Anda di halaman 1dari 13

Keselarasan PANCASILA dengan hukum Islam

Dewasa ini banyak kalangan yang membincangkan kembali relevansi Pancasila dengan
kondisi bangsa saat ini. Pancasila kini mulai terpinggirkan dari kancah pergaulan kebangsaan
dan imbasnya, mungkin saja akan tergantikan dengan ideologi lain. Hal itu tidak akan terjadi
bila semua pihak dan segenap elemen bangsa, konsisten mengamalkan nilai-nilai Pancasila
secara murni dan konsekuen sebagai dasar negara dan sebagai sumber hukum positif yang
berlaku.

Pasca tumbangnya Orde Baru tahun 1998 dan dilanjutkan dengan era reformasi yang ditandai
dengan kebebasan disegala bidang, kebebasan tersebut juga turut dinikmati beberapa
kelompok Islam yang konservatif atau radikal. Kelompok-kelompok tersebut sekarang bebas
untuk secara lantang atau secara sembunyi-sembunyi memperjuangkan kembali kepentingan
politis dan ideologinya. Ironisnya perjuangan besar itu bermuara pada obsesi mengganti
Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara Indonesia. Banyak varian bentuk, ide, gagasan
dan cita-cita yang dikembangkan dari obsesi kelompok tersebut. Varian tersebut antara lain
pendirian Khilafah Islamiyah, pendirian negara Islam, pelaksanaan syariat Islam dan
sebagainya.

Tumbangnya Orde Baru juga dibarengi dengan problem berupa meluasnya krisis multi-
dimensi. Krisis tersebut terjadi di bidang sosial, politik, ekonomi dan sebagainya. Kondisi
tersebut semakin melegitimasi obsesi mengganti Pancasila, karena dianggap telah gagal
membawa negara ini ke arah yang lebih baik. Selanjutnya kelompok tersebut menganggap
bahwa Islam dalam segala varian bentuknya merupakan solusi atas segala problem yang ada.
Oleh karena itu slogan perjuangan mereka jelas, misalnya al-Islamu huwa al-halu (Islam
adalah solusi) ataupun al-Islamu huwa al-dinu wa al-dawlah (Islam adalah agama dan
sekaligus negara).

Indonesia adalah negara berdasarkan Pancasila, jadi bukan negara Islam dan bukan pula
negara sekuler. Kalimat ini bagi beberapa pihak mungkin masih dirasa ambigu, apalagi bagi
pihak-pihak yang tidak familiar dengan problem ideologi suatu bangsa. Bertumpu pada
kenyataannya, fakta historis telah membuktikan bahwa itulah cara terbaik (the right way)
bagi masyarakat Indonesia untuk mendiskripsikan ideologi negara. Pancasila merupakan
ringkasan dari kompromi dan persetujuan yang sebelumnya amat sulit dicapai di antara para
founding fathers pendiri negara ini.

Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wa sallam telah mengajarkan dan memberikan teladan
kepada umat Islam tentang bagaimana hidup berdampingan dengan berbagai perbedaan ras,
suku bangsa, dan agama. Sebagaimana hal ini telah termaktub dalam Piagam Madinah
(Nasution, 1985: 92). Mengenai urusan ke duniawian, umat Islam diberikan kebebasan untuk
mengaturnya, namun tetap harus dilandasi olehtaabbud. Tanpa tujuan taabbud ini, niscaya
kehidupan yang dijalani menjadi kosong tanpa tujuan yang berarti.

Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, materinya sudah ada sebelum bangsa Indonesia
ada, hanya saja rumusannya secara formal baru terrealisasi sekitar tahun 1945. Apabila ada
yang menyatakan bahwa hari lahirnya Pancasila adalah tanggal 1 Juni 1945, itu hanya
sekedar pemberian nama saja, bukan materi Pancasila. Pancasila sebagai dasar filsafat negara
dapat didefinisikan sebagai suatu ideologi negara yang berketuhanan berkemanusiaan,
berpersatuan, berkerakyatan dan berkeadilan. Tokoh-tokoh kenegaraan Indonesia
merumuskan Pancasila bukan mengada-ada, tetapi memang demikian keadaannya.
Direnungkan dari kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia, yang selanjutnya memang
dikehendaki oleh bangsa Indonesia dalam bernegara sebagai dasar filsafat negara. Dengan
demikian kedudukan Pancasila selain sebagai dasar dan ideologi negara, Pancasila juga
sebagai jati diri dan kepribadian bangsa Indonesia (Kaelan, 1998: 62).

