Anda di halaman 1dari 18

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hidung adalah salah satu organ sensori yang fungsinya sebagai organ penghidu. Jika
hidung mengalami gangguan, maka akan berpengaruh pada beberapa sistem tubuh, seperti
pernapasan dan penciuman.
Salah satu gangguan pada hidung adalah polip nasi. Polip nasi ialah massa lunak yang
bertangkai di dalam rongga hidung yang terjadi akibat inflamasi mukosa. Permukaannya licin,
berwarna putih keabu-abuan dan agak bening karena mengandung banyak cairan. Bentuknya
dapat bulat atau lonjong, tunggal atau multipel, unilateral atau bilateral.
Polip dapat timbul pada penderita laki-laki maupun perempuan, dari usia anak-anak
sampai usia lanjut. Bila ada polip pada anak dibawah usia 2 tahun, harus disingkirkan
kemungkinan meningokel atau meningoensefalokel. Dulu diduga predisposisi timbulnya polip
nasi ialah adanya rinitis alergi atau penyakit atopi, tetapi makin banyak penelitian yang tidak
mendukung teori ini dan para ahli sampai saat ini menyatakan bahwa etiologi polip nasi masih
belum diketahui dengan pasti. Polip nasi lebih banyak ditemukan pada penderita asma nonalergi
(13%) dibanding penderita asma alergi (5%).
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Untuk memperoleh informasi atau gambaran yang nyata tentang pelaksanaan asuhan
keperawatan klien dengan polip nasi.
2. Tujuan Khusus
a. Dapat melakukan pengkajian keperawatan pada klien Polip Nasi.
b. Dapat merumuskan diagnosa keperawatan pada klien Polip Nasi.
c. Dapat menyusun rencana keperawatan pada klien Polip Nasi.

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Polip nasi adalah massa lunak yang tumbuh di dalam rongga hidung yang terjadi akibat
inflamasi mukosa. Permukaannya licin, berwarna putih keabu-abuan dan agak bening karena
mengandung banyak cairan (polip edematosa). Polip yang sudah lama dapat berubah menjadi
kekuning kuningan atau kemerah merahan, suram dan lebih kenyal (polip fibrosa).

B. Etiologi
Terjadi akibat reaksi hipertensitif atau reaksi alergi pada mukosa hidung. Polip dapat
timbul pada penderita laki-laki maupun perempuan,
dari usia anak-anak sampai usia lanjut. Bila ada polip pada anak di bawah usia 2 tahun,
harus disingkirkan kemungkinan meningokel atau meningoensefalokel.
Dulu diduga predisposisi timbulnya polip nasi ialah adanya rinitis alergi atau penyakit
atopi, tetapi makin banyak penelitian yang tidak mendukung teori ini dan para ahli sampai saat
ini menyatakan bahwa etiologi polip nasi masih belum diketahui dengan pasti.
Polip disebabkan oleh reaksi alergi atau reaksi radang.Bentuknya bertangkai, tidak
mengandung pembuluh darah.Di hidung polip dapat tumbuh banyak, apalagi bila asalnya dari
sinus etmoid. Bila asalnya dari sinus maksila, maka polip itu tumbuh hanya satu, dan berada di
lubang hidung yang menghadap ke nasofaring (konka). Keadaan ini disebut polip konka.Polip
konka biasanya lebih besar dari polip hidung.Polip itu harus dikeluarkan, oleh karena bila tidak,
sebagai komplikasinya dapat terjadi sinusitis. Polip itu dapat tumbuh banyak, sehingga kadang-
kadang tampak hidung penderita membesar, dan apabila penyebarannya tidak diobati setelah
polip dikeluarkan, ia dapat tumbuh kembali.
Yang dapat menjadi faktor predisposisi terjadinya polip antara lain :
a. Alergi terutama rinitis alergi.
b. Sinusitis kronik.
2
c. Iritasi.
d. Sumbatan hidung oleh kelainan anatomi seperti deviasi septum dan hipertrofi konka.

C. Patofisiologi

Pada tingkat permulaan ditemukan edema mukosa yang kebanyakan terdapat di daerah
meatus medius. Kemudian stroma akan terisi oleh cairan interseluler, sehingga mukosa yang
sembab menjadi polipoid. Bila proses terus berlanjut, mukosa yang sembab makin membesar dan
kemudian akan turun ke dalam rongga hidung sambil membentuk tangkai, sehingga terbentuk
polip.
Polip di kavum nasi terbentuk akibat proses radang yang lama. Penyebab tersering adalah
sinusitis kronik dan rinitis alergi.Dalam jangka waktu yang lama, vasodilatasi lama dari
pembuluh darah submukosa menyebabkan edema mukosa. Mukosa akan menjadi ireguler dan
terdorong ke sinus dan pada akhirnya membentuk suatu struktur bernama polip. Biasanya terjadi
di sinus maksila, kemudian sinus etmoid. Setelah polip terrus membesar di antrum, akan turun ke
kavum nasi. Hal ini terjadi karena bersin dan pengeluaran sekret yang berulang yang sering
dialami oleh orang yang mempunyai riwayat rinitis alergi karena pada rinitis alergi terutama
rinitis alergi perennial yang banyak terdapat di Indonesia karena tidak adanya variasi musim
sehingga alergen terdapat sepanjang tahun. Begitu sampai dalam kavum nasi, polip akan terus
membesar dan bisa menyebabkan obstruksi di meatus media.

3
Pathway

polip

Reaksi Alergi atau Hipersensitivitas

Edema mukosa nasal


(Pembengkakan mukosa hidung)
Hambatan
Interaksi

Gangguan Adanya
Penghiduan sumbatan
polip hidung

Penciuman
Karna
Mulai
adanya
berkurang
tonjolan

Sulit Bernafas
melalui Bersihan
hidung & Jalan
bernafas Nafas
menggunaka
n mulut

Gangguan
persepsi sensori

D. Manifestasi klinis
Gejala utama yang ditimbulkan oleh polip nasi adalah hidung tersumbat.Sumbatan ini
tidak hilang timbul dan makin lama makin memberat.Pada sumbatan yang hebat dapat

4
menyebabkan timbulnya gejala hiposmia bahkan anosmia. Bila polip ini menyumbat sinus
paranasal, akan timbul sinusitis dengan keluhan nyeri kepala dan rhinore. Bila penyebabnya
adalah alergi, maka gejala utama adalah bersin dan iritasi di hidung.
Sumbatan hidung yang menetap dan semakin berat dan rinorea.Dapat terjadi sumbatan
hiposmia atau anosmia.Bila menyumbat ostium, dapat terjadi sinusitis dengan ingus
purulen.Karena disebabkan alergi, gejala utama adalah bersin dan iritasi di hidung.
Pada pemeriksaan klinis tampak massa putih keabu-abuan atau kuning kemerah-merahan
dalam kavum nasi. Polip bertangkai sehingga mudah digerakkan, konsistensinya lunak, tidak
nyeri bila ditekan, mudah berdarah, dan tidak mengecil pada pemakaian vasokontriktor.

E. Penatalaksanaan
Tujuan utama pengobatan pada kasus polip nasi adalah menghilangkan keluhan-keluhan,
mencegah komplikasi dan mencegah rekurensi polip.
Pemberian kortikosteroid untuk menghilangkan polip nasi disebut juga polipektomi
medika mentosa.Dapat diberikan topical atau sistemik.Polip tipe eosinofilik memberikan respons
yang lebih baik terhadap pengobatan kortikosteroid intranasal dibandingkan polip tipe
neurotrofilik.
Kasus polip yang tidak membaik dengan terapi medikamentosa atau polip yang sangat
massif dipertimbangkan untuk terapi bedah. Dapat dilakukan ekstraksi polip (polipektomi)
menggunakan senar polip atau cumin dengan analgesic local, etmoidektomi intranasal atau
etmoidektomi ekstranasal untuk polip etmoid, operasi Caldwell-Luc untuk sinus maksila. Yang
terbaik ialah bila tersedia fasilitas endoskop maka dapat dilakukan tindakan BSEF (bedah Sinus
Endoskopi Fungsional).Pengobatan juga perlu ditunjukkan pada penyebabnya, dengan
menghindari allergen penyebab.
Ada tiga macam penanganan polip nasi yaitu :
1. Cara konservatif
2. Cara operatif
3. Kombinasi keduanya.

F. Pemeriksaan penunjang
Cara menegakkan diagnosa polip hidung, yaitu dengan :
1. Anamnesis
Melalui anamnesis dapat ditanyakan keluhan-keluhan yang berkaitan dengan gangguan
yang ditimbulkan oleh polip nasi, diantaranya:

5
a Hidung tersumbat
b Rinore, mulai dari jernih sampai purulen bila terdapat infeksi sekunder
c Post nasal drip
d Anosmia atau hiposmia
e Suara sengau karena sumbatan pada hidung
f Sakit kepala dan snoring bila polipnya berukuran besar
g Pembesaran hidung dan muka apabila massa polip sudah bertambah besar
h Terdapatnya gejala-gejala sinusitis apabila polip sudah mengganggu drainase muara
sinus ke rongga hidung
i Polip yang besar kadang-kadang dapat mengganggu pernapasan saat tidur yang
menimbulkanobstructive sleep apnea.

Selain keluhan-keluhan di atas, harus juga ditanyakan riwayat rinitis, asma, intoleransi terhadap
aspirin, alergi obat lainnya, dan alergi makanan.

2. Pemeriksaan fisik
Terlihat deformitas hidung luar
3. Rinoskopi anterior
Dengan pemeriksaan rhinoskopi anterior biasanya polip sudah dapat dilihat, polip yang
masif seringkali menciptakan kelainan pada hidung bagian luar. Pemeriksaan Rontgen dan CT
scan dapat dilakukan untuk Polip biasanya tumbuh di daerah dimana selaput lendir membengkak
akibat penimbunan cairan, seperti daerah di sekitar lubang sinus pada rongga hidung.Ketika baru
terbentuk, sebuah polip tampak seperti air mata dan jika telah matang, bentuknya menyerupai
buah anggur yang berwarna keabu-abuan.
Pembagian polip nasi
a Grade 0 : Tidak ada polip
b Grade 1 : Polip terbatas pada meatus media
c Grade 2 : Polip sudah keluar dari meatus media, tampak di rongga hidung tapi belum
menyebabkan obstruksi total
d Grade 3 : Polip sudah menyebabkan obstruksi total
4. Naso-endoskopi
Naso-endoskopi memberikan gambaran yang baik dari polip, khususnya polip berukuran
kecil di meatus media.Polip stadium 1 dan 2 kadang-kadang tidak terlihat pada pemeriksaan
rinoskopi anterior tetapi tampak dengan pemeriksan naso-endoskopi.Pada kasus polip koanal
juga dapat dilihat tangkai polip yang berasal dari ostium asesorius sinus maksila.Dengan naso-
endoskopi dapat juga dilakukan biopsi pada layanan rawat jalan tanpa harus ke meja operasi.

6
G. Komplikasi
Satu buah polip jarang menyebabkan komplikasi, tapi dalam ukuran besar atau dalam
jumlah banyak (polyposis) dapat mengarah pada akut atau infeksi sinusitis kronis, mengorok dan
bahkan sleep apnea - kondisi serius nafas dimana akan stop dan start bernafas beberapa kali
selama tidur. Dalam kondisi parah, akan mengubah bentuk wajah dan penyebab penglihatan
ganda/berbayang.

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN
KASUS

Ny. E, 41 tahun, datang ke poliklinik THT RSUD Jendral Ahmad Yani Metro dengan keluhan
kedua lubang hidung tersumbat dan terasa mengganjal sejak 2 tahun yang lalu.Keluhan ini di

7
rasakan semakin memberat dalam 2 bulan terakhir.Pasien sulit untuk bernafas melalui hidung
sehingga sering menggunakan bantuan mulutnya untuk bernafas. Kadang keluhan terasa sedikit
berkurang apabila pasien tidur miring ke kanan ataupun ke kiri. Pasien juga mengeluhkan
penciumannya mulai berkurang sehingga semakin sulit untuk jernih encer dari hidung, sakit
kepala berdenyut yang hilang timbul dan mendengkur saat tidur. Keluhan demam, kepala terasa
penuh, nyeri daerah wajah, telinga terasa penuh, berdenging, nyeri telinga dan gangguan
pendengaran, sulit menelan, rasa menelan cairan di tenggorokan, hidung berdarah, cairan hidung
berbau dan nyeri hidung, serta penglihatan ganda disangkal mencium bau-bauan, suara pasien
juga menjadi sengau. Keluhan ini di sertai keluarnya cairan oleh pasien. Pasien terkadang bersin-
bersin di sertai keluarnya cairan jernih encer, hidung gatal, dan tersumbat, serta mata gatal dan
berair apabila pasien terpajan debu dan udara dingin. Keluhan ini sudah dirasakan sejak
keci.Serangan biasanya lebih dari 4 hari dalam seminggu.Sekitar 21 tahun yang lalu pasien
pernah mengalami keluhan seperti ini, pasien dikatakan menderita polip hidumg dan sudah di
lakukan pengangkatan oleh dokter.

Pada pemeriksaan fisik di dapatkan keadaan umum tampak sakit sedang, kesadaran
kompos mentis, tekanan darah 110/60 mmHg, denyut nadi 86x/menit, pernafasan 22x/menit,
pernafasan 22x/menit, suhu 36,2oC. Pada rinoskopi anterior tampak kedua cavum nasi sempit,
secret bening, konka inferior berwarna livide, terdapat masa lunak, bertangkai, bulat, soliter,
dapat di gerakan, berwarna putih keabu-abuan yang berasal dari kedua meatus media.
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik maka pada pasien ini dapat ditegakan diagnosis
medisnya.. kemudian pasien ditatalaksana dengan dexamethason 3x4 mg, fluticasone propionate
50 mcg 1x1 spray/kavum nasi, loratadin 1x10 mg, dan di rencanakan untuk polipektomi. Pasien
juga di berikan edukasi untuk menghindari factor pencetus terjadinya alergi (debu, udara dingin)
yang merupakn etiologi dari diagnose medis

A. SEVEN JUMP

Step 1 : Kata Asing


1. Polip hidung
2. Compos Mentis
3. Rinoskopi anterior
4. Secret bening
5. Konka inferior

8
6. Livide
7. Soliter
8. Meatus media
9. Fluticasone propionate
10. Loratadin
11. Dexamethason
12. Polipektomi
Step 2 : Menjawab Kata Asing
1. Polip hidung adalah pertumbuhan selaput lender hidung yang bersifat jinak, penyebab
terjadi polip tidak diketahui tetapi sejumlah polip tumbuh karena ada pembengkakan
akibat infeksi.adapun polip sering ditemukan pada penderita.
2. Compos mentis adalah kesadaran normal, sadar sepenuhnya, dapat menjawab semua
pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya
3. Rinoskopi anterior adalah pemeriksaan rongga hidung dari depan dengan memakai
speculum hidung
4. Secret bening adalah keputihan yang disebabkan oleh infeksi biasanya disertai dengan
rasa gatal di dalam vagina dan disekitar bibir vagina bagian luar
5. Konka inferior adalah tulang tersendiri yang melekat pada os maxilla dan labirin etmoid
6. Livide adalah kebiru-biruan
7. Soliter adalah cara organism hidup individu
8. Meatus media adalah ruang diantara konka superior dan konka rongga hidung terdapat
suatu celah sempit
9. Floticason propionate adalah tulang di lindikasikan untuk keperawatan musiman dan
sepajang tahun alergi, pengap/pilek, gatal dan bersin, mata gatal dan berair dan kondisi
lainnya
10. Loratadin adalah obatyang dapat mengobati reaksi alergi seperti bersin-bersin, ruam kulit
hidung meler atau tersumbat dan mat berair akibat paparan penyebab alergi seperti debu,
bulu hewan atau bahkan gigitan serangga
11. Dexamathason adalah obat yang harus diminum dengan resep dokter, kelompok obat ini
bekerja dengan cara yang mirip dan sering digunakan untuk menggobati kondisi yang
serupa
12. Polipektomi adalah pengangkatan polip menggunakan senarpolip dengan bantuan
anestesi local
Step 3 : Pertanyaan
1. Apa penyebab terjadinya polip nasi?
2. Apa perbedaan polip nasi dengan sinus ?
3. Mengapa pada pasien polip nasi mengalami mendengkur pada saat tidur?
4. Kenapa pada pasien polip nasi mengalami penurunan pada penciuman?
Step 4 : Jawaban
Jawab :

9
1. Penyebab terjadinya polip nasi tidak dapat diketahui,tetapi sejumlah polip tumbuh
karena pembengkaan akibat infeksi.
2. Polip nasi adalah bagian dari sinus yang keluar dan menyerupai baloni/daging di
daerah hidung. Sedangkan sinus adalah infeksi peradangan pada daerah sinus.
3. Karena pada Klien polip nasi mengalami penyumbatan pada hidung dan terlalu
banyaknya lendir yang tertimbun pada hidung.
4. Karena terdapat daging yang tumbuh dirongga hidung yang menyebabkan pasien
itu mengalami penurunan pada penciuman.
Step 5 : Learning Object
POLIP NASI
Step 6 : Asuhan Keperawatan

Step 7 : Reporting

B. ASUHAN KEPERAWATAN

I. DATA DEMOGRAFI
I. PENGKAJIAN
a. Identitas klien
Nama Pasien : Ny. E
Umur : 41 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Suku/Bangsa : Sunda/Indonesia
10
Agama : Islam
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Bandung
Tanggal masuk RS : 16 MEI 2017
Tanggal pengkajian : 16 MEI 2017
Diagnosa medik : POLIP NASI
b. Identitas penanggun jawab
Nama : Tn R
Umur : 30 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Karyawan
Hub. Dg klien : Anak

II. RIWAYAT KESEHATAN


a. Keluhan Utama
KlienSulit bernapas
b. Riwayat penyakit sekarang
Klien merasaan buntu pada hidung dan nyeri kronis pada hidung.
c. Riwayat penyakit dahulu
Klien pernah menderita polip hidung dan sudah di lakukan pengangkatan oleh dokter
d. Riwayat Kesehatan Keluarga
Keluarga Klien mengatakantidak ada anggota keluarga yang mempunya penyakit
serupa
III. RIWAYAT PSIKOSOSIAL

11
Intrapersonal : klien merasa cemas akibat nyeri yang kronis
Interpersonal : gangguan citra diri yang berhubungan dengan suara sengau akibat
massa dalam hidung
IV. RIWAYAT SPIRITUAL.

Klien tetap rajin melakukan ibadah dan selalu berdoa


Klien selalu mendengarkan murotal al-quran

V. PEMERIKSAAN FISIK
a. Keadaan umum
Keadaan umum pasien tampak sakit sedang,
b. Kesadaran
Kompos mentis
c. polipektomi
Brath : RR meningkat
Blood : tidak terjadi perdarahan
Brain : terjadi gangguan penghidu atau penciuman
Bowel : klien terlihat lemas
d. Tanda tanda vital :
TD : 110/60 mmHg
N : 86x/mnt
RR : 22x/mnt
S : 36,5 0 C

e. Sistem Pernafasan
Hidung :
- Inspeksi : adanya cairan di dalam hidung
f. Terapy saat ini
o Tanggal : 16 mei 2017
o Klien mendapat therapy dexamethason 3x4mg , fluticasone propionate 50 mcg 1x1
spray/kavum nasi, larotidin 1x10 mg, dan di rencanakan untuk polipolipektomi.

Data Fokus
Nama Pasien : Ny E

12
No. RM : 0016

Data Subjektif Data Objektif

- Keluarga klien mengatakan klien kedua - TTV


lubang hidung tersumbat dan terasa TD : 110/60 mmHg
mengganjal sejak kurang lebih 2 tahun yang N : 86x/mnt
lalu RR : 22x/mnt
S : 36,5 0 C
- Keluarga klien mengatakan klien sulit
bernafas melalui hidung sehingga sering - Klien tampak sakit sedang
menggunakan bantuan mulutnya untuk
bernafas - Klien tampak kedua cavum nasi sempit,
- Keluarga klien mengatakan klien keluhan secret bening,
terasa sedikit berkurang apabila pasien tidur
miring ke kanan ataupun ke kiri - Klien tampak konka inferior berwarna livide
- Keluarga klien mengatakan klien sulit untuk
mencium bau-bauan, suara pasien menjadi - Klientampak terdapat massa lunak, bertangkai,
sengau bulat, soliter, dapat digerakan, berwarna
- Keluarga klien mengatakan klien keluarnya putih keabu-abuan yang berasal dari kedua
cairan jernih encer dari hidung, sakit kepala meatus media
berdenyut yang hilang timbul dan
mendengkur saat tidur
- Keluarga klien mengatakan klien demam,
nyeri daerah wajah, telingan terasa penuh,
berdenging, nyeri telinga dan gangguan
pendengaran sulit menelan
- Keluarga klien mengatakan klien hidung
berdarah, cairan hidung berbau dan nyeri
hidung serta penglihatan ganda
- Keluarga klien mengatakan klien sering
bersin-bersin disertai keluarnya cairan
jernih
- Keluarga klien mengatakan klien mata gatal
dan berair dan berair apabila pasien terpajan
debu ataupun udaradingin

ANALISA DATA
Nama : Ny. E

13
No RM : 0016

N Data Problem Etiologi


o
1 DS Hambatan intraksi Hidung tersumbat
- keluarga klien mengatakan klien sulit sosial dan suara sengau
untuk mencium bau-bauan, suara pasien
menjadi sengau
DO
- Klien tampak sakit sedang
- Klien tampak kedua cavum nasi sempit,
secret bening
2
DS
- Keluarga klien mengatakan klien Bersihan jalan nafas Adanya masa
kedua lubang hidung tersumbat tidak efektif aliran/drainase secret
dan terasa mengganjal sejak tertahan dan hidung
kurang lebih 2 tahun yang lalu tersumbat
- keluarga klien mengatkan klien
penciumannya mulai berkurang
sehingga semakin sulit untuk
jernih encer dari hidung
DO
- RR 22x/menit
- Klien tampak bersin-bersin di sertai
keluarnya cairannya jernih encer,
hidung gatal, dan tersumbat
- Klien tampak kedua cavum nasi
sempit, secret bening,
3 DS :
- keluarga klien mengatakan klien Gangguan Persepsi Gangguan penghidu
sulit bernafas melalui hidung Sensori
sehingga sering menggunakan
bantuan mulutnya untuk bernafas
DO :
- Klien tampak terdapat masa
lunak, bertangkai, bulat,
soliter,dapat digerakan, berwarna
putih keabu-abuan yang berasal
dari kedua meatus media

14
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Nama Pasien : Ny.E
No Rm : 0016
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d adanya obstruksi pada hidung
2. Gangguan persepsi sensorik b/d gangguan penghiduan
3. Hambatan interaksi sosial b/d suara sengau yang timbul akibat sumbatan polip

INTERVENSI
Nama Pasien : Ny.E
No Rm : 0016

15
No Dx Keperawatan Tujuan dan KH Intervensi
1 Gangguan persepsi Setelah dilakukan 1. Kaji perubahan penciuman
sensorik b/d gangguan tindakan 1x24 jam yang terjadi
penghiduan diharapkan fungsi 2. Orientasikan terhadap bau-
penciuman klien bauan
kembali normal
3. Kurangi faktor-faktor
Dengan KH :
penyebab
1. klien dapat
bernafas
menggunaka
n hidung

2. Bersihan jalan nafas Setelah dilakukan 1. Observasi RR tiap 4 jam,


tidak efektif b/d asuhan keperawatan bunyi napas, kedalaman
adanya obstruksi pada 1x24 jam diharapkan inspirasi, dan gerakan dada
hidung Bersihan jalan 2. Auskultasi bagian dada
nafas klien menjadi anterior dan posterior
3. Pantau status oksigen
efektif dalam 10
pasien
15 menit setelah
dilakukan tindakan.
Dengan KH :
1. RR normal (16
20 x/menit)
2. Suara napas
vesikuler
3. Pola napas
teratur tanpa
menggunakan
otot bantu
pernapasan
4. Saturasi oksigen
100%

3. Hambatan interaksi Setelah dilakukan 1. Lakukan komunikasi


sosial b/d suara tindakan 2x24 jam dengan
sengau yang timbul diharapkan klien dapat menggunakanbahasa
akibat sumbatan polip meningkatkan sosialisasi tubuh
dengan KH : 2. Berikan sentuhan untuk

16
1. Menunjukkan menarik perhatian pasien
keterlibatan 3. Dengarkan keluhan
sosial pasien secara aktif
2. Menunjukkan 4. Berbicara berhadapan
penampilan dengan pasien
peran

17
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Pada pengkajian, data yang kemukakan dalam kasus mempunyai perbedaan dengan
data yang dikemukakan dalam teori.
2. Dalam perencanaan asuhan keperawatan yang dikemukakan dalam kasus sesuai
dengan kebutuhan klien sedangkan perencanaan asuhan keperawatan dalam teori tetap
memperhatikan kondisi dan respon klien.
3. Pelaksanaan rencana asuhan keperawatan yang mengacu pada masalah keperawatan
yang muncul dengan berpedoman pada teori dan tetap memperhatikan keadaan klien,
respon klien serta fasilitas yang ada.
4. Dalam melakukan pengkajian, perencanaan asuhan keperawatan tindakan
keperawatan, evaluasi yang telah dilaksanakan dan direncanakan harus
didokumentasikan secara komprehensif.
B. Saran
1. Dalam melakukan tindakan keperawatan harus sesuai dengan teori, kebutuhan klien
serta fasilitas yang ada.
2. Diharapkan dalam pendokumentasian asuhan keperawatan harus dilakukan secara
komprehensif

18