Anda di halaman 1dari 16

PROPOSAL TUGAS AKHIR

Pengukuran Efisiensi Produksi Dengan Menggunakan Metode Data


Envelopment Analysis (DEA)
(Studi Kasus : CV. Mutiara Jaya, Unit / Divisi Jepara, Kec. Baitussalam, Kab.
Aceh Besar)

Disusun Oleh:

Rahmat Fajar Maulana

1204106010036

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SYIAH KUALA

DARUSSALAM-BANDA ACEH

2016
PROPOSAL TUGAS AKHIR

A. Judul Tugas Akhir


Pengukuran Efisiensi Produksi Dengan Menggunakan Metode Data Envelopment
Analysis (DEA). (Studi Kasus : CV. Mutiara Jaya, Unit / Divisi Jepara, Kec. Baitussalam,
Kab. Aceh Besar)

B. Ruang Lingkup
Pembatasan masalah yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah semata mata
untuk mempermudah dalam melakukan peninjauan terhadap keefisiensian produksi pada CV.
Mutiara Jaya, sehingga dapat dilakukan pemecahan masalah terhadap pembahasan ini. Ruang
lingkup penelitian ini juga didukung oleh beberapa mata kuliah seperti ..
Adapun ruang lingkup penelitian adalah sebagai berikut :
1. Penelitian dibatasi pada CV. Mutiara Jaya yang terletak di jln. Laksamana
Malahayati, Km 6 No.84, Aceh Besar yang memproduksi mebel/furniture.
2. Pembahasan difokuskan pada jumlah produksi yang dihasilkan dan dilakukan
pengukuran keefesiensian produksinya, sehingga dapat diketahui dan dilakukan
evaluasi agar nilai DMU yang tidak efesien menjadi efisien.
3. Penggunaan Metode Data Envelopment Analysis digunakan untuk
mengidentifkasi nilai DMU yang tidak efisien (inefesien) menjadi efesien.