Pancasila pada dasarnya mampu untuk mengakomodir semua lini kehidupan Indonesia.
Pancasila harus dijadikan alat kesejahteraan, bukan alat kepentingan. Bangsa Indonesia
adalah bangsa yang memiliki banyak perbedaan. Perbedaan itu merupakan suatu bawaan
kodrat manusia sebagai makhluk Tuhan YME. Akan lebih baik jika perbedaan itu bukan
untuk dipertentangkan ataupun diperuncing, namun dipersatukan dan disintesiskan dalam
suatu sintesa yang positif dalam bingkai negara Kersatuan Republik Indonesia (Notonagoro,
1975: 106).

Menurut Notonogoro (dalam Bakry, 2008: 39) sila-sila Pancasila merupakan satu kesatuan
yang susunannya adalah hirarkhis dan mempunyai bentuk piramidal. Sila pada Pancasila
saling menjiwai dan dijiwai. Sila yang di atasnya menjiwai sila yang di bawahnya, tetapi sila
yang di atasnya tidak dijiwai oleh sila yang di bawahnya. Sila yang di bawahnya dijiwai oleh
sila yang di atasnya, tetapi sila yang di bawahnya tidak menjiwai sila yang di atasnya.
Sebagai contoh nilai-nilai Ketuhanan menjiwai nilai-nilai Kemanusiaan Persatuan
Kerakyatan dan Keadilan, sebaliknya nilai Ketuhanan tidak dijiwai oleh nilai-nilai
Kemanusiaan Persatuan Kerakyatan dan Keadilan, begitulah seterusnya.

Pancasila juga merupakan ideologi terbuka (Bakry, 2008: 69-70). Ciri-ciri ideologi terbuka
antara lain adalah realis, idealis dan fleksibel. Bersifat realis karena Pancasila sesuai dengan
keadaan bangsa Indonesia yang mencerminkan keanekaragaman ras, suku serta kepercayaan.
Besifat idealis karena Pancasila merupakan konsep hasil pemikiran yang mengandung
harapan-harapan, optimisme, serta mampu menggugah motivasi pendukungnya untuk
melaksanakan apa yang dicita-citakan. Bersifat fleksibel karena Pancasila dapat
menyesuaikan diri dengan keadaan yang terus-menerus berkembang dan sekaligus mampu
memberi arah melalui tafsir-tafsir baru yang konsisten dan relevan. Dengan demikian
Pancasila sebagai ideologi, dasar negara serta kepribadian bangsa telah menopang dan
mengakomodir berbagai suku, ras, dan agama yang ada di Indonesia.

Negara Indonesia memiliki dasar dan ideologi Pancasila. Negara kebangsaan Indonesia yang
berPancasila bukanlah negara sekuler atau negara yang memisahkan antara agama dengan
negara. Di sudut lain negara kebangsaan Indonesia yang berPancasila juga bukan negara
agama (paham Theokrasi) atau negara yang berdasarkan atas agama tertentu (Suhadi, 1998:
114). Negara Pancasila pada hakekatnya adalah negara kebangsaan yang Berketuhanan YME.
Dengan demikian makna negara kebangsaan Indonesia yang berdasarkan Pancasila adalah
kesatuan integral dalam kehidupan bangsa dan negara yang memilki sifat kebersamaan,
kekeluargaan dan religiusitas.

Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara, sebenarnya memiliki keselarasan dengan ajaran
Islam sebagai agama mayoritas penduduk bangsa Indonesia. Sikap umat Islam di Indonesia
yang menerima dan menyetujui Pancasila dan UUD 1945, dapat dipertanggung jawabkan
sepenuhnya dari segala segi pertimbangan.

Beberapa hal yang dapat menjadi pertimbangan keselarasan Pancasila dengan ajaran Islam
adalah sebagaimana uraian berikut.

