Anda di halaman 1dari 10

ISSN 2301-7287

JurnalIlmuBudidayaTanaman
Volume 1, Nomor 1, April 2012

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANGGREK Dendrobium Anosmum


PADA MEDIA KULTUR IN VITRO DENGAN BEBERAPA KONSENTRASI
AIR KELAPA.
Tuhuteru, S., Hehanussa, M. L dan S.H.T. Raharjo.

PENGARUH PUPUK ORGANIK CAIR RI1 TERHADAP PERTUMBUHAN DAN


PRODUKSI TANAMAN KUBIS BUNGA (Brassica oleracea var. botrytis L.).
Gomies, L., Rehatta, H dan J. Nandissa.

PEMANFAATAN KOMPOS ELA SAGU, SEKAM DAN DEDAK SEBAGAI MEDIA


PERBANYAKAN AGENS HAYATI Trichoderma harzianum Rifai.
Uruilal, C., Kalay, A. M., Kaya, E dan A. Siregar.

DAMPAK PERUBAHAN TATAGUNA LAHAN TERHADAP KESEIMBANGAN


AIR WILAYAH PULAU SERAM. STUDI KASUS : DAS WAY PIA DI
KABUPATEN MALUKU TENGAH, PROVINSI MALUKU.
Laimeheriwa, S.

KAJIAN PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI VARIETAS JAGUNG LOKAL DAN


KACANG HIJAU DALAM SISTEM TUMPANGSARI.
Polnaya, F dan J.E. Patty.

PENGGUNAAN DESIKAN ABU DAN LAMA SIMPAN TERHADAP KUALITAS


BENIH JAGUNG (Zea mays L.) PADA PENYIMPANAN RUANG TERBUKA.
Lesilolo, M. K., Patty, J dan N. Tetty.

PENGARUH BOKASHI ELA SAGU PADA BERBAGAI TINGKAT KEMATANGAN


DAN PUPUK SP-36 TERHADAP SERAPAN P DAN PERTUMBUHAN JAGUNG
(Zea mays L.) PADA TANAH ULTISOL.
Soplanit, M. Ch dan R. Soplanit.

EFEKTIVITAS METIL EUGENOL TERHADAP PENANGKAPAN LALAT BUAH


(Bactrocera dorsalis) PADA PERTANAMAN CABAI.
Patty, J.A.

PATOGENISITAS VARIETAS PISANG TERHADAP PENYAKIT ANTRAKNOSA


(Colletotrichum gloeosporioides) SECARA IN-VITRO.
Rumahlewang, W dan H.R.D. Amanupunyo.

PENGARUH PENGELOLAAN HARA NPK TERHADAP KETERSEDIAAN DAN


HASIL TANAMAN PADI SAWAH (Oryza sativa. L) DI DESA WAELO
KECAMATAN WAEAPO KABUPATEN BURU.
Soplanit, R dan S. H. Nukuhaly.

Halaman Ambon, ISSN


Agrologia Vol. 1 No. 1
1 - 90 April 2012 2301-7287
Agrologia, Vol. 1, No. 1, April 2012. Hal. 51-59

PENGGUNAAN DESIKAN ABU DAN LAMA SIMPAN TERHADAP


KUALITAS BENIH JAGUNG (Zea mays L.) PADA
PENYIMPANAN RUANG TERBUKA

M. K. Lesilolo, J. Patty dan N. Tetty

Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Pattimura,


Jl. Ir. M. Putuhena, Poka, Ambon 97233

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dosis desikan abu yang tepat pada penyimpanan benih jagung selama 30,
60 dan 90 hari. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan dua
faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah dosis desikan (D) yaitu Do = 0% (kontrol), D1 = 5% (12.5 g dari
bobot benih), D2 = 10% (25 g dari bobot benih), D3 = 15 % (37.5% dari bobot benih), D4 = 20% (50 g dari bobot
benih), D5 = 25% (62.5 g dari bobot benih). Faktor kedua adalah lama simpan (S), yaitu S1 = lama simpan 30 hari,
S2 = lama simpan 60 hari dan S3 = lama simpan 90 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan desikan
hanya memberikan pengaruh terhadap kadar air benih (12.31 %) dan parameter vigor kecepatan tumbuh benih
(24.84%). Penggunaan desikan dengan lama simpan 90 hari mampu mempertahankan kadar air benih (12.43%),
parameter viabilitas benih, yaitu daya kecambah (100%) dan vigor benih yang meliputi keserempakan tumbuh
(66.77%) dan kecepatan tumbuh benih (28.71%). Interaksi antara perlakuan penggunaan desikan abu dan perlakuan
lama penyimpanan tidak memberikan pengaruh terhadap viabilitas dan vigor benih jagung (Zea mays L) tetapi
berpengaruh terhadap kadar air benih setelah penyimpanan (12.73%)