C. Latar Belakang
Pada masa moderenisasi sekarang ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknolgi
telah hampir mencapai puncaknya, sehingga persaingan antar manusia, organisasi, ataupun
perusahaan juga semakin ketat. Persaingan ini lebih menjadi ketat dengan banyaknya jumlah
perusahaan perusahaan baru yang mulai bermunculan, sehingga dapat dibayangkan
bagaimana jika jumlah persediaan suatu barang/jasa melebihi jumlah permintaan yang ada
(Dirgantoro, 2002). Hal ini mengharuskan setiap perusahaan untuk selalu meningkatkan
pembenahan dalam kualitas maupun kuantitas produksinya. Salah satu kata yang menjadi kunci
dari itu semua adalah efisiensi, baik itu efisiensi kinerja perusahaan maupun efisiensi
produksinya. Pengukuran efisiensi sangat penting dilakukan guna mengetahui pada tingkat
mana efisiensi perusahaan telah tercapai.
Setiap perusahaan selalu melakukan peninjauan terhadap kinerja dan produksinya,
sehingga dapat dikatakan bahwa semakin lama suatu perusahaan berjalana maka semakin baik
pula manajemen yang dijalankan. Salah satunya adalah dalam meningkatkan tingkat efisiensi
produksi, yang akan berpengaruh pada tingkat laba rugi perusahaan. Keefisiensian perusahaan
dapat didapat melalui perhitungan rasio sederhana antara input dan output perusahaan melalui
metode metode tertentu. Salah satu metode yang dapat menghitung sekaligus merangking /
membandingkan (bencmarking) tingkat efektifitas perusahaan adalah dengan menggunakan
metode Data Envelopment Analysis (DEA). Ray (2004) menyebutkan bahwa DEA bukanlah
fungsi biaya ataupun keuntungan, sehingga data keuangan yang sering kali sulit didapatkan
boleh tidak diikutkan. Terdapat dua model utama DEA, yaitu DEA CCR (model CRS) dan
DEA BCC (model VRS). Pada penelitian ini pengukuran efisiensi produksi pada perusahaan
menggunakan model CRS, Karena perusahaan dapat dikatakan telah cukup berkembang dan
stabil. Pemilihan model CRS akan lebih tepat daripada menggunakan model VRS untuk
perusahaan yang sudah mature / berkembang (Avenzora dan Moeis, 2008).
CV. Mutiara Jaya merupakan sebuah perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang
mebel yang memiliki dua unit / divisi yang sama sama mendongkrak tingkat keuntungan dan
perkembangan perusahaan. Unit / divisi pada CV. Mutiara Jaya terbagi menjadi jepara dan
klosen, yang keduanya akan melakukan produksi jika hanya adanya pesanan dari konsumen
atau lebih dikenal dengan istilah make to order. Tentu saja untuk dilakukannya pengukuran
tingkat keefisiensian pada unit / divisi tersebut perlu peninjauan dan izin dari pihak perusahaan.
Karena pada perusahaan tersebut belum pernah adanya penelitian penelitian terdahulu yang
mengukur tingkat keefisiensian produksi menggunakan metode Data Envelopment Analysis
(DEA). Oleh sebab itu peneliti memutuskan untuk mengajukan penelitian ini sebagai bahan
pertimbangan perusahaan untuk mengetahui sejauh mana tingkat efisiensi produksi
perusahaan, dan juga sebagai acuan untuk meningkatkan efisiensi perusahaan dalam
produksinya. Dalam penelitian ini ada beberapa kata kunci yang akan diteliti dan dievaluasi
pada produksi perusahaan, seperti efisiensi, DEA (Data Envelopment Analysis), CRS
(Constant Return to Scale), dan DMU (Decission Making Unit), yang keempatnya akan saling
berpengaruh terhadap perhitungan efisiensi produksi perusahaan.
Permasalahan perusahaan mengenai tingkat efisiensi produksi dapat dikatakan belum
diketahui atau lebih tepatnya tidak diketahui. Oleh karena itu penulis tertarik untuk meneliti
dan memperkenalkan bagaimana cara pengukuran efisiensi terhadap produksi pada CV.
Mutiara Jaya. Hasil akhir dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan
perusahaan dalam mengoptimalkan efisiensi produksi yang telah ada.
D. Perumusan Masalah
Perumusan masalah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana mengevaluasi efisiensi produksi di CV. Mutiara Jaya dengan
menggunakan metode DEA, dan manakah yang memiliki tingkat keefesiensian
paling tinggi ?
2. Nilai DMU berapa saja yang memiliki tingkat keefisiensian yang rendah atau
inefesien ?
3. Usulan apa saja yang dapat diberikan kepada perusahaan agar tingkat keefisiensian
produksi pada CV. Mutiara Jaya menjadi lebih optimal berdasarkan metode DEA ?

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian


Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Mengidentifikasi dan mengevaluasi tingkat keefisiensian produksi yang dilakukan
pada CV. Mutiara Jaya dengan menggunakan metode DEA.
2. Mengelompokkan nilai DMU mana saja yang memiliki tingkat efisien dan tidak
efisien (inefisien).
3. Memberikan usulan peningkatan nilai DMU yang tidak efisien (inefisien) menjadi
efeisien berdasarkan metode DEA.
Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagi Mahasiswa
a. Dapat mengimplementasikan dan mengembangkan ilmu yang diperoleh selama
menjalani proses perkuliahan.
b. Dapat membandingkan teori yang diperoleh selama perkuliahan dengan
permasalahan yang dihadapi oleh perusahaan.
2. Bagi Perusahaan
a. Memberikan informasi mengenai tingkat keefisiensian produksi yang telah
dilakukan perusahaan.
b. Sebagai bahan pertimbangan bagi perusahaan untuk lebih meningkatkan tingkat
keefisiensian produksinya.
c. Memberikan informasi mengenai pentingnya usulan peningkatan efisiensi prduksi
agar terciptanya produktivitas yang optimal.
F. Tinjauan Pustaka dan Dasar Teori
1. Konsep Dasar Efisiensi
1.1 Konsep Umum
Efisiensi merupakan salah satu parameter kinerja, yang secara teoritis mendasari
seluruh kinerja perusahaan, baik kinerja tersebut telah efisien maupun tidak. Efisiensi produksi
sangat erat kaitannya dengan produktivitas yang dihasilkan dari jalinan kinerja perusahaan
dalam memanfaatkan sumber daya alamnya. Dalam sistem pengukuran. Terdapat tujuh tolak
ukur yang diperhatikan, yaitu efektivitas, efisiensi, kualitas, profitabilitas, produktivitas,
quality of work life, dan inovasi. Efisiensi merupakan perbandingan antara output dan input
yang berhubungan dengan tercapainya output maksimum dengan sejumlah input tertentu, yang
berarti jika rasio output-input semakin besar, maka efisiensi dikatakan semakin tinggi (Shone
Rinald, 1981 dalam Komaryatin, Nurul: 2006). Mardiasmo (2002 : 133-134), mengatakan
bahwa efisiensi diukur melalui rasio antara output dengan input . Semakin besar output
dibandingkan dengan input, maka semakin tinggi pula tingkat efisiensi suatu perusahaan, oleh
karena persamaannya adalah sebagai berikut :