1. Pancasila bukan agama dan tidak bisa menggantikan agama.

2. Pancasila bisa menjadi wahana implementasi Syariat Islam.

3. Pancasila dirumuskan oleh tokoh bangsa yang mayoritas beragama Islam.


Selain hal-hal di atas, keselarasan Pancasila dengan ajaran Islam juga tercermin dari kelima
silanya yang selaras dengan ajaran Islam. Keselarasan masing-masing sila dengan ajaran
Islam, akan dijelaskan melalui uraian di bawah ini.

1. Sila pertama yang berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa bermakna bahwa bangsa Indonesia
berdasarkan Tuhan Yang Maha Esa. Warga negara Indonesia diberikan kebebasan untuk
memilih satu kepercayaan, dari beberapa kepercayaan yang diakui oleh negara. Dalam
konsep Islam, hal ini sesuai dengan istilah hablun min Allah, yang merupakan sendi tauhid
dan pengejawantahan hubungan antara manusia dengan Allah SWT. Al-Quran dalam
beberapa ayatnya menyebutkan dan selalu mengajarkan kepada umatnya untuk selalu
mengesakan Tuhan. Di antaranya adalah yang tercermin di dalam Al-Quran Surat Al-
Baqarah ayat 163.

163)

Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha
Pemurah lagi Maha Penyayang.(QS. 2:163)

Dalam kacamata Islam, Tuhan adalah Allah semata, namun dalam pandangan agama lain
Tuhan adalah yang mengatur kehidupan manusia, yang disembah.

2. Sila kedua yang berbunyi Kemanusiaan yang Adil dan Beradab bermakna bahwa bangsa
Indonesia menghargai dan menghormati hak-hak yang melekat pada pribadi manusia. Dalam
konsep Islam, hal ini sesuai dengan istilah hablun min al-nas, yakni hubungan antara sesama
manusia berdasarkan sikap saling menghormati. Al-Quran dalam beberapa ayatnya
menyebutkan dan selalu mengajarkan kepada umatnya untuk selalu menghormati dan
menghargai sesama. Di antaranya adalah yang tercermin di dalam Al-Quran Surat Al-
Maaidah ayat 8-9.


(9) ( 8)

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan
(kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu
terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena
adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. 5:8)

secara luas dan menyeluruh, Allah memerintahkan kepada orang orang yang beriman, supaya
berlaku adil, karena keadilan dibutuhkan dalam segala hal, untuk mencapai dan memperoleh
ketenteraman, kemakmuran dan kebahagiaan dunia dan akhirat. Oleh karena itu berlaku adil
adalah jalan yang terdekat untuk mencapai tujuan bertakwa kepada Allah.
3. Sila ketiga berbunyi Persatuan Indonesia bermakna bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa
yang satu dan bangsa yang menegara. Dalam konsep Islam, hal ini sesuai dengan istilah
ukhuwah Islamiah(persatuan sesama umat Islam) dan ukhuwah Insaniah (persatuan sesama
umat manusia). Al-Quran dalam beberapa ayatnya menyebutkan dan selalu mengajarkan
kepada umatnya untuk selalu menjaga persatuan. Di antaranya adalah yang tercermin di
dalam Al-Quran Surat Ali Imron ayat 103.




103 }

Dan berpegang teguhlah kamu sekalian dengan tali Allah dan janganlah kamu sekalian
berpecah belah, dan ingatlah nikmat Allah atas kamu semua ketika kamu bermusuh-musuhan
maka Dia (Allah) menjinakkan antara hati-hati kamu maka kamu menjadi bersaudara
sedangkan kamu diatas tepi jurang api neraka, maka Allah mendamaikan antara hati kamu.
Demikianlah Allah menjelaskan ayat ayatnya agar kamu mendapat petunjuk

(Q.S. Ali Imron ayat 103)

Abu Jafar Ath-Thobari meriwayatkan hadits Athiyyah bin Abi Said, bahwasannya
Rasulullah shallallahu alaihi wa salam bersabda:

(Kitab Allah itu adalah tali Allah yang di ulurkan dari langit ke bumi ) Tafsir Ibnu Katsir
I/388-389.

