Anda di halaman 1dari 6

1.

Ringer Laktat
Cairan intravena diklasifikasikan menjadi kristaloid dan koloid. Kristaloid
merupakan larutan dimana molekul organik kecil dan inorganik dilarutkan dalam
air. Larutan ini ada yang bersifat isotonik, hipotonik, maupun hipertonik. Cairan
kristaloid memiliki keuntungan antara lain : aman, nontoksik, bebas reaksi, dan
murah. Adapun kerugian dari cairan kristaloid yang hipotonik dan isotonik
adalah kemampuannya terbatas untuk tetap berada dalam ruang intravaskular.
a. Kristaloid
Cairan kristaloid yang paling banyak digunakan adalah normal saline dan
ringer laktat. Cairan kristaloid memiliki komposisi yang mirip cairan
ekstraselular. Karena perbedaan sifat antara kristaloid dan koloid, dimana
kristaloid akan lebih banyak menyebar ke ruang interstitial dibandingkan
dengan koloid maka kristaloid sebaiknya dipilih untuk resusitasi defisit cairan di
ruang intersisial.
Penggunaan cairan normal salin dalam jumlah yang besar dapat
menyebabkan timbulnya asidosis hiperkloremik, sedangkan penggunaan cairan
ringer laktat dengan jumlah besar dapat menyebabkan alkalosis metabolik yang
disebabkan adanya peningkatan produksi bikarbonat akibat metabolisme laktat.
Larutan dekstrose 5% sering digunakan jika pasien memiliki gula darah
yang rendah atau memiliki kadar natrium yang tinggi. Namun penggunaannya
untuk resusitasi dihindarkan karena komplikasi yang diakibatkan antara lain
hiperomolalitas- hiperglikemik, diuresis osmotik, dan asidosis serebral.
1) Ringer Laktat
RL merupakan cairan yang paling fisiologis yang dapat diberikan pada
kebutuhan volume dalam jumlah besar. RL banyak digunakan sebagai
replacement therapy, antara lain untuk syok hipovolemik, diare, trauma, dan
luka bakar.
Laktat yang terdapat di dalam larutan RL akan dimetabolisme oleh
hati menjadi bikarbonat yang berguna untuk memperbaiki keadaan seperti
asidosis metabolik. Kalium yang terdapat di dalam RL tidak cukup untuk
pemeliharaan sehari-hari, apalagi untuk kasus defisit kalium.
Larutan RL tidak mengandung glukosa, sehingga bila akan dipakai
sebagai cairan rumatan, dapat ditambahkan glukosa yang berguna untuk
mencegah terjadinya ketosis.
Kemasan larutan kristaloid RL yang beredar di pasaran memiliki
+ - +
komposisi elektrolit Na (130 mEq/L), Cl (109 mEq/L), Ca (3
mEq/L), dan laktat (28 mEq/L). Osmolaritasnya sebesar 273 mOsm/L.
Sediaannya adalah 500 ml dan 1.000 ml.
Tabel Komposisi Cairan Kristaloid
Solution Glucose Sodium Chloride Potassium Kalsium Lactate (mOsmol/L)
(mg/dL) (mEq/L) (mEq/L) (mEq/L) (mEq/L) (mEq/L)
5% 5000 253
Dextrose
D5 NS 5000 77 77 406
in water

D5 NS 5000 154 154 561

0,9% 154 154 308


NaCl
Ringer 130 109 4.0 3.0 28 273
Laktat
D5 RL 5000 130 109 4.0 3.0 28 525

5% NaCl 855 855 1171

Tabel Jenis cairan Kristaloid dan kandungan masing-masing


Nama produk + + + Cl Laktat Dekstrose (gr/L) Kalori (Kcal/L)
Na K Mg
Ringer laktat 130 4 - -
109 2 - -

