Anda di halaman 1dari 10

Home pemerintahan pengertian dan konsep good governance

rhius lase pemerintahan

pengertian dan konsep good governance


A. PENGERTIAN GOOD GOVENANCE

Good Governance adalah suatu peyelegaraan manajemen pembangunan


yang solid dan bertanggung jawab yang sejalan dengan prinsip demokrasi
dan pasar yang efisien, penghindaran salah alokasi dana investasi dan
pencegahan korupsi baik secara politik maupun secara administratif
menjalankan disiplin anggaran serta penciptaan legal dan politican
framework bagi tumbuhnya aktifitas usaha.

Good governance pada dasarnya adalah suatu konsep yang mengacu


kepada proses pencapaian keputusan dan pelaksanaannya yang dapat
dipertanggungjawabkan secara bersama. Sebagai suatu konsensus yang
dicapai oleh pemerintah, warga negara, dan sektor swasta bagi
penyelenggaraan pemerintahaan dalam suatu negara.

Good Governance diIndonesia sendiri mulai benar benar dirintis dan


diterapkan sejak meletusnya era Reformasi yang dimana pada era
tersebut telah terjadi perombakan sistem pemerintahan yang menuntut
proses demokrasi yang bersih sehingga Good Governancemerupakan
salah satu alat Reformasi yang mutlak diterapkan dalam pemerintahan
baru. Akan tetapi, jika dilihat dari perkembangan Reformasi yang sudah
berjalan selama 15 tahun ini, penerapan Good Governance di Indonesia
belum dapat dikatakan berhasil sepenuhnya sesuai dengan cita cita
Reformasi sebelumnya. Masih banyak ditemukan kecurangan dan
kebocoran dalam pengelolaan anggaran dan akuntansi yang merupakan
dua produk utama Good Governance.

B. KONSEP GOOD GOVERNANCE

Konsep good governance dapat diartikan menjadi acuan untuk proses dan
struktur hubungan politik dan sosial ekonomi yang baik. Human interest
adalah faktor terkuat yang saat ini mempengaruhi baik buruknya dan
tercapai atau tidaknya sebuah negara serta pemerintahan yang baik.
Sudah menjadi bagian hidup yang tidak bisa dipisahkan bahwa setiap
manusia memiliki kepentingan. Baik kepentingan individu, kelompok,
dan/atau kepentingan masyarakat nasional bahkan internasional. Dalam
rangka mewujudkan setiap kepentingan tersebut selalu terjadi benturan.
Begitu juga dalam merealisasikan apa yang namanya good governance
benturan kepentingan selalu lawan utama. Kepentingan melahirkan jarak
dan sekat antar individu dan kelompok yang membuat sulit tercapainya
kata sepakat.

Konsep Good Governance sebenarnya telah lama dilaksanakan oleh


semua pihak yaitu Pemerintah, Swasta dan Masyarakat, namun demikian
masih banyak yang rancu memahami konsep Governance. Secara
sederhana, banyak pihak menerjemahkan governance sebagai Tata
Pemerintahan. Tata pemerintahan disini bukan hanya dalam pengertian
struktur dan manajemen lembaga yang disebut eksekutif, karena
pemerintah (government) hanyalah salah satu dari tiga aktor besar yang
membentuk lembaga yang disebut governance. Dua aktor lain adalah
private sektor (sektor swasta) dan civil society (masyarakat madani).
Karenanya memahami governanceadalah memahami bagaimana integrasi
peran antara pemerintah (birokrasi), sektor swasta dancivil society dalam
suatu aturan main yang disepakati bersama. Lembaga pemerintah harus
mampu menciptakan lingkungan ekonomi, politik, sosial budaya, hukum
dan keamanan yang kondusif. Sektor swasta berperan aktif dalam
menumbuhkan kegiatan perekonomian yang akan memperluas lapangan
kerja dan meningkatkan pendapatan, sedangkan civil society harus
mampu berinteraksi secara aktif dengan berbagai macam aktifitas
perekonomian, sosial dan politik termasuk bagaimana melakukan kontrol
terhadap jalannya aktifitas-aktifitas tersebut.

Dalam konsep ini, Negara berperan memberikan pelayanan demi


kesejahteraan rakyat dengan sistem peradilan yang baik dan sistem
pemerintahan yang dapat dipertanggungjawaban kepada publik.

