Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PANDUAN KEWENANGAN KLINIS

A. Kewenangan klinis (clinical privilege)


1. Pengertian
Kewenangan klinik (clinical privilege) tenaga keperawatan adalah kewenangan yang
diberikan oleh Rumah Sakit kepada tenaga keperawatan untuk melakukan asuhan keperawatan
dalam lingkungan rumah sakit untuk suatu periode tertentu yang dilaksanakan berdasarkan
penugasan klinis. Penugasan klinis adalah penugasan kepala/direktur rumah sakit kepada tenaga
keperawatan untuk melakukan asuhan keperawatan atau asuhan kebidanan di rumah sakit tersebut
berdasarkan daftar kewenangan klinis yang telah ditetapkan baginya.
Kewenangan klinis diberikan kepada perawat dengan tujuan agar tidak menimbulkan konflik di
antara tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan lain dapat merasa bahwa lahan pekerjaan yang
dimilikinya di campuri atau diambil alih oleh pihak lain. Konflik yang timbul tentunya akan
mempengaruhi kualitas pelayanan dari perawat dan rumah sakit yang bersangkutan.
Dengan diaturnya kewenangan klilnis tersebut maka setiap perawat akan mempunyai batas yang
jelas dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien. Pemberian kewenangan klinis juga
bertujuan untuk melindungi keselamatan pasien dengan menjamin bahwa tenaga keperawatn yang
memberikan asuhan keperawatan dan kebidanan memilki kompetensi dan kewenangan yang jelas.

2. Kredensial
Pemberian kewenangan klinis (clinical privilege) kepada seorang perawat dilakukan
dengan melakukan suatu proses yang disebut kredensial. Kredensial adalah suatu proses evaluasi
terhadap tenaga keperawatan untuk menentukan kelayakan pemberian kewenangan klinis. Proses
kredensial mencakup tahapan review, verifikasi dan evaluasi terhadap dokumen- dokumen yang
berhubungan dengan kinerja tenaga keperawatan.
Proses kredensial dilakukan oleh sub komite kredensial di komite keperawatan rumah
sakit. Komite keperawatan adalah wadah non-struktural rumah sakit yang mempunyai fungsi
utama mempertahankan dan meningkatkan profesionalisme tenaga keperawatan melalui
mekanisme kredensial, penjagaan mutu profesi dan pemelliharaan etika dan disiplin profesi
sehingga pelayanan asuhan keperawatan dan asuhan kebidanan kepada pasien diberikan secara
benar ( ilmiah ) sesaui standar ynag baik (etis) sesuai kode etik profesi serta hanya diberikan oleh
tenaga keperawatan yang komponen dengan kewenangan yang jelas
Komite keperawatan merupakan kelompok profesi tenaga keperawatan yang secara
struktur fungsional berada di bawah kepala/direktur rumah sakit dan bertanggungjawab langsung
kepada kepala/direktur rumah sakit. Komite keperawatan dibentuk melalui mekanisme yang
disepakati dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku
Komite keperawatan hendaknya dapat memberikan jaminan kepada kepala/ direktur
rumah sakit, bahwa tenaga keperawatan memiliki kompetensi kerja yang tinggi sesuai standar
pelayanan dan berperilaku baik sesuai etika profesinya. Komite keperawatan bertugas membantu
kepala /direktur rumah sakit dalam melakukan kredensial, pembinaan disiplin dan etika profesi
tenaga keperawatan serta pengembangan profesional berkelanjtutan (Permenkes,2011)
Kredensial secara umum merupakan istilah yang memayungi lisensi, sertifikasi,
akreditasi dan pendaftaran/registrasi yaitu :

a. Sertifikasi

Sertifikasi kompetensi adalah surat tanda pengakuan terhadap kompetensi orang


seorang tenaga kesehatan untuk dapat menjalankan praktik dam atau pekerjaan
profesinya diseluruh Indonesia setelah lulus uji komptensi (PMK 1796, pasal I).

Untuk memperoleh sertifikasi kompetensi, sebelumnya dilakukan uji komptensi.


Uji kompetensi adalah suatu proses untuk mengukur pengetahuan, keterampilan dan
sikap tenaga kesehatan sesuai dengan standar profesi ( PMK 1796, pasal I)

Pelaksanaan uji kompetensi dilaksanakan oleh MTKP ( Majelis Tenaga


Kesehatan Propinsi ). Setelah dinyatakan lulus, yang bersangkutan akan memperoleh
Sertifikat Kompetensi yang ditetapkan oleh ketua MTKP.

b. Registrasi
Registrasi adalah pencatatan resmi terhadap tenaga kesehatan yang telah
memiliki sertifikat kompetensi dan telah memenuhi kualifikasi tertentu serta diakui
secara hukum untuk menjalankan praktik dan atau pekerjaan profesinya ( PMK 1796,
pasal I).
Surat Tanda Registrasi (STR) adalah bukti tertulis yang diberikan oleh
pemerintah kepada tenaga kesehatan yang diregistrasi setelah memiliki sertifikat
kompetensi. Penjelasan tersebut tertuang dalam Permenkes RI No. 1796 2011, pasal 9)

c. Akreditasi
Aspek kredensial yamg terkait dengan akreditasi meliputi ijasah yang
dikeluarkan oleh institusi pendidikan. Hal ini berhubungan dengan persyaratan untuk
memperoleh STR dimana salah satu syaratnya memiliki ijasah. Ijasah tersebut akan
diberikan atau dikeluarkan oleh institusi pendidikan yang telah terakreditasi oleh Badan
Akreditas Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).

3. Tahapan Pemberian Kewenangan Klinis


Secara garis besar tahapan pemberian kewenangan klinis yang harus diatur lebih lanjut
oleh rumah sakit adalah sebagai berikut :
a. Tenaga keperawatan mengajukan permohonan kewenangan klinis kepada kepalaatau
direktur rumah sakit dengan mengisi formulir daftar rincian kewenangan klinis yang telah
disediakan rumah sakit dengan dilengkapi bahan-bahan pendukung.
b. Berkas permohonan tenaga perawat yang telah lengkap disampaikan oleh kepala atau
direktur rumah sakit kepada komite keperawatan.
c. Kajian terhadap formulir daftar rincian kewenangan klinis yang telah diisi oleh
permohonan.
d. Dalam melakukan kajian sub komite kredensial dapat membentuk panel atau panitia ad-
hoc dengan melibatkan mitra bestari dari disiplin yang sesuai dengan kewenangan klinis
yang diminta berdasarkan buku putih (white paper ).
e. Subkomite kredensial melakukan seleksi terhadap anggota panel atau panitia ad-hoc
dengan mempertimbangkan reputasi., adanya konflik kepentingan, bidang disiplin dan
kompetensi yang bersangkutan.
f. Pengkajian oleh subkomite kredensial meliputi elemen :
1) Kompetensi
a) Berbagai area kompetensi sesuai standar kompetensi yang disahkan oleh lembaga
pemerintah yang berwenang untuk itu
b) Kognitif
c) Afektif
d) Psikomotor
2) Kompetensi fisik
3) Kompetensi mental/perilaku
4) Perilaku etis (ethical standing)
g. Kewenangan klinis yang diberikan mencakup derajat kompetensi dan cakupan praktik
h. Daftar rincian kewenangan klinis (delineation of clinical privilege) diperoleh dengan
cara:
1) Menyusun daftar kewenangan klinis dilakukan dengan meminta masukan dari setiap Kelompok
Staf Medis.
2) Mengkaji kewenangan klinis bagi Pemohon dengan menggunakan daftar rincian kewenangan
klinis (delineation of clinical privilege).
3) Mengkaji ulang daftar rincian kewenangan klinis bagi tenaga perawat dilakukan secara periodik.
i. Rekomendasi pemberian kewenangan klinis dilakukan oleh komite keperawatan
berdasarkan masukan dari subkomite kredensial.
j. Subkomite kredensial melakukan rekredensial bagi setiap perawat yang mengajukan
permohonan pada saat berakhirnya masa berlaku surat penugasan klinis (clinical
appointment ), dengan rekomendasi berupa :
1) Kewenangan klinis yang bersangkutan dilanjutkan
2) Kewenangan klinis yang bersangkutan ditambah
3) Kewenangan klinis yang bersangkutan dikurangi
4) Kewenangan klinis yang bersangkutan dibekukan untuk waktu tertentu
5) Kewenangan klinis yang bersangkutan diubah/dimodifikasi
6) Kewenangan klinis yang bersangkutan diakhiri
k. Bagi perawat yang ingin memulihkan kewenangan klinis yang dikurangi atau menambah
kewenangan kllinis yang dimiliki dapat mengajukan permohonan kepada komite
keperawatan melalui kepala/direktur rumah sakit. Selanjutnya, komite keperawatan
menyelenggarakan pembinaan profesi antara lain melalui mekanisme pendampingan
(proctoring).
l. Kriteria yang harus dipertimbangkan dalam memberikan rekomendasi kewenangan klinis
:
1) Pendidikan
a) Lulus dari sekolah keperawatan yang terakreditasi atau dari sekolah
keperawatan luar negeri dan sudah diregistrasi
b) Menyelesaikan program pendidikan konsultasi
2) Perizinan (lisensi)
a) Memiliki surat tanda registrasi yang sesuai dengan bidang profesi
b) Memiliki izin praktek dari dinas kesehatan setempat yang masih berlaku
3) Kegiatan penjagaan mutu profesi
a) Menjadi anggota organisasi yang melakukan penilaian kompetensi bagi
anggotanya
b) Berpartisipasi aktif dalam proses evaluasi mutu klinis
4) Kualifikasi personal
a) Riwayat disiplin dan etika profesi
b) Keanggotaan dalam perhimpunan profesi yang diakui
c) Keadaan sehat jasmani dan mental, termasuk tidak terlibat penggunaan
obat terlarang dan alcohol, yang dapat mempengaruhi kualitas pelayanan
terhadap pasien.
d) Riwayat keterlibatan dalam tindakan kekerasan
e) Memiliki asuransi proteksi profesi (professional indemnity insurance )
5) Pengalaman dibidang keprofesian
a) Riwayat tempat pelaksanaan praktik profesi
b) Riwayat tuntutan medis atau klaim oleh pasien selama menjalankan
profesi
m. Berakhirnya kewenangan klinis
Kewenangan klinis akan berakhir bila surat penugasan klinis (clinical
appointment) habis masa berlakunya atau dicabut oleh kepala atau direktur rumah sakit.
Surat penugasan kllinis untuk setiap tenaga perawat memiliki masa berlaku untuk periode
tertentu, misalnya dua tahun. Pada akhir masa berlakunya surat penugasan tersebut rumah
sakit harus melakukan rekredensial terhadap tenaga perawat yang bersangkutan. Proses
rekredensial ini lebih sderhana dibandingkan dengan proses kredensial awal
sebagaimana diuraikan di atas karena rumah sakit telah memiliki informasi setiap staf
medis yang melakukan pelayanan medis di rumah sakit tertentu.

n. Pencabutan, perubahan/modifikasi dan pemberian kembali kewenangan klinis.


Pertimbangan pencabutan kewenangan klinis tertentu oleh kepala atau direktur
rumah sakit didasarkan pada kinerja profesi dilapangan, misalnya perawat yang
bersangkutan terganggu kesehatannya, baik fisik maupun mental. Selain itu, pencabutan
kewenangan klinis juga dapat dilakukan oleh bila terjadi kecelakaan kerja yang diduga
karena inkompetensi atau karena tindakan disiplin dari komite keperawatan. Namun
demikian, kewenangan klinis yang dicabut tersebut dapat diberikan kembali bila tenaga
perawat tersebut dianggap telah pullih kompetensinya. Dalam hal kewenangan klinis
tersebut seorang perawat diakhiri, komite medic akan meminta subkomite mutu profesi
untuk melakukan berbagai upaya pembinaan agar kompetensi yang bersangkutan pulih
kembali. Komite keperwatan dapat merekomendasikan kepada kepala/direktur rumah
sakit pemberian kembali kewenangan klinis tertentu setelah mealui proses pembinaan.

B. Perawat

1. Pengertian
Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan professional yang merupakan bagian
integral dari pelayanan kesehatan, didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan ditujukan kepada
individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat baik sehat maupun sakit yang mencakup seluruh
proses kehidupan manusia. Pelayanan keperawatan adalah bentuk pelayanan fisiologis,
psikologis, sosial, spiritual dan cultural yang diberikan kepada kllien karena ketidakmampuan ,
ketidakmauan dan ketidaktahuan klien dalam memenuhi kebutuhan dasar yang terganggu baik
actual maupun potensial.
Fokus keperawatan adalah respons klien tehadap penyakit, pengobatan dan lingkungan.
Tanggung jawab perawat yang sangat mendasar adalah meningkatkan kesehatan, mencegah
penyakit, memulihkan dan mengurangi penderitaan. Tanggung jawab ini bersifat universal.
Perawat adalah seorang yang telah menyelesaikan program pendidikan keperawatan baik
didalam maupun luar negeri yang diakui oleh pemerintah Republik Indonesia, teregister dan
diberi kewenangan untuk melaksanakan praktik keperawatan sesuai dengan perundang-undangan.
Perawat professional adalah tenaga professional yang mandiri, bekerja secara otonom dan
berkolaborasi dengan yang lain dan telah menyelesaikan program pendidikan profesi
keperawatan, terdiri ners generalis, ners spesialis dan ners konsultan. Jika telah lulus uji
kompetensi yang dilakukan oleh badan regulatori yang bersifat otonom, selanjutnya disebut
Registered Nurse (RN). Menurut PPNI perawat professional adalah tenaga keperawatan ( ahli
madya, ners, ners spesialis, ners konsultan).
Perawat vokasional adalah seorang yang mempunyai kewenangan untuk melakukan
praktik dengan batasan tertentu dibawah supervisi langsung maupun tidak langsung oleh perawat
professional dengan sebutan Licensed Vocational Nurse (LVN). Menurut PPNI perawat
vokasional adalah adalah seorang yang telah menyelesaikan pendidikan Diploma III Keperawatan
yang diakui pemerintah dan diberi tugas penuh oleh pejabat yang berwenang.

2. Standar Kompetensi Perawat Indonesia


Standar diartikan sebagai ukuran atau patokan yang disespskati, sedangkan kompetensi
dapat diartika sebagai kemampuan seseorang yang dapat terobservasi mencakup atas
pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam menyelesaikan suatu pekerjaan atau tugas dengan
standar kinerja (performance ) yang ditetapkan.
Standar kompetensi perawat merefleksikan atas kompetensi yang diharapkan dimiliki
oleh individu yang akan bekerja dibidang pelayanan keperawatan. Menghadapi era globalisas,
standar tersebut harus ekuivalendengan standar-standar yang berlaku pada sector industri
kesehatan dinegara lain serta dapat berlaku secara internasional. Standar kompetensi disusun
dengan tujuan:
a. Bagi lembaga pendidikan dan pelatihan keperawatan
1) Memberikan informasi dan acuan pengembangan program dan kurikulum
pendidikan keperawatan.
2) Memberikan informasi dan acuan pengembangan program dan kurikulum
pelatihan keperawatan
b. Bagi dunia usaha/industry kesehatan dan pengguna, sebagai acuan dalam
1) Penetapan uraian tugas bagi tenaga keperawatan
2) Rekruitmen tenaga perawat
3) Penilaian unjuk rasa
4) Pengembangan program pelatihan yang spesifik

c. Bagi institusi penyelenggaraan pengujian dan sertifikasi perawat


1) Sebagai acuan dalam merumuskan paket-paket program sertifikasi sesuai dengan
kualifikasi dan jenis.

3. Struktur Organisasi Perawat Diruangan


Berdasarkan modal praktek keperawatan professional (MPKP), pengorganisasian
diruangan menggunakan pendekatan system atau metode penugasan tim. Tenaga perawat
diorganisasikan dengan menggunakan metode penugasan perawat primer dan tim keperawatan
yang dimodifikasi, Perawat dibagi dalam tim sesuai dengan jumlah pasien diruangan. Jumlah
pasien untuk tiap tim 8-10 orang dan jumlah perawat antara 6-10 orang, untuk itu akan dibuat
struktur organisasi daftar dinas dan daftar pasien.
Struktur organisasi ruang MPKP menggunakan system penugasan tim-primer
keperawatan. Ruang MPKP dipimpin oleh kepala ruang yang membawahi dua atau lebih ketua
tim. Ketua tim berperan sebagai perawat primer membawahi beberapa perawat pelaksana yang
memberikan asuhan keperawatan secara menyeluruh kepada sekelompok klien.

Uraian tugas masing-masing perawat diruangan menurut MPKP antara lain :

a. Kepala Ruangan
1) Membuat rencana tahunan, bulanan, mingguan dan harian
2) Mengorganisir pembagian tim dan pasien
3) Memberi pengarahan kepada seluruh kegiatan yang ada di ruangannya
4) Melakukan pengawasan terhadap seluruh kegiatan yang ada di ruangannya
5) Memfasilitasi kolaborasi tim dengan anggota tim kesehatan yang lainnya
6) Melakukan audit asuhan dan pelayanan keperawatan di ruangannya, kemudian
menindak lanjutinya
7) Mewakili MPKP dalam koordinasi dengan unit kerja lainnya

b. Wakil Kepala Ruangan


1) Sebagai pembantu utama diruangan dalam melaksanakan tugas ketatausahaan, mengawasi
serta mengendalikan keperawatan diruangan yang menjadi tanggung jawabnya
2) Mewakili kepala rungan bila kepala ruangan berhalangan

c. Perawat Primer (Primary Nurse)


1) Membuat rencana tahunan, bulanan, mingguan dan harian
2) Mengatur jadwal dinas timnya yang dikoordinasikan dengan kepala ruangan
3) Melakukan pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi asuhan keperawatan bersama-sama
anggota timnya
4) Memberi pengarahan pada perawat pelaksana tentang pelaksanaan asuhan keperawatan
5) Melakukan kolaborasi dengan tim kesehatan lainnya dalam pelaksanaan asuhan keperawatan
6) Melakukan audit asuhan keperawatan yang menjadi tanggung jawab timnya
7) Melakukan perbaikan pemberian asuhan keperawatan

d. Perawat Asosiet (Associante Nurse )


1) Membuat rencana harian asuhan keperawatan yang menjadi tanggungjawabnya
2) Melaksanakan asuhan keperawatan dengan melakukan interaksi dengan pasien
dan keluarganya
3) Melaporkan perkembangan kondisi pasien kepada ketua tim

C. Implementasi Kebijakan

1. Pengertian
Terdapat beberapa konsep mengenai implementasi kebijakan yang dikemukakan oleh
beberapa ahli. Secara etimologis, implentasi menurut kamus Webster yang dikutip oleh Solichin
Abdul Wahab adalah sebagai berikut :
Konsep implementasi berasal dari Bahasa Inggris yaitu to implement. Dalam kamus besar
Webster, to implement (mengimplementasikan) yang berati to give e
ffect to (untuk menimbulkan dampak/akibat terhadap sesuatu) (Wahab,2016)
Pengertian implementasi selain menurut Webster diatas dijelaskan juga menurut Van
Meter dan Van Horn dalam Wahab bahwa implementasi adalah tindakan-tindakan yang dilakukan
baik oleh individu-individu/pejabat-pejabat maupun kelompok-kelompok pemerintah atau
swastayang diarahkan pada tercapainya tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam keputusan
kebijakan (Wahab, 2006).
Definisi lain juga diutarakan oleh Daniel Mazmanian dan Paul Sabatier yang menjelaskan
makna implementasi dengan mengatakan bahwa hakikat utama implementasi kebijakan adalah
memahami apa yang seharusnya terjadi sesudah suatu program dinyatakan berlaku atau
dirumuskan. Pemahaman tersebut mencakup usaha-usaha untuk mengadministrasikannya dan
menimbulkan dampak nyata pada masyarakat atau kejadian-kejadian (Widodo, 2010).
Berdasarkan beberapa definisi yang disampaikan para ahli diatas, disimpulkan bahwa
implementasi merupakan suatu kegiatan atau usaha yang dilakukan oleh pelaksana kebijakan
dengan harapan akan memperoleh suatu hasil yang sesuai denagn tujuan atau sasaran dari suatu
kebijakan itu sendiri.

2. Factor-Faktor Yang Mempengaruhi Implementasi Kebijakan


Untuk mengkaji lebih baik suatu implementasi kebijakan public maka perlu diketahui
variabel dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Untuk itu, diperlukan suatu model kebijakan
guna menyederhanakan pemahaman konsep suatu implentasi kebijakan. Terdapat bnayak model
yang dapat dipakai untuk menganalisis sebuah implementasi kebijakan, salah satunya adalah
model implementasi yang dikemukakan oleh George Edward III.
Edward melihat implementasi kebijakan sebagai suatu proses yang dinamis, dimana
terdapat banyak factor yang saling berinteraksi dan mempengaruhi implementasi kebijakan.
Faktor-faktor tersebut perlu ditampilkan guna mengetahui bagaimana pengaruh faktor-faktor
tersebut terhadap implementasi. Faktor-faktor tersebut yaitu komunikasi (communications),
sumber daya (resources), sikap (dispositions dan attitudes) dan struktur birokrasi (bureaucratic
structure).

a. Komunikasi
Implentasi akan berjalan efektif apabila ukuran-ukuran dan tujuan-tujuan
kebijakan dipahami oleh individu-individu yang bertanggungjawab dalam pencapaian
tujuan kebijakan. Kejelasan ukuran dan tujuan kebijakan dengan demikian perlu
dikomunikasikan secara tepat dengan para pelaksana. Konsistensi atau keseragaman dari
ukuran dasar dan tujuan perlu dikomunikasikan sehingga implementers mengetahui
secara tepat ukkuran maupun tujuan kebijakan itu.
Komunikasi dalam organisasi merupakan suatu proses yang amat kompleks dan
rumit. Sumber informasi yang berbeda dapat melahirkan interpretasi yang berbeda pula.
Agar implementasi berjalan efektif, siapa yang bertanggungjawab melaksanakan sebuah
keputusan harus mengetahui apakah mereka dapat melakukannya.
Sesungguhnya implementasi kebijakan harus diterima oleh semua personil dan
harus mengerti secara jelas dan akurat mengenai maksud dan tujuan kebijakan. Jika para
actor pembuat kebijakan telah melihat ketidakjelasan spesifikasi kebijakan sebenarnnya
mereka tidak mengerti apa sesungguhnya apa yang akan diarahkan. Para implementor
kebijakan bingung dengan apa yang akan mereka lakukan sehingga jika dipaksakan tidak
akan mendapatkan hasil yang optimal. Tidak cukupnya komunikasi kepada para
implementor secara serius mempengaruhi implementasi kebijakan.

b. Sumber Daya (resources)


Komponen sumber daya ini meliputi jumlah staf, keahlian dari para pelaksana,
informasi yang relevan dan cukup untuk mengimplementasikan kebijakan dan
pemenuhan sumber-sumber terkait dalam pelaksanaan program, adanya kewenangan
yang menjamin bahwa program dapat diarahkan sebagaimana yang diharapkan, serta
adanya fasilitas-fasilitas pendukung yang dapat dipakai untuk melakukan kegiatan
program seperti dana dan sarana prasarana.
Sumberdaya manusia yang tidak memadai(jumlah dan kemampuan) berakibat
tidak dapat dilaksanakannya program secara sempurna karena mereka tidak bisa
melakukan pengawasan dengan baik. Jika jumlah staf pelaksana kebijakan terbatas maka
hal harus dilakukan meningkatkan kemampuan/keterampilan para pelaksana untuk
melakukan program.
Untuk itu perlu adanya manajemen SDM yang baik agar dapat meningkatkan
kinerja program. Informasi sumber daya penting bagi pelaksana kebijakan. Ada dua
bentuk informasi yaitu informasi mengenai bagaimana cara menyelesaikan
kebijakan/program serta bagi pelaksana harus mengetahui tindakan apa yang harus
dilakukan dan informasi tentang data pendukung kepada peraturan pemerintah dan
undang-undang.
Sumberdaya lainnyang juga penting adalah kewenangan untuk menentukan
bagaimana program dilakukan, kewenangan unutk membelanjakan/mengatur keuangan,
baik penyediaan uang, pengadaan staf, maupun pengadaan supervisor. Fasilitas yang
diperlukan untuk melaksanakan kebijakan/programharus terpenuhi seperti kantor,
perlalatan serta dana yang mencukupi.

c. Sikap (dispositions dan attitudes)


Salah satu factor yang mempengaruhi efektifitas implementasi kebijakan adalah
sikap implementor. Jika implementor setuju dengan bagian-bagian isi dari kebijakanmaka
mereka akan melaksanakan dengan senang hati tetapi jika pandangan mereka berbeda
dengan pembuat kebijakan maka proses implementasi akan mengalami banyak maslah.
Disamping itu dukungan dari pejabat pelaksana sangat dibutuhkan dalam mencapai
sasaran program.
Wujud dari dukungan pimpinan ini diantaranya adalah menempatkan kebijakan
menjadi prioritas program dan penyediaan dana yang cukup guna memberikan insentif
bagi para pelaksana program agar mereka mendukung dan bekerja secara total dalam
melaksanakan kebijakan/program.

d. Struktur Birokrasi (bureaucratic structure)


membahas badan pelaksana suatu kebijakan, tidak dapat dilepaskan dari struktur
birokrasi. Struktur birokrasi adalah karakteristik, norma-norma dan pola-pola hubungan
yang terjadi berulang-ulang dalam badan-badan eksekutif yang mempunyai hubungan
baik potensial maupun nyata dengan apa yang mereka miliki dalam menjalankan
kebijakan. Kebijakan yang kompleks membutuhkan kerjasama banyak orang. Unsure
yang mungkin berpengaruh terhadap suatu organisasi dalam implementasi kebijakan
diantaranya tingkat pengawasan hierarkhis terhadap keputusan-keputusan sub unit dan
proses-proses dalam badan pelaksana.