Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN HALUSINASI

A. Pengertian
Halusinasi adalah keadaan dimana seseorang merasa melihat,
mendengar, meraba, mencium dan mengecap sesuatu yang sebenarnya
tidak ada (Canadian Mental Health Association, 2013). Halusinasi menurut
Departemen Kesehatan Indonesia tahun 2000 adalah gerakan penyerapan
(persepsi) panca indera tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat
meliputi semua sistem panca indera terjadi pada saat kesadaran individu
penuh atau baik (Dermawan dan Rusdi, 2013).
Halusinasi bisa aterjadi karena berbagai sebab. Halusinasi visual
terjadi karena adanya lesi di bagian cortek yang juga mengenai area
oksipital dan temporoparietal di otak. Halusinasi dengar biasanya
berhubungan dengan lesi pada lobus temporal dan lesi di bagian Uncinate
gyrus (Chaudhury, 2010.)

B. Tanda Dan Gejala


Halusinasi yang sering terjadi berupa halusinasi dengar dan biasanya
terdengar suara-suara yang menyuruh seseorang mengerjakan sesuatu
(diketahui sebagai perintah halusinasi).
Tanda dan gejala orang yang mengalami halusinasi dengar antara lain
(Canadian Mental Health Association, 2013):
1. Orang tersebut terlihat asik sendiri dan tidak menyadari lingkungan
sekitarnya,
2. berbicara dengan dirinya sendiri,
3. kesulitan dalan memahami
4. mengikuti percakapan dan mengalami kesalahan interpretasi kata-
kata dan tindakan dari orang lain.
5. orang yang mengalami halusinasi bisa juga mengisolasi diri atau
mendengarkan radio atau suara-suara lainya untuk menghilangkan
suara yang didengarnya.

Tanda dan gejala orang yang mengalami halusinasi jenis lain antara
1. terlihat seperti berinteraksi dengan helusinasinya
2. fokus pada sesuatu yang tidak dapat dilihat,
3. menyentuh, mengoreskan atau menyikat sesuatu pada dirinya
sendiri,
4. mencium bau atau memegangi hidung

Laporan Pendahuluan Halusinasi 1


5. meludah makanan tanpa alasan.

C. Etiologi
1. Faktor predisposisi(Stuart, 2007)
a. Biologis
Terdapat abnormalitas perkembangan saraf respon
neurobiologis dapat menjadi salah satu etiologic terjadinya
halusinasi. Pada pencitraan otak pada penderita skizofrenia
terdapat pelebaran lateral ventrikel, atropi korteks bagian depan
dan atropi cerebellum, serta terdapat beberapa zat kimia yang
ditemukan seperti dopamine neurotransmitter yang diproduksi
secara berlebihan.
b. Psikologis
Keluarga, teman, lingkungan yang berada disekitar klien
dapat mempengaruhi kondisi psikologis klien. Kekerasan dan
penolakan yang klien terima di masa lalu dapat mempengaruhi
gangguan orientasi.
c. Sosial budaya
Keadaan sosial budaa dapat mempengaruhi gangguan
orientasi klien, seperti konflik sosial budaya, kemiskinan.

2. Factor presipitasi
Menurut Kelliat (2006), secara umum halusinasi muncul setelah
terjadinya hubungan bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak
berguna, putus asa dan tidak berdaya. Tingkat halusinasi akan
meningkat untuk kambuh bergantung pada penilaian klien terhadap
stressor dan cara koping klien.
a. Biologis
Gangguan dalam komunikasi dan pusat pengaturan
informasi pada otak mengakibatkan otak salah dalam
mengintrepetasikan stimulus yang diterima.
b. Stress lingkungan
Klien melebihi ambang toleranis stress yang dimiliki
sehingga muncul gangguan perilaku
c. Sumber koping
Sumber koping yang maladaptive dapat mempengaruhi
respon klien terhadap suatu stressor yang muncul.

