Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN KASUS TUTORIAL

KEPERAWATAN SISTEM INTEGUMEN

OLEH:

IV. B

KELOMPOK 1

ANGGI RINDANG QORIAN (015.01.3171)

ARIF MUNANDAR (015.01.3172)

ARUM PARAMITA (015.01.3173)

BQ.IZZATUL ISLAMI (015.01.3174)

DITA OKTAPIANI (015.01.3178)

DONNAVA CELIA (015.01.3179)

FITRIA WIDIYARTI (015.01.3180)

GILANG AJI PRATAMA (015.01.3182)

HESTI MULIYANA (015.01.3185)


PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES) MATARAM

MATARAM

2017

LAPORAN TUTORIAL

A. Kasus
Tn. G, usia 47 tahun berkunjung ke Poli bedah, ditumit kaki sebelah
kanannya menderita luka gangren akibat diabetes mellitus tipe II, lukanya
cukup luas dengan diameter sekitar 15 cm. Di tepi luka tampak terdapat kallus
yang menebal dan sangat keras. Warna luka saat dikaji adalah kuning,
menunjukkan adanya infeksi sehingga fase proliferasinya terhambat. Perawat
di poli merawat luka Tn. G dengan tehnik modern dressing yang ia ketahui.
Balutan primernya menggunakan hydrocolloid, sedangkan balutan
sekundernya menggunakan foam dan transparant film. Perawat menganjurkan
Tn. G untuk menjaga agar daerah sekitar luka tetep bersih dan berkunjung
kembali 5 hari kemudian.

B. Kata Sulit
1. Luka gangren
2. Diabetes mellitus tipe II
3. Infeksi
4. Proliferasi
5. Merawat luka dengan tehnik modern dressing
6. Hydrocolloid
7. Foam dan transparant film
8. Poli bedah

C. Pertanyaan
1. Luka gangren
a. Apa yang dimaksud dari luka gangren?
b. Apa penyebab dari luka gangren?
c. Bagaimana tanda-tanda dari luka gangren?
d. Bagaimana komplikasi dari luka gangren?
e. Bagaimana cara mencegah dan menangani luka gangren?

2. Diabetes mellitus tipe II


a. Apa yang dimaksud dengan diabetes mellitus tipe II?
b. Apa yang menyebabkan diabetes mellitus tipe II?
c. Bagaimana tanda-tanda dari diabets mellitus tipe II?
d. Bagaimana cara penanganan diabtes mellitus tipe II?
e. Bagaimana pemeriksaan diagnostik dari diabetes mellitus tipe II?

3. Infeksi
a. Apa itu infeksi?
b. Apa penyebab dari infeksi?
c. Bagaimana tanda-tanda dari infeksi?

4. Proliferasi
a. Apa yang dimaksud dengan proliferasi?
b. Apa yang menyebabkan proliferasi terhambat?

5. Merawat luka dengan tehnik modern dressing


a. Bagaimana cara merawat luka dengan tehnik modern dressing?
b. Apa keuntungan dari merawat luka dengan tehnik modern dressing?

6. Hydrocolloid
a. Apa yang dimaksud dengan hidrocolloid?
b. Apa fungsi dari hydrocolloid?

7. Foam dan transparant film


a. Apa fungsi dari foam dan transparant film?
b. Apa definisi dari foam dan transparant film?
8. Poli bedah
a. Apa yang dimaksud dengan poli bedah?
b. Bagaimana karakteristik ruangan poli bedah?
c. Sebutkan macam-macam dari poli bedah?

D. Jawaban
1. Luka gangren
a. Definisi
Luka diabetes biasa disebut Ulkus diabetikum atau luka neuropati.
Luka diabetes adalah infeksi, ulkus dan/atau kerusakan jaringan yang
lebih dalam yang terkait dengan gangguan neurologis dan vaskuler
pada tungkai (WHO, 2001). Kondisi ini merupakan komplikasi umum
yang terjadi pada klien yang menderita diabetes melitus. Dua hal yang
dapat menyebabkan luka diabetes yaitu adanya neuropati dan penyakit
vaskuler (Robert, 2000)
b. Etiologi
Menurut Suriadi (2007) dalam Purbianto (2007); Robert (2000)
penyebab dari luka diabetes antara lain :
a) Diabetik neuropath
Diabetik neuropati merupakan salah satu manifestasi dari diabetes
melitus yang dapat menyebabkan terjadinya luka diabetes. Pada
kondisi ini sistem saraf yang terlibat adalah saraf sensori, motorik
dan otonom. Neuropati perifer pada penyakit diabetes melitus
dapat menimbulkan kerusakan pada serabut motorik, sensoris dan
autonom.
Kerusakan serabut motorik dapat menimbulkan kelemahan otot,
atrofi otot, deformitas (hammer toes, claw toes, kontraktur tendon
Achilles) dan bersama dengan adanya neuropati memudahkan
terbentuknya kalus.
Kerusakan serabut sensoris yang terjadi akibat rusaknya serabut
mielin mengakibatkan penurunan sensasi nyeri sehingga
memudahkan terjadinya ulkus kaki. Kerusakan serabut autonom
yang terjadi akibat denervasi simpatik menimbulkan kulit kering
(anhidrosis) dan terbentuknya fisura kulit dan edema kaki.
Kerusakan serabut motorik, sensoris dan autonom memudahkan
terjadinya artropati Charcot (Cahyono, 2007)