=

Kemampuan menghasilkan output yang maksimal dengan input yang ada merupakan
ukuran kerja yang diharapkan. Pada saat dilakukan pengukuran efisiensi, perusahaan
dihadapkan pada kondisi bagaimana mendapatkan tingkat output yang optimal dengan tingkat
input tertentu atau menggunakan tingkat input yang minimum dengan tingkat output tertentu.
Namun, ketidakpastian pengukuran harus diikutsertakan dalam data observasi. Hal ini memberi
indikasi bahwa perlu adanya perlakuan analisis sensitivitas dan stabilitas pada DEA.
Rasio efisiensi tidak dinyatakan dalam bentuk absolut tetapi dalam bentuk relatif. Cara-cara
perbaikan efisiensi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a. Meningkatkan output pada tingkat input yang sama.
b. Meningkatkan output dalam proporsi yang lebih besar daripada proporsi peningkatan
input.
c. Menurunkan input pada tingkatan output yang sama.
d. Menurunkan input dalam proporsi yang lebih daripada proporsi penurunan input.
Efisiensi dalam konteks produksi cenderung menilai secara teknis dan operasional,
sehingga pada umumnya dilihat dari sudut pandang teknis dan biaya. Menurut sadono sukirno
(2008), didalam proses produksi efisiensi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
a. Efisiensi produktif, menilai efisiensi didalam tahapan produksi. Penilaian efisiensi
produktif dapat dilihat dari sisi biaya. Untuk mencapai efisiensi produktif ini harus
dipenuhi dua syarat. Pertama, untuk setiap tingkat produksi, biaya yang dikeluarkan
adalah yang minimum. Kedua, perusahaan atau industri secara keseluruhan harus
memproduksikan barang pada biaya rata-rata yang paling rendah.
b. Efisiensi alokatif, menilai efisiensi secara teknis didalam proses produksi, yaitu dari
segi pengalokasian sumber-sumber daya yang tersedia. Efisiensi alokatif akan tercapai
ketika alokasi sumber daya tersebut ke berbagai kegiatan ekonomi / produksi telah
mencapai tingkat yang maksimum / optimum.
Farrel mengemukakan bahwa efisiensi pada perusahaan terdiri dari dua komponen, yaitu
(Zaenal Abidin dan Endri, Kinerja Efisiensi Teknis Bank Pembangunan Daerah: Pendekatan
Data Envelopment Analysis (DEA), Jurnal Akuntansi dan Keuangan, (Online), Vol. II, No.
1,2009) :
a. Efisiensi Teknis
Efisiensi ini mencerminkan kemampuan untuk memproduksi output semaksimal
mungkin dari input yang ada. Efisien secara teknis bukan berarti efisien dalam hal
efisiensi harga atau alokatif.
b. Efisiensi Alokatif / Harga
Allocative efficiency menggambarkan kemampuan perusahaan untuk menggunakan
input dalam proporsi yang optimal yang juga memasukkan perhitungan biaya.
Decission Making Unit (DMU) dianggap efisien alokatif jika DMU menghasilkan
output-nya dengan biaya seminimal mungkin dengan menggunakan minimal input.
Kedua komponen ini kemudia dikombinasikan untuk menghasilkan ukuran efisiensi
total atau efisiensi ekonomis (economic efficiency).
Dari beberapa pengertian efisiensi di atas, dapat disimpulkan bahwa efisiensi adalah
kegiatan yang dilakukan guna mencapai tujuan yang baik, dengan cara menggunakan input
yang minimum secara optimal dengan hasil output yang maksimal.
1.2 Pengukuran Efisiensi
1.2.1 Pendekatan Teknis
Efisiensi teknis merupakan suatu ukuran yang membandingkan antara keluaran
(output) dan masukan (input), atau jumlah yang dihasilkan dari sejumlah input yang digunakan
(Suseno, Priyonggo, 2008). Haryadi (2011) mengatakan bahwa efisiensi teknis merupakan
salah satu dari komponen efisiensi ekonomi secara keseluruhan. Akan tetapi, dalam rangka
mencapai efisiensi ekonominya perusahaan harus mencapai efisiensi secara teknis. Untuk
mencapai tingkat keuntungan yang maksimal, perusahaan harus dapat berproduksi pada tingkat
output yang optimal dengan jumlah input tertentu (efisiensi teknis) dan menghasilkan output
dengan kombinasi yang tepat pada tingkat harga tertentu (efisiensi alokayif). (jurnal Teknik
Industri, Pengukuran Efisiensi Produksi dengan Metode Data Envelopement Analysis JTI
Vol.1, No.3, September 2013, pp.233-238, et al.).
1.2.2 Pendekatan Biaya
Efisiensi dengan pendekatan biaya bertujuan untuk mengukur sejauh mana biaya yang
dikeluarkan oleh suatu unit ekonomi atau perusahaan untuk mendapatkan hasil (output)
tertentu, sehingga dapat dibuat perbandingan diantara kedua variabel tersebut.
Efisiensi dapat diukur melalui berbagai pendekatan, yang salah satunya adalah dengan
menggunakan teknk perhitungan Data Envelopment Analysis (DEA), yang merupakan suatu
pendekatan non-parametik yang membandingkan entitas yang sama. Misalnya DMU, terhadap
virtual terbaik dari DMU tersebut. DEA biasanya dimodelkan sebagai model pemograman
linear yang memberikan skor efisiensi relatif untuk setiap DMU. Keuntungan pada model ini
adalah mengoptimalkan setiap pengamatan individu dan tidak memerlukan fungsi tunggal yang
paling sesuai dengan semua pengamatan (Konger et al, 2010).

