Anda di halaman 1dari 67

UPAYA MENINGKATKAN KEAKTIFAN SISWA DALAM

PEMBELAJARAN AQIDAH AKHLAK MELALUI METODE


INFORMATION SEARCH PADA SISWA KELAS IX
MTs MAARIF NU 1 KARANGLEWAS KABUPATEN BANYUMAS
TAHUN PELAJARAN 2010/2011

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat


guna Memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam
dalam Ilmu Pendidikan Agama Islam

Disusun Oleh:

Alfiatul Hasanah Rosyid


073111481

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2011
ABSTRAK

Alfiatul Hasanah Rosyid (NIM. 073111481). Upaya Meningkatkan Keaktifan


Siswa Dalam Pembelajaran Aqidah Akhlak Melalui Metode Information Search
Pada Siswa Kelas IX MTs Maarif NU 1 Karanglewas Kabupaten Banyumas
Tahun Pelajaran 2010/2011. Skripsi. Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN
Walisongo Semarang, 2011.

Banyaknya siswa yang tidak aktif dalam pembelajaran disebabkan salah


satunya karena proses pembelajaran selama ini belum melibatkan siswa secara
aktif oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah
meningkatkan aktifitas siswa dalam pembelajaran aqidah akhlak melalui metode
information search pada siswa kelas IX MTs Maarif NU 1 Karanglewas
Kabupaten Banyumas tahun pelajaran 2010/2011.
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari dua
siklus dan melibatkan empat komponen yakni: Planning (rencana), Action
(tindakan), Observation (pengamatan), Reflection (refleksi). Subyek dalam
penelitian ini adalah siswa kelas IX MTs Maarif NU 1 Karanglewas Kabupaten
Banyumas yang berjumlah 34 siswa. Metode pengumpulan data menggunakan
observasi dan dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan metode
statistik deskriptif.
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa metode information search dalam
pembelajaran Aqidah Akhlak mampu meningkatkan aktivitas belajar Aqidah
Akhlak siswa kelas IX MTs Maarif NU I Karanglewas Kabupaten Banyumas
tahun pelajaran 2010/2011. Pada siklus I prosentase keaktifan siswa sebesar 70%
dengan kategori baik, sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 80% dengan
kategori baik sekali. Disamping itu, prestasi belajar Aqidah Akhlak siswa juga
mengalami peningkatan setelah diterapkannya metode information search. Hal ini
terlihat dari prosentase ketuntasan belajar secara klasikal yaitu pada siklus I
sebesar 79,41%, dan pada siklus II sebesar 94,12%.Berdasarkan hasil penelitian
ini maka pembelajaran Cooperative Learning Tipe STAD (Student Teams
Achievement Division) dapat meningkatkan hasil belajar Fsika pada Materi
Pokok Cahaya siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Gubug semester II tahun pelajaran
2007/2008.
Hasil penelitian tersebut dapat digunakan sebagai bahan rujukan bagi
guru untuk meningkatkan aktifitas belajar peserta didik.

ii
Semarang, Maret 2011
NOTA DINAS

Kepada
Yth. Dekan Fakultas Tarbiyah
IAIN Walisongo
di Semarang

Assalamualaikum wr. wb.

Dengan ini diberitahukan bahwa saya telah melakukan bimbingan, arahan dan
koreksi naskah skripsi dengan:

Judul : Upaya Meningkatkan Keaktifan Siswa Dalam Pembelajaran


Aqidah Akhlak Melalui Metode Information Search Pada Siswa
Kelas IX MTs Maarif NU 1 Karanglewas Kabupaten Banyumas
Tahun Pelajaran 2010/2011
Nama : Alfiatul Hasanah Rosyid
NIM : 073111481
Jurusan : Pendidikan Agama Islam
Program Studi : Pendidikan Agama Islam

Saya memandang bahwa naskah skripsi tersebut sudah dapat diajukan kepada
Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo untuk diujikan dalam Sidang Munaqosah.

Wassalamualaikum wr. wb.

Pembimbing,

Ahmad Ismail, M.Ag.


NIP. 19670208 199703 1 001

iii
KEMENTERIAN AGAMA RI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
FAKULTAS TARBIYAH
Jl. Prof. Dr. Hamka (Kampus II) Ngaliyan Semarang
Telp. 024-7601295 Fax. 7615387

PENGESAHAN SKRIPSI

Naskah skripsi dengan:


Judul : Upaya Meningkatkan Keaktifan Siswa Dalam
Pembelajaran Aqidah Akhlak Melalui Metode
Information Search Pada Siswa Kelas IX MTs
Maarif NU I Karanglewas Kabupaten Banyumas
Tahun Pelajaran 2010/2011
Nama : Alfiatul Hasanah Rosyid
NIM : 073111481
Jurusan : Pendidikan Agama Islam
Program Studi : Pendidikan Agama Islam
telah diujikan dalam sidang munaqasah oleh Dewan Penguji Fakultas
Tarbiyah IAIN Walisongo dan dapat diterima sebagai salah satu syarat
memperoleh gelar sarjana dalam Ilmu Pendidikan Agama Islam.

iv
v
MOTTO

( : )

Dan Dia menundukkan untukmu malam dan siang, matahari dan


bulan, bintang-bintang di langit itu tunduk di bawah perintah-Nya.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda
(kekuasaan Allah) bagi kaum yang menggunakan akal.
(QS. An-Nahl: 12) 1

1
Soenarjo, Al-Quran dan Terjemahnya, (Semarang: Toha Putra, 1989), hlm. 405

vi
PERSEMBAHAN

Ku persembahkan karya ini untuk :

Bapak H. Sowidi Rosyid dan ibu Hj. Aisyah,


Suamiku Machfud Abdullah
Anak-anakku Laila Fauqi Baroroh dan
Muhammad Dafa Wisnu Galih
Keluarga besarku

vii
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim,

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah Swt yang telah memberikan
rahmat, hidayat, taufiq dan inayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
penelitian ini dengan baik. Pada akhirnya bisa digunakan sebagai salah satu syarat
guna memperoleh nilai akhir munaqosah sebagai salah satu syarat kelulusan.
Demikian juga shalawat serta salam semoga terabadikan bagi baginda Rasul
Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya.
Dengan senantiasa memanjatkan rasa syukur atas segala rahmat yang telah
diberikan, serta bantuan, arahan sekaligus bimbingan dari berbagai pihak sehingga
dapat terselesaikannya penelitian ini, maka penulis menyampaikan rasa terima
kasih kepada yang terhormat :
1. Dr. Sujai, M.Ag., selaku Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo
Semarang.
2. Ahmad Ismail, M.Ag. selaku dosen pembimbing yang telah bersedia
meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk memberikan pengarahan selama
masa bimbingan hingga selesainya penulisan skripsi ini.
3. Kepala MTs Maarif NU 1 Karanglewas Kabupaten Banyumas yang telah
memberikan izin untuk peneliti melaksanakan penelitian.
4. Segenap dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang yang telah
memberikan bekal berbagai ilmu pengetahuan kepada penulis selama di
bangku perkuliahan.
5. Bapak Kepala Perpustakaan IAIN Walisongo yang telah mempermudah dalam
mendapatkan buku-buku kepustakaan.
6. Semua pihak yang telah membantu dalam penelitian ini.
Semoga amal baik mereka di atas mendapatkan balasan dan yang lebih dari
Allah Swt.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan penelitian ini, masih banyak
kekurangan dan kesalahan, baik dari segi isi dan penulisan. Oleh karena itu,

viii
penulis akan sangat berbahagia apabila pembaca senantiasa memberikan kritik
dan saran demi kesempurnaan penelitian ini.
Akhirnya mudah-mudahan karya tulis ini dapat bermanfaat bagi penulis,
dunia pendidikan dan pembaca pada umumnya.

Semarang, Maret 2011


Penulis

Alfiatul Hasanah Rosyid


NIM. 073111481

ix
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i


ABSTRAK ...................................................................................................... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................................... iii
PENGESAHAN PENGUJI ............................................................................. iv
DEKLARASI .................................................................................................. v
MOTTO .......................................................................................................... vi
PERSEMBAHAN ........................................................................................... vii
KATA PENGANTAR .................................................................................... viii
DAFTAR ISI ................................................................................................... ix

BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ....................................................... 1
B. Identifikasi Masalah ............................................................. 3
C. Penegasan Istilah ................................................................... 4
D. Rumusan Masalah.................................................................. 5
E. Tujuan Penelitian ................................................................... 5
F. Manfaat Penelitian ................................................................ 5
G. Hipotesis .............................................................................. 6

BAB II : KEAKTIFAN PESERTA DIDIK DALAM


PEMBELAJARAN AQIDAH AKHLAK DAN METODE
INFORMATION SEARCH
A. Keaktifan Belajar.................................................................. 7
1. Pengertian Keaktifan Belajar ........................................ 7
2. Bentuk-bentuk Keaktifan Belajar .................................. 7
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Aktivitas Belajar .. 11
B. Pembelajaran Aqidah Akhlak............................................... 16
1. Pengertian Pelajaran Aqidah Akhlak ................................ 16
2. Tujuan dan Ruang Lingkup Mata Pelajaran Aqidah
Akhlak di MTs .................................................................. 17

x
C. Metode Information Search ................................................ 18
1. Pengertian Metode Information Search ........................ 18
2. Implementasi Metode Information Search ..................... 21
D. Kerangka Berpikir ................................................................ 22

BAB III : METODE PENELITIAN


A. Jenis Penelitian .................................................................... 24
B. Setting dan Subyek Penelitian ............................................. 24
C. Variabel Penelitian .............................................................. 25
D. Desain Penelitian ................................................................. 26
E. Metode Pengumpulan Data ................................................. 30
F. Teknik Analisis Data ........................................................... 31
G. Indikator Keberhasilan ........................................................ 30

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Observasi Awal .......................................................... 33
B. Hasil Penelitian ................................................................... 34
C. Pembahasan ......................................................................... 44

BAB V : PENUTUP
A. Kesimpulan ......................................................................... 51
B. Saran-saran........................................................................... 52
C. Penutup................................................................................. 53

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN

xi
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Aktivitas belajar bagi setiap individu selamanya berlangsung secara
wajar kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak, kadang-kadang dapat cepat
menangkap apa yang sedang dipelajari, kadang-kadang terasa sulit untuk
memahami dalam hal semangat kadang semangatnya tinggi, tetapi terkadang
juga sulit untuk mengadakan konsentrasi. Kenyataan yang demikian sering
kita jumpai pada setiap anak didik, dalam kehidupan sehari-hari dalam
kaitannya dengan aktivitas belajar.
Pembelajaran merupakan suatu proses yang kompleks dan melibatkan
berbagai aspek yang saling berkaitan. Oleh karena itu untuk menciptakan
pembelajaran yang kreatif, dan menyenangkan, diperlukan keterampilan. Di
antaranya adalah keterampilan membelajarkan dan keterampilan mengajar.1
Namun dalam menciptakan pembelajaran yang baik ini tentunya disesuaikan
dengan budaya dan sumber-sumber yang dimilikinya, dengan sedikit inovasi
dari pendidik untuk menjadikannya sebagai metode pembelajaran yang
berdayaguna, termasuk dalam pembelajaran Aqidah Akhlak.
Mengingat pembelajaran Aqidah Akhlak ini sangat penting bagi
petunjuk hidup dan kehidupan peserta didik maka guru berupaya untuk
memilih, menetapkan, dan mengembangkan metode-metode pembelajaran
yang memungkinkan dapat memungkinkan dapat membantu kemudahan,
kecepatan, kebiasaan dan kesenangan peserta didik untuk mempelajari Aqidah
Akhlak ini di sesuaikan dengan kebutuhan dari peserta didik, sehingga dapat
menarik minat peserta didik untuk mempelajarinya.
Selama ini sering kita jumpai metode ceramah masih dominan
digunakan para pendidik dalam menyampaikan materi pelajaran, juga adanya
ketidakaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran terutama mata pelajaran

1
E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional; Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan
Menyenangkan, (Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, 2005), hlm. 69

1
2

Aqidah Akhlak. Siswa sekedar mengikuti pelajaran yang diajarkan guru di


dalam kelas, yaitu dengan hanya mendengar ceramah dan mengerjakan soal
yang diberikan oleh guru tanpa adanya respon, kritik dan pertanyaan siswa
kepada guru sebagai feed back atau umpan balik. Demikian juga guru hanya
mengejar waktu mengingat harus mengajarkan materi yang cukup banyak
tetapi dengan jam pengajaran yang disediakan cukup singkat, tanpa
mempedulikan siswanya paham atau tidak, Sehingga hal ini menjadikan siswa
kurang tertarik mengikuti mata pelajaran Aqidah Akhlak.
Jika permasalahan tersebut masih berlangsung terus menerus maka
akan mengakibatkan aktivitas dan kreativitas siswa dalam kegiatan belajar
mengajar terhambat. Siswa akan beranggapan bahwa belajar Aqidah Akhlak
bukanlah kebutuhan, hanya tuntutan kurikulum saja, karena siswa tidak
mendapat makna dari belajar Aqidah Akhlak yang dipelajari. Padahal
pendidikan Aqidah Akhlak di Madrasah Tsanawiyah (MTs) adalah upaya
sadar dan terencana dalam menyiapkan dan mengimani Allah SWT, dan
merealisasikannya dalam perilaku akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari
melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, penggunaan pengalaman,
keteladanan, dan pembiasaan. Oleh karena itu siswa dituntut untuk aktif dalam
kegiatan belajar mengajar. Di samping itu dalam kehidupan masyarakat yang
majemuk dalam bidang keagamaan, pendidikan itu juga diarahkan pada
peneguhan Aqidah di satu sisi dan peningkatan toleransi serta saling
menghormati dengan penganut agama lain dalam rangka mewujudkan
kesatuan dan persatuan bangsa.2
Berdasarkan pengamatan awal terhadap proses belajar mengajar dan
prestasi belajar Aqidah Akhlak di MTs Maarif NU 1 Karanglewas Kabupaten
Banyumas kelas IX tahun ajaran 2009/2010, ditemukan beberapa permasalahan,
diantaranya: 1) Model pembelajarannya masih satu arah (ceramah) belum
bervariasi sehingga pelajaran yang seharusnya dikuasai dengan baik oleh
peserta didik hasilnya kurang optimal hal ini dapat diketahui dari nilai ulangan