b) Pheripheral vascular diseases


Pada peripheral vascular diseases ini terjadi karena adanya
arteriosklerosis dan ateroskleroris. Pada arteriosklerosis terjadi
penurunan elastisitas dinding arteri sedangkan pada aterosklerosis
terjadi akumulasi "plaques" pada dinding arteri dapat berupa;
kolesterol, lemak, sel-sel otot halus, monosit, pagosit dan kalsium.
Faktor yang mengkontribusi antara lain perokok, diabetes,
hyperlipidemia dan hipertensi
c) Trauma
Penurunan sensasi nyeri pada kaki dapat menyebabkan tidak
disadarinya trauma akibat pemakaian alas kaki. Trauma yang kecil
atau trauma yang berulang, seperti pemakaian sepatu yang sempit
menyebabkan tekanan yang berkepanjangan dapat menyebabkan
ulserasi pada kaki.
d) Infeksi
Infeksi adalah keluhan yang sering terjadi pada pasien Diabetes
melitus , infeksi biasanya terdiri dari polimikroba. Hiperglikemia
merusak respon immunologi, hal ini menyebabkan leukosit gagal
melawan patogen yang masuk, selain itu iskemia menyebabkan
penurunan suplai darah yang menyebabkan antibiotik juga tidak
efektif sampai pada luka.

c. Manifestasi
Manifestasi klinik dari luka diabetes antara lain 1) umumnya pada
daerah plantar kaki, 2) kelainan bentuk pada kaki; deformitas kaki, 3)
berjalan yang kurang seimbang, 4) adanya fisura dan kering pada kulit,
5) pembentukan kalus pada area yang tertekan, 6) tekanan nadi pada
area kaki kemunakinan normal, 7) ABI (ankle brachial index), 8) luka
biasanya dalam dan berlubang, 9) sekeliling kulit; dapat terjadi
selulitis, 10) hilang atau berkurangnya sensasi nyeri, 11) xerosis
(keringnya kulit kronik), 12) hyperkeratosis pada sekeliling luka dan
anhidrosis, 13) eksudat yang tidak begitu banyak, 14) biasanya luka
tampak merah (Suriadi, 2007 dalam Purbianto, 2007).

d. Komplikasi
Semakin cepat gas gangrene ditangani maka akan sebaik pula hasil
pengobatannya. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi bila kondisi
ini dibiarkan adalah:

kerusakan jaringan yang permanen


jaundice atau kuning
kerusakan hati
gagal ginjal
shock
infeksi yang menyebar
koma
kematian (Pietrangelo A, Cirino E. 2016. Gas Gangrene.)

2. Diabetes mellitus tipe II


a. Definisi
Diabetes melitus tipe 2 sering disebut juga non-insulin-
dependen diabetes mellitus (IDDM), disebabkan oleh menurunnya
sensitivitas jaringan target terhadap efek metabolik insulin. Sering
disebut resistensi insulin. Gejala yang timbul adalah banyak minum
dan makan tetapi berat badan turun derastis, banyak tidur, lemas,
kesemutan, banyak buang air kecil dan lain lain.

b. Penatalaksanaan
o Penatalaksanaan Medis
Sarana pengelolaan farmakologis diabetes dapat
berupa:
1) Obat Hipoglikemik Oral
a) Pemicu sekresi insulin

(1) Sulfonilurea
Golongan obat ini bekerja dengan menstimulasi sel beta
pankreas untuk melepaskan insulin yang tersimpan.
Efek ekstra pankreas yaitu memperbaiki sensitivitas
insulin ada, tapi tidak penting karena ternyata obat ini
tidak bermanfaat pada pasien insulinopenik. Mekanisme
kerja golongan obat ini antara lain:
(a) Menstimulasi pelepasan insulin yang tersimpan
( Stored insulin)
(b) Menurunkan ambang sekresi insulin
(c) Meningkatkan sekresi insulin sebagai akibat
rangsangan glukosa (FKUI, 2011)

