Anda di halaman 1dari 25

BAB 1

Selayang Pandang

A. Pengertian Filsafat

Memberikan rumusan yang pasti tentang apa yang dimaksud dalam kata

"filsafat" adalah suatu pekerjaan yang tidak terlalu mudah, hal ini disebabkan

terdapat beraneka ragam paham, metode dan tujuan, yang dianut, ditempuh dan

dituju oleh masing-masing ilmuan/filsuf. Namun, sebuah pengertian awal harus

dapat dirumuskan untuk dapat memberikan arah dalam upaya untuk memahami

dan mempelajari filsafat.

Istilah "filsafat" dapat ditinjau dari dua segi, yaitu :

a. Segi semantik: perkataan filsafat berasal dari bahasa Arab 'falsafah', yang

berasal dari bahasa Yunani, 'philosophia', yang berarti 'philos' = cinta, suka

(loving), dan 'sophia' = pengetahuan, hikmah (wisdom). Jadi 'philosophia'

berarti cinta kepada kebijaksanaan. Cinta artinya hasrat yang besar atau yang

berkobar-kobar atau yang sungguh-sungguh. Kebijaksanaan artinya

kebenaran sejati atau kebenaran yang sesungguhnya. Filsafat berarti hasrat

atau keinginan yang sungguh akan kebenaran sejati. Maksudnya, setiap

orang yang berfilsafat diharapkan akan menjadi bijaksana dengan segala

daya upaya untuk dapat memperoleh kebenaran. Orang yang cinta kepada

Apakah Filsafat Itu ? 1


kebijaksanaan ini disebut 'philosopher', yang dalam bahasa Arab disebut

'failasuf".

b. Segi praktis : dilihat dari pengertian praktisnya, filsafat berarti 'alam pikiran'

atau 'alam berpikir'. Berfilsafat artinya berpikir. Namun tidak semua berpikir

berarti berfilsafat. Berfilsafat adalah berpikir secara radikal (mendalam) dan

sungguh-sungguh. Filsuf hanyalah orang yang memikirkan hakikat segala

sesuatu dengan sungguh-sungguh dan mendalam. Tegasnya, Filsafat adalah

hasil kerja akal seorang manusia yang mencari dan memikirkan suatu

kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Dengan kata lain, Filsafat adalah ilmu

yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala

sesuatu.

B. Beberapa definisi

Karena luasnya ruang lingkup pembahasan ilmu filsafat, maka muncul

definisi beragam yang dirumuskan para ilmuan. Di bawah ini adalah beberapa

contoh definisi ilmu filsafat yang dirumuskan filsuf Barat dan Timur :

a. Plato (427 SM 347 SM) seorang filsuf Yunani yang termasyhur murid

Socrates dan guru Aristoteles, mengatakan: Filsafat adalah pengetahuan

tentang segala yang ada (ilmu pengetahuan yang berusaha memperoleh

kebenaran yang asli dan murni). Ia juga menjelaskan bahwa filsafat adalah

penyelidikan tentang sebab-sebab dan asas-asas yang paling akhir dari segala

sesuatu yang ada.

b. Aristoteles (384 SM 322 SM) mengatakan : Filsafat adalah ilmu

pengetahuan yang senantiasa berusaha mencari prinsip-prinsip dan

Apakah Filsafat Itu ? 2


penyebab-penyebab dari realitas ada. Disamping itu dia juga menugnkapkan

bahwa filsafat adalah ilu pengetahuan yang berupaya memelajari ada

sebagai ada (being as being) atau ada sebagaimana adanya (being as such).

c. Marcus Tullius Cicero (106 SM 43 SM) politikus Romawi, merumuskan:

Filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang maha agung dan usaha-

usaha untuk mencapainya.

d. Al-Farabi (meninggal 950M), filsuf Muslim terbesar sebelum Ibnu Sina,

menjelaskan bahwa: Filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud

dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya.

e. Rene Descartes, seorang filsuf pencerahan Prancis yang termasyhur dengan

argumen je pense donc je suis , atau dalam bahasa latin Cogito Ergo Sum (aku

berpikir maka aku ada), menjelaskan bahwa filsafat adalah himpunan dari

segala pengetahuan yang pangkal penyelidikannya mengenai Tuhan, alam

dan manusia.

f. Fuad Hasan, guru besar Universitas Indonesia, menyimpulkan: Filsafat

adalah suatu ikhtiar untuk berpikir radikal (sampai ke akar), artinya mulai

dari radiksnya suatu gejala, dan dari akarnya suatu hal yang hendak

dipermasalahkan. Dan dengan jalan yang radikal itu filsafat berusaha untuk

sampai kepada kesimpulan-kesimpulan yang universal.

g. Hasbullah Bakry merumuskan: ilmu filsafat adalah ilmu yang menyelidiki

segala sesuatu dengan mendalam mengenai Tuhan, alam semesta dan

manusia, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana

hakikat sesuatu sesuai dengan kemampuan yang dapat dicapai oleh akal

Apakah Filsafat Itu ? 3


manusia, dan juga bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah

mencapai pengetahuan yang telah didapatkan.

h. Bertrand Russel menjelaskan pengertian filsafat sebagai : The attempt to answer

ultimate question critically (usaha untuk menjawab pertanyaan rumit

[pamungkas] secara kritis).