2
Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
Khusus Madrasah Tsanawiyah (MTs), (Jakarta: PT Binatama Raya. 2007), hlm. 4
3

harian hanya 39% dari jumlah siswa yang mendapatkan nilai lebih dari 6.5.
sebagai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan. 2) Aktivitas
belajar siswa juga masih rendah yaitu sebagian besar siswa pasif, hal ini
disebabkan karena siswa tidak merasa dilibatkan dalam kegiatan belajar
mengajar.
Untuk mengatasi permasalahan di atas dibutuhkan proses pembelajaran
yang tepat. Salah satu kesulitan siswa dalam mengikuti pembelajaran adalah
disebabkan penggunaan model atau metode pembelajaran yang kurang mendapat
perhatian anak didik, mungkin karena terlalu monoton, kaku, terkesan memaksa,
bahkan tersedianya perangkat pembelajaran yang kurang atau ada tetapi belum
difungsikan. Salah satu metode yang dapat digunakan sebagai alternatif dalam
pembelajaran Aqidah Akhlak adalah metode Information Search. Metode ini
memberikan peluang kepada siswa untuk lebih aktif dalam pembelajaran.
Information search bisa dipahami sebagai metode pembelajaran dengan cara
siswa mencari informasi secara mandiri. Jadi untuk meningkatkan pemahaman
siswa terhadap materi pelajaran, maka mereka harus aktif mencari informasi
yang berkaitan dengan materi yang akan diajarkan.
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas penulis
merasa perlu untuk mengkajinya lebih mendalam kedalam skripsi yang
berjudul UPAYA MENINGKATKAN KEAKTIFAN SISWA DALAM
PEMBELAJARAN AQIDAH AKHLAK MELALUI METODE
INFORMATION SEARCH PADA SISWA KELAS IX MTs MAARIF NU 1
KARANGLEWAS KABUPATEN BANYUMAS TAHUN PELAJARAN
2010/2011.

B. Identifikasi Masalah
Siswa dalam pembelajaran Aqidah Akhlak selama ini cenderung
pasif. Aktifitas pembelajaran berlangsung satu arah, hanya berpusat pada guru,
sedangkan siswa kurang begitu aktif selama proses pembelajaran sedang
berlangsung. Disamping itu metode yang dipakai guru juga tidak mampu
mendorong meningkatkan aktifitas peserta didik dalam pembelajaran.
4

Akhirnya nilai pelajaran Aqidah Akhlak peserta didik cenderung menurun.


Oleh karena itu, aktifitas pembelajaran Aqidah Akhlak peserta didik dapat
ditingkatkan salah satunya dengan menggunakan metode information search.

C. Penegasan Istilah
Untuk menghindari kesalahpahaman dalam menginterpretasikan judul
skripsi ini, maka penulis perlu menjelaskan istilah kunci sebagai berikut: .
1. Keaktifan siswa dalam pembelajaran Aqidah Akhlak
Yang dimaksud aktivitas siswa dalam pembelajaran Aqidah
Akhlak adalah kegiatan yang dilakukan peserta didik dalam proses belajar
mengajar pada mata pelajaran Aqidah Akhlak. Indikator aktifitas siswa
dalam pembelajaran dapat diketahui dari keaktifan siswa dalam mengikuti
pembelajaran, misalnya aktifitas bertanya, menjawab pertanyaan,
presentasi dan lain sebagainya.
2. Metode Information Search
Secara bahasa information berarti keterangan3 dan search yang
berarti pencarian atau penelusuran.4 Jadi metode information search
adalah metode pembelajaran dengan cara mengoptimalkan aktifitas siswa
dalam mencari informasi atau keterangan yang berkaitan dengan materi
yang diajarkan. Esensi dari metode ini adalah kemandirian siswa dalam
mencari materi pelajaran tambahan untuk meningkatkan pengetahuan
siswa.
Dari definisi-definisi di atas dapat dipahami bahwa maksud dari
penelitian skripsi ini adalah upaya yang dilakukan guru dalam rangka
meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran Aqidah Akhlak dengan cara
mengimplementasikan metode information search secara maksimal dan
komprehensif pada siswa kelas IX MTs Maarif NU 1 Karanglewas
Kabupaten Banyumas tahun pelajaran 2010/2011.

3
John M. Echols dan Hasan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta: Gramedia,
1992), hlm. 321.
4
Ibid., hlm. 507.
5

D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut rumusan masalah pada penelitian
ini adalah :
1. Bagaimana keaktifan siswa dalam pembelajaran Aqidah Akhlaq pada
siswa kelas IX MTs Maarif NU I Karanglewas, Kabupaten Banyumas
tahun pelajaran 2010/2011?
2. Bagaimanakah langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran metode
Information Search pada kelas tersebut?
3. Apakah metode Information Search dapat meningkatkan keaktifan siswa
pada pembelajaran Aqidah Akhlaq pada kelas IX MTs Maarif NU I
Karanglewas tersebut?

E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan pokok permasalahan di atas, maka tujuan penulisan
skripsi ini adalah untuk mengetahui adakah meningkatkan aktifitas siswa
dalam pembelajaran aqidah akhlak melalui metode information search pada
siswa kelas IX MTs Maarif NU 1 Karanglewas Kabupaten Banyumas tahun
pelajaran 2010/2011.

F. Manfaat Penelitian
Dengan adanya penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat
memberikan manfaat bagi seluruh komponen akademik sebagai berikut:
1. Bagi Siswa
Membantu siswa dalam rangka peningkatan aktifitas belajar
Aqidah Akhlak sehingga siswa tidak dapat merasa bosan dan bersifat aktif
dalam menerima pelajaran.
2. Bagi Guru
Membantu guru dalam rangka pencarian strategi dan metode
pengajaran yang tepat dan sesuai dengan keadaan siswa agar dapat
memberikan kesan kepada siswa bahwa mata pelajaran Aqidah Akhlak
6

adalah mata pelajaran yang sangat penting untuk kehidupan, dengan


demikian aktifitas pembelajaran siswa akan tinggi.
3. Bagi Sekolah
Membantu pihak sekolah dalam rangka mencerdaskan siswa
dengan meningkatkan aktifitas pembelajaran siswa maka akan meningkat
pula prestasi yang diraih anak didik dan akan membawa nama baik
sekolah.

G. Hipotesis
Hipotesis berasal dari kata hypo yang berarti dibawah dan thesa
yang artinya kebenaran.,5 atau bisa dipahami sebagai suatu pernyataan yang
masih membutuhkan pembenaran melalui suatu penelitian. Menurut Suharsimi
Arikunto hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap
permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul.6
Dengan kata lain hipotesis adalah kesimpulan sementara yang mungkin salah
atau benar dan masih diperlukan uji kebenarannya.
Kemudian yang dimaksud hipotesis tindakan adalah suatu perkiraan
tentang tindakan yang diduga dapat mengatasi permasalahan pembelajaran.
Tindakan dilakukan dengan cara mengintervensi kegiatan agar dapat
memperbaiki proses pembelajaran. Artinya mengubah kegiatan atau tindakan
yang biasa dilakukan dengan tindakan yang diduga dapat memperbaiki proses
dan hasil belajar.7
Sedangkan hipotesis penelitian tindakan ini adalah bahwa
pembelajaran Aqidah Akhlak melalui metode information search dapat
meningkatkan keaktifan pada siswa kelas IX MTs Maarif NU 1 Karanglewas
Kabupaten Banyumas tahun pelajaran 2010/2011.

5
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka
Cipta, 2002), hlm. 64.
6
Ibid.
7
I.G.A.K. Wardani, dkk., Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta: Pusat Penerbitan
Universitas Terbuka, 2004), hlm. 319.
BAB II
KEAKTIFAN PESERTA DIDIK DALAM PEMBELAJARAN AQIDAH
AKHLAK DAN METODE INFORMATION SEARCH

A. Keaktifan Belajar

1. Pengertian Keaktifan Belajar

Kata keaktifan berasal dari kata aktif yang berarti giat, gigih,
mampu beraksi dan bereaksi.1 Belajar merupakan suatu usaha atau
kegiatan yang bertujuan mengadakan perubahan di dalam diri seseorang
mencakup perubahan tingkah laku, sikap, kebiasaan ilmu pengetahuan,
ketrampilan.2 Jadi yang dimaksud keaktifan belajar disini adalah kegiatan
atau kesibukan peserta didik untuk selalu merubah dirinya menjadi lebih
positif. Baik dalam hal tingkah laku, sikap, kebiasaan, ilmu pengetahuan
dan ketrampilan. Keaktifan ini bisa dilihat dari aktifnya atau giatnya
peserta didik dalam mendengar, memperhatikan, mencatat, membaca,
meniru, berlatih dan menyelesaikan tugas, membuat ikhtisar, memecahkan
masalah, yang kesemuanya itu bersangkutan dengan pelajaran khususnya
dalam pelajaran Aqidah Akhlak.

2. Bentuk-bentuk Keaktifan Belajar

a. Keaktifan Psikis

Menurut teori kognitif adalah belajar menunjukkan adanya jiwa


yang sangat aktif, jiwa mengolah informasi yang kita terima. Tidak
sekedar menyimpannya saja tanpa mengadakan transformasi.
Keaktifan Psikis meliputi :

1
Suharso dan Ana Retnoningsih, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Semarang: Widya
Karya, 2009), hlm. 24.
2
Mulyono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), hlm. 49.

7
8

1) Keaktifan indera.
Di dalam kelas atau dalam mengikuti kegiatan belajar
mengajar hendaknya berusaha mendayagunakan alat indera
dengan sebaik-baiknya seperti, penglihatan, dan pendengaran
2) Keaktifan akal.
Dalam melakukan kegiatan belajar, akal harus selalu aktif,
atau diaktifkan untuk memecahkan masalah seperti, menimbang-
nimbang, menyusun pendapat dan mengambil suatu kesimpulan.
3) Keaktifan Ingatan
Pada waktu belajar, peserta didik harus aktif dalam
menerima bahan pelajaran yang disampaikan guru dan berusaha
menyimpannya dalam otak, kemudian mampu mengutarakannya
kembali.
4) Keaktifan Emosi
Bagi seorang peserta didik hendaknya senantiasa
mencintai apa yang akan dan telah dipelajari.3
b. Keaktifan Fisik
Menurut teori Thorndike mengemukakan keaktifan peserta
didik dalam belajar dengan hukum Law of Exercise nya yang
mengatakan bahwa belajar memerlukan latihan-latihan. Mc Kachix
berkenaan dengan prinsip keaktifan mengemukakan bahwa individu
merupakan manusia belajar yang aktif dan selalu ingin tahu.4
Keaktifan fisik meliputi :
1) Mencatat.
Membuat catatan akan berpengaruh dalam membaca.
Catatan yang kurang jelas antara materi satu dengan lainnya akan
menimbulkan keengganan dalam membaca. Didalam membuat
catatan sebaiknya diambil intisarinya. Mencatat yang

3
Sriyono dkk, Tehnik Belajar Mengajar Dalam CBSA, (Jakarta: Rineka Cipta, 1992),
hlm. 75
4
Dimyati dan Mujiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 1999), hlm.45
9

dimaksudkan dalam belajar yaitu; dalam memcatat seseorang


menyadari akan kebutuhannya.5 Dengan demikian. Catatan tidak
hanya sekedar fakta melainkan juga merupakan materi yang
dibutuhkan untuk dipahami dan dimanfaatkan sebagai informasi
bagi perkembangan wawasan otak dalam berfikir.
2) Membaca.
Membaca merupakan alat belajar mendominasi dalam
kegiatan belajar. Salah satu metode membaca yang baik dan
banyak dipakai dalam belajar adalah metode SORA atau survey
(meninjau), question (mengajuakan pertanyaan), Read (membaca),
Recite (menghafal), Write (menulis) dan Refiew (mengulang
kembali).6 agar peserta didik dalam membaca efisien, perlu adanya
cara atau kebiasaan yang baik. Menurut The Liang Gie, kebiasaan
membaca yang baik yaitu dengan memperhatikan kesehatan
membaca, terjadwal, membuat catatan, memanfaatkan
perpustakaan, membaca sampai menguasai bahan dan didukung
adanya konsentrasi penuh.7
3) Mendengarkan
Untuk menanamkan semangat peserta didik dalam
mengikuti pelajaran pendidikan Agama Islam, terlebih dahulu
ditimbulkan minat sehingga terangsang dalam mengikuti
pelajaran. Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk
memperhatikan dan mengenang berbagai kegiatan.8 Kegiatan yang
diminati seseorang akan memperhatikan secara kontinu disertai
rasa senang. Oleh karena itu minat besar pengaruhnya terhadap