2. Konsep Dasar Data Envelopment Analysis (DEA)


2.1 Konsep Umum
Data Envelopment Analysis (DEA) adalah suatu model pemrogaman matematis yang
digunakan untuk menghitung nilai efisiensi relatif suatu unit menggunakan berbagai macam
input dan output yang sejenis. DEA pertama kali diperkenalkan oleh Charnes, Cooper dan
Rhodes pada tahun 1978 dan 1979. Semenjak itu pendekatan dengan menggunakan DEA ini
banyak digunakan di dalam penelitian-penelitian operasional dan ilmu manajemen. Pendekatan
DEA lebih menekankan pendekatan yang berorientasi kepada tugas dan lebih memfokuskan
kepada tugas yang penting, yaitu mengevaluasi kinerja dari unit pembuat keputusan/DMU
(Decision Making Units). Analisis yang dilakukan berdasarkan kepada evaluasi terhadap
efisiensi relatif dari DMU yang sebanding. Selanjutnya DMU-DMU yang efisien tersebut akan
membentuk garis frontier. Jika DMU berada pada garis frontier, maka DMU tersebut dapat
dikatakan efisien relatif dibandingkan dengan DMU yang lain dalam peer group-nya. Selain
menghasilkan nilai efisiensi masing-masing DMU, DEA juga menunjukkan unit-unit yang
menjadi referensi bagi unit-unit yang tidak efisien. Setiap DMU diasumsikan bebas
menentukan bobot untuk setiap variabel variabel input maupun output yang ada, asalkan
mampu memenuhi data kondisi yang disyaratkan (Huri, M. D. Dan Indah usilowati,
Pengukuran Efisiensi Relatif Emiten Perbankan denganMetode Data Envelopment Analysis
(DEA): Studi Kasus: Bank-Bank yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta Tahun 2002, Jurnal
Dinamika Pembangunan 12/2004; 1(2): 95-107), yaitu :
1. Bobot tidak boleh negatif
2. Bobot harus bersifat universal (hal ini berarti setiap DMU dalam sampel harus dapat
menggunakan bobot yang sama untuk mengevaluasi rasionanya (total weighted output
/ total weighted input) dan rasio tersebut tidak lebih dari 1 (total weighted output / total
weighted input 1).