Dari beberapa rumusan definisi di atas, sudah ada deskripsi umum tentang

filsafat. Filsafat adalah suatu ilmu, yang berusaha menyelidiki hakikat segala

sesuatu untuk memperoleh kebenaran. Bolehlah filsafat disebut sebagai: suatu

usaha untuk berpikir yang radikal dan menyeluruh, suatu cara berpikir yang

mengupas sesuatu sedalam-dalamnya. Hal yang membawa usahanya itu kepada

suatu kesimpulan universal dari kenyataan partikular atau khusus, dari hal yang

tersederhana sampai yang terkompleks. Filsafat merupakan "Ilmu tentang

hakikat". Di sinilah kita memahami perbedaan mendasar antara "filsafat" dan

"ilmu (cabang)" atau "sains". Ilmu membatasi wilayahnya sejauh alam yang

dapat dialami, dapat diindera, atau alam empiris. Ilmu menghadapi soalnya

dengan pertanyaan "bagaimana" dan "apa sebabnya". Filsafat mencakup

pertanyaan-pertanyaan mengenai makna, kebenaran, dan hubungan logis di

antara ide-ide dasar (keyakinan, asumsi dan konsep) yang tidak dapat

dipecahkan dengan ilmu empiris. Philosophy: Inquiry into the nature of things based

on logical reasoning rather than empirical methods (The Grolier Int. Dict.).

Filsafat meninjau dengan pertanyaan "apa itu", "dari mana" dan "ke mana".

Di sini orang tidak mencari pengetahuan sebab dan akibat dari suatu masalah,

seperti yang diselidiki ilmu, melainkan orang mencari tahu tentang apa yang

sebenarnya pada barang atau masalah itu, dari mana terjadinya dan ke mana

Apakah Filsafat Itu ? 4


tujuannya. Maka, jika para filsuf ditanyai, "Mengapa A percaya akan Allah",

mereka tidak akan menjawab, "Karena A telah dikondisikan oleh pendidikan di

sekolahnya untuk percaya kepada Allah," atau "Karena A kebetulan sedang

gelisah, dan ide tentang suatu figur bapak membuatnya tenteram." Dalam hal ini,

para filsuf tidak berurusan dengan sebab-sebab, melainkan dengan dasar-dasar

yang mendukung atau menyangkal pendapat tentang keberadaan Allah. Tugas

filsafat menurut Sokrates (470-399 S.M.) bukan menjawab pertanyaan-

pertanyaan yang timbul dalam kehidupan, melainkan mempersoalkan jawaban

yang diberikan.

Dari berbagai definisi filsafat yang telah dirumuskan, Kattsoff (1963) di

dalam bukunya Elements of Philosophy untuk melengkapi definisi filsafat sebagai

berikut :

Filsafat adalah berpikir secara kritis.

Filsafat adalah berpikir dalam bentuk sistematis.

Filsafat harus menghasilkan sesuatu yang runtut.

Filsafat adalah berpikir secara rasional.

Filsafat harus bersifat komprehensif.

Sedangkan Magnis Suseno (1999), mendefinisikan Filsafat sebagai usaha

tertib, metodis, yang dipertanggungjawabkan secara intelektual untuk melakukan

apa yang sebetulnya diharapkan dari setiap orang yang tidak hanya mau

membebek saja, yang tidak hanya mau menelan mentah-mentah apa yang sudah

dikunyah sebelumnya oleh pihak-pihak lain. Yaitu untuk mengerti, memahami,

mengartikan, menilai, mengkritik data-data dan fakta-fakta yang dihasilkan

dalam pengalaman sehari-hari dan melalui ilmu-ilmu. Filsafat sebagai latihan

Apakah Filsafat Itu ? 5


untuk belajar mengambil sikap, mengukur bobot dari segala macam pandangan

yang dari pelbagai penjuru ditawarkan kepada kita. Kalau kita disuruh

membangun masyarakat, filsafat akan membuka implikasi suatu pembangunan

yang misalnya hanya mementingkan kerohanian sebagai ideologi karena

manusia itu memang bukan hanya rohani saja. Atau, kalau pembangunan hanya

material dan hanya mengenai prasarana-prasarana fisik saja, filsafat akan

bertanya sejauh mana pembangunan itu akan menambah harapan manusia

kongkrit dalam masyarakat untuk merasa bahagia. Dan kalau pelbagai otoritas

dalam masyarakat mau mewajibkan sesuatu kepada kita, filsafat dapat

membantu kita dalam mengambil sikap yang dewasa dengan mempersoalkan

hak dan batas mereka untuk mewajibkan sesuatu. Terhadap ideologi kemajuan

akan dipersoalkan apa arti maju bagi manusia. Atau orang yang mau mengekang

kebebasan kita atas nama Tuhan yang Mahaesa, filsafat akan menarik perhatian

kita pada fakta bahwa yang mau mengekang itu hanyalah manusia saja yang

mengatasnamakan Tuhan, dan bahwa Tuhan tidak pernah identik dengan suara

manusia begitu saja. Dan kalau suatu rezim fanatik mau membawahkan segala

nilai pada kemegahan negara saja, filsafat dapat saja menunjuk pada seorang

filsuf yang dua ribu tahun yang lalu telah berpikir ke arah itu, yaitu Plato, dan

bagaimana dia dilawan oleh seorang filsuf lain jaman itu, Aristoteles.

Sebagai penutup pemahaman awal mengenai terminologi "filsafat", perlu

dicermati beberapa perbedaan arti "filsafat" dengan istilah-istilah yang hampir

serupa dengan ini, yakni "falsafah", "falsafi" atau "filsafati", "berpikir filosofis" dan

"mempunyai filsafat hidup" yang sering kita dengar, kita baca, atau bahkan

mungkin kita pakai dalam hidup keseharian kita. "Falsafah" itu tidak lain filsafat

itu sendiri. "Falsafi" atau "filsafati" artinya: "bersifat sesuai dengan kaidah-kaidah

Apakah Filsafat Itu ? 6


filsafat". "Berpikir filosofis", dimaksudkan: berpikir dengan dasar cinta akan

kebijaksanaan. Bijaksana adalah sifat manusia yang muncul sebagai hasil dari

usahanya untuk berpikir benar dan berkehendak baik. Berpikir benar saja

ternyata belum mencukupi. Dapat saja orang berpikir bahwa memfitnah adalah

tindakan yang jahat. Tetapi dapat pula ia tetap memfitnah karena meskipun

diketahuinya itu jahat, namun ia tidak menghendaki untuk tidak melakukannya.