5
Abu Ahmadi, Psikologi Belajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995), hlm. 127
6
Ibid., hlm. 85-86
7
The Liang Gie, Cara Belajar Yang Efisien, (Yogyakarta: Pusat Kemajuan Studi, t.th.),
hlm. 94.
8
Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Menpengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta,
1991), hlm. 69
10

belajar. Apabila bahan pelajaran tidak menarik peserta didik maka


dalam belajar tidak terdapat usaha yang maksimal.
4) Bertanya Pada Guru.
Dalam belajar membutuhkan reaksi yang melibatkan
ketangkasan mental, kewaspadaan, perhitungan dan ketekunan
untuk menangkap fakta dan ide-ide yang disampaikan guru.9 Jadi
Kecepatan jiwa seseorang dalam memberikan respon pada suatu
pelajaran merupakan faktor penting dalam proses kegiatan belajar.
5) Latihan atau praktik.
Seorang yang melaksanakan kegiatan dengan berlatih tentu
mempunyai dorongan untuk mencapai tujuan tertentu yang dapat
mengembangkan suatu aspek dalam dirinya. Dalam berlatih akan
terjadi interaksi antara subyek dengan lingkungan.10 Dan hasil dari
praktik tersebut dapat berupa pengalaman yang dapat mengubah
diri seseoarang yang melakukan aktifitas belajar dengan latihan
dan lingkungan yang mendukung.
Dari penjelasan diatas, dapat penulis simpulkan bahwa yang
dimaksud aktifitas belajar adalah aktifitas yang bersifat psikis maupun
fisik. Dalam kegiatan belajar kedua aktifitas itu harus terkait. Sebagai
contoh seseorang sedang belajar dengan membaca. Secara fisik kelihatan
bahwa orang tadi membaca menghadapi suatu buku, tetapi mungkin
pikiran sikap mentalnya tidak tertuju pada buku yang dibaca. Ini
menunjukkan tidak keserasian antara aktifitas psikis dengan fisik. Kalau
demikian maka belajar itu tidak akan optimal.
Dengan demikian jelas bahwa aktifitas belajar itu menyangkut dua
hal yaitu aktifitas yang bersifat psikis dan aktifitas yang bersifat fisik.
Kaitan antara keduanya akan membuahkan aktifitas belajar yang optimal.

9
Sardiman, A.M., Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 2000), hlm. 41
10
Abu Ahmadi, op.cit, hlm. 130
11

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Aktivitas Belajar


Dalam aktivitas belajar, banyak sekali faktor yang
mempengaruhinya. Dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi
aktivitas belajar, Soemanto menggolongkannya menjadi tiga macam, yaitu
faktor stimulasi belajar, faktor metode belajar, dan faktor individual.11
Ketiganya diuraikan sebagai berikut:
a. Faktor Stimuli Belajar
Yang dimaksud dengan stimuli belajar adalah segala hal di
luar individu yang merangsang individu.12 Ada beberapa hal yang
berhubungan dengan faktor stimuli belajar, antara lain:
1) Panjangnya bahan pelajaran
Bahan pelajaran yang terlalu panjang atau terlalu banyak
dapat menyebabkan kesulitan individu dalam belajar. Namun
demikian, kesulitan belajar individu tidak semata-mata karena
panjangnya waktu untuk belajar, melainkan lebih berhubungan
dengan faktor kelelahan dan kejenuhan peserta didik dalam meng-
hadapi atau mengerjakan bahan yang banyak itu.
2) Kesulitan bahan pelajaran
Tiap-tiap bahan pelajaran mengandung tingkat kesulitan
yang berbeda. Tingkat bahan pelajaran mempengaruhi kecepatan
belajar peserta didik. makin sulit suatu bahan pelajaran akan
lambatlah peserta didik mempelajarinya dan bahan pelajaran
yang sulit memerlukan aktivitas belajar yang lebih intensif.13
3) Berartinya bahan Pelajaran
Modal pengalaman yang diperoleh dari belajar pada waktu
sebelumnya sangat diperlukan dalam belajar. Modal pengalaman itu
dapat berupa penguasaan bahasa, pengetahuan dan prinsip-prinsip.

11
Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan, Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan,
(Jakarta: Gramedia, 1990), hlm. 107
12
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar
Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1996), hlm. 787
13
Wasty Soemanto, op.cit., hlm. 109
12

Modal pengalaman itulah yang dapat menentukan berartinya bahan


pelajaran yang dipelajari pada waktu sekarang. Bahan pelajaran
yang berarti memungkinkan individu untuk belajar, karena
individu dapat mengenalnya.14
4) Suasana lingkungan eksternal
Seperti yang dikatakan oleh Ahmadi dan Supriyono, bahwa
suasana lingkungan eksternal menyangkut banyak hal, antara lain:
cuaca, kondisi tempat, penerangan dan sebagainya. Faktor-faktor ini
mempengaruhi sikap dan reaksi individu dalam aktivitas belajarnya,
sebab individu yang belajar adalah interaksi dengan
lingkungannya.15
b. Faktor Metode Belajar
Dalam proses belajar mengajar, metode yang digunakan guru
akan mempengaruhi belajar peserta didik. adapun faktor yang
menyangkut metode belajar adalah:
1) Kegiatan berlatih atau praktek
Kegiatan ini dilakukan untuk mengurangi kelupaan,
mengingat kembali, atau memantapkan reaksi terhadap belajar.
Kegiatan ini perlu diselingi dengan istirahat supaya tidak
menimbulkan kesan membosankan. Soemanto mengatakan bahwa
latihan yang dilakukan secara maraton dapat melelahkan dan
membosankan, sedangkan latihan yang terdistribusi menjadi
terpeliharanya stamina dan kegairahan dalam belajar.16
2) Pengenalan hasil belajar
Dalam proses belajar, individu sering mengabaikan
perkembangan hasil belajar selama dalam belajarnya. Pengenalan
seseorang dalam hasil belajarnya atau prestasi belajar adalah

14
Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta 1991),
hlm. 132
15
Ibid., hlm. 133
16
Wasty Soemanto, op.cit., hlm. 110
13

penting bagi peserta didik, karena dengan mengetahui hasil-hasil


yang sudah dicapai, seseorang akan lebih berusaha meningkatkan
hasil selanjutnya.17
3) Penggunaan modalitet indera
Modalitet indera yang dipakai oleh setiap individu adalah
tidak sama, tergantung dari masing-masing pribadi yang
bersangkutan. Ada yang menekankan pada oral modalitet, ada yang
menggunakan visual modalitet, ada yang lebih menekankan pada
kinestetik. Tetapi alangkah baiknya bila peserta didik
menggunakan secara bersamaan atau tidak saling terpisah. Di
samping itu ada pula yang belajar dengan menggunakan kombinasi
impresi indera.
4) Bimbingan dalam belajar
Bimbingan dalam belajar ini diperlukan untuk memberikan
motivasi belajar serta pemberian modal kecakapan peserta didik
sehingga dapat melakukan aktivitas belajar dengan baik.18
c. Faktor individual
Faktor individual peserta didik juga sangat berpengaruh dalam
aktivitas belajar peserta didik. Adapun faktor-faktor individual ini
menyangkut hal-hal sebagai berikut:
1) Kematangan
Kematangan dicapai oleh individu dari proses pertumbuhan
fisiologinya. Kematangan terjadi akibat adanya perubahan kuantitatif
di dalam struktur jasmani, dibarengi dengan perubahan kualitatif
terhadap struktur tersebut. Sebab kematangan memberi kondisi
fungsi fisiologis termasuk fungsi otak saraf berkembang. 19

17
Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, op.cit., hlm. 135
18
Ibid.
19
Ibid., hlm. 137
14

2) Pengalaman sebelumnya
Pengalaman yang diperoleh sebelumnya dari lingkungan
akan turut serta mempengaruhi perkembangan individu dalam
memahami dan mempelajari pelajaran. Hal ini sesuai dengan
pendapat Ahmadi dan Supriyono, pengalaman belajar yang
diperoleh individu itu mempengaruhi hasil belajar yang
bersangkutan.20
3) Kondisi kesehatan
Individu yang belajar membutuhkan kondisi badan yang
sehat. Seorang peserta didik yang badannya sakit akibat penyakit-
penyakit tertentu serta kesalahan tidak akan dapat belajar dengan
efektif.21
Arden N. Frandsen dalam Suryabrata mengatakan bahwa hal-hal
yang mendorong seseorang untuk belajar itu adalah sebagai berikut:
1. Adanya sifat ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang lebih
luas.
2. Adanya sifat yang kreatif yang ada pada manusia dan keinginan
untuk selalu maju.
3. Adanya keinginan untuk mendapatkan simpati dari orang tua,
guru, dan teman-teman.
4. Adanya keinginan untuk memperbaiki kegagalan yang lalu
dengan usaha yang baru.
5. Adanya keinginan untuk mendapatkan rasa aman bila
menguasai pelajaran.
6. Adanya ganjaran atau hukuman sebagai akhir dari pada
belajar.22

Menurut Mulyasa ada beberapa prinsip yang dapat diterapkan


untuk meningkatkan aktivitas peserta didik diantaranya sebagai berikut:
1) Peserta didik akan belajar lebih giat apabila topik yang
dipelajarinya menarik, dan berguna bagi dirinya.
2) Tujuan pembelajaran harus disusun dengan jelas dan
diinformasikan kepada peserta didik sehingga mereka

20
Ibid., hlm. 138)
21
Wasty Soemanto, op.cit., hlm. 115
22
Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1993), hlm.
253
15

mengetahui tujuan belajar. Peserta didik juga dapat dilibatkan


dalam penyusunan tujuan
3) Peserta didik harus selalu diberitahu tentang kompetensi, dan
hasil belajarnya.
4) Pemberian pujian dan hadiah lebih baik daripada hukuman,
namun sewaktu-waktu hukuman juga diperlukan
5) Manfaatkan sikap, cita-cita, rasa ingin tahu, dan ambisi peserta
didik
6) Usahakan untuk memperhatikan perbedaan individual peserta
didik, misalnya perbedaan kemampuan, latar belakang dan
sikap terhadap sekolah atau subjek tertentu.
7) Usahakan untuk memenuhi kebutuhan peserta didik dengan
jalan memperhatikan kondisi fisik, memberi rasa aman,
menunjukkan bahwa guru memperhatikan mereka, mengatur
pengalaman belajar sedemikian rupa sehingga setiap peserta
didik pernah memperoleh kepuasan dan penghargaan, serta
mengarahkan pengalaman belajar kearah keberhasilan,
sehingga mencapai prestasi dan mempunyai kepercayaan diri.23

Aktivitas belajar peserta didik tidaklah terpisah satu dengan yang


lain. Dalam setiap aktivitas motoris terkandung aktivitas mental disertai
dengan perasaan tertentu, dan seterusnya. Setiap pelajaran terdapat
berbagai aktivitas yang dapat diupayakan.
Prinsip aktivitas yang diuraikan di atas didasarkan pada pandangan
psikologis bahwa, segala pengetahuan harus diperoleh melalui pengamatan
(mendengar, melihat dan sebagainya) sendiri dan pengalaman sendiri. Jiwa
itu dinamis, memiliki energi sendiri dan dapat menjadi aktif sebab
didorong oleh kebutuhan-kebutuhan.
Guru hanyalah merangsang keaktivan peserta didik dengan jalan
menyajikan bahan pelajaran, yang mengolah dan mencerna adalah peserta
didik itu sendiri sesuai dengan kemauan, kemampuan, bakat dan latar
belakang masing-masing. Belajar adalah suatu proses di mana peserta
didik harus aktif.

23
E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan
Menyenangkan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008), cet. 7, hlm. 176-77
16

B. Pembelajaran Aqidah Akhlak


1. Pengertian Pelajaran Aqidah Akhlak
Untuk memahami pengertian pelajaran Aqidah Akhlak, perlu
kiranya diurai terlebih dulu definisi Aqidah dan Akhlak. Aqidah bisa
dipahami sebagai tauhid atau keimanan. Aqidah atau tauhid ini merupakan
ajaran terpenting dalam Islam. Secara syara Aqidah yaitu iman kepada
Allah, para malaikatnya, kitab-kitabnya, para rasulnya dan kepada hari
akhir serta kepada Qadar yang baik maupun yang buruk.24 Hal ini juga
disebut sebagai rukun iman. Sedangkan kata akhlak adalah jama dari kata
khilqun atau khulqun yang berarti perangai, kelakukan, tabiat, watak
dasar.25 Kata akhlak dijumpai dalam al-Quran di antaranya dalam surat al-
Qolam ayat 4.