Laporan Pendahuluan Halusinasi 2


D. RENTANG RESPON HALUSINASI

Adaptif Maladaptif

Psikologis logis Kadang pikiran Ganggunagn proses


Persepsi akurat terganggu pikir
Emosi konsisten Ilusi Halusinasi
Dengan pengalaman Emosi berlebihan Tidak mampu
Perilaku sesuai atau kurang mengalami
Hubungan positif Perilaku yang tidak Emosi
biasa Perilaku tidak
Menarik diri terorganisir
Isolasi sosial

Hal

Halusinasi adalah salah satu dari respon maladaptif yang berada


ppada rentag neurobiologis. Respon halusinasi adalah respon persepsi
paling maladaptif.individu yang memiliki persepsi yang sehat akan
mampu mengidentifikasi dan menginterpretasikan stimulus berdasarkan
informasi yang diterima dari panca indera. Pasien dengam halusinasi akan
mempersepsikan suatu stimulus panca indera walaupun stimulus tersebut
tidak ada (Purba dkk, 2008).

E. Jenis Halusinasi
Stuart mengatakan bahwa jenis halusinasi terdiri dari 5 yaitu (Stuart dan
Laraia, 2007)
1. Halusinasi pendengaran

Laporan Pendahuluan Halusinasi 3


Pada halusinasi pendengaran klien akan mendengar suara atau
bunyi yang tidak nyata. Suara ini akan terdengar dari suara sederhana
sampai suara orang. Klien akan berbicara sendiri dan kadang klien
mendengar perkataan bahwa klien harus melakukan sesuatu yang
membahayakan.
2. Halusinasi penglihatan
Halusinasi penglihatan adalah stimulus visual dalam bentuk kilatan
cahaya, gambar geometri, gambar kartun, bayangan rumit atau
bayangan yang menyenangkan atau menakutkan. Contoh pada
halusinasi penglihatan adalah melihat monster.
3. Halusinasi penciuman
Karakteristik dari halusinasi penciuman adalah klien merasa
mencium sesuatu seperti bau darah, urine, feses padahal bau tersebut
tidak nyata.
4. Halusinasi pengecapan
Pada halusinasi ini klien akan merasa seperti mengecap sesuatu
yang tidak nyata seperti darah atau urine.
5. Halusinasi perabaan
Klien akan mengalami nyeri atau ketidaknyamanan tanpa adanya
stimulus yang jelas.

F. Tahap Halusinasi (Purba dkk, 2008)

Tahap Karakteristik Perilaku pasien


Tahap I a. Mengalami ansietas, a. Tersenyum dan
Memberi rasa kesepian, rasa bersalah tertawa sendiri
nyaman dan ketakutan b. Menggerakan bibir
Tingkat ansietas b. Mencoba berfokus pada tanpa suara
sedang pikiran yang dapat c. Pergerakan mata
Halusinasi menghilangkan ansietas yang cepat
merupakan suatu c. Pikiran dan pengalaman d. Respon verbal
kesenangan sensori masih dalam lambat
kontrol kesadaran e. Diam dan
berkonsentrasi
Tahap II a. Pengalaman sensori a. Peningkatan tanda-
Menyalahkan menakutkan tanda ansietas,
Tingkat ansietas b. Mulai merasa peningkatan TTV
berat kehilangan kontrol b. Rentang perhatian
Halusinasi c. Merasa dilecehkan oleh menyempit
menyebabkan pengalaman sensori c. Konsentrasi dengan
antipati d. Menarik diri dari orang pengalaman sensori
lain d. Kehilangan
e. Non psikotik membedakan
antara halusinasi

Laporan Pendahuluan Halusinasi 4


dan realita
Tahap III a. Klien menyerah dan a. Perintah halusinasi
Mengontrol menerima pengalaman ditaati
tingkat kecemasan sensori b. Sulit berhubungan
berat b. Isi halusinasi menjadi denganorang lain
Pengalaman atraktif c. Rentang perhatian
sensori tidak dapat c. Kesepian bila sensori hanya beberapa
ditolak lagi berakhir detik/ menit
d. Psikotik d. Gejala sisa ansietas
berat, berkeringat,
tremor, tidak
mampu mengikuti
perintah
Tahap IV a. Pengalaman sensori a. Perilaku panik
Menguasai tingkat menjadi ancaman b. Pontensi tinggi
kecemasan panik b. Halusinasi dapat untuk bunuh diri
Klien dipengaruhi berlangsung selama atau membunuh
oleh waham beberapa jam atau hari c. Tindakan
c. Psikotik kekerasan, agitasi,
menarik diri atau
ketakutan
d. Tidak mampu
merespon terhadap
perintah yang
kompleks
e. Tidak mampu
berespon terhadap
lebih dari satu
orang
G. Masalah Keperawatan
Adapun masalah keperawatan yang muncul pada klien dengan
gangguan halusinasi antara lain (Keliat, 2006) :
1. Isolasi sosial berhubungan dengan menarik diri
2. Risiko mencedari diri sendiri berhubungan dengan diri sendiri, orang
lain maupun lingkungan
3. Kerusakan komunikasi verbal
4. Gangguan konsep diri berhubungan denggan harga diri rendah

