Anda di halaman 1dari 8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Viskositas
Viskositas (kekentalan) adalah sifat fluida yang mendasari diberikannya
tekanan terhadap tegangan geser oleh fluida tersebut. Hukum viskositas
Newton menyatakan bahwa untuk laju aliran maka viskositas berbanding lurus
dengan tegangan geser ini berlaku pada fluida Newtonian (Setiawan, 2008).
Pada dasarnya viskositas ini disebabkan karena kohesi dan pertukaran
momentum molekuler diantara lapisan layer fluida pada saat fluida tersebut
mengalir. Viskositas fluida ini dipengaruhi oleh banyak hal antara lain
temperatur, konsentrasi larutan, bentuk partikel dan sebagainya (Setiawan,
2008).
Viskositas dinyatakan dalam dua bentuk, yakni:
1. Viskositas dinamik ( )
Viskositas dinamik adalah perbandingan tegangan geser dengan laju
perubahannya, besarnya viskositas dinamik tergantung dari faktor-faktor
diatas tersebut.
2. Viskositas kinematik
Viskositas kinematik merupakan perbandingan viskositas dinamik
terhadap kerapatan (density) dari fluida tersebut. Viskositas kinematik ini
terdapat dalam beberapa penerapan antara lain dalam bilangan Reynolds
yang merupakan bilangan tak berdimensi.
(Setiawan, 2008)
Viskometer merupakan peralatan yang digunakan untuk mengukur
viskositas suatu fluida. Model viskometer yang umum digunakan berupa
viskometer bola jatuh, tabung ( pipa kapiler ) dan sistem rotasi. Viskometer
rotasi silinder sesumbu (concentric cylinder) dibuat berdasarkan 2 standar,
sistem, dimana silinder bagian dalam berputar dengan silinder bagian luar diam
dan sistem Couette dimana bagian luar silinder yang diputar sedangkan bagian
dalam silinder diam. Fluida yang akan diukur ditempatkan pada celah diantara
kedua silinder (Butar Butar, 2011).
2.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi viskositas
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi viskositas, yaitu :
Tekanan
Viskositas cairan naik dengan naiknya tekanan, sedangkan viskositas
gas tidak dipengaruhi oleh tekanan.
Temperatur
Viskositas cairan akan turun dengan naiknya temperatur, sedangkan
viskositas gas naik dengan naiknya temperatur.
Kehadiran zat lain
Penambahan gula tebu meningkatkan viskositas air. Adanya bahan
tambahan seperti bahan suspensi (misalnya albumin dan globulin)
menaikkan viskositas air. Pada minyak ataupun gliserin adanya
penambahan air akan menyebabkan viskositas akan turun karena
gliserin ataupun minyak akan semakin encer, waktu alirnya pun akan
semakin cepat.
Ukuran dan berat molekul
Viskositas naik dengan naiknya berat molekul. Misalnya laju aliran
alkohol cepat, larutan minyak laju alirannya lambat dan kekentalannya
tinggi.
Bentuk molekul
Viskositas akan naik jika ikatan rangkap semakin tinggi.
Kekuatan antar molekul
Viskositas air naik dengan adanya ikatan hidrogen, viskositas CPO
dengan gugus OH pada trigliseridanya naik pada keadaan yang sama
Konsentrasi
Untuk suatu larutan viskositasnya bergantung pada konsentrasi atau
kepekatan larutan. Umumnya larutan yang konsentrasinya tinggi,
viskositasnya juga tinggi. Sebaliknya larutan yang viskositasnya
rendah, konsentrasinya juga rendah
(Wati, 2012)
2.3 Metode Penentuan Viskositas
Ada beberapa metode yang dapat dilakukan untuk menentukan
viskositas, yaitu:
1. Metode Bola Jatuh
Jika sebuah benda berbentuk bola dijatuhkan ke dalam fluida kental,
misalnya kelereng dijatuhkan ke dalam kolam renang yang airnya cukup
dalam, nampak mula-mula kelereng bergerak dipercepat. Tetapi beberapa
saat setelah menempuh jarak cukup jauh, nampak kelereng bergerak
dengan kecepatan konstan (bergerak lurus beraturan). Ini berarti bahwa di
samping gaya berat dan gaya apung zat cair masih ada gaya lain yang
bekerja pada kelereng tersebut. Gaya ketiga ini adalah gaya gesekan yang
disebabkan oleh kekentalan fluida.
Khusus untuk benda berbentuk bola, gaya gesekan fluida secara empiris
dirumuskan dengan persamaan berikut:
Fs = 6rv (Budianto, 2008)
Dimana: F = gaya (N)
g = percepatan gravitasi (m/s2)
= viskositas (cP)
r = jari jari (m)
v = volume (m3)
Persamaan tersebut pertama kali dijabarkan oleh Sir George Stokes tahun
1845, sehingga disebut Hukum Stokes (Budianto, 2008).