( : )
Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.
(QS. Al-Qolam: 4)26

Dari definisi di atas diketahui bahwa pelajaran Aqidah Akhlak


adalah salah satu sub dari pendidikan Agama Islam yang diajarkan di
madrasah yang berisi tentang materi keimanan dan perilaku manusia yang
baik dan buruk.
Dalam panduan kurikulum tingkat satuan pendidikan khusus untuk
Madrasah Tsanawiyah dijelaskan bahwa pendidikan Aqidah Akhlak
adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk
mengenal, memahami, menghayati dan mengimani Allah SWT, dan
merelasikannya dalam perilaku akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari
melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, penggunaan
24
Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta: UI Press, 1985),
hlm. hlm. 30
25
Lihat Abudin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006), hlm.
2
26
Soenarjo, Al-Quran dan Terjemahnya, (Semarang: Toha Putra, 1989), hlm. 634
17

pengalaman, keteladanan, dan pembiasaan. Dalam kehidupan masyarakat


yang majemuk dalam bidang keagamaan, pendidikan itu juga diarahkan
pada peneguhan Aqidah di satu sisi dan peningkatan toleransi serta saling
menghormati dengan penganut agama lain dalam rangka mewujudkan
kesatuan dan persatuan bangsa.27
Mata pelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah Tsanawiyah memiliki
karakter di antaranya adalah: aspek aqidah menekankan pada kemampuan
memahami dan mempertahankan keyakinan atau keimanan yang benar
serta menghayati dan mengamalkan nilai-nilai al-asma al-husna. Aspek
akhlak menekankan pada pembiasaan untuk melaksanakan akhlak terpuji
dan menjauhi akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari.28

2. Tujuan dan Ruang Lingkup Mata Pelajaran Aqidah Akhlak di MTs


a. Fungsi Mata Pelajaran Aqidah Akhlak
Mata pelajaran Aqidah Akhlak di MTs berfungsi untuk:
1) Menumbuhkembangkan Aqidah melalui pemberian,
pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan,
pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik
tentang Aqidah Islam sehingga menjadi manusia muslim yang
terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah
SWT.
2) Mewujudkan manusia Indonesia yang berakhlak mulia dan
menghindari akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari, baik
dalam kehidupan individu maupun sosial, sebagai manifestasi
dari ajaran dan nilai-nilai Aqidah Islam.29

27
Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
Khusus Madrasah Tsanawiyah (MTs), (Jakarta: PT Binatama Raya, 2007), hlm. 4
28
Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 tentang Standar
Kompetensi Lulusan dan Standar Isi Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah, hlm.
49.
29
Ibid., hlm. 50
18

b. Ruang Lingkup Mata Pelajaran Aqidah Akhlak


Ruang lingkup mata pelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah
Tsanawiyah meliputi:
1) Aspek Aqidah terdiri atas dasar dan tujuan Aqidah Islam,
sifat-sifat Allah, al-asma' al-husna, iman kepada Allah,
Kitab-Kitab Allah, Rasul-Rasul Allah, Hari Akhir serta Qada
Qadar.
2) Aspek akhlak terpuji yang terdiri atas ber-tauhiid, ikhlaas,
taat, khauf, taubat, tawakkal, ikhtiyaar, shabar, syukur,
qanaaah, tawaadu', husnuzh-zhan, tasaamuh dan taaawun,
berilmu, kreatif, produktif, dan pergaulan remaja.
3) Aspek akhlak tercela meliputi kufur, syirik, riya, nifaaq,
anaaniah, putus asa, ghadlab, tamak, takabbur, hasad,
dendam, giibah, fitnah, dan namiimah.30

C. Metode Information Search

1. Pengertian Metode Information Search

Secara bahasa information berarti keterangan,31 dan search berarti


pencarian atau penelusuran.32 Jadi metode Information Search adalah
metode pembelajaran aktif yang menekankan peserta didik untuk mencari
informasi tentang pelajaran secara mandiri.

Tujuan dari penerapan strategi ini adalah memberi kesempatan


peserta didik untuk menemukan suatu ilmu pengetahuan dengan proses

30
Ibid., hlm. 53.
31
John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia, (Jakarta: PT. Gramedia,
1992), hlm. 321
32
Ibid., hlm. 507.
19

mencari sendiri.33 Dalam strategi ini peserta didik harus aktif dalam
pembelajaran, khususnya dalam menggali berbagai informasi tentang
materi yang sedang diajarkan.

Belajar aktif tidak akan pernah terjadi tanpa adanya partisipasi


peserta didik. Ada berbagai cara untuk melakukan proses pembelajaran
yang melibatkan keaktifan peserta didik dan mengasah ranah kognitif,
afektif dan psikomotorik. Proses pembelajaran aktif dalam memperoleh
informasi, ketrampilan, dan sikap serta perilaku positif dan terpuji akan
terjadi melalui suatu proses pencarian dari diri peserta didik. Hal ini akan
terwujud bila peserta didik dikondisikan sedemikian rupa sehingga
berbagai tugas dan kegiatan yang dilaksanakan sangat memotivasi mereka
untuk berpikir, bekerja dan merasa.

Dalam proses belajar peserta didik tidak semestinya diperlakukan


seperti bejana kosong yang pasif yang hanya menerima kucuran ceramah
sang guru tentang ilmu pengetahuan atau informasi, karena itu dalam
proses pembelajaran guru dituntut mampu menciptakan suasana yang
memungkinkan peserta didik secara aktif menemukan, memproses dan
mengkonstruksi ilmu pengetahuan dan ketrampilan-ketrampilan baru.34

Belajar bukanlah merupakan satu peristiwa pendek tetapi secara


bergelombang. Ini memerlukan beberapa ekspose materi untuk
mencernanya dan memahaminya. Lebih penting lagi adalah cara
bagaimana ekspose itu terjadi. Jika hal ini terjadi pada peserta didik, maka
akan terdapat tantangan mental bagi mereka.

Ketika belajar secara pasif, peserta didik mengalami proses tanpa


rasa ingin tahu, tanpa pertanyaan, dan tanpa daya tarik pada hasil. Ketika
belajar secara aktif, pelajar mencari sesuatu. Dia ingin menjawab
pertanyaan, memerlukan informasi untuk menyelesaikan masalah, atau

33
Ismail SM, Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM (Pembelajaran
Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan), (Semarang: RaSAIL, 2009), hlm. 78.
34
Ibid., hlm. 46
20

menyelidiki cara untuk melakukan pekerjaan.35 Pendidik hendaknya


menyadari bahwa peserta didik memiliki berbagai cara belajar yang
berbeda-beda.

Melalui metode Information Search peserta didik tidak hanya


mencari bahan-bahan pelajaran yang digunakan sebagai sumber belajar,
namun juga harus memahami informasi yang ditemukan. Jika peserta didik
diminta untuk mengerti dan bukan sekedar mengingat informasi yang
ditemukannya di dalam buku pelajaran, bahan rujukan, surat kabar dan
sebagainya, maka mereka harus aktif mengumpulkan informasi.36
Pemahaman tentang informasi ini menjadi faktor penting bagi
keberhasilan pembelajaran, karena tanpa dipahami secara baik maka
informasi tersebut kurang berfungsi secara maksimal.

Pemahaman informasi yang dikumpulkan dari berbagai sumber


belajar dapat ditingkatkan jika peserta didik bekerja dalam kelompok dan
setiap anggota kelompok diberi sumber belajar yang berbeda untuk
digunakan dalam mencari jawaban atas pertanyaan yang sama. Dengan
demikian, peserta didik harus membandingkan dan mendiskusikan
jawaban-jawaban yang sudah mereka tuliskan, sehingga sebagai hasilnya,
peserta didik akan mampu memberi jawaban yang memuaskan. 37 Jadi
informasi yang diperoleh peserta didik menjadi lebih lengkap saat
dilakukan secara kooperatif dan variatif, karena validitas informasi didapat
dari berbagai sumber. Sehingga akhirnya peserta didik mendapat
informasti yang komprehensi tentang pelajaran yang sedang diajarkan.

35
Mel Silberman, Active Learning: 101 Strategi To Teach Any Subject, terj. Sadjuli, dkk,
(Yogyakarta: YAPPENDIS, 1996), hlm. 5-6
36
Martinis Yamin dan Maisah, Manajemen Pembelajaran Kelas: Strategi Meningkatkan
Mutu Pembelajaran, (Jakarta: GP Press, 2009), hlm. 183
37
Ibid., hlm. 184.
21

2. Implementasi Metode Information Search

Metode Information Search ini akan menjadi maksimal saat


diimplementasikan dengan benar. Oleh karena itu, guru harus mampu
mengelola pembelajaran dengan baik, termasuk memonitor aktifitas
peserta didik dalam mencari informasi. Jangan sampai waktu yang tersedia
tidak dipergunakan peserta didik dengan baik untuk mencari informasi
bahan pelajaran. Implementasi metode Information Search tersebut adalah
sebagai berikut:
a. Guru terlebih dahulu menyiapkan referensi yang terkait dengan topik
pembelajaran sesuai dengan Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar
atau Indikator.
b. Guru menyusun kompetensi dari topik tersebut.
c. Guru membuat pertanyaan untuk memperoleh kompetensi tersebut.
d. Guru membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok kecil yang
terdiri dari 2-3 orang.
e. Setiap peserta kelompok ditugasi mencari bahan pelajaran yang terkait
dengan pertanyaan guru tersebut di perpustakaan/warnet yang sudah
diketahui oleh guru bahwa bahan tersebut benar-benar ada. Setiap
kelompok diusahakan untuk mencari informasi yang berbeda dan
memperbanyak referensi yang didapat sebanyak jumlah kelompok.
f. Setelah peserta didik mencari dan kembali ke kelas, guru membantu
dengan cara membagikan referensi kepada tiap-tiap kelompok.
g. Peserta didik diminta mencari jawaban dalam referensi tersebut yang
dibatasi oleh waktu (misalnya 10 menit) oleh guru.
h. Hasilnya didiskusikan bersama seluruh kelas.
i. Guru menjelaskan materi pelajaran terkait dengan topik tersebut.
j. Guru melakukan kesimpulan, klarifikasi dan tindak lanjut.38

38
Ismail SM, op.cit., hlm. 78.
22

Metode Information Search ini mampu meningkatkan aktifitas


peserta didik dalam pembelajaran. Namun, metode ini juga memiliki
kelemahan di antaranya dibutuhkan waktu yang cukup untuk mencari
informasi yang berkaitan dengan pelajaran. Oleh karena itu, peserta didik
harus disiplin dan menggunakan waktu yang ada untuk mencari informasi
pelajaran.

D. Kerangka Berfikir

Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan proses pembelajaran


adalah strategi yang digunakan guru dalam pembelajaran. Pada prinsipnya
penggunaan strategi pembelajaran adalah bahwa tidak semua strategi
pembelajaran cocok digunakan untuk mencapai semua tujuan dan semua
keadaan, karena setiap strategi mempunyai kekhasan sendiri-sendiri. Oleh
karena itu guru harus mampu memilih strategi yang tepat dan cocok dengan
keadaan dan memahami prinsip-prinsip umum penggunaan strategi
pembelajaran yaitu berorientasi pada tujuan, aktivitas, individualitas, dan
integritas.

Strategi information search sebagai sebuah strategi pembelajaran yang


diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik. Karena strategi
ini efektif untuk membantu peserta didik untuk menemukan suatu ilmu
pengetahuan dengan proses mencari sendiri. Sehingga pengetahuan peserta
didik terbangun dengan baik dan memiliki banyak informasi yang
bermanfaat bagi proses belajar mengajar. Orientasinya peserta didik mampu
meningkatkan aktifitas dan prestasi belajarnya. Apabila tujuan pembelajaran
dapat dicapai secara optimal atau prestasi belajar peserta didik
dikategorikan memuaskan, berarti guru telah berhasil dalam kegiatan belajar
mengajar.

Strategi pembelajaran dipersiapkan untuk meningkatkan prestasi


belajar peserta didik. Strategi pembelajaran itulah yang menentukan seluruh
23

proses pembelajaran. Prestasi belajar merupakan hasil yang dicapai oleh setiap
peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran yang diakhiri oleh suatu
penilaian. Dengan demikian jika strategi information search efektif berarti
prestasi belajar peserta didik pun akan meningkat.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Sesuai dengan studi yang akan penulis lakukan, bahwa penelitian ini
akan dilakukan dengan menekankan pada jenis penelitian tindakan kelas
(classroom action research) yang berfokus pada upaya untuk mengubah
kondisi nyata yang ada sekarang kearah kondisi yang diharapkan. Penelitian ini
merupakan salah satu bentuk penelitian tindakan kelas yang berupaya
membantu memecahkan persoalan praktis dalam pembelajaran dan untuk
menghasilkan pengetahuan yang ilmiah dalam bidang pembelajaran di kelas.
Menurut Ebbutt seperti dikutip Wiriaatmaja, penelitian tindakan yaitu
kajian sistematika dari upaya perbaikan pelaksanaan praktek pendidikan oleh
sekelompok guru dengan melakukan tindakan-tindakan dalam pembelajaran
berdasarkan refleksi mereka mengenai hasil dari tindakan-tindakan tersebut.1
Jadi, penelitian tindakan kelas adalah bagaimana sekelompok guru dapat
mengorganisasikan kondisi praktek pembelajaran mereka, dan belajar dari
pengalaman mereka sendiri. Mereka dapat mencobakan sesuatu gagasan
perbaikan dalam praktek pembelajaran mereka, dan melihat pengaruh nyata
dari upaya itu.

