Anda di halaman 1dari 19

Makalah

TASAWUF FALSAFI: PENGERTIAN,


KARAKTERISTIK, PERKEMBANGAN, TOKOH-
TOKOH BESERTA AJARANNYA
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Akhlak
Tasawuf

Semester VI

Dosen Pengampu : Nimah Afifah, S.Ag., M.Ag.

Oleh :

1. Safitri Wulandari 14600014

2. Mawaddah Awalia 14690015

3. Fadlilatin Nimah 14690022

4. Taufan Febriyanto 14690037

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2017
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr. wb.

Segala puji kami haturkan kepada Allah SWT, yang telah


memberikan penulis karunia dan nikmat, berupa kesempatan,
dan kesehatan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini
dengan judul Tasawuf Falsafi: Pengertian, Karakteristik,
Perkembangan, Tokoh-Tokoh beserta Ajarannya. Kemudian
sholawat serta salam kami haturkan kepada Nabi Agung
Muhammad SAW yang telah membimbing dari zaman kegelapan
menuju zaman terang benderang, dari zaman kebodohan menuju
zaman kepintaran dengan agama Islam.
Makalah ini disusun guna memenuhi salah satu tugas mata
kuliah Akhlak Tasawuf di Program Studi Pendidikan Fisika,
Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Selanjutnya, kami ucapkan terimakasih kepada Nimah
Afifah, S.Ag., M.Ag., selaku Dosen mata kuliah Akhlak Tasawuf,
atas bimbingan dan arahan yang telah diberikan, dan kepada
segenap pihak yang telah membantu dalam penulisan makalah
ini.
Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih
jauh dari kesempurnaan, maka kritik dan saran yang bersifat
membangun sangat kami harapkan guna sempurnanya makalah
ini. Kami berharap semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi
kami khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.

Wassalamualaikum wr. wb.

Yogyakarta, 25 April
2017

Penyusun
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL...................................................................i
KATA PENGANTAR....................................................................ii
DAFTAR ISI...............................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang..........................................................1
B. Rumusan Masalah......................................................1
C. Tujuan........................................................................2

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian dan Karakteristik Tasawuf Falsafi.............
B. Perkembangan Tasawuf Falsafi......................................................
C. Tokoh-tokoh Tasawuf Falsafi dan Ajarannya.................................

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan.....................................................................................

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Istilah tasawuf adalah suatu makna yang mengandung arti tentang
segala sesuatu untuk berupaya membersihkan jiwa serta mendekatkan diri
kepada Allah dengan mahabbah yang sedekat-dekatnya. Tasawuf mempunyai
banyak arti dan istilah yang kesemuanya itu merupakan ajaran tentang
kesehajaan, kezuhudan, keserdehanaan, jauh dari kemegahan dan selalu
merendahkan diri di hadapan Allah SWT. Intinya segala perilaku dan
perbuatannya semata-mata hanya untuk Allah SWT. Tasawuf terbagi menjadi
beberapa aliran, seperti tasawuf akhlaqi, tasawuf irfani dan tasawuf falsafi.
Adapula yang membagi tasawuf ke dalam tasawuf Amali, tasawuf Falsafi dan
tasawuf Ilmi. Akan tetapi dalam makalah ini hanya akan dibahas secara lebih
khusus mengenai tasawuf falsafi saja.
Tasawuf Falsafi adalah tasawuf yang kaya dengan pemikiran-pemikiran
filsafat, sehingga dalam konsep-konsep tasawuf falsafi lebih mengedepankan
asas rasio dengan pendekatan-pendekatan filosofis yang sulit diaplikasikan ke
dalam kehidupan sehari-hari.Perenungan ketuhanan kelompok sufi dapat
dikatakan sebagai reaksi terhadap corak pemikiran teologis pada masa itu.
Oleh karena itu, penulis memandang perlu membahas aliran ini, dengan
harapan dapat memahami lebih dalam tentang tasawuf filsafi dan sebagai
sebuah perbandingan dengan aliran filsafat lainnya.