Menurut Ibnu Masud, yang dimaksud tali Allah adalah Al-Jamaah, Al-Qurthubi
menyatakan, sesungguhnya Allah memerintahkan supaya bersatu padu dan melarang
berpecah belah, karena perpecahan itu adalah kerusakan dan persatuan (Al-Jamaah) itu
adalah keselamatan. (Tafsir Qurthubi IV/159)

4. Sila keempat berbunyi Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmad Kebijaksanaan Dalam
Permusyawaratan/Perwakilan bermakna bahwa dalam mengambil keputusan bersama harus
dilakukan secara musyawarah yang didasari oleh hikmad kebijaksanaan.

Dalam konsep Islam, hal ini sesuai dengan istilah mudzakarah (perbedaan pendapat) dan
syura (musyawarah). Al-Quran dalam beberapa ayatnya menyebutkan dan selalu
mengajarkan kepada umatnya untuk selalu selalu bersikap bijaksana dalam mengatasi
permasalahan kehidupan dan selalu menekankan musyawarah untuk menyelesaikannya
dalam suasana yang demokratis. Di antaranya adalah yang tercermin di dalam Al-Quran
Surat Ali Imron ayat 159.



(159)

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.
Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari
sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka, dan
bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah
membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.(QS. 3:159)

5. Sila kelima berbunyi Keadilan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia bermakna bahwa Negara
Indonesia sebagai suatu organisasi tertinggi memiliki kewajiban untuk mensejahterakan
seluruh rakyat Indonesia.

Dalam konsep Islam, hal ini sesuai dengan istilah adil. Al-Quran dalam beberapa ayatnya
memerintahkan untuk selalu bersikap adil dalam segala hal, adil terhadap diri sendiri, orang
lain dan alam. Di antaranya adalah yang tercermin di dalam Al-Quran Surat al-Nahl ayat 90.

90)

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada
kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemunkaran dan permusuhan. Dia
memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.(QS. 16:90)

Berdasarkan penjelasan di atas, sebenarnya Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara
memiliki keselarasan dengan ajaran Islam. Sikap umat Islam di Indonesia yang menerima dan
menyetujui Pancasila dan UUD 1945, dapat dipertanggung jawabkan sepenuhnya dari segala
segi pertimbangan.

Dengan demikian sudah semestinya tercipta kebersamaan antara golongan nasionalis dan
golongan Islam di bumi pertiwi ini. Semoga suatu saat nanti terwujud kebersamaan antara
golongan nasionalis (kebangsaan) dengan golongan Islam, sehingga terwujud suatu masa
ketika PANCASILA BERTASBIH.
MERDEKA........!!!!!!!!!

==================================

PANCA SILA

Panca = 5

SILA => S+I+L+A= S(19)+ I(9)+ L(12)+ A(1) = 19+9+12+1 = 41

QS 5:41 = Hai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang
bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan
dengan mulut mereka:"Kami telah beriman", padahal hati mereka belum beriman; dan (juga)
di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita)
bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang
kepadamu ; mereka merobah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka
mengatakan: "Jika diberikan ini (yang sudah di robah-robah oleh mereka) kepada kamu,
maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini maka hati-hatilah". Barangsiapa yang
Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak
sesuatupun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak
hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat . Al-
Ma'idah (5) No. Ayat : : 41

Pancasila adalah hasil dari pola pikir pejuang2 (islam)/Cendikiawan Muslim kita, yang mana
ada di robah/ayat yg tidak jadi di masukkan yaitu " menjalankan syariat islam bagi
pemeluknya", sehingga ayat tersebut masuk kedalam Piagam Jakarta.

pd ayat diatas ada kata maka terimalah.

Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan
mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah.

1. Rukun Islam I Mengucap dua kalimah Syahadat < Selaras > Ketuhanan Yang maha Esa

2. Menegakan Sholat < Hasil yang ingin di capai adalah Amar Ma'ruf nahi Mungkar>
Kemanusiaan yg adil dan beradab

3. Menunaikan Zakat < Menciptakan persatuan antara yang wajib Zakat (mampu) kepada
penerima > selaras dgn sila III

4. Puasa dibulan Ramadhan <Menciptakan Masyarakat yang Taqwa, sehingga ia menjadi


Bijaksana dalam bermusyawarah dan menjadi Wakil yang amanah)

5. Sila ke lima Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia < menciptakan kemampuan
dalam segi sosial Bagii Rakyatnya > kalau Rakyat kita sudah mampu semua InsyaALLAH
Semua bisa Haji dan Hajjah mabrur.
================================

Kiayi Muda Kecele.....