Cara berpikir yang filosofis adalah berusaha untuk mewujudkan gabungan antara

keduanya, berpikir benar dan berkehendak baik. Sedangkan, "mempunyai filsafat

hidup" mempunyai pengertian yang lain sama sekali dengan pengertian "filsafat"

yang pertama. Ia bisa diartikan mempunyai suatu pandangan, seperangkat

pedoman hidup atau nilai-nilai tertentu yang dianut seseorang.

C. Objek Kajian

Ada dua obyek yang menjadi fokus kajian filsafat, yaitu obyek materia dan

obyek forma. Obyek materia adalah segala sesuatu yang ada dan mungkin ada.

Sepintas, objek materia filsafat memiliki kesamaan dengan objek materia sains,

tetapi ada dua perbedaan mendasar. Pertama, sains menyelidiki obyek materia

yang empiris, sedangkan filsafat menyelidiki bagian abstraknya. Kedua, ada

obyek filsafat yang tidak ada tersentuh oleh sains, yaitu hal-hal yang non-empiris

seperti hal-hal yang bersifat ketuhanan atau teologis. Sehingga dapat dilihat

bahwasanya obyek materia filsafat lebih luas daripada sains.

Obyek forma filsafat adalah sifat penyelidikan yang mendalam. Artinya

sebuah keinginan untuk mengetahui bagian yang terdalam dari suatu hal. Kata

Apakah Filsafat Itu ? 7


mendalam artinya ingin tahu tentang obyek yang tidak empiris. Sehingga filsafat

menjawab semua wilayah yang tidak terjawab oleh sains.

D. Prinsip-Prinsip Dalam Berfilsafat

The Liang Gie mengatakan ada lima prinsip penting dalam berfilsafat

agar seorang calon filsuf mendapat hasil yang maksimal:

1. Menghindari sikap solipsisme. Seorang yang ingin berfilsafat harus

mampu mengendalikan diri, terutama sikap merasa diri sendiri sudah

mengerti tentang apa yang dipelajari.

2. Perlunya sikap mental berupa kesetiaan pada kebenaran (a loyalty to

the truth). Sikap seperti ini pada gilirannya akan menumbuhkan

keberanian untuk mempertahankan kebenaran yang

diperjuangkannya.

3. Memahami secara bersungguh-sungguh persoalan filsafati serta

berusaha memikirkan jawabannya (intellectual exercise).

4. Latihan intelektual tersebut dilakukan secara dinamis dan

berkesinambungan dari waktu ke waktu dan diungkapkan dalam

bentuk tulisan maupun lisan.

5. Sikap keterbukaan diri.

E. Sistematika Filsafat

Sistematika filsafat atau struktur filsafat adalah hasil dari berpikir tentang

sesuatu yang ada dan yang mungkin ada yang kemudian terkumpul secara

sistematis. Karena obyek kajian filsafat luas sekali (obyek materia) dan

Apakah Filsafat Itu ? 8


mempunyai sifat penelitian yang mendalam (obyek forma), hasil penelitian itu

bertambah terus dan tidak pernah dibuang, maka sistematika filsafat menjadi

sangat banyak. Oleh karena itu, perlu diketahui cabang filsafat secara garis besar

yang terbagi dalam tiga bentuk, yaitu:

1. Epistemologi

Epistemologi adalah teori yang membicarakan tentang cara

memperoleh pengetahuan. Runes mendefinisikannya sebagai the branch of

philosophy which investigates the origin, structure, methods and validity of knowledge.

Karena itu kita sering menyebutnya sebagai istilah filsafat pengetahuan.

Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh JF Ferrier pada tahun 1854.

Pengetahuan manusia itu ada tiga macam, yaitu sains, filsafat dan

mistik. Pengetahuan itu diperoleh melalui berbagai macam cara dan alat.

Ada beberapa aliran yang berbicara tentang hal ini, yaitu:

a. Empirisme

Berasal dari bahasa Yunani emperikos yang artinya pengalaman.

Menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuannya dengan

melalui pengalamannya yang bersifat inderawi. Bapak aliran ini di

zaman modern adalah John Locke dengan teorinya yang terkenal teori

tabula rusa yang berarti meja lilin. Maksudnya bahwa pada mulanya

manusia itu kosong dari pengetahuan. Kemudian pengalaman manusia

itu mengisi kekosongan jiwa manusia tersebut. Dengan itulah manusia

memiliki pengetahuan. Jadi dapat dipastikan bahwa metode yang

digunakan sebagai tumpuan adalah eksperimen. Kelemahan aliran ini

Apakah Filsafat Itu ? 9


karena keterbatasan indera manusia. Untuk itulah muncul aliran

Rasionalisme. Ada juga aliran yang mirip dengan empirisme, yaitu

sensasionalisme yang diartikan sebagai rangsangan inderawi.

b. Rasionalisme

Singkatnya aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar

kepastian pengetahuan. Sehingga apa saja yang berbau dengan

pengetahuan, standar kebenarannya adalah akal. Paham ini sebetulnya

sudah muncul pada zaman Yunani kuno, sedangkan yang

mempopulerkan dalam dunia modern adalah Rene Descartes.

Sebagaimana pada bagian sebelumnya dijelaskan tentang keterbatasan

indera manusia, maka pada aliran ini kekurangan tersebut ditambal

dengan analisa akal. Laporan yang diberikan indera masih kacau, oleh

karena itu akal mempertimbangkannya dalam pengalaman berpikir. Akal

mengatur bahan tersebut hingga membentuk pengetahuan yang benar.