(2) Glinid
Glinid merupakan obat yang cara kerjanya sama dengan
sulfonylurea, dengan meningkatkan sekresi insulin fase
pertama. Golongan ini terdiri dari 2 macam obat yaitu:
Repaglinid (derivate asam benzoat) dan Nateglinid
(derivate fenilalanin). Obat ini diabsorbsi dengan cepat
setelah pemberian secara oral dan diekskresi secara
cepat melalui hati.(FKUI, 2011)

b) Penambah sensitivitas terhadap insulin


(1) Biguanid
Saat ini dari golongan ini yang masih dipakai adalah
metformin. Etformin menurunkan glukosa darah melalui
pengaruhnya terhadap insulin pada tingkat selular,
distal dari reseptor insulin serta juga pada efeknya
menurunkan produksi glukosa hati. Metformin
meningkatkan pemakaian glukosa oleh sel usus
sehingga menurunkan glukosa darah dan menghambat
absorbsi glukosa dari usus pada keadaan sesudah
makan. (FKUI, 2011)
(2) Tiazolidindion
Tiazolidindion adalah golongan obat yang mempunyai
efek farmakologis meningkatkan sesitivitas insulin.
Golongan obat ini bekerja meningkatkan glukosa
disposal pada sel dan mengurangi produksi glukosa
dihati.( FKUI, 2011)

c) Penghambat glukosidase alfa


Obat ini bekerja secara kompetitif menghambat kerja
enzim glukosidase alfa dalam saluran cerna sehingga
dapat menurunkan penyerapan glukosa dan
menurunkan hiperglikemia postprandial. Obat ini
bekerja di lumen usus dan tidak menyebabakan
hipoglikemia dan juga tidak berpengaruh pada kadar
insulin.(FKUI, 2011)

d) Incretin mimetic, penghambat DPP-4


Obat ini bekerja merangsang sekresi insulin dan
penekanan terhadap sekresi glukagon dapat menjadi
lama, dengan hasil kadar glukosa dapat diturunkan.
(FKUI, 2011)

2) Insulin
Insulin adalah suatu hormone yang diproduksi oleh sel
beta dari pulau Langerhanss kelenjar pankreas. Insulin
dibentuk dari proinsulin yang bila kemudian distimulasi,
terutama oleh peningkatan kadar glukosa darah akan
terbelah untuk menghasilkan insulin dan peptide
penghubung (C-peptide)yang masuk kedalam aliran
darah dalam jumlah ekuimolar.
Secara keseluruhan sebanyak 20-25% pasien DM Tipe II
akan memerlukan insulin untuk mengendalikan kadar
glukosa darahnya. Pada DM Tipe II tertentu akan butuh
insulin bila:
a) Terapi jenis lain tida dapat mencapai target
pengendalian kadar glukosa darah
b) Keadaan stress berat, seperti pada infeksi berat,
tindakan pembedahan, infark miocard akut atau stroke.
Pengaruh insulin tehadap jaringan tubuh antara lain
insulin menstimulasi pemasukan asam amino ke dalam
sel dan kemudian meningkatkan sintesa protein. Insulin
meningkatkan penyimpanan lemak dan mencegah
penggunaan lemak sebagai bahan energi. Insulin
menstimulasi pemasukan glukosa ke dalam sel untuk di
gunakan sebagai sumber energi dan membantu
penyimpanan glikogen di dalam sel otot dan hati.
(FKUI,2011)
o Penatalaksanaan Keperawatan
Penatalaksanaan keperawatan pada kasus DM Tipe II
antara lain:
1) Memberikan penyuluhan tentang keadaaan penyakit,
symptom, hasil yang ditemukan dan alternative
tindakan yang akan diambil pada pasien maupun
keluarga pasien.
2) Memberikan motivasi pada klien dan keluarga agar
dapat memanfaatkan potensi atau sumber yang ada
guna menyembuhkan anggota keluarga yang sakit dan
menyelesaikan masalah penyakit diabetes dan
resikonya.
3) Konseling untuk hidup sehat yang juga dimengerti
keluarga dalam pengobatan dan pencegahan resiko
komplikasi lebih lanjut
4) Memberikan penyuluhan untuk perawatan diri,
budaya bersih, menghindari alkohol, penggunaaan
waktu luang yang positif untuk kesehatan,
menghilangkan stress dalam rutinitas kehidupan atau
pekerjaan, pola makan yang baik
5) Memotivasi penanggung jawab keluarga untuk
memperhatikan keluhan dan meluangkan waktu bagi
anggota keluarga yang terkena DM atau yang memiliki
resiko
6) Mengawasi diit klien DM Tipe II, bila perlu berikan
jadwal latihan jasmani atau kebugaran yang sesuai.