B. Rumusan Malasah
1. Bagaimana pengertian dan karakteristik tasawuf falsafi ?
2. Bagaimana perkembangan tasawuf falsafi ?
3. Siapakah tokoh-tokoh dalam Tasawuf Falsafi dan bagaimana ajarannya?

C. Tujuan
1. Untuk memahami pengertian dan karakteristik tasawuf falsafi
2. Untuk mengetahui perkembangan tasawuf falsafi
3. Untuk mengetahui siapakah tokoh-tokoh dalam Tasawuf Falsafi dan
bagaimana ajarannya

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian dan Karekteristik Tasawuf Falsafi
Tasawuf falsafi yaitu tasawuf yang ajaranya-ajaranya memadukan
antara visi intuitif dan visi rasional. Terminilogi filsafi yang digunakan berasal
dari bermacam-macam ajaran filsafat yang telah mempengaruhi para tokohnya
namun orisinilitasnya sebagai tasawuf tidak hilang. Walaupun demikian
tasawuf filosofis tidak bisa dipandang sebagai filsafat, karena ajaran dan
metodenya didasarkan pada rasa (dzauq), dan tidak pula bisa dikategorikan
pada tasawuf (yang murni), karena sering diungkapkan dengan bahasa
filsafat.1 Jadi Tasawuf Falsafi adalah sebuah konsep ajaran tasawuf yang
mengenal Tuhan (marifat) dengan pendekatan rasio (filsafat) hingga menuju
ketinggkat yang lebih tinggi, bukan hanya mengenal Tuhan saja
(marifatullah) melainkan yang lebih tinggi dari itu yaitu wihdatul wujud
(kesatuan wujud). Bisa juga dikatakan tasawuf filsafi yakni tasawuf yang kaya
dengan pemikiran-pemikiran filsafat.
Sebagai sebuah tasawuf yang bercampur dengan pemahaman filsafat,
tasawuf falsafi memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda dengan tasawuf
sunni. Tasawuf falsafi memiliki objek tersendiri yang berbeda dengan tasawuf
Sunni. Dalam hal ini Ibnu Kladun, sebagaimana yang dikutip oleh At-
Taftazani, dalam karyanya Al-Muqaddimah, menyimpulkan bahwa ada empat
objek utama yang menjadi perhatian para sufi filosof, yaitu:
1) Latihan rohaniah dengan rasa, intuisi, serta introspeksi diri yang timbul
darinya. Mengenai latihan rohaniah dengan tahapan (maqam) maupun
keadaan (hal) rohaniah serta rasa (dzauq), para sufi filosof cenderung
sependapat dengan para sufi Sunni. Sebab, masalah tersebut menurut Ibnu
Khaldun, merupakan sesuatu yang tidak dapat ditolak oleh siapa pun.
2) Iluminasi atau hakikat yang tersingkap dari alam gaib, seperti sifat-sifat
rabbani, arsy, kursi, malaikat, wahyu, kenabian, roh, hakikat realitas
segala yang wujud, yang gaib yang tampak, dan susunan komos, terutama
tentang Penciptanya dan penciptaannya. Mengenai iluminasi ini para sufi
melakukan latihan rohaniah dengan mematikan kekuatan syahwat serta
menggairahkan roh dengan jalan menggiatkan dzikir.

1Samsul Munir Amir, Ilmu Tasawuf, (Jakarta : Amzah, 2012), hal. 264
3) Peristiwa-peristiwa dalam alam maupun kosmos yang berpengaruh
terhadap berbagai bentuk kekeramatan atau keluarbiasaan.
4) Penciptaan ungkapan-ungkapan yang pengertiannya sepintas samar-samar,
yang dalam hal ini telah melahirkan reaksi masyarakat berupa
mengikarinya, menyetujuinya ataupun menginterpretasikannya dengan
interpretasi yang berbeda-beda.2
Menurut At-taftazani, ciri umum tasawuf falsafi adalah ajarannya
yang samar-samar akibat banyaknya istilah khusus yang hanya dapat
dipahami oleh para sufi falsafi itu sendiri. Sedangkan ciri-ciri khusus dari
Tasawuf Falsafi antara lain :
1) Mengkonsepsikan ajaran-ajarannya dengan menggabungkan antara
rasional dan perasaan.
2) Mendasarkan pada latihan-latihan ruhaniah (riyadah)
3) Iluminasi atau bayangan sebagai metode untuk mengatahui berbagai
hakekat, yang menurut penganutnya bisa dicapai dengan fana.
4) Selalu menyamarkan ungkapan-ungkapan tentang hakekat realitas-realitas
dengan berbagai simbol atau terminologi filsafat.3