Tetapi duet tersebut belum berhasil, karena walaupun dibantu dengan

akal manusia belum menemukan pengetahuan yang utuh. Manusia baru

mampu menangkap seluruh obyek dengan intuisinya.

c. Positivisme

August Comte adalah pendiri dari aliran ini yang sebenarnya

penganut aliran empiris. Baginya indera sangatlah penting dalam

memperoleh pengetahuan, tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan

diperkuat oleh eksperimen. Kekeliruan indera akan dikoreksi dengan

eksperimen. Eksperimen perlu diperjelas dengan ukuran-ukuran.

Sehingga mulai dari sinilah kemajuan sains berkembang. Kebenaran

Apakah Filsafat Itu ? 10


diperoleh dari akal, kemudian didukung oleh bukti empiris yang terukur.

Inilah yang disebut dengan positivisme

d. Intuisionisme

Aliran ini hadir tidak lain sebagai kritik dari empirisme dan

Rasionalisme. Henry Bergson sebagai salah satu dari tokoh aliran ini. Ia

menganggap bahwa tidak hanya indera yang terbatas, akal juga terbatas.

Obyek-obyek yang kita tangkap itu adalah obyek yang selalu berubah-

ubah. Barangkali aliran ini adalah aliran yang sangat sulit untuk

dipelajari sebab sangat jarang orang yang bisa menguasai kemampuan

seperti ini. Kemampuan berpikir intuisional ini mirip dengan insting,

namun berbeda dalam kesadaran dan kebebasannya. Barangkali

kemampuan ini-lah yang dalam islam dikenal dengan istilah kasyf.

2. Ontologi

Ontologi adalah cabang ilmu filsafat yang membicarakan

pengetahuan yang dipikirkan secara mendalam oleh filsuf itu sendiri hingga

mencapai hakikatnya. Karenanya cabang ini sering juga disebut teori hakikat.

Ketika muncul pertanyaan tentang realitas (hakikat) suatu benda apakah

sesuai dengan penampakannya atau sesuatu yang tersembunyi di balik

penampakan itu, maka muncullah kemudian empat atau lima aliran, yaitu:

a. Materialisme: Hakikat benda adalah materi benda itu sendiri. Rohani,

spirit, jiwa dan sebagainya itu muncul dari benda.

b. Idealisme: Hakikat benda adalah rohani, jiwa, spirit dan sebangsanya,

sebab pada dasarnya manusia lebih bisa mengerti hakikat dirinya sendiri

Apakah Filsafat Itu ? 11


daripada dunia luar dirinya, nilai roh lebih tinggi daripada badan dan

karena hakekatnya yang ada itu hanyalah energi, sedang benda itu

adalah kumpulan energi yang menempati ruang.

c. Dualisme: Hakikat benda material dan immaterial.

d. Skeptisisme: Diragukan apakah manusia mampu mengetahui hakikat

atau tidak.

e. gnostisisme: manusia tidak dapat mengetahui hakikat sesuatu.

3. Aksiologi.

Aksiologi adalah cabang ilmu filsafat yang membicarakan masalah nilai,

sering disebut teori nilai. Di sini dibicarakan apa guna filsafat tersebut atau

dimana sih letak nilai filsafat tersebut. Untuk mengetahuinya kita dapat

melihat filsafat sebagai tiga hal:

a. Filsafat sebagai kumpulan teori filsafat. Dari sisi ini filsafat berfungsi

sebagai teori untuk mengukur nilai-nilai suatu ajaran dengan teori-teori

filsafat sehingga kita mengerti dengan nilai yang hakikat pada faham

suatu ajaran tersebut. Dengan demikian kita tidak akan buru-buru

mengamalkan nilai-nilai yang terdapat dalam suatu faham tertentu dalam

hidup kita sebelum mengenal filsafatnya.

b. Filsafat sebagai philosophy of life. Dalam posisi ini filsafat adalah sebagai

pandangan hidup atau lebih singkat filsafat sebagai agama.

c. Filsafat sebagai metodologi dalam memecahkan masalah. Menggunakan

filsafat sebagai metode dalam menyelesaikan masalah berarti kita

Apakah Filsafat Itu ? 12


menyelesaikan masalah dengan cara mencari sebab yang paling awal dari

masalah tersebut.

Dalam perjalanannya, problem yang dihadapi oleh manusia makin

kompleks, sehingga membutuhkan jawaban yang kompleks pula. Jawaban yang

diberikan terhadap suatu problem tidak selalu dapat tuntas, bahkan kadang-

kadang hanya sebagian kecil darinya yang terjawab dengan baik. Karena latar

belakang yang berbeda-beda, baik dilihat dari manusianya maupun tantangan

atau problemnya, maka berakibat juga pada beragamnya bagaimana suatu

jawaban diberikan.

Oleh karena itu, suatu problem yang sama, karena dilihat dari berbagai sudut

dan arah, menimbulkan jawaban yang berbeda. Berbagai aliran dalam

filsafatpun kemudian tumbuh subur sejalan dengan semakin kompleknya

problema kehidupan manusia. Manusia memegang peranan yang penting dalam

munculnya aliran-aliran dalam filsafat. Pada hakikatnya, karena ia mempunyai

unsur kejiwaan, yaitu cipta, rasa dan karsa, maka setiap orang dapat

menghasilkan filsafatnya sendiri. Namun pada sisi yang lain, kenyataan

menunjukkan bahwa hanya orang-orang tertentu yang dapat mengemukakan

pendapat serta ajaran yang bernilai filsafati. Hambatan-hambatan yang

ditimbulkan oleh kata dan susunan kalimat dalam suatu bahasa seringkali

memaksa seorang filsuf untuk menyusun kalimat atau rangkaian kata baru

semata-mata untuk bisa membuat representasi yang mendekati apa yang

terkandung dalam pikirannya. Oleh karena filsafat merupakan hasil

permenungan jiwa manusia yang terdalam, maka corak (sifat, khas) dalam tiap-

tiap aliran tidak terlepas dari unsur-unsur yang menyusun manusia itu sendiri.