2.2 Permodelan DEA


Ada dua formulasi model DEA yang menunjukkan suatu DMU relative efisien ataupun
tidak efisien, yaitu :
a. Model DEA CCR (Charnes-Cooper-Rhodes)
Model DEA CCR merupakan bentuk original dari metode Data Envelopment Analysis
yang dikembangkan oleh Charnes, Cooper dan Rhodes pada tahun 1978. Model ini
mengasumsikan bahwa rasio antara pemanmbahan input dan output adalah sama
(Constant Return to Scale). Dengan kata lain, jika ada tambahan input sebesar x kali,
maka output akan meningkat sebesar x kali juga, dan tentu saja dengan asumsi setiap
perusahaan menggunakan Decision Making Unit (DMU) yang beroperasi pada skala
yang optimal. Dengan demikian akan mereduksi multiple inputs dan multiple outputs
kedalam suatu virtual input atau virtual output tanpa membutuhkan penentuan awal
nilai bobot. Oleh Karena itu ukuran efisiensi merupakan suatu fungsi nilai bobot dari
kombinasi virtual input dan virtual output (jurnal penerapan data envelopment analysis
(DEA) untuk mengukur efisiensi kinerja reksa dana saham, ivan handinata dan adler
h.manurung).
Rumus dari Constant Return to Scale (CRS) adalah sebagai berikut :
Max (Efisiensi DMU Model CRS)

= 1 xi0


= 1 yi0


= 1 i0

i = 1,2, , m
r = 1,2, , s
j = 1,2, ,n
Dimana :
= Efisiensi teknis (CRS)
n = Jumlah DMU
m = Jumlah input
s = Jumlah output
xij = Jumlah input tipe ke-i dari DMU ke-j
yrj = Jumlah output tipe ke-r dari DMU ke-j
j = Bobot DMU j untuk DMU yang dihitung

b. Model DEA BCC (Banker-Charnes-Cooper)


Model DEA BCC dikembangkan oleh Banker, Charnes, dan Cooper pada tahun 1984
dan merupakan pengembangan dari model CCR. Model VRS ini beranggapan bahwa
perusahaan belum atau tidak beroperasi pada skala yang optimal, dengan asumsi rasio
antara penambahan input dan output tidak sama (Variabel Return to Scale). Artinya,
penambahan input sebesar x kali tidak akan menyebabkan output meningkat sebesar x
kali (bias lebih kecil atau lebih besar). Peningkatan proporsi bisa bersifat increasing
return to scale (IRS) atau bisa juga bersifat decreasing return to scale (DRS). Hasil
model ini menambahkan kondisi convexity bagi nilai-nilai bobot, dengan memasukkan
model berikut :

= 1
=1

Selanjutnya model BCC dapat ditulis dengan persamaan berikut :


Max (Efisiensi DMU Model VRS)