H. INTERVENSI KEPERAWATAN
Intervensi Keperawatan ( Dermawan & Rusdi, 2013)
Perencanaan keperawatan terdiri dari tiga aspek, yaitu tujuan umum,
tujuan khusus, dan rencana tindakan tindakan keperawatan. Tujan umum
berfokus pada penyelesaian permasalahan (P) dari diagnoses tertentu.
Tujuan umum dapat dicapai jika serangkaian tujuan khusus telah tercapai.
1. Risiko Perilaku Mencederai Diri (Keliat, 2002)
a. Tujuan Umum: Klien tidak mencederai diri, orang lain dan
lingkungan.

Laporan Pendahuluan Halusinasi 5


b. Tujuan Khusus: Membina hubungan saling percaya
c. Tindakan:
1) Salam terapeutik - perkenalkan diri - jelaskan tujuan ciptakan
lingkungan yang tenang - buat kontrak yang jelas (waktu,
tempat, topik)
2) Beri kesempatan mengungkapkan perasaan
3) Empati
4) Ajak membicarakan hal - hal nyata yang ada di lingkungan
5) Strategi pelaksanaan (Sp 1p)
a) Mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan
b) Mengidentififikasi tanda dan gejala kekerasan
c) Mengidentifikasi perilaku kekerasan yang dilakukan
d) Mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan
e) Mengajarkan cara mengontrol perilaku kekerasan
f) Melatih pasien cara konttol perilaku kekerasan fisik 1
(nafas dalam)
g) Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan
harian
6) Strategi pelaksanaan (Sp 2p)
a) Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya
b) Melatih pasien cara control perilaku kekerasan fisik II
(memukul bantal / kasur atau konversi energi)
c) Membimbing pasien memasukkan kedalam jadwal kegiatan
harian
7) Startegi pelaksanaan (Sp 3p)
a) Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya
b) Melatih pasien cara control perilaku kekerasan secara
verbal(meminta,menolak,dan mengungkapkan marah
secara baik)
c) Membimbing pasien memasukkan kedalam jadwal
kegiatan harian
8) Strategi pelaksanaan (Sp 4p)
a) Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya
b) Melatih pasien cara control perilaku kekerasan secara
spiritual(berdoa,berwudu,solat)
c) Membimbing pasien memasukkan kedalam jadwal kegiatan
harian
9) Strategi pelaksanaan (Sp 5p)
a) Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya
b) Menjelaskan cara control perilaku kekerasan dengan
meminum obat(prinsip lima benar minum obat)

Laporan Pendahuluan Halusinasi 6


c) Membimbing pasien memasukkan kedalam jadwal kegiatan
harian

2. Gangguan persepsi sensori : halusinasi


a. Tujuan Umum : Klien dapat berinteraksi dengan orang lain
sehingga tidak terjadi halusinasi
b. Tujuan khusus :
1) Klien dapat Bina Hubungan Saling Percaya
Intevensi:
a) Salam terapeutik - perkenalkan diri - jelaskan tujuan
ciptakan lingkungan yang tenang - buat kontrak yang jelas
(waktu, tempat, topic)
b) Beri kesempatan mengungkapkan perasaan
c) Empati
d) Ajak membicarakan hal - hal nyata yang ada di lingkungan
2) Klien dapat mengenal halusinasinya
Tindakan :
a) Kontak sering dan singkat
b) Observasi tingkah laku yang terkait dengan halusinasi
(verbal dan non verbal)
c) Bantu mengenal halusinasinya dengan menanyakan apakah
ada suara yang didengar - apa yang dikatakan oleh suara itu
Katakan bahwa perawat percaya klien mendengar suara itu,
tetapi perawat tidak mendengamya. Katakan bahwa perawat
akan membantu.
d) Diskusi tentang situasi yang menimbulkan halusinasi,
waktu, frekuensi terjadinya halusinasi serta apa yang
dirasakan jika terjadi halusinasi.
3) Dorong untuk mengungkapkan perasaannya
Tindakan:
a) Identifikasi bersama tentang cara tindakan jika teriadi
halusinasi
b) Diskusikan manfaat cara yang digunakan klien dan cara
baru untuk mengontrol halusinasinya
c) Bantu memilih dan melatih cara memutus halusinasi: bicara
dengan orang lain bila muncul halusinasi, melakukan
kegiatan, mengatakan pada suara tersebut " saya tidak mau
dengar!"
d) Tanyakan hasil upaya yang telah dipilih / dilakukan