o Penatalaksanaan Diet
Tujuan umum terapi gizi adalah membantu orang
dengan diabetes memperbaiki kebiasaan gizi dan
olahraga untuk mendapatakan control metabolic yang
lebih baik, dan beberapa tambahan tujuan khusus yaitu:
1) Mempertahankan kadar glukosa darah mendekati
normal dengan keseimbangan asupan makanan dengan
insulin(endogen/eksogen) atau obat hipoglikemik oral
dan tingkat aktifitas
2) Mencapai kadar serum lipid yang optimal.
3) Memberikan energy yang cukup untuk mencapai
atau mempertahankan berat badan yang memadai pada
orang dewasa mencapai pertumbuhan dan
perkembangan yang normal pada anak dan remaja,
untuk peningkatan kebutuhan metabolic selama
kehamilan dan laktasi atau penyambuhan dari penyakit
metabolic
4) Dapat mempertahankan berat badan yang memadai
5) Menghindari dan menangani komplikasi akut orang
dengan diabetes yang menggunakan insulin seperti
hipoglikemia, penyakit jangka pendek, komplikasi kronik
diabetes seperti penyakit ginjal, hipertensi, neuropati
autonomic dan penyakit jantung
6) Meningkatkan kesehatan secara keseluruhan melalui
gizi yang optimal.

Kebutuhan zat gizi penderita DM Tipe II


1) Protein
Menurut consensus pengelolaan diabetes di Indonesia
tahun 2006, Kebutuhan protein untuk penyandang
diabetes sebesar 10-20% energi dari protein total.
2) Total lemak
Asupan lemak di anjurkan <7% energy dari lemak
jenuh dan tidak lebih 10% energy dari lemak titk jenuh
ganda, sedangkan selebihnya dari lemak tidak jenuh
tunggal. Anjuran asupan lemak di Indonesia adalah 20-
25% energi.
3) Lemak jenuh dan kolesterol
Tujuan utama pengurangan konsumsi lemak jenuh dan
kolesterol adalah untuk menurunkan resiko penyakit
kardiovaskuler. Oleh karena itu <7% asupan energy
sehari seharusnya dari lemak jenuh dan asupan
kolesterol makanan tidak lebih dari 300mg per hari.
4) Karbohidrat dan pemanis
Anjuran konsumsi karbohidrat untuk penderita
diabetes di Indonesia adalah 45-65% energy.
a) Sukrosa
Bukti ilmiah menunjukkan bahwa penggunaan sukrosa
bagian dari perencanaan makan tidak memperburuk
control glukosa darah pada individu dengan diabetes.
b) Pemanis
Fruktosa menaikkan glikosa plasma lebih kecil daripada
sukrosa dan kebanyakan karbohidrat jenis tepung-
tepungan. Sakarin, aspartame, acesulfame K adalah
pemanis tak bergizi yang dapat di terima sebagai
pemanis pada semua penderita DM.
5) Serat
Rekomendasi asupan serat untuk orang dengan
diabetessama dengan untuk orang yang tidak diabetes
yaitu dianjurkan mengkonnsumsi 20-35 gr serat
makanan dari berbagai sumber makanan. Di Indonesia
anjurannya adalah kira-kira 25gr /1000 kalori perhari
dengan mengutamakan serat larut.
6) Natrium
Asupan untuk orang diabetes sama dengan orang
biasa yaitu tidak lebih dari 3000 mg, sedangkan bagi
penderita hipertensi ringan sampai sedang di anjurkan
2400 mg natrium perhari.
7) Alkohol
Asupan kalori dari alkohol di perhitungkan sebagai
bagian dari asupan kalori total dan sebagai penukar
lemak ( 1 minuman alkohol = 2 penukar lemak)
8) Mikronutrien: vitamin dan mineral
Apabila asupan gizi cukup, biasanya tidak perlu
menambah suplemen vitamin dan mineral. Walaupun
ada alasan teoritis untuk memberikan suplemen
antioksidan pada saat ini hanya sedikit bukti yang
menunjang bahwa terapi tersebut menguntungkan.
( FKUI, 2011 )

c. Pemeriksaan diagnostik
Kriteria diagnostik WHO untuk DM pada dewasa yang tidak hamil :
Pada sedikitnya 2 x pemeriksaan :
a. Glukosa plasma sewaktu/random > 200 mg/dl (11,1 mmol/L)
b. Glukosa plasma puasa/nuchter > 140 mg/dl (7,8 mmol/L)
c. Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah
mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post prandial) > 200 mg/dl
Tes Toleransi Glukosa
Tes toleransi glukosa oral : pasien mengkonsumsi makanan tinggi
kabohidrat (150 300 gr) selama 3 hari sebelum tes dilakukan,
sesudah berpuasa pada malam hari keesokan harinya sampel darah
diambil, kemudian karbohidrat sebanyak 75 gr diberikan pada pasien
(Brunner & Suddarth, 2003)
Aseton plasma (keton) : positif secara mencolok
Asam lemak bebas : kadar lipid dan kolesterol meningkat
Osmolaritas serum : meningkat, < 330 mosm/dl
Elektrolit :
Natrium : meningkat atau menurun
Kalium : (normal) atau meningkat semu (pemindahan seluler)
selanjutnya menurun.
Fosfor : lebih sering meningkat
Gas darah arteri : biasanya menunjukkan pH rendah dan Po menurun
pada HCO3 (asidosis metabolik) dengan kompensasi alkolosis
resperatorik.
Trombosit darah : H+ mungkin meningkat (dehidrasi) ; leukositosis;
hemokonsentrasi merupakan resnion terhadap sitosis atau infeksi.
Ureum/kreatinin : meningkat atau normal (dehidrasi/menurun fungsi
ginjal).
Urine : gula dan aseton (+), berat jenis dan osmolaritas mungkin
meningkat. (Doengoes, 2000)