Kata kunci: benih, jagung, desikan, abu, kualitas

THE USE OF ASH DESSICANT AND LENGHT OF STORANGE


ON MAIZE (Zea mays L) SEED QUALITY IN AN
OPEN ROOM STORAGE

ABSTRACT

This study was aimed to determine the proper dose of ash desiccant on maize seed stored for 30, 60 and 90 days.
The design used was a Completely Randomized Factorial Design, with two factors and three replications. The first
factor was desiccant dose (D) : Do = 0% (control), D1 = 5% (12.5 g of seed weight), D2 = 10% (25 g of seed
weight), D3 = 15% (37 g of seed weight), D4 = 20 % (50%g of seed weight), D5 = 25% (62.5 g of seed weight).
The second factor was length of storage (S) : S1 = 30 day storage, S2 = 60 day storage and S3 = 90 day storage. The
result show that use of desiccant only gave effect on the water content of seeds (12.31%) and speed of seed growth
vigor parameters (24.84 %). Use of desiccant in 90 day storage were able to maintain water content of seeds (12.43
%), seed germination viability parameter (100%), and vigor of seeds, which consisted of seed growth simultaneity
(66.77%) and seed growth speed (28.71%). The interaction between the use off ash desiccant and the length of
storage had no effect on viability and vigor of maize (Zea mays L) seeds but had an effect on their water content
after storage (12.73%).

Key words : seed, maize, desiccant, ash, seed quality

PENDAHULUAN mempunyai banyak manfaat, antara lain


sebagai bahan pakan dan bahan baku industri.
Jagung (Zea mays L.) termasuk bahan Penggunaan jagung sebagai bahan pangan
pangan utama kedua setelah beras. Jagung dan pakan terus mengalami peningkatan,
merupakan sumber karbohidrat yang sementara ketersediaannya dalam bentuk

51
Lesilolo dkk, 2012. Penggunaan Desikan Abu

bahan terbatas. Nilai kalori jagung hampir dengan kadar air kurang dari 14%
sama dengan beras, bahkan jagung (Purwono, 2008).
mempunyai keunggulan bila di bandingkan Penyimpanan benih jagung pada
dengan beras. Hal ini disebabkan karena ruang simpan terbuka akan mengakibatkan
jagung mengandung asam lemak esensil yang benih cepat mengalami kemunduran atau
sangat bermanfaat bagi pencegahan penyakit daya simpannya menjadi singkat akibat
penyempitan pembuluh darah (Warisno, fluktuasi suhu dan kelembaban. Hal ini
1998). karena ruang simpan terbuka berhubungan
Benih merupakan salah satu faktor langsung dengan lingkungan diluar ruangan
utama yang menjadi penentu keberhasilan melalui jendela dan ventilasi, oleh karena itu
usaha tani sehingga harus ditangani secara benih yang di simpan dalam ruang terbuka
sungguh-sungguh agar dapat tersedia dengan perlu dikemas dengan bahan kemasan yang
baik dan terjangkau oleh petani. Penggunaan tepat agar viabilitas dan vigor benih dapat
benih bermutu dari varietas unggul sangat dipertahankan. Selain kemasan, bahan lain
menentukan keberhasilan peningkatan yang juga dapat digunakan untuk
produksi jagung. Pengunaan benih barmutu mempertahankan kualitas benih yaitu
dapat mengurangi resiko kegagalan usaha tani desikan.
karena bebas dari serangan hama dan Desikan adalah bahan yang diperlukan
penyakit serta mampu tumbuh baik pada untuk menjaga agar benih tetap dalam kondisi
kondisi lahan yang kurang menguntungkan kering, salah satunya adalah abu. Abu
Sejak dihasilkannya beberapa varietas jagung diketahui memiliki sifat higroskopis, yakni
baik yang bersari bebas maupun hibrida yang pada keadaan kering bahan tersebut dapat
berdaya hasil tinggi, produksi jagung secara menyerap uap air dari lingkungan di
nasional dari tahun 1980 sampai tahun 2010 sekitarnya. Hasil penelitian Pramono (2010),
maksimal mencapai 1.5 juta ton. Kebutuhan menunjukkan bahwa perlakuan pemberian
jagung untuk industripakan ternak diperkira- abu sekam dalam kemasan pada benih kacang
kan 200.000 ton/bulan, sedangkan untuk tanah dengan taraf 20% dapat menghasilkan
konsumsi diperkirakan 5.000 6.000 ton/ benih dengan vigor yang lebih tinggi daripada
tahun (BPS Nasional, 2009). yang tanpa diberi desikan (kontrol) dan
Di Provinsi Maluku, jagung merupa- sampai dengan periode simpan 9 bulan tidak
kan komoditas andalan yang mempunyai nilai mampu lagi mempertahankan vigor dan
ekonomis tinggi. Pada tahun 2005-2008 viabilitas benih dan laju kemunduran benih
mengalami peningkatan produksi (14.137 makin lambat dengan taraf abu sekam yang
19.460) dan pada tahun 2009 produksi makin besar. Berdasarkan uraian diatas maka
menurun lagi menjadi 15.859 ton. (BPS perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui
Maluku, 2005-2009). Rendahnya hasil panen penggunaan jenis desikan dan lama simpan
disebabkan oleh banyak faktor namun yang terhadap benih jagung (Zea mays L) pada
paling menonjol adalah penggunaan varietas, penyimpanan ruang terbuka.
pemberian pupuk yang belum tepat, Penelitian ini bertujuan untuk
penentuan populasi tanaman, dan penggunaan menentukan dosis desikan abu yang tepat
benih yang berkualitas masih rendah. pada penyimpanan benih jagung selama 30,
Tidak semua benih yang diperoleh 60 dan 90 hari.
habis ditanam dalam satu periode penanaman,
untuk itu perlu dilakukan penyimpanan benih METODOLOGI
dengan baik agar dapat tahan lama dan
kualitasnya tidak menurun. Faktor yang Penelitian dilakukan dalam 2 tahap
paling penting diperhatikan saat penyimpanan yaitu tahap penyimpanan yang berlangsung di
adalah benih harus dalam kondisi kering Kelurahan Benteng, Kecamatan Nusaniwe,
Kota Ambon dan dilanjutkan dengan
52
Agrologia, Vol. 1, No. 1, April 2012. Hal. 51-59

pengujian viabilitas dan vigor di Rumah Kaca kedalam kemasan plastik yang telah diisi
Fakultas Pertanian Universitas Pattimura. dengan benih kemudian plastik kemasan
Benih jagung yang digunakan adalah varietas ditutup rapat, setelah itu di berikan pelabelan
lokal Telaga Kodok memiliki daya tumbuh dan diletakkan dalam kotak penyimpanan
minimum 80%, abu dari hasil pembakaran sesuai tata letak satuan percobaan.
kayu Kasuari, dan pupuk kandang ayam. Untuk pengujian viabilitas benih di-
tanam sebanyak 50 butir dengan jarak tanam
Rancangan Percobaan 5 x 5 cm tiap satuan percobaan dalam bak
Rancangan yang digunakan adalah perkecambahan. Sedangkan untuk pengujian
rancangan acak lengkap faktorial dua faktor vigor cara penanaman sama dengan viabilitas
dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah tetapi setelah benih ditanam kemudian
dosis desikan (D) yang terdiri dari 6 taraf ditutupi dengan pecahan batu bata yang
yaitu : D0 = 0 % (kontrol), D1 = 5 %, D2 = diletakkan pada permukaan tanah dalam bak
10 %, D3 = 15 %, D4 = 20 %, D5 = 25 %. perkecambahan setebal 2-3 cm. Penanaman
Faktor kedua adalah lama simpan (S) yang benih dilakukan setelah penyimpanan selama
terdiri dari 3 taraf yaitu : S1 = lama simpan 30 30, 60 dan 90 hari yakni benih di tanam di
hari, S2 = lama simpan 60 hari, S3 = lama dalam bak perkecambahan berukuran 60 x 40
simpan 90 hari. Masing-masing kombinasi x 10 cm yang berisi campuran tanah dan
perlakuan diulang tiga kali. pupuk kandang dengan perbandingan 5 : 1.

Pelaksanaan Penelitian Respon Pengamatan


Benih Jagung yang telah dikeringkan
a. Daya Kecambah
diukur kadar air awalnya (10%), setelah itu Daya kecambah ditentukan dengan
benih dimasukkan ke dalam kemasan menghitung jumlah benih yang ber-
kantong plastik berukuran 9 x 21 cm kecambah normal selama jangka waktu 7
sebanyak 250 g. Desikan dimasukkan ke hari. Dengan menggunakan rumus ISTA
dalam wadah berupa kantung yang terbuat (1972) dalam Kuswanto (1996).
dari kain kasa dan selanjutnya dimasukan

Jumlah kecambah normal yang dihasilkan


Daya kecambah x 100%
Jumlah contoh benih yang di uji

b. Laju Perkecambahan untuk munculnya radikel atau plumula


Laju perkecambahan ditentukan dengan selama jangka waktu tertentu (7 hari).
menghitung jumlah hari yang diperlukan Menurut Sutopo (1985).

