Anda di halaman 1dari 6

Akal-Akalan dalam Riba

Muhammad Abduh Tuasikal, MSc January 20, 2012 Muamalah 16 Comments 982
Views

Hukum Riba Dalil Riba Rumaysho Riba Riba Konsultasi Syariah Hukum Riba Sesuai
Sunnah

Selalu saja ada akal-akalan untuk bisa melegalkan yang haram. Kadang dengan
pengaburan istilah. Kadang pula dengan melakukan trik-trik yang tetap haram. Trik-
trik untuk bisa melegalkan yang haram salah satunya dapat kita lihat dalam
transaksi riba.

Memahami Riba

Secara etimologi, riba berarti tambahan (al fadhl waz ziyadah). Di antara definisi
riba yang bisa mewakili definisi yang ada telah dikemukakan oleh Muhammad Asy
Syarbiniy. Riba adalah,



Suatu akad/ transaksi pada barang tertentu yang ketika akad berlangsung tidak
diketahui kesamaannya menurut ukuran syariat, atau adanya penundaan
penyerahan kedua barang atau salah satunya (Mughnil Muhtaj, 6: 309). Sudah
diketahui pula bahwa riba itu diharamkan berdasarkan dalil Al Quran, As Sunnah
dan ijma (kata sepakat) para ulama (Lihat Al Mughni, 7: 492).

Di antara dalil Al Quran yang mengharamkan bentuk riba adalah firman Allah
Taala,



Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (QS. Al
Baqarah: 275)

Begitu pula dalam berbagai hadits ditunjukkan bagaimanakah dosa memakan riba
yang dianggap sebagai dosa besar. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu alaihi wa
sallam bersabda,



.

Jauhilah tujuh dosa besar yang akan menjerumuskan pelakunya dalam neraka.
Para sahabat bertanya, Wahai Rasulullah, apa saja dosa-dosa tersebut? Beliau
mengatakan, (1) Menyekutukan Allah, (2) sihir, (3) membunuh jiwa yang
diharamkan oleh Allah kecuali dengan alasan yang dibenarkan, (4) memakan harta
anak yatim, (5) memakan riba, (6) melarikan diri dari medan peperangan, (7)
menuduh wanita yang menjaga kehormatannya (bahwa ia dituduh berzina) (HR.
Bukhari no. 2766 dan Muslim no. 89).

Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun melaknat para rentenir (pemakan riba), yang
mencari pinjaman dari riba, bahkan setiap orang yang ikut menolong dalam
muamalah ribawi juga ikut terlaknat. Dari Jabir bin Abdillah, beliau berkata,


- -

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), orang


yang menyerahkan riba (nasabah), pencatat riba (sekretaris) dan dua orang
saksinya. Beliau mengatakan, Mereka semua itu sama (dalam melakukan yang
haram) (HR. Muslim no. 1598).

Jual Beli Inah, Trik Transaksi Riba

Di antara trik transaksi riba yang sudah diwanti-wanti sejak masa Rasul shallallahu
alaihi wa sallam adalah yang disebut dengan jual beli inah.
Ada beberapa definisi mengenai jual beli inah yang disampaikan oleh para ulama.
Definisi yang paling masyhur adalah seseorang menjual barang secara tidak tunai
kepada seorang pembeli, kemudian ia membelinya lagi dari pembeli tadi secara
tunai dengan harga lebih murah. Tujuan dari transaksi ini adalah untuk mengakal-
akali supaya mendapat keuntungan dalam transaksi utang piutang.

Semisal, pemilik tanah ingin dipinjami uang oleh si miskin. Karena saat itu ia belum
punya uang tunai, si empunya tanah katakan pada si miskin, Saya jual tanah ini
kepadamu secara kredit sebesar 200 juta dengan pelunasan sampai dua tahun ke
depan. Sebulan setelah itu, si empunya tanah katakan pada si miskin, Saat ini
saya membeli tanah itu lagi dengan harga 170 juta secara tunai.

Artinya di sini, si pemilik tanah sebenarnya melakukan akal-akalan. Ia ingin


meminjamkan uang 170 juta dengan pengembalian lebih menjadi 200 juta. Tanah
hanya sebagai perantara. Namun keuntungan dari utang di atas, itulah yang ingin
dicari. Inilah yang disebut transaksi inah. Ini termasuk di antara trik riba. Karena
setiap piutang yang mendatangkan keuntungan, itu adalah riba.

Mengenai hukum jual beli inah, para fuqoha berbeda pendapat dikarenakan
penggambaran jual beli tersebut yang berbeda-beda. Imam Abu Hanifah, Imam
Malik dan Imam Ahmad tidak membolehkan jual beli tersebut. Sedangkan
sebagaimana dinukil dari Imam Asy Syafii rahimahullah-, beliau membolehkannya
karena beliau hanya melihat dari akad secara lahiriyah, sehingga menganggap
sudah terpenuhinya rukun dan tidak memperhatikan adanya niat di balik itu. Namun
yang tepat, jual beli inah dengan gambaran yang kami sebutkan di atas adalah jual
beli yang diharamkan. Di antara alasannya:

Pertama: Untuk menutup rapat jalan menuju transaksi riba. Jika jual beli ini
dibolehkan, sama saja membolehkan kita menukarkan uang 10 juta dengan 5 juta
namun yang salah satunya tertunda. Ini sama saja riba.

Kedua: Larangan jual beli inah disebutkan dalam hadits,




Jika kalian berjual beli dengan cara inah, mengikuti ekor sapi (maksudnya: sibuk
dengan peternakan), ridha dengan bercocok tanam (maksudnya: sibuk dengan
pertanian) dan meninggalkan jihad (yang saat itu fardhu ain), maka Allah akan
menguasakan kehinaan atas kalian. Allah tidak akan mencabutnya dari kalian
hingga;lh kalian kembali kepada agama kalian. (HR. Abu Daud no. 3462. Lihat
Aunul Mabud, 9: 242)

Trik Riba dalam Jual Beli Kredit

Jual beli secara kredit asalnya boleh selama tidak melakukan hal yang terlarang.
Namun perlu diperhatikan bahwa kebolehan jual beli kredit harus melihat beberapa
kriteria. Jika tidak diperhatikan, seseorang bisa terjatuh dalam jurang riba.

Kriteria pertama, barang yang dikreditkan sudah menjadi milik penjual (bank). Kita
contohkan kredit mobil. Dalam kondisi semacam ini, si pembeli boleh membeli
mobil tadi secara kredit dengan harga yang sudah ditentukan tanpa adanya denda
jika mengalami keterlambatan. Antara pembeli dan penjual bersepakat kapan
melakukan pembayaran, apakah setiap bulan atau semacam itu. Dalam hal ini ada
angsuran di muka dan sisanya dibayarkan di belakang.

Kriteria kedua, barang tersebut bukan menjadi milik si penjual (bank), namun
menjadi milik pihak ketiga. Si pembeli meminta bank untuk membelikan barang
tersebut. Lalu si pembeli melakukan kesepakatan dengan pihak bank bahwa ia akan
membeli barang tersebut dari bank. Namun dengan syarat, kepemilikan barang
sudah berada pada bank, bukan lagi pada pihak ketiga. Sehingga yang menjamin
kerusakan dan lainnya adalah bank, bukan lagi pihak ketiga. Pada saat ini, si
pembeli boleh melakukan membeli barang tersebut dari bank dengan kesepakatan
harga. Namun sekali lagi, jual beli bentuk ini harus memenuhi dua syarat: (1)
harganya jelas di antara kedua pihak, walau ada tambahan dari harga beli bank dari
pihak ketiga, (2) tidak ada denda jika ada keterlambatan angsuran. (Faedah dari
islamweb.net)

Jika salah satu dari dua syarat di atas tidak bisa dipenuhi, maka akan terjerumus
pada pelanggaran. Pertama, boleh jadi membeli sesuatu yang belum
diserahterimakan secara sempurna, artinya belum menjadi milik bank, namun
sudah dijual pada pembeli. Dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
bersabda,


Barangsiapa yang membeli bahan makanan, maka janganlah ia menjualnya


kembali hingga ia selesai menerimanya. Ibnu Abbas mengatakan, Aku
berpendapat bahwa segala sesuatu hukumnya sama dengan bahan makanan. (HR.
Bukhari no. 2136 dan Muslim no. 1525)

Ibnu Umar berkata,

- -


.

Kami dahulu di zaman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membeli bahan


makanan. Lalu seseorang diutus pada kami. Dia disuruh untuk memerintahkan kami
agar memindahkan bahan makanan yang sudah dibeli tadi ke tempat yang lain,
sebelum kami menjualnya kembali. (HR. Muslim no. 1527)

Atau bisa jadi terjerumus dalam riba karena bentuknya sama dengan
mengutangkan mobil pada pembeli, lalu mengeruk keuntungan dari utang.

Padahal para ulama berijma (bersepakat) akan haramnnya keuntungan bersyarat


yang diambil dari utang piutang.

Semoga dengan mengetahui beberapa trik ini dapat semakin membuat kita
waspada. Jangan tertipu dengan slogan syari semata. Kita perlu belajar dan terus
mendalami berbagai hukum Islam sehingga bisa terhindar dari trik riba yang ada.
Moga Allah berkahi kita dengan ilmu yang bermanfaat dan menghindarkan kita dari
riba serta berbagai macam triknya.
Sumber : https://rumaysho.com/2199-akal-akalan-dalam-riba.html