Anda di halaman 1dari 6

MAKALAH FILSAFAT

HIDUP ADALAH SEBUAH ARENA TEMPAT KITA BERPROSES DAN BELAJAR,


DAN PELAJARAN PALING BERHARGA BERASAL DARI PENGALAMAN
PRIBADI

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Manusia

Oleh :

Nadiva Tania Sari (G0116082)

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2016
BAB I

PENDAHULUAN

Ada orang yang berkata, bahwa orang harus berfilsafat, untuk mengetahui apa yang
disebut filsafat itu. Mungkin ini benar, hanya kesulitannya ialah: bagaimana ia tahu, bahwa ia
berfilsafat? Mungkin ia mengira sudah berfilsafat dan mengira tahu pula apa filsafat itu, akan
tetapi sebenarnya tidak berfilsafat, jadi kelirulah ia dan dengan sendirinya salah pula
sangkanya tentang filsafat itu.

Tak dapat dipungkiri, zaman filsafat modern telah dimulai, dalam era filsafat modern,
dan kemudian dilanjutkan dengan filsafat abab ke- 20, munculnya berbagai aliran pemikiran,
yaitu: Rasionalisme, Emperisme, Kritisisme, Idealisme, Positivisme, Evolusionisme,
Materalisme, Neo-Kantianisme, Pragmatisme, Filsafat hidup, Fenomenologi,
Eksistensialisme, dan Neo-Thomisme.

Salah satu orang yang berjasa dalam membangun landasan pemikiran baru di dunia
barat adalah Rene Descartes. Teori pengetahuan yang dikembangkan Rene Descartes ini
dikenal dengan nama rasionalisme karena alur pikir yang dikemukakan Rene Descartes
bermuara kepada kekuatan rasio (akal) manusia. Sebagai reaksi dari pemikiran rasionalisme
Descartes inilah muncul para filosof yang berkembang kemudian yang bertolak belakang
dengan Descartes yang menganggap bahwa pengetahuan itu bersumber pada pengalaman.

Hal lain yang juga menjadi pendorong munculnya adalah berbagai permasalahan yang
selalu dihadapi oleh manusia (aporia). Masalah demi masalah akan selalu dihadapi oleh
manusia, baik permasalahan yang akan berhubungan dengan kehidupan praktis maupun akan
berhubungan dengan kehidupan teoritis. Manusia akan selalu terdorong untuk bisa mengatasi
berbagai masalah yang muncul tersebut. Manusia akan selalu mencari jalan keluarnya dan
tidak jarang akan memunculkan berbagai temuan baru yang sangat berharga atau berarti bagi
kehidupan manusia. Intinya selalu berproses untuk menyelesaikan masalah.
BAB II

PEMBAHASAN

Beberapa pemahaman tentang pengertian empirisme cukup beragam, namun intinya


adalah pengalaman.Di antara pemahaman tersebut antara lain:

- Empirisme secara etimologis berasal dari kata bahasa Inggris empiricism dan
experience. Kata-kata ini berakar dari kata bahasa Yunani (empeiria)
yang berarti pengalaman Sementara menurut A.R. Laceyberdasarkan akar katanya
Empirisme adalah aliran dalam filsafat yangberpandangan bahwa pengetahuan
secara keseluruhan atau parsial didasarkan kepada pengalaman yang
menggunakan indera.
- Para penganut aliran empiris dalam berfilsafat bertolak belakang dengan para
penganut aliran rasionalisme. Mereka menentang pendapat-pendapat para
penganut rasionalisme yang didasarkan atas kepastian-kepastian yang bersifat
apriori. Menurut pendapat penganut empirisme, metode ilmu pengetahuan itu
bukanlah bersifat a priori tetapi posteriori
- Bagi penganut empirisme sumber pengetahuan yang memadai itu adalah
pengalaman. Yang dimaksud dengan pengalaman disini adalah pengalaman lahir
yang menyangkut dunia dan pengalaman bathin yang menyangkut pribadi
manusia. Sedangkan akal manusia hanya berfungsi dan bertugas untuk mengatur
dan mengolah bahan-bahan atau data yang diperoleh melalui pengalaman.

Metode filsafat ini butuh dukungan metode filsafat lainnya supaya ia lebih
berkembang secara ilmiah. Karena ada kelemahan-kelemahan yang hanya bisa ditutupi oleh
metode filsafat lainnya. Perkawinan antara Rasionalisme dengan Empirisme ini dapat
digambarkan dalam metode ilmiah dengan langkah-langkah berupa perumusan masalah,
penyusunan kerangka berpikir, penyusunan hipotesis, pengujian hipotesis dan penarikan
kesimpulan.