Pembicaraan mngenai asas pancasila mrupkan pembicaraan paling panas dlm Munas di
situbondo, sebelum acara pembukaan, kalangan anti asas pancasila berkibar-kibar dgn
menybarkan selabaran. Baru stlah KH.Ahmad Siddiq membaa makalah soal hubungan
agama dan pancasila, dan setelah perdebatan sengit dikomisi bahtsul masail, semua delegasi
menerima dgn lega.

Tp sebelum itu perdbatan terjadi dan pada garis besarnya peserta itu terbagi menjadi dua
kelompok, kelompok pertama menolak dan umumnya dari kalangan kiai-kiai muda. Yg ke2
umumnya dari kelompok yg lebih sepuh menyetujui makalah yg dibaa oleh KH.Ahmad
siddiq

Ada seorang kiai yg cukup tua dari luar jawa berbicara dgn semangat yg tinggi dan suara yg
keras dan kebanyakan menggunakan bhs arab. Begitu berkobar-kobar sehingga seorang kiai
muda yang duduk disampingnya membantu membawakan micropon agar bicaranya kiai tua
ini didengarkan oleh semua hadirin.

Kiai sepuh ini berbica ke sana ke mari mengenai aqidah, diikuti semangat yg sama oleh
rekannya yg lebih muda tadi. Rupanya kiai muda ini merasa mendapat teman dari kalangan
yg lebih sepuh. Begitu panjang uraian kiai sepuh ini sampai akhirnya tiba pada kesimpulan.
Ternyata kesimpulannya sama, menyetujui makalah kiai Achmad yang menerima pancasila
sebagai satu-satunya asas itu. Tentu saja mendengar itu kiai muda yg dari tadi memegangkan
mikropon langsung lemas, he he

Dikutip- tawashow di pesantren.

http://roudhoh.xtgem.com/Keselarasan%20PANCASILA%20dengan%20hukum%20Islam
Teya Salat
Hubungan Pancasila Dengan Nilai Ajaran
Islam
Artikel

Dr. H. Syamsul Hidayat, M.A.