B. Perekembangan Tasawuf Falsafi


Tasawuf falsafi, disebut juga denga tasawuf nazhari, merupakan
tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi mistis dan visi rasional
sebagai penggagasnya. Berbeda dengan tasawuf salafi (akhlaqi), tasawuf
filsafi menggunakan terminologi filosofis dalam pengungkapannya.
Selama abad kelima hijriah, aliran tasawuf salafi (akhlaqi) terus
tumbuh dan berkembang. Sebaliknya, aliran tasawuf falsafi ini mulai
tenggelam dan muncul kembali dalam bentuk lain pada pribadi-pribadi sufi
yang juga filosof. Tenggelamnya aliran ini adalah imbas dari kejayaan
teologi Ahlussunnah Wal Jamaah di atas aliran-aliran lain.
Sejak abad keenam hijriah muncul sekelompok tokoh tasawuf yang
memadukan tasawuf mereka dengan filsafat, dengan teori mereka yang

2 Cecep Alba, Tasawuf dan Tarekat, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2012),


hal.71
3 Samsul Munir Amir, Ilmu Tasawuf, (Jakarta : Amzah, 2012), hal. 267
bersifat setengah-setengah. Artinya, disebut murni tasawuf bukan, disebut
murni filsafat juga bukan. Di antara mereka yaitu Syukhrawardi Al-Maqtul
(meninggal tahun 549 H), penyusun kitab Hikmah Al-Insyraqiyah, Syekh
Akbar Muhyidin Ibnu Arabi (meninggal pada Tahun 638 H), dan lain-lain.
Mereka banyak menimba berbagai sumber dan pendapat asing, seperti filsafat
Yunani dan khususnya Neo-Platonisme. Mereka pun banyak mempunyai teori
mendalam mengenai jiwa, moral, pengetahuan, wujud dan sangat bernilai baik
ditinjau dari segi tasawuf maupun filsafat, dan berdampak besar bagi para sufi
mutakhir.
Dengan munculnya para sufi yang juga filosof, orang mulai
membedakannya dengan tasawuf yang mula-mula berkembang , yakni
tasawuf akhlaqi. Kemudian, tasawuf akhlaqi ini didentik dengan
tasawuf sunni. Hanya saja, titik tekan penyebutan tasawuf sunni dilihat pada
upaya yang dilakukan oleh sufi-sufi yang memagari tasawufnya dengan Al-
Quran dan As-Sunnah. Dengan demikian tasawuf terbagi menjadi dua,
yaitu sunni yang lebih berorientasi pada pengokohan akhlak , dan
tasawuf falsafi, yakni aliran yang menonjolkan pemikiran-pemikiran filosofis
dengan ungkapan-ungkapan ganjilnya (syathahiyat) dalam ajaran-ajaran yang
dikembangkannya. Ungkapan-ungkapan syathahiyat itu bertolak dari keadaan
yang fana menuju pernyataan tentang terjadinya penyatuan ataupun hulul.
Tokoh-tokoh yang terkenal dalam tasawuf falsafi antara lain, yaitu Ibn
Masarrah (dari Cordova, Andalusia, wafat tahun391 H), Syukhrawardi (dari
Persia, wafat dibunuh di Aleppo tahun 587 H), dan Ibn Arabi (sufi Andalusia,
wafat di Damaskus tahun 638 H), dll. Bila tasawuf sunni memperoleh bentuk
final pada pengajaran Al-Ghazali, maka tasawuf falsafi mencapai puncak
kesempurnaannya pada pengajaran Ibn Arabi.