2. Metode Ostwald
Metode ini ditentukan berdasarkan Hukum Poiseulle menggunakan alat
Viskometer Ostwald. Penetapannya dilakukan dengan jalan mengukur wktu
yang diperlukan untuk mengalirnya cairan dalam pipa kapiler dari a ke b.
Sejumlah cairan yang akan diukur viskositasnya dimasukkan ke dalam
viskometer. Cairan kemudian diisap dengan pompa sampai diatas batas a.
Cairan dibiarkan mengalir ke bawah dan waktu yang diperluka dari a ke b
dicatat menggunakan stopwatch.

Viskositas dihitung menggunakan persamaan Poiselle :


4
P r t
= (AAK
8Vl

Nasional, 2012)
Dimana : = Viskositas (cP)
V = Volume (m3)
L = Panjang pipa (m)
r = jari-jari (m)
t = waktu (s)
(AAK Nasional, 2012).
3. Metode Lehman
Nilai viskositas Lehman didasarkan pada waktu kecepatan alir cairan yang
akan diuji atau dihitung nilai viskositasnya berbanding terbalik dengan
waktu kecepatan alir cairan pembanding, dimana cairan pembanding yang
digunakan adalah air. Persamaannya adalah sebagai berikut :
Tcairan
=
Tair (Butar Butar, 2011)

Dimana : T cairan= waktu kecepatan cairan (s)


T air = waktu kecepatan air (s)
(Butar Butar, 2011)

2.4 Bilangan Reynolds


Bilangan Reynolds merupakan perbandingan antara gaya inersia dan
gaya viskos. Bilangan Reynolds didefinisikan sebagai berikut:
Vd Vd
= =
v (Pamuji, 2013)

Dimana : = Bilangan Reynolds

= Massa jenis
= Viskositas dinamik
v = Viskositas kinematik
V = Kecepatan alir dalam pipa
d = Diameter dalam pipa

Bilangan Reynolds dapat digunakan untuk mengetahui aliran laminar atau


aliran turbulen yang terjadi pada pipa. Aliran yang terjadi dalam pipa bisa dikatakan
bersifat laminar jika Re < 2300 dan aliran dalam pipa bisa dikatakan bersifat aliran
turbulen jika Re > 4000. Sedangkan aliran transisi terjadi pada kondisi diantara aliran
laminar dan turbulen (Pamuji, 2013)
2.5 Teori Sampel
2.5.1 Aquadest
Aquadest disebut juga Aqua Purificata (air murni) H 2O. Air murni
adalah air yang dimurnikan dari destilasi. Satu molekul air memiliki dua
hidrogen atom kovalen terikat untuk satu oksigen. Aquadest merupakan
cairan yang jernih, tidak berwarna dan tidak berbau. Aquades juga
memiliki berat molekul sebesar 18,0 g/mol dan PH antara 5-7. Rumus
kimia dari aquades yaitu H2O. Aquadest ini memiliki allotrop berupa es
dan uap. Senyawa ini tidak berwarna, tidak berbau dan tidak memiliki
rasa. Aquades merupakan elektrolit lemah. Air dihasilkan dari
pengoksidasian hidrogen dan banyak digunakan sebagai bahan pelarut
bagi kebanyakan senyawa (Lubis, 2014).

2.5.2 Aseton(C3H6O)
Aseton dikenal juga dengan dimetil keton atau 2 propanon
merupakansenyawa penting dari allipatic keton. Aseton pertama
kalidihasilkan dengan cara distilasi kering dari kalsium asetat.
Fermentasikarbohidrat menjadi aseton, butil dan etil-alkohol yang
menggantikan prosestersebut pada tahun 1920. Proses tersebut
mengalami pembaharuan pada tahun1950 dan 1960 yaitu proses
dehidrogenasi 2-propanol dan oksidasi cumene menjadi phenol dan
aseton.Bersamaan dengan proses oksidasi propen,metode ini
menghasilkan lebih dari 95% aseton yang diproduksi di seluruh dunia
(Ullmann, 2007).

