Anda di halaman 1dari 12

Mengubah Tren Pengelolaan

Epistaksis
Henri Traboulsi, Elie Alam, and Usamah Hadi
Department of Otolaryngology-Head and Neck Surgery, American University of Beirut Medical
Center, Phase I, 6th Floor,
Room C-638, Bliss Street, P.O. Box 11-0236, Beirut, Lebanon

Epistaksis adalah keluhan yang sangat umum ditemui oleh dokter termasuk
otolaryngologists, dokter keluarga, dan lain-lain. Manajemen epistaksis sering
menantang dan membutuhkan berbagai intervensi. Review berikut menjelaskan
perbedaaan jenis modalitas pengobatan masa lalu dan saat ini termasuk kauter,
tampon hidung, ligasi arteri maksilaris, ligasi arteri anterior, dan ligasi arteri
sphenopalatina. Makalah ini juga mengusulkan sebuah algoritma untuk
mengelola kasus tersebut.

1. Pendahuluan dalam pandangan literatur terbaru


Epistaksis adalah salah satu gejala mengenai efikasi, keamanan, dan
umum untuk dokter THT. Hal ini keefektifan biaya.
diduga mempengaruhi 10-12% dari 2. Pengobatan Medis
populasi, di mana 10% Dekongestan topikal tersedia secara
membutuhkan perhatian medis [1]. luas, dan profil efek samping mereka
Meskipun sebagian besar kasus bisa yang terbatas membuat mereka
tertangani dengan sendirinya, menjadi terapi lini pertama yang
beberapa tidak dapat selesai tanpa dipilih untuk pengobatan epistaksis.
intervensi. Pilihan pengobatan dan Ulasan grafik mengungkapkan bahwa
pendekatan baru telah penggunaan oxymetazoline topikal
dikembangkan di dekade terakhir, dapat berhasil dalam mengobati
terutama dengan munculnya epistaksis posterior di keadaan
endoskopi hidung. Tujuan dari darurat pada sampai dengan 65-75%
makalah ini adalah untuk meninjau kasus [2, 3]. Namun, harus digunakan
perbedaan modalitas pengobatan dengan hati-hati pada pasien
yang tersedia untuk manajemen hipertensi, terutama ketika pasien
epistaksis dan untuk mengusulkan dalam keadaan cemas dengan
algoritma komprehensif namun epistaksis hebat yang mungkin
sederhana dan modern untuk memliki tekanan darah yang
pengobatan epistaksis. Pilihan meningkat secara signifikan dalam
pengobatan akan dibagi menjadi kondisi akut. Kekhawatiran lain
medis, intervensi non-bedah, dan adalah ketidakmampuan obat untuk
bedah, dan akan dijelaskan bersama menjangkau daerah-daerah target
dengan keuntungan, kerugian, ketika rongga hidung terisi dengan
komplikasi, dan tingkat darah.
keberhasilan / kegagalan masing- Baru-baru ini, percobaan
masing. Algoritma yang diusulkan kontrol acak yang diterbitkan oleh
akan mendebat peran awal dari Zahed et al. menbandingkan
intervensi bedah dengan endoskopi penggunaan asam traneksamat
ligasi sphenopalatina arteri (ESPAL) topikal (obat yang digunakan untuk
pasien dengan telangiectasia mungkin merangsang kaskade
hemoragik herediter) dengan koagulasi [8].
penggunaan tampon anterior untuk
kasus epistaksis anterior di IGD [4]. 3.2. Kauter melalui rhinoskopi
Penelitian tersebut menunjukkan anterior. Evaluasi awal dari pasien
bahwa penggunaan obat lebih dengan epistaksis anterior dengan
berkhasiat dan pasien dapat cepat rhinoskopi mungkin sering dapat
dipulangkan dari IGD serta tingkat menemukan sumber perdarahan jika
kepuasan yang lebih tinggi dari memang perdarahanya di anterior.
pasien. Namun sebuah tinjauan yang Pilihan kauter termasuk kauter
lebih baru, berpendapat bahwa kimia (dengan perak nitrat) dan
kurang adanya bukti yang cukup bagi kauter listrik bipolar. Oleh karena
penggunaan asam traneksamat pada kauter kimia lebih murah, lebih
pasien yang stabil dengan epistaksis mudah untuk melakukan, dan lebih
spontan [5]. mudah tersedia, kauter kimia lebih
umum digunakan, terutama oleh
3. Intervensi Non-bedah dokter non-THT. Risiko utama dari
3.1. Irigasi Air Hangat. Ketika produk prosedur ini adalah septal perforasi,
tampon hidung ada, bersama dengan yang meningkat dengan kauter
munculnya endoskopi dan prosedur bilateral pada sisi yang berlawanan
endoskopi hidung, teknik irigasi air [9].
hangat jarang digunakan [6]. Tapi Sebuah tinjauan grafik baru-
kemudian, pada tahun 1999, sebuah baru ini dilakukan oleh Shargorodsky
penelitian oleh Stangerup et al. et al. melaporkan bahwa 77,1% dari
menunjukkan bahwa irigasi air hangat kasus epistaksis anterior dalam
lebih efektif daripada tampon hidung ulasan kasus mereka ditangani
untuk mengendalikan epistaksis dengan kauter nitrat silver dengan
posterior (tingkat keberhasilan 55% tingkat keberhasilan 79% pada
dibandingkan dengan 44%, resp.) [7]. percobaan pertama [10].