Apakah Filsafat Itu ? 13


1. Corak yang sesuai dengan unsur jiwa dan raga:

Manusia terdiri atas jiwa dan raga, karenanya filsafat ada yang

menintikberatkan atau mengagungkan jiwa atau memberi tempat yang tinggi

kepada jiwa atau unsur-unsur dalam. Aliran yang termasuk jenis ini antara lain

adalah:

Idealisme, yang memberi tempat tertinggi pada idea.

Spiritualisme, yang memberi tempat tertinggi pada jiwa.

Rasionalisme, yang memberi tempat tertinggi pada akal.

Sebaliknya, ada yang menempatkan unsur-unsur ragawi, unsur-unsur luar,

sebagai yang tertinggi. Termasuk dalam aliran ini antara lain adalah:

Materialisme, yang memberi tempat tertinggi pada materi.

Empirisme, yang memberi tempat tertinggi pada pengalaman.

Sensisme, yang memberi tempat tertinggi pada panca indera.

2. Corak yang sesuai dengan sifat individu dan sosial:

Manusia memiliki sifat individu dan sosial, karena itu pengejawantahan dari

sifat ini terlihat pula dalam corak aliran filsafat. Ada yang mengagungkan sifat

individunya. Aliran yang termausk jenis ini antara lain adalah:

Individualisme, yang memberi tempat tertinggi pada individu.

Liberalisme, yang mengagungkan hak mutlak setiap individu.

Sebaliknya, ada yang mengagungkan sifat sosialnya. Termasuk dalam aliran ini

Apakah Filsafat Itu ? 14


adalah:

Altruisme, yang mengutamakan kepentingan orang lain semata-mata.

Sosialisme, yang mengutamakan kepentigan sosial lebih dari

kepentingan individu.

3. Corak yang menyangkut hubungan manusia dengan "Yang Mahakuasa":

Dalam hal ini, aliran di dalam filsafat ada yang bercorak teistik, ada pula

yang ateistik. Misalnya, Tomisme memberi tempat yang tinggi kepada Tuhan,

sedangkan Positivisme menolak teologi.

4. Corak perpaduan:

Karena ada aliran kefilsafatan yang menekankan atau mengagungkan salah

satu unsur, maka terjadi jurang pemisah antara keduanya. Karena ada jurang

pemisah itu, timbullah usaha untuk menghubungkan kedua sisinya yaitu dengan

membuat jembatan. Beberapa contoh di antaranya adalah:

Immanuel Kant (lahir 1724 di Koningsbergen) berusaha menjembatani

antara Rasionalisme dan Empirisme.

G.W.F. Hegel (lahir 1770 di Stuttgart) membuat jembatan antara pendapat

Fichte dengan pendapat Friedrich Yoseph Schelling.

Sistem fichte adalah idealisme subjektif, sedang Schelling adalah idealisme

objektif. Jembatan yang dibuat oleh Hegel adalah idealisme absolut. Inilah

Apakah Filsafat Itu ? 15


bentuk metode dialektik Hegel yaitu Tesis-Antitesis-Sintesis. Karena Sintesis

pada hakikatnya adalah suatu Tesis Baru, maka dari padanya akan timbul

Antitesis baru, demikian pula akan timbul Sintesis Baru, dan seterusnya.

Agar dapat memahaai bagaimanapola pemikiran suatu aliran, berikut ini, kami

akan mengangkat satu aliran filsafat yang sangat berpengaruh di Barat pada abad

kedua puluh, terutama setelah selesainya Perang Dunia Kedua. Ialah

"Eksistensialisme".

Eksistensialisme

Dalam filsafat dibedakan antara esensia dan eksistensia. Esensia membuat

benda, tumbuhan, binatang dan manusia. Oleh esensia, sosok dari segala yang

ada mendapatkan bentuknya. Oleh esensia, kursi menjadi kursi. Pohon mangga

menjadi pohon mangga. Harimau menjadi harimau. Manusia menjadi manusia.

Namun, dengan esensia saja, segala yang ada belum tentu berada. Kita dapat

membayangkan kursi, pohon mangga, harimau, atau manusia. Namun, belum

pasti apakah semua itu sungguh ada, sungguh tampil, sungguh hadir. Di sinilah

peran eksistensia.

Eksistensia membuat yang ada dan bersosok jelas bentuknya, mampu berada,

eksis. Oleh eksistensia kursi dapat berada di tempat. Pohon mangga dapat

tertanam, tumbuh, berkembang. Harimau dapat hidup dan merajai hutan.

Manusia dapat hidup, bekerja, berbakti, dan membentuk kelompok bersama

manusia lain. Selama masih bereksistensia, segala yang ada dapat ada, hidup,

tampil, hadir. Namun, ketika eksistensia meninggalkannya, segala yang ada

menjadi tidak ada, tidak hidup, tidak tampil, tidak hadir. Kursi lenyap. Pohon

Apakah Filsafat Itu ? 16


mangga menjadi kayu mangga. Harimau menjadi bangkai. Manusia mati.

Demikianlah penting peranan eksistensia. Olehnya, segalanya dapat nyata ada,

hidup, tampil, dan berperan. Adapun tanpa eksistensia, segala sesuatu tidak

nyata ada, apalagi hidup dan berperan.

Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang menekankan eksistensia. Para

pengamat eksistensialisme tidak mempersoalkan esensia dari segala yang ada.

Karena memang sudah ada dan tak ada persoalan. Kursi adalah kursi. Pohon

mangga adalah pohon mangga. Harimau adalah harimau. Manusia adalah

manusia. Namun, mereka mempersoalkan bagaimana segala yang ada berada

dan untuk apa berada. Oleh karena itu, mereka menyibukkan diri dengan

pemikiran tentang eksistensia. Dengan mencari cara berada dan eksis yang

sesuai, esensia pun akan ikut terpengaruhi. Dengan pengolahan eksistensia

secara tepat, segala yang ada bukan hanya berada, tetapi berada dalam keadaan

optima. Untuk manusia, ini berarti bahwa dia tidak sekadar berada dan eksis,

tetapi berada dan eksis dalam kondisi ideal sesuai dengan kemungkinaan yang

dapat dicapai. Dalam kerangka pemikiran itu, menurut kaum eksistensialis,

hidup ini terbuka. Nilai hidup yang paling tinggi adalah kemerdekaan. Dengan

kemerdekaan itu, keterbukaan hidup dapat ditanggapi secara baik. Segala sesuatu

yang menghambat, mengurangi, atau meniadakan kemerdekaan harus dilawan.