NaCl 0,9% 154 - - 154 8- - -

Dextrose 5% - - - - - 2 1
7 0

Rute Terapi Cairan


Rute terapi cairan yang paling bermanfaat adalah melalui oral (PO), intravena
(IV), dan subkutan (SC). Rute intraoseus kadang-kadang digunakan untuk terapi cairan atau
darah pada anak anjing dan anak kucing atau pasien dewasa yang tidak dapat dilakukan
melalui vena.
Pada pasien yang masih mau minum dan tidak disertai muntah, rute oral merupakan
pilihan yang baik untuk menangani dehidrasi ringan. Dalam jumlah yang terbatas, cairan
yang berbeda dengan cairan ekstraselular dapat diberikan secara oral.
Pada pemberian cairan secara IV, volume cairan ektraselular akan pulih dengan cepat
dan distribusi cairan ke seluruh tubuh juga cepat. Rute IV dipilih pada dehidrasi sedang
sampai parah atau apabila cairan hilang dari tubuh pasien dengan cepat. Kelemahan rute IV
adalah: efek sampingnya lebih besar (flebitis, bekterimia/septisemia, overhidrasi),
membutuhkan waktu dan bantuan untuk merestrin pasien selama terapi cairan dilakukan.
Rute SC baik untuk terapi pemeliharaan cairan dalam waktu singkat. Cairan dapat
diberikan dengan cepat, tetapi absorpsi dan distribusi cairan di dalam tubuh jauh lebih lambat
dibandingkan dengan pemberian cairan dengan IV. Absorpsi cairan nyata lebih lama pada
yang mengalami hipotensi, sehingga disarankan pada tahap awal terapi cairan dilakukan
secara IV untuk rehidrasi pasien dan memperbaiki sirkulasi pada cairan subkutan.
a) Indikasi

1. Ringer laktat diindikasikan untuk pengobatan kekurangan cairan dimana


rehidrasi secara oral tidak mungkin dilakukan

2. Mengembalikan keseimbangan elektrolit pada dehidrasi.

b) Kontra Indikasi

1. Hipernatremia

2. Kelainan ginjal

3. Kerusakan sel hati

4. Laktat asidosis.

c) Perhatian

Jangan digunakan bila botol rusak, larutan keruh atau berisi partikel.

d) Interaksi Obat

1. Larutan mengandung fosfat.

2. Preparat kalium dan kalsium akan meningkatkan efek digitalis.

e) Efek Samping

1. Panas
2. Infeksi pada tempat penyuntikan

3. Trombosis vena atau flebitis yang meluas dari tempat penyuntikan,

4. Ekstravasasi.

f) Dosis

Dosis tergantung pada usia, berat badan dan keadaan klinis penderita.