Kunci utama memahami good governance adalah pemahaman atas


prinsip-prinsip di dalamnya. Bertolak dari prinsip-prinsip ini akan
didapatkan tolak ukur kinerja suatu pemerintahan. Baik-buruknya
pemerintahan bisa dinilai bila ia telah bersinggungan dengan semua unsur
prinsip-prinsip good governance. Menyadari pentingnya masalah ini,
prinsip-prinsip good governance diurai satu persatu sebagaimana tertera
di bawah ini:

1. Partisipasi Masyarakat

Semua warga masyarakat mempunyai suara dalam pengambilan


keputusan, baik secara langsung maupun melalui lembaga-lembaga
perwakilan sah yang mewakili kepentingan mereka. Partisipasi
menyeluruh tersebut dibangun berdasarkan kebebasan berkumpul dan
mengungkapkan pendapat, serta kapasitas untuk berpartisipasi secara
konstruktif.
2. Tegaknya Supremasi Hukum

Kerangka hukum harus adil dan diberlakukan tanpa pandang bulu,


termasuk di dalamnya hukum-hukum yang menyangkut hak asasi
manusia.

3. Transparansi

Tranparansi dibangun atas dasar arus informasi yang bebas. Seluruh


proses pemerintahan, lembaga-lembaga dan informasi perlu dapat
diakses oleh pihak-pihak yang berkepentingan, dan informasi yang
tersedia harus memadai agar dapat dimengerti dan dipantau.

4. Peduli pada Stakeholder

Lembaga-lembaga dan seluruh proses pemerintahan harus berusaha


melayani semua pihak yang berkepentingan.

5. Berorientasi pada Konsensus

Tata pemerintahan yang baik menjembatani kepentingan-kepentingan


yang berbeda demi terbangunnya suatu konsensus menyeluruh dalam hal
apa yang terbaik bagi kelompok-kelompok masyarakat, dan bila mungkin,
konsensus dalam hal kebijakan-kebijakan dan prosedur-prosedur.

6. Kesetaraan

Semua warga masyarakat mempunyai kesempatan memperbaiki atau


mempertahankan kesejahteraan mereka.

7. Efektifitas dan Efisiensi

Proses-proses pemerintahan dan lembaga-lembaga membuahkan hasil


sesuai kebutuhan warga masyarakat dan dengan menggunakan sumber-
sumber daya yang ada seoptimal mungkin.

8. Akuntabilitas

Para pengambil keputusan di pemerintah, sektor swasta dan organisasi-


organisasi masyarakat bertanggung jawab baik kepada masyarakat
maupun kepada lembaga-lembaga yang berkepentingan. Bentuk
pertanggung jawaban tersebut berbeda satu dengan lainnya tergantung
dari jenis organisasi yang bersangkutan.

9. Visi Strategis
Para pemimpin dan masyarakat memiliki perspektif yang luas dan jauh ke
depan atas tata pemerintahan yang baik dan pembangunan manusia,
serta kepekaan akan apa saja yang dibutuhkan untuk mewujudkan
perkembangan tersebut. Selain itu mereka juga harus memiliki
pemahaman atas kompleksitas kesejarahan, budaya dan sosial yang
menjadi dasar bagi perspektif tersebut.

Menerapkan praktik good governance dapat dilakukan secara bertahap


sesuai dengan kapasitas pemerintah, masyarakat sipil, dan mekanisme
pasar. Salah satu pilihan strategis untuk menerapkan good governance di
Indonesia adalah melalui penyelenggaraan pelayanan publik. Ada
beberapa pertimbangan mengapa pelayanan publik menjadi strategis
untuk memulai menerapkan good governance.

Pelayanan publik sebagai penggerak utama juga dianggap penting oleh


semua aktor dari unsur good governance. Para pejabat publik, unsur-
unsur dalam masyarakat sipil dan dunia usaha sama-sama memiliki
kepentingan terhadap perbaikan kinerja pelayanan publik. Ada tiga alasan
penting yang melatar-belakangi bahwa pembaharuan pelayanan publik
dapat mendorong praktik good governance di Indonesia. Pertama,
perbaikan kinerja pelayanan publik dinilai penting oleh stakeholders, yaitu
pemerintah , warga, dan sektor usaha. Kedua, pelayanan publik adalah
ranah dari ketiga unsur governance melakukan interaksi yang sangat
intensif. Ketiga, nilai-nilai yang selama ini mencirikan praktik good
governance diterjemahkan secara lebih mudah dan nyata melalui
pelayanan publik