C. Tokoh Tokoh Tasawuf Falsafi dan Ajarannya


1) IBNU ARABI (560-638 H)
a. Biografi Singkat Ibn Arabi
Nama lengkap Ibn Arabi adalah Muhammad bin Ali bin Ahmad
bin Abdullah ath-Thai Al-Haitami. Ia lahir di Murcia, Andalusia
Tenggara, Spanyol, tahun 560 H, dari keluarga berpangkat, hartawan,
dan ilmuwan. Pada tahun 120 M/598 H Ibnu Arabi meninggalkan
Spnyol karena situasi politik pada masa itu tidak menguntungkan
baginya serta tasawuf yang dianutnya tidak disukai dikawasan itu.
Barangkali dengan tujuan utama untuk ibadah haji, ia berangkat
menuju kawasan timur. Mesir adalah negeri pertama yang ia singgahi
untuk beberapa lama, tetepi ternyata aliran tasawufnya tidak diterima
masyarakat. Oleh karena itu, ia melanjutkan pengembaraannya melalui
Jerussalem dan menetap di Makkah untuk beberapa lama. Di kawasan
Saudi ternyata ia diterima penguasa dan masyarakat dengan baik.
Akan tetapi, ia tidak menetap di kota suci itu.4
b. Ajaran-Ajaran Tasawuf Ibn Arabi
1).Wahdat Al-Wujud
Wahdat al-wujud adalah ungkapan yang terdiri dari dua kata,
yaitu wahdat dan al-wujud. Wahdat artinya sendiri, tunggal atau
kesatuan, sedangkan al-wujud artinya ada. Dengan demikian
wahdat al-wujud berarti kesatuan wujud.
Wahdat al-wujud menurut Ibn Taimiyah,adalah penyamaan
Tuhan dengan alam. Menurutnya orang-orang yang berpaham ini
mengatakan bahwa wujud itu sesungguhnya hanya satu dan wajib
al-wujud yang dimiliki oleh khaliq juga adalah mumkin al-wujud
yang dimiliki oleh makhluk.
Menurut Ibn Arabi, wujud semua yang ada ini hanyalah satu
dan pada hakikatnya wujud makhluk adalah wujud khalik pula.
Tidak ada perbedaan antara keduanya dari segi hakikat. Adapun
jika ada yang mengira adanya perbedaan wujud khalik dan
makhluk, hal itu dilihat dari sudut pandang panca indra lahir dan
akal yang terbatas kemampuan dalam menangkap hakikat yang ada
pada dzat-Nya dari kesatuan dzatiyah, yang segala sesuatu

4 Ahmad & Rayani, Akhlak Tasawuf: Pengenalan, Pemahaman, dan


Pengaplikasiannya Disertai Biografi dan Tokoh-tokoh Sufi, (Jakarta : Rajawali
Pers, 2013) hal. 34-35
berhimpun pada-Nya. Hal ini tersimpul dalam ucapan Ibnu Arabi
berikut ini: Maha Suci Tuhan yang telah menjadikan segala
sesuatu dan Dia sendiri adalah hakikat segala sesuatu itu.
2). Haqiqah Muhammadiyyah
Menurut Ibn Arabi, Tuhan adalah Pencipta alam semesta.
Adapun proses penciptaanya adalah sebagai berikut:
a) Tajalli dzat Tuhan dalam bentuk ayan tsabith.
b) Tanazul dzat Tuhan dari alam maani ke alam (taayyunat)
realitas realitas rohaniah, yaitu alam arwah yang mujarrad.
c) Tanazul kepada realitas-realitas nafsiah, yaitu alam nafsiah
berfikir.
d) Tanazul Tuhan dalam bentuk ide materi yang bukan materi,
yaitu alam mitsal (ide) atau khayal.
e) Alam materi, yaitu alam indrawi.
Selain itu, Ibn Arabi menjelaskan bahwa terjadinya alam ini
tidak dipisahkan dari ajaran Haqiqah Muhammadiyyah atau Nur
Muhammad. Menurutnya, tahapan-tahapan kejadian proses
penciptaan alam dan hubungannya dengan kedua ajaran itu dapat
dijelaskan sebagai berikut.
Pertama, wujud Tuhan sebagai wujud mutlak, yaitu dzat yang
mandiri dan tidak berhajat kepada suatu apa pun. Kedua, wujud
haqiqah Muhammadiyyah sebagai emanasi (pelimpahan) pertama
dari wujud Tuhan dan dari sini muncul segala yang wujud dengan
proses tahapan-tahapan sebagaimana yang dikemukakan di atas.