Laporan Pendahuluan Halusinasi 7


e) Beri kesempatan melakukan cara yang telah dipilih dan
beri pujian jika berhasil
4) Klien dapat dukungan dari keluarga
Tindakan:
a) Beri pendidikan kesehatan pada pertemuan keluarga
tentang gejala, cara memutus halusinasi, cara merawat,
informasi waktu follow up atau kapan perlu mendapat
bantuan
b) Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga

5) Klien dapat menggunakan obat dengan benar


Tindakan:
a) Diskusikan tentang dosis, nama, frekuensi, efek dan efek
samping minum obat
b) Bantu menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (nama,
pasien, obat, dosis, cara dan waktu)
c) Anjurkan membicarakan efek dan efek samping obat
yangdirasakan
d) Beri reinforcement positif bila klien mintun obat yang
benar

3. Kerusakan interaksi sosial : Menarik diri.


a. Tujuan Umum : Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara
optimal.
b. Tujuan khusus :
1) Klien dapat membina hubungan saling percaya
Intervensi :
a) Sapa klien dengan ramah baik vebal maupun non verbal.
b) Perkenalkan diri dengan sopan
c) Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan
d) Jelaskan tujuan pertemuan
e) Jujur dan menepati janji
f) Tunjukkan sikap empati, menerima klien apa adanya.
g) Beri perhatian pada klien dan perhatian dasar klien.
2) Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri
Kriteria Evaluasi: klien dapat menyebutkan menarik diri yang
berasal dari diri sendiri,orang lain dan lingkungan
Intervensi:
a) Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri.
b) Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan
perasaan menarik diri.

Laporan Pendahuluan Halusinasi 8


c) Diskusikan bersama klien tentang perlau menarik diri,
tanda-tanda serta penyebab yang muncul.
d) Beri pujian terhadap kemampuan klien dalam
mengungkapka perasaannya.
3) Klien dapat menyebutkan manfaat berhubungan dengan orang
lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.
Kriteria Evaluasi: klien dapat menyebutkan keuntungan
berhubungan dengan orang lain.
Intervensi :
a) Kaji pengetahuan klien tentang manfaat berhubungan
dengan orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan
orang lain.
b) Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan
perasaan tentang manfaat berhubungan dengan orang lain.
c) Diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubunga
dengan orang lain
d) Beri reinforcement positif tentang kemampuan
mengungkapkan perasaan tentang manfaat berhubunga
dengan orang lain.
e) Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan
perasaan tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang
lain.
f) Diskusikan bersama klien tentang kerugian tidak
berhubungan dengan orang lain
g) Beri reinforcement positif tentang kemampuan
mengungkapkan perasaan tentang kerugian tidak
berhubungan dengan orang lain.
4) Klien melaksanakan hubungan secara bertahap.
Kriteria Evaluasi: klien dapat mendemotrasikan hubungan
sosial secara bertahap antara klien perawat; klien-perawat-
perawat lain; klien-perawat-perawat lain-klien lain; klien-
perawat-keluarga/ kelompok masyarakat.
Intervensi :
a) Kaji pengetahuan klien tentang manfaat berhubungan
dengan orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan
orang lain.
b) Mendorong dan membantu klien untuk berhubungan
dengan orang lain melalui tahap:

Laporan Pendahuluan Halusinasi 9


1) Klien perawat
2) Klien perawat perawat lain
3) Klien perawat perawat lain klien lain
4) Klien perawat keluarga / kelompok masyarakat
c) Memberi reinforcement terhadap keberhasilan yang sudah
dicapai.
d) Membantu klien untuk mengevaluasi manfaat berhubungan
dengan orang lain.
e) Mendiskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan
bersama klien dalam mengisi waktu.
f) Memotivasi klien untuk mengikuti kegiatan harian
g) Beri reinforcement positif tentang kemampuan
mengungkapkan perasaan tentang keuntungan berhubungan
dengan orang lain.
5) Klien dapat mengungkapkan perasaan setelah berhubungan
dengan orang lain
Kriteria Evaluasi : klien dapat mengungkapkan perasaan
berhubungan dengan orang lain untuk diri sendiri.
Intervensi :
a) Mendorong klien untuk mengungkapkan perasaanya setelah
berhubungan dengan orang lain.
b) Mendiskusikan bersama klien tentang perasaanya manfaat
berhubungan dengan orang lain.
c) Beri reinforcement positif tentang kemampuan
mengungkapkan perasaan tentang keuntungan berhubungan
dengan orang lain.
6) Klien dapat berdayakan sistem pendukung atau keluarga
Kriteria Evaluasi : keluarga dapat menjelaskan
perasaannya,menjelaskan cara merawat klien menarik diri dan
berpartisipasi dalam perawatan klien menarik diri.
Intervensi :
a) Bina hubungan saling percaya
1) Salam dan perkenalkan diri
2) Sampaikan tujuan
3) Eksplorasi perasaan keluarga
b) Diskusikan dengan anggota keluarga yang lain tentang
1) Perilaku menarik diri
2) Penyebab perilaku menarik diri
3) Akibat perilaku menarik diri jika perilaku menarik diri
tidak di tanggapi

Laporan Pendahuluan Halusinasi 10


c) Mendorong anggota keluarga untuk memberi dukungan
kepada klien untuk berkomunikasi dengan orang lain.
d) Anjurkan kepada keluarga secara rutin dan bergantian
untuk menjenguk klien minimal 1x seminggu.Memberi
reinforcement atas hal-hal yang telah dicapai keluarga.

STRATEGI PELAKSANAAN (Wijayanti, 2011)


1. Tujuan tindakan untuk pasien meliputi :
a. Pasien mengenali halusinasi yang lainnya
b. Pasien dapat mengontrol halusinasinya
c. Pasien mengikuti program pengobatan secara optimal
2. Tindakan keperawatan
a. Membantu pasien mengenali halusinasi
Pada saat membantu pasien dalam mengenali halusinasi dapat
dilakukan dengan cara berdiskusi dengan pasien tentang isi
halusinasi (apa yang didengar / dilihat), waktu terjadinya
halusinasi, frekuensi terjadinya halusinasi, keadaan yang
menyebabkan halusinasi serta respon yang dilakukan pada saat
halusinasi muncul.
b. Melatih pasien mengontrol halusinasi
Agar pasien dapat mengontrol halusinasi ada empat cara yang bisa
dilakukan untuk mengendalikan halusinasi. Keempat cara tersbut
meliputi :
1) Menghardik halusinasi
Menghardik halusinasi adalah upaya mengendalikan diri
terhadap halusinasi dengan cara menolak halusinasi yang
muncul. Pasien dilatih untuk mengatakan tidak atau tidak
memperdulikan halusinasi yang muncul. Ketika hal tersebut
dapat dilakukan maka pasien akan mampu mengendalikan diri
dan tidakmengikuti halusinasi yang muncul. Mungkin
halusinasi tetap ada namun dengan kemampuan ini pasien tidak
akan larut untuk menuruti apa yang ada dalam halusinasinya.
Tahapan tindakan meliputi :
a) Menjelaskan cara menghardik halusinasi
b) Mempeeragakan cara menghardik
c) Meminta pasien memperagakan ulang
d) Memantau penerapan cara ini, menguatkan perilaku pasien
2) Bercakap-cakap dengan orang lain