2. Ondasetron Injeksi
a. Fisiologi Serotonin
Serotonin, 5- Hidroksi-Triptamin (5-HT) terdapat dalam jumlah yang besar
pada trombosit dan traktus gastrointestinal (sel enterochromafin dan pleksus
myentericus). Serotonin juga merupakan neurotransmiter penting pada sistem
saraf pusat, meliputi retina, sistem limbik, hipotalamus, cerebelum, dan medula
spinalis. Serotonin dibentuk dari proses hidroksilasi dan dekarboksilasi triptofan.
Fisiologi serotonin sangat kompleks karena serotonin sendiri memiliki tujuh tipe
reseptor dengan banyak subtipe. Salah satu reseptornya yang berperan dalam
mekanisme terjadinya mual dan muntah adalah 5-HT3, ditemukan pada traktus
gastrointestinal dan area postrema otak. Pada traktus gastrointestinal, serotonin
menginduksi pembentukan asetilkolin pada pleksus myentericus melalui reseptor
5-HT3yang menyebabkan bertambahnya peristaltik, sedangkan pengaruh pada
sekresi lemah (Katzung, 2014).
b. Sifat Umum Ondansetron
Ondansetron merupakan obat selektif terhadap reseptor antagonis 5-Hidroksi-
Triptamin (5 HT3) di otak dan mungkin juga pada aferen vagal saluran cerna. Di
mana selektif dan kompetitif untuk mencegah mual dan muntah setelah operasi
dan radioterapi. Ondansetron memblok reseptor di gastrointestinal dan area
postrema di CNS (Katzung.2014).
c. Farmakokinetik dan Farmakodinamik
1) Farmakokinetik
Ondansetron dapat diberikan secara oral dan parenteral. Pada
pemberian oral, dosis yang diberikan adalah 4-8 mg/kgBB. Pada intravena
diberikan dosis tunggal ondansetron 0,1 mg/BB sebelum operasi atau
bersamaan dengan induksi (Katzung.2014).
Pada pemberian oral, obat ini diabsorbsi secara cepat. Ondansetron di
eliminasi dengan cepat dari tubuh. Metabolisme obat ini terutama secara
hidroksilasi dan konjugasi dengan glukoronida atau sulfat di hati. Pada
disfungsi hati terjadi penurunan kadar plasma dan berpengaruh pada dosis
yang diberikan. Kadar serum dapat berubah pada pemberian bersama fenitoin
fenobarbital dan rifampin.
Efek ondansetron terhadap kardiovaskuler sampai batas 3 mg/kgBB
masih aman, clearance ondansetron pada wanita dan orang tua lebih lambat
dan bioavailabilitasnya 60%, ikatan dengan protein 70-76%, metabolisme di
hepar,diekskresi melalui ginjal dan waktu paruh 3,5-5,5 jam. Mula kerja
kurang dari 30 menit, lama aksi 6-12 jam (Katzung.2014)
a) Farmakodinamik
Ondansetron adalah golongan antagonis reseptor serotonin (5-HT3)
merupakan obat yang selektif menghambat ikatan serotonin dan reseptor
5-HT3. Obat-obat anestesi akan menyebabkan pelepasan serotonin dari
sel-sel mukosa enterochromafin dan dengan melalui lintasan yang
melibatkan 5-HT3dapat merangsang area postrema menimbulkan muntah.
Pelepasanserotonin akan diikat reseptor 5-HT3 memacu aferen vagus
yang akan mengaktifkan refleks muntah. Serotonin juga dilepaskan akibat
manipulasi pembedahan atau iritasi usus yang merangsang distensi
gastrointestinal.
Efek antiemetik ondansetron terjadi melalui:
1. Blokade sentral pada area postrema (CTZ) dan nukleus traktus
solitarius melalui kompetitif selektif di reseptor 5-HT3
2. Memblok reseptor perifer pada ujung saraf vagus yaitu dengan
menghambat ikatan serotonin dengan reseptor pada ujung saraf
vagus.
d. Indikasi dan Kontraindikasi
1) Indikasi pengobatan dengan ondansetron adalah pencegahan mual dan muntah
yang berhubungan dengan operasi dan pengobatan kanker dengan radioterapi
dan sitostatika.
2) Kontraindikasi pengobatan dengan ondansetron adalah keadaan
hipersensitivitas dan penyakit hati (Sulistia, 2007).
e. Efek Samping
Keluhan yang umum ditemukan ialah konstipasi. Gejala lain dapat berupa
sakit kepala, flushing, mengantuk, gangguan saluran cerna, nyeri dada, susah
bernapas, dsb.

f. Peringatan dan Perhatian


Ondansetron sebaiknya tidak digunakan pada wanita hamil, khususnya pada
trimester I, kecuali jika terdapat resiko yang lebih berat pada bayi akibat
penurunan berat badan ibu. Ondansetron dieksresi pada air susu ibu, sehingga
dianjurkan untuk tidak diberikan pada ibu menyusui.
g. Penggunaan Klinik
Ondansetron digunakan untuk pencegahan mual dan muntah yang
berhubungan dengan operasi dan pengobatan kanker dengan radioterapi dan
sitostatika. Ondansetron biasa diberikan secara oral dan intravena atau
intramuskuler. Awal kerja diberi 0,1-0,2 mg/kgBB secara perlahan melalui
intravena atau infus untuk 15 menit sebelum tindakan operasi. Dan disusul
pemberian oral dengan dosis 4-8 mg/kgBB tiap 12 jam selama 5 hari
h. Interaksi
Karena Ondansetron dimetabolisme oleh enzim metabolik sitokrom P-450,
perangsangan dan penghambatan terhadap enzim ini dapat mengubah klirens dan
waktu paruhnya. Pada penderita yang sedang mendapat pengobatan dengan obat-
obat yang secara kuat merangsang enzim metabolisme CYP3A4 (seperti Fenitoin,
Karbamazepin dan Rifampisin), klirens Ondansetron akan meningkat secara
signifikan, sehingga konsentrasi dalam darah akan menurun, tramadol:
ondansetron menurunkan efek tramadol, rifampisin: meningkatkan metabolisme
ondansetron.