Fenomena pelayanan publik oleh birokrasi pemerintahan sarat dengan


permasalahan, misalnya prosedur pelayanan yang bertele-tele,
ketidakpastian waktu dan harga yang menyebabkan pelayanan menjadi
sulit dijangkau secara wajar oleh masyarakat. Hal ini menyebabkan
terjadi ketidakpercayaan kepada pemberi pelayanan dalam hal ini
birokrasi sehingga masyarakat mencari jalan alternatif untuk
mendapatkan pelayanan melalui cara tertentu yaitu dengan memberikan
biaya tambahan. Dalam pemberian pelayanan publik, disamping
permasalahan diatas, juga tentang cara pelayanan yang diterima oleh
masyarakat yang sering melecehkan martabatnya sebagai warga Negara.
Masyarakat ditempatkan sebagai klien yang membutuhkan bantuan
pejabat birokrasi, sehingga harus tunduk pada ketentuan birokrasi dan
kemauan dari para pejabatnya. Hal ini terjadi karna budaya yang
berkembang dalam birokrasi selama ini bukan budaya pelayanan, tetapi
lebih mengarah kepada budaya kekuasaan.

Upaya untuk menghubungkan tata-pemerintahan yang baik dengan


pelayanan publik barangkali bukan merupakan hal yang baru. Namun
keterkaitan antara konsep good-governance (tata-pemerintahan yang
baik) dengan konsep public service (pelayanan publik) tentu sudah cukup
jelas logikanya publik dengan sebaik-baiknya. Argumentasi lain yang
membuktikan betapa pentingnya pelayanan publik ialah keterkaitannya
dengan tingkat kesejahteraan rakyat. Inilah yang tampaknya harus dilihat
secara jernih karena di negara-negara berkembang kesadaran para
birokrat untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat
masih sangat rendah.

Secara garis besar, permasalahan penerapan Good Governance meliputi :

1. Reformasi birokrasi belum berjalan sesuai dengan tuntutan


masyarakat;
2. Tingginya kompleksitas permasalahan dalam mencari solusi perbaikan;

3. Masih tingginya tingkat penyalahgunaan wewenang, banyaknya praktek


KKN, dan masih lemahnya pengawasan terhadap kinerja aparatur;
4. Makin meningkatnya tuntutan akan partisipasi masyarakat dalam
kebijakan publik;
5. Meningkatnya tuntutan penerapan prinsip-prinsip tata kepemerintahan
yang baik antara lain transparansi, akuntabilitas dan kualitas kinerja
publik serta taat pada hukum;
6. Meningkatnya tuntutan dalam pelimpahan tanggung jawab,
kewenangan dan pengambilan keputusan dalam era desentralisasi;
7. Rendahnya kinerja sumberdaya manusia dan kelembagaan aparatur;
sistem kelembagaan (organisasi) dan ketatalaksanaan (manajemen)
pemerintahan daerah yang belum memadai;

C. KONSEP GOOD GOVERNANCE

Ada pun beberapa konsep Good Governance yaitu :

1. Tata pemerintahan yang berwawasan ke depan (visi strategis),


Semua kegiatan pemerintah di berbagai bidang dan tingkatan
seharusnya didasarkan pada visi dan misi yang jelas dan jangka
waktu pencapaiannya serta dilengkapi strategi implementasi yang
tepat sasaran, manfaat dan berkesinambungan.

2. Tata pemerintahan yang bersifat terbuka (transparan), Wujud nyata


prinsip tersebut antara lain dapat dilihat apabila masyarakat
mempunyai kemudahan untuk mengetahui serta memperoleh data
dan informasi tentang kebijakan, program, dan kegiatan aparatur
pemerintah, baik yang dilaksanakan di tingkat pusat maupun
daerah.

3. Tata pemerintahan yang mendorong partisipasi masyarakat,


Masyarakat yang berkepentingan ikut serta dalam proses
perumusan dan/atau pengambilan keputusan atas kebijakan publik
yang diperuntukkan bagi masyarakat, sehingga keterlibatan
masyarakat sangat diperlukan pada setiap pengambilan kebijakan
yang menyangkut masyarakat luas.

