Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

KONSEP PEMERINTAHAN DAN PEMERINTAH DAERAH


Disusun Oleh:

Theofeni Yudea Bangun NIM: 150200037


Vina Adelina br Ginting NIM: 15020084
Daniel Nikolas NIM: 150200318
Wigriatma Garcia Batara Rangan NIM: 150200325
Elmas Catur Risky Ramadhan NIM: 150200345
Abraham Sitompul NIM: 150200515
Andre Christian NIM: 150200519
Grup: E

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Akademik Hukum Administrasi Negara


Lanjutan

Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

Tahun Ajaran 2017

Universitas Sumatera Utara

Fakultas Hukum

Medan

2017

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur selalu kami panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa yang senantiasa
melimpahkan rahmat, taufik, hidayah, serta inayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan
penyusunan makalah materi mata kuliah Hukum Administrasi Negara Lanjutan yang berjudul
"Konsep Pemerintahan dan Pemerintah Daerah".

Dalam makalah dengan tema Konsep Pemerintahan dan Pemerintah Daerah ini, kami akan
membahas tentang pengertian dan makna Konsep Pemerintahan dan Pemerintah Daerah,
penjelasan fungsi dan tujuan dari Konsep Pemerintahan dan Pemerintah Daerah, dan Contoh-
Contoh Konsep Pemerintahan dan Pemerintah Daerah.

Teriring ucapan terima kasih kepada Bpk. Amsali Syahputra Sembiring, SH., M.Hum Selaku
pembimbing kami dalam pembelajaran mata kuliah Hukum Administrasi Negara Lanjutan,
juga kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan serta dukungan kepada kami dalam
menyelesaikan makalah ini.

Kami menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak terdapat kekurangan dan masih
jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik serta saran yang bersifat membangun guna
perbaikan dan peningkatan kualitas makalah ini di masa yang akan datang dari pembaca
adalah sangat berharga bagi kami.

Medan, 24 April 2017

Penyusun

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................2

DAFTAR ISI....................................................................................................3

Bab I Pendahuluan..............................................................................4

Bab II Pembahasan...............................................................................5
A. Pengertian Pemerintah Dalam Arti Sempit..................................5
B. Jabatan dan Wewenang Pemerintahan........................................6
C. Fungsi Kepemerintahan...........................................................7
D. Fungsi Pemerintah Daerah.......................................................8
E. Bentuk Negara, Bentuk Pemerintahan, dan Sistem Pemerintahan....9

Bab III Penutup.......................................................................................11

Bab IV Daftar Pustaka...........................................................................12

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Konsep pemerintahan diangkat dari gejala sosial yang menggambarkan adanya hubungan
antara pihak yang mengendalikan dengan pihak yang dikendalikan, menurut Taliziduhu
Ndraha konsep pemerintahan adalah hubungan antara pihak yang memerintah dengan pihak
yang diperintah. Secara etimologi, kata pemerintahan berasal dari kata pemerintah. Kata
pemerintah berasal dari kata perintah yang berarti menyuruh melakukan pekerjaan. Akan
tetapi, asal kata pemerintahan sebenarnya yaitu berasal dari Bahasa Inggris, yaitu government
yang diterjemahkan sebagai pemerintah atau pemerintahan. Samuel Edward Finer
menyimpulkan bahwa kata government memiliki arti:

- Menunjuk pada kegiatan atau proses memerintah, yakni melakukan control atas pihak
lain.
- Menunjuk pada masalah-masalah negara dalam kegiatan atau proses dijumpai

- Menunjukkan cara, metode atau sistem dengan suatu masyarakat tertentu diperintah.

Selain itu, pemerintahan dapat diartikan sebagai keseluruhan lingkungan jabatan dalam suatu
organisasi. Dalam organisasi negara, pemerintahan sebagai lingkungan jabatan adalah alat-
alat kelengkapan negara, seperti jabatan eksekutif, jabatan legislatif, jabatan yudikatif, dan
jabatan suprastruktur lainnya. Jabatan-jabatan ini menunjukkan lingkungan kerja tetap yang
berisi wewenang tertentu. Kumpulan wewenang memberikan kekuasaan untuk melakukan
atau tidak melakukan sesuatu. Oleh karena itu, jabatan eksekutif, jabatan legislatif, jabatan
yudikatif, dan jabatan-jabatan lainnya sering juga diseut kekuasaan eksekutif, kekuasaan
legislatif, dan kekuasaan yudikatif. Pemerintahan yang dikemukakan di atas dapat disebut
sebagai pemerintahan dalam arti umum atau arti luas.

