Anda di halaman 1dari 3

Pasar nyaris tidak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari.

Barang-barang kebutuhan mulai dari


pangan hingga sandang kita dapatkan dari pasar. Bahkan beberapa dari kita bermata
pencaharian di pasar. Dalam kegiatan sehari-hari pasar diartikan sebagai tempat bertemunya
penjual dan pembeli. Namun, dalam bidang ekonomi pasar tidak mengacu pada tempat akan
tetapi lebih kepada kegiatan jual beli itu sendiri. Pasar sebenarnya tidak hanya sekedar tempat
penjual dan pembeli menukar barang dengan uang, karena pasar dalam perekonomian
sebenarnya sangat pentingperannya dalam berbagai aspek karena banyak pihak
menggantungkan kelangsungan hidup mereka dengan kegiatan di pasar. Dimana fungsi pasar
sendiri sangat kompleks, diantaranya pasar berfungsi menetapkan nilai- harga suatu barang
dan jasa yang ada di pasar dimana merupakan hasil dari kesepakatan antara penjual dan
pembeli, menorganisir produksi, mengadakan penjatahan, penyediaan barang/jasa untuk
mendatang dll. Dengan kata lain, jantung dari perekonomian ada pada kegiatan pasar.

Klasifikasi pasar terdiri dari pasar tradisional dan pasar modern. Pasar tradisional
merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi
penjual dan pembeli secara langsung dan biasanya ada proses tawar-menawar, bangunan
biasanya terdiri dari kios-kios atau gerai, los, dan dasaran terbuka yang dibuka oleh penjual
maupun suatu pengelola pasar. Sedangkan untuk pasar modern sebenarnya tidak banyak
berbeda dari pasar tradisional, namun pasar jenis ini penjual dan pembeli tidak bertransaksi
secara langsung melainkan pembeli melihat label harga yang tercantum dalam barang
(barcode), berada dalam bangunan dan pelayanannya dilakukan secara mandiri (swalayan)
atau dilayani oleh pramuniaga.

Pada awalnya keberadaan toko modern hanya berada di perkotaan, sebab masyarakat
kota identik dengan masyarakat yang bergulat dengan kesibukan, sehingga munculnya toko
modern sangatlah membantu mereka untuk mendapatkan barang dengan mudah dan cepat.
Masalah mulai muncul, ketika pasar modern mulai bergerak bebas tidak lagi terfokus di kota-
kota besar, namun sudah menerobos sampai ke pelosok-pelosok. Ditambah lagi dengan
minimnya peraturan terkait pengendalian toko modern yang jelas dan tegas dari pemangku
kebijakan. Hal tersebut dikhawatirkan akan menyebabkan semakin tersudutnya keberadaan
usaha ekonomi kecil, termasuk pasar tradisional dan toko kelontong.

Kemunculan mall dan ritel modern yang semakin pesat berbanding terbalik dengan
tingkat pertumbuhan pasar tradisional. Sekitar delapan persen dari total 13 ribu pasar
tradisional di Indonesia terpaksa tutup. Tanpa adanya kemauan dan keberpihakan dalam
upaya memberdayakan pasar tradisional, maka diprediksikan selama delapan tahun ke depan
seluruh pasar tradisional di Indonesia hanya tinggal hitungan jari.

Di satu sisi, makin meluasnya pendirian pasar modern di Indonesia menunjukan


pertumbuhan ekonomi serta iklim usaha yang baik, namun disisi lain perkembangan pasar
modern menjadikan pasar tradisional menjadi korban dari adanya kompetisi sengit antara
sesama pasar modern, baik lokal maupun asing. Pasar tradisional dikhawatirkan akan
kehilangan pelanggan akibat praktik usaha yang dilakukan oleh supermarket.