B. Setting dan Subyek Penelitian


1. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di MTs Maarif NU 1 Karanglewas
Kabupaten Banyumas pada kelas IX. MTs Maarif NU I Karanglewas
adalah sebuah madrasah yang terletak di Jln. Desa Babakan Kecamatan
Karanglewas Kabupaten Banyumas, dibawah lembaga pendidikan Maarif
NU Cabang Banyumas. Madrasah yang berdiri pada tanggal 5 Januari 1970
dan diatas tanah wakaf seluas 6.335 m2 memiliki 315 siswa pada tahun
pelajaran 2010/2011 yang terbagi dalam 9 rombongan belajar. Yaitu terdiri

1
Wiriaatmaja, Metode Penelitian Tindakan Kelas, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2005),
hlm. 12

24
25

dari kelas VII, kelas VIII dan IX masing-masing terdiri dari 3 rombongan
belajar.
MTs Maarif NU I Karanglewas berada di daerah pedesaan yang
sekitar 285 orangtua/wali muridnya adalah termasuk kategori miskin karena
pekerjaannya adalah buruh tani dan sebagian kecil tani dan dagang.
Tentunya hal ini berpengaruh terhadap pola pikir siswa dalam mentransfer
pelajaran di madrasah. Namun demikian corak berpikir keagamaan masih
tergolong lumayan sehingga tidak menjadikan hal yang sangat berarti,
karena sebagian besar mengikuti kegiatan pengajian dalam lingkungannya.
Sedangkan waktu yang dibutuhkan dalam penelitian tindakan kelas
ini sekitar dua bulan, yaitu pada tanggal 2 Agustus sampai dengan 2
Oktober 2010. Berikut ini merupakan jadwal rencana kegiatan penelitian
tindakan kelas yang akan dilaksanakan di MTs Maarif NU 1 Karanglewas
Kabupaten Banyumas.
Waktu (minggu) ke-
No Rencana Kegiatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9
1. Observasi Awal
2. Persiapan
Menyusun konsep pelaksanaan
Menyepakati jadwal dan tugas
Menyusun Instrumen
Diskusi konsep pelaksanaan
3. Pelaksanaan
Menyiapkan kelas dan alat
Pelaksanaan pra siklus
Pelaksanaan siklus I
Pelaksanaan siklus II
Koordinasi akhir
4. Pembuatan Laporan
Menyusun konsep laporan
Penyelesaian Laporan

2. Subyek Penelitian
Subjek penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu subjek penerima
tindakan dan subjek yang membantu dalam penelitian. Yang menjadi subjek
penerima tindakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas IX MTs Maarif
26

NU 1 Karanglewas Kabupaten Banyumas yang berjumlah 34 siswa. Data


siswa terlampir.
Sedangkan subjek yang membantu dalam penelitian tindakan ini
adalah guru Aqidah Akhlak yang sekaligus sebagai mitra (kolaborator
peneliti). Adapun 315 siswa ini diasuh oleh19 dewan guru, terdiri dari 5
guru PNS/DPK dan 14 guru tetap yayasan. Sedangkan guru mata pelajaran
Akidah Akhlak yang menjadi bidang penelitian penulis ini diajar oleh bapak
Soderi, S.Ag. Beliau selain mengampu pelajaran Akidah Akhlak juga
memiliki tugas tambahan sebagai Wakil Kepala bagian Kesiswaan. Guru
yang selesai melaksanakan studinya di tahun 1995 di IAIN Walisongo
Fakultas Tarbiyah Purwokerto ini berkelahiran 7 Juli 1969 merupakan asli
orang Purwokerto. Data guru terlampir.

C. Variabel Penelitian
Variabel adalah obyek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian
suatu penelitian.2 Variabel dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua jenis
yaitu variabel independen dan variabel dependen.
Variabel independen atau variabel bebas adalah variabel yang menjadi
sebab timbulnya atau berubahnya variabel dependen, sedangkan variabel
dependen atau variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau
menjadi akibat adanya variabel bebas.3
Variabel-variabel dalam penelitian ini adalah:
1. Variabel independen yaitu penerapan metode information search.
2. Variabel dependen yaitu keaktifan peserta didik dalam pembelajaran Aqidah
Akhlak.

D. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas, yaitu penelitian
bersifat kolaboratif yang didasarkan pada permasalahan yang muncul dalam

2
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka
Cipta, 2002), hlm. 96
3
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D, (Bandung: Alfabeta,
2006), Cet. II, hlm. 61
27

rendahnya aktifitas pembelajaran peserta didik. Penelitian tindakan kelas ini


terdiri dari beberapa siklus tindakan dalam pembelajaran berdasarkan refleksi
mengenai hasil dari tindakan-tindakan pada siklus sebelumnya. Dimana setiap
siklus tersebut terdiri dari empat tahapan yang meliputi perencanaan,
pelaksanaan, pengamatan (observasi), dan refleksi.
Desain tindakan dalam penelitian tindakan ini dapat digambarkan
sebagai berikut: 4

Perencanaan

Refleksi Siklus I Pelaksanaan

Pengamatan

Perencanaan

Refleksi Siklus II Pelaksanaan

Pengamatan

Prosedur penelitian ini terdiri dari tiga siklus secara rinci. Prosedur
penelitian ini sebagai berikut:
1. Pra Siklus
Tahap pra siklus ini peneliti akan melihat pembelajaran Aqidah Akhlak
secara langsung di kelas IX MTs Maarif NU 1 Karanglewas Kabupaten
Banyumas. Dalam pembelajaran Aqidah Akhlak di kelas IX tersebut belum
menggunakan metode information search secara aktif dan masih
menggunakan metode ceramah. Peserta didik masih belum banyak ikut aktif
dalam proses pembelajaran dan cenderung terjadi komunikasi yang pasif.
Artinya seolah-olah guru yang bicara dan peserta didik hanya

4
Suharsimi Arikunto, et.al., Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006),
hlm. 108.
28

mendengarkan dan keberanian untuk bertanya terhadap suatu masalah yang


belum jelas yang ada dibenak mereka belum dapat diungkapkan secara
maksimal.
Di akhir pembelajaran dilakukan tes formatif untuk mengetahui hasil
belajar peserta didik pada pokok bahasan pelajaran Aqidah Akhlak. Apakah
kompetensi yang diharapkan sudah dapat tercapai dengan menggunakan
metode ceramah? Apakah peserta didik terlibat aktif dalam proses
pembelajarannya? Apakah hasil belajar peserta didik sudah diatas
ketuntasan minimal yang telah ditetapkan oleh MTs Maarif NU 1
Karanglewas Kabupaten Banyumas?
2. Siklus I
Langkah-langkah besar dalam Siklus I dimulai dari perencanaan,
pelaksanaan, pengamatan dan refleksi yang akan dijelaskan sebagai berikut:
a. Perencanaan
1) Meninjau kembali rancangan pembelajaran yang telah disiapkan.
Penekanan perencanaan disini adalah menyiapkan peserta didik
benar-benar berada pada suasana penyadaran diri untuk tetap
semangat belajar dengan menekankan pada keaktifan peserta didik
dalam proses pembelajaran dan berada pada konsentrasi terhadap
materi pengajaran Aqidah Akhlak yang sedang dibahas atau
dipelajari.
2) Menyiapkan Rencana Pembelajaran sesuai dengan metode
information search. Di dalam menyiapkan rencana pembelajaran ini
ditekankan pada hasil pengamatan pada pra siklus yang menekankan
pada keaktifan peserta didik melalui pembelajaran dengan metode
information search.
3) Bersama dengan guru Aqidah Akhlak peneliti:
a) Merencanakana pembelajaran yang akan diterapkan dalam
PBM.
b) Menentukan pokok bahasan.
c) Mengembangkan skenario pembelajaran.
29

d) Menyiapkan sumber belajar.


e) Mengembangkan format evaluasi.
f) Mengembangkan format observasi pembelajaran
4) Menyiapkan lembar soal yang digunakan untuk akhir pembelajaran
sebagai tes formatif dan soal yang dikerjakan di rumah yang
berusaha mengaitkan materi yang didapat oleh peserta didik dengan
kehidupan nyata.
b. Pelaksanaan
Peneliti di dampingi guru kolaborator melaksanakan pembelajaran
sesuai dengan RPP yang telah disiapkan. Adapun langkah-langkah
pembelajaran dengan metode information search dalam mata pelajaran
Aqidah Akhlak pada Siklus I ini secara garis besar sebagai berikut:
1) Peneliti di dampingi guru kolaborator menyediakan referensi terkait
materi iman kepada hari akhir dan alam gaib.
2) Peneliti di dampingi guru kolaborator menyusun kompetensi dari
materi tersebut
3) Peneliti di dampingi guru kolaborator membuat pertanyaan untuk
memperoleh kompetensi tersebut
4) Peneliti di dampingi guru kolaborator mencari ayat dan hadis terkait
5) Bagi kelas dalam kelompok kecil (maksimal 3 orang)
6) Peserta didik ditugasi mencari bahan di perpustakaan yang sudah
diketahui oleh guru bahwa bahan tersebut benar-benar ada
7) Setelah peserta mencari dan kembali ke kelas, guru membantu
dengan cara membagi referensi kepada mereka
8) Peserta diminta mencari jawaban dalam referensi tersebut yang
dibatasi oleh waktu (sekitar 10 menit) oleh guru
9) Hasilnya didiskusikan bersama seluruh kelas
10) Peneliti di dampingi guru kolaborator menjelaskan materi pelajaran
terkait dengan topik tersebut
11) Peneliti di dampingi guru kolaborator melakukan kesimpulan,
klarifikasi, dan tindak lanjut.
30

12) Peneliti di dampingi guru kolaborator melaksanakan tes formatif


secara individual.
c. Pengamatan
1) Peneliti di dampingi guru kolaborator mengamati semangat belajar
peserta didik pada Siklus I
2) Peneliti di dampingi guru kolaborator mengamati pada setiap
kegiatan yang dilakukan peserta didik. Dimulai dari permasalahan
yang muncul pada awal pelajaran hingga akhir pelajaran. Berikan
penilaian tenteng indiktor keaktifan dan ketrampilan proses yang
telah disiapkan.
3) Peneliti di dampingi guru kolaborator mengamati hasil tes formatif,
apakah sudah mencapai ketuntasan belajar?
4) Peneliti mengamati keberhasilan dan hambatan-hambatan yang
dialami dalam proses pembelajaran yang belum sesuai dengan
harapan penelitian.
d. Refleksi
1) Melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan
2) Secara kolaboratif guru mitra dan peneliti menganalisis dan
mendiskusikan hasil pengamatan. Selanjutnya membuat suatu
refleksi, apakah ada yang perlu dipertahankan dan diperbaiki?
3) Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai hasil evaluasi untuk
tindakan berikutnya
4) Membuat simpulan sementara terhadap pelaksanaan Siklus I
3. Siklus II
Untuk pelaksanaan Siklus II yang dilaksanakan di kelas IX adalah
sebagai tindak lanjut evaluasi dari pelaksanaan Siklus I. Langkah-langkah
yang dilakukan dalam Siklus II dimulai dari perencanaan, pelaksanaan,
pengamatan dan refleksi .
31

E. Metode Pengumpulan Data


1. Metode Observasi
Pengamatan adalah catatan secara sistematik tentang fenomena-
fenomena yang diselidiki.5 Metode observasi ini memuat tiga fase esensial
yaitu pertemuan perencanaan, observasi di dalam kelas dan diskusi balikan.
Objek yang diobservasi dalam penelitian ini adalah aktifitas
pembelajaran peserta didik, yang di antaranya:
a. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru ketika menyampaikan
materi
b. Peserta didik aktif menulis materi pelajaran
c. Peserta didik menjawab pertanyaan dari guru maupun dari teman
d. Peserta didik bertanya kepada guru
e. Tingkat kerjasama peserta didik dalam pembelajaran
f. Peserta didik mengerjakan tugas dari guru dengan baik
Untuk mengetahui sejauh mana aktifitas peserta didik selama
pembelajaran sedang berlangsung, peneliti membuat lembar observasi
peserta didik yang memuat indikator aktifitas belajar peserta didik. Kriteria
penilaian tiap indikatornya adalah sebagai berikut: skor 1 (kurang), 2
(cukup), 3 (baik), 4 (sangat baik). Sedangkan klasifikasi aktifitas peserta
didik di kelas dinilai menurut prosentase keaktifannya.
2. Metode Dokumentasi
Dokumen merupakan kumpulan data variable yang berbentuk lisan
maupun artifact, foto dan sebagainya.6 Sumber dokumentasi pada
dasarnya adalah segala bentuk sumber informasi yang berhubungan dengan
dokumen baik resmi maupun yang tidak resmi.7
Metode dokumentasi ini digunakan peneliti untuk mendapatkan data
atau dokumen yang berkaitan dengan pembelajaran di kelas seperti nama
peserta didik, rencana pelaksanaan pembelajaran, dan foto pembelajaran.

5
Sutrisno Hadi, Metodologi Research, Jilid I, (Yogyakarta: Andi Offset, 2000), hlm. 136.
6
Koentjaraningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, (Jakarta: Gramedia, 1991), hlm
129
7
Muhammad Ali, Strategi Penelitian Statistik, (Bandung: Bumi Aksara, 1993), hlm. 41
32

F. Teknik Analisis Data


Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan statistik
deskriptif. Menurut Sugiyono analisis statistik deskriptif adalah statistik yang
digunakan untuk menggambarkan atau menganalisis suatu statistik hasil
penelitian, tetapi tidak untuk membuat kesimpulan yang lebih luas
(generalisasi/inferensi).8 Analisis statistik deskriptif ini digunakan untuk
mengolah karakteristik data yang berkaitan dengan menjumlah, merata-rata,
mencari prosentase serta menyajikan data yang menarik, mudah dibaca, dan
diikuti alur berpikirnya misalnya bentuk grafik dan tabel.9
Misalnya untuk mencari persentase aktivitas pembelajaran digunakan
rumus:10
F
P x100%
N
Keterangan:
P = Prosentase jawaban
F = Frekuensi jawaban
N = Jumlah responden

G. Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan tindakan dalam penelitian ini diukur dari hal-hal
sebagai berikut:
1. Ketuntasan belajar peserta didik secara klasikal mencapai 85 % dan nilai
rata-rata hasil belajar peserta didik secara klasikal mencapai 65.
2. Prosentase aktifitas belajar peserta didik di kelas > 75 %. Hasil prosentase
dapat diketahui dari lembar observasi peserta didik yang disusun oleh
peneliti dan kolaboran (guru).