Laporan Pendahuluan Halusinasi 11


Untuk mengontrol halusinasi dapat juga dengan bercakap-
cakap dengan orang lain. Ketika pasien berckap-cakap dengan
orang lain maka terjadi distrasi, focus perhatian pasien akan
beralih ke halusinasi ke percakapan yang dilakukan dengan
orang lain tersebut. Dengan demikian salah satu cara yang
efektif dalam mengontrol halusinasi adalah dengan bercakap-
cakap dengan orang lain.
3) Melakukan aktivitas yang terjadwal
Untuk mengurangi risiko halusinasi muncul adalah dengan
menyibukkan diri dengan melakukan aktivitas yang teratur.
Dengan melakukan aktivitas yang teratur dan terajadwal,
pasien tidak akan memiliki banyak waktu luang sendiri
sehingga dapat mencetuskan terjadinya halusinasi. Untuk itu
pasien yang mengalami halusinasi bisa dibantu dengan untuk
mengatasi halusianais dengan melakukan aktivitas harian
secara teratur dari bangun pagi sampai tidur malam setiap
harinya.
Tahapan intevesinyanya sebagai berikut :
a) Menjelaskan pentingnya aktivitas yang teratur untuk
mengatasi halusinasi
b) Mendiskusikan aktivitas yang biasa dilakukan oleh pasien
c) Melatih pasien melakukan aktivitas
d) Menyusun jadwal aktivitas sehari-hari sesuai dengan
aktivitas yang telah dilatih. Upayakan pasien mempunyai
aktivitas dari bangun pagi sampai tidur malam setiap
harinya.
e) Memantau pelaksanaan jadwal kegiatan, memberikan
penguatan terhadap perilaku yang positif

4) Menggunakan obat secara teratur


Pasien juga harus dilatih untuk menggunakan obat secara
teratur sesuai dengan program. Pasien dengan gangguan
halusinasi yang dirawat di rumah sakit jiwa seringkali
mengalami putus obat sehingga akibatnya pasien akan

Laporan Pendahuluan Halusinasi 12


mengalami kekambuhan. Bila kekambuhan terjadi makan
untuk mencapai kondisi yang seperti semula akan lebih sulit.
Untuk itu pasien perlu dilatih menggunakan obat sesuai
program dan berkelanjutan. Berikut ini tindakan keperawatan
agar pasien patuh menggunakan obat antara lain :
a) Jelaskan fungsi obat
b) Jelaskan akibat bila putus obat
c) Jelaskan cara mendapatkan obat atau berobat
d) Jelaskan cara menggunakan obat dengan prinsip 5 benar
( benar obat, benar pasien, benar caraa, benar waktu dan
benar dosis )

Tindakan Keperawatan Pada Keluarga


1. SP I KELUARGA
Tindakan :
a. Diskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat
pasien
b. Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala, halusinasi, dan jenis
halusinasi yang dialami pasien beserta proses terjadinya
c. Menjelaskan cara-cara merawat pasien halusinasi
2. SP II KELUARGA
a. Latih keluarga mempraktikan cara merawat pasien dengan
halusinasi
b. Latih keluaraga melakukan cara merawat langsung kepada pasien
halusinasi
3. SP III KELUARGA
a. Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas di rumah termasuk
minum obat (discharge planning)
b. Menjelaskan follow up pasien setelah pulang

I. PENATALAKSANAAN
1. PENATALAKSANAAN FARMAKOLOGIS (Purba dkk, 2008)
a. Psikofama
Obat obatan yang lazim digunakan pada pasien halusinasi
adalah :

Kelas Kimia Nama Generik Dosis Harian


Fenotiazin Asetofenazin (Tidal) 60 120 mg
Klorpromazin (Thorazine) 30 800 mg
Flufenazin (Prolixine, Permiti) 1 40 mg
Mesoridazin (Serentil) 30 400 mg
Perfenazin (Trilafon) 12 64 mg

Laporan Pendahuluan Halusinasi 13


Proklorperazin (Compazine) 15 150 mg
Promazin (Sparine) 40 1200 mg
Tiodazin (Mellaril) 150 800 mg
Trifluoperazin (Stelazine) 2 40 mg
Trifluopromazine (Vesprin) 60 150 mg
Kloprotiksen (Tarctan) 75 600 mg
Tioksanten
Tiotiksen (Navane) 8 30 mg
Butirofenon Haloperidol (Haldol) 1 100 mg
Dibenzondiazepine Klozapin (Clorazil) 300 900 mg
Dibenzokasazepin Loksapin (Loxitane) 20 150 mg
Dihidroindolon Molindone (Moban) 15 225 mg

b. Psikoterapi
Terapi kejang listrik atau Elektro Convulsif Therapy (ECT)
merupakan suatu terapi dalam ilmu psikiatri yang dilakukan
dengan cara mengalirkan listrik melalui suatu elekktroda yang
ditempelkan di kepala penderita sehingga menimbulkan serangan
kejang umum. Tujuan dari terapi tersebut adalah untuk
mengembalikan fungsi mental klien dan meningkatkan ADLS
pasien secara periodic.