= 1 xi0


= 1 yi0


= 1 1


= 1 0

i = 1,2, ,m
r = 1,2, ,j
j = 1,2, ,n
Dimana :
= Efisiensi teknis (VRS)
n = Jumlah DMU
m = Jumlah input
s = Jumlah output
xij = Jumlah input tipe ke-i dari DMU ke-j
yrj = Jumlah output tipe ke-r dari DMU ke-j
j = Bobot DMU j untuk DMU yang dihitung
Nilai dari efisiensi tersebut selalu kurang atau sama dengan 1. DMU yang memiliki
nilai efisiensinya kurang dari 1 berarti inefisiensi, sedangkan DMU yang nilainya sama dengan
1 berarti efisien.
2.3 Kelebihan dan kekurangan DEA
Seperti metode-metode lainnya, DEA yang digunakan untuk mengukur efisiensi relatif
ini juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Salah satu kelebihan DEA jika dibandingkan
dengan metode tradisional ekonometri dalam mengukur efisiensi adalah metode ini tidak
membutuhkan asumsi mengenai bentuk fungsi produksi tertentu untuk menghubungkan antara
input dan output. Oleh karena itu, probabilitas kesalahan spesifikasi berkaitan dengan teknologi
produksi sama dengan nol. Dan kekurangannya sebagai metode non-parametrik adalah
sensitifnya terhadap masalah kesealahan pengukuran. Jika terjadi kesalahan pengukuran dalam
observasi bukan pada batasan (frontier) yang diestimasi, maka kesalahan acak (random error)
observasi pada batasan akan masuk pada skor efisiensi seluruh observasi yang diukur relatif
terhadap observasi pada batasan sebelumnya (Elvira, 2012).
Selain itu kelebihan metode DEA menurut Purwantoro (2005) adalah sebagai berikut :
a. Model DEA dapat mengukur banyak variabel input dan variabel output.
b. Tidak diperlukan asumsi hubungan fungsional antara variabel-variabel yang diukur.
c. Variabel input dan output dapat memiliki satuan pengukuran yang berbeda.
Kekurangan metode DEA menurut Purwantoro (2003) adalah sebagai berikut :
a. Besifat simpel spesifik.
b. Merupakan extreme point technique, kesalahan pengukuran dapat berakibat fatal.
c. DEA sangat bagus untuk estimasi efisiensi relatif DMU tetapi sangat lambat untuk
mengukur efisiensi absolut, dengan kata lain bisa membandingkan sesama DMU, tetapi
bukan membandingkan maksimasi secara teori.
d. Uji hipotesis secara statistik atas hasil DEA sulit dilakukan.
e. Menggunakan perumusan linier progamming terpisah untuk tiap DMU (perhitungan
secara manual sulit dilakukan, apalagi untuk masalah berskala besar).
f. Bobot dan input yang dihasilkan oleh DEA tidak dapat ditafsirkan dalam nilai ekonomi.

G. Metodologi Penelitian
1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian akan dilakukan pada industri mebel (CV. Mutiara Jaya) yang beralamatkan
di jln. Laksamana Malahayati, Km 6 No.84, Desa Krueng Cut, Kec. Baitussalam, Kab. Aceh
Besar. Perusahaan ini bergerak dibidang mebel yang hasil produksinya akan diimpor ke
beberapa wilayah yang ada di pulau sumatera. Waktu penelitian telah dimulai sejak bulan
Oktober 2016 sampai dengan selesai.

2. Metode Penelitian
Berikut gambar flowchart penelitian Pengukuran Efisiensi Produksi Dengan
Menggunakan Metode Data Envelopment Analysis (DEA) (Studi Kasus : CV. Mutiara Jaya).
Mulai

Pendahuluan
Studi Literatur Studi Lapangan

Identifikasi Masalah

Perumusan Masalah dan


Tujuan Penelitian
Pengumpulan Data

Data Sekunder :
1. Data Biaya Bahan Baku
2. Data Biaya Tetap
3. Data Biaya Konversi
Variabel

Mengidentifikaasi DMU
(Data Making Unit)

Identifikasi dan Hitung


Pengolahan Data dan Analisa Hasil

Faktor Output dan Input

Menentukan Modea DEA

Pemilihan CCR model


dengan Orientasi Input

Menghitung nilai Scale


Efficiency (SE)

Usulan Perbaikan dengan


Mengidentifikasi nilai
inefisien
Kesimpulan dan

Kesimpulan dan Saran


Saran

Selesai

Gambar 1. Flowchart Penelitian


3. Pengumpulan Data
a. Studi Pendahuluan
Studi pendahuluan dilakukan sebagai langkah awal dari penelitian guna
mengobservasi latar belakang dan permasalahan yang ada di perusahaan. Dalam studi
pendahuluan terbagi menjadi dua jenis, yaitu studi lapangan dan studi literatur. Studi
lapangan yang berlangsung pada CV. Mutiara Jaya dilakukan untuk mengumpulkan
informasi mengenai objek penelitian sehingga dapat memahami dan mengidentifikasi
masalah yang terdapat pada CV. Mutiara Jaya dengan tepat. Langkah-langkah yang
dilakukan pada tahapan ini yaitu pengamatan situasi dan kondisi CV. Mutiara Jaya
secara umum, dan wawancara dengan pemilik perusahaan mengenai proses produksi
mebel pada CV. Mutiara Jaya. Pengamatan awal ini dilakukan untuk memberikan
gambaran sebelum dilakukan pengambilan data untuk penelitian yaitu identifikasi
masalah, penetapan perumusan masalah dan tujuan serta manfaat yang ingin dicapai.
Sedangkan studi literatur dilakukan untuk mendukung penelitian yang akan dilakukan,
agar didapatkan kesesuaian antara dasar-dasar teori dengan masalah yang berkaitan
dengan konsep yang dibahas, serta untuk mendukung dan memberikan dasar
kebenaran yang kuat dari hasil penelitian sehingga akan memberikan pemecahan
masalah yang terbaik.

b. Data
Berdasarkan studi literatur, maka diketahui gambaran mengenai metode yang akan
digunakan untuk melakukan pemecahan masalah. Setelah mengetahui dan memahami
metode yang dipilih, selanjutnya dilakukan pengumpulan data yang diperlukan.
Adapun data-data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
- Data Primer
Data ini diperoleh dari hasil observasi langsung terhadap objek yang
bersangkutan, yaitu dengan mengambil data produksi perusahaan yang
didapatkan dari manager perusahaan.
- Data Sekunder
Data ini diperoleh dari hasil wawancara terhadap manager dan sekretaris
perusahaan, guna mengetahui bagaimana efisiensi produksi pada CV. Mutiara
Jaya saat ini.
4. Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan setelah data yang diperlukan telah terkumpul, dan diolah
sesuai dengan metode yang digunakan untuk memperoleh hasil yang diharapkan.
Pengolahan data dilakukan dalam 7 tahapan sebagai berikut :
a. Identifikasi DMU (Data Making Unit)
Dalam tahapan ini data yang telah terkumpul mengenai data proses produksi di
setiap bulannya dikelompokkan dan dievaluasi, guna untuk menetapkan nilai DMU
yang akan digunakan dalam pencarian efisiensi produksi pada bulan-bulan tertentu.
b. Identifikasi Faktor Input dan Output
Untuk melakukan penelitian dengan menggunakan model DEA diharuskan untuk
menetapkan faktor input dan output, yang kemudian akan dievaluasi dan dianalisis
kedalam software DEA Frontier, guna mendapatkan nilai keefisiensian produksi
yang telah ada.
c. Menentukan Model DEA (Data Envelopmet Analysis)
Dalam melakukan penelitian ini diperlukan juga untuk menentukan model manakah
yang sesuai dengan latar belakang perusahaan, agar nilai ouput yang dikeluarkan
akan lebih sesuai dengan yang diharapkan. Model DEA yang dipilih adalah CCR
model yang didasarkan model ini lebih sesuai digunakan terhadap perusahaan yang
telah cukup berkembang.
d. Perhitungan Dengan Orientasi Input
Setelah mengetahui model yang digunakan, selanjutnya perhitungan didasarkan
atas orientasi input, yang artinya faktor-faktor input akan menjadi faktor penting
guna mencari nilai keefisiensian produksi perusahaan.
e. Menghitungan Nilai Scale Efficiency
Pada tahap ini nilai Scale Efficiency (SE) didapatkan dari hasil perhitungan DEA
dengan menggunakan CCR model yang berorientasi input. Nilai SE ini sama
dengan atau tidak lebih dari 1, dengan angka 1 menunjukkan bahwa keefisiensian
produksi telah tercapai.
f. Pengusulan Perbaikan Target Input dan Output
Setelah mengetahui nilai efisiensi produksi perusahaan, selanjutnya dilakukan
penarikan kesimpulan untuk mengevaluasi usulan perbaikan baik itu dari faktor
input maupun output, sehinggan tingkat keefisiensian produksi dapat ditingkatkan.
g. Mengevaluasi DMU Inefisien
Tahap terakhir dalam penelitian ini adalah melakukan evaluasi dan
pengelompokkan terhadap nilai DMU yang tidak efisien (inefisien), yang kemudian
dilakukan perbaikan sehingga nilai yang awalnya tidak efisien menjadi efisien.

5. Metode Analisis Pemecahan Masalah


Pada DMU yang tidak efisien (inefisien) agar menjadi efisien akan dilakukan dengan
cara mengevaluasi penaikan baik penurunan maupun penaikan input dan output. Dalam
hal ini perhitungan efisiensi akan dilakukan dengan bantuan software DEA-Frontier
yang akan menghitung nilai efisiensi akhir sampai menjadi efisien.

6. Hasil Yang Diharapkan


Hasil yang diharapkan pada penelitian ini adalah sebagai bahan usulan perbaikan pada
produksi, dengan meninjau kembali faktor-faktor input seperti biaya bahan baku, biaya
tetap langsung, dan biaya tetap alokasi. Dengan demikian diharapkan perusahaan dapat
lebih mengefisiensikan produksi kedepannya.

7. Jadwal Penelitian
Jadwal penelitian dilakukan selama
Tabel 1. Jadwal Penelitian
Bulan
11 12 1 2 3
Aktivitas
Minggu
3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1

Studi literature

Studi lapangan

Seminar Proposal

Pengambilan data

Penyusunan TGA

Sidang TGA
DAFTAR PUSTAKA

Avenzora, Ahmad dan Jossy P. Moeis, 2008. Analisis Produktivitas dan Efisiensi Industri
Tekstil dan Produk Tekstil di Indonesia Tahun 2002-2004. Parallel Session IVB :
Industri dan Manufaktur Hotel Nikko, Jakarta.

Dirgantoro, Crown. 2002. Keunggulan Bersaing Melalui Proses Bisnis. Jakarta : Grasindo.

Haryadi Sarjono, Winda Julianita. 2011. SPSS vs LISREL sebuah pengantar Aplikasi untuk
Riset. Penerbit Salemba Empat. Jakarta

Huri, M. D. Dan Indah usilowati, Pengukuran Efisiensi Relatif Emiten Perbankan Dengan
Metode Data Envelopment Analysis (DEA): Studi Kasus: Bank-Bank yang Terdaftar
di Bursa Efek Jakarta Tahun 2002, Jurnal Dinamika Pembangunan 12/2004; 1(2): 95-
107.

Jurnal Teknik Industri, Pengukuran Efisiensi Produksi dengan Metode Data Envelopement
Analysis JTI Vol.1, No.3, September 2013, pp.233-238, et al.

Komaryatin, Nurul. 2006. Analisis Efisiensi Teknis Industri BPR di Eks.Karisidenan Pati.
Tesis S2 Pasca Sarjana Universitas Dipenogoro.

Mardiasmo, 2002. Akuntansi Sektor Publik. Penerbit Andi. Yogyakarta.

Mardiasmo, 2004. Akuntansi Sektor Publik. Penerbit Andi. Yogyakarta.

Ray, Subhash C. 2004. Data Envelopment Analysis Theory and Techniques for Economics
and Operations Research. Cambridge : Cambridge University Press.

Suseno, Priyonggo. 2008. Analisis Efisiensi dan Skala Ekonomi pada Indsutri Perbankan
Syariah di Indonesia. Jurnal Ekonomi Islam, Vol. 2. No. 1. Yogyakarta: Pusat
Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI) Fakultas Ekonomi UII.

Zaenal Abidin dan Endri, Kinerja Efisiensi Teknis Bank Pembangunan Daerah: Pendekatan
Data Envelopment Analysis (DEA), Jurnal Akuntansi dan Keuangan, (Online), Vol.
II, No. 1,2009