Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH

SUPOSUTORIA DAN SPROI


Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Farmakologi
Dosen : Asep Edi Sukmayadi.,M.Farm.Apt

Disusun Oleh :
Kelompok 3
1. Dina Mardiana 10516033
2. Dini Julia N 10516035
3. Dewi Anggraeni 10516026
4. Alma Sandiana 10516003
5. Ayu Aprianti 10516016
6. Devi Yuki 10516025
7. Ega Sularso Dewo 10516037

KELAS : IA KEPERAWATAN

POLITEKNIK KESEHATAN TNI AU


CIUMBULEUIT BANDUNG
DIII KEPERAWATAN
2017
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur Penulis Panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa
karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat
menyusun makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini membahas Tentang
Makalah Supposutoria Dan Spray
Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapat tantangan dan
hambatan akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu bisa
teratasi. Olehnya itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini,
semoga bantuannya mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik
dari bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik konstruktif dari pembaca
sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita sekalian.

Bandung, Maret 2017

Penyusun

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
Bab I Pendahuluan 1
1.1. Latar Belakang 1
1.2. Tujuan 1
Bab II Pembahasan 3
2.1 Bentuk Bentuk Obat 3
A. Obat Suppositoria 3
B. Obat Sproi 20
Bab III Penutup 23
3.1 Kesimpulan 23
3.2 Saran 23
Daftar Pustaka

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Obat tersedia dalam berbagai bentuk atau preparat. Bentuk obat
menentukan rute obat. Misalnya, kapsul diberikan peroral dan larutan
diberikan perintravena. Komposisi obat dibuat untuk meningkatkan
absorpsi dan metabolisme didalam tubuh. Banyak obat tersedia dalam
beberapa bentuk misalnya, suppositoria, spray, salep, ekstrak dll.
Salep merupakan bentuk dari obat luar untuk mengobati penyakit
yang berhubungan dengan sensitifitas kulit seperti panu. Kurap, gatal-gatal
akibat bakteri (www.google.co.id)
Spray merupakan bentuk obat yang disemprot atau dihisap
kedalam saluran pernafasan dan paru-paru (www.google.co.id) bentuk ini
terutama digunakan untuk sakit pilek, batuk dan asma. Obat ini dirancang
khusus agar reaksinya cepat dan mudah atau praktis untuk digunakan
Ekstrak merupakan bentuk obat yang berasal dari alam berupa
tanaman obat, binatang maupun minereal (phapros). Ekstrak adalah
sediaan kering / cair dibuat untuk mencapai simplisia nabati / hewani
menurut cara yang cocok diluar pengaruh cahaya matahari langsung. Salah
satu obat ekstrak yaitu obat tradisional.
Suposituria Merupakan salah satu obat yang berbentuk padat.
Pemberian obat suppositoria ini bertujuan untuk mendapatkan efek terapi
obat menjadi lunak pada daerah feses atau merangsang buang air besar
(www.google.co.id) pemberian obat suppositoria ini dapat diberikan pada
pasien yang mengalami pandarahan rektal.

1.2. Tujuan
a. Tujuan umum
Tujuan umum penyusunan makalah ini adalah untuk memahami
bentuk-bentuk obat

1
b. Tujuan khusus
Tujuan Khusus penyusunan makalah ini adalah untuk
memahami:
- Obat Suposituria
- Spray

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Bentuk-bentuk Obat


Obat tersedia dalam berbagai bentuk atau preparat. Bentuik obat
menentukan rute obat. Misalnya, kapsul diberikan peroral dan larutan
diberikan perintravena. Komposisi obat dibuat untuk meningkatkan
absorpsi dan metabolisme didalam tubuh. Banyak obat tersedia dalam
beberapa bentuk misalnya, suppositoria, spray, salep, ekstrak dll.
Penggolongan obat tersebut berdasarkan:
a. sediaan padat
b. sediaan setengah padat
c. sediaan cair
ketika memberi obat, perawat harus yakin bahwa ia memberikan obat
dalam bentuk yang benar.

A. Suposituria
Merupakan salah satu obat yang berbentuk padat. Pemberian obat
suppositoria ini bertujuan untuk mendapatkan efek terapi obat menjadi
lunak pada daerah feses atau merangsang buang air besar pemberian obat
suppositoria ini dapat diberikan pada pasien yang mengalami pandarahan
rektal.
Bahan dasar yang digunakan harus dapat larut dalam air atau
melelh pada suhu tubuh. Bahan dasar yang sering digunakan adalah lemak
coklat, polietilenglikol atau lemak tengkawang atau glatin. Berat
suppositoria adalah 3gr untuk orang dewasa dan 2gr untuk anak,
suppositoria disimpan dalam wadah tertutup dan ditempat yang sejuk.
Bentuk torpedo mempunyai keuntungan yaitu bila bagian yang bessar
masuk melalui otot penutup dubur maka suppositoria akan tertarik masuk
dengan sendirinya. Penggunaan obat dalam suppositoria ada keuntungan
dibanding penggunaan obat per os (oral) yaitu:
a. Dapat menghindari terjadi iritasi pada lambung
3
b. Dapat menghindari kerusakan obat akibat enzim pencernaan
c. Memberi efek lebih cepat dari pada penggunaan obat per os.(oral)
Bentuk obat suppositoria rectal berbeda dengan vagina. Bentuk obat
suppositoria rectal lebih tebal dan lonjong seperti terpedo, sedangkan
supositoria vagina berbentuk lebih tipis dan bulat . Mencegah trauma anak
ketika obat dimasukkan. Obat suppositoria rectal mengandung obat yang
memberi efek lokal misalnya meningkatkan defekasi, atau efek sistemik,
misalnya mengurangi rasa mual dan menurunkan suhu tubuh, obat ini
khususnya bermanfaat ketika klien tidak dapat mentoleransi obat oral, obat
suppositoria rectal disimpan didalam lemari es sebelum diberikan.
Ketika berada dalam tubuh, obat ini mencair dan tersebar ke kapiler-
kapiler darah dan bekerja spesifik dengan organ yang dimasukan obat itu,
obat ini berfungsi juga untuk membunuh mikro organisme yang terdapat di
dalamnya.
Selama memberikan obat, perawat harus memasukkan obat
melewati sfingter anal dan menyentuh mukosa rectal. Karena apabila tidak
demikian obat tersebut dapat keluar sebelum obat tersebut larut dan
diabsorpsi mukosa. Obat ini tidak boleh dipaksa masuk kedalam massa
atau materi fasses.

Contoh bentuk obat suppositoria adalah sebagai berikut:


a. ANUSOL
Nama Pabrik : Warner- Labert
Golongan :K
Komposisi :Bismut sugalat 2,25%, Bismut
resorsina 1,75mg, Asam borat 5%,
bismut sublodida 0,0019%,
sengoksida 11%, balsam nikaragam
3%
Indikasi : Rasa sakit kurang enak karena
wasir luar atau dalam, prokitis,
papilitis, ktiptitis, rasa sakit setempat
karena pembedahan anorektal.
4
Dosis : tiap pagi suppositoria waktu hendak
tidur selama 3-6 hari atau sampai
radang berkurang
Kemasan : (HJA) dos 48 Suppositoria
Harga : Rp. 64.900,00

b. ANUSOL HC
Nama pabrik : Warner-Lambert
Golongan :K
Komposisi :Hidrokortison asetat 5mg, bismut
sugalat 64,98mg, bismut resorsina
52,16mg, Bismut sublodida 1 mg,
sengoksida 319,20 mg.
Indikasi : Rasa sakit atau kurang enak
disebabkan wasir akut dan kronik,
gatal-gatal. Dan tidak enak
disebabkan prokititis
Efek samping : terapi berkepanjangan akan
menyebabkan efek sistemik
Dosis :tiap pagi dan hendak tidur malam 1
suppositoria selama 3-6 hari
selanjutnya gunakan anusol biasa
Kemasan : (HJA) dos 12 suppositoria
Harga : Rp. 37.125,00

c. BORRAGINOL-N
Nama pabrik : Takeda
Golongan :K
Komposisi :ekstrak akar litosfemi 0,09mg
(0,18mg), etil aminibenzoat 10mg
(20mg), difenhidramina,
HCl
5
0,25mg(0,5mg) setrimeda 1,25(2,5
mg)
Indikasi :wasir dalam dan luar, wasir yang
disertai pendarahan, luka buka pada
dubur, analprolapse, periproktitis,
gatal-gatal pada dubur
Dosis :untuk anak-anak dapat dilakukan
dengan cara menggosok, masukkan
suppositoriadalam dubur, 3X sehari
pagi siang dan sore hari, pada kasus
yang lebih parah satu kali lagi
sebelum tidur
Kemasan : dos 10 suppositoria, tube 15gr

a. Definisi Suppositoria
Suppositoria adalah sediaan padat yang digunakan melalui dubur,
berbentuk torpedo, dapat melunak, melarut atau meleleh pada suhu tubuh. (Moh.
Anief. 1997)
Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang
diberikan melalui rectal, vagina atau uretra. (Farmakope Indonesia Edisi IV)
Suppositoria adalah sediaan padat yang digunakan melalui dubur, umumnya
berbentuk torpedo, dapat melarut, melunak atau meleleh pada suhu tubuh.
( Farmakope Indonesia Edisi III)
Suppositoria adalah sediaan padat, melunak, melumer dan larut pada suhu
tubuh, digunakan dengan cara menyisipkan ke dalam rectum, berbentuk sesuai
dengan maksud penggunaannya, umumnya berbentuk torpedo. (Formularium
Nasional)
Jadi, suppositoria dapat didefinisikan sebagai suatu sediaan padat yang berbentuk
torpedo yang biasanya digunakan melalui rectum dan dapat juga melalui lubang di
area tubuh, sediaan ini ditujukan pada pasien yang mudah muntah, tidak sadar
6
atau butuh penanganan cepat.
a. Menurut FI edisi III hal 32
Suppositoria adalah sediaan padat yang digunakan melalui dubur,
umumnya berbentuk torpedo, dapat melarut, melunak atau meleleh pada suhu
tubuh.
b. Menurut FI edisi IV hal 16
Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot bentuk, yang
diberikan melalui rektal, vagina atau uretra. Umumnya meleleh, melunak atau
melarut pada suhu tubuh.
c. Menurut RPS 18 th hal 1609
Suppositoria adalah bentuk sediaan padat yang memiliki berat dan
bentuk yang bervariasi, biasanya penggobatan dilakukan dengan dimasukan
dalam rektum, vagina dan uretra. Setelah pemasukan suppositoria akan
menjadi lembut atau lunak, melebur dalam cairan pencernaan.
d. Menurut Parrot hal 382
Suppositoria adalah suatu bentuk unit sediaan yang dimaksudkan untuk
dimasukan kedalam rektum, vagina dan uretra. Suppositoria melebur,
melunak, dan melarut dalam suhu tubuh.
e. Menurut R.Voight hal 281
Suppositoria adalah sediaan bentuk silindris atau kerucut berdosis dan
berbentuk mantap yang ditetapkan untuk dimasukan kedalam rektum, sediaan
ini melebur pada suhu tubuh atau larut dalam lingkungan berair.
f. Menurut FN hal 333
Suppositorium adalah sediaan padat, melunak, melumer dan larut pada
suhu tubuh, digunakan dengan cara menyisipkan kedalam rektum, berbentuk
sesuai dengan maksud penggunaan, umumnya berbentuk terpedo.
g. Menurut Ilmu Meracik Obat hal 158
Suppositoria adalah sediaan padat yang digunakan melalui dubur
berbentuk terpedo, dapat melunak, melarut, atau meleleh pada suhu tubuh.

h. Menurut Ansel hal 576


Suppositoria adalah suatu bentuk sediaan padat yang pemakaianya
7
dengaan cara memasukkan kedalam lubang atau celah dalam tubuh dimana ia
akan melebur, melunak atau larut dan memberikan efek lokal atau sistemik.
i. Menurut Lachman hal 1147
Suppositoria adalah suatu bentuk sediaan padat yang umumnya
dimaksudkan untuk dimasukan kedalam rektum, vagina, dan jarang
digunakan untuk uretra. Suppositoria rektal dan urektal biasanya
menggunakan pembawa yang meleleh, atau melunak pada temperatur tubuh,
sedangkan suppositoria vaginal kadang-kadang disebut pessaries, juga dibuat
dengan tablet kompressi yang hancur dalam cairan tubuh.
j. Menurut Dom Hoover hal 163
Suppositoria adalah sediaan obat padat dengan berbagai ukuran dan
bentuk yang penggunaanya dengan diselipkan kedalam bagian tubuh biasanya
melalui rektum, vagina atau uretra.
k. Menurut Dom Marthin hal 834
Suppositoria adalah sediaan padat yang diberikan melalui bagian tubuh
yakni vagina, rektum, atau uretra.

c. Macam-macam Suppositoria
a. Suppositoria untuk rectum (rectal)
Suppositoria untuk rektum umumnya dimasukkan dengan jari tangan.
Biasanya suppositoria rektum panjangnya 32 mm (1,5 inchi), dan berbentuk
silinder dan kedua ujungnya tajam. Bentuk suppositoria rektum antara lain
bentuk peluru, torpedo atau jari-jari kecil, tergantung kepada bobot jenis bahan
obat dan basis yang digunakan. Beratnya menurut USP sebesar 2 g untuk yang
menggunakan basis oleum cacao (Ansel, 2005).
b. Suppositoria untuk vagina (vaginal)
Suppositoria untuk vagina disebut juga pessarium biasanya berbentuk bola
lonjong atau seperti kerucut, sesuai kompendik resmi beratnya 5 g, apabila
basisnya oleum cacao.

c. Suppositoria untuk saluran urin (uretra)


Suppositoria untuk untuk saluran urin juuga disebut bougie, bentuknya
8
rampiung seperti pensil, gunanya untuk dimasukkan kesaluran urin pria atau
wanita. Suppositoria saluran urin pria bergaris tengah 3-6 mm dengan panjang
140 mm, walaupun ukuran ini masih bervariasi satu dengan yang lainnya.
Apabila basisnya dari oleum cacao beratnya 4 g. Suppositoria untuk saluran
urin wanita panjang dan beratnya dari ukuran untuk pria, panjang 70 mm
dan beratnya 2 g, inipun bila oleum cacao sebagai basisnya.
d. Suppositoia untuk hidung dan telinga
Suppositoia untuk hidung dan telinga yang disebut juga kerucut telinga,
keduanya berbentuk sama dengan suppositoria saluran urin hanya ukuran
panjangnya lebih kecil, biasanya 32 mm. Suppositoria telinga umumnya diolah
dengan suatu basis gelatin yang mengandung gliserin. Seperti dinyatakan
sebelumnya, suppositoria untuk obat hidung dan telinga sekarang jarang
digunakan.
d. Tujuan Penggunaan Supositoria
1. Untuk tujuan lokal, seperti pada pengobatan wasir atau hemoroid dan penyakit
infeksi lainnya. Suppositoria juga dapat digunakan untuk tujuan sistemik
karena dapat diserap oleh membrane mukosa dalam rectum. Hal ini dilakukan
terutama bila penggunaan obat per oral tidak memungkinkan seperti pada
pasien yang mudah muntah atau pingsan.
2. Untuk memperoleh kerja awal yang lebih cepat. Kerja awal akan lebih cepat
karena obat diserap oleh mukosa rektal dan langsung masuk ke dalam sirkulasi
pembuluh darah.
3. Untuk menghindari perusakan obat oleh enzim di dalam saluran gastrointestinal
dan perubahan obat secara biokimia di dalam hati (Syamsuni, 2005).

E. Keuntungan dan Kerugian Supositoria


Keuntungan Supositoria: 9
a. Dapat menghindari terjadinya iritasi pada lambung.
b. Dapat menghindari keruskan obat oleh enzim pencernaan dan asam lambung.
c. Obat dapat masuk langsung kedalam saluran darah sehingga obat dapat
berefek lebih
cepat daripada penggunaan obat peroral.
d. Baik bagi pasien yang mudah muntah atau tidak sadar.

Kerugian Supositoria:
a. Pemakaiannya tidak menyenangkan.
b. Tidak dapat disimpan pada suhu ruang.

F. Persyaratan Supositoria
Sediaan supositoria memiliki persyaratan sebagai berikut:
1. Supositoria sebaiknya melebur dalam beberapa menit pada suhu tubuh atau
melarut
(persyaratan kerja obat).
2. Pembebasan dan responsi obat yang baik.
3. Daya tahan dan daya penyimpanan yang baik (tanpa ketengikan, pewarnaan,
penegerasan, kemantapan bentuk, daya patah yang baik, dan stabilitas yang
memadai
dari bahan obat).
4. Daya serap terhadap cairan lipofil dan hidrofil.

G. Basis supositoria
Sediaan supositoria ketika dimasukkan dalam lubang tubuh akan melebur,
melarut dan terdispersi. Dalam hal ini, basis supositoria memainkan peranan
penting. Maka dari itu basis supositoria harus memenuhi syarat utama, yaitu basis
harus selalu padat dalam suhu ruangan dan akan melebur maupun melunak
dengan mudah pada suhu tubuh sehingga zat aktif atau obat yang dikandungnya
dapat melarut dan didispersikan merata kemudian menghasilkan efek terapi lokal
maupun sistemik. Basis supositoria yang ideal juga harus mempunyai beberapa
10
sifat seperti berikut:
1. Tidak beracun dan tidak menimbulkan iritasi.
2. Dapat bercampur dengan bermacam-macam obat.
3. Stabil dalam penyimpanan, tidak menunjukkan perubahan warna dan bau
serta pemisahan obat.
4. Kadar air mencukupi.
5. Untuk basis lemak, maka bilangan asam, bilangan iodium dan bilangan
penyabunan harus diketahui jelas.

Persayaratan Basis Suppositoria


1. Secara fisiologi netral (tidak menimbulkan rangsangan pada usus, hal ini
dapat disebabkan oleh massa yang tidak fisiologis ataupun tengik, terlalu keras,
juga oleh kasarnya bahan obat yang diracik).
2. Secara kimia netral (tidak tersatukan dengan bahan obat).
3. Tanpa alotropisme (modifikasi yang tidak stabil).
4. Interval yang rendah antara titik lebur dan titik beku (pembekuan dapat
berlangsung cepat dalam cetakan, kontraksibilitas baik, mencegah pendinginan
mendaak dalam cetakan).
5. Interval yang rendah antara titik lebur mengalir denagn titik lebur jernih (ini
dikarenakan untuk kemantapan bentuk dan daya penyimpanan, khususnya
pada suhu tinggi sehingga tetap stabil).

Macam-macam Basis Suppositoria


1. Basis berlemak, contohnya: oleum cacao.
2. Basis lain, pembentuk emulsi dalam minyak: campuran tween dengan gliserin
laurat.
3. Basis yang bercampur atau larut dalam air, contohnya: gliserin-gelatin, PEG
(polietien glikol).

H. Bahan Dasar Supositoria


11
1. Bahan dasar berlemak: oleum cacao
Lemak coklat merupakan trigliserida berwarna kekuninagan, memiliki bau yang
khas dan bersifat polimorf (mempunyai banyak bentuk krital). Jika dipanaskan
pada suhu sektiras 30C akan mulai mencair dan biasanya meleleh sekitar 34-
35C, sedangkan dibawah 30C berupa massa semipadat. Jika suhu
pemanasannya tinggi, lemak coklat akan mencair sempurna seperti minyak dan
akan kehilangan semua inti kristal menstabil.
Keuntungan oleum cacao:
a. Dapat melebur pada suhu tubuh.
b. Dapat memadat pada suhu kamar.
Kerugian oleum cacao:
a. Tidak dapat bercampur dengan cairan sekresi (cairan pengeluaran).
b. Titik leburnya tidak menentu, kadang naik dan kadang turun apabila
ditambahkan dengan bahan tertentu.
c. Meleleh pada udara yang panas.

2. PEG (Polietilenglikol)
PEG merupakan etilenglikol terpolimerisasi dengan bobot molekul antara 300-
6000. Dipasaran terdapat PEG 400 (carbowax 400). PEG 1000 (carbowax 1000),
PEG 1500 (carbowax 1500), PEG 4000 (carbowax 4000), dan PEG 6000
(carbowax 6000). PEG di bawah 1000 berbentuk cair, sedangkan di atas 1000
berbentuk padat lunak seperti malam. Formula PEG yang dipakai sebagai berikut:
1. Bahan dasar tidak berair: PEG 4000 4% (25%) dan PEG 1000 96% (75%).
2. Bahan dasar berair: PEG 1540 30%, PEG 6000 50% dan aqua+obat 20%.
Titik lebur PEG antara 35-63C, tidak meleleh pada suhu tubuh tetapi larut dalam
cairan
sekresi tubuh.
Keuntungan menggunakan PEG sebagai basis supositoria, antara lain:
1. Tidak mengiritasi atau merangsang.
2. Tidak ada kesulitan dengan titik leburnya, jika dibandingkan dengan oleum
cacao.
3. Tetap kontak dengan lapisan mukosa karena tidak meleleh pada suhu tubuh.
Kerugian jika digunakan sebagai basis supositoria, antara lain:
1. Menarik cairan dari jaringan tubuh setelah dimasukkan, sehingga timbul rasa
12
yang
menyengat. Hal ini dapat diatasi dengan cara mencelupkan supositoria ke
dalam air
dahulu sebelum digunakan.
2. Dapat memperpanjang waktu disolusi sehingga menghambat pelepasan obat.
Pembuatan supositoria dengan PEG dilakukan dengan melelehkan bahan
dasar, lalu
dituangkan ke dalam cetakan seperti pembuatan supositoria dengan bahan
dasar lemak
coklat.

I. Faktor-faktor yang mempengaruhi Absobsi Obat per Rektal


Rektum mengandung sedikit cairan dengan PH 7,2 dan kapasitas dapar
rendah. Epitel rektum sifatnya berlipoid (berlemak) maka diutamakan permeabel
terhadap obat yang tidak terionisasi (obat yang mudah larut lemak).

J. Nilai Tukar
Nilai tukar adalah nilai yang digunakan untuk mengurangi kadar zat aktif.
Tujuan dari pengurangan zat aktif adalah meminimalisir over dosis yang
ditimbulkan. Karena zat aktif yang tertera pada literature merupakan kadar zat
aktif yang digunakan secara oral, maka pada penggunaan untuk rectal kadar zat
aktif harus dikurangi. Hal ini berkaitan dengan proses farmakokinetik di dalam
tubuh. Untuk obat-obat oral prosesnya melalui ADME sedangkan untuk obat-obat
lokal (suppo) prosesnya tidak melalui ADME melainkan langsung diserap oleh
permukaan mukosa rectal, kemudian masuk ke pembuluh darah selanjutnya

13
masuk ke dalam sirkulasi darah. Oleh karena itu, jika zat aktif masih
menggunakan dosis oral, maka dikhawatirkan terjadi over dosis pada pasien.
Pada pembuatan supositoria menggunakan cetakan, volume supositoria
harus tetap. Tetapi, bobotnya beragam tergantung pada jumlah dan bobot jenis
yang dapat diabaikan, misalnya ekstrak belladonea dan garam alkaloid.
Nilai tukar dimaksudkan untuk mengetahui bobot minyak cokelat yang
mempunyai volume yang sama dengan 1g obat. Berikut adalah tabel nilai tukar:
Nama Obat Nilai tukar ol cacao per 1g
Acidum boricum 0.65
Garam alkaloid 0.7
Bismuth subgallas 0.37
Ichtammolum 0.72
Tanninum 0.68
Aethylis aminobenzoas 0.68
Aminoplhylinum 0.86
Bismuth subnitras 0.20
Sulfonamidum 0.60
Zinci oxydum 0.25

Dalam praktik, nilai tukar beberapa obat adalah 0.7 kecuali untuk garam
Bismuth dan Zincy Oxydum. Untuk larutan nilai tukarnya dianggap satu. Bila
supositoria mengandung obat atau zat padat yang banyak, pengisian pada cetakan
berkurang dan jika dipenuhi dengan campuran massa, akan diperoleh jumlah obat
yang melebihi dosis. Oleh sebab itu, untuk membuat supositoria yang sesuai dapat
dilakukan dengan cara menggunakan perhitungan nilai tukar.

K. Uji Bahan Aktif


1. Titik lebur
Titik lebur adalah suhu di mana zat yang kita uji pertama kali melebur atau
meleleh seluruhnya yang ditunjukan pada saat fase padat cepat hilang. Dalam
analisa farmasi titik lebur untuk menetapkan karakteristik senyawa dan
identifikasi adanya pengotor. Untuk uji titik lebur di butuhkan alat pengukuran
titik lebur yaitu, Melting Point Apparatus (MPA) alat ini digunakan untuk melihat
atau mengukur besarnya titik lebur suatu zat.
2. Bobot jenis
14
Bobot jenis adalah perbandingan bobot jenis udara pada suhu 25 terhadap
bobot air dengan volume dan suhu yang sama. Bobot jenis suatu zat adalah hasil
yang diperoleh dengan membagi bobot jenis dengan bobot air dalam piknometer.
Lalu dinyatakan lain dalam monografi keduanya ditetapkan pada suhu 25 . (FI IV
hal 1302). Bobot jenis dapat digunakan untuk:
Mengetahui kepekaan suatu zat
Mengetahui kemurniaan suatu zat
Mengetahui jenis zat
Piknometer untuk menentukan bobot jenis zat padat dan zat cair. Zat padat
berbeda dengan zat cair, zat padat memiliki pori dan rongga sehingga berat jenis
tidak dapat terdefinisi dengan jelas. Berat jenis sejati merupakan berat jenis yang
dihitung tanpa pori atau rongga ruang. Sedangkan berat jenis nyata merupakan
berat jenis yang di hitung sekaligus degan porinya sehingga nyata < sejati.

L. Metode Pembuatan
Pembuatan supositoria secara umum yaitu bahan dasar supositoria yang
digunakan dipilih agar meleleh pada suhu tubuh atau dapat larut dalam bahan
dasar, jika perlu dipanaskan. Jika obat sukar larut dalam bahan dasar, harus dibuat
serbuk halus. setelah campuran obat dan bahan dasar meleleh atau mencair,
tuangkan ke dalam cetakan supositoria kemudian didinginkan. Tujuan dibuat
serbuk halus untuk membantu homogenitas zat aktif dengan bahan dasar.
Cetakan suppositoria terbuat dari besi yang dilapisi nikel atau logam
lainnya, namun ada juga yang terbuat dari plastik. Cetakan ini mudah dibuka
secara longitudinal untuk mengeluarkan supositoria. Untuk mengatasi massa yang
hilang karena melekat pada cetakan, supositoria harus dibuat berlebih (10%),
dan sebelum digunakan cetakan harus dibasahi lebih dahulu dengan parafin cair
atau minyak lemak, atau spiritus sapotanus (Soft Soap Liniment) agar sediaan
tidak melekat pada cetakan. Namun, spiritus sapotanus tidak boleh digunakan
untuk supositoria yang mengandung garam logam karena akan bereaksi dengan
sabunnya dan sebagai pengganti digunakan oleum recini dalam etanol. Khusus
supositoria dengan bahan dasar PEG dan Tween bahan pelicin cetakan tidak
diperlukan, karena bahan dasar tersebut dapat mengerut sehingga mudah dilepas
15
dari cetakan pada proses pendinginan.
Metode pembuatan supositoria dibagi menjadi 3 yaitu:
a. Dengan tangan
Yaitu dengan cara menggulung basis suppositoria yang telah dicampur
homogen dan mengandung zat aktif, menjadi bentuk yang dikehendaki. Mula-
mula basis diiris, kemudian diaduk dengan bahan-bahan aktif dengan
menggunakan mortir dan stamper, sampai diperoleh massa akhir yang homogen
dan mudah dibentuk. Kemudian massa digulung menjadi suatu batang silinder
dengan garis tengah dan panjang yang dikehendaki. Amilum atau talk dapat
mencegah pelekatan pada tangan. Batang silinder dipotong dan salah satu
ujungnya diruncingkan.
b. Dengan mencetak kompresi
Hal ini dilakukan dengan mengempa parutan massa dingin menjadi suatu
bentuk yang dikehendaki. Suatu roda tangan berputar menekan suatu piston pada
massa suppositoria yang diisikan dalam silinder, sehingga massa terdorong
kedalam cetakan.
c. Dengan mencetak tuang
Pertama-tama bahan basis dilelehkan, sebaiknya diatas penangas air atau
penangas uap untuk menghindari pemanasan setempat yang berlebihan, kemudian
bahan-bahan aktif diemulsikan atau disuspensikan kedalamnya. Akhirnya massa
dituang kedalam cetakan logam yang telah didinginkan, yang umumnya dilapisi
krom atau nikel.

Pengemasan Supositoria
a. Supositoria gliserin dan supositoria gelatin gliserin umumnya dikemas dalam
wadah gelas ditutup rapat supaya mencegah perubahan kelembapan dalam isi
supositoria.
b. Supositoria yang diolah dengan basis oleum cacao biasanya dibungkus
terpisah-pisah atau dipisahkan satu sama lain pvada celah-celah dalam kotak
untuk mencegah perekatan.
c. Supositoria dengan kandungan obat yang sedikit lebih pekat biasnya
dibungkus satu per satu dalam bahan tidak tembus cahaya seperti lembaran
metal (alumunium foil).
16
Evaluasi Sediaan
Pengujian sediaan supositoria yang dilakukan sebagai berikut:
1. Uji homogenitas
Uji homogenitas ini bertujuan untuk mengetahui apakah bahan aktif dapat
tercampur rata dengan bahan dasar suppo atau tidak, jika tidak dapat tercampur
maka akan mempengaruhi proses absorbsi dalam tubuh. Obat yang terlepas akan
memberikan terapi yang berbeda. Cara menguji homogenitas yaitu dengan cara
mengambil 3 titik bagian suppo (atas-tengah-bawah atau kanan-tengah-kiri)
masing-masing bagian diletakkan pada kaca objek kemudian diamati dibawah
mikroskop, cara selanjutnya dengan menguji kadarnya dapat dilakukan dengan
cara titrasi.
2. Bentuk
Bentuk suppositoria juga perlu diperhatikan karena jika dari bentuknya tidak
seperti sediaan suppositoria pada umunya, maka seseorang yang tidak tahu akan
mengira bahwa sediaan tersebut bukanlah obat. Untuk itu, bentuk juga sangat
mendukung karena akan memberikan keyakinan pada pasien bahwa sediaa
tersebut adalah suppositoria. Selain itu, suppositoria merupakan sediaan padat
yang mempunyai bentuk torpedo.
3. Uji waktu hancur
Uji waktu hancur ini dilakukan untuk mengetahui berapa lama sediaan
tersebut dapat hancur dalam tubuh. Cara uji waktu hancur dengan dimasukkan
dalam air yang di set sama dengan suhu tubuh manusia, kemudian pada sediaan
yang berbahan dasar PEG 1000 waktu hancurnya 15 menit, sedangkan untuk
oleum cacao dingin 3 menit. Jika melebihi syarat diatas maka sediaan tersebut
belum memenuhi syarat untuk digunakan dalam tubuh. Mengapa menggunakan
media air? Dikarenakan sebagian besar tubuh manusia mengandung cairan.

4. Keseragaman bobot
17
Keseragaman bobot dilakukan untuk mengetahui apakah bobot tiap sediaan
sudah sama atau belum, jika belum maka perlu dicatat. Keseragaman bobot akan
mempengaruhi terhadap kemurnian suatu sediaan karena dikhawatirkan zat lain
yang ikut tercampur. Caranya dengan ditimbang saksama 10 suppositoria, satu
persatu kemudian dihitung berat rata-ratanya. Dari hasil penetapan kadar, yang
diperoleh dalam masing-masing monografi, hitung jumlah zat aktif dari masing-
masing 10 suppositoria dengan anggapan zat aktif terdistribusi homogen. Jika
terdapat sediaan yang beratnya melebihi rata-rata maka suppositoria tersebut tidak
memenuhi syarat dalam keseragaman bobot. Karena keseragaman bobot
dilakukan untuk mengetahui kandungan yang terdapat dalam masing-masing
suppositoria tersebut sama dan dapat memberikan efek terapi yang sama pula.
5. Uji titik lebur
Uji ini dilakukan sebagai simulasi untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan
sediaan supositoria yang dibuat melebur dalam tubuh. Dilakukan dengan cara
menyiapkan air dengan suhu 37C. Kemudian dimasukkan supositoria ke dalam
air dan diamati waktu leburnya. Untuk basis oleum cacao dingin persyaratan
leburnya adalah 3 menit, sedangkan untuk PEG 1000 adalah 15 menit.
6. Kerapuhan
Supositoria sebaiknya jangan terlalu lembek maupun terlalu keras yang
menjadikannya sukar meleleh. Untuk uji kerapuhan dapat digunakan uji
elastisitas. Supositoria dipotong horizontal. Kemudian ditandai kedua titik
pengukuran melalui bagian yang melebar, dengan jarak tidak kurang dari 50%
dari lebar bahan yang datar, kemudian diberi beban seberat 20N (lebih kurang
2kg) dengan cara menggerakkan jari atau batang yang dimasukkan ke dalam
tabung.
7. Volume Distribusi
Volume distribusi (Vd) merupakan parameter untuk untuk menunjukkan
volume penyebaran obat dalam tubuh dengan kadar plasma atau serum. Volume
distribusi ini hanyalah perhitungan volume sementara yang menggambarkan
luasnya distribusi obat dalam tubuh.
Tubuh dianggap sebagai 1 kompartemen yang terduru dari plasma atau
serum, dan Vd adalah jumlah obat dalam tubuh dibagi dengan kadarnya dalam
18
plasma atau serum.

Keterangan :
X = jumlah obat dalam tubuh C = kadar obat dalam plasma atau
serum
DIV = dosis obat dalam pemberian IV Doral = dosis obat dalam
pemberian oral
F = fraksi dosis oral yang mencapai peredaran darah sistemik
dalam bentuk aktif.
= bioavailabilitas absolute obat oral
Co= kadar plasma atau serum pada waktu T = 0 (ekstrapolasi garis eliminasi ke
t=0)

Besarnya Vd ditentukan oleh ukuran dan komposisi tubuh, kemampuan molekul


obat memasuki berbagai kompartemen tubuh, dan derajat ikatan obat dengan
protein plasma dan dengan berbagai jaringan. Obat yang tertimbun dalam jaringan
mempunyai kadar dalam plasma yang rendah sekali sedangkan Vd nya besar
(misalnya, digoksin). Untuk obat yang terikat dengan kuat pada protein plasma
mempunyai kadar plasma yang cukup tinggi dan mempunyai V d yang kecil
(misalnya, warfarin, tolbutamid dan salisilat).

M. Cara pemberian

Pemberian obat dengan sediaan suppositoria dengan memasukkan obat


melalui anus atau rektum dalam bentuk suppositoria
Petunjuk pemakaian: cuci tangan sampai bersih, buka pembungkus suppositoria,
kemudian tidur dengan posisi miring. Supositoria dimasukkan ke rektum dengan
cara bagian ujung supositoria didorong dengan ujung jari, kira-kira -1 inci pada
bayi dan 1 inci pada dewasa, bila perlu ujung supositoria di beri air untuk
mempermudah penggunaan. Untuk nyeri dan demam satu supositoria diberikan
setiap 46 jam jika diperlukan. Gunakan supositoria ini 15 menit setelah buang air
19
besar atau tahan pengeluaran air besar selama 30 menit setelah pemakaian
supositoria.
Hanya untuk pemakaian rektal. Hentikan penggunaan dan hubungi dokter
jika sakit berlanjut hingga 3 hari. Jauhkan dari jangkauan anak-anak. Jika tertelan
atau terjadi over dosis segera hubungi dokter
Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dalam bentuk, yang
diberikan melalui rectal,vaginal. Salep merupakan bentuk dari obat luar untuk
mengobati penyakityang berhubungan dengan sensitifitas kulit terdapat 2 jenis
salep berminyak dan absorbsi. Ekstrak merupakan bentuk obat yang berasal
dari alam berupatanaman obat, binatang maupun minereal (phapros). Spray adalah
sistem koloidal yang terdiri dari zat cair yang terbagi sangat halus sekali dalam
gas.

B. SPRAY
Spray merupakan bentuk obat yang disemprot atau dihisap
kedalam saluran pernafasan dan paru-paru bentuk ini terutama digunakan
untuk sakit pilek, batuk dan asma. Obat ini dirancang khusus agar
reaksinya cepat dan mudah atau praktis untuk digunakan
Klien yang menerima obat melalui inhalasi biasanya menderita
penyakit pernafasan kronis, misalnya asma kronis, emfisema, atau
bronkitis. Obat yang diberikan melalui inhalasi membuat klien dapat
mengontrol obstruksi jalan nafas karena bergantung pada obat-obatan ini.
Untuk mengontrol penyakit, klien harus mempelajari obat tersebut dan
cara pemberian obat yang aman.
Meterd Dose Inhaler (MDI) menyalurkan obat dalam dosis yang
terukur setiap kali tromol, didorong untuk mengaktifkan aerosol, klien
harus memberikan tekanan sekitar 2,5 atau 5kg hal ini penting diketahui
perawat karena kekuatan tangan menurun seiring peningkatan usia dan
efek penyakit pernafasan kronis.
Saluran nafas bagian dalam memungkin area permukaan yang luas
untuk absorpsi obat. Obat dapat diberikan melalui passase nasal atau oral.
Obat inhalasi dapat memberikan efek lokal
Kebanyakan obat spray pada obat asma memiliki kandungan
20
bronkodilator untuk merangsang bronkeolus terbuka dan saluran
pernafasan lebih lancar untuk mencegah tingkat lanjut sesak yang diderita.
Obat spray lainnya seperti anastesi dan sebagainya masuk ke pori-pori dan
bekerja lokal di kapiler-kapiler darah.
- Inhalasi Nasal
Obat inhalasi nasal melalui hidung menggunakan sebuah alat yang
mengantar obat. Alat tipe spray , misalnya fenilefrin yang
menghasilkan efek lokal yakni vasokontraksi jalan nafas
- Inhalasi oral
Paling sering digunakan untuk menghantar obat ke sel target di
parenkim paru. Obat yang diberikan menggunakan inhaler yang
dipegang ditangan disebar melalui sebuah semprot aerosol. Metered
Dose Inhaler memfasilitasi penghantaran obat ke parenkim paru

Contoh bentuk obat spray:


1. BRICASMA INHALER
Nama pabrik : Astrazeneca
Golongan :K
Komposisi : tiap 1 dosis/semprot mengandung
terbulin sulfat 0,25mg
Indikasi : asma bronkial, bronkhitis dan
empisema bronko dilatasi

2. FLIXOTIDE
Nama pabrik : glaxo wellcome
Golongan :K
Komposisi :tiap semprot mengandung flutikason
Proplonat 50mcg
Indikasi : Profilaksis Asma
Kemasan : Can 60 dosis inhaler 50 mcg,
21
inhaler 125mcg,

3. IMFLAMMIDE
Nama pabrik : Boehringer Ingelhelm
Golongan :K
Komposisi :tiap semprot aerosol dosis terukur
Budenosida 100mcg, 200mcg
Indikasi : mencegah gejala asma bronkial
Kontra Indikasi : sensitif terhadap budesorida
Efek Samping : dapat meyebabkan suara parau,
infeksi candidi albicans di mulut dan
tenggorokan untuk pasien yang
demikian dapat ditolong dengan
berkumur setelah menggunakan obat
semprot ini
Perhatian : tehnik inhalasi pasien sebaiknya
diperiksa untuk meyakinkan bahwa
penyemprotan obat bersama dengan
penarikan nafas sehingga penyebaran
obat di paru-paru optimum
Dosis : dewasa 2X sehari 200mcg, pada
pagi dan malam hari dalam keadaan
asma berat dosis dapat ditingkatkan
hingga 1400mcg sehari. Pada pasien
yang terkontrol baik dosis dapat
dikurangi hingga 200-400mcg sehari

BAB III
22
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Obat merupakan satu zat kimia yang mempengaruhi proses hidup
(menurut Prof. Dr. Rudi Syarif Sumadilaga). Pada kehidupan manusia
pemberian obat menurut bentuk obat digunakan sebagai obat luar dan
dalam. Bentuk obat terbagi atgas bermacam-macam siantaranya
suposituria, sray, salep dan ekstrak yang masing-masing mempunyai
tujuan yang berbeda-beda

3.2 Saran
Sebagai seorang perawat, harus memahami dan dapat merawat
setiap pasien yang mengalamai adaptasi tentang penyakit yang sedang
diderita oleh pasien dan dapat memahami proses kematian sel, dan akibat
dari kematian sel itu.
DAFTAR PUSTAKA
23

Anief, Moh. 2004. Prinsip Umum Dan Dasar Farmakologi. Penerbit Gaja Mada
University Press : Jakarta.

Ganiswara, Sulistia G. 2005. Farmakologi Dan Terapi Edisi 8. Penerbit Gaya


Baru : Jakarta.

Hayes, Evelyn .R dan Kee, Joyce L. 2009. Farmakologi Pendekatan Proses


Keperawatan Revisi IV. Penerbit EGC : Jakarta.

Katzung, Bertram G. 2002. Farmakologi Dasar Dan Klinik Edisi VIII. Penerbit
EGC : Jakarta