Tata tertib, peraturan, hukum harus disesuaikan atau, bila perlu, dihapus dan

ditiadakan. Karena adanya tata tertib, peraturan, hukum dengan sendirinya

sudah tak sesuai dengan hidup yang terbuka dan hakikat kemerdekaan. Semua

itu membuat orang terlalu melihat ke belakang dan mengaburkan masa depan,

sekaligus membuat praktik kemerdekaan menjadi tidak leluasa lagi.

Dalam hal etika, karena hidup ini terbuka, kaum eksistensialis memegang

Apakah Filsafat Itu ? 17


kemerdekaan sebagai norma. Bagi mereka, manusia mampu menjadi seoptima

mungkin. Untuk menyelesaikan proyek hidup itu, kemerdekaan mutlak

diperlukan. Berdasarkan dan atas norma kemerdekaan, mereka berbuat apa saja

yang dianggap mendukung penyelesaian proyek hidup. Sementara itu, segala tata

tertib, peraturan, hukum tidak menjadi bahan pertimbangan. Karena adanya saja

sudah mengurangi kemerdekaan dan isinya menghalangi pencapaian cita-cita

proyek hidup. Sebagai ganti tata-tertib, peraturan, dan hukum, mereka berpegang

pada tanggung jawab pribadi. Mereka tak mempedulikan segala peraturan dan

hukum, dan tidak mengambil pusing akan sanksi-sanksinya. Yang mereka

pegang adalah tanggung jawab pribadi dan siap menanggung segala konsekuensi

yang datang dari masyarakat, negara, atau lembaga agama. Satu-satunya hal

yang diperhatikan adalah situasi. Dalam menghadapi perkara untuk

menyelesaikan proyek hidup dalam situasi tertentu, pertanyaan pokok mereka

adalah apa yang paling baik yang menurut pertimbangan dan tanggung jawab

pribadi seharusnya dilakukan dalam situasi itu. Yang baik adalah yang baik

menurut pertimbangan norma mereka, bukan berdasarkan perkaranya dan

norma masyarakat, negara, atau agama.

Segi positif yang sekaligus merupakan kekuatan dan daya tarik etika

eksistensialis adalah pandangan tentang hidup, sikap dalam hidup, penghargaan

atas peran situasi, penglihatannya tentang masa depan. Berbeda dengan orang

lain yang berpikiran bahwa hidup ini sudah selesai, yang harus diterima seperti

adanya, dan tak perlu diubah, etika eksistensialis berpendapat bahwa hidup ini

belum selesai, tidak harus diterima sebagai adanya, dan dapat diubah, bahkan

harus diubah. Ini berlaku untuk hidup manusia sebagai pribadi, masyarakat,

bangsa, dan dunia seanteronya. Dalam arti itulah hidup dimengerti sebagai

Apakah Filsafat Itu ? 18


proyek. Orang yang memandang hidup sebagai sudah selesai, mempunyai sikap

pasrah dan "menerima", sementara kaum eksistensialis yang memahami hidup

sebagai belum selesai mempunyai sikap berusaha dan berjuang. Hidup ini perlu

dan harus diperbaiki. Faktor penting untuk perbaikan hidup itu adalah tanggung

jawab. Setiap orang harus bertanggungjawab atas hidupnya dan dengan sungguh-

sungguh berupaya untuk mengembangkannya. Bagi orang yang merasa hidup

sudah jadi, situasi hidup menjadi sama saja. Tidak ada situasi penting,

mendesak, atau genting. Karena hidup selalu berjalan normal. Namun, bagi

kaum eksistensialis yang memahami hidup belum selesai, setiap situasi

membawa akibat untuk kemajuan kehidupan. Oleh karena itu, setiap situasi

perlu dikendalikan, dimanfaatkan, diarahkan sehingga menjadi keuntungan bagi

kemajuan hidup. Akhirnya, bagi orang yang menerima hidup sudah sampai titik

dan puncak kesempurnaannya, masa depan tidak amat berperan karena masa

depan pun keadaannya akan sama saja dengan masa yang ada sekarang. Namun,

bagi kaum eksistensialis yang belum puas dengan hidup yang ada dan yang

merasa perlu untuk mengubahnya, masa depan merupakan faktor yang penting.

Karena hanya dengan adanya masa depan itu, perbaikan hidup dimungkinkan

dan pada masa depan pula hidup baik itu terwujud. Dengan demikian, gaya

hidup kaum eksistensialis menjadi serius, dinamis, penuh usaha, dan optimis

menuju ke masa depan

Namun, oleh pandangan-pandangan yang terkandung di dalam dirinya,

segi-segi positif etika eksistensialis itu menjadi berkurang positifnya. Kelemaham-

kelemahan etika eksistensialis dapat disebut beberapa. Pertama, etika

eksistensialis terperosok ke dalam pendirian yang individualistis. Dengan

pendirian itu, di bawah nama melaksanakan proyek hidup, bisa-bisa para

Apakah Filsafat Itu ? 19


pengikut aliran eksistensialis hanya mencari dan mengejar kepentingan diri.

Karena yang baik ditentukan sendiri, bukan berdasarkan norma, maka yang

dianggap baik bukanlah kebaikan sejati, melainkan baik menurut dan bagi diri

mereka sendiri. Cara memandang kebaikan yang individualistis itu dapat

merugikan sesama, masyarakat dan dunia.