2. Penatalaksanaan Nonfarmakologis (Stuart & Sundeen, 2007)


a. Menciptakan Lingkungan Yang Terapeutik.
Menciptakan lingkungan yang terapeutik diperlukan untuk
mengurangi tingkat kecemasan, kepanikan dan ketakutan pasien
akibat halusinasi, sebaiknya pada permulaan pendekatan di lakukan
secara individual dan usahakan agar terjadi kontak mata, kalau bisa
pasien di sentuh atau di pegang.
b. Melaksanakan Program Terapi Dokter.
Sering kali pasien menolak obat yang di berikan
sehubungan dengan rangsangan halusinasi yang di terimanya.
Perawat harus mengamati agar obat yang di berikan benar - benar
diminum, serta lihat reaksi yang ditimbulkan setelah minum obat.
c. Menggali Permasalahan Pasien Dan Membantu Mengatasi Masalah
Setelah pasien lebih kooperatif dan komunikatif, perawat
dapat menggali masalah pasien yang merupakan penyebab
timbulnya halusinasi serta membantu mengatasi masalah yang ada.
d. Memberi Aktivitas Pada Pasien.
Pasien harus diajak mengaktifkan diri untuk melakukan
gerakan fisik, misalnya berolah raga, bermain atau melakukan

Laporan Pendahuluan Halusinasi 14


kegiatan seperti terapi aktivitas kelompok (TAK). Kegiatan ini
dapat membantu mengarahkan pasien ke kehidupan nyata dan
memupuk hubungan dengan orang lain. Pasien di ajak menyusun
jadwal kegiatan dan memilih kegiatan yang sesuai.
e. Melibatkan Keluarga Dan Petugas Lain Dalam Proses Perawatan.
Keluarga pasien dan petugas lain sebaiknya di beritahu
tentang data pasien agar ada kesatuan pendapat dan
kesinambungan dalam proses keperawatan, misalnya dari
percakapan dengan pasien diketahui bila sedang sendirian ia sering
mendengar laki-laki yang mengejek. Tapi bila ada orang lain di
dekatnya suara-suara itu tidak terdengar jelas. Perawat
menyarankan agar pasien jangan menyendiri dan menyibukkan diri
dalam permainan atau aktivitas yang ada. Percakapan ini
hendaknya di beritahukan pada keluarga pasien dan petugas lain
agar tidak membiarkan pasien sendirian dan saran yang di berikan
tidak bertentangan.

Laporan Pendahuluan Halusinasi 15


DAFTAR PUSTAKA

Canadian Mental Health Association. 2013. Hallucinations and Delusions: How


to Respond. [PDF]. Canada. diunduh dari
http://www.cmha.bc.ca/files/6-hallucinations_delusions.pdf.

Chaudhury, Suprakash. 2010. Hallucination s: Clinical aspects and Management.


India: Department of Psychiatry. Diunduh dari Canadian Mental Health
Association pada 2 maret 2016.

Dermawan, Deden & Rusdi. 2013. Keperawatan Jiwa; Konsep dan Kerangka
Kerja Asuhan Keperawatan Jiwa. Jogjakarta: Gosyen Publishing.

Keliat, B.A. 2006. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa Edisi 2. Jakarta: EGC
Kedokteran.

Purba, J. M., Wahyuni, S. E., Nasution, M. L., Daulay, W. (2008). Asuhan


Keperawatan Pada Klien Dengan Masalah Psikososial dan Gangguan
Jiwa. Medan : Usu Press.

Stuart dan Laraia. 2007. Principle and Practice Of Psychiatric Nursing Edisi 6.
St.Louis: Mosby Year Book.

Stuart & Sundeen. 2007. Principles & Practice Of Psychiatricnursing. St. Louis :
Mosby Year Book.

Stuart, dkk. 2007. Buku Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.

Wijayanti, Diyan Yuli. 2011. Keperawatan Kesehatan Jiwa. Semarang: PSIK FK


Undip.

Laporan Pendahuluan Halusinasi 16