Anda di halaman 1dari 5

IV.

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


Pada dasarnya prinsip dari pengemasan adalah penekanan laju respirasi
yang ada dalam buah dan sayuran yang ada karena respirasi yang ada
mempengaruhi dalam beberapa proses metabolisme yang ada didalam buah dan
sayur yang disimpan. Lain halnya dengan serealia dan kacang-kacangan
merupakan komoditas yang berperan sebagai sumber karbohidrat atau pati,
protein dan lemak yang cukup tinggi, sehingga banyak yang dihargai sebagai
bahan pangan yang penting.
Dari data yang didapat menggunakan plastik polietilen merupakan salah
satu cara untuk menekan laju respirasi dalam sayuran sehingga dapat disimpan
dengan waktu yang lama tetapi memiliki efek perubahan struktur dan tekstur pada
sayur yang dikemas. Ketika sayuran yang tidak dikemas akan menyebabkan
sayuran tersebut mudah melakukan respirasi sehingga metabolisme yang ada akan
mempercepat buah atau sayuran yang dikemas cepat busuk sehingga menurunkan
kualitas dari komoditas tersebut. Kerusakan yang terjadi selain karena metabolik
yang ada dalam tanaman yang disimpan dapat terjadi karena adanya aktifitas
organisme pengganggu (Rachmawati, 2010). Ketika buah atau sayuran yang
dilakukan pengemasan tidak akan terjadi pertukaran gas yang ada didalam
komoditas sehingga air akan menggenangi kemasan dan akan berakibat terjadi
reaksi kimia yaitu fermentasi dalam sayuran yang dapat merubah tekstur dari
keras menjadi lunak pada sayuran yang dikemas.
Pada pratikum yang dilakukan sayuran yang dikemas lebih efektif jika
dilihat dari perubahan tekstur yaitu pembusukan yang terjadi lebih relatif dapat
ditekan karena pengaruh plastik yang digunakan sehingga memungkinkan sayuran
yang ada didalam kemasan tidak terjadi pertukaran gas dan laju respirasi dapat
ditekan serendah mungkin dan memungkinkan komoditas yang disimpan dapat
bertahan dalam beberapa hari. Kerusakan dapat terjadi pada seluruh tahapan,
mulai dari kegiatan sebelum panen, pemanenan, penanganan, grading,
pengemasan, transportasi, penyimpanan, dan pemasaran. Pada umumnya
kerusakan dapat terjadi adalah memar, terpotong, adanya tusukan tusukan, bagian
yang pecah, lecet dan abrasi. Kerusakan dapat pula ditunjukkan oleh
dihasilkannya stress metabolat, terjadinya perubahan warna coklat dari jaringan
rusak. Suhu adalah faktor sangat penting yang paling berpengaruh terhadap laju
kemunduran dari komoditi pascapanen. Setiap peningkatan 10oC laju kemunduran
meningkat dua sampai tiga kali. Komoditi yang dihadapkan pada suhu yang tidak
sesuai dengan suhu penyimpanan optimal, menyebabkan terjadinya berbagai
kerusakan fisiologis. Penurunan O2 dan peningkatan CO2 yang berakibat buruk
terhadap komoditi. Kelembaban dalam kemasan adalah salah satu faktor yang
dapat mendukung terjadinya proses pembusukan pada produk pasca panen.
Komoditas holtikultura merupakan salah satu produk pertanian yang mudh
mengalami kerusakan baik secara fisiologis maupun kimia karena kurangnya
penanganan pasca panen yang benar sehingga komoditas yang rusak akan
menyebabkan kerugian bagi pengusaha khususnya produk pertanian (Kuswanto,
2003).
Dari pratikum yang telah dilakukan menggunakan sayuran sawi, kangkung
dan bayam dengan parameter kekerasan, warna dan pembusukan serta
pengepakan yang dilakukan yaitu dengan pengemasan dan tidak dilakukan
pengemasan yang diulang 2 kali memnunjukkan perbedaan selama 9 hari
pengamatan. Untuk komoditas sayur sawi pengemasan yang dilakukan
mempengaruhi kekerasan, warna dan pembusukan bahan sawi yang dikemas
karena tidak mengalami perubahan secara cepat tetapi lambat untuk perubahannya
sehingga dalam kemasan bahan sawi ini merupakan tanaman yang memiliki daya
simpan yang relatif lama. Untuk komoditas kangkung memiliki bebrapa
perubahan yang relatif lambat terutama kekerasan, warna dan pembusukan yang
terjadi sehingga pengemasan yang dilakukan memiliki pengaruh yang relatif baik
karena dapat menghambat beberapa parameter yang ada seperti kekerasan, warna
dan pembusukan menunjukkan tidak mengalami perubahan. Dan pada sayuran
bayam memiliki perbedaan dari sayur yang lainnya terutama warna pada
komoditas karena warna baik pada kemasan maupun tidak dikemas mengalami
perubahan warna yang cukup signifikan sedangkan pembusukan dan kekerasan
terdapat perubahan tetapi tidak secepat warna yang ada dikomoditas bayam
karena pengaruh lapisan plastik yang ada. Pada pengemasan terjadi penghambatan
pertukaran udara dalam kemasan yang bertujuan untuk menekan laju respirasi
serendah mungkin karena adanya permeabilitas plastik yangg digunakan
(Rosalina, Yessy, 2011). Laju dalam proses pembusukan buah dan sayuran
dipengaruhi oleh adanya pertukaran gas yang terjadi dalam buah.
HASIL 5 KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Dari hasil dan pembahasan yang ada dapat ditarik kesimpulan sebagai
berikut:
1. Pengemasan yang digunakan plastik dan tanpa penggunaan plastik
dapat mempengaruhi kekerasan, warna dan proses pembusukan yang ada dalam
komoditas tersebut.
2. Pengemasan komoditas holtikultura dapat menghambat proses
pembusukan sayuran dalam kemasan karena terdapat sayuran yang
pembusukannya lambat.
3. Penggunaan plastik polietilen merupakan salah satu cara menyimpan
produk pertanian terutama tanaman yang disimpan.

5.2 Saran
Proses pengemasan merupakan salah satu alternatif dalam menyimpan
produk pertanian terutama hasil tanaman holtikultura. Dalam pengemasan perlu
memperhatiakan bahan pengemasan yang digunakan dan produk holtikultura yang
akan dikemas karena kedua faktor tersebut saling keterkaitan dalam proses
pengemasan.
DAFTAR PUSTAKA

Dwiari, dkk. 2008. Teknologi Pangan Jilid 1 Untuk SMK. Jakarta:


Departemen Pendidikan Nasional.

Hawa, La Choviya. 2006. Pengembangan Model Tekstur Dan Umur Simpan


Buah Sawo (Achras Sapota L) Dengan Variasi Suhu Dan Tekanan Pada
Penyimpanan Hipobarik. Jurnal Teknologi Pertanian 7(1): 10-19.

Kuswanto. 2003. Teknologi Pemroses, Pengemasan dan Penyimpanan


Benih. Yogyakarta: Kanisius.

Rachmawati, Maulida. 2010. Pelapisan Chitosan Pada Buah Salak Pondoh


(Salacca Edulis Reinw.) Sebagai Upaya Memperpanjang Umur Simpan Dan
Kajian Sifat Fisiknya Selama Penyimpanan. Jurnal Teknologi Pertanian 6(2): 45-
49.

Rosalina, Yessy. 2011. Analisis Konsentrasi Gas Sesaat dalam Kemasan


Melalui Lubang Berukuran Mikro Untuk Pengemasan Buah Segar dengan Sistem
Kemasan Atmosfer Termodifikasi. Agrointek 5(1): 53-58.

Sugiarto, dkk. 2005. Penentuan Komposisi Atmosfer Untuk Penyimpanan


Bawang Daun Rajangan. Jurnal Teknik Industri Pertanian 15(3): 79-84.