3). Wahdatul Adyan (kesamaan agama)


Ibn Arabi memandang bahwa sumber agama adalah satu,
yaitu hakikat Muhammadiyyah. Konsekuensinya, semua agama
adalah tunggal dan semua itu kepunyaan Allah. Seorang yang
benar-benar arif adalah orang yang menyambah Allah dalam setiap
bidang kehidupannya. Dengan kata lain, dapat dinyatakan bahwa
ibadah yang benar hendaknya seorang abid memandang semua apa
saja sebagai bagian dari ruang lingkup realitas dzat Tuhan yang
Tunggal.
2) Al-JILI (1365-1405 M)
a. Biografi Al-Jili
Nama lengkapnya adalah Abdul Karim bin Ibrahim Al-Jili. Ia
lahir pada tahun 1365, di Jilan (Gilan), sebuah provinsi di sebelah
selatan Kaspia dan wafat pada tahun 1405 M. Nicolson menilainya
bahwa al-Jili terkait dengan Abd. Karim al-Jili (tokoh ini lebih dikenal
dengan Abdul Qadir Jailani), seorang pendiri dan pemimpin tarekat
Qadariyah yang sangat terkenal. Di samping itu, berguru pula pada
Syekh Syarafuddin Ismail bin Ibrahim al-Jabari. Dengan berbasis ilmu
dan pengalaman yang sangat luas, beliau menekuni dunia tasawuf.
Agaknya corak tasawuf yang dikembangkan banyak memiliki
kesamaan dengan Ibn Arabi, karena ia dianggap sebagai pelanjut ajaran
tasawuf Ibn Arabi terutama tentang konsep Nur Muhammad.5

b. Ajaran Tasawuf Al-Jili


1). Insan Kamil
Insan kamil berasal dari bahasa Arab, yaitu Insan dan Kamil.
Secara harfiah, insan berarti manusia, dan kamil berarti sempurna.
Jadi, insan kamil berarti manusia yang sempuran. Menurut Al-Jili,
insan kamil adalah nuskhah atau copy Tuhan, seperti disebutkan
dalam hadis:






Artinya: Allah menciptakan Adam dalam bentuk yang
Maharahman.
Sebagaiman diketahui, Tuhan mempunyai sifat hidup, pandai,
mampu berkehendak, mendengar dan sebagainya. Manusia Adam
pun mempunyai sifat seperti itu dan dapat dipahami bahwa Adam
dilihat dari sisi penciptaanya merupakan salah seorang insan kamil

5 Ahmad & Rayani, Akhlak Tasawuf Pengenalan, Pemahaman, dan


Pengaplikasiannya Disertai Biografi dan Tokoh-tokoh Sufi , (Jakarta : Rajawali
Pers, 2013) hal. 36
dengan segala kesempurnaanya. Sebab pada dirinya terdapat sifat
dan nama ilahiyah. Al-Jilli berpendapat bahwa nama-nama dan sifat-
sifat ilahiyah itu pada dasarnya merupakan milik insan kamil sebagai
suatu kemestian inheren dengan esensinya. Sebab sifat-sifat dan
nama-nama tersebut tidak memiliki tempat berwujud, tetapi pada
insan kamil.
Perumpamaan hubungan Tuhan dengan insan kamil bagaikan
cermin. Seseorang tidak dapat melihat dirinya kecuali melalui
cermin itu. Demikian pula halnya dengan insan kamil, ia tidak dapat
melihat dirinya kecuali demngan cermin nama Tuhan, sebagaimana
Tuhan tidak dapat meliht dirinya, kecuali melalui cermin insan
kamil. Inilah maksud ayat:
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit,
bumi dan gunung-gunung, maka semunya enggan untuk memikul
amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan
dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhya manusia itu amat
dzalim dan amat bodoh. (QS Al-Ahzab:72)
Ketidaksempurnaan manusia disebabkan oleh hal-hal yang
bersifat ardhi, termasuk bayi yang berada dalam kandungan ibunya.
Al-kamal dalam konsep Al-Jilli mungkin dimiliki oleh manusia
secara profesional (bi al-quwah) dan mungkin pula secara aktual (bi
al-fiil) seperti yang terdapat dalam wali-wali, dan nabi-nabi
meskipun dalam intensitas yang berbeda.6