Sudah bukan rahasia lagi tentunya bahwa ritel-ritel modern yang sedang masif
mendirikan benih-benih ladang profitnya, baik dari bentuk ritel modern yang maha besar
hingga yang bersifat minimarket/ waralaba yang berdiri gagah di jantung kota hingga
pelosok-pelosok desa itu didukung oleh pemerintah, baik pusat maupun daerah. Pemerintah
melihat fenomena berdiri gagahnya ritel-ritel modern di kawasan strategis adalah sebuah
prestasi mereka, yang tak lain adalah keberhasilan mereka mendatangkan modal ke
daerahnya dengan dalih pembangunan daerah. Padahal di sisi lain, munculnya ritel-ritel
modern itu baik secara langsung maupun tidak langsung telah menindas pelaku usaha kecil
masyarakat. Fenomena semacam ini adalah dilema yang serius. Pemerintah yang seharusnya
memiliki fungsi regulasi, mengatur ritel-ritel modern untuk tidak sembarangan berdiri gagah
dalam rangka perlindungan usaha kecil masyarakat, di sini terlihat lemah dan cenderung
seperti terhegemoni dan tergiur dengan suntikan dana yang tidak sedikit itu. Karena jelas,
potensi dana yang akan didapat pemerintah melalui izin usaha, pajak bumi dan bangunan, dan
pajak izin-izin yang lain itu jumlahnya tidak sedikit.
Kita ambil satu contoh di Jogja misalnya, Harian Jogja menyebutkan keberadaan toko
kelontong tidak hanya terancam oleh minimarket atau toko modern, melainkan juga
supermarket yang bermunculan di Jogja. Menurut Kabid Perdagangan Dinas Perindustrian
Perdagangan Koperasi dan Pertanian (Disperindagkoptan) Jogja Sri Harnani belum ada
aturan khusus dalam bentuk peraturah daerah yang mengatur tentang pendirian supermarket.
Sri Haryani mengakui bahwa aturan mengenai jarak, jumlah ideal, dan sebagainya
memang belum ada, selama memenuhi persyaratan perizinan dan mendapat rekomendasi
kajian ekonomi dan sosial dari Bidang Perdagangan maka supermarket dapat berdiri.
Hal ini jelas mengancam punahnya toko kelontong karena sampai saat ini tidak ada
aturan yang mengatur tentang pembatasan toko modern non jejaring di Jogja, aturan yang
dimiliki baru sebatas peraturan walikota mengenai pembatasan toko modern berjejaring.
Padahal, seiring dengan pembatasan toko modern justru bermunculan toko modern
non jejaring di Jogja. Fakta menyebutkan, dikarenakan aturan mengenai toko berjejaring
sudah ada, toko berjejaring yang baru-baru ini didirikanpun sulit untuk mendapat izin secara
menyeluruh. Namun tentunya, para pebisnis tidak kurang akal. Mereka hanya perlu
mengganti nama toko agar mendapat izin sepenuhnya dari Pemerintah. Padahal toko ini maih
satu nama dalam hal kepemilikan. Hanya berbeda pada pemberian nama saja.
Contoh kasus lain mengenai minimarket Alfamart di Kabupaten Sleman terkait
dengan penertiban toko jejaring modern. Tiga toko modern milik Alfamart yang sempet
disegel kembali beroperasi. Bahkan ketika kembali disegel, ketiga toko ini tetap beroperasi.
Bupati Slemanpun menuturkan adanya sanki berat. Hanya saja, untuk kejelasan bentuk sanksi
belum bisa dipastikan.
Penanganan kasus yang serupa sangat berbanding terbalik ketika adanya penertiban
pedagang kaki lima. Satpol PP seakan tak ada habisnya gencar mengusir mereka yang nekat
berjualan di daerah terlarang. Karena tidak ada relokasi tempat, mereka yang sebelumnya
mengais rejeki disana pun nekat meskipun dibentak-bentak petugas satpol PP. Hingga batas
akhir, dagangan mereka sampai tersita.
Di lain sisi, pemerintah seakan tutup mata dengan berbagai kesulitan yang dihadapi
para peritel tradisional. Bukan hanya masalah kalah inovasi atau teknologi tentunya. Karena
pada dasarnya keduanya bisa berjalan secara harmonis di jalan masing-masing dengan saling
seimbang dan mengisi.
Bagaimanapun, para penegak hukum seharusnya tidak pandang bulu dalam
menangani pelanggaran. Mulai dari rakyat jelata hingga para pejabat di mata hukum haruslah
sama. Demi terwujudnya sebuah negara yang kokoh, perlu adanya peran bersama, dan hukum
disini berperan membatasi kuasa serta kesewenang-wenangan.
Masyarakat seharusnya juga sadar akan kewajiban serta tanggung jawab mereka
sebagai warga negara. Mematuhi hukum serta bertindak sesuai hakikat bagaimana menjadi
manusia yang seharusnya. Karena cita-cita kita sama, demi mewujudkan Indonesia yang
makmur dan sejahtera. Maka, ini adalah tugasku, tugasmu, dan tugas kita semua.