Kedua, dengan mengabaikan tata tertib, peraturan, hukum, kaum

eksistensialis menjadi manusia yang anti-sosial. Tidak dapat disangkal bahwa

ada norma masyarakat yang sudah usang. Namun, menyatakan segala norma tak

berlaku sungguh melawan akal sehat. Karena norma masyarakat merupakan

hasil perjalanan pencarian yang tidak begitu saja mudah ditiadakan. Jika tidak

dapat dipergunakan sepenuhnya, paling sedikit masih dapat bermanfaat sebagai

bahan pertimbangan dan titik tolak pencarian nilai hidup lebih lanjut. Kecuali

itu, sikap para penganut aliran eksistensialis yang asosial merugikan usaha

perbaikan hidup dan dunia. Karena usaha itu merupakan usaha raksasa sehingga

tidak dapat diselesaikan secara perorangan, melainkan harus digarap bersama

seluruh masyarakat.

Ketiga, dengan mengambil sikap bebas merdeka, kaum eksistensialis

memandang kemerdekaan sebagai tidak terbatas. Padahal, dalam hidup ini tidak

ada kemerdekaan yang tanpa batas. Karena dalam perwujudannya selalu akan

dibatasi. Pembatasan itu berasal dari si pelaksana sendiri dan masyarakat.

Seberapa "hebat"-nya manusia, tidak mungkinlah dia mampu mewujudkan

kemerdekaannya secara penuh. Pembatasan juga datang dari masyarakat.

Selama orang hidup dakam masyarakat, pelaksanaan kemerdekaan akan selalu

dibatasi oleh pelaksanaan kebebasan orang lain. Mau tidak mau, dalam hidup

masyarakat orang harus mau "memberi" dan "menerima", alias berkompromi.

Apakah Filsafat Itu ? 20


Keempat, kaum eksistensialis amat memperhitungkan situasi. Namun,

situasi itu mudah goyah. Kelemahan ini masih diperkuat oleh sikap

individualistis yang dipegang kaum eksistensialis. Bila orang bersandar pada

situasi dan diri sendiri saja, pandangannya menjadi terbatas, lingkup

perbuatannya dipersempit, dan pendiriannya rapuh. Begitulah, etika

eksistensialis memiliki unsur-unsur kebaikan yang positif. Namun, bila tak

mengurangi dan melepaskan kelemahan-kelemahannya, eksistensialisme akan

melemahkan arti dan sumbangan-sumbangannya yang memang berharga.

F. Ilmu, Filsafat dan Agama

Sudah diuraikan di atas bahwa yang dicari oleh filsafat adalah kebenaran.

Demikian pula ilmu. Agama juga mengajarkan kebenaran. Kebenaran dalam

filsafat dan ilmu adalah "kebenaran akal", sedangkan kebenaran menurut agama

adalah "kebenaran wahyu". Kita tidak akan berusaha mencari mana yang benar

atau lebih benar di antara keduanya, akan tetapi kita akan melihat apakah

keduanya dapat hidup berdampingan secara damai, secara damai, apakah

keduanya dapat bekerjasama atau bahkan saling bermusuhan satu sama lain.

Meskipun filsafat dan ilmu mencari kebenaran dengan akal, hasil yang diperoleh

baik oleh filsafat maupun ilmu juga bermacam-macam. Hal ini dapat dilihat pada

aliran yang berbeda-beda, baik di dalam filsafat maupun di dalam ilmu.

Demikian pula terdapat bermacam-macam agama yang masing-masing

mengajarkan kebenaran.

Bagaimana mencari hubungan antara ilmu, filsafat dan agama akan

diperlihatkan sebagai berikut: Perhatikan ilustrasi ini. Jika seseorang melihat

sesuatu kemudian mengatakan tentang sesuatu tersebut, dikatakan ia telah

Apakah Filsafat Itu ? 21


mempunyai pengetahuan mengenai sesuatu. Pengetahuan adalah sesuatu yang

tergambar di dalam pikiran kita. Misalnya, ia melihat manusia, kemudian

mengatakan itu adalah manusia. Ini berarti ia telah mempunyai pengetahuan

tentang manusia. Jika ia meneruskan bertanya lebih lanjut mengenai

pengetahuan tentang manusia, misalnya: dari mana asalnya, bagaimana

susunannya, ke mana tujuannya, dan sebagainya, akan diperoleh jawaban yang

lebih terperinci mengenai manusia tersebut. Jika titik beratnya ditekankan

kepada susunan tubuh manusia, jawabannya akan berupa ilmu tentang manusia

dilihat dari susunan tubuhnya atau antropologi fisik. Jika ditekankan pada hasil

karya manusia atau kebudayaannnya, jawabannya akan berupa ilmu manusia

dilihat dari kebudayaannya atau antropologi budaya. Jika ditekankan pada

hubungan antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya, jawabannya

akan berupa ilmu manusia dilihat dari hubungan sosialnya atau antropologi

sosial.

Dari contoh di atas nampak bahwa pengetahuan yang telah disusun atau

disistematisasi lebih lanjut dan telah dibuktikan serta diakui kebenarannya

adalah ilmu. Dalam hal di atas, ilmu tentang manusia. Selanjutnya, jika

seseorang masih bertanya terus mengenai apa manusia itu atau apa hakikat

manusia itu, maka jawabannya akan berupa suatu "filsafat". Dalam hal ini yang

dikemukakan bukan lagi susunan tubuhnya, kebudayaannya dan hubungannya

dengan sesama manusia, akan tetapi hakikat manusia yang ada di balik tubuh,

kebudayaan dan hubungan tadi. Alm. Anton Bakker (alm.), dosen Fakultas

Filsafat Universitas Gajah Mada menggunakan istilah "antropologi metafisik"

untuk memberi nama kepada macam filsafat ini. Jawaban yang dikemukan

bermacam-macam antara lain:

Apakah Filsafat Itu ? 22


Monisme, yang berpendapat manusia terdiri dari satu asas. Jenis asas ini juga

bermacam-macam, misalnya jiwa, materi, atom, dan sebagainya. Hal ini

menimbulkan aliran spiritualisme, materialisme, atomisme.