N1T1 N2T2 NxTx


LP
Jumlah total benih yang berkecambah
Keterangan :
LP = Laju perkecambahan
N = Jumlah benih yang berkecambah pada satuan waktu tertentu
T = Jumlah waktu antara awal pengujian sampai dengan akhir dari interval tertentu
suatu pengamatan.

c. Indeks Kecepatan Perkecambahan Copeland, (1979) dalam Kartasapoetra


Indeks kecepatan perkecambahan dihitung (2003) :
menggunakan rumus seperti yang kemuka-
kan oleh Kotowski (1972) dan L.O. I. V

53
Lesilolo dkk, 2012. Penggunaan Desikan Abu

dimana : 5. Kecepatan Tumbuh Benih


I.V = Indeks vigor Kecepatan tumbuh benih dihitung
G = Jumlah benih yang berkecambah pada menggunakan rumus menurut Sadjad (1993)
hari tertentu t
D = Waktu yang bersesuaian dengan jumlah KCT = d
tertentu 0

n = Jumlah hari pada perhitungan terakhir dimana :


KCT = Kecepatan Tumbuh
4. Keserempakan Tumbuh Benih (%) t = Waktu Perkecambahan
Keserempakan tumbuh benih dihitung d = Presentase kecambah normal setiap
dengan menggunakan persentase kecambah waktu pengamatan
normal kuat pada hitungan antara pengamatan
I dan II (hari ke-4), menurut Sadjad (1993) HASIL DAN PEMBAHASAN
dengan rumus :
KST x 100% Hasil analisis statistik untuk melihat
pengaruh desikan abu dan lama simpan
dimana : terhadap kualitas benih jagung secara umum
KST = Keserampakan tumbuh dapat dilihat pada Tabel 1.
KK = Jumlah kecambah kuat
TB = Total benih yang dianalisis

Tabel 1. Hasil Analisis Keragaman Untuk Semua Peubah yang diamati dari Perlakuan
Penggunaan Desikan Abu dan Lama Simpan Terhadap Kualitas Benih Jagung (Zea
mays L) pada Ruang Terbuka.

Lama Simpan Desikan Interaksi


No Rspons Pengamatan
(S) (D) (SxD)
1. Kadar Air Setelah Penyimpanan * * *
2. Daya Kecambah * tn tn
3. Laju Perkecambahan tn tn tn
4. Indeks Kecepatan Perkecambahan tn tn tn
5. Keserempakan Tumbuh Benih * tn tn
6. Kecepatan Tumbuh Benih * * tn
Keterangan : * = nyata, tn = tidak nyata

A. Pengaruh Desikan bahan desikan, misalnya kapur tohor, silica


Hasil analisis keragaman, menunjuk- gel, calcium chloride, unslaked lime, char-
kan bahwa perlakuan desikan abu memberi- coal, ataupun beras yang telah dibersihkan
kan pengaruh nyata pada peubah kadar air (polished). Namun apabila penyimpanan yang
benih setelah penyimpanan dan kecepatan diinginkan kurang dari tiga bulan, maka
tumbuh benih tetapi tidak memberikan tidak perlu diberikan tambahan desikan
pengaruh pada peubah daya kecambah, laju (Kuswanto, 2003).
perkecambahan, index kecepatan perkecam- Hampir semua desikan tidak merusak
bahan dan keserempakan tumbuh benih. benih tetapi kapur dapat melukai beberapa
Desikan adalah bahan yang diperlukan untuk spesies benih seperti Oryza sativa, Phaseolus
menjaga agar benih tetap dalam kondisi radiata serta Vicia sativa (Nakajima, 1927
kering. Jika RH lebih tinggi dari 60% dan dalam Justice dan Bass, 1990). Kalsium
suhu lebih besar dari 30oC, maka ke dalam Oksida tidak meningkatkan masa hidup
jagung manis varietas Golden Cross
botol penyimpan benih perlu ditambahkan
54
Agrologia, Vol. 1, No. 1, April 2012. Hal. 51-59

Bantam (Edmond, 1959 dalam Justice dan (1985) menyebutkan bahwa untuk
Bass, 1990). Desikan yang digunakan dalam penyimpanan jangka pendek apabila
penelitian ini adalah abu yang mengandung temperatur dan kelembaban nisbi lingkungan
Ca (kalsium) yang dapat mengikat uap air simpan 200C dan 50% maka kadar air
dalam benih sehingga kadar air tetap terjaga maksimum untuk benih serealia 12% dan
selama penyimpanan. Penggunaan desikan benih berminyak 8%. Sedangkan pada
yang diberikan dalam kemasan benih kondisi lingkungan simpan 20oC dan 60%,
diharapkan dapat memper-tahankan kadar air kadar air maksimum untuk benih-benih
benih tetap rendah selama penyimpanan tersebut masing-masing 13% dan 9.5%.
(Mugnisjah dkk, 1994). Dengan kadar air Harrington (1972) dalam Justice dan Bass
yang terjaga maka benih tersebut mampu (1990), mengemukakan kaidah yang
mempertahankan viabilitas dan vigor untuk menyatakan bahwa untuk kenaikan 1% dari
dapat digunakan pada saat diperlukan kandungan air benih maka umur benih akan
(Kartasapoetra, 2003). menjadi setengahnya. Hal ini berlaku untuk
Kadar air awal benih yang digunakan kadar air benih antara 5% dan 14%.
sebelum penyimpanan adalah 10 %. Sutopo