3. Infeksi
a. Definisi
suatu kondisi penyakit akibat masuknya kuman patogen atau
mikroorganisme lain kedalam tubuh sehingga menimbulkan gejala
tertentu.

b. Penyebab
Penyebab infeksi bermacam-macam mulai dari bakteri, virus, jamur,
hingga parasit.

c. Tanda tanda
1) Rubor (kemerahan)
2) Kalor (panas)
3) Dolor (nyeri)
4) Tumor (bengkak)
5) Fungsio laesa (perubahan/penurunan fungsi)

4. Proliferasi
a. Definisi
proliferasi adalah fase sel saat mengalami pengulangan siklus sel tanpa
hambatan. proliferasi berbeda dengan mitosis.

b. Penyebab
1) Faktor pertumbuhan
Faktor pertumbuhan yang mempengaruhi pertumbuhan sel tulang
rawan di bagi menjadi 5 kelompok famili yaitu : transforming
growth factor-b super famili ( TGFB), fibroblast growth factor
famili (FGF), insulin-like growth factor family ( IGF), wingless
family (Wnt), dan hedgehog family (HH).

2) Faktor transkripsi
Beberapa faktor transkripsi diketahui mempengaruhi pembentukan
tulang rawan pada manusia, di antaranya: Sox9, L-sox5, Sox6, dan
Cbfa1.
3) Faktor hormonal
Sel kondrosit dapat dipertahankan dengan keberadaan PTHrP
(parathyroid hormone related peptide).
4) Faktor mekanis
Menurut oseni (2011), beberapa faktor mekanik yang dapat
mempengaruhi pertumbuhan sel kondrosit secara in vitro.

5. Merawat luka dengan tehnik modern dressing


Balutan luka modern pertama kali di perkenalkan oleh Winter sekitar
tahun 1960, yang terkenal dengan konsep perawatan luka dengan cara
mempertahan kelembapan atau moist wound healing yang kemudian
berkembang dengan pesat berbagai produknya di pasaran sampai saat ini.
Menurut Baronski (2007, Wound Care Essenstial,
http://books.google.com/, diakses tanggal 29 Januari 2008) Balutan luka
modern pada dasarnya dapat dikelompokkan dalam beberapa jenis
berdasarkan kegunaanya :
1. Hydrogel dressing

Balutan ini mengandung air dalam gel yang tersusun dari struktur
polymer yang berisi air dan berguna untuk menurunkan suhu hingga
5C. Kelembaban dipertahankan pada area luka untuk memfasilitasi
proses autolisis dan mengangkat jaringan yang telah rusak. Indikasi
penggunaan dari hydrogel dressing ini adalah menjaga kandungan air
pada luka kering, kelembutan dan sebagai pelembab serta
mengangkat jaringan nekrotik. Keuntungan yang lain adalah bisa
dipakai bersamaan dengan antibakterial topikal. Balutan ini bisa
digunakan pada berbagai jenis luka seperti; luka ulkus dekubitus, luka
dengan kedalaman sedang sampai dalam dan ulkus vaskuler.