8
Sugiyono, Statistik Untuk Penelitian, (Bandung; Alfabeta, 2005), hlm. 21
9
Suharsimi Arikunto, dkk., op.cit., hlm. 131-132
10
Muslim, Aplikasi Statistik, (Semarang: IAIN Walisongo, 1996), hlm. 18.
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Observasi Awal


Sebelum melakukan tindakan pada siklus I, peneliti melakukan
observasi awal di kelas IX MTs Maarif NU 1 Karanglewas Kabupaten
Banyumas. Pada saat observasi awal ini guru Aqidah Akhlak melakukan
pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah dan diselingi dengan tanya
jawab. Hasil observasi awal ini nantinya digunakan sebagai bahan komparasi
terhadap peningkatan hasil belajar siswa, aktifitas belajar siswa dan aktifitas
pembelajaran yang dilakukan oleh guru.
Berdasarkan hasil observasi awal peneliti terhadap proses pembelajaran
Aqidah Akhlak di kelas IX MTs Maarif NU 1 Karanglewas Kabupaten
Banyumas diketahui bahwa selama ini guru lebih sering menggunakan metode
konvensional yaitu ceramah dan diselingi dengan tanya jawab. Guru lebih
mendominasi jalannya proses pembelajaran sedangkan siswa lebih banyak
mendengarkan dan memperhatikan penjelasan dari guru.
Kesempatan siswa untuk mengemukakan pendapat masih kecil,
sehingga pengajaran terkesan monoton dan tidak menggairahkan. Siswa hanya
menulis dan mendengar apa yang dijelaskan gurunya, sangat jarang
terangsang untuk berpikir, tetapi lebih banyak terangsang untuk mengingat
dan menghafal materi pelajaran.
Berikut ini digambarkan data hasil belajar siswa pada observasi awal
atau sebelum diadakannya tindakan, terangkum dalam berikut.
Tabel 4.1
Rangkuman Hasil Belajar Siswa Pada Pra Siklus
No Keterangan Perolehan
1 Nilai terendah 47
2 Nilai tertinggi 73
3 Nilai rata-rata kelas 65
4 Jumlah siswa yang belum tuntas belajar 14
5 Jumlah siswa yang tuntas belajar 20
6 Prosentase ketuntasan klasikal 58,82%

33
34

Dari tabel di atas diketahui bahwa prestasi belajar siswa masih rendah dan
perlu ditingkatkan dengan indikator; nilai rata-rata siswa hanya 65 dan jumlah
siswa yang tuntas hanya 20 siswa atau ketuntasan klasikalnya 58,82% masih di
bawah standar ketuntasan klasikal yaitu 85%.
Sedangkan hasil observasi terhadap aktifitas belajar siswa dapat dilihat
pada tabel berikut:
Tabel 4.2
Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa Pada Pra Siklus

Skor
No Aspek Pengamatan
rata-rata
1 Tingkat kerjasama siswa dalam pembelajaran 2
2 Keaktifan siswa dalam mencari informasi 2
3 Siswa menjawab pertanyaan dari guru atau teman 2
sekelas
4 Siswa mengerjakan tugas dari guru 2
5 Siswa memperhatikan penjelasan guru 2
Jumlah skor 10
Prosentase aktifitas siswa secara klasikal 50%

Keterangan: Skor tertinggi tiap aspek = 4, skor terendah = 1, Skor total


maksimal = 20

Klasifikasi Aktivitas
0% - 39% = Sangat Kurang
40% - 55% = Kurang
56% - 65% = Cukup
66% - 79% = Baik
80% - 100% = Sangat Baik

Hasil di atas menunjukkan bahwa prosentase aktifitas belajar siswa adalah


50% dengan kategori kurang. Hal ini menunjukkan bahwa siswa belum begitu
aktif dalam pembelajaran.
Begitu juga dengan aktifitas guru yang tergolong masih rendah. Hasil
observasi terhadap aktifitas guru selama proses pembelajaran dapat dilihat pada
tabel berikut.
35

Tabel 3
Hasil Observasi Aktifitas Guru pada Tahap Pra Siklus

No Aspek yang Dinilai Nilai


1. Kemampuan guru dalam mengelola kelas 1
2. Kemampuan guru dalam menerapkan metode
2
pembelajaran
3. Kemampuan berkomunikasi dan menciptakan
1
komunikasi timbal balik
4. Kemampuan guru dalam menyampaikan materi
3
pelajaran
5. Kemampuan guru dalam memberikan motivasi
1
kepada siswa
6. Kemampun guru dalam menjawab pertanyaan
2
siswa
Jumlah 10
Rata-rata 2

Keterangan: skor terendah = 1, skor tertinggi = 4, skor total maksimal


= 20

Kriteria Penilaian
1 = Kurang
2 = Cukup
3 = Baik
4 = Sangat Baik

Dari hasil observasi yang peneliti lakukan terhadap aktifitas guru selama
proses pembelajaran diketahui bahwa nilai rata-rata aktifitas aktifitas guru adalah
2 dengan kategori cukup. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang
dilakukan oleh guru belum maksimal. Guru belum mampu mengelola kelas
dengan baik, belum mampu menciptakan komunikasi dua arah, dan belum
mampu memberikan motivasi kepada siswa.
Melihat hasil observasi awal ini, maka dapat diketahui beberapa
permasalahan pembelajaran Aqidah Akhlak di kelas IX MTs Maarif NU 1
Karanglewas Kabupaten Banyumas ini, yakni:
1. Hasil/prestasi belajar siswa masih rendah
2. Aktivitas siswa dalam proses pembelajaran masih rendah
36

3. Metode pembelajaran yang digunakan guru tidak mengacu pada metode


mengajar siswa aktif. Guru lebih sering menggunakan metode ceramah.
Observasi awal ini dijadikan bahan pertimbangan untuk pemberian
tindakan berikutnya dalam pembelajaran Aqidah Akhlak. Untuk mengatasi
berbagai masalah dan kelemahan pembelajaran Aqidah Akhlak tersebut maka
dilakukan tindakan berupa penerapan metode information search dalam
pembelajaran.

B. Hasil Penelitian
1. Siklus I
a. Perencanaan
Berdasarkan masalah yang telah diidentifikasi pada saat
observasi awal maka telah direncanakan metode pembelajaran pada
siklus I ini adalah metode information search dengan teknik kerja
kelompok dan diskusi kelas. Perencanaan pengajaran pada siklus I ini
dituangkan dalam bentuk RPP.
Pada tahap perencanaan ini, peneliti dan guru kolaboran
meninjau kembali rancangan pembelajaran yang telah disiapkan.
Penekanan perencanaan disini adalah menyiapkan peserta didik benar-
benar berada pada suasana penyadaran diri untuk tetap semangat
belajar dengan menekankan pada keaktifan peserta didik dalam proses
pembelajaran dan berada pada konsentrasi terhadap materi pengajaran
Aqidah Akhlak yang sedang dibahas atau dipelajari.
Guru menyiapkan referensi yang terkait dengan topik
pembelajaran sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar.
Disamping itu, peneliti dan guru kolaboran juga menyiapkan lembar
soal yang digunakan sebagai evaluasi pada akhir pembelajaran, lembar
observasi siswa dan lembar observasi guru.
b. Pelaksanaan
Pelaksanaan tindakan pada siklus I dilaksanakan pada tanggal 23
Agustus 2010. Materi yang diajarkan tentang Akhlak terpuji pada diri
37

sendiri (berilmu, kerja keras, kreatif dan produktif), dilaksanakan sesuai


dengan jadwal dan prosedur yang direncanakan yang tertuang dalam
RPP.
Guru mengawali pembelajaran dengan melakukan apersepsi dan
absensi. Setelah itu guru menjelaskan secara singkat jalannya
pembelajaran yang dilaksanakan pada pertemuan kali ini, serta
menjelaskan materi yang akan bahas. Kemudian guru memberikan
beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan materi tersebut.
Guru membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok kecil
yang terdiri dari 3-4 orang. Setiap peserta kelompok ditugasi mencari
bahan pelajaran yang terkait dengan pertanyaan guru tersebut di
perpustakaan yang sudah diketahui oleh guru bahwa bahan tersebut
benar-benar ada. Setiap kelompok diusahakan untuk mencari informasi
yang berbeda dan memperbanyak referensi yang didapat sebanyak
jumlah kelompok. Setelah peserta didik mencari dan kembali ke kelas,
guru membantu dengan cara membagikan referensi kepada tiap-tiap
kelompok. Peserta didik diminta mencari jawaban dalam referensi
tersebut. Hasil jawaban siswa tersebut didiskusikan bersama seluruh
kelas. Setelah diskusi selesai, guru menjelaskan materi pelajaran
terkait dengan topik tersebut.
Pada akhir siklus I dilakukan tes akhir yang berfungsi untuk
mengukur hasil belajar siswa. Hasil belajar siswa tersebut dapat dilihat
pada tabel berikut.
Tabel 4.4
Rangkuman Hasil Belajar Siswa Siklus I

No Keterangan Perolehan
1 Nilai terendah 53
2 Nilai tertinggi 80
3 Nilai rata-rata kelas 71
4 Jumlah siswa yang belum tuntas belajar 7
5 Jumlah siswa yang tuntas belajar 27
6 Prosentase ketuntasan klasikal 79,41%
38

Berdasarkan temuan yang tercantum dalam di atas diketahui


bahwa siswa yang mencapai ketuntasan belajar yakni 27 orang dan
siswa yang belum mencapai nilai ketuntasan individu ada 7 orang, atau
prosentase ketuntasan belajar siswa secara klasikal adalah 79,41%.
Sedangkan nilai rata-rata hasil belajar siswa secara klasikal adalah 71.
Deskripsi data tersebut memperlihatkan bahwa pada siklus I ini
terjadi peningkatan nilai hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari
nilai rara-rata kelas pada observasi awal 65 naik menjadi 71 pada siklus
I dan ketuntasan klasikal 58,82% pada observasi awal naik menjadi
79,41% pada siklus I.
Walaupun rata-rata kelas sudah mengalami peningkatan tetapi
indikator keberhasilan ketuntasan belajar klasikal sebesar 85% masih
belum tercapai maka perlu diadakan perbaikan pada siklus II.
c. Observasi
Selama pembelajaran berlangsung aktivitas guru maupun siswa
diamati. Adapun hasil observasi pada siklus I mengenai aktivitas
siswa ini dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.5
Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa Pada Siklus I

Skor
No Aspek Pengamatan
rata-rata
1 Tingkat kerjasama siswa dalam pembelajaran 3
2 Keaktifan siswa dalam mencari informasi 3
3 Siswa menjawab pertanyaan dari guru atau teman 3
sekelas
4 Siswa mengerjakan tugas dari guru 3
5 Siswa memperhatikan penjelasan guru 2
Jumlah skor 14
Prosentase aktifitas siswa secara klasikal 70%

Keterangan: Skor tertinggi tiap aspek = 4, skor terendah = 1, Skor total


maksimal = 20

Klasifikasi Aktivitas
0% - 39% = Sangat Kurang
40% - 55% = Kurang
39

56% - 65% = Cukup


66% - 79% = Baik
80% - 100% = Sangat Baik

Berdasarkan data tabel di atas dapat diketahui bahwa aktivitas


siswa pada siklus I meningkat menjadi 70% dan berada pada kategori
baik. Meskipun aktifitas siswa mengalami peningkatan, namun masih
perlu ditingkatkan lagi pada siklus berikutnya karena belum memenuhi
target minimal yang diharapkan yaitu 75%.
Data aktivitas siswa ini dijadikan pertimbangan untuk tindakan
siklus II, yakni perlu adanya upaya peningkatan aktivitas belajar siswa
dalam pembelajaran.
Sedangkan hasil observasi mengenai pengelolaan pembelajaran
yang dilakukan oleh guru dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.6
Hasil Observasi Aktifitas Guru pada Tahap Siklus I
No Aspek yang Dinilai Nilai
1. Kemampuan guru dalam mengelola kelas 3
2. Kemampuan guru dalam menerapkan metode
3
pembelajaran
3. Kemampuan berkomunikasi dan menciptakan
3
komunikasi timbal balik
4. Kemampuan guru dalam menyampaikan materi
3
pelajaran
5. Kemampuan guru dalam memberikan motivasi
2
kepada siswa
6. Kemampun guru dalam menjawab pertanyaan
3
siswa
Jumlah 17
Rata-rata 3

Keterangan: skor terendah = 1, skor tertinggi = 4, skor total maksimal


= 20

Kriteria Penilaian
1 = Kurang
2 = Cukup
3 = Baik
4 = Sangat Baik
40

Selain melihat hasil belajar siswa dan aktivitas siswa dalam


pembelajaran, perlu juga mempertimbangkan faktor lain yang
mendukung pembelajaran yaitu pengelolaan pembelajaran yang
dilakukan oleh guru seperti pada di atas.
Tampak pada tersebut bahwa pengelolaan pembelajaran yang
dilakukan peneliti skor rata-rata yang diperoleh tergolong pada
kategori baik yaitu pada skor 3. Hal ini menunjukkan guru sudah
cukup baik dalam melakukan pengelolaan pembelajaran. Namun
pengelolaan pembelajaran juga harus lebih ditingkatkan pada siklus
berikutnya agar lebih baik lagi, karena bermula dari pengelolaan
pembelajaran inilah akan melahirkan tingkat aktivitas siswa yang lebih
tinggi serta peningkatan hasil belajar yang lebih baik.
d. Refleksi
Berdasarkan hasil belajar siswa dan observasi terhadap
aktivitas siswa serta pengelolaan pengajaran yang dilakukan guru pada
siklus I, maka produk refleksi pada siklus I dapat dirumuskan sebagai
berikut:
1. Sudah ada peningkatan hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat
dari nilai rara-rata siswa secara klasikal, yaitu pada observasi awal
65 naik menjadi 71 pada siklus I dan ketuntasan klasikal 58,82%
pada observasi awal naik menjadi 79,41% pada siklus I tetapi
indikator keberhasilan ketuntasan klasikal sebesar 85% masih belum
tercapai.
2. Aktivitas siswa pada siklus I berada dalam kategori baik. Hal ini
menunjukkan bahwa siswa sudah mulai aktif dalam pembelajaran.
Prosentase aktifitas siswa secara klasikal adalah 70%. Berarti belum
mencapai indikator keberhasilan yaitu minimal 80%.
3. Pengelolaan pengajaran yang dilakukan oleh guru sudah berada pada
tingkat baik. Namun aktifitas guru masih perlu ditingkatkan
sehingga bisa maksimal.
41

Melihat hasil refleksi ini maka perlu adanya perbaikan-perbaikan


dalam pembelajaran pada siklus berikutnya, seperti upaya meningkatkan
lagi aktivitas belajar siswa dan pengelolaan pengajaran guru, sehingga
hasil belajar siswa bisa maksimal.