4. Tata pemerintahan yang bertanggung jawab/ bertanggung gugat


(akuntabel), Instansi pemerintah dan para aparaturnya harus dapat
mempertanggungjawabkan pelaksanaan kewenangan yang
diberikan sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Demikian
halnya dengan kebijakan, program, dan kegiatan yang dilakukannya
dapat dipertanggungjawabkan.

5. Tata pemerintahan yang menjunjung supremasi hukum, Wujud


nyata prinsip ini mencakup upaya penuntasan kasus KKN dan
pelanggaran HAM, peningkatan kesadaran HAM, peningkatan
kesadaran hukum, serta pengembangan budaya hukum. Upaya-
upaya tersebut dilakukan dengan menggunakan aturan dan
prosedur yang terbuka dan jelas, serta tidak tunduk pada
manipulasi politik.

6. Tata pemerintahan yang demokratis dan berorientasi pada


konsensus, Perumusan kebijakan pembangunan baik di pusat
maupun daerah dilakukan melalui mekanisme demokrasi, dan tidak
ditentukan sendiri oleh eksekutif. Keputusan-keputusan yang
diambil antara lembaga eksekutif dan legislatif harus didasarkan
pada konsensus agar setiap kebijakan publik yang diambil benar-
benar merupakan keputusan bersama.

7. Tata pemerintahan yang berdasarkan profesionalitas dan


kompetensi, Wujud nyata dari prinsip profesionalisme dan
kompetensi dapat dilihat dari upaya penilaian kebutuhan dan
evaluasi yang dilakukan terhadap tingkat kemampuan dan
profesionalisme sumber daya manusia yang ada, dan dari upaya
perbaikan atau peningkatan kualitas sumber daya manusia.

8. Tata pemerintahan yang cepat tanggap (responsif), Aparat


pemerintahan harus cepat tanggap terhadap perubahan
situasi/kondisi mengakomodasi aspirasi masyarakat, serta
mengambil prakarsa untuk mengatasi berbagai masalah yang
dihadapi masyarakat.

9. Tata pemerintahan yang menggunakan struktur & sumber daya


secara efisien & efektif, Pemerintah baik pusat maupun daerah dari
waktu ke waktu harus selalu menilai dukungan struktur yang ada,
melakukan perbaikan struktural sesuai dengan tuntutan perubahan
seperti menyusun kembali struktur kelembagaan secara
keseluruhan, menyusun jabatan dan fungsi yang lebih tepat, serta
selalu berupaya mencapai hasil yang optimal dengan memanfaatkan
dana dan sumber daya lainnya yang tersedia secara efisien dan
efektif.

10. Tata pemerintahan yang terdesentralisasi, Pendelegasian tugas dan


kewenangan pusat kepada semua tingkatan aparat sehingga dapat
mempercepat proses pengambilan keputusan, serta memberikan
keleluasaan yang cukup untuk mengelola pelayanan publik dan
menyukseskan pembangunan di pusat maupun di daerah.

11. Tata pemerintahan yang mendorong kemitraan dengan dunia usaha


swasta dan masyarakat, Pembangunan masyarakat madani melalui
peningkatan peran serta masyarakat dan sektor swasta harus
diberdayakan melalui pembentukan kerjasama atau kemitraan
antara pemerintah, swasta, dan masyarakat. Hambatan birokrasi
yang menjadi rintangan terbentuknya kemitraan yang setara harus
segera diatasi dengan perbaikan sistem pelayanan kepada
masyarakat dan sektor swasta serta penyelenggaraan pelayanan
terpadu.

12. Tata pemerintahan yang memiliki komitmen pada pengurangan


kesenjangan, Pengurangan kesenjangan dalam berbagai bidang
baik antara pusat dan daerah maupun antardaerah secara adil dan
proporsional merupakan wujud nyata prinsip pengurangan
kesenjangan. Hal ini juga mencakup upaya menciptakan kesetaraan
dalam hukum (equity of the law) serta mereduksi berbagai
perlakuan diskriminatif yang menciptakan kesenjangan antara laki-
laki dan perempuan dalam kehidupan bermasyarakat.