Ciri-ciri Insan Kamil, yaitu:


a) Berfungsi Akalnya Secara Optimal

6 Ibid., hal. 37-38


Manusia yang berfungsi akalnya sudah merasa wajib melakukan
perbuatan yang baik. Dan manusia yang demikianlah yang dapat
mendekati tingkat insan kamil.
b) Berfungsi Intuisinya
Intuisi ini dalam pandangan Ibnu Sina disebut jiwa manusia
(rasional soul). Menurutnya jika yang berpengaruh dalam diri
manusia adalah jiwa manusianya, maka orang itu hampir
menyerupai malaikat dan mendekati kesempurnaan.
c) Menghiasi Diri dengan Sifat-Sifat Ketuhanan
Pada uraian tentang arti insan di atas telah disebutkan bahwa
manusia termasuk makhluk yang mempunyai naluri ketuhanan
(fitrah). Ia cenderung kepada hal-hal yang berasal dari Tuhan,
dan mengimaninya. Sifat-sifat tersebut menyebabkan ia menjadi
wakil Tuhan di muka bumi.
d) Berakhlak Mulia
Sejalan dengan ciri keempat di atas, insan kamil juga adalah
manusia yang berakhlak mulia. Hal ini sejalan dengan pendapat
Ali Syariati yang mengatakan bahwa manusia yang sempurna
memiliki tiga aspek, yakni aspek kebenaran, kebajikan dan
keindahan.
e) Berjiwa Seimbang
Perlunya sikap seimbang dalam kehidupan, yaitu seimbang
antara pemenuhan kebutuhan material dengan spiritual. Ini
berarti perlunya ditanamkan jiwa sufistik yang dibarengi dengan
pengamalan syariat Islam, terutama ibadah, zikir, tafakur,
muhasabbah, dst.
Seluruh ciri tersebut menunjukan bahwa insan kamil lebih
menunjukan kepada manusia yang segenap potensi intlektual, intuisi,
rohani, hati sanubari, ketuhanan, fitrah dan kejiwaannya berfungsi
dengan baik. Jadi yang dimaksud dengan insan kamil oleh Al-Jilli
adalah manusia dengan segala kesempurnaannya, sebab pada dirinya
terdapat sifat-sifat dan nama-nama illahi. Hal ini sama dengan Al-
Arabi yang ajarannya lebih mengedepankan akal.7

2) Maqamat (al-Martabah)
Al-Jilli dengan filsafat insan kamilnya, merumuskan beberapa
maqam yang harus dilalui seorang sufi, yang menurut istilahnya ia
sebut al-martabah (jenjang atau tingkat). Tingkatan-tingkatan itu
adalah:
a) Islam, yang didasarkan pada lima pokok atau rukun dalam
pemahaman kaum sufi tidak hanya ritual saja, tetapi harus
dipahami dan dirasakan lebih dalam.
b) Iman, yakni membenarkan dengan sepenuh keyakinan akan
rukun iman, dan melaksanakan dasar-dasar Islam. Iman
merupakan tangga pertama mengungkap tabir alam ghaib, dan
alat yang membantu seseorang untuk mencapai maqam yang
lebih tinggi.
c) Ash-shalah, yakni dengan maqam ini seorang sufi mencapai
tingkat ibadah yang terus-menerus kepada Allah dengan penuh
perasaan khauf dan raja.
d) Ihsan, yakni dengan maqam ini menunjukkan bahwa seorang sufi
telah mencapai tingkat menyaksikan efek (atsar) nama dan sifat
Tuhan, sehingga dalam ibadahnya, ia merasa seakan-akan berada
dihadapan-Nya. Persyaratan yang harus ditempuh pada maqam
ini adalah sikap istiqomah dalam tobat, inabah, zuhud, tawakal,
tafwidh, ridha dan ikhlas.
e) Syahadah, yakni seorang sufi dalam maqam ini telah mencapai
iradah dengan ciri-ciri: mahabbah kepada Tuhan tanpa pamrih,
mengingat-Nya secara terus-menerus, dan meninggalkan hal-hal
yang menjadi keinginan pribadi.
f) Shiddiqiyah, menurut al-Jili seorang sufi yang telah mencapai
derajat shiddiq akan menyaksikan hal-hal yang ghaib, kemudian

7 Rosihon Anwar, Akhlak Tasawuf, cetakan .X (Bandung: Pustaka Setia, 2010)


hal. 289
melihat rahasia-rahasia Tuhan sehingga mengetahui hakikat diri-
Nya.
g) Qurbah, yakni maqam ini merupakan maqam yang
memungkinkan seseorang dapat menampakkan diri dalam sifat
dan nama yang mendekati sifat dan nama Tuhan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa sungguhpun manusai mampu
berhias dengan nama dan sifat Tuhan, akan tetapi tidak dapat
dipungkiri bahwa manusia itu tidak bisa menyamai sifat dan nama-
nama Tuhan.

3) IBN SABIN (614-669 H)


a. Biografi Ibn Sabin
Nama lengkap Ibn Sabin adalah Abdul Haqq ibn Ibrahim
Muhammad Ibn Nashr, seorang sufi yang juga filosof dari Andalusia.
Ia di panggil Ibn Sabiin dan digelari Quthbuddin dan dikenal pula
dengan panggilan Abu Muhammad. Dia berasal dari keturunan Arab
dan dilahirkan tahun 614 H (1217/1218 M) di kawasan Murcia dan
lahir dari keluarga terhormat. Dia mempelajari bahasa arab dan sastra,
dia juga mempelajari ilmu agama dari madzhab Maliki, ilmu-ilmu
logika dan filsafat. Dia mengemukakan bahwa diantara guru-gurunya
itu adalah Ibn Dihaq, yang dikenal dengan Ibn Mirah. Ibn Sabin
tumbuh dewasa dalam keluarga bangsawan, hidupnya dalam suasna
penuh kemuliaan dan berkecukupan, tetapi beliau menjauhi
kesenangan hidup kemewahan dan kepemipinan duniawi, lalu hidup
sebagai asketis maupun sufi yang mempunyai banyak murid.8