Dosen FAI-UMS Surakarta, Alumni PPSA XVI Lemhannas RI, 2011

Para pendiri bangsa telah meletakkan dasar-dasar tegaknya sebuah negara-bangsa


yang bernama Indonesia. Betapa seriusnya para pendiri bangsa dalam merumuskan
konsep ideologi negara dapat dilihat dari dinamika perdebatan di antara mereka
dalam merumuskan landasan ideologi sesuai dengan latar belakang keilmuan,
agama dan budaya masing-masing, dengan disertai rasa saling menghargai dan
menghormati. Meskipun melalui perdebatan yang sengit, keragaman pendapat dan
gagasan yang ada kemudian bertemu pada komitmen bersama untuk membangun
sebuah negara yang berdaulat, dengan melahirkan sebuah rumusan ideologi yang
mampu meramu dan menampung semua elemen dan komponen bangsa, yaitu
Pancasila. Titik temu ini mengandaikan bahwa seluruh nilai-nilai dan falsafah hidup
seluruh elemen bangsa ini, baik yang bersumber dari keimanan dan keagamaan,
maupun nilai-nilai budaya dirangkum sedemikian rupa dalam rumusan Pancasila.
Nila-nilai luhur dari agama (termasuk dan terutama Islam) dan budaya yang
terintegrasi dalam ideologi negara telah menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang
relatif kokoh. Kokohnya ideologi Pancasila telah terbukti dengan daya tahannya
yang tinggi terhadap segala gangguan dan ancaman dari waktu ke waktu, sehingga
sampai saat ini tetap eksis sebagai falsafah dan landasan serta sumber dari segala
sumber hukum bagi negara-bangsa Indonesia.
Namun akhir-akhir ini, gangguan dan ancaman terhadap ideologi Pancasila semakin
kuat, terlebih pada era gelobalisasi di mana percaturan dan pergumulan bahkan
benturan antar berbagai pemikiran dan ideologi dunia begitu keras. Hal ini ditandai
semakin melemahnya penghayatan terhadap nilai-nilai Pancasila pada generasi
penerus bangsa, karena semakin banyaknya anak bangsa yang kian tertarik kepada
ideologi-ideologi dan budaya lain yang memang gencar memasarkan dan
menjajakan kepada siapa pun melalui metode dan media yang sangat menarik.
Bahkan, kondisi ini juga melanda para pemimpin bangsa yang mestinya telah
memahami sejarah dan dinamika perjuangan bangsa dan menjiwai-menghayati nilai-
nilai ideologi Pancasila.
Saat ini ancaman terbesar Pancasila, tetapi hampir tidak kentara dan tidak terasa
karena sangat halus sekali serangannya adalah kecenderungan dan gerakan
sekularisasi Pancasila, yang ingin memisahkan bahkan mensterilkan Pancasila dari
nilai-nilai Agama, termasuk di dalamnya adanya upaya membenturkan seolah-olah
ada pertentangan yang hebat antara Pancasila dan Agama (terutama Islam). Dalam
benturan ini muncul dua kutub ekstrem, yang sama-sama tidak menguntungkan bagi
ideologi Pancasila, yaitu kutub anti Pancasila dan kutub anti Islam. Di satu sisi
Pancasila dianggap aturan thoghut, namun di sisi lain Islam dianggap mengancam
Pancasila, tentu kedua-duanya tidak benar baik dalam konteks Islam maupun
Pancasila itu sendiri.
Relasi Agama dan Nilai-nilai Pancasila
Sebagai falsafah hidup bangsa, hakekat nilai-nilai Pancasila telah hidup dan
diamalkan oleh bangsa Indonesia sejak negara ini belum berbentuk. Artinya,
rumusan Pancasila sebagaimana tertuang dalam alinea 4 UUD 1945 sebenarnya
merupakan refleksi dari falsafah dan budaya bangsa, termasuk di dalamnya
bersumber dan terinspirasi dari nilai-nilai dan ajaran agama yang dianut bangsa
Indonesia.
Islam sebagai agama yang dipeluk secara mayoritas oleh bangsa ini tentu memiliki
relasi yang sangat kuat dengan nilai-nilai Pancasila. Hal ini dapat disimak dari
masing-masing sila yang terdapat pada Pancasila berikut ini:
Sila pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa.
Ketuhanan adalah prinsip semua agama. Dan prinsip keesaan Tuhan merupakan inti
ajaran Islam, yang dikenal dengan konsep tauhid. Dalam Islam tauhid harus diyakini
secara kaffah (totalitas), sehingga tauhid tidak hanya berwujud pengakuan dan
pernyataan saja. Akan tetapi, harus dibuktikan dengan tindakan nyata, seperti
melaksanakan kewajiban-kewajiban agama, baik dalam konteks hubungan vertikal
kepada Allah (ubudiyyah) maupun hubungan horisontal dengan sesama manusia
dan semua makhluk (hablun minan nas).
Totalitas makna tauhid itulah kemudian dikenal dengan konsep tauhid ar-
rububiyyah, tauhid al-uluhiyyahdan tauhid al-asma wa al-sifat. Tauhid Rububiyyah
