuhan akan pendidikan, interaksi dalam keluarga, interaksi dengan
lingkungan tempat tinggal, dan transportasi.

C. Keluarga sejahtera tahap II


Keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan fisik dan sosial-
psikologisnya, akan tetapi belum dapat memenuhi keseluruhan kebutuhan
pengembangannya, seperti kebutuhan untuk menabung dan informasi.
D. Keluarga sejahtera tahap III
Keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh kebuthan fisik,
sosial-psikologis, dan pengembangan, namun belum dapat memberikan
sumbangan secara teratur kepada masyarakat sekitarnya, misalnya dalam bentuk
sumbangan materil dan keuangan, serta secara aktif menjadi pengurus lembaga di
masyarakat yang ada.
E. Keluarga sejahtera tahap III plus
Keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh kebutuhannya serta
memiliki kepedulian dan kesertaan yang tinggi dalam meningkatkan kesejahteraan
keluarga disekitarnya.
24

2.2.7.
Penentuan Sehat/Tidaknya Keluarga (APGAR)
Tingkat kepuasan anggota keluar dapat dinilai dengan APGAR keluarga.
APGAR keluarga merupakan salah satu cara yang digunakan untuk mengukur
sehat tidaknya suatu keluarga yang dikembangkan oleh Rosen, Geyman, dan
Leyton. Lima fungsi pokok yang dinilai dalam tingkat kesehatan keluarga sebagai
berikut12.
A. Adaptasi (Adaptation)
Dinilai tingkat kepuasan anggota keluarga dalam menerima bantuan yang
diperlukannya dan anggota keluarga lainnya.
B. Kemitraan (Partnership)
Dinilai tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap berkomunikasi, turun
rembuk dalam mengambil keputusan dan atau menyelesaikan suatu masalah yang
sedang dihadapi dengan anggota keluarga lainnya.
C. Pertumbuhan (Growth)
Dinilai tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap kebebasan yang
diberikan keluarga dalam mematangkan pertumbuhan dan atau kedewasaan setiap
anggota keluarga.
D. Kasih sayang (Affection)
Dinilai tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap kasih sayang serta
interaksi emosional yang berlangsung dalam keluarga.
E. Kebersamaan (Resolve)
Dinilai tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap kebersamaan dalam
membagi waktu, kekayaan, dan ruang antar keluarga.
2.2.8.
Keluarga dan Kesehatan
Kesehatan dan penyakit selalu berhubungan dengan keempat hal berikut12
a. Kepribadian
b. Gaya hidup
c. Lingkungan fisik
d. Hubungan antar manusia
Dalam hal ini, keluarga adalah tempat pembentukan individu, sehingga
keempat hal tersebut dimulai dalam keluarga. Menurut Freeman (1970), arti dan
kedudukan keluarga sebagai berikut23.
a. Merupakan unit terkecil dalam masyarakat.
b. Sebagai suatu kelompok yang berperan penting dalam masalah kesehatan.
c. Masalah kesehatan keluarga paling terkait dengan berbagai masalah keluarga
lainnya.
d. Sebagai pusat pengambilan keputusan kesehatan yang terpenting.
e. Sebagai wadah paling efektif untuk berbagai upaya atau penyampaian pesan-
pesan kesehatan.
25

Arti dan kedudukan keluarga adalah sebagai tempat bertanya pertama


(reference group) dan mempunyai pengaruh yang amat besar dalam berbagai
tindakan kedokteran seperti diagnosis, pencegahan, pengobatan, dan perawatan23.
2.2.9.
Pengaruh Keluarga Terhadap Kesehatan12
A. Penyakit keturunan
1. Interaksi antara faktor genetik (fungsi reproduksi) dan faktor lingkungan
(fungsi-fungsi keluarga lainnya).
2. Muncul dalam perkawinan (tahap awal dan siklus kehidupan keluarga).
3. Perlu marriage counseling dan screening
B. Perkembangan bayi dan anak
Jika dibesarkan dalam lingkungan keluarga dengan fungsi-fungsi yang sakit
akan mengganggu perkembangan fisik dan perilaku.
C. Penyebaran penyakit
1. Penyakit infeksi
2. Penyakit neurosis
D. Pola penyakit dan kematian
Hidup membujang atau bercerai mempengaruhi angka kesakitan dan kematian.
E. Proses penyembuhan penyakit
Penyembuhan penyakit kronis pada anak-anak pada keluarga dengan fungsi
keluarga yang sehat lebih baik dibandingkan pada keluarga dengan fungsi
keluarga sakit.
2.2.10.
Pengaruh Kesehatan Terhadap Keluarga12
A. Bentuk keluarga
1. Infertilitas membentuk keluarga inti tanpa anak
2. Penyakit jiwa (kelainan seksual seperti homoseksual), jika membentuk
keluarga akan terbentuk keluarga non-tradisional
B. Fungsi keluarga
1. Jika kesehatan kepala keluarga (pencari nafkah) terganggu, akan
mengganggu fungsi ekonomi dan atau fungsi pemenuhan kebutuhan fisik
keluarga.
2. Jika kesehatan ibu rumah tangga terganggu, akan mengganggu fungsi afektif
dan atau fungsi sosialisasi.
C. Siklus kehidupan keluarga
1. Infertilitas akan mengalami siklus kehidupan keluarga yang tidak lengkap.
2. Jika kesehatan suami-istri memburuk, kematian cepat masuk ke dalam tahap
lenyapnya keluarga.