2. Foam dressing
Berfungsi sebagai absorban yang terbuat dari polyurethane dan
memberikan tekanan pada permukaan luka. Balutan ini dapat di lewati
udara dan air, kandungan hydrophilinya dapat menyerap eksudat
sampai pada lapisan atas balutan. Indikasi penggunaan dari Foam
dressing ini adalah luka dengan eksudasi sedang sampai berat,
perlindungan profilaksis pada tulang yang menonjol atau area yang
bersentuhan, luka dengan kedalan sedang sampai keseluruhan, luka
yang bergranulasi atau nekrosis, luka donor, skin tears dan bisa dipakai
pada luka infeksi. Balutan ini juga dapat dikombinasi dengan
pengobatan topikal dan enzimatis.
3. Calcium alginate dressing
Alginate dressing adalah absorban tingkat tinggi, nonadherent,
biodegradable, turunan serat nonwoven dari rumput laut. Terdiri dari
garam kalsium, asam alginic dan asam mannuronic dan guluronic.
Cara kerjanya; ketika alginate dressing kontak dengan cairan sodium
yang berasal dari drainage luka, akan terjadi pertukaran ion kalsium
dan sodium yang akan membentuk sodium alginate gel, gel ini akan
mempertahan kelembapan dan mendukung lingkungan luka yang
terapeutik. Indikasi penggunaan alginate dressing adalah pada luka
dengan eksudasi sangat banyak seperti; luka yang menggaung, ulkus
dekubitus, ulkus vaskuler, luka insisi, luka dehicence, tunnels, saluran
sinus, luka donor skin graf, luka tendon yang terlihat dan luka infeksi.
4. Composite dressing
Composite dresing merupakan balutan lapisan tunggal atau ganda yang
bisa digunakan sebagai balutan primer atau skunder yang tersusun dari
kombinasi material yang berfungsi sebagai barier bakteri, lapisan
penyerap, foam, hydrocoloid atau hydrogel. Indikasi penggunaan
composite dressing adalah luka dengan eksudasi sedikit sampai
banyak, luka yang bergranulasi, luka dengan jaringan nekrotik, atau
gabungan luka dengan granulasi dan mengalami nekrosis. composite
dressing tidak dapat digunakan pada luka yang terinfeksi dan tidak
semua mempunyai fungsi sebagai pelembab pada area luka.
5. Collagen dressing
Collagen merupakan protein utama dalam tubuh dan dibutuhkan untuk
penyembuahan dan perbaikan luka. Collagen dressing merupakan
turunan dari bovine hide (cowhide) yang berfungsi untuk stimulasi
penyembuhan luka dan debridemen. Balutan ini merupakan absorben
tingkat tinggi dan juga mempertahan kelembapan lingkungan sekitar
luka. Produk collagen dressing terdapat dalam bentuk 100% kolagen
atau kombinasi alginate atau produk lain yang bersifat tidak melekat
dan dapat dilepas dengan mudah. Indikasi pengguanaan collagen
dressing adalah pada luka dengan eksudasi rendah sampai sedang, luka
yang mengalami granulasi atau nekrosis dan luka dengan kedalam
sedang atau keseluruhan.
Balutan modern direkomendasikan maksimal penggantian 7 hari
sekali, kecuali pada luka terinfeksi diganti bila sudah tampak eksudat
yang berlebih (Hess, 2002).

6. Hydrocolloid
a. Definisi
Hidrokolloid adalah bahan yang dapat membentuk gel apabila
dicampurkan dengan air. Selain sebagai pembentuk gel pada makanan
dan minuman, Hidrokolloid juga dapat berfungsi sebagai pengental,
stabilizer, emulsifier minuman lavitasi (minuman mengambang), dan
menambah mouthfeel pada makanan dan minuman.
b. Fungsi
Hydrocolloid memiliki sifat impermeable terhadap cairan dan oksigen,
mengandung polyurethane, adherent (merekat) namun tidak
menimbulkan nyeri. Kemampuan hydrocolloid dalam menyerap
kelembaban yang berlebih membuatnya menjadi dressing favorit
pilihan pemirsaeh maaf, perawat. Sama halnya dengan hydrogel,
hydrocolloid juga tersedia dalam kemasan pasta atau lembaran dan
salah satu kelebihan hydrocolloid adalah kemampuannya untuk
bertahan pada luka hingga tujuah hari, dengan demikian akan
menurunkan nursing time. Contoh Hydrocolloid; DuoDerm
(Convatec), Tegasorb (3M health Care), dan Comfeel (Coloplast).

7. Foam dan transparant film


a. Definisi
Foam adalah jenis balutan yang menyerap cairan luka yang
jumlahnya sangat banyak (absorbant dressing)sebagai dressing primer
dan dressing skunder. paling menentukan keterlampilan dan dan
kemampuan perawat dalam menggambil keputusan klinis,sebuah
balutan mun gkin semua cocok bagi satu pasien namun bisa jadi tidak
tepat pada pasien yang berbeda dengan jenis luka yang sama.
Transparent film adalah jenis balutan yang sering digunakan
sebagai secondary dan untuk luka superficial dan non eksudatif atau
untuk luka post operasi.yang terbuat dari polyurethane flim yang
disertai perekat adhesive tidak menyerap eksudat.
(Winter,GD.Formation of the scab the rate of epitheliazation of
superficial wound in the skin of the youn domestic
plg.Nature.1962;193;293-294.)

b. Fungsi
Fungsi foam adalah mampu menyerap kelebihan kelembaban
sehingga mengurangi resiko maserasi selain itu juga tidak
menimbulkan nyeri dan trauma pada jaringan luka saat penggantian.
Contohnya antaralain allevyn (Smith and Nephew)., Hidrasorb
( Convatec) dan Cutinova (Beirsdeorf-Jobst, Inc).
Funsi transparant film adalah keistimewaan karena hanya merekat
pada daerah yang kering sehingga tidak berpotensi pada dasar luka
(wound bed), meskipun demikian, perlu hati-hati dalam faseh
efitelisasi sebab aplikasi film bisa melepaskan efitel-efitel yang masih
mudah. Contoh film: (smith and nephew),polyskin (kendall
healthcare).