adalah pengakuan, keyakinan dan pernyataan bahwa Allah adalah satu-satunya
pencipta, pengatur dan penjaga alam semesta ini. Sedangkan tauhid al-Uluhiyyah
adalah keyakinan akan keesaan Allah dalam pelaksanaan ibadah, yakni hanya Allah
yang berhak diibadahi dengan cara-cara yang ditentukan oleh Allah (dan Rasul-Nya)
baik dengan ketentuan rinci, sehingga manusia tinggal melaksanakannya maupun
dengan ketentuan garis besar yang memberi ruang kreativitas manusia seperti
ibadah dalam kegiatan sosial-budaya, sosial ekonomi, politik kenegaraan dan
seterusnya, disertai dengan akhlak (etika) yang mulia sebagaimana dicontohkan
oleh Rasulullah. Adapun tauhid al-asma wa al-sifat adalah bahwa dalam memahami
nama-nama dan sifat Allah seorang muslim hendaknya hanya mengacu kepada
sumber ajaran Islam, Quran-Sunnah.
Melihat paparan di atas pengamalan sila pertama sejalan bahkan menjadi kokoh
dengan pengamalan tauhid dalam ajaran Islam. Inilah, yang menjadi pertimbangan
Ki Bagus Hadikusumo, ketika ada usulan yang kuat untuk menghapus 7 kata
dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya, mengusulkan kata
pengganti dengan Yang Maha Esa. Dalam pandangan beliau Ketuhanan Yang
Maha Esa adalah tauhid bagi umat Islam. (Endang Saifuddin, 1981: 41-44)
Sila kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.
Prinsip kemanusiaan dengan keadilan dan keadaban adalah juga menjadi ajaran
setiap agama yang diakui oleh negara Indonesia, termasuk Islam. Dalam ajaran
Islam, prinsip ini merupakan manifestasi dan pengamalan dari ajaran
tauhid. Muwahhidun (orang yang bertauhid) wajib memiliki jiwa kemanusiaan yang
tinggi dengan sikap yang adil dan berkeadaban.
Sikap adil sangat ditekankan oleh ajaran Islam, dan sikap adil adalah dekat dengan
ketaqwaan kepada Allah sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al Maidah ayat
8,Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu
menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil, dan janganlah
sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku
tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah
kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Demikian juga konsep beradab (berkeadaban) dengan menegakkan etika dan
akhlak yang mulia menjadi misi utama diutusnya Nabi Muhammad Saw dengan
sabdanya, Sesungguhnya aku diutus Allah untuk menyempurnakan akhlak yang
mulia.
Sila ketiga: Persatuan Indonesia
Ajaran Islam memerintahkan agar umat Islam menjalin persatuan dan kesatuan
antar manusia dengan kepemimpinan dan organisasi yang kokoh dengan tujuan
mengajak kepada kebaikan (al-khair), mendorong perbuatan yang makruf, yakni
segala sesuatu yang membawa maslahat (kebaikan) bagi umat manusia dan
mencegah kemungkaran, yakni segala yang membawa madharat (bahaya dan
merugikan) bagi manusia seperti tindak kejahatan. Persatuan dan kesatuan dengan
organisasi dan kepemimpinan yang kokoh itu dapat berbentuk negara, seperti negeri
tercinta Indonesia.
Sila keempat; Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/perwakilan
Prinsip yang ada pada sila keempat ini merupakan serapan dari nilai-nilai Islam yang
mengajarkan kepemimpinan yang adil, yang memperhatikan kemaslahatan
rakyatnya dan di dalam menjalan roda kepemimpinan melalui musyawarah dengan
mendengarkan berbagai pandangan untuk didapat pandangan yang terbaik bagi
kehidupan bersama dengan kemufakatan. Sistem demokrasi yang diterapkan di
Indonesia dengan mengedepan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan
sebagaimana ditegaskan dalam sila-sila dalam Pancasila sejalan dengan ajaran
agama. Bahkan pengamalan agama akan memperkokoh implementasi ideologi
Pancasila.
Sila Kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Mengelola negara dengan prinsip keadilan yang meliputi semua aspek, seperti
keadilan hukum, keadilan ekonomi, dan sebagainya, yang diikuti dengan tujuan
untuk kesejahteraan rakyat merupakan amanat setiap agama bagi para pemeluknya.
Dalam Islam di ajarkan agar pemimpin negara memperhatikan kesejahteraan
rakyatnya, dan apabila menghukum mereka hendaklah dengan hukuman yang adil.
(QS. Nisa: 58)
Dalam kaidah fikih Islam dinyatakan al-raiyyatu manuthun bil maslahah, artinya
kepemimpinan itu mengikuti (memperhatikan) kemaslahatan rakyatnya. Berarti pula