Pemerintah daerah adalah penyelenggaraan pemerintah daerah otonom oleh pemerintah


daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) menurut atau berdasarkan asas
desentralisasi. Dalam ketentuan ini pemerintahan sekaligus mengandung makna sebagai
kegiatan atau aktivitas menyelenggarakan pemerintahan dan lingkungan jabatan, yaitu
pemerintah daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

4
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pemerintah Dalam Arti Sempit

Untuk menjalankan wewenang atau kekuasaan yang melekat lingkungan jabatan harus ada
pemangku jabatan, yaitu pejabat (ambstdrager). Pemangku jabatan ini bertugas menjalankan
pemerintahan sehingga disebut pemerintah. Berdasarkan beragam lingkungan jabatan, ada
pemerintah di bidang legislative, eksekutif, dan yudikatif. Inilah yang diartikan pemerintah
dalam arti luas. Pemerintah juga dapat diartikan dalam arti sempit, yaitu pemangku jabatan
sebagai pelaksana kekuasaan eksekutif atau secara lebih sempit lagi, pemerintah adalah
penyelenggara administrasi negara.

Pemerintah sebagai lingkungan jabatan yang berisi lingkungan pekerjaan tetap dapat juga
disebut pemerintahan dalam arti statis. Adapun pemerintahan dalam arti dinamis berisi gerak
atau aktifivitas berupa tindakan atau proses menjalankan kekuasaan pemerintahan.
Pemerintahan dinamis di bidang eksekutif, antara lain melakukan tindakan memelihara
ketertiban keamanan, menyelenggarakan kesejahteraan umum, dan lain-lain. Di bidang
yudikatif, pemerintahan dinamis melakukan kegiatan memeriksa, memutus perkara, dan
sebagainya. Di bidang legislatif, pemerintahan dinamis melakukan kegiatan membuat
undang-undang, menetapkan anggaran pendapatan dan belanja negara, melakukan
pengawasan, turut serta dalam mengisi jabatan tertentu, dan lain-lain.

Selanjutnya, Pemerintahan adalah kegiatan lembaga atau badan-badan publik dalam


menjalankan fungsi untuk mencapai tujuan negara. Pemerintahan adalah fungsi yang
dilakukan pemerintah. Dengan demikian, istilah pemerintahan, menunjukkan aktivitas
pemerintah, yaitu proses penyelenggaraan kekuasaan negara.

Pemerintahan dijalankan oleh pemerintah. Pemerintah artinya sekelompok manusia yang


menjalankan kekuasaan negara yang merupakan aspek personel negara. Pemerintah adalah
alat kelengkapan negara yang bertugas untuk mewujudkan tujuan negara. Jadi, pemerintah
adalah lembaga negara yang menyelenggarakan kekuasaan negara.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004, pemerintahan daerah adalah


penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan DPRD menurut asas
otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan

5
prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaiman dimaksud dalam Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

B. Jabatan dan Wewenang Pemerintahan

Ditinjau dari lingkungan jabatan, pemerintah pusat mewakili cakupan wewenang atau
kekuasaan yang lebih luas, sedangkan pemerintahan daerah otonom hanya menyelenggarakan
fungsi pemerintahan di bidang eksekutif. Secara lebih tepat adalah administrasi negara dan
fungsi pemerintahan dalam bidang legislatif di daerah. Sementara pemerintahan pusat, selain
bidang eksekutif dan legislatif, juga menyelenggarakan fungsi pemerintahan lain yang tidak
dibagi dengan pemerintahan daerah otonom seperti pemerintahan yang dijalankan MPR,
BPK, atau kekuasaan kehakiman. Kekuasaan pemerintahan pusat yang lebih luas itu dapat
dibedakan antara kekuasaan penyelenggaraan pemerintah dan kekuasaan penyelenggaraan
negara, yaitu yang dilakukan atas nama negara. Kekuasaan yang terakhir ini tidak dimiliki
pemerintahan daerah otonom. Seperti kekuasaan penyelenggaraan peradilan.