13. Tata pemerintahan yang memiliki komitmen pada lingkungan hidup,


Daya dukung lingkungan semakin menurun akibat pemanfaatan
yang tidak terkendali. Kewajiban penyusunan analisis mengenai
dampak lingkungan secara konsekuen, penegakan hukum
lingkungan secara konsisten, pengaktifan lembaga-lembaga
pengendali dampak lingkungan, serta pengelolaan sumber daya
alam secara lestari merupakan contoh perwujudan komitmen pada
lingkungan hidup.
Opini: Good Governance Sebagai Upaya
Pencegahan Korupsi
28 May 2016

Share on Facebook

Tweet on Twitter

Sejak turunnya Jenderal Soeharto dari kursi kekuasaan yang selama 32 tahun telah berkuasa,
para demonstran yang sebagian besar terdiri dari perwakilan mahasiswa se-Indonesia
(terutama dari Pulau Jawa) istilah dan spanduk yang paling banyak diangkat adalah
pemberantasan KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme). Masalah korupsi tengah menjadi
perbincangan hangat di masyarakat, terutama media massa lokal dan nasional. Maraknya
korupsi di Indonesia seakan sulit untuk diberantas dan telah menjadi budaya. Pada dasarnya,
korupsi adalah suatu pelanggaran hukum yang kini telah menjadi suatu kebiasaan.
Berdasarkan data Transparency International Indonesia, kasus korupsi di Indonesia belum
teratasi dengan baik. Indonesia menempati peringkat ke-100 dari 183 negara pada tahun 2011
dalam indeks persepsi Korupsi. Penyebab terjadinya korupsipun bermacam-macam antara
lain masalah ekonomi, budaya memberi tips (uang licin), budaya malu yang rendah, sanksi
hukum yang lemah yang tidak mampu menimbulkan efek jera, penerapan hukum yang tidak
konsisten dari institusi penegak hukum dan kurangnya pengawasan hukum.

Untuk itu dalam upaya pencegahan korupsi maka haruslah diterapkan konsep good
governance guna mewujudkan pemerintahan yang baik. Konsep good governance
mengemuka menjadi paradigma tidak terlepas dari adanya konsep governance yang menurut
sejarahnya pertama kali diadaptasi oleh para praktisi dari lembaga pembangunan
internasional yang mengandung konotasi kinerja efektif terkait dengan management public
dan masalah korupsi. Adapun asas-asas umum pemerintahan yang layak adalah : (1) asas
kepastian hukum, (2) asas keseimbangan, (3) asas kesamaan dalam mengambil keputusan, (4)
asas bertindak cermat, (5) asas motivasi untuk setiap keputusan, (6) asas tidak mencampur
adukkan kewenangan, (7) asas permainan yang wajar, (8) asas keadilan dan kewajaran, (9)
asas kepercayaan dan menanggapi pengharapan yang wajar, (10) asas meniadakan akibat
suatu keputusan yang batal, (11) asas perlindungan atau cara hidup pribadi, (12) asas
kebijaksanaan, (13) asas penyelenggaraan kepentingan umum. Prinsip dasar atau asas yang
terdapat didalam good governance tersebut bila benar-benar diterapkan maka diyakini akan
dapat mewujudkan pemerintahan yang baik, dan bila telah terciptanya pemerintahan yang
baik maka dengan sendirinya pula tindakan korupsi yang selama ini banyak dilakukan oleh
pejabat publik atau orang-orang yang bekerja di ruang lingkup pemerintahan akan mampu
dicegah bahkan mungkin tindak pidana korupsi oleh pejabat pemerintahan tidak akan terjadi
lagi karena inti dari prinsip good governance tersebut benar-benar mengedepankan
kepentingan masyarakat diatas kepentingan pribadi dan golongan, prinsip good governance
membuat keseimbangan kinerja antara pemerintah sebagai pelayan publik dan masyarakat
sebagai yang dilayani. Good governance mengedapankan kepentingan umum diatas
kepentingan lainnya, kepentingan bangsa dan negara menjadi yang utama dan didalam
mengelola tata pemerintahan ini good governance meyertakan peran masyarakat dalam turut
membangun bangsa, suara dan pendapat masyarakat dijadikan suatu pertimbangan.
Keterbukaan dan pertanggungjawaban pemeirntah dalam mengelola pemerintahan ini juga
telah menjadi sesuatu hal yang wajib dan boleh diketahui oleh masyarakat, supremasi dan
penegak hukum turut diutamakan dalam mengatur jalannya roda pemerintahan.