bahwa pemegang amanah kepemimpinan suatu negara wajib mengutamakan
kesejahteraan rakyat.
Waspadai Sekularisasi Pancasila
Adanya gerakan sekularisasi atau sterilisasi Pancasila dari nilai-nilai agama dari
sudut pandang Islam saat ini dapat berbentuk pemikiran dan wacana tetapi juga
dalam praktek hidup yang dilakoni oleh warga negara bangsa ini, baik di kalangan
rakyat jelata maupun mereka yang memegang amanah sebagai pemimpin dan
pejabat negara.
Pada tataran konsep dan pemikiran di antaranya adalah munculnya wacana
liberalisasi budaya dan agama dengan mengatasnamakan HAM, misalnya
munculnya RUU Keadilan dan Kesetaraan Gender yang diantaranya akan
menggugat bagian-bagian penting dari undang-undang perkawinan yang bersumber
kuat dari ajaran agama (Islam) yang dianggap bertentangan dengan HAM.
Sekularisasi Pancasila juga diwarnai oleh munculnya wacana bahwa nilai-nilai
agama tidak boleh dibawa dalam tatanan hidup bernegara, dan sebaliknya negara
tidak boleh mengatur kehidupan masyarakat dalam masalah keagamaan. Sehingga
negara tidak perlu terlibat untuk mengatur, menertibkan hingga melarang munculnya
aliran sesat dalam suatu agama. Karena menurut kelompok ini agama tidak berhak
menghukumi suatu aliran sebagai aliran sesat atau tidak sesat. Keyakinan adalah
urusan pribadi tidak dapat dinilai oleh orang lain apalagi negara. Memang
mencampuradukkan urusan agama dan negara tidak boleh dilakukan, tetapi bukan
berarti boleh memisah secara ekstrem antara agama dan negara, antara agama dan
Pancasila.
Seluruh konsep yang terkandung dalam rumusan Pancasila adalah nilai-nilai ajaran
agama, karena prinsip ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, keadaban, persatuan,
kepemimpinan, kebijaksanaan, permusyawaratan, keadilan sosial adalah nilai-nilai
otentik dari ajaran agama (khususnya Islam). Ketaatan dalam menjalankan ajaran
agama yang dimiliki oleh setiap rakyat baik yang menjadi rakyat biasa maupun
rakyat yang sedang mendapatkan amanah sebagai pemimpin dan pejabat negara
akan memperkokoh tegaknya nilai-nilai Pancasila sekaligus memperkokoh
ketahanan nasional.
Namun demikian, saat ini sekularisasi Pancasila telah merasuki bangsa ini dalam
bentuk praktek hidup yang tidak bermoral, baik dilakukan oleh rakyat biasa maupun
para pemimpin dan pejabat negara. Praktek hidup bangsa ini mengalami
pengeringan dari nilai-nilai agama. Bagaimana mungkin, seorang pemimpin, wakil
rakyat, akademisi, intelektual dan budayawan ikut-ikut mendukung diterimanya
konser Lady Gaga. Ini jelas contoh konkret pengeringan nilai-nilai agama yang
sangat mengancam nilai-nilai otentik Pancasila. Adanya krisis keteladanan, krisis
kepemimpinan dan dekadensi moral yang dalam bahasa Prof Dien Syamsuddin
disebut dengan accumulated global damage adalah bukti nyata dari
sekularisasi Pancasila ini.
Oleh karena itu, semestinya negara sebagaimana amanah Pancasila (sebelum
disekularisasi dan disterilisasi dari ajaran agama) memiliki kepedulian yang tinggi
terhadap kehidupan keagamaan seluruh elemen anak bangsa. Negara dalam hal ini
aparat negara dan penegak hukum negara harus mempelopori dan mendorong
dengan sungguh-sungguh agar setiap rakyat Indonesia menjalankan syariat
agamanya masing-masing dengan benar. Negara juga proaktif melindungi
kehidupan keagamaan bangsa ini dari ancaman aliran-aliran yang menyimpang dan
sesat, yang akan merusak kehidupan keagamaan. Dalam menentukan apakah suatu
aliran dalam suatu agama dipandang sesat atau tidak, masing-masing umat
beragama telah memiliki para ahli ilmu agama (Ulama, pendeta dan majelis
pemimpin agama), maka negara dapat meminta fatwa kepada Ulama, pendeta atau
majelis pemimpin agama-agama yang ada.

Dengan demikian, terjadi kerekatan antara pemimpin negara dan pemimpin agama
dalam melindungi dan menjamin kehidupan beragama, sehingga nilai-nilai Pancasila
yang seluruhnya merupakan nilai otentik ajaran agama akan berdiri tegak dengan
kokoh sebagai ideologi negara yang adiluhung, sehingga negeri ini menjadi negara
yang kokoh karena moralitas dan ketaatan seluruh anak bangsa, sehingga ridha dan
barakah Allah akan senantiasa menyertai bangsa dan negara ini. Amin Ya Rabbal
Alamin. [ Majalah Tabligh edisi Rajab - Syaban 1433 H]