Tabel 2. Penggunaan Desikan Abu terhadap Kadar Air dan Kecepatan Tumbuh Benih Jagung
(Zea mays L) pada Ruang Terbuka

Desikan Kadar Air (%) Kecepatan Tumbuh(%)


0 % (D0) 12.04 c 21.06 b
5% (D1) 12.12 bc 23.41 ab
10% (D2) 12.22 ab 23.98 ab
15 % (D3) 12.20 ab 24.84 ab
20% (D4) 12.16 abc 24.71 ab
25 (D5) 12.31 a 23.84 a
BNT 0.05 0.27 3.74
Keterangan : angka-angka yang diikuti dengan huruf yang sama tidak berbeda menurut Uji BNT 0.05

Berdasarkan hasil uji beda pada Terkait dengan penggunaan desikan maka
Tabel 2, menunjukkan bahwa perlakuan desikan abu bersifat higroskopis sehingga
penggunaan desikan D3 dengan dosis 15% dapat menyerap dan menahan uap uap air
pada peubah kecepatan tumbuh benih didalam benih selama penyimpanan.
memberikan nilai tertinggi yaitu 24.84% Penggunaan desikan merupakan salah satu
dibandingkan dengan perlakuan tanpa desikan usaha mengeringkan benih. Pengeringan
(D0) terendah 21.06%. Sedangkan peng- benih merupakan proses perpindahan air dari
gunaan desikan dengan dosis 25% mem- dalam benih ke permukaan benih, dan
berikan pengaruh terhadap kadar air benih kemudian air yang di permukaan benih
yakni terjadi peningkatan kadar air setelah tersebut akan diuapkan jika RH ruangan lebih
penyimpanan sebesar 12.31% dibandingkan rendah. Proses ini akan terjadi hingga
dengan perlakuan tanpa desikan (D0) 12.04% keseimbangan kadar air benih dengan RH
Kadar air benih sangat dipengaruhi oleh lingkungannya tercapai (Kuswanto, 2003).
kondisi RH ruang tempat penyimpanan benih,
sehingga apabila ruangan tempat B. Pengaruh Lama Penyimpanan
penyimpanan benih mempunyai kadar air Selama dalam penyimpanan, kadar air
yang lebih tinggi daripada kadar air benih benih merupakan salah satu faktor yang
maka benih akan menyerap air dari udara
sangat mempengaruhi daya simpan benih.
sehingga kadar air benih juga meningkat.
55
Lesilolo dkk, 2012. Penggunaan Desikan Abu

Oleh karena itu, pada waktu panen benih, laju respirasi akan semakin rendah
diusahakan benih yang dipanen merupakan pula, sehingga benih dapat disimpan lebih
benih yang telah masak fisiologis, dengan lama karena laju deteriorisasinya lambat.
kadar air rendah, atau jika pada waktu panen Namun kadar air benih yang terlalu rendah
kadar air masih tinggi, maka benih tersebut justru dapat menyebabkan benih menjadi
harus segera dikeringkan terlebih dahulu pecah atau mudah mengalami kerusakan
sebelum akhirnya disimpan. Kadar air yang (Kuswanto, 2003).
tinggi pada waktu panen dapat mempengaruhi Hasil penelitian dan analisis
daya simpan benih, karena benih ini mudah keragaman pada Tabel 1, menunjukkan
mengalami kerusakan pada waktu panen, bahwa lama penyimpanan sangat berpengaruh
perontokan, pengolahan dan penanganan terhadap viabilitas dan vigor benih jagung
lebih lanjut. Pada waktu benih diproses kadar pada semua peubah amatan kecuali peubah
air benih dikurangi hingga tahap tertentu yang laju perkecambahan dan keserempakan
aman untuk penyimpanan. Penurunan kadar tumbuh benih.
air benih ini bertujuan untuk menekan laju
respirasi benih. Semakin rendah kadar air

Tabel 3. Pengaruh Lama Simpan Terhadap Kadar Air (KA) Benih setelah penyimpanan, Daya
Kecambah (DK), Keserempakan Tumbuh (KST) dan Kecepatan Tumbuh (KCT) Benih
Jagung (Zea mays L) pada Ruang Terbuka.

Perlakuan Lama Rataan Pengamatan


Simpan KA (%) DK (%) KST (%) KCT (%)
S1 11.77 c 100.00 a 51.66 b 28.71 a
S2 12.43 a 93.66 a 66.77 a 22.40 b
S3 12.31 b 82.77 b 47.22 b 19.81 b
BNT 0.05 0.10 8.59 10.41 2.65
Keterangan: angka-angka yang diikuti dengan huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut uji
BNT 0.05

Dalam penyimpanan benih perlu dan lama simpan 90 hari daya kecambah
diperhatikan faktor lingkungan seperti menurun menjadi 82.775%. Semakin lama
kelembaban, suhu, cahaya dan lain-lain. simpan daya kecambah benih semakin
Faktor-faktor ini akan sangat mempengaruhi menurun, namun masih menunjukkan hasil
kualitas benih. Kelembaban yang terlalu yang tinggi. Lama penyimpanan tidak
tinggi akan menyebabkan benih ber- memberikan pengaruh terhadap peubah LP
kecambah. Oleh sebab itu, faktor lingkungan dan IKP (Tabel 3)
harus dikontrol sedemikian rupa agar benih Kadar air benih setelah penyimpanan
tidak berkecambah atau mengalami degradasi 60 hari relatif tinggi yaitu sebesar 12.43%.
kualitas benih. Pada umumnya semakin lama hal ini diduga karena terjadi keseimbangan
benih disimpan maka viabilitasnya akan antara kadar air di dalam benih dan ruang
semakin menurun. Mundurnya viabilitas penyimpanan sehingga kadar air meningkat,
benih merupakan proses yang berjalan atau mungkin juga terjadi perubahan iklim
bertingkat dan kumulatif akibat perubahan selama penyimpanan yang mengakibatkan
yang terjadi di dalam benih (Widodo, 1991). suhu dan kelembaban udara dalam ruang
Terkait dengan hal tersebut terlihat bahwa penyimpanan tidak konstan. Kadar air benih
hasil penelitian yang didapatkan yaitu lama akan selalu melakukan keseimbangan dengan
simpan 30 hari daya kecambah adalah 100%, udara disekitar, dan keseimbangan tersebut
lama simpan 60 hari daya kecambah 93.66%, akan tercapai apabila tidak ada lagi uap air
56
Agrologia, Vol. 1, No. 1, April 2012. Hal. 51-59