8. Poli bedah

I. PERSIAPAN ALAT
1. Tempat tidur dalam keadaan siap pakai.
2. Meja dan kursi.
3. Peralatan untuk pemeriksaan terdiri dari :
Senter
Tensimeter
Stetoscope
Timbangn dewasa/bayi
Alat untuk tindakn perawatan luka
4. Berkas catatan rekam medik pasien dan alat
tulis
Prosedur
II. PELAKSANAAN
1. Memanggil pasien masuk kepoliklinik
bedah sesuai urutan.

2. Melakukan pengkajian dan dicatat


dalam rekam medik.

3. Mengukur tekanan darah dan dicatat


dalam catatan perawatan.

4. Merumuskan masalah keperawatan.

5. Merencanakan tindakan keperawatan

6. Melaksanakan tindakan keperawatan


mandiri dan kolaborasi

7. Membuat evaluasi keperawatan.

8. Menyerahkan berkas catatan medik


pasien kepada dokter yang bertugas.

9. Mendokumentasikan data-data pasien


pada registrasi harian.

1. Rekam Medik
Unit
Terkait 2. Keuangan
3. Unit penunjang medik
4. Apotik
5. Poli spesialis

Instrumen Bedah
Berikut adalah perangkat alat bedah serta penjelasannya :

Meja Operasi
Meja Operasi ini adalah meja yang di gunakan untuk tindakan operasi,
meja ini dapat di ubah ukuran untuk memudahkan dokter saat
pengoperasian , meja operasi ini juga dapat di atur untuk beberapa
pose tergantung tipe pengoperasiannya, baik duduk, rebahan atau
bahkan berdiri, meja operasi ini terdapat 2 tipe yaitu meja operasi
elektrik dan manual.
- Meja Operasi Elektrik, meja operasi elektrik ini adalah meja yang cara
penyetingan atau pengubahannya dengan hanya menggunakan
beberapa tobol saja atau dengan cara otomatis
- Meja Operasi Manual, meja operasi manual ini adalah meja operasi
yang cara penyetingannya masih bersifat manual, seperti memutar
pedal untuk tinggi pendeknya meja operasi ataupun mendorong bagian
tertentu untuk mengubah pose si pasien itu sendiri
Electro Surgical Unit (ESU)
Electro surgical unit , Electro Surgery Unit atau biasa di sebut ESU ini
adalah alat yang di gunakan untuk memotong bagian kulit pasien saat
pembedahan , alat ini akan memotong kulit sang pasien dengan cara
memisahkan dan mengeringkan jaringan sel pasien agar tidak terjadi
pendarahan saat proses pemotongan kulit karena pembuluh darah yang
terdapat di kulit akan segera menutup, alat ini akan mengeluarkan
suatu suhu yang sangat panas demi merusak dan memutus jaringan
pada kulit, alat ini menggunakan elektroda aktif yang nantinya akan
tersambung oleh elektroda netral dan di tujukan langsung pada bagian
kulit yang akan di bedah.
Mesin Anestesi
Mesin Anestesi adalah mesin yang berfungsi sebagai pengubah zat
pada obat dan menyalurkannya pada pasien, biasanya obat yang di
masukan ke dalam mesin anestesi adalah obat jenis cair, Obat ini yang
nantinya akan di ubah menjadi uap dan di berikan kepada pasien,
Mesin ini juga dapat memberikan takaran atau dosis obat kepada
pasien serta membuang gas yang ada pada tubuh pasien, mesin
anestesi ini termasuk mesin yang sangat penting untuk proses
pembedahan, mungkin jika tidak ada mesin bius atau anestesi ini,
orang akan merasakan sakit saat pembedahan.
Defibrillator
Defibrillator adalah alat yang akan mengejutkan jantung pasien dengan
cara menghantarkan arus listrik bertegangan tinggi kepada pasien ,
alat ini di gunakan jika suatu saat keadaan jantung pasien melemah dan
kekurangan puls atau detak jantung , defibrillator ini juga penting agar
pasien tidak kehilangan detak jantung yang nantinya akan berakibat
kematian, bukan hanya saat pengoperasian atau pembedahan , kini
defibrillator juga tersedia di tempat umum dalam bentuk (AED).