Menurut Miftah Thoha , good governance disimpulkan sebagai tata pemerintahan yang
terbuka, bersih, berwibawa, transparan, dan bertanggung jawab. Dalam rangka mewujudkan
pemerintahan yang baik (good governance) sangat dipengaruhi oleh sikap dan keinginan para
pemengang kekuasaan atau lembaga pemerintahan atau alat perlengkapan negara untuk
mewujudkan suatu konsep pemerintahan yang baik (good governance) tersebut. Meskipun
tidak mudah menerapkan asas-asas umum pemerintahan yang layak karena pejabat publik
atau administrasi negara mempunyai kecenderungan untuk menyalahgunakan kekuasaan,
apalagi tidak dibatasi secara tegas oleh peraturan perundang-undangan atau tanpa
pengawasan yang bersifat fungsional tetapi dengan semestinya harus bisa menerapkan asas
tersebut perlahan lahan di pemerintahan kita saat ini. Konsep goog governance ini sudah lama
berkembang, bermula dari adanya rasa ketakutan sebagian masyarakat terhadap wewenang
pejabat negara/ administrasi untuk bertindak sendiri di luar peraturan perundang-undangan.
Kewenangan yang diberikan ini dikhawatirkan akan menimbulkan kerugian bagi warga
masyarakat sehingga muncullah apa yang dinamakan prinsip umum pemerintahan yang baik.
Banyak unsur dari prinsip good governance yang telah diterima oleh masyarakat, hal
terpenting dari unsur tersebut diantaranya adalah transparansi, akuntabilitas, kewajaran,
persamaan dan keseimbangan.

Jika dihubungkan dengan negara secara keseluruhan maka prinsip good governance
merupakan prinsip yang mengetengahkan keseimbangan hubungan antara masyarakat dengan
negara serta negara dengan pribadi-pribadi. Ini artinya, setiap kebijakan publik mau tidak
mau harus melibatkan berbagai pihak dan sektor baik pemerintah ,masyarakat maupun sektor
swasta dengan aturan yang jelas. Dengan demikian, penerapan good governance di Indonesia
diharapkan terciptanya format politik demokratis, dan melahirkan model alternatif
pembangunan yang mampu menggerakkan partisipasi masyarakat di segala bidang
kehidupan. Bila dilihat kondisi Indonesia yang marak dengan kasus korupsi maka prinsip
good governance dapat menjadi salah satu solusi mujarab untuk melindungi dan
membersihkan negara ini dari isu korupsi , kolusi dan nepotisme. Korupsi yang sudah ada di
tengah-tengah negara kita sejak negara Indonesia mulai terbentuk ,korupsi telah menjadi
bagian dari kehidupan bangsa, untuk itu kita tidak boleh bersikap acuh tak acuh, karena
korupsi merusak kehidupan ekonomi dan landasan tata moral kehidupan. Masyarakat saat ini
juga berharap melalui good governance dapat mengikis habis semua perbuatan yang
merugikan kepentingan umum yang terjadi dalam pemerintahan. Korupsi adalah simbol dari
pemerintahan yang tidak benar, yang dicerminkan oleh petronese, prosedur berbelit belit, unit
pemungut pajak yang tidak efektif, pengurusan lisensi, korupsi besar-besaran dalam
pengadaan barang dan jasa, dan layanan masyarakat yang sangat buruk. Good governance
adalah pelaksanaan otoritas politik, ekonomi dan administratif dalam pengelolaan sebuah
negara, termasuk didalamnya mekanisme yang kompleks serta proses yang terkait, lembaga-
lembaga yang dapat menyuarakan kepentingan perseorangan dan kelompok serta dapat
menyelesaikan semua persoalan yang muncul diantara mereka. persayaratan minimal untuk
mencapai good governance adalah adanya transparansi, pemberdayaan hukum, efektifitas,
dan efisiensi serta keadilan. Upaya mewujudkan good governance di Indonesia merupakan
suatu prioritas yang harus dilaksanakan dalam rangka mencipatakan suatu tatanan masyarakat
yang jauh dari KKN karena dalam kenyataannya masyarakat masih jauh dari hidup layak.
Namun demikian perjuangan dalam menciptakan pemerintahan yang bersih tidak boleh
berhenti, harus tetap dilanjutkan dan diupayakan semaksimal mungkin hingga suatu saat akan
dirasakan begitu berharganya bangsa yang memiliki komitmen, tanggung jawab dan harga
diri.