2. Siklus II
a. Perencanaan
Pada siklus II ini peneliti merencanakan pembelajaran dengan
metode yang hampir sama pada siklus I hanya saja mengalami beberapa
perbaikan berdasarkan hasil refleksi siklus I. Perencanaan tindakan pada
siklus II tertuang dalam RPP.
Guru menyiapkan referensi yang terkait dengan materi yang
akan dibahas pada pertemuan kali ini. Guru juga menyiapkan lembar
soal yang digunakan sebagai evaluasi pada akhir pembelajaran, lembar
observasi siswa dan lembar observasi guru.
b. Pelaksanaan
Pelaksanaan tindakan pada siklus II dilaksanakan pada tanggal 30
Agustus 2010. Pokok bahasan yang diajarkan pada siklus II ini adalah
nilai-nilai positif dari berilmu, kerja keras, kreatif dan produktif
Pelaksanaan pembelajarannya mengacu pada RPP yang telah
dipersiapkan oleh guru.
Prinsip pelaksanaan pembelajaran pada siklus II ini hampir
sama dengan siklus I, tetapi peneliti lebih menekankan pada
pemberian motivasi agar aktivitas siswa lebih meningkat dari siklus I.
Pada akhir siklus II juga dilakukan tes akhir yang berfungsi untuk
mengukur hasil belajar siswa. Hasil tes akhir pada siklus II dapat
dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.7
Rangkuman Hasil Belajar Siswa Siklus II
No Keterangan Perolehan
1 Nilai terendah 60
2 Nilai tertinggi 93
3 Nilai rata-rata kelas 82
42

4 Jumlah siswa yang belum tuntas belajar 2


5 Jumlah siswa yang tuntas belajar 32
6 Prosentase ketuntasan klasikal 94,12%

Berdasarkan temuan yang tercantum dalam tabel di atas


diketahui bahwa siswa yang mencapai nilai ketuntasan belajar secara
klasikal ada 32 orang dan yang tidak mencapai ketuntasan individu ada
2 orang atau dilihat dari prosentase ketuntasannya adalah 94,12%.
Sedangkan rata-rata kelas hasil belajar siswa adalah 82.
Data tersebut memperlihatkan bahwa pada siklus II ini terjadi
peningkatan hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat nilai rata-rata kelas
pada siklus I 71 naik menjadi 82 pada siklus II dan ketuntasan klasikal
79,41% pada siklus I naik menjadi 94,12% pada siklus II.
Ketuntasan klasikal yang diperoleh dari hasil tes pembelajaran
siklus II ini telah memenuhi persyaratan yang digunakan sebagai salah
satu indikator keberhasilan pembelajaran, karena ketuntasan klasikal telah
melebihi indikator keberhasilan yaitu 85%. Dengan kata lain, hasil belajar
yang dilihat dari hasil post test pada siklus II sudah tuntas.
c. Observasi
Selama pembelajaran aktivitas peneliti maupun siswa tetap
diamati. Observasi terhadap aktivitas siswa dan guru dilakukan oleh
peneliti. Hasil observasi mengenai aktivitas siswa dapat dilihat pada tabel
berikut.
Tabel 4.8
Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa Pada Siklus II
Skor
No Aspek Pengamatan
rata-rata
1 Tingkat kerjasama siswa dalam pembelajaran 4
2 Keaktifan siswa dalam mencari informasi 3
3 Siswa menjawab pertanyaan dari guru atau teman 3
sekelas
4 Siswa mengerjakan tugas dari guru 3
5 Siswa memperhatikan penjelasan guru 3
Jumlah skor 16
Prosentase aktifitas siswa secara klasikal 80%
43

Keterangan: Skor tertinggi tiap aspek = 4, skor terendah = 1, Skor total


maksimal = 20

Klasifikasi Aktivitas
0% - 39% = Sangat Kurang
40% - 55% = Kurang
56% - 65% = Cukup
66% - 79% = Baik
80% - 100% = Sangat Baik

Tabel di atas memperlihatkan bahwa aktivitas belajar siswa


mengalami peningkatan dari aktivitas belajar siswa siklus I yang hanya
70% menjadi 80% pada siklus II. Pada siklus II ini aktivitas belajar
siswa berada dalam kategori sangat baik dan sudah melampaui batas
minimal aktivitas belajar siswa yang diharapkan yaitu 75%. Ini berarti
aktivitas belajar siswa sudah mencapai indikator keberhasilan tindakan.
Hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti mengenai
pengelolaan pembelajaran oleh guru dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.9
Hasil Observasi Aktifitas Guru pada Tahap Siklus II

No Aspek yang Dinilai Nilai


1. Kemampuan guru dalam mengelola kelas 4
2. Kemampuan guru dalam menerapkan metode
4
pembelajaran
3. Kemampuan berkomunikasi dan menciptakan
3
komunikasi timbal balik
4. Kemampuan guru dalam menyampaikan materi
4
pelajaran
5. Kemampuan guru dalam memberikan motivasi
3
kepada siswa
6. Kemampun guru dalam menjawab pertanyaan
4
siswa
Jumlah 22
Rata-rata 4

Keterangan: skor terendah = 1, skor tertinggi = 4, skor total maksimal


= 20
44

Kriteria Penilaian
1 = Kurang
2 = Cukup
3 = Baik
4 = Sangat Baik

Tampak pada tabel di atas bahwa pengelolaan pembelajaran


yang dilakukan guru mendapatkan skor rata-rata yaitu pada skor 4
dengan kategori sangat baik. Hal ini menunjukkan guru sudah sangat
baik dalam melakukan pengelolaan pembelajaran.
d. Refleksi
Berdasarkan data-data yang telah terkumpul pada siklus II, maka
produk refleksi pada siklus II dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Hasil belajarnya sudah lebih baik dibandingkan dengan siklus I. Hal
ini dapat dilihat nilai rara-rata kelas pada siklus I 71 naik menjadi 82
pada siklus II dan ketuntasan klasikal 79,41% pada siklus I naik
menjadi 94,125% pada siklus II. Hal ini berarti ketuntasan klasikal
telah melebihi indikator keberhasilan yaitu 85%. Jadi hasil belajar
yang dilihat dari hasil post test pada siklus II sudah tuntas.
2. Aktivitas siswa mengalami peningkatan dari siklus I yaitu dari 70%
menjadi 80% pada siklus II. Ini berarti batas minimal aktivitas siswa
yang diharapkan sebesar 75% sudah terpenuhi.
3. Pengelolaan pembelajaran yang dilakukan sudah tergolong baik, dan
mengalami peningkatan dari siklus I.
Berdasarkan hasil refleksi tersebut, maka peneliti memutuskan
untuk menghentikan penelitian ini pada siklus II.

C. Pembahasan
1. Hasil Belajar Siswa
Hasil belajar siswa dapat dilihat dari nilai tes akhir baik pada siklus I
maupun siklus II. Optimalisasi hasil belajar siswa berupa hasil tes akhir
diukur dari ketercapaian ketuntasan belajar secara klasikal dan nilai rata-rata
kelas yang didapat oleh siswa. Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil
45

belajar siklus I, sebagai gambaran ketuntasan klasikal, maka diketahui


hasil tes akhir siklus I belum mencapai ketuntasan klasikal. Ketuntasan
klasikal hasil tes akhir pada siklus I hanya sebesar 79,41% atau hanya 27
siswa yang mencapai ketuntasan individual. Hasil post test tersebut belum
sesuai dengan indikator ketuntasan belajar secara klasikal yang ditetapkan
yaitu 85%. Hasil tes akhir siklus I telah menunjukkan peningkatan dari
hasil belajar observasi awal yaitu 79,41%.
Kurang optimalnya hasil belajar siswa pada siklus I disebabkan juga
guru belum dapat mengkondisikan kelas dengan baik yang ditunjukkan
dengan masih banyaknya siswa yang ramai sendiri selama proses
pembelajaran, dan terdapat siswa yang nampak bosan selama kegiatan
pembelajaran berlangsung. Hasil ini perlu ditindak lanjuti dengan
mengoptimalkan pembelajaran Aqidah Akhlak menggunakan metode
information search pada kegiatan pembelajaran siklus II untuk membiasakan
siswa belajar dengan metode information search, dan lebih memotivasi
siswa agar aktif dalam proses pembelajaran.
Hasil belajar yang telah dicapai pada siklus II menunjukkan adanya
peningkatan dari siklus I dimana pada siklus I ketuntasan klasikal hanya
79,41%, sedangkan pada siklus II ketuntasan klasikal telah mencapai 94,12%
dimana ada 32 siswa yang mencapai ketuntasan individual. Ini berarti hasil
siklus II telah mencapai indikator keberhasilan tindakan yaitu ketuntasan
klasikal sebesar 85%.
Hal ini tidak terlepas dari kemampuan siswa dalam mengikuti pola
pembelajaran dengan menggunakan metode information search dengan
baik, di samping itu kemampuan guru dalam mengelola kelas juga
mendukung keberhasilan dalam pembelajaran. Guru harus mampu untuk
menyusun kegiatan belajar yang mendorong siswa menjadi aktif,
berorientasi pada tujuan dan juga proses serta sesuai dengan siklus belajar.
Pembelajaran Aqidah Akhlak dengan menggunakan metode
information search dilakukan dalam kaidah mengajak siswa langsung untuk
mencari informasi yang berkaitan dengan materi pelajaran. Jadi pengetahuan
46

yang selama ini didapatkan hanya dari guru dapat diperoleh siswa secara
langsung melalui pembelajaran semacam ini.
Sebagai gambaran kuantitatif terhadap keberhasilan peningkatan
hasil belajar atau prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Aqidah
Akhlak dengan penerapan metode information search ini dapat dilihat
pada tabel berikut.
Tabel 4.10
Rangkuman Perkembangan Hasil Belajar Siswa

Perolehan
No Keterangan
Pra Siklus Siklus I Siklus II
1 Nilai terendah 43 53 60
2 Nilai tertinggi 73 80 93
3 Rata-rata kelas 65 71 82
4 Jumlah siswa yang belum tuntas 14 7 2
5 Jumlah siswa yang sudah tuntas 20 27 32
6 Prosentase ketuntasan klasikal 58.82% 79.41% 94.12%

Peningkatan hasil belajar siswa dalam bentuk diagram dapat dilihat


pada gambar 4.1 berikut.

