Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Tumor Rahim adalah jenis tumor jinak yang berkembang pada rahim wanita.
Tumor ini sedikit unik karena tidak ditemukan pada wanita yang belum masuk
pubertas, dan hampir tidak ditemukan tumbuh menjadi besar pada wanita yang sudah
dalam usia menopause. Tumor rahim juga banyak menyerang kelompok wanita
berusia sekitar 30 tahun.
Nyeri adalah gejala umum yang dialami oleh penderita tumor rahim. Masa
tumor yang bertambah besar akan menekan saraf, tulang, dan organ lain yang ada di
sekitarnya sehingga menimbulkan nyeri. Nyeri dapat juga disebabkan oleh adanya
metastatis, prosedur tindakan diagnostic dan komplikasi terapi (Farastuti, 2005)
Untuk menangani nyeri ini diperlukan obat antinyeri yang biasa disebut dengan
analgesic. Analgesik adalah senyawa yang dapat menekan fungsi SSP secara selektif,
digunakan untuk mengurangi rasa sakit tanpa mempengaruhi kesadaran. Analgesik
bekerja dengan meningkatkan nilai ambang persepsi rasa sakit (Siswandono, 2008).
Pemilihan sediaan dalam bentuk Suppositoria didasari bentuk sediaan tersebut
bisa langsung digunakan pada daerah tempat sakit tersebut, yaitu vagina. Bentuk
sediaan supposutoria ini memungkinkan absorbsi obat lebih cepat di bagian yang
sakit sehingga efek yang ditimbulkan pun akan cepat terasa, jika dibandingkan
penggunaan obat secara oral pada kasus tumor rahim ini. Suppositoria vaginal ini
akan langsung ketempat yang akan dioabati. Suppositoria dapat bertindak sebagai
pelindung jaringan setempat, sebagai pembawa zat terapetik yang bersifat lokal atau
sistemik. Bahan dasar suppositoria yang umum digunakan adalah lemak coklat,
gelatin tergliserinasi, minyak nabati terhidrogenasi, campuran polietilen glikol
berbagai bobot molekul, dan ester asam lemak polietilen glikol.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tumor Rahim


2.1.1. Pengertian Tumor Rahim
Tumor Rahim sering dihubungkan dengan stimulasi hormon estrogen terhadap
organ rahim. Adapun yang menjadi indikasi menjadi penyebab Tumor Rahim adalah:
1. Ketika berhentinya produksi normal sel-sel di jaringan tertentu.
2. Ketika sesuatu merusak sel normal sehingga sel tersebut tidak lagi mampu
berfungsi secara normal.
3. Ketika gen p53 berhenti mengirimkan pesan agar sel-sel tertentu mati pada
waktunya (apoptosis). Tumor akan terus berkembang dan merusak sel-sel
sehingga tidak mampu berfungsi secara normal.
Ketiga hal tesebut diatas isebabkan oleh faktor gaya hidup terutama bagi
peminum alkohol dan perokok. Penyebab lain tumor rahim adalah karena obesitas
(kelebihan berat badan), faktor lingkungan, faktor genetis, radiasi dari sinar matahari
atau dari zat-zat kimia. Tingkat stress yang tinggi juga akan memicu munculnya
tumor rahim.
Penyakit Tumor rahim yang bukan tumbuh pada dinding dalam rahim atau
menonjol di endometrium, umumnya nyaris tidak bergejala atau keluhan apa pun.
Keluhan baru terasakan apabila ukuran tumornya sudah sedemikian besar, sehingga
ada rasa penuh, rasa berat dan rasa tidak enak di perut bagian bawah atau seperti
perempuan hamil. Selama tumornya masih kecil tak terasakan apa-apa. Myoma uteri
pada dinding dalam rahim yang biasanya memunculkan gejala perdarahan. Bila
mendadak muncul perdarahan atau darah haid yang lebih banyak dari biasa, perlu
dicurigai ini kemungkinan suatu myoma uteri. Selain perdarahan abnormal, mungkin
muncul keluhan nyeri. Keluhan ini tidak pada setiap kasus myoma. Hanya apabila
myomanya sudah mengganggu organ di sekitarnya keluhan nyeri muncul.
Myoma yang menonjol ke rongga rahim sering tumbuh bertangkai. Apabila
tangkai myoma-nya panjang, maka bola myoma-nya akan keluar dari leher rahim dan

2
meyembul ke saluran vagina dan bahkan bisa keluar dari vagina (myoma geburt).
Tumor myoma uteri muncul sepanjang masa reproduksi perempuan dan tidak
ditemukan setelah menopause. Pengidap myoma yang sudah melewati masa
menopause, tumornya akan mengecil sendiri lalu menghilang.

2.2. Suppositoria

Menurut Farmakope Indonesia ed. IV suppositoria adalah sediaan padat dalam


berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan melalui rektal, vagina atau uretra.
Umumnya meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh (FI ed.IV). Suppositoria
vaginal (ovula) umumnya berbentuk bulat atau bulat telur dan berbobot lebih kurang
5 g, dibuat dari zat pembawa yang larut dalam air atau yang dapat bercampur dalam
air, seperti polietilen glikol atau gelatin tergliserinasi.

Bahan dasar suppositoria yang digunakan sangat berpengaruh pada pelepasan


zat terapetik. Lemak coklat cepat meleleh pada suhu tubuh dan tidak tercampurkan
dengan cairan tubuh, oleh karena itu menghambat difusi obat yang larut dalam lemak
pada tempat diobati. Polietilen glikol adalah bahan dasar yang sesuai untuk beberapa
antiseptik. Jika diharapkan bekerja secara sistemik, lebih baik menggunakan bentuk
ionik dari pada nonionik, agar diperoleh ketersediaan hayati yang maksimum.
Meskipun obat bentuk nonionik dapat dilepas dari bahan dasar yang dapat bercampur
dengan air, seperti gelatin tergliserinasi dan polietilen glikol, bahan dasar ini
cenderung sangat lambat larut sehingga menghambat pelepasan. Bahan pembawa
berminyak seperti lemak coklat jarang digunakan dalam sediaan vagina, karena
membentuk residu yang tidak dapat diserap, Sedangkan gelatin tergliserinasi jarang
digunakan melalui rektal karena disolusinya lambat. Lemak coklat dan penggantinya
(lemak keras) lebih baik untuk menghilangkan iritasi, seperti pada sediaan untuk
hemoroid internal.

3
a. Suppositoria Lemak Coklat
Suppositoria dengan bahan dasar lemak coklat dapat dibuat dengan
mencampur bahan obat yang dihaluskan ke dalam minyak padat pada suhu kamar dan
massa yang dihasilkan dibuat dalam bentuk sesuai, atau dibuat dengan minyak dalam
keadaan lebur dan membiarkan suspensi yang dihasilkan menjadi dingin di dalam
cetakan. Sejumlah zat pengeras yang sesuai dapat ditambahkan untuk mencegah
kecenderungan beberapa obat, (seperti kloralhidrat dan fenol) melunakkan bahan
dasar. Yang penting, suppositoria meleleh pada suhu tubuh. Perkiraan bobot
suppositoria yang dibuat dengan lemak coklat, dijelaskan dibawah ini. Suppositoria
yang dibuat dari bahan dasar lain, bobotnya lebih berat dari pada bobot yang
disebutkan dibawah ini.
Suppositoria rektal. Suppositoria rektal untuk dewasa berbentuk lonjong pada satu
atau kedua ujungnya dan biasanya berbobot lebih kurang 2 g.
Suppositoria vaginal. Umumnya berbentuk bulat atau bulat telur dan berbobot lebih
kurang 5 g, dibuat dari zat pembawa yang larut dalam air atau yang dapat bercampur
dalam air, seperti polietilen glikol atau gelatin tergliserinasi. Ukuran berkisar, panjang
1,25 1,5 inchi dan diameter 5/8 inchi
1. Tujuan penggunaan (ovula)
Biasanya digunakan untuk lokal dengan efek sebagai antiseptik, kontrasepsi,
anastetik lokal, dan pