Anda di halaman 1dari 5

Dana Pensiun Syariah

Pengertian Dana Pensiun


Dana pensiun adalah hak sesorang untuk memperoleh penghasilan setelah bekerja sekian
tahun dan telah sampai pada usia untuk pensiun. Sedangkan menurut undang undang nomor 11
tahun 1992 tentang dana pensiun bahwa dana pensiun adalah badan hukum yang mengelola dan
menjalankan program yang menjanjikan manfaat pensiun. Secara umum dana pensiun sendiri
merupakan perusahaan yang memungut dana dari karyawan suatu perusahaan dan memberikan
pendapatatan kepada peserta pensiun sesuai dengan perjanjian. Jadi dana pensiun disini dikelola
oleh suatu lembaga pemungut dan dana tersebut dikembalikan lagi setelah pekerja tersebut
memasuki masa akhir kariernya. Di indonesia sendiri dana pensiun syariah diawali dulu dari
pembentukan PT asuansi jiwa BEringin Jiwa Sejahterah dimana pada tahun 2003 tepatnya tanggal
21 januari membuat kantor usaha baru berupa asuransi syariah yang didalamnya juga terdapat
dana pensiun syariah ini.

Landasan Hukum Dana Pensiun Syariah


Landasan hukum dana pensiun di Indonesia adalah UU no 11 tahun 1992 tetang dana
pensiunan. Sementara program lainnya adalah TASPEN yaitu tabungan pensiun pegawai negri
sipil dan program pensiun swasta yang ditangani oleh departemen keuangan. Serta ASABRi bagi
dana pensiun angkatan bersenjata. Undang Undang Dana Pensiun No 11 Tahun 1992 merupakan
kerangka hukum dasar untuk dana pensiun swasta di Indonesia. Undang Undang ini didasarkan
pada prinsip kebebasan untuk memberikan janji dan kewajiban untuk menepatinya. Walaupun
dalam pembetukannya adalah sukarela tetapi dalam pengembaliannya haruslah pasti. Sedangkan
untuk landasan hukum oprasional dana pensiun syariah belum ada satupun peraturan dan fatwa
yang mendukung sehingga regulasi sebagai kerangka oprasional dana pensiun syariah hanya
mengacu pada peraturan dan pensiun yang umum dan fatwa MUI yang juga umum.

Tujuan Dana Pensiun Syariah


Bagi pemberi kerja:

a. Kewajiban moral: perusahaan sebagai pemberi kerja memiliki kewajiban moral untuk
memberikan rasa aman kepada karyawan setelah mencapai usia pensiun. Tenaga kerja
disini posisinya sebagai faktor produksi harus diperhatikan kesejahteraannya setelah
mamasuki masa pensiun dan kewajiban moral ini di aolikasikan dengan pemberian dana
pensiun
b. Loyalitas: jaminan yang diberikan untuk karyawan akan memberikan dampak positif
berupa loyalitas dan kinerja yang baik bagi perusahaan.
c. Kompetisi: dengan adanya dana pensiun bagi karyawan oleh pemberi kerja sebagai
kompensasi dari perusahaan, diharapkan perusahaan akan memiliki daya saing nilai lebih
dalam mendapatkan karyawan yang memiliki kualitas bagus
Bagi karyawan:

a. Rasa aman terhadap masa yang akan datang: Karyawan mengharapkan mendapatkan
jaminan ekonomis karena penghasilan yang ia terima memasuki masa pensiun. Harapan
ini akan memengaruhi kinerja saat ini, pada saat ia masih produktif.
b. Kompensasi yang lebih baik: Karyawan mempunyai tambahan kompensasi meskipun baru
bisa ia nikmati pada saat mencapai usia pensiun atau berhenti bekerja.

Jenis Jenis Dana Pensiun Syariah


1. Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK)

Dana pensiun pemberi kerja ini merupakan unit dalam suatu perusahaan yang khusus
menangani dana pensiun bagi karyawan. DPPK sendiri dibentuk oleh orang atau badan yang
memperkerjakan karyawan, untuk menyelenggarakan program pensiun. Pendirian dan
penyelenggaraan program pensiun melalui dana pensiun oleh pemberi kerja seifatnya tidak
wajib. Akan tetapi, mengingat dampak dan peranan yang positif dari program dana pensiun
kepada para karyawan, pemerintah sangat menganjurkan kepada setiap pemberi kerja untuk
mendirikan dana pensiun.
2. Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK)

Dana pensiun lembaga keuangan adalah dana pensiun yang dibentuk oleh Bank atau
perusahaan asuransi jiwa, untuk menyelenggarakan program pensiun iuran pasti bagi
perorangan. Baik karyawan, maupun pekerja mandiri yang terpisah dari dana pensiun pemberi
kerja bagi karyawan bank atau perusahaan asuransi yang bersangkutan. Pihak yang
diperkenankan untukn mendirikan dana pensiun hanyalah bank umum dan perusahaan asuransi
jiwa. Dana pensiun lembaga keuangan hanya dapat menjalankan program pensiun iuran pasti,
program ini terutama diperuntukkan bagi para pekerja mandiri atau perorangan, misalnya
dokter, pengacara, pengusaha yang bukan meruapakan karyawan dari lembaga atau orang lain.
Biasanya mereka memiliki penghasilan yang bukan berasal dari pemberi kerja tetapi dari
usahanya.

Program dana pensiun berdasarkan manfaat dan kontribusinya dikategorikan sebagai program
penisun manfaat pasti dan program pensiun iuran pasti. Sedangakan dalam providernya dibedakan
menjadi program pensiun pemerintah dan program pensiun swata.

Program Pensiun manfaat pasti


Program Pensiun Manfaat Pasti (PPMP) adalah program pensiun yang memberikan
formula tertentu atas manfaat yang akan diterima peserta pada saat mencapai usia pensiun.
Program pensiun manfaat pasti memiliki perbedaan yang mendasar dengan program iuran pasti.
Program manfaat pasti merupakan program pensiun yang besar manfaatnya yang akan diterima
oleh peserta pada saat pensiun telah dapat ditetapkan terlebih dahulu. Penetapan ini didasarkan
pada formula tertentu yang ditetapkan pada peraturan dana pensiun. Contoh: dalam peraturan dana
pensiun ditetapkan bahwa seorang peserta program pensiun manfaat pasti pada saat pensiun ia
akan mendapatkan manfaat sebesar 2,5 % x masa kerja x dasar pensiun. Ini berarti bahwa manfaat
pensiun telah dapat ditetapkan pada saat seseorang memasuki kepesertaan dana pensiun.

Program Pensiun Iuran Pasti (PPIP)


Program Pensiun Iuran Pasti (PPIP) yaitu program pensiun yang menetapkan besarnya
iuran karyawan dan perusahaan (pemberi kerja). Sementara itu, benefit yang akan diterima
karyawan dihitung berdasarkan akumulasi iuran ditambah dengan hasil pengembangan atau
investasinya. Dalam Undang-Undang, Program Pensiun Iuran Pasti didefinisikan sebagai program
pensiun yang iurannya ditetapkan dalam peraturan dana pensiun dan seluruh iuran serta hasil
pengembangannya dibukukan pada rekening masing-masing peserta sebagai manfaat pensiun.

Sistem dan Mekanisme Dana Pensiun Syariah


Dana pensiun Syariah atau Dana Pensiun Lembaga Keuangan merupakan salah satu jenis
dana pensiun sesuai dengan Undang-Undang No. 11 tahun 1992 tentang dana pensiun. Sejauh ini
program pensiun syariah di Indonesia masih dilaksanakan secara terbatas oleh DPLK di beberapa
bank dan asuransi syariah, salah satu di antaranya adalah Dana Pensiun Bank Muamalat.
Umumnya, produk DPLK syariah ini merupakan salah satu produk penghimpunan dana yang
ditawarkan oleh bank atau asuransi syariah untuk memberikan jaminan kesejahteraan di hari tua
atau di akhir masa jabatan karyawan atau pun nasabahnya.
Prosedur yang dilalui oleh peserta program DPLK syariah, umumnya adalah sebagai berikut:

Peserta merupakan perorangan atau badan usaha


Usia minimal 18 tahun atau telah menikah
Mengisi formulir pendaftaran kepesertaan DPLK syariah
Iuran bulanan dengan minimum jumlah tertentu, misalnya RP 100.000,-
Menyerahkan foto copy kartu identitas diri dan kartu keluarga
Membayar biaya pendaftaran
Membayar iuran tambahan berupa premi bagi peserta program dana pensiun plus asuransi
jiwa
Memenuhi semua akad yang ditetapkan oleh DPLK syariah.