Dualisme, yang mengajarkan bahwa manusia terdiri atas dua asas yang

masing-masing tidak berhubungan satu sama lain, misalnya jiwa-raga.

Antara jiwa dan raga tidak terdapat hubungan.

Triadisme, yang mengajarkan bahwa manusia terdiri atas tiga asas, misalnya

badan, jiwa dan roh.

Pluralisme, yang mengajarkan bahwa manusia terdiri dari banyak asas,

misalnya api, udara, air dan tanah.

Di samping itu, ada beberapa pernyataan mengenai manusia yang dapat

digolongkan sebagai bernilai filsafati. Misalnya:

Aristoteles:

Manusia adalah animal rationale.

Karena, menurutnya, ada tahap perkembangan: Benda mati -> tumbuhan ->

binatang -> manusia

o Tumbuhan = benda mati + hidup ----> tumbuhan memiliki jiwa

hidup

o Binatang = benda mati + hidup + perasaan ----> binatang memiliki

jiwa perasaan

o Manusia = benda mati + hidup + akal ----> manusia memiliki jiwa

rasional

Manusia adalah zoon poolitikon, makhluk sosial.

Manusia adalah "makhluk hylemorfik", terdiri atas materi dan bentuk-bentuk.

Apakah Filsafat Itu ? 23


Ernest Cassirer: manusia adalah animal simbolikum Manusia ialah binatang yang

mengenal simbol, misalnya adat-istiadat, kepercayaan, bahasa. Inilah kelebihan

manusia jika dibandingkan dengan makhluk lainnya. Itulah sebabnya manusia

dapat mengembangkan dirinya jauh lebih hebat daripada binatang yang hanya

mengenal tanda dan bukan simbol.

Demikianlah disebutkan beberapa contoh mengenai bentuk jawaban

yang berupa filsafat. Dari contoh tersebut, filsafat adalah pendalaman lebih lanjut

dari ilmu (Hasil pengkajian filsafat selanjutnya menjadi dasar bagi eksistensi

ilmu). Di sinilah batas kemampuan akal manusia. Dengan akalnya ia tidak akan

dapat menjawab pertanyaan yang lebih dalam lagi mengenai manusia. Dengan

akalnya, manusia hanya mampu memberi jawaban dalam batas-batas tertentu.

Hal ini sesuai dengan pendapat Immanuel Kant dalam Kritiknya terhadap rasio

yang murni, yaitu manusia hanya dapat mengenal fenomena belaka, sedang

bagaimana nomena-nya ia tidak tahu. Sehubungan dengan hal tersebut, maka

yang dapat menjawab pertanyaan lebih lanjut mengenai manusia adalah agama;

misalnya, tentang pengalaman apa yang akan dijalani setelah seseorang

meninggal dunia. Jadi, sesungguhnya filsafat tidak hendak menyaingi agama.

Filsafat tidak hendak menambahkan suatu kepercayaan baru. Bertrand Russel

mencatat August Comte pernah mencobanya, namun ia gagal. "Dan ia patut

bernasib demikian," demikian menurut Russel.

Selanjutnya, filsafat dan ilmu juga dapat mempunyai hubungan yang baik

dengan agama. Filsafat dan ilmu dapat membantu menyampaikan lebih lanjut

ajaran agama kepada manusia. Filsafat membantu agama dalam mengartikan

(menginterpretasikan) teks-teks sucinya. Filsafat membantu dalam memastikan

arti objektif tulisan wahyu. Filsafat menyediakan metode-metode pemikiran

Apakah Filsafat Itu ? 24


untuk teologi. Filsafat membantu agama dalam menghadapi masalah-masalah

baru. Misalnya, mengusahakan mendapat anak dengan in vitro fertilization ("bayi

tabung") dapat dibenarkan bagi orang Islam atau tidak? Padahal Kitab Suci diam

seribu bahasa tentang bayi tabung. Filsafatlah, dalam hal ini etika, yang dapat

merumuskan permasalahan etis sedemikian rupa sehingga agama dapat

menjawabnya berdasarkan prinsip-prinsip moralitasnya sendiri.

Sebaliknya, agama dapat membantu memberi jawaban terhadap problem

yang tidak dapat dijangkau dan dijawab oleh ilmu dan filsafat. Meskipun

demikian, tidak juga berarti bahwa agama adalah di luar rasio, agama adalah tidak

rasional. Agama bahkan mendorong agar manusia memiliki sikap hidup yang

rasional: bagaimana manusia menjadi manusia yang dinamis, yang senantiasa

bergerak, yang tak cepat puas dengan perolehan yang sudah ada di tangannya,

untuk lebih mengerti kebenaran, untuk lebih mencintai kebaikan, dan lebih

berusaha agar cinta Allah kepadanya dapat menjadi dasar cintanya kepada

sesama sehingga bersama-sama manusia yang lain mampu membangun dunia

ini.

Dengan cara menyadari keadaan serta kedudukan masing-masing, maka

antara ilmu dan filsafat serta agama dapat terjalin hubungan yang harmonis dan

saling mendukung. Karena, semakin jelas pula bahwa seringkali pertanyaan,

fakta atau realita yang dihadapi seseorang adalah hal yang sama, namun dapat

dijawab secara berbeda sesuai dengan proporsi yang dimiliki masing-masing

bidang kajian, baik itu ilmu, filsafat maupun agama. Ketiganya dapat saling

menunjang dalam menyelesaikan persoalan yang timbul dalam kehidupan.

Demikianlah pemahaman yang kita miliki sekarang mengenai terminologi

"filsafat" dan kedudukannya di antara ilmu dan agama.

Apakah Filsafat Itu ? 25