Patient Monitor
Patient Monitor adalah alat yang di gunakan untuk melihat daya hidup
seseorang, baik dari tekanan darah, detak jantung , kadar oksigen
dalam darah, tensi darah dan lainnya, patient monitor akan
menampilkan keadaan pasien dalam bentuk diagram yang terus
bergerak mengikuti daya kerja tubuh sang pasien,
Lampu Operasi
Lampu Operasi ini di gunakan untuk menyinari pasien pada saat
operasi demi membantu para dokter untuk melakukan tindakan operasi
atau bedah, lampu Operasi ini sudah di design khusus agar terpaku
hanya pada satu titik dan telah di set agar tidak terjadi bayangan saat
kepala dokter menghalangi lampu operasi, Lampu Operasi ini banyak
memiliki tipe seperti LED dan Bulp (Bohlamp)
Ventilator ICU
Ventilator ini di gunakan untuk mengganti seluruh system pernafasan
pasien saat menjalani tindakan operasi atau pembedahan, pada saat
pembedahan , mungkin saja ada cairan atau darah yang masuk
kedalam system dan rongga pernafasan, maka alat ini di gunakan
dengan cara menggunakan masker udara ataupun memasukan selang
udara kedalam system pernafasan pasien, ventilator ini akan
menghasilkan suatu aliran gas layaknya pernafashan normal yang di
lakukan manusia, ventilator ini juga dapat mengeluarkan gas yang
tidak terpakai saat proses pembiusan, alat ini juga termasuk alat yang
sangat penting , agar pasien tetap bisa bernafas dan tetap hidup.
Suction Pump
Suction Pump ini di gunakan untuk mengambil dan menghisap cairan
pasca operasi , ataupun darah yang keluar saat Operasi, alat ini juga
dapat menarik keluar cairan yang masuk ke dalam rongga tubuh yang
sulit di jangkau, alat ini yang nantinya akan di gunakan untuk finishing
saat terjadi operasi, jika cairan atau darah yang ada di luar jaringan
tubuh belum di hisap, maka cairan tersebut akan mengendap di tubuh
dan membeku, hal ini akan menjadi masalah untuk pasien. Alat ini di
gunakan dengan cara mendekatkan selang kepada cairan yang akan di
hisap dan alat ini akan segera menghisap cairan tersebut.
Instrumen Bedah Minor
Instrumen bedah minor di atas saya telah membahas tentang alat
operasi unit atau alat operasi yang berbentuk unit dan besar, kini saya
akan membahas tentang alat bedah yang berukuran kecil, berikut
adalah instrumen bedah minor :
Sarung Tangan Karet
Sarung tangan karet ini di gunakan dokter agar dokter tidak terkena
darah saat pengoperasian dan agar tetap steril saat melakukan
pembedahan agar tidak terjadi infeksi
Pinset
Pinset ini di gunakan untuk menarik benang saat proses penjaitan
ataupun di gunakan untuk menyentuh bagian lain yang tidak bisa dan
tidak boleh di lakukan dengan tangan kosong

Pisau Bedah
Pisau bedah memiliki beberapa ukuran tergantung kebutuhannya, pisau
ini di gunakan untuk memotong bagian yang mudah di potong dan
tidak membutuhkan ESU. Pisau ini biasanya di gunakan untuk
memotong lemak dan slaput pada tubuh
Benang Operasi (CATGUT)
Benang operasi ini di gunakan untuk menjait bagian tubuh yang
terbuka, benang ini di design khusus agar dapat menyatu dengan sel
tubuh dan tidak menganggu pemulihan sel atau jaringan kulit pasca
operasi
Jarum Bedah
Jarum bedah ini terdapat 2 macam , yaitu jarum bedah berbentuk
bengkok dan lurus, jarum ini di gunakan tergantung dengan
kebutuhannya.
Nad Holder
Nad holder adalah alat yang berbentuk seperti gunting tapi di gunakan
untuk menahan benang dan juga dapat di gunakan sebagai penyimpul
benang
Gunting Bedah
Gunting bedah ini memiliki beberapa tipe serta fungsinya masing
masing, berikut adalah tipenya
- Gunting Diseksi gunting ini biasanya berbentuk runcing pada
ujungnya
- Gunting untuk memotong benang, gunting ini memiliki dua tipe
yaitu bengkok dan lurus, tetapi penggunaannya sama sama untuk
memotong benang
- Gunting pembalut , gunting yang di gunakan untuk memotong
pembalut atau verban
Retraktor
Retraktor adalah alat yang di gunakan untuk menahan luka sayatan
agar tetap terbuka dan memudahkan proses pembedahan
Wound Curet
Wound curet di gunakan untuk mengeruk darah yang mengental
ataupun luka kotor.