b. Ajaran Tasawuf Ibn Sabin


8 Ahmad & Rayani, Akhlak Tasawuf Pengenalan, Pemahaman, dan
Pengaplikasiannya Disertai Biografi dan Tokoh-tokoh Sufi, (Jakarta : Rajawali
Pers, 2013) hal. 39-40
1) Kesatuan Mutlak
Ibn Sabiin adalah pengasas sebuah paham dalam kalangan
tasawuf filosofis yang dikenal dengan paham kesatuan mutlak.
Gagasan esensialnya sederhana yaitu wujud adalah satu alias wujud
Allah semata. Wujud yang lainnya hanyalah wujud Yang Satu itu
sendiri. Paham ini lebih dikenal dengan paham kesatuan mutlak.
Kesatuan mutlak ini, atau kesatuan murni, atau menguasai, menurut
terminologi Ibn Sabiin, hampir tidak mugkin mendeskripsikan
kesatuan itu sendiri.
Dalam paham ini, Ibn Sabiin menempatkan ketuhanan pada
tempat pertama. Sebab wujud Allah menurutnya adalah asal segala
yang ada pada masa lalu, masa kini maupun masa depan. Pemikiran
Ibn Sabiin merujuk pada dalil-dalil Al-Quran yang
diinterpretasikan secara filosofis maupun khusus. Misalnya firman
Allah. Dialah yang awal, yang akhir, yang dzahir dan yang
batin. (QS Al-Hadid [57]:3) dan firman-Nya, Tiap-tiap sesuatu
pasti binasa, kecuali Allah. (QS Ali Imran [3]: 185)
Terkadang Ibn Sabin memperkuat pahamnya dengan hadits-
hadits Nabi, diantaranya dengan Hadis Qudsi, Apa yang pertama-
tama diciptakan Allah adalah akal budi. Maka firman Allah
kepadanya, terimalah! Ia pun menerimanya..... Namun Ibn
Taimiyah menolak dan mengecam keras pendapat Ibn Sabin
tentang kesatuan mutlak, menjelaskan bahwa interpretasi Ibn
Sabin terhadap nash-nash agama tidaklah benar. Begitu juga
dengan Hadis Qudsi yang digunakan adalah hadis maudu;.
2) Penolakan terhadap Logika Aristotelian
Paham kesatuan mutlak telah membuatnya menolak logika
Aristotelian. Terbukti dalam karyanya Budd Al-Arif, ia menyusun
suatu logika baru yang bercorak iluminatif sebagai pengganti
logika yang berdasaarkan pada konsepsi jamak. Ibn sabiin
menamakan logika barunya itu dengan logika pencapaian kesatuan
mutlak, tidak termasuk kategori logika yang bisa dicapai dengan
panalaran, tetapi termasuk tembusan illahi yang membuat manusia
bisa melihat yang belum pernah dilihatnya maupun yang pernah
didengarnya. Dengan demikian logika tersebut bercorak intuitif.9
Kesimpulan penting Ibn Sabiin dengan logikanya tersebut
adalah bahwa realitasa-realitas logika dalam jiwa manusia bersifat
alamiah yang memberi kesan adanya wujud jamak sekedar ilusi
belaka.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

9 Ibid., hal. 41
Tasawuf Falsafi adalah sebuah konsep ajaran tasawuf yang mengenal
Tuhan (marifat) dengan pendekatan rasio (filsafat) hingga menuju ketingkat
yang lebih tinggi, bukan hanya mengenal Tuhan saja (marifatullah)
melainkan yang lebih tinggi dari itu yaitu wihdatul wujud (kesatuan wujud).
Tasawuf falsafi memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda dengan tasawuf
sunni. Tasawuf falsafi yakni aliran yang menonjolkan pemikiran-pemikiran
filosofis dengan ungkapan-ungkapan ganjilnya (syathahiyat) dalam ajaran-
ajaran yang dikembangkannya.
Perkembangan tasawuf falsafi sendiri selama abad kelima hijriah aliran
tasawuf falsafi ini mulai tenggelam dan muncul kembali dalam bentuk lain
pada pribadi-pribadi sufi yang juga filosof. Kemudian tokoh-tokoh dalam
tasawuf falsafi beserta ajarannya yaitu diantarannya: Ibnu Arabi dengan
ajarannya yaitu Wahdat Al-Wujud, Haqiqah Muhammadiyyah, dan Wahdatul
Adyan (kesamaan agama); Al-Jili dengan ajarannya Insan Kamil dan Maqamat
(al-Martabah); dan Ibn Sabin dengan ajarannya yaitu Kesatuan Mutlak dan
Penolakan terhadap Logika Aristotelian.

DAFTAR PUSTAKA

Alba, Cecep. 2012. Tasawuf dan Terekat. Bandung: Remaja Rosdkarya.


Amin, Samsul Munir. 2012. Ilmu Tasawuf. Jakarta: Amzah.
Anwar, Rosihon. 2010. Akhlak Tasawuf, Cetakan X. Bandung: Pustaka Setia.
Nasution & Siregar. 2013. Akhlak Tasawuf: Pengenalan, Pemahaman, dan
Pengaplikasiannya disertai Biografi dan Tokoh-tokoh Sufi. Jakarta:
Rajawali Pers.
Khadapi, Muamer. 2013. Sejarah Perkembangan Tasawuf Salafi, Falsafi Dan
Syii. [on line] http://ukhuwahislah.blogspot.co.id/2013/06/makalah-
sejarah-perkembangan-tasawuf.html pada tanggal 23 April 2017.