2.5.3 Yakult
Yakult adalah minuman susu fermentasi, yang dibuat
dengan cara memfermentasi susu bubuk skim yang
mengandung bakteri asam laktat hidup Lactobacillus casei
Shirota strain. Bakteri ini dapat menaklukkan berbagai
hambatan fisiologis seperti asam lambung dan cairan empedu
sehingga dapat mencapai dan bertahan hidup dalam usus
manusia. Yakult harus selalu disimpan pada suhu dibawah 10oC
karena pada kondisi tersebut bakteri Yakult tidak aktif sehingga
kualitas Yakult dapat dipertahankan terjaga. Penyimpanan
pada suhu diatas 10oC akan mengakibatkan turunnya kualitas
karena bakteri Yakult aktif, menghasilkan asam laktat yang
menyebabkan Yakult menjadi asam dan jumlah bakteri
hidupnya akan menurun (Tarudin, 2011).

2.6 Aplikasi Studi Kualitas Minyak Goreng dengan parameter


Viskositas dan Indeks Bias
Minyak terdapat pada hampir semua bahan pangan dengan kandungan
yang berbeda-beda. Tetapi minyak seringkali ditambahkan dengan sengaja ke
bahan makanan dengan berbagai tujuan. Dalam pengolahan bahan pangan,
minyak berfungsi sebagai media penghantar panas, seperti minyak goreng,
mentega dan margarin. Minyak goreng adalah salah satu kebutuhan pokok
masyarakat Indonesia dalam rangka pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Minyak
goreng yang kita konsumsi sehari-hari sangat erat kaitannya dengan kesehatan
kita. Masyarakat kita sangat majemuk dengan tingkat ekonomi yang berbeda-
beda. Ada masyarakat yang menggunakan minyak goreng hanya untuk sekali
pakai, namun ada juga masyarakat yang menggunakan minyak goreng untuk
berkali-kali pakai. Untuk itu ingin diteliti kualitas dari minyak goreng yang
belum pernah dipakai, minyak goreng yang sudah dipakai satu kali, dan
minyak goreng yang sudah dipakai dua kali dengan parameter viskositas dan
indeks bias. Parameter kualitas minyak meliputi sifat fisik dan sifat kimia. Sifat
fisik minyak meliputi warna, bau, kelarutan, titik cair dan polimorphism, titik
didih, titik pelunakan, slipping point, shot melting point; bobot jenis,
viskositas, indeks bias, titik kekeruhan (turbidity point), titik asap, titik nyala
dan titik api. Parameter yang digunakan dalam penelitian ini yaitu berdasarkan
sifat fisik minyak yaitu viskositas dan indeks bias. Standar mutu adalah
merupakan hal yang penting untuk menentukan minyak yang bermutu baik.
Ada beberapa faktor yang menentukan standar mutu yaitu : kandungan air dan
kotoran dalam minyak, kandungan asam lemak bebas, warna, dan bilangan
peroksida. Faktor lain yang mempengaruhi standar mutu adalah titik cair dan
kandungan gliserida, kejernihan kandungan logam berat, dan bilangan
penyabunan. Mutu minyak kelapa sawit yang baik mempunyai kadar air
kurang dari 0,1% dan kadar kotoran lebih kecil dari 0,01 %, kandungan asam
lemak bebas serendah mungkin (kurang lebih 2 % atau kurang), bilangan
peroksida dibawah 2, bebas dari warna merah dan kuning (harus berwarna
pucat) tidak berwarna hijau, jernih, dan kandungan logam berat serendah
mungkin atau bebas dari ion logam. Studi tentang minyak goreng sebelumnya
telah dilakukan oleh Istianah dengan parameter perubahan sudut polarisasi
terhadap berkas sinar yang ditransmisikan. Dari penelitian tersebut secara
kualitatif ditunjukkan bahwa minyak goreng yang mempunyai kualitas paling
baik adalah minyak goreng dengan efek perubahan sudut polarisasi yang paling
kecil dibanding yang lain. Pada penelitian ini secara kualitatif hendak
ditunjukkan bahwa minyak goreng yang mempunyai kualitas paling baik yaitu
minyak goreng dengan nilai viskositas dan indeks bias yang besar.
Mulai

Pengukuran massa minyak goreng dengan menggunakan timbangan

Pengukuran volume minyak goring dengan menggunakan gelas ukur

Viskositas minyak goring diukur dengan menggunakan viskosimeter ostwal

Pengukuran indeks bias minyak goreng dengan menggunakan metode pembiasan pa

Pengukuran transmits minyak goreng dengan menggunakan luxmeter

Selesai

Gambar 3.1 Flowchart Penentuan Kualitas Minyak Goreng dengan Metode


Viskositas dan Indeks Bias