Produk dana pensiun yang ditawarkan oleh DPLK syariah menawarkan produk pensiun dengan
konsep tabungan dan produk pensiun plus asuransi jiwa. Karakteristik produk dana pensiun dengan
konsep tabungan antara lain:

Berbentuk setoran tabungan dengan jadwal penarikan diatur dalam ketentuan


Selama masa kepesertaan tidak dilindungi oleh asuransi jiwa
Manfaat pensiun sebesar total iuran dan hasil investasinya
Adapun karakteristik produk dana pensiun plus asuransi jiwa antara lain:
Berbentuk setoran tabungam dengan jadwal penarikan di atur dalam ketentuan
Selama masa kepesertaan tidak dilindungi oleh asuransi jiwa
Manfaaat pensiun yang akan diterim adalah sebesar:
a. Manfaat asuransi apabila peserta meninggal dunia sebelum memasuki usia pensiun.
b. Total iuran ditambah hasil investasinya apabila telah memasuki usia pensiun.
Para peserta DPLK syariah memiliki beberapa hak sebagai berikut:

1. Menetapkan sendiri usia pensiun umumnya antara usia 45 s/d 65 tahun.


2. Batas menentukan pilihan atau perubahan jenis investasi.
3. Melakukan penarikan sejumlah iuran tertentu selama masa kepesertaan sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.
4. Mendapatkan informasi saldo dana pensiun atau statement setiap periode tertentu,
misalnya 6 bulan atau melalui telepon setiap saat diinginkan.
5. Menunjuk dan mengganti pihak yang ditunjuk sebagai ahli warisnya.
6. Memilih perusahaan asuransi jiwa, guna memperoleh pembayaran dana pensiun bulanan.
7. Mengalihkan kepesertaan ke DPLK lain.
8. Memperoleh manfaat pensiun.

Pertanyaan:

1. Setahu saya dalam mengelola dana pensiun bagi pegawai negri sipil yang dilakukan oleh
taspen tidak menerapkan asas syariah didalamnya lalu bagaimana hukumnya jika pegawai
negri yang pensiun tersebut jika menerima uang pensiun dari taspen apakah dia juga
termasuk kedalam penerima riba ?
2. Sebagai orang yang masih awam, saya ingin menanyakan bagaimana sebenarnya akad
yang terdapat dalam Dana Pensiun syariah ini apakah sama dengan akad dalam asuransi
syariah ataukah sama dengan akad jual beli? Lalu jika dengan akad jual beli maka
menggunakan akad yang mana ? mohon penjelasannya
3. Dalam program pensiun manfaat pasti penetapan manfaanya dirumuskan dengan
persentase manfaat dikalikan masa kerja lalu dikalikan dasar pensiun. Yang ingin saya
tanyakan darimakah persentase manfaat ini didapatkan atau dasarnya apa, menurut
sepengetahuan saya bukankah dalam keuangan syariah sesuatu itu tidak dapat dipastikan
dan jika dipastikan maka jatuhnya bukan syariah lagi mohon penjelasanya
4. Mengapa jika dibandingkan dengan produk keuangan syariah lainnya dana pensiun syariah
masih belum memiliki regulasi dan satupun fatwa yang mendukung seperti halnya produk
keuangan syariah yang lainya ? terimakasih
Daftar Pustaka
Budisantoso, Totok, dan Sigit Triandasu. 2011. Bank dan Lembaga Keuangan Lain. Jakarta:
Salemba empat.
Firmansyah, Herlan, dan Dadang Husen Sobana. 2014. Bank dan Industri Keuangan Non Bank
(IKNB) Syariah. Jakarta: PT. Nagakusuma Media Kreatif.
Ismail. 2011. Perbankan Syariah. Surabaya: Kencana Prenadamedia Group.
Silvanita, Ktut. 2009. Bank dan Lembaga Keuangan Lain. Jakarta: Penerbit Erlangga.