Artikel yang lebih terbaru oleh Novoa 3.3. Tampon hidung. Tampon hidung
dan Schlegel-Wagner melaporkan sering efektif dan merupakan cara
tingkat keberhasilan 82% dalam sederhana untuk menghentikan
kasus epistaksis posterior tanpa perdarahan hidung. Ketersediaan
komplikasi yang terselesaikan [6]. yang luas, kemudahan penggunaan
Kelompok ini memanfaatkan teknik ini oleh nonspecialists, dan biaya rendah
sebagai pengobatan lini pertama membuatnya menjadi pilihan yang
untuk kasus epistaksis posterior. valid sebagai pengobatan lini
Mereka mendeskripsikan penyisipan pertama.
kateter kandung kemih termodifikasi Namun, tampon nasal bisa
yang menutup choanae di mana air di sangat tidak nyaman dan mungkin
50C akan diirigasikan dengan bertanggung jawab terhadap
bantuan stimulator kalori dan akan kebanyakan komplikasi dan dampak
keluar kateter melalui lubang di buruk. Beberapa komplikasi tersebut
proksimal balon. Diyakini bahwa air untungnya bisa ringan dan self-
hangat menyebabkan edema limited seperti disfungsi tuba
nasalmucosa dan dengan demikian eustachius, epifora, dan reaksi
menekan pembuluh darah serta vasovagal selama pemasangan [11-
17]. Lebih penting lagi, packing nasal Komplikasi dan tingkat kegagalan
juga dapat menginduksi infeksi lokal yang tinggi ini membuat penyisipan
pada rongga hidung dan vestibulum tampon hidung sangat tidak
atau dapat mengakibatkan infeksi disenangi dan sering kalli menjadi
regional yang lebih luas seperti pilihan berbahaya untuk mengontrol
sinusitis dan selulitis orbita [18-21]. epistaksis.
Giant piogenik granuloma kavum
nasi juga merupakan salah satu 3.4. Embolisasi. Dalam upaya untuk
komplikasi [22]. Jarang, infeksi ini menghindari komplikasi selama
dapat menyebabkan respon lebih operasi, embolisasi angiografi untuk
parah dan respon sistemik yang mengobati epistaksis posterior
berpotensi mematikan seperti toxic pertama kali dijelaskan pada tahun
shock syndrome dan infeksi 1974 [29]. Kesuksesan dari prosedur
endokarditis [18]. Efek tekanan ini telah dilaporkan 71-95% [30].
disebabkan oleh adanya tampon Dalam penelitian terbaru yang terdiri
hidung dapat mengakibatkan dari 70 pasien yang menjalani
komplikasi signifikan seperti abses embolisasi angiografi arteri
septum dan perforasi serta nekrosis sfenopalatina, 13% memiliki
konka inferior [23] dan alae nasi. perdarahan berulang dalam waktu 6
Fraktur lamina papyracea dan minggu dari prosedur dan 14% pada
perforasi dari palatum juga telah presentasi kemudian [31].
dijelaskan. Adanya tampon hidung Komplikasi dari prosedur ini
juga telah terbukti mengganggu telah secara ekstensif dilaporkan
fungsi kardiopulmoner normal dan dalam literatur dan termasuk
dapat menyebabkan bradikardia dan hemiplegia, ophthalmoplegia,
hipoksia [18]. Kurang umum, tampon kelumpuhan wajah/ paresthesia,
hidung bisa copot dari rongga hidung kebutaan, atau defisit neurologis lain
ke dalam orofaring menghasilkan yang disebabkan oleh embolisasi
obstruksi jalan napas atas yang accidental arteri serebral [18, 32,
mengancam jiwa [11, 12]. Sebuah 33]. Kemungkinan komplikasi ini
kasus kebocoran cairan serebrospinal terjadi sampai dengan 27% dari
juga dilaporkan mengikuti kasus [18, 20].
penggunaan dari RapidRhino Menariknya, beberapa penulis
inflatable balloon pack [24]. menganjurkan embolisasi dari arteri
Komplikasi parah untungnya jarang maksilaris internal dibandingkan
terjadi, tetapi tingkat komplikasi arteri sfenopalatina pada anak-anak
keseluruhan tampon nasal telah di bawah usia 10 [34]. Karena tingkat
dilaporkan sampai 69% [25]. kegagalan relatif tinggi dan
Tingkat kegagalan packing pengenalan prosedur endoskopi yang
tampon nasal telah dilaporkan hingga kurang berisiko dan lebih sukses,
52% [26], dan tingkat perdarahan beberapa menganjurkan
ulang meningkat pada 70% pasien penggunaan embolisasi angiografi
dengan gangguan perdarahan [27]. hanya ketika prosedur endoskopi
Trauma akibat penyisipan tampon telah gagal atau terdapat
hidung juga bisa menyebabkan kontraindikasi [21, 35, 36].
perdarahan di daerah lain selain
sumber perdarahan utama [28]. 4. Intervensi Bedah
4.1 Ligasi Arteri Maxillaris. Pada endoskopik dari teknik ini. Dalam
tahun 1965, Chandler dan Serrins penelitian terbaru [43], diseksi
menggambarkan ligasi transantral kadaver meneliti kelayakan prosedur
dari arteri maksilaris di bawah serta anatomi bedah dari arteri
anestesi lokal [37]. Teknik ini ethmoid anterior, yang diidentifikasi
dilakukan melalui pendekatan dalam 98,5% kasus.
Caldwell-Luc. Sebuah studi yang dilakukan
Ini telah dikaitkan dengan nyeri pada tahun 2006 menyarankan
persisten di gigi atas, neuralgia penggunaan ligasi endoskopi arteri
infraorbital, fistula oroantral, ethmoid anterior hanya ketika arteri
sinusitis, potensi kerusakan ganglion dalam mesenterium dan jelas terlihat
sphenopalatina dan saraf Vidian, (ditemukan dalam 20% dari kasus
dan, jarang, kebutaan [38]. menurut penelitian). Jika tidak,
Komplikasi dari pendekatan ini telah penulis tidak begitu menyarankan
diperkirakan mencapai 28% [39]. pendekatan eksternal [44].
Chandler dan Serrins Dokter bedah harus familiar
melaporkan tidak ada kegagalan dengan anatomi arteri ethmoid
dalam total 21 pasien [37]. Sebuah anterior dan harus mengenali
ulasan terbaru dari kegagalan teknik komponen intraorbita dan komponen
ini diterbitkan pada tahun 1988 dan ethmoid untuk mengidentifikasi
dilaporkan 15 kegagalan dari 100 secara tepat intraoperatif dan untuk
pasien yang menjalani prosedur [40]. menghindari komplikasi, seperti
Penulis mengkaitkan kegagalan ini perdarahan dan kebocoran CSF [45,
dengan ketidakmampuan untuk 46]. Menariknya, arteri ethmoid
menemukan IMA dengan benar dan anterior juga telah dianggap sebagai
ketidakmampuan untuk mengklip salah satu landmark untuk yang
cabang-cabang arteri maksilaris dasar kranial [47]. Komplikasi lain
internal ke fossa pterygopalatine. yang dilaporkan termasuk jaringan
Karena pendekatan yang parut, edema, ekimosis wajah, dan
agak invasif dan potensi komplikasi kerusakan untuk ligamen canthal
ini, teknik ligasi transantral arteri medial [48].
maxillaris telah kehilangan
popularitas, terkhusus dengan 4.3. Kauter Nasal Endoskopi. Kauter
munculnya prosedur endoskopi. di bawah daya lihat endoskopi
Ligasi arteri karotis eksternal adalah pilihan lain untuk kontrol
juga telah dijelaskan untuk epistaksis epistaksis yang mungkin
berulang; Namun, kegagalannya menghindari insersi tidak nyaman
ditemukan cukup tinggi (45%) dalam dari tampon hidung dalam kasus
penelitian retrospektif yang perdarahan tak teridentifikasi.
dilakukan pada tahun 1992 [41]. Meskipun hal ini dapat dilakukan di
ruang operasi, klinik yang lengkap
4.2. Ligasi Arteri Ethmoid Anterior. atau departemen darurat juga dapat
Ligasi anterior ethmoid arteri menjadi tempat yang memadai
pertama telah dijelaskan melalui untuk prosedur ini. Sementara
insisi Lynch pada tahun 1946 [42]. beberapa penulis melaporkan tingkat
Kemajuan dalam prosedur endoskopi keberhasilan yang sangat tinggi [49],
memfasilitasi pengembangan ligasi penulis lain melaporkan risiko
kegagalan yang relatif signifikan (17- tulang yang tampak sempurna
33%) [21], yang mungkin disebabkan selama operasi [51, 52], yang sering
oleh fakta bahwa melakukan diambil agar dapat lebih baik
kauterisasi mukosa hidung dapat mengekspos arteri. Ketika cabang-
juga merusak daerah yang akan cabangnya diidentifikasi dengan
berdarah terus-menerus. benar, mereka dapat baik dikauter
Selain itu, kauter hidung untuk atau diklip. Sebuah penelitian dari 67
epistaksis dikaitkan dengan mati pasien oleh Nouraei et al.
rasa pada palatal [50] serta menyimpulkan bahwa diathermy
kerusakan termal struktur saraf, lebih mujarab ketimbang ligasi dan
obstruksi duktus nasolakrimalis, dan yang tidak menggunakan diathermy
trauma pada saraf optik, terutama merupakan faktor risiko independen
jika pasien sebelumnya menjalani untuk kegagalan prosedur [53].
ethmoidectomy [18]. Pola percabangan SPA telah
Kauter dari mukosa hidung secara ekstensif dipelajari. Mungkin
yang berdarah tampaknya membentuk dua, tiga, atau bahkan
merupakan cara sederhana dan empat cabang [54-56]. Namun,
efektif dalam pengendalian tampak bahwa terdapat dua cabang
epistaksis; Namun, terbatasnya yang hampir konsisten: arteri nasalis
ketersediaan endoskopi dan ahli posterior lateral dan cabang nasal
bedah endoskopi di pusat-pusat kecil septum [54, 55]. Selain itu,
membatasi penggunaan teknik ini. tampaknya lokasi foramen
sfenopalatina sendiri juga bervariasi,
4.4. Ligasi Endoskopi Arteri yang klasifikasinya telah diusulkan
Sfenopalatina. ESPAL pertama kali Wareing dan
dijelaskan lebih dari 20 tahun yang Padgham [56].
lalu [36]. Mengganggu aliran darah Jika dilakukan dengan benar di
di daerah distal memberikan tangan ahli bedah endoskopi yang
keuntungan lebih dibandingkan berpengalaman, tingkat keberhasilan
teknik yang dijelaskan sebelumnya prosedur ini pendekatan 95-100%
dengan menghindari kemungkinan [18, 21, 51, 57]. Penulis lain
revaskularisasi dari arteri maksilaris melaporkan tingkat kegagalan dari 5-
interna[32]. 10% [39, 58] dan kegagalan awal
Meskipun menjadi prosedur dikaitkan oleh beberapa lepasnya
yang relatif sederhana, dokter bedah klip atau kegagalan identifikasi dan
endoskopi harus memiliki kliping dari semua cabang [39]
pengetahuan yang baik mengenai (Gambar 2).
teknik dan anatomi dari arteri
sfenopalatina (SPA) serta variasi
anatominya agar mencapai operasi
yang sukses. SPA merupakan cabang
akhir arteri maksilaris internal dan
memasuki rongga hidung melalui
foramen sfenopalatina pada dinding
lateral hidung posterior (Gambar 1).
Bagian anteriornya dibatasi oleh
krista ethmoidalis, landmark anatomi
tinggi, dan tingkat komplikasi yang
rendah menyebabkan beberapa
penulis mengusulkan revisi strategi
manajemen dan penyebaran awal
ESPAL ini. Selama dekade terakhir,
ada minat dalam literatur dalam
membandingkan efektifitas biaya
dari ESPAL dengan strategi
pengobatan lainnya.
Sebuah percobaan acak
prospektif oleh Moshaver et al. pada
tahun 2004 membandingkan biaya
perawatan ESPAL dengan tampon
konvensional. Biaya yang dihitung
dilaporkan sejumlah masing-masing
$ 5133 dan $ 12.213 [59].
Selain itu, Dedhia et al.
melakukan studi ulasan pada tahun
2013 untuk menentukan probabilitas
kejadian sementara membandingkan
algoritma praktek saat ini (insersi
awal tampon hidung untuk 3 hari)
Penelitian oleh Nouraei et al.,
dan ESPAL lini pertama [60].
Bagaimanapun, mengungkapkan
Mempertimbangkan biaya prosedur
90% tingkat keberhasilan pada 5
masing-masing dan manajemen
tahun untuk diathermi SPA. Hal ini
kekambuhan, para penulis
juga ditunjukkan bahwa tingkat
menyimpulkan bahwa praktek
komplikasi belum terkait dengan
tradisional dan ESPAL lini pertama
data prediksi, seperti operasi
biayanya sekitar $ 6.450 dan $ 8246,
bilateral, operasi untuk polip hidung,
masing-masing. Oleh karena itu,
atau septoplasty.
menurut penelitian ini, ESPAL
Sebuah tinjauan sistematis
sebagai pengobatan lini pertama
oleh Kumar et al. menunjukkan
untuk epistaxis mungkin menjadi
bahwa ligasi dan kauterisasi dari SPA
lebih hemat biaya daripada
manjur, masing-masing dalam 98%
pendekatan tradisional yang
dan 100% [57].
mengandalkan insersi tampon
hidung berkepanjangan.
Demikian pula, penelitian yang
5. Diskusi Algoritma Usulan
dilakukan oleh Rudmik dan Leung di
Pendekatan tradisional untuk
2014 membandingkan efektivitas
mengelola pasien dengan epistaksis
biaya ESPAL dan embolisasi untuk
berulang adalah dengan
epistaksis berulang, yang
mengandalkan operasi sebagai
didefinisikan sebagai kegagalan
pengobatan terakhir setelah semua
tampon nasal posterior setelah 3 hari
perawatan konservatif dan non-
[61]. Mengambil incremental
bedah gagal (seperti tampon
costeffectiveness ratio (ICER)
hidung). Penggunaan teknik ESPAL,
yang tingkat keberhasilan yang
sebagai ukuran hasil dan evaluasi
ekonomi
berbasis pemodelan menggunakan penyebab yang jarang dari
analisis pohon keputusan untuk perdarahan seperti neoplasma
menggabungkan hasil dengan kemungkinan biopsi,
postprocedural, penulis kesempatan untuk melakukan ligasi
menyimpulkan bahwa embolisasi arteri ethmoid anterior bersamaan
lebih mahal dibandingkan dengan jika diperlukan, dan dilaporkan biaya
ESPAL ($ 22,324.70 dan 12,484.14 $, perawatan kesehatan lebih rendah
resp.). Horizon waktu dari analisis [63].
pohon keputusan adalah 2 minggu, Di sisi lain, banyak pasien
dan sebuah analisis sensitivitas hanya mengalami satu episode
multivariat menegaskan bahwa epistaksis yang mungkin tidak
kesimpulan ekonomi ini benar pernah kambuh, sementara yang lain
dengan setidaknya kepastian 74%. mengalami epistaksis anterior ringan
Baru-baru ini, kelompok yang yang mungkin hanya membutuhkan
sama menerbitkan simulasi berbasis intervensi definitif minimal. Akan
modelling dari laki-laki 50 tahun sulit untuk menentukan biaya dan
dengan epistaksis berulang [62]. risiko operasi untuk pasien ini.
Model risiko memperhitungkan Oleh karena itu, kami
probabilitas komplikasi dari setiap sarankan dalam algoritma kami
intervensi, di 6 algoritma manajemen (Gambar 3) menangani kasus-kasus
anak tangga, menggunakan tampon ringan epistaksis anterior dengan
posterior, embolisasi, dan ESPAL, di langkah-langkah tradisional dan
urutan yang berbeda. Keparahan konservatif (yang disebutkan di
masing-masing komplikasi atas).
diuangkan. Mereka menemukan Pengelolaan perdarahan
bahwa semua 6 strategi anak tangga hidung posterior akan tergantung
akan mencapai tingkat keberhasilan pada ketersediaan ahli endoscopi
99% setelah 2 intervensi; Namun, berpengalaman dan peralatan yang
ESPAL dan embolisasi lebih mungkin relavan. Ahli endoscopi
berhasil setelah prosedur tunggal. berpengalaman mungkin akan
Strategi diawali dengan tampon dan sukses dalam mengobati pasien
ESPAL memiliki risiko yang lebih dalam situasi darurat, karena hal itu
rendah. menghindari efek negatif dari insersi
Ketika menggabungkan hasil tampon dan komplikasi potensial dan
analisis risiko ini dengan data biaya operasi di bawah anestesi
efektivitas biaya, penulis umum. ESPAL selalu dapat dilakukan
menganjurkan pendekatan anak setelah kegagalan prosedur ini.
tangga untuk epistaksis berulang Ketika seorang ahli endoscopi
dimulai dengan ESPAL terlebih tidak tersedia, terapi medis atau
dahulu. irigasi air hangat dapat dicoba
Selain itu, ada keuntungan lain sebelum pemasangan tampon
dari ESPAL dibandingkan dengan hidung posterior. Kasus berulang,
embolisasi, yang meliputi penurunan atau kegagalan tampon hidung,
risiko komplikasi mayor (seperti harus dirujuk ke ahli endoscopi untuk
stroke dan kebutaan), visualisasi ESPAL. Embolisasi endovascular
endoskopi langsung dari situs dapat dilakukan dengan anestesi
perdarahan, diagnosis potensial lokal dan dapat dianggap sebagai
alternatif untuk ESPAL jika pasien posterior epistaxis in an out-patient setting,
The Journal of Laryngology & Otology, vol.
bukan kandidat bedah. 126, no. 1, pp. 5860, 2012.
[7] S. E. Stangerup, H. Dommerby, C. Siim, L.
6. Kesimpulan Kemp, and J. Stage, New modification of hot-
water irrigation in the treatment of posterior
Pengelolaan epistaksis menjangkau epistaxis,Archives of OtolaryngologyHead
berbagai strategi dan pilihan andNeck Surgery, vol. 125, no. 6, pp. 686
690, 1999.
pengobatan. Namun, penting untuk [8] S. E. Stangerup, H. O. Dommerby, and T.
menghargai ketika harus Lau, Hot water irrigation in the treatment of
menerapkan intervensi yang tepat posterior epistaxis, Ugeskrift For Lger, vol.
158, no. 27, pp. 39323934, 1996.
pada individu yang berbeda. Hal ini [9] F. Pond and A. Sizeland, Epistaxis.
juga penting untuk melibatkan ahli Strategies formanagement, Australian
Family Physician, vol. 29, no. 10, pp. 933
endoscopi berpengalaman pada saat 938, 2000.
yang tepat, yang dapat melakukan [10] J. Shargorodsky, B. S. Bleier, and E. H.
intervensi baik dengan kontrol Holbrook, Outcomes analysis in epistaxis
management: development of a therapeutic
endoskopi di departemen darurat algorithm, OtolaryngologyHead and Neck
atau dengan ESPAL di ruang operasi. Surgery, vol. 149, no. 3, pp. 390398, 2013.
[11] P. M. Middleton, Epistaxis, Emergency
Literatur terbaru menganjurkan Medicine Australasia, no. 5-6, pp. 428440,
intervensi bedah awal dengan ESPAL 2004.
untuk kasus-kasus tertentu [12] L. E. Pope and C. G. Hobbs, Epistaxis:
an update on current management,
tergantung dari simplisitas, tingkat PostgraduateMedical Journal, vol. 81,no. 955,
keberhasilan yang tinggi, risiko pp.
309314, 2005.
rendah, dan efektifitas biayanya [13] A. Ahmed and T. J. Woolford, Endoscopic
dibandingkan dengan modalitas bipolar diathermy in the management of
pengobatan lain seperti tampon epistaxis: an effective and cost-efficient
treatment, Clinical Otolaryngology and
nasal posterior. Allied Sciences, vol. 28, no. 3, pp. 273275,
2003.
[14] M. ODonnell, G. Robertson, and
Daftar Pustaka G.W.McGarry, A new bipolar diathermy probe
[1] J. G. Rockey and R. Anand, A critical for the outpatient management of adult
audit of the surgical management of acute epistaxis, Clinical Otolaryngology and
intractable epistaxis using sphenopalatine Allied Sciences, vol. 24, no. 6, pp. 537541,
artery ligation/diathermy, Rhinology, vol. 40, 1999.
no. 3, pp. 147149, 2002. [15] B. Bertrand,P.Eloy, P. Rombaux, C.
[2] G. A. Krempl and A. D. Noorily, Use of Lamarque, J.B.Watelet, and S. Collet,
xymetazoline in the management of Guidelines to the management of epistaxis,
epistaxis, Annals of Otology, Rhinology & B-ENT, vol. 1, supplement 1, pp. 2743, 2005.
Laryngology, vol. 9, part 1, pp. 704706, [16] C. J. Kucik and T. Clenney, Management
1995. of epistaxis, American Family Physician, vol.
[3] G. Doo and D. S. Johnson, Oxymetazoline 71, no. 2, pp. 305312, 2005.
in the treatment of posterior epistaxis, [17] V. Srinivasan, I. W. Sherman, and G.
Hawaii Medical Journal, vol. 58, no. 8, pp. OSullivan, Surgical management of
210212, 1999. intractable epistaxis: audit of results, Journal
[4] R. Zahed, P.Moharamzadeh, of Laryngology and Otology, vol. 114, no. 9,
S.AlizadehArasi, A. Ghasemi, and M. Saeedi, pp. 697700, 2000.
A new and rapid method for epistaxis [18] D. B. Simmen, U. Raghavan, H. R. Briner,
treatment using injectable form of M. anestar, P. Groscurth, andN. S. Jones,
tranexamic acid topically: a randomized Theanatomy of the sphenopalatine artery for
controlled trial, The American Journal of the endoscopic sinus surgeon, The American
Emergency Medicine, vol. 31, no. 9, pp. Journal
13891392, 2013. of Rhinology, vol. 20, no. 5, pp. 502505,
[5] L.Hilton, Best evidence topic reports. BET 2006.
3: topical intranasal tranexamic acid for [19] M. Cassano, M. Longo, E. Fiocca-
spontaneous epistaxis,EmergencyMedicine Matthews, and A. M. D. Giudice, Endoscopic
Journal, no. 5, pp. 436437, 2014. intraoperative control of epistaxis in nasal
[6] E. Novoa and C. Schlegel-Wagner, Hot surgery, Auris Nasus Larynx, vol. 37, no. 2,
water irrigation as treatment for intractable pp. 178184, 2010.
[20] A.G. Shah, R. J. Stachler, and J. H. epistaxis, OtolaryngologyHead and Neck
Krouse, Endoscopic ligation of the Surgery, vol. 133, no. 5, pp. 748753, 2005.
sphenopalatine artery as a [32] R. L. Voegels, D. C. Thome, P. P. A.
primarymanagement of severe posterior Iturralde, and O. Butugan, Endoscopic
epistaxis in patients with coagulopathy, Ear, ligature of the sphenopalatine artery for
Nose & Throat Journal, vol. 84, no. 5, pp. 296 severe posterior epistaxis, Otolaryngology
297, 306, 2005. Head and Neck Surgery, vol. 124, no. 4, pp.
[21] H. R. Schwartzbauer, M. Shete, and T. A. 464467, 2001.
Tami, Endoscopic anatomy of the [33] S. Seno, M. Arikata, H. Sakurai et al.,
sphenopalatine and posterior nasal arteries: Endoscopic ligation of the sphenopalatine
implications for the endoscopic management artery and the maxillary artery for the
of epistaxis, American Journal of Rhinology, treatment of intractable posterior epistaxis,
vol. 17, no. 1, pp. 6366, 2003. [22] H.-M. American Journal
Lee, S. H. Lee, and S. J. Hwang, A giant of Rhinology and Allergy, vol. 23, no. 2, pp.
pyogenic granuloma in the nasal cavity 197199, 2009.
caused by nasal packing, European Archives [34] G. C. Isaacson and J. M. Monge, Arterial
of Oto-Rhino-Laryngology, vol. 259, no. 5, pp. ligation for pediatric epistaxis: developmental
231233, 2002. anatomy, The American Journal of
[23] R. Moorthy, R. Anand, M. Prior, and P. M. Rhinology, vol. 17, no. 2, pp. 7581, 2003.
cott, Inferior turbinate necrosis following [35] D. A. Klotz, M. R.Winkle, J. Richmon, and
endoscopic sphenopalatine artery ligation, A. S.Hengerer, Surgicalmanagement of
OtolaryngologyHead and Neck Surgery, vol. posterior epistaxis: a changing paradigm,
129, no. 1, pp. 159160, 2003. Laryngoscope, vol. 112, no. 9, pp. 1577
[24] O. Edkins, C. T. Nyamarebvu, and D. 1582, 2002.
Lubbe, Cerebrospinal fluid rhinorrhoea after [36] R. Budrovich and R. Saetti, Microscopic
nasal packing for epistaxis: case report, The and endoscopic ligature of the
Journal of laryngology & Otology, vol. 126, sphenopalatine artery, Laryngoscope, vol.
no. 4, pp. 421 102, part 1, no. 12, pp. 13911394, 1992.
423, 2012. [37] J. R. Chandler and A. J. Serrins,
[25] B. Agreda, A. Urpegui, J. Ignacio Transantral ligation of the internalmaxillary
Alfonso, and H. Valles, Ligation of the artery for epistaxis, Laryngoscope, vol.
sphenopalatine artery in posterior epistaxis. 75,pp. 11511159, 1965.
Retrospective study of 50 atients, Acta [38] B. W. Pearson, R. G. MacKenzie, and W.
Otorrinolaringologica Espanola, vol. 62, no. 3, S. Goodman, The anatomical basis of
pp. 194198, 2011. transantral ligation of themaxillary artery in
[26] B. Schaitkin, M. Strauss, and J. R. Houck, severe epistaxis, The Laryngoscope, vol. 79,
Epistaxis: medical versus surgical therapy: a no. 5, pp. 969984,
comparison of efficacy, complications, and 1969.
economic considerations, Laryngoscope, vol. [39] T. Kamani, S. Shaw, A. Ali, G. Manjaly,
97, no. 12, pp. 13921396, 1987. and M. Jeffree, Sphenopalatine-
[27] A. Gallo, R.Moi, A.Minni,M. Simonelli, and sphenopalatine anastomosis: a unique cause
M. De Vincentiis, Otorhinolaryngology of intractable epistaxis, safely treated with
emergency unit care: the experience of a microcatheter
large university hospital in Italy, Ear, Nose embolization: a case report, Journal of
andThroat Journal, vol. 79, no. 3, pp. 155 Medical Case Reports, vol. 1, article 125,
160, 2000. 2007.
[28] A. Thakar and C. J. Sharan, Endoscopic [40] R. Metson and R. Lane, Internal
sphenopalatine artery ligation for refractory maxillary artery ligation for epistaxis: an
posterior epistaxis, Indian Journal of analysis of failures, Laryngoscope, vol. 98,
Otolaryngology and Head and Neck Surgery, no. 7, pp. 760764, 1988.
vol. 57, no. 3, pp. 215218, 2005. [41] P. Spafford and J. S. Durham, Epistaxis:
[29] J. Sokoloff, I. Wickbom, D. McDonald, F. efficacy of arterial ligation and long-
Brahme, T. C. Goergen, and L. E. Goldberger, termoutcome, Journal ofOtolaryngology, vol.
Therapeutic percutaneous embolization in 21, no. 4, pp. 252256, 1992.
intractable epistaxis, Radiology, vol. 111, [42] G. Weddell, R. G. MacBeth, H. S. Sharp,
no. 2, and C. A. Calvert, The surgical treatment of
pp. 285287, 1974. severe epistaxis in relation to the ethmoidal
[30] J. P. Bent III and B. P. Wood, arteries, British Journal of Surgery, vol. 33,
Complications resulting from treatment of no. 132,
severe posterior epistaxis, Journal of pp. 387392, 1946.
Laryngology and Otology, vol. 113, no. 3, pp. [43] B. C. A. Filho, C. D. Pinheiro-Neto, H. F.
252254, 1999. Ramos, R. L. Voegels, and L.U. Sennes,
[31] N. P. Christensen, D. S. Smith, S. L. Endoscopic ligation of the anterior ethmoidal
Barnwell, and M. K. Wax, Arterial artery: a cadaver dissection study, Brazilian
embolization in the management of posterior Journal of Otorhinolaryngology, vol. 77, no. 1,
pp. 3338, 2011.
[44] S. R. Floreani, S. B. Nair, M. C. [55] J. M. Prades, A. Asanau, A. P.
Switajewski, and P.-J.Wormald, Endoscopic Timoshenko, M. B. Faye, and C. Martin,
anterior ethmoidal artery ligation: a cadaver Surgical anatomy of the sphenopalatine
study, Laryngoscope, vol. 116, no. 7, pp. foramen and its arterial content, Surgical
12631267, 2006. and Radiologic Anatomy, vol. 30, no. 7, pp.
[45] J. A. Kirchner, E. Yanagisawa, and E. S. 583587, 2008.
Crelin Jr., Surgical anatomy of the ethmoidal [56] M. J.Wareing and N. D. Padgham,
arteries. A laboratory study of 150 orbits, Osteologic classification of the
Archives of Otolaryngology, vol. 74, pp. 382 sphenopalatine foramen, laryngoscope, vol.
386, 1961. 108, no. 1, part 1, pp. 125127, 1998.
[46] S. Basak, C. Z. Karaman, A. Akdilli, C. [57] S. Kumar, A. Shetty, J. Rockey, and E.
Mutlu, O. Odabasi, and G. Erpek, Evaluation Nilssen, Contemporary surgical treatment of
of some important anatomical variations and epistaxis. What is the evidence for
dangerous areas of the paranasal sinuses by sphenopalatine artery ligation? Clinical
CT for safer Otolaryngology and Allied Sciences, vol. 28,
endonasal surgery, Rhinology, vol. 36, no. 4, no. 4, pp. 360363, 2003.
pp. 162167, 1998. [58] R. Midilli, M. Orhan, C. Y. Saylam, S.
[47] W. C. Lee, P. K. M. Ku, and C. A. van Akyildiz, S. Gode, and B. Karci, Anatomic
Hasselt, New guidelines for endoscopic variations of sphenopalatine artery and
localization of the anterior ethmoidal artery: a minimally invasive surgical cauterization
cadaveric study, Laryngoscope, vol. 110, no. procedure, American Journal of Rhinology
7, pp. 11731178, and Allergy, vol. 23, no. 6, pp. e38e41,
2000. 2009.
[48] T. J.Woolford and N. S. Jones, [59] A.Moshaver, J. R. Harris, R. Liu, C.
Endoscopic ligation of anterior ethmoidal Diamond, and H. Seikaly, Early operative
artery in treatment of epistaxis, The Journal intervention versus conventional treatment in
of Laryngology & Otology, vol. 114, no. 11, epistaxis: randomized prospective trial,
pp. 858860, 2000. Journal of Otolaryngology, vol. 33, no. 3, pp.
[49] E. Vis and H. van den Berge, Treatment 185188, 2004.
of epistaxis without the use of nasal packing, [60] R.C.Dedhia, S. S. Desai, K. J. Smith et al.,
a patient study, Rhinology, vol. 49, no. 5, pp. Cost-effectiveness of endoscopic
600604, 2011. sphenopalatine artery ligation versus nasal
[50] L. Wang and D. H. Vogel, Posterior packing as first-line treatment for posterior
epistaxis: comparison of treatment, epistaxis, International
OtolaryngologyHead andNeck Surgery, vol. Forum of Allergy & Rhinology, vol. 3, no. 7,
89,no 6, pp. 10011006, 1981. pp. 563566, 2013.
[51] F. G. M. Padua and R. L. Voegels, [61] L. Rudmik and R. Leung, Cost-
Severe posterior epistaxisendoscopic effectiveness analysis of endoscopic
surgical anatomy, Laryngoscope, vol. 118, sphenopalatine artery ligation vs arterial
no. 1, pp. 156161, 2008. embolization for intractable epistaxis, JAMA
[52] D. D. Pothier, S. MacKeith, and R. Youngs, OtolaryngologyHead & Neck
Sphenopalatine artery ligation: technical Surgery, vol. 140, no. 9, pp. 802808, 2014.
note, Journal of Laryngology and Otology, [62] R. M. Leung, T. L. Smith, and L. Rudmik,
vol. 119, no. 10, pp. 810812, 2005. Developing a laddered algorithm for the
[53] S. A.Nouraei, T.Maani,D.Hajioff, H. A. management of intractable epistaxis: a risk
Saleh, and I. S.Mackay, Outcome of analysis, JAMA OtolaryngologyHead &
endoscopic phenopalatine artery occlusion Neck Surgery, vol. 141, no. 5, pp. 405409,
for intractable epistaxis: a 10-year 2015.
experience, Laryngoscope, vol. 117, no. 8, [63] L. Rudmik and T. L. Smith, Management
pp. 14521456, 2007. of intractable spontaneous epistaxis,
[54] H. Y. Lee, H.-U. Kim, S.-S. Kim et al., American Journal of Rhinology, vol. 26, no. 1,
Surgical anatomy of the sphenopalatine pp. 5560, 2012.
artery in lateral nasal wall, Laryngoscope,
vol. 112, no. 10, pp. 18131818, 2002.