Peningkatan Hasil Belajar Peserta Didik

100 94.12

79.41 82
80
71
65
58.82
60

40

20

0
Pra Siklus Siklus I Siklus II
Nilai rata-rata 65 71 82
Prosentase 58.82 79.41 94.12
Ketuntasan

Gambar 4.1 Diagram Peningkatan Hasil Belajar Siswa


47

2. Aktivitas siswa di dalam proses pembelajaran


Peneliti juga melakukan penilaian terhadap aktivitas belajar siswa.
Keberhasilan aktivitas belajar siswa diukur berdasarkan aktivitas siswa secara
klasikal. Peningkatan aktivitas siswa dikatakan berhasil apabila aktivitas
belajar klasikalnya > 75%.
Pada siklus I aktivitas siswa selama proses pembelajaran masih
belum mencapai harapan yang ditargetkan yaitu aktivitas siswa secara
klasikal sebesar 75%. Aktivitas siswa pada siklus I sebesar 70% masih
dalam kategori baik, namun secara keseluruhan hasil belum menunjukkan
peningkatan yang diinginkan. Hal ini dikarenakan siswa belum terbiasa
dengan metode pembelajaran aktif yaitu metode information search.
Pada siklus II aktivitas siswa mengalami peningkatan yang sangat
berarti. Nilai aktivitas siswa secara klasikal telah mencapai 80%. Ini berarti
indikator keberhasilan aktivitas siswa telah tercapai yaitu aktivitas siswa
secara klasikal sebesar 75%. Keberhasilan ini didorong oleh pengelolaan
pembelajaran yang dilakukan oleh guru yang selalu memberikan dorongan
kepada siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran dan pengelolaan
pembelajaran yang diterapkan memberikan peluang bagi siswa untuk
berperan lebih aktif dalam proses pembelajaran tersebut. Keberhasilan ini
juga didorong oleh sikap siswa yang sudah menyenangi atau merespon
secara positif terhadap metode yang digunakan dalam pembelajaran Aqidah
Akhlak. Peningkatan aktivitas siswa tersebut dapat dilihat pada tabel
berikut.
Tabel 4. 11
Peningkatan Aktivitas Belajar Siswa Per Siklus

Keterangan Pra Siklus Siklus I Siklus II


rata-rata 2 3 3
% 50 70 80
kriteria Kurang Baik Sangat Baik
48

Peningkatan aktivitas belajar siswa dari pra siklus sampai siklus II


dalam bentuk diagram dapat dilihat pada gambar berikut.

Prosentase Aktifitas Peserta Didik

80
70
60
50
80
40 70
30 50
20
10
0
Pra Siklus Siklus I Siklus II
Series1 50 70 80

Gambar 4. 2 Diagram Peningkatan Aktivitas Belajar Siswa

3. Pengelolaan Pembelajaran
Pengelolaan pembelajaran selama siklus I ke siklus II terus
mengalami peningkatan. Pada siklus I nilai rata-ratanya adalah 3 kategori
cukup dan pada siklus II nilai rata-ratanya adalah 4 kategori sangat baik. Hal
ini menunjukkan bahwa pengelolaan pembelajaran yang baik akan
melahirkan proses pembelajaran yang berkualitas, efektif, efisien,
berlangsung dengan lancar, dan melahirkan aktivitas siswa yang tinggi
untuk tercapainya tujuan yang diinginkan.
Berdasarkan hasil observasi pengelolaan pembelajaran pada siklus I,
kegiatan pembelajaran dengan metode information search yang telah
dilaksanakan oleh guru nilai rata-ratanya 3 dan pada siklus II mengalami
peningkatan menjadi 4.
Perkembangan pengelolaan pembelajaran tersebut dapat dilihat pada
tabel berikut.
49

Tabel 4.12
Perkembangan Pengelolaan Pembelajaran Per Siklus

Keterangan Pra Siklus Siklus I Siklus II


rata-rata 2 3 4
kriteria Kurang Baik Sangat Baik

Berdasarkan hasil observasi pengelolaan pembelajaran pada siklus I


dan II, kegiatan inti dari pembelajaran yang telah dilaksanakan oleh peneliti
dan siswa mengalami beberapa kelemahan dan perbaikan oleh peneliti,
diantaranya yaitu:
a. Proses pencarian informasi
Peneliti pada tahap ini telah berusaha membimbing siswa dalam
mencari informasi secara mandiri. Siswa mencari sendiri masalah yang
terkait dengan materi pembelajaran, namun siswa masih belum
maksimal dalam pencarian informasi tersebut, meskipun guru telah
memastikan bahwa referensi yang mereka cari tersedia di perpustakaan.
Keadaan ini pada siklus II telah diperbaiki oleh guru dalam memotivasi
siswa supaya lebih serius dalam mencari informasi yang berhubungan
dengan materi pelajaran Guru juga memberikan bimbingan dan
pengawasan secara langsung saat proses pencarian informasi sedang
berlangsung.
b. Mengorganisasi Siswa dalam Belajar
Kegiatan selanjutnya adalah mengorganisasi siswa dalam
belajar. Guru mengorganisir siswa dalam belajar dengan membentuk
kelompok kecil yang heterogen pada siklus I dan begitu pula pada siklus
II dalam hal ini telah terlaksana dengan baik. Interaksi siswa dalam
kelompok terjadi dengan baik mereka dapat bertatap muka, melakukan
dialog, tidak hanya dengan guru, tetapi juga sesama siswa. Interaksi
semacam itu sangat membantu siswa, khususnya bagi siswa yang
tingkat pemahaman materinya rendah.
50

c. Membimbing menemukan jawaban dari informasi yang didapat.


Kegiatan yang ketiga adalah membimbing menemukan jawaban
dari informasi yang didapat baik secara individu maupun kelompok. Pada
siklus I guru memberikan bimbingan dalam menemukan jawaban dari
soal-soal yang diberikan guru secara intensif karena siswa tidak terbiasa
dalam melaksanakan pembelajaran dengan metode information search.
Pada siklus II guru tetap melaksanakan bimbingan pada siswa untuk
melakukan diskusi kelompok, guru mendorong siswa untuk
mengumpulkan informasi yang sesuai lewat membaca buku-buku untuk
mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah. Sehingga mereka
mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh guru
dengan lebih baik.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan analisis hasil penelitian dapat peneliti kemukakan beberapa
kesimpulan sebagai berikut:
1. Sebelum dilaksanakan pembelajaran Aqidah Akhlak dengan menerapkan
metode information search di kelas IX MTs Maarif NU I Karanglewas
Kabupaten Banyumas, siswa terlihat pasif dalam mengikuti pembelajaran.
Hal ini dikarenakan metode yang digunakan guru masih bersifat
konvensional dan belum mampu meningkatkan aktifitas siswa. Namun
setelah pelaksanaan tindakan kelas dalam pembelajaran Aqidah Akhlak
dengan menerapkan metode information search, siswa terlihat lebih aktif
dalam pembelajaran. Hal ini dikarenakan metode information search
menuntut siswa untuk lebih aktif dalam mencari informasti atau sumber
belajar secara mandiri.
2. Pelaksanaan proses pembelajaran Aqidah Akhlak dengan penerapan metode
information search dinilai efektif karena ada beberapa faktor penyebab
yaitu, siswa antusias dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar, siswa
banyak diberi kesempatan untuk mengalami atau melakukan sendiri,
mengembangkan kemampuan siswa untuk berfikir kritis dan kreatif,
menciptakan ruangan kelas sebagai lingkungan belajar yang menyenangkan,
sedangkan guru dapat memahami dan mengenal siswa secara perorangan.
Dalam hal ini berarti siswa menampakkan kesenangan dan keseriusan
mengikuti pelajaran Aqidah Akhlak yang sedang berlangsung.
3. Metode information search dalam pembelajaran Aqidah Akhlak mampu
meningkatkan aktivitas belajar Aqidah Akhlak siswa kelas IX MTs
Maarif NU I Karanglewas Kabupaten Banyumas tahun pelajaran
2010/2011. Pada siklus I prosentase keaktifan siswa sebesar 70% dengan
kategori baik, sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 80% dengan
kategori baik sekali. Disamping itu, prestasi belajar Aqidah Akhlak siswa

51
52

juga mengalami peningkatan setelah diterapkannya metode information


search. Hal ini terlihat dari prosentase ketuntasan belajar secara klasikal
yaitu pada siklus I sebesar 79,41%, dan pada siklus II sebesar 94,12%.

B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian diatas, ada beberapa saran yang penulis
tawarkan, di antaranya adalah:
1. Bagi Guru
Untuk mencapai kualitas proses belajar mengajar dan kualitas hasil
belajar yang baik dalam pembelajaran dengan metode information search
diperlukan persiapan perangkat pembelajaran yang cukup memadai,
misalnya Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, buku siswa, dan LKS yang
harus dimiliki oleh setiap siswa, serta mempersiapkan instrumen
penilaian.
2. Bagi Siswa
Kepada siswa MTs Maarif NU I Karanglewas khususnya, dan
siswa secara umum, agar dalam mempelajari Aqidah Akhlak selalu rajin,
tekun dan sabar, jika ingin memperoleh nilai yang baik. Dengan
pengalaman pembelajaran melalui metode information search, aktivitas
dan prestasi belajar siswa dapat meningkat menjadi lebih baik. Oleh
karena itu, tingkatkan praktek dan cara-cara keterampilan kooperatif dalam
pembelajaran selanjutnya.
3. Bagi Peneliti Berikutnya
Bagi pihak lain yang ingin menerapkan perangkat pembelajaran
yang telah dikembangkan peneliti ini, sedapat mungkin terlebih dahulu
dianalisis kembali untuk disesuaikan penerapannya, terutama dalam hal
alokasi waktu, fasilitas pendukung termasuk media pembelajaran, dan
karakteristik siswa yang ada pada sekolah tempat perangkat ini akan
diterapkan.
53

4. Bagi Pihak Sekolah


Bagi pihak sekolah khususnya kepala sekolah untuk sering
memberikan pendidikan dan latihan (diklat) bagi guru-guru tentang
wawasan dunia pendidikan terutama dalam penerapan metode
pembelajaran yang lebih inovatif, agar guru dapat memilih metode
pembelajaran yang sesuai dengan pelajaran yang diajarkannya sehingga
tujuan belajar mudah dicapai.

C. Penutup
Syukur alhamdulillah penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah
melimpahkan Rahmat, Taufiq dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini. Betapapun penulis telah berusaha dengan segenap
kemampuan yang ada untuk menyajikan karya tulis yang sebaik-baiknya tapi
dalam skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, saran dan
kritik yang membangun sangat penulis harapkan dan penulis terima dengan
tangan terbuka.
Kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini,
penulis ucapkan terima kasih dan semoga skripsi ini dapat memberikan
manfaat kepada penulis khususnya dan pembaca pada umumnya serta dapat
memberikan sumbangan pemikiran bagi perkembangan pendidikan di masa
mendatang.
DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, Jakarta: Rineka Cipta
1991.

Ahmadi, Abu, Psikologi Belajar, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995.

Ali, Muhammad, Strategi Penelitian Statistik, Bandung: Bumi Aksara, 1993.

Arikunto, Suharsimi, et.al., Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Bumi Aksara,


2006.

Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta:


Rineka Cipta, 2002.

Badan Standar Nasional Pendidikan BNSP, Kurikulum Tingkat Satuan


Pendidikan Khusus Madrasah Tsanawiyah MTs, Jakarta: PT Binatama
Raya, 2007.

Dimyati dan Mujiono, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Rineka Cipta, 1999.

Echols, John M. dan Hasan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, Jakarta: Gramedia,
1992.

Gie, The Liang, Cara Belajar Yang Efisien, Yogyakarta: Pusat Kemajuan Studi,
t.th.

Hadi, Sutrisno, Metodologi Research, Jilid I, Yogyakarta: Andi Offset, 2000.

Ismail SM, Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM Pembelajaran


Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan, Semarang: RaSAIL,
2009.

Koentjaraningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, Jakarta: Gramedia,


1991.

Moleong, Lexi J., Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT Remaja Rosda


Karya, 2000.

Mulyasa, E., Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan


Menyenangkan, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008, cet. 7.

Mulyono, Psikologi Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 1997.

Muslim, Aplikasi Statistik, Semarang: IAIN Walisongo, 1996.

Nasution, Harun, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jakarta: UI Press, 1985.
Nata, Abudin, Akhlak Tasawuf, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006.

Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 tentang


Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi Pendidikan Agama Islam dan
Bahasa Arab di Madrasah.

Sardiman, A.M., Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta: PT Raja


Grafindo Persada, 2000.

Silberman, Mel, Active Learning: 101 Strategi To Teach Any Subject, terj. Sadjuli,
dkk, Yogyakarta: YAPPENDIS, 1996.

Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Menpengaruhinya, Jakarta: Rineka


Cipta, 1991.

Soemanto, Wasty, Psikologi Pendidikan, Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan,


Jakarta: Gramedia, 1990.

Soenarjo, Al-Quran dan Terjemahnya, Semarang: Toha Putra, 1989.

Sriyono dkk, Tehnik Belajar Mengajar Dalam CBSA, Jakarta: Rineka Cipta, 1992.

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D, Bandung:


Alfabeta, 2006, Cet. II.

Suharso dan Ana Retnoningsih, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Semarang:


Widya Karya, 2009.

Suryabrata, Sumadi, Psikologi Pendidikan, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1993.

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus


Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1996.

Wardani, I.G.A.K., dkk., Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Pusat Penerbitan


Universitas Terbuka, 2004.

Wiriaatmaja, Metode Penelitian Tindakan Kelas, Bandung: Remaja Rosda Karya,


2005.

Yamin, Martinis dan Maisah, Manajemen Pembelajaran Kelas: Strategi


Meningkatkan Mutu Pembelajaran, Jakarta: GP Press, 2009.
DAFTAR RIWAYAT HIDUP PENULIS

Yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Alfiatul Hasanah Rosyid


Tempat/Tanggal lahir : Banyumas, 22 Juni 1970
Alamat : Karangkemiri RT 07/02 Pekuncen Banyumas
Agama : Islam
Jenjang Pendidikan :
1. SDN I Karangkemiri Pekuncen Lulus Tahun 1983
2. SMP Muhammadiyah Purwokerto Lulus Tahun 1986
3. SMA Muhammadiyah Purwokerto Lulus Tahun 1989
4. IAIN Walisongo Angkatan 2007

Demikian daftar riwayat hidup penulis yang dibuat dengan sesungguhnya, dan
semoga dapat menjadi keterangan yang jelas.

Semarang, Maret 2011


Penulis

Alfiatul Hasanah Rosyid