Empirisme menganjurkan agar kita kembali kepada kenyataan yang sebenarnya


(alam) untuk mendapatkan pengetahuan, karena kebenaran tidak ada secara apriori di benak
kita melainkan harus diperoleh dari pengalaman. Melalui pandangannya, pengetahuan yang
hanya dianggap valid adalah bentuk yang dihasilkan oleh fungsi pancaindra selain
daripadanya adalah bukan kebenaran (baca omong kosong). Dan mereka berpendapat bahwa
tidak dapat dibuat sebuah klaim (pengetahuan) atas perkara dibalik penampakan (noumena)
baik melalui pengalaman faktual maupun prinsip-prinsip keniscayaan. Artinya dimensi
pengetahuan hanya sebatas persentuhan alam dengan pancaindra, diluar perkara-perkara
pengalaman yang dapat tercerap secara fisik adalah tidak valid dan tidak dapat diketahui dan
tidak dianggap keabsahan sumbernya.
Usaha manusia untuk mencari pengetahuan yang bersifat, mutlak dan pasti telah
berlangsung dengan penuh semangat dan terus-menerus. Walaupun begitu, paling tidak sejak
zaman Aristoteles, terdapat tradisi epistemologi yang kuat untuk mendasarkan din kepada
pengalaman manusia, dan meninggalkan cita-cita untuk mencari pengetahuan yang mutlak
tersebut. Doktrin empirisme merupakan contoh dan tradisi ini. Kaum empiris berdalil bahwa
adalah tidak beralasan untuk mencari pengetahuan mutlak dan mencakup semua segi, apalagi
bila di dekat kita, terdapat kekuatan yang dapat dikuasai untuk rneningkatkan pengetahuan
manusia, yang meskipun bersifat lebih lambat namun lebih dapat diandalkan. Kaum empiris
cukup puas dengan mengembangkan sebuah sistern pengetahuan yang rnempunyai peluang
yang besar untuk benar, meskipun kepastian mutlak takkan pernah dapat dijamin.Kaum
empiris memegang teguh pendapat bahwa pengetahuan manusia dapat diperoleh lewat
pengalaman.
BAB III

KESIMPULAN

Berbicara tentang filsafat dan berfilsafat, ialah ilmu yang mempelajari tentang hakikat
atau esensi segala sesuatu. Berfilsafat dapat pula diartikan mencari akar-akar muasal
kebenaran. Jadi, berfilsafat manusia adalah mencari hakikat manusia, mengenal diri manusia
dan mengetahui tujuan keberadaan manusia di dunia. Seseorang yang mempelajari tentang
hakikat manusia akan sadar dan mengenal betul adanya tujuan dan manfaat atas segala
sesuatu yang ada, bahwa semua yang tercipta tak serta merta sekedar ada ataupun kebetulan
semata. Sehingga ia mengetahui apa yang harus dilakukan manusia dalam kehidupannya,
tidak membuang-buang waktu di setiap kesempatan. Menurut Descartes, bapak filsafat
modern dunia, menyatakan bahwa manusia adalah makhluk berakal yang rasionalis yang
mampu menyelesaikan masalah di dunia. Rasionalitas dianggap sebagai sentral dari
pemecahan segala permasalahan. Manusia sepenuhnya ikut andil dalam berfikir dan
bertanggung jawab atas kemajuan dunia dan kehidupan dirinya. Pandangan descartes
terhadap manusia adalah positif ia memandang jiwa manusia pada dasarnya baik karena
didominasi oleh fungsi akal atau intelek. Hakikat kehidupan manusia adalah menuju
kematian, setiap manusia memiliki jatah hidup berbeda yang telah menjadi rahasia Ilahi.
Mengingat dan merenungkan hal itu, sudah sepantasnya manusia harus memanfaatkan waktu
yang dipunya untuk mengerjakan hal-hal terbaik dalam hidupnya, selalu berproses menjadi
lebih baik. Sedangkan tujuan hidup manusia ketika dipandang dari sisi agama yaitu untuk
beribadah.

Emperisme merupakan suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman


dalam memperoleh pengetahuan dan mengecilkan peranan akal. Sebagai suatu doktrin
empirisme merupakan lawan dari rasionalisme. Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan
tentang kebenaran yang sempurna tidak diperoleh melalui akal, melainkan di peroleh atau
bersumber dari panca indera manusia.
DAFTAR PUSTAKA

http://www.kompasiana.com/rrayzha/filsafat-manusia-belajar-menjadi-manusia-
seutuhnya_54f83f3da33311af608b4f4a

Suhartono, Suparlan, P.hd. 2004. Dasar-Dasar Filsafat. Yogyakarta: Ar-Ruzz