Ditinjau dari wewenang, pemerintahan daerah otonom menyelenggarakan dua aspek


otonomi. Pertama, otonomi penuh, yaitu semua urusan dan fungsi pemerintahan yang
menyangkut isi substansi dan tat acara penyelenggaraannya (otonomi). Kedua, otonomi tidak
penuh, yaitu daerah hanya menguasai tata cara penyelenggaraan, tetapi tidak menguasai isi
pemerintahannya. Urusan ini sering disebut dengan tugas pembantuan (medebewind, atau
dalam ungkapan lama disebut zelfbestuur).

Dengan demikian, dilihat dari kekuasaan pemerintahan daerah otonom, pemerintahan dapat
dibedakan menjadi tiga kelompok sebagai berikut:

1. Pemerintahan dalam arti sempit, yaitu penyelenggaraan kekuasaan eksekutif atau


administrasi negara.

2. Pemerintahan dalam arti agak luas, yaitu penyelenggaraan kekuasaan eksekutif dan
legislatif tertentu yang melekat pada pemerintahan daerah otonom.

3. Pemerintahan dalam arti luas yang mencakup semua lingkungan jabatan negara pada
bidang eksekutif, legislatif, yudikatif, dan sebagainya.

6
C. Fungsi Kepemerintahan

Baik dalam arti luas maupun arti sempit, pemerintah berfungsi sebagai berikut:

1. Fungsi kultural, yaitu mempromosikan, melengkapi, memberi nilai, menjamin, dan


menjaga kehidupan kultural yang ada dalam masyarakatnya.
2. Fungsi kesejahteraan umum, yaitu upaya-upaya yang ditujukan langsung pada
perbaikan kondisi masyarakat, seperti lapangan kerja, kesejahteraan, keamanan,
perumahan, dan jaminan sosial.
3. Fungsi control ekonomi, yaitu memajukan dan menstabilkan keadaan ekonomi
masyarakatnya.

Menurut Tjahya Supriatna, fungsi pemerintah terdiri atas sebagai berikut:

1. Political state (klasik), yaitu memelihara, ketertiban dan ketenteraman, pertahanan


dan keamanan, diplomatik, serta perpajakan.
2. Welfare state, yaitu menjalankan keadilan, kadaulatan, kemakmuran, dan keadilan
sosial.
3. Law state, yaitu menjalankan pengaturan, perlindungan, dan peradilan terhadap
warga.
4. Administrative state, yaitu berdimensi pada pelayanan, pengelolaan, pengendalian,
pemberdayaan, kesempatan, dan kemitraan.

Menurut Ryaas M. Rasyid, fungsi pemerintah ada tiga, yaitu sebagai berikut:

1. Pelayanan (service) yang akan memudahkan masyarakat dalam mengurus


kepentingannya;
2. Pemberdayaan (empowerment) yang akan mendorong masyarakat agar memiliki
kemandirian;
3. Pembangunan (development) yang akan menciptakan masyarakat agar memiliki
kemakmuran.

Menurut Taliziduhu Ndraha, fungsi pemerintah ada dua yaitu:

1. Fungsi primer, yaitu fungsi pelayanan (serving) masyarakat;


2. Fungsi sekunder, yaitu fungsi pembangunan, pemberdayaan, dan pendidikan.

Berdasarkan semua uraian tersebut, fungsi pemerintah dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Fungsi pengaturan, yaitu mangatur kehidupan masyarakat agar tertib dan teratur.
Ketertiban diperlukan untuk menciptakan keamanan, keserasian, dan kenyamanan

7
hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Keteraturan diperlukan untuk
menciptakan keadilan dalam mendistribusikan berbagai sumber daya agar dapat
dinikmati/dimanfaatkan warga negara secara lebih merata.

2. Fungsi pelayanan, yaitu melayani berbagai kepentingan umum masyarakat, agar


masyarakat mudah mengurus kepentingan hidupnya seperti pendidikan, kesehatan,
keamanan, perizinan, transportasi, dan bidang-bidang kesejahteraan masyarakat
lainnya. Pelayanan merupakan penyediaan dan distribusi layanan umum yang menjadi
kebutuhan masyarakat luas.

3. Fungsi Pembangunan, yaitu mambangun kehidupan masyarakat di berbagai bidang


agar masyarakat makmur. Pembangunan ekonomi, misalnya ditujukan agar
pertumbuhan ekonomi meningkat dan pemerataan pendapatan sehingga pendapatan
negara/daerah/orang per orang meningkat.

D. Fungsi Pemerintah Daerah


Fungsi pemerintah daerah dapat diartikan sebagai perangkat daerah menjalankan, mengatur
dan menyelenggarakan jalannya pemerintahan.

Fungsi pemerintah daerah menurut Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 adalah:

a. Pemerintah daerah mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan


menurut asas otonomi dan tugas pembantuan.
b. Menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintahan yang
menjadi urusan pemerintahan dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan
masyarakat, pelayanan umum dan daya saing daerah.
c. Pemerintah daerah dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan memiliki
hubungan pemerintahan pusat dengan pemerintahan daerah. Dimana
hubungan tersebut meliputi wewenang, keuangan, pelayanan umum,
pemanfaatan sumber daya alam, dan sumber daya lainnya.

E. Bentuk Negara, Bentuk Pemerintahan, dan Sistem Pemerintahan

Penyelenggaraan kekuasaan yang ada di dalam negara diatur dalam konstitusi negara. Saat ini
konstitusi yang berlaku di Indonesia adalah UUD 1945 yang telah diamandemen.
Berdasarkan konstitusi ini, dalam sistem pemerintahan Republik Indonesia. Proses
penyelenggaraan kekuasaan negara berlangsung di tingkat nasional, daerah, dan desa.

8
Negara Indonesia berbentuk kesatuan. Dengan bentuk negara kesatuan, pemerintah yang
berdaulat ke dalam dan keluar hanya satu, yaitu pemerintah pusat yang berkedudukan di ibu
kota Jakarta. Untuk menjalankan pemerintahan di daerah, pemerintah pusat melimpahkan
wewenang kepada daerah untuk mengurus rumah tangga daerahnya berdasarkan asas
desentralisasi/otonomi, dan menugaskan kepada daerah/ desa untuk membantu pelaksanaan
urutan pusat berdasarkan asas pembantuan.

Dalam berbagai literatur hukum dan penggunaannya sehari-hari, konsep bentuk negara
(staatsvorm) sering dicampuradukkan dengan konsep bentuk pemerintahan (regeringsvorm).
Hal ini juga tercermin dalam Konstitusi Negara Republik Indonesia (UUD1945) Pasal 1 ayat
(1) yang menyebutkan, Negara Indonesia ialah negara kesatuan yang berbentuk republik
Dari pasal ini tergambar bahwa the founding fathers of Indonesia sangat menekankan
pentingnya konsepsi negara kesatuan sebagai definisi negara hakiki Indonesia. Bentuk dari
negara kesatuan Indonesia adalah republik. Jadi, konsep bentuk negara yang diartikan disini
adalah republik yang merupakan pilihan lain dari kerajaan (monarki) yang telah ditolak oleh
anggota BPUPKI mengenai kemungkinan penerapannya untuk Indonesia modern.

Perbincangan mengenai bentuk negara (staats-vormen) berkaitan dengan pilihan antara:

1. Bentuk negara kesatuan (unitary state, eenheidsstaat).


2. Bentuk negara serikat (federal, bendsstaat).
3. Bentuk konfederasi (confederation, statenbond).

Perbincangan mengenai bentuk pemerintahan (regeringsvormen) berkaitan dengan pilihan


antara:

1. Bentuk kerajaan (monarki), yaitu negara yang dikepalai oleh seorang raja dan bersifat
turun menurun dan menjabat untuk seumur hidup.

2. Bentuk republik (berasal dari Bahasa latin: res publica= kepentungan umum), yaitu
negara dengan pemerintahan rakyat yang dikepalai oleh seorang presiden sebagai
kepala negara yang dipilih dari dan oleh rakyat untuk suatu masa jabatan tertentu, dan
presiden tersebut dapat dipilih kembali sesuai dengan peraturan perundang undangan
yang berlaku.

Adapun sistem pemerintahan (regeringssystem) berkaitan dengan pilihan antara:

1. Sistem pemerintahan presidensial

2. Sistem pemerintahan parlementer

9
3. Sistem pemerintahan campuran (quasi presidensiil atau quasi parlmenter)

4. Sistem pemerintahan collegial, seperti swiss.

Berdasarkan hasil telaahan terhadap naskah UUD 1945, dapat disimpulkan bahwa bentuk
Negara Indonesia adalah kesatuan, sedangkan bentuk pemerintahannya adalah republik. Oleh
sebab itu Negara Indonesia disebut dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

Dengan bentuk pemerintahan Republik, kepala negara Indonesia ditentukan oleh rakyat
melalui pemilihan secara demokratis, tidak seperti pemerintahan yang berbentuk monarki
yang kepala negaranya turun menurun (raja, sultan, dan sebagainya).

Dalam sistem pemerintahan RI, kekuasaan negara diselenggarakan (dipegang, digunakan,


dipertanggungjawabkan) oleh berberapa lembaga negara yaitu presiden, MPR, DPR, DPD,
BPK, MA, MK. Prinsip yang digunakan bukan pemisahan kekuasaan seperti trias politica,
melainkan pemilihan. Contoh, Presiden RI merangkap kepala negara dan kepala
pemerintahan. Sebagai kepala pemerintahan, ia menyelenggarakan kekuasaaan eksekutif,
tetapi sebagai kepala negara, ia berwenang memberikan grasi, amnesti, dan abolisi yang
berada di daerah kekuasaan yudikatif.

Sistem pemerintahan yang dianut adalah presidensial. Semua menteri negara ditunjuk oleh
dan bertanggung jawab kepada presiden (bukan bertanggung jawab kepada DPR). Presiden
tidak dapat dijatuhkan oleh DPR. Demikian pula sebaliknya. Keduanya sama kuat.

BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Adapun kesimpulan yang bisa diambil dari penjelasan diatas, antara lain:

1. Pemerintah dapat diartikan dalam arti sempit, yaitu pemangku jabatan sebagai pelaksana
kekuasaan eksekutif. Sedangkan pemerintahan daerah adalah penyelenggaraan urusan
pemerintahan oleh pemerintah daerah menurut asas otonomi dan tugas pembantuan

10
dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan
Republik Indonesia.

2. Kekuasaan pemerintahan pusat yang lebih luas itu dapat dibedakan antara kekuasaan
penyelenggaraan pemerintah dan kekuasaan penyelenggaraan negara, yaitu yang
dilakukan atas nama negara.

3. Ditinjau dari wewenang, pemerintahan daerah otonom menyelenggarakan dua aspek


otonomi. Pertama, otonomi penuh, yaitu semua urusan dan fungsi pemerintahan yang
menyangkut isi substansi dan tata cara penyelenggaraannya (otonomi). Kedua, otonomi
tidak penuh, yaitu daerah hanya menguasai tata cara penyelenggaraan, tetapi tidak
menguasai isi pemerintahannya.

4. Baik dalam arti luas maupun arti sempit, pemerintah berfungsi sebagai fungsi kultural,
fungsi kesejahteraan umum, dan fungsi control ekonomi.

5. Adapun fungsi pemerintah bagi masyarakat antara lain sebagai fungsi pengaturan, fungsi
pelayanan dan fungsi pembangunan.

6. Berdasarkan hasil telaahan terhadap naskah UUD 1945, dapat disimpulkan bahwa
bentuk Negara Indonesia adalah kesatuan, sedangkan bentuk pemerintahannya adalah
republic dan sistem pemerintahannya adalah presidensil. Oleh sebab itu Negara
Indonesia disebut dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

1. Rosidin, Utang. Otonomi Daerah dan Desentralisas. Pustaka Setia. Bandung. 2015

2. Undang-Undang Republik Indonesia No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan


Daerah.

3. Undang-Undang Republik Indonesia No. 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan


Daerah.

11