yang bergerak dari udara ke benih atau benih sebagai kelompok individu dalam suatu
sebaliknya dari benih ke udara (Justice dan lot memanfaatkan cadangan energi dalam
Bass, 1990). Suhu udara selama penyimpanan masing-masing benih untuk tumbuh menjadi
benih jagung antara 230 C sampai 280 C kecambah atau kuat secara serempak (Sadjad
dengan hari hujan hampir setiap hari selama dkk, 1999). Dalam keserempakan termasuk
penyimpanan. Pengaruh lama simpan unsur waktu dan kinerja fisiologis. Energi itu
terhadap kadar air benih menunjukkan bahwa berasal dari glukosa yang dalam respirasi
nilai tertinggi didapatkan pada lama simpan dirombak menjadi ATP. Pada umumnya
60 hari yaitu 12.43% dan berbeda nyata benih yang rendah vigornya kurang bisa
dengan lama simpan 30 hari dan 90 hari. memanfaatkan energi dibanding dengan vigor
Walaupun kadar air lama simpan 60 hari yang lebih tinggi (Sadjad dkk, 1999). Vigor
tinggi, namun hasil pengujian daya kecambah benih sewaktu disimpan merupakan faktor
memberikan nilai yang tinggi sebesar penting yang mempengaruhi umur
95.44%. Hasil ini menunjukkan bahwa kadar simpannya, penurunan vigor dan viabilitas
air sebesar 12.43 % masih aman untuk kadang digambarkan dengan suatu kurva
penyimpanan benih jagung. Hal ini sejalan yang sigmoid. Kurva vigor sangat mirip
dengan pendapat dari Purwono (2008), yang dengan kurva viabilitas, hanya saja
mengemukakan bahwa kadar air dibawah kehilangan vigor mendahului kehilangan
14% masih aman untuk penyimpanan jagung. viabilitasnnya (Justice dan Bass, 1990).
Berdasarkan hasil uji beda rataan pada Kecepatan tumbuh benih merupakan
Tabel 3, peubah keserempakan tumbuh benih proses reaktivasi benih cepat apabila kondisi
perlakuan lama simpan 60 hari memberikan sekeliling untuk tumbuh optimum dan proses
hasil tertinggi 67.77% dan berbeda nyata metabolisme tidak terhambat. Kecepatan
dengan perlakuan lama simpan 30 hari tumbuh dapat diungkapkan sebagai tolok
(51.66%) dan 90 hari (47.22%). Sedangkan ukur waktu yang diperlukan untuk mencapai
peubah kecepatan tumbuh benih pada perkecambahan satu ethmal 50 persen.
perlakuan lama simpan 30 hari (28.71%) Sedangkan keserempakan tumbuh meng-
memberikan hasil yang relatif baik dan indikasikan vigor daya simpan, karena
berbeda nyata dengan lama simpan 60 hari keserampakan tumbuh menunjukkan korelasi
(22.40%) dan lama simpan 90 hari (19.81%). dengan daya simpan. Artinya bahwa
Berdasarkan hasil beda rataan hal ini keserempakan tumbuh yang tinggi meng-
menunjukkan benih tersebut tergolong dalam indikasikan daya simpan kelompok benih
benih yang memiliki vigor kuat. Menurut yang tinggi pula. Benih yang mempunyai
Sadjad (1993) keserempakan tumbuh benih kecepatan tumbuh dan keserempakan tumbuh
yang baik berkisar antara 40% 70%, yang tinggi memiliki tingkat vigor yang
sedangkan kecepatan tumbuh yang baik tinggi (Sadjad dkk, 1999).
berkisar antara 25% - 30%.
Benih yang vigornya baik/tinggi yaitu C. Pengaruh Interaksi Antara Penggunaan
benih yang cepat tumbuhnya dan Desikan Abu dan Lama Penyimpanan
serempak/seragam., karena benih yang cepat Terhadap Viabilitas dan Vigor Benih
tumbuhnya dan serempak mengindikasikan jagung
bahwa benih tersebut mampu untuk
beradaptasi dengan keadaan lingkungan. Hasil analisis ragam pada Tabel 4,
Ketidakserempakkan tumbuh dapat diakibat- menunjukkan bahwa interaksi penggunaan
kan oleh sifat genetik yang tidak sama, atau desikan (D) dan lama simpan (S) tidak
oleh kondisi lingkungan yang tidak homogen. memberikan pengaruh nyata terhadap semua
Keserempakan tumbuh sejumlah benih yang peubah amatan, kecuali pada peubah kadar air
ditanam baik pada media pengujian maupun benih. Hal ini diduga mungkin disebabkan
di lahan produksi, terkait pada kemampuan karena perlakuan yang memberikan pengaruh
57
Lesilolo dkk, 2012. Penggunaan Desikan Abu

terpisah sehingga, desikan dan lama kelembaban ruang penyimpanaan. Sehingga


penyimpanan tidak saling menunjang dalam apabila ruangan tempat penyimpanan benih
mempengaruhi peubah-peubah yang diamati. mempunyai kadar air yang lebih tinggi
Berdasarkan data pada Tabel 4 daripada kadar air benih, maka benih akan
menunjukkan bahwa interakasi antara desikan menyerap air dari udara akibatnya kadar air
dengan lama simpan terhadap nilai peubah benih meningkat.
kadar air benih cenderung meningkat sejalan .Ada beberapa faktor yang mem-
dengan bertambahnya waktu penyimpanan pengaruhi viabilitas benih dalam penyim-
Kadar air terendah pada perlakuan SoDo panan yaitu faktor dalam yang meliputi jenis
(11.53% ) dan tertinggi pada perlakuan S2D5 dan sifat benih, viabilitas awal dan kadar air
(12.73%). Diduga bahwa akibat kondisi cuaca benih, sedangkan faktor luar meliputi
yang tidak konstan mempengaruhi suhu dan kelembaban, temperatur, gas disekitar benih
kelembaban ruang penyimpanan . Kadar air dan mikroorganisme (Sutopo, 1985).
benih sangat dipengaruhi oleh kondisi

Tabel 4. Pengaruh Penggunaan Desikan Abu dan Lama Simpan terhadap Kadar Air Benih
Jagung (Zea mays L) Setelah Penyimpanan pada Ruang Terbuka

Dosis Desikan Lama Simpan (hari)


(%) 30 (S1) 60 (S2) 90 (S3)
0 (D0) 11,53 a 12,53 bc 12,13 a
A B C
5 (D1) 11,73 ab 12,63 c 12,03 a
A B C
10 (D2) 11,93 b 12,23 a 12,53 b
A B C
15 (D3) 11,83 b 12,33 a 12,43 b
A B B
20 (D4) 11,93 b 12,23 a 12,43 b
A B B
25 (D5) 11,83 b 12,73 c 12,43 b
A B C
Ketarangan: Angka yang diikuti dengan huruf berbeda menunjukan perbedaan secara signifikan menurut
Uji BNT 0,05. Huruf kapital dibaca horizontal dan huruf kecil dibaca vertical.

Benih merupakan suatu kehidupan dengan kadar air tinggi ditempatkan dalam
yang bersifat hygroskopis dan selalu ingin ruangan dengan kelembaban rendah maka
memiliki kadar air yang seimbang dengan benih akan menguapkan airnya hingga
kondisi sekitarnya. Hal ini berarti apabila tercapai keseimbangan. Beberapa hasil
benih dikeringkan hingga kadar air tertentu penelitian menunjukan bahwa benih yang
(rendah) dan setelah dikeringkan ditempatkan disimpan tertutup bersama-sama dengan
dalam ruangan dengan kelembaban (RH) desikan dapat hidup lebih lama dibandingkan
tinggi, maka benih akan menyerap air dari yang disimpan tertutup tanpa desikan (Justice
udara hingga tercapai keseimbangan. dan Bass, 1990).
Demikian pula sebaliknya, apabila benih

58
Agrologia, Vol. 1, No. 1, April 2012. Hal. 51-59

Penggunaan desikan dapat memberi- Kartasaputra, A.G. 2003. Teknologi benih,


kan keuntungan ekonomis untuk penyim- Pengolahan Benih dan Tuntunan
panan jangka panjang. Tetapi tanpa hasil Praktium. Bina Akasara, Jakarta.
penelitian tidak dapat menduga seberapa jauh Kuswanto, H. 1996. Dasar-dasar Teknologi,
kemampuannya untuk dapat mempertahankan Produksi dan Sertifikasi Benih.
viabilitas benih yang disimpan lama dalam Penerbit Andi, Yogyakarta.
wadah kedap uap air dan tertutup rapat, sebab
bagi benih yang kering mungkin desikan Kuswanto, H. 2003. Teknologi Pemrosesan,
tidak mempunyai arti apa-apa. Desikan dapat Penemasan dan Penyimpanan Benih.
menguntungkan bila digunakan bersama- Kanisius, Yogyakarta.
sama dengan penggunaan bahan pengemas Mugnisjah,W.Q., Setiawan. A., Susanto dan
lentur yang mempunyai kualitas penghalang C. Santiwa, 1994. Panduan Praktikum
uap airnya tiidak terlalu tinggi (Justice dan dan Penelitian Bidang Ilmu dan
Bass, 1990). Teknologi Benih. PT Raja Grafindo,
Jakarta.
KESIMPULAN
Pramono, E. 2010. Penggunaan Kapur Tohor,
1. Penggunaan desikan hanya memberikan Arang Kayu, Dan Abu Sekam Untuk
pengaruh terhadap Kadar air benih Memperpanjang Daya Simpan Benih
(12.31%) dan parameter vigor kecepatan Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.)
tumbuh benih (24.84%). Pros. Seminar Hasil-hasil Penelitian
2. Penggunaan desikan dengan lama simpan Dosen Univ. Lampung. Bandar
90 hari mampu mempertahankan kadar air Lampung.
benih (12.43%), parameter viabilitas Purwono. 2008. Bertanam Jagung Unggul,
benih yaitu daya kecambah (100%), dan Penerbit Swadaya, Jakarta.
vigor benih meliputi keserempakan
tumbuh benih (66.77%) dan kecepatan Sadjad, S. 1993. Dari Benih kepada Benih,
tumbuh benih (28.71%). PT Grasindo, Jakarta.
3. Interaksi antara perlakuan penggunaan Sadjad, S., Muniati. E dan S. Ilyas 1999.
desikan abu dan perlakuan lama Parameter Pengujian Vigor Benih dari
penyimpanan tidak memberikan pengaruh Komparatif ke Simulatif. PT
terhadap viabilitas dan vigor benih jagung Grasindo, Jakarta.
(Zea mays L) tetapi berpengaruh terhadap
Sutopo, L. 1985. TeknologiBenih, CV
kadar air benih setelah penyimpanan.
Rajawali, Jakarta.
DAFTAR PUSTAKA Widodo, W. 1991. Pemilihan Wadah Simpan
dan bahan Pencampur pada
BPS Maluku. 2005-2009. Produktivitas Dan Penyimpanan Benih Mahoni. Balai
Produksi Jagung, Maluku. Teknologi Perbenihan Bogor.
BPS Nasional, 2009. Produksi Jagung Tidak Warisno. 1998. Jagung Hibrida, Seri Budi
Mencapai Target. Artikel, Bataviase. Daya, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Justice, O. L dan L. N. Bass. 1990. Prinsip
dan Praktek Penyimpanan benih, alih
Bahasa R. Roesly, C. V. Rajawali,
Jakarta.

59