Anda di halaman 1dari 2

....program dan akses untuk informasi relevan.

IQ peserta dengan gangguan intelegensi


ditentukan dengan menggunakan Weschler Intelligence Sacle Test. Seluruh peserta
mempunyai IQ diantara rentang retardasi mental ringan-sedang (496).
2.2 prosedur pemeriksaan dan instrumen
Kemampuan motorik seluruh peserta diperiksa selama 2 hari oleh peneliti yang sama,
dengan hari pertama termasuk pemeriksaan kebugaran fisik dan hari kedua pengukuran
keseimbangan. Sebelumnya peserta dites sebelum intervensi dimulai kemudian dites kembali
setelah 12 minggu setelah program trampolin.
Setelah 10 menit pemanasan, pemeriksaan kebugaran menggunankan 3 tes yang
berbeda yang diambil dari the Eurofit Test Battery, yang sebelumnya pernah dilakukan pada
individu dengan ID dan dianggap merupakan instrumen terpercaya untuk dewasa dengan dan
tanpa gangguan intelegensi. (MacDonncha, Watson, McSweeney, dan ODonovan, 1999)
2.2.1 Standing Long Jump Test (broad jump)
Setiap peserta berdiri di belakang sebuah garis pada tanah dengan kedua kaki
sedikit berjauhan. Selanjutnya, setiap anak mencoba untuk melompat sejauh mungkin
dengan kedua kaki dengan lengan mengayun dan menekuk lutut untuk menciptakan
gerakan ke depan dan mendarat dengan kedua kaki tanpa jatuh ke belakang. Secara
keseluruhan, setiap anak dapat mencoba 3 kali untuk mencapai jarak terjauh. Jarak
diukur dari garis lompat hingga titik terdekat dari pendaratan (tumit belakang).
2.2.2 Vertical jump test
Setiap peserta berdiri di samping dinding sambil meraih dengan tangan yang terdekat
dengan dinding. Titik jari telunjuk ditandai (disebut tinggi raih berdiri) dengan kaki datar
pada tanah. Kemudian tiap anak berdiri di samping dinding kemudian melompat setinggi
mungkin dengan kedua lengan dan kaki mendukung badan ke atas. Perbedaan jarak antara
tinggi raih berdiri dengan tinggi lompatan dinilai tiga kali dan diambil nilai tertinggi.

2.2.3 The sit and reach test


Setiap peserta duduk di lantai dengan kaki diluruskan. Sepatu dilepas dan diletakkan
penggaris di antara kedua kaki. Telapak kaki diletakkan medatar dan kedua lutut dikunci dan
diluruskan di lantai. Peneliti membantu dengan menahan lutut ke bawah. Dengan telapak
tangan mengarah ke bawaah, dan tangan berada di atasnya satu sama lain atau bersampingan,
anak meraih ke depan sepanjang garis ukur sejauh mungkin. Kedua tangan berada pada jarak
yang sama, bukan satu tangan lebih jauh dari tangan lain. Setelah beberapa percobaan, anak
mencoba melakukan gerakan tersebut dan menahan selama 1-2 detik sementara jarak dicatat.
Level kaki nol, sehingga setiap pengukuran yang tidak mencapai ibu jari dinilai negatif dan
setiap raihan yang melewati ibu jari dinilai positif. Nilai dicatat pada centimeter terdekat pada
jarak yang diraih tangan.

2.2.4. Balance Testing


Seluruh tes keseimbangan dilakukan pada sebuah EPS pressure platform (Loran Engineering
S.r.I, Bologna, Italy). Sistem menggunakan sensor 2304 resistir pada area aktif 70 cm x 50 cm
untuk mencatat tekanan telapak kaki pada 25 Hz. Seluruh peserta berdiri dengan satu kaki
(one-leg stand/OLS) dengan mata terbuka dan berdiri dengan kedua kaki (double-leg
stand/DLS) dengan mata terbuka dan tertutup. Selama DLS, anak disuruh untuk berdiri
tegak, dengan gerak seminimal mungkin, pada postur normal yang nyaman, dengan mata
terbuka melihat lurus ke depan ke tanda silang pada papan tulis berjarak 3m setinggi mata
dan tanpa alas kaki dengan lebar kaki setinggi lebar bahu dan lengan disamping. Setiap anak
diminta untuk menjaga postur dengan tenang selama 30 detik. Pemeriksaan termasuk 3
pengukuran dan 5 menit istirahat di antara percobaan yang berhasil. Percobaan terbaik
kemudian dianalisa (Agaberg, Roberts, Holmstorm, dan Friden, 2003). Peserta kemudian
melakukan instruksi yang sama dengan mata tertutup.
Selama OLS, peserta diminta berdiri dengan satu kaki, dimana ditempatkan lurus ke
depan sesuai dengan garis referensi pada permukaan sagital dan frontal. Kaki yang melayang
difleksikan 90o pada panggul dan lutut dengan kedua lengan menggantung pada kedua sisi
(Ageberg et al., 2003). Peserta diminta untuk tetap berdiri, melihat ke depan pada titik sejauh
65 cm. urutan pemeriksaan antara kaki diacak. Data yang dicatat dimulai saat peserta stabil
pada posisi yan diminta. Disediakan waktu yang cukup untuk pengenalan. Jika keseimbangan
OLS tidak terjaga hingga 10 detik maka percobaan tidak dicatat dan pengukuran diulang.
Sebuah program komputer (Footchecker 3.2, Engineering S.r.I., Bologna-Italy)
digunakan untuk menghitung amplitudo puncak ke puncak (CoPmax) dan standard deviasi
dari COP dari nilai rata-rata COP pada aksis antero-posterior (Sdy) dan mediolateral (SDx)
dalam mm, sering didefiniskan sebagai amplitodo ayun.

2.3 Tes Trampolin


Dua guru edukasi fisik membimbing program latihan trampolin secara bergantian. Intervaensi
latihan diterapkan sehari-hari pada kelompok percobaan selama 12 minggu. Setiap unit
latihan bersifat individual dan berlangsung kira-kira 20 menit.