Anda di halaman 1dari 9

INSTALASI NON DOMESTIK

1.1. INSTALASI BANGUNAN SEKOLAH


1.1.1 Instalasi non domestik adalah instalasi listrik bukan untuk perumahan atau
industri misalnya, perkantoran, mal, pusat perbelanjaan, sekolah, dll.
Sama halnya dengan banguna non domestik yang lain, cara penginstalasian bangunan
sekolah juga memiliki hal perlu di perhatikan dalam instalasi.
1.2. Ruang lingkup terdiri atas instalasi
1.2.1 Instalasi penerangan.
1.2.2 Instalasi PHB.
1.2.3 Gawai Proteksi
1.2.4 Pembumian.
1.3. Beberapa istilah pokok dalam instalasi
1.3.1 Instalasi sirkit utama : Instalasi antara titik pasok milik perusahaan listrik atau
panel generator sampai panel hubung bagi utama
1.3.2 Instalasi sirkit cabang: Instalasi antara panel hubung bagi utama dengan
panel hubung bagi berikutnya dan seterusnya.
1.3.3 Instalasi sirkit akhir: Instalasi antara panel hubung bagi akhir sampai titik
pemakaian.
1.4. Pemasangan instalasi :
Pemasangan instalasi dilakukan berdasarkan hal-hal sebagai berikut :
1.4.1 Gambar Situasi
Letak bangunan dimana instalasi akan dipasang.
1.4.2 Gambar Instalasi
Rencana penempatan bahan instalasi
Rencana penyambungan
Hubungan antara peralatan, sarana pelayanan dan PHB
1.4.3 Diagram instalasi garis tunggal
Diagram PHB
Bahan yang dipakai
Ukuran dan jenis penghantar
Sistem pembumian
1.4.4 Gambar rinci bahan instalasi
Dimensi PHB dan cara pemasangan.
Cara pemasangan perlengkapan instalasi.
Cara pemasangan penghantar.
Cara kerja instalasi kontrol (kalau ada)
1.5. Ketentuan dalam pemasangan instalasi listrik :
1.5.1 Pemasangan instalasi terikat pada peraturan peraturan yang bertujuan pada :
Aspek pengaman terhadap manusia, barang, mahluk hidup lain dan
terhadap lingkungan yang bertitik berat pada keamanan.
Aspek pelayanan penyediaan tenaga listrik yang aman, efisien dan
terjaga kontinuitasnya.
1.5.2. Mengingat kedua hal diatas, maka pemasangan instalasi harus ketat
mengikuti ketentuan yang berlaku (dalam PUIL atau peraturan-peraturan terkait lain).
1.5.3. Pada saat ini berkembang bahwa konstruksi instalasi dan kelengkapannya
juga dilihat dari segi / aspek estetika sebagai bahan hiasan serta kemudahan dalam
operasionalnya (misalnya : remote controlled contactor).
2.1. PERLENGKAPAN INSTALASI
2.1.1. Perlengkapan instalasi harus dipasang sedemikian rupa sehingga tidak
membahayakan, harus tahan terhadap kemungkinan kerusakan mekanis, termal, kimiawi,
biologis (jamur), kontaminasi medan elektromagnetik.
2.2. Bahan Instalasi :
2.2.1. Isolator, digunakan untuk penyangga hantaran listrik dimana diperlukan.
Pemasangannya harus kuat, tidak ada gaya mekanis kecuali hanya dari hantaran yang
disangga. Jarak antar isolator 3 cm.
contoh : isolator rol.
2.2.2. Pipa instalasi.
Untuk instalasi di dalam gedung / tembok, digunakan pipa instalasi berupa :
- Pipa baja galvanish atau dicat meni. Pada ujung pipa harus dipasang pelindung /
selubung masuk (tule) untuk melindungi kabel terhadap bagian tajam pipa.
- Pipa PVC yang mempunyai sifat tahan terhadap bahan kimia tidak menjalarkan nyala
api dan mudah digunakan serta mempunyai daya isolasi yang baik.
- Pipa fleksibel (corrugated plastic pipe).
Pembengkokan pipa harus dilaksanakan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi
deformasi. Pembengkokan mengikuti aturan
3 D untuk PVC.
4 D untuk pipa baja dengan ukuran 16 mm2 atau 5/8 inci.
Pipa instalasi ditanam sedemikian rupa dengan sempurna dan dijepit dengan klem
yang cocok. Jarak klem/alat penopang maksimum 1 meter.
Khusus untuk pipa baja non seamless (kampuh terlipat) :
- Tidak boleh dibengkokan.
- Bagian yang terlipat harus menghadap ke dinding.
2.2.3. Benda bantu.
T-Distribusi atau kotak sambung
Umum dikenal dengan nama T-doos Penyambungan kabel dalam instalasi pipa hanya
boleh dilakukan dalam kotak sambung
Jenis-jenis kotak sambung :
Kotak normal
Kotak sentral
Kotak banula
2.2.4 Las dop
Ikatan bagian konduktif antar kabel harus memakai pelindung. Tidak diperkenankan
bagian konduktif terlihat secara fisik. Isolasi sambungan minimal harus menyentuh
isolasi penghantar / kabel yang disambung. Dalam satu las dop tidak boleh disambung
lebih dari 3 kawat.
2.2.5 Terminal kabel
Sambungan kabel dapat juga memakai terminal kabel dengan ukuran yang sesuai.
2.2.6 Kotak dinding
Umum dikenal sebagai mangkok KK untuk sarana penempatan kotak kontak pada
dinding beton. Bahanny harus baik, tahan terhadap korosi kimia.
2.2.7 Sakelar
Sakelar adalah gawai pemutus dan penyambung rangkaian listrik terdiri atas:
Pemisah, untuk memisah atau menyambung tanpa beban atau dengan beban sangat
kecil.
Sakelar beban, mempunyai kemampuan memutus rangkaian listrik dalam keadaan
berbeban dalam kerja pemutusan sesaat, mempunyai kemampuan memadamkan busur
api.
Jenis elektroda:
- Elektroda pita : Terbuat dari penghantar berbentuk pita atau bulat.
- Elektroda plat : Terbuat dari logam utuh atqu berlubang, pada umumnya ditanam
secara dalam.
- Elekroda batang: Terbuat dari pipa besi, baja profil, batang logam, yang digalvinizir
atau dilapis lapisan tembaga. Elektroda ini dipancangkan dalam tanah.
2.2.8 Penghantar / kabel
Bagian terpenting dari suatu instalasi adalah penghantar, baik terisolasi / kabel, atau tak
berisolasi / telanjang.
Jenis dan nomenklaturnya beragam ( memakai istilah ex. Jerman).
Bahan isolasi kabel terbuat bermacam.
Bahan penghantar terbuat dari tembaga, aluminium, aldrey, almelec, dan saat ini yang
sedang dikembangkan campuran bahan serat keramik.
Macamnya dapat bersifat kaku / keras atau lembut (berpilin / fleksibel).
2.2.9 Jalur Instalasi
Jalur instalasi dimaksudkan untuk menunjang konstruksi instalasi, antara lain kabel
trunk, rak kabel, dan lain - lain yang tujuan utamanya adalah mencegah penghantar
memikul beban mekanis.
2.3 PERSAYRATAN PEMASANGAN INSTALASI PERLENGKAPAN HUBUNG
BAGI (PHB)
1.Komponen yang dipasang pada PHBK harus dari jenis yang sesuai dengan
syarat penggunaannya.
2.Kemampuan komponen yang dipasang pada PHBK harus sesuai dengan keperluan.
3.Komponen yang dipasang pada PHBK harus memenuhi ketentuan.
4. Lorong yang di sisi kanan kirinya terdapat instalasi listrik tanpa dinding pengaman,
lebarnya harus sekurang-kurangnya 1,5 meter.
5. Secara umum sebuah PHB harus disusun dan dipasang sedemikian rupa sehingga
terlihat rapi dan teratur, selain itu keberadaan PHB juga menentukan bahwa
pemeliharaan, pemeriksaan dan pelayanan harus dapat dilaksanakan dengan mudah dan
aman.
6. Di sekitar PHB tidak boleh diletakkan barang yang mengganggu kebebasan bergerak.
7. Untuk pemasangan pada dinding di tempat umum lemari dan kotak PHB harus
dipasang pada ketinggian sekurang-kurangnya 1,2 meter dari lantai. Pada instalasi
perumahan ketinggian ini ditetapkan 1,5 meter dari lantai
8. Sehubungan dengan itu syarat PHB juga menentukan bahwa di bagian depan, lorong
dan sisi kiri kanan PHB harus terdapat ruang bebas selebar sekurang-kurangnya 0,75
meter untuk tegangan rendah atau 1 meter pada tegangan menengah dan tinggi PHB
sekurang-kurangnya 2 meter.
2.4 PERSYARATAN PEMASANGAN INSTALASI PENGHANTAR
2.4.1 Persyaratan umum
Persyaratan umum instalasi listrik ini tidak berlaku untuk : a) Bagian dari instalasi listrik
dengan tegangan rendah yang hanya digunakan untuk menyalurkan berita dan isyarat. b)
Bagian dari instalasi listrik yang digunakan untuk keperluan telekomunikasi dan
pelayanan kereta rel listrik. c) Instalasi listrik dalam kapal laut, kapal terbang, kereta rel
listrik, dan kendaraan lain yang digerakkan secara mekanik. d) Instalasi listrik dibawah
tanah dalam tambang. e) Instalasi listrik dengan tegangan rendah yang tidak melebihi 25
volt dan dayanya tidak melebihi 100 watt.
2.4.2 Pemilihan Instalasi Kabel Berdasarkan Identifikasi
2.4.2.1 Guna mendapatkan kesaamaan pengenal mengenai penggunaan kabel pada
instalasi digunakan teknik identifikasi warna atau hurhf atau lambang.
2.4.2.2 Kabel berwarna putih tidak dipakai untuk pemasangan luar yang terkena
matahari / hujan, namun dipakai kabel warna gelap.
2.4.3 Kabel Tanah
2.4.3.1 Pemasangan kabel tanah harus pada kedalaman minimum 70 cm dengan memaka
pasir minimum setebal 5 cm diatas kulit kabel.
2.4.3.2 Jarak mendatar dua kabel tanah diudara yang berdekatan minimal 2D (D =
diameter luar)
2.4.3.3 Jarak vertikal antara dua kabel tanah diudara adalah minimum 30 cm.
2.4.4 Ketentuan Instalasi Pemasangan Penghantar
2.4.4.1 Pemasangan instalasi kabel harus diteliti atas daerah penggunaannya.
2.4.4.2 Baik, aman dan terjamin kontinuitas kerjanya.
2.4.4.3 Tahan terhadap gaya mekanis, getaran, atau akibat hubung pendek.
2.4.4.4 Terlindung terhadap kerusakan mekanis baik denga pemasangan yang tepat
ataupun dengan pipa selubung.
2.5 PERSYARATAN PEMASANGAN INSTALASI PEMBUMIAN
Sistem pembumian (grounding system) adalah suatu perangkat instalasi yang berfungsi
untuk melepaskan arus petir ke dalam bumi, salah satu kegunaannya untuk melepas
muatan arus petir. Tingkat kehandalan sebuah grounding ada di nilai konduktivitas logam
terhadap tanah yang ditancapinya. Semakin konduktif tanah terhadap benda logam, maka
semakin baik. Kelayakan grounding harus bisa mendapatkan nilai tahanan sebaran
maksimal 5 ohm (PUIL 2000 : 68) dengan menggunakan earth ground tester. Namun
begitu, untuk daerah yang resistans jenis tanahnya sangat tinggi, resistans pembumian
total seluruh sistem boleh mencapai 10 ohm (PUIL 2000 : 68).

Aspek yang Memengaruhi Sistem Pembumian (Grounding System)

Untuk mencapai nilai tahanan sebaran tersebut, tidak semua area bisa terpenuhi karena
ada beberapa aspek yang memengaruhinya, yaitu:

1. Kadar air; bila air tanah dangkal/penghujan, maka nilai tahanan sebaran mudah
didapatkan sebab sela-sela tanah mengandung cukup air bahkan berlebih, sehingga
konduktivitas tanah akan semakin baik.
2. Mineral/garam; kandungan mineral tanah sangat memengaruhi tahanan
sebaran/resistans karena: semakin berlogam dan bermineral tinggi, maka tanah semakin
mudah menghantarkan listrik. Daerah pantai kebanyakan memenuhi ciri khas kandungan
mineral dan garam tinggi, sehingga tanah sekitar pantai akan jauh lebih mudah untuk
mendapatkan tahanan tanah yang rendah.
3. Derajat keasaman; semakin asam (PH rendah atau PH<7) tanah, maka arus listrik
semakin mudah dihantarkan. Begitu pula sebaliknya, semakin basa (PH tinggi atau PH
>7) tanah, maka arus listrik sulit dihantarkan. Ciri tanah dengan PH tinggi: biasanya
berwarna terang, misalnya Bukit Kapur.
4. Tekstur tanah; untuk daerah yang bertekstur pasir dan berpori (porous) akan sulit
untuk mendapatkan tahanan sebaran yang baik karena jenis tanah seperti ini: air dan
mineral akan mudah hanyut dan tanah mudah kering.

2.5.1. Elektroda Bumi Yang Dipakai dalam instalasi pembumiaan:


1. Elektroda batang : terbuat dari pipa besi, baja profil atau barag yang ditanam
dengan kedalaman minimum 2,5 meter.
2. Elektroda pita : terbuat dari penghantar dari pita berbentuk pita atau berpenghantar
bulat, ditanam secara dangkal secara radial, jaring dengan kedalaman 0,5-1,0 meter.
3. Elektroda pelat : terbuat dari logam utuh, berlubang, umumnya di tanam secara
dalam dengan kedalaman 05-1,0 meter, 1 meter di bawah permukaan tanah.
Alat dan Material Bantu dalam Sistem Pembumian (Grounding System)

1. Alat Ukur Resistans / Earth Ground Tester

Alat ukur ini digunakan untuk mengetahui hasil dari resistans atau tahanan grounding
system pada sebuah instalasi penangkal petir yang telah terpasang. Alat ukur ini digital,
sehingga hasil yang ditunjukan memiliki tingkat akurasi yang cukup tinggi. Diketahui
bahwa pihak Dinas Tenaga Kerja (disnaker) juga menggunakan alat ini untuk mengukur
resistans, sehingga pengukuran oleh pihak kontraktor sama dengan hasil pengukuran
pihak disnaker.

2. Bus Bar Grounding

Alat ini digunakan sebagai titik temu antara kabel penyalur petir dengan
kabel grounding. Biasanya terbuat dari plat tembaga atau logam yang berfungsi sebagai
konduktor, sehingga kualitas dan fungsi instalasi penangkal petir yang terpasang dapat
terjamin.
3. Copper Butter Connector

Alat ini digunakan untuk menyambung kabel, dan biasanya kabel yang disambung pada
instalasi penangkal petir adalah kabel grounding system, karena kabel penyalur pada
penangkal petir tidak boleh terputus atau tidak boleh ada sambungan. Setelah kabel
tersambung oleh alat ini tentunya harus diperkuat dengan isolasi sehingga daya rekat dan
kualitas sambungannya dapat terjaga dengan baik. Penyambungan kabel instalasi
penyalur petir konvensional umumnya menggunakan alat ini, karena pada penangkal petir
konvensional jalur kabel terbuka hanya dilindungi oleh tingkah laku (conduct) dari PVC.

4. Ground Rod Drilling Head

Alat ini berfungsi untuk membantu mempercepat pembuatan grounding suatu instalasi
penangkal petir, yaitu dengan cara memasang di bagian bawah copper rod atau ground
rod yang akan dimasukkan ke dalam tanah, sehingga copper rod atau ground
rod tersebut: ketika didorong ke dalam tanah akan cepat masuk karena bagian ujung alat
ini runcing. Selain itu, alat ini juga dapat menghindari kerusakan copper rod ketika
dipukul ke dalam tanah.

5. Ground Rod Drive Head

Alat ini dipasang di bagian atas copper rod atau ground rod dan berfungsi untuk
menghindari kerusakancopper rod atau ground rod bagian atas yang akan dimasukkan ke
dalam tanah. Hal tersebut karena: pada saat copper rod didorong ke dalam tanah dengan
cara dipukul, alat pemukul tersebut tidak mengenai copper rod, akan tetapi mengenai alat
ini.

6. Bentonit

Dalam aplikasi grounding system, bentonit digunakan untuk membantu menurunkan nilai
resistans atau tahanan tanah. Bentonit digunakan saat pembuatan grounding (jika sudah
tidak ada cara lain untuk menurunkan nilai resistans). Pada umumnya, para kontraktor
cenderung memilih menggunakan cara pararel grounding
rod atau multi grounding system untuk menurunkan resistans.
7. Ground Rod Coupler

Alat ini digunakan ketika kita akan menyambung beberapa segmen copper
rod atau ground rod yang dimasukkan ke dalam tanah, sehingga copper rod atau ground
rod yang masuk ke dalam tanah akan lebih panjang. Misalnya, ketika kita akan
membuat grounding penangkal petir sedalam 12 meter dengan menggunakan copper rod,
maka alat ini sangat diperlukan karena copper rod yang umumnya ada dipasaran paling
panjang hanya 4 meter.

2.6 KETENTUAN PENGUJIAN INSTALASI


2.6.1 INSTALASI YANG SELESAI DIPASANG ATAU YANG MENGALAMI
PERUBAHAN WAJIB DIUJI DAHULU, MELIPUTI:
2.6.1.1 Uji dokumen
Penesuaian gambar rancangan dengan hasil pelaksanaan.
Penyesuaian rencana penggunaan material dengan hasil pelaksanaan berikut
spesifikasinya.
Penyesuaian pelasksanaan dengan ketentuan dan standar yang berlaku.
2.6.1.2 Uji fisik
Cara pemasangan instalasi
Mekanisme kerja peralatan
Uji polaritas
Uji kontinuitas, kesinambungan sirkit
2.6.1.3 Uji elektris
Pengukuran resistansi isolasi
Pengukuran resistansi elektroda pembumian
2.6.1.4 Uji fungsi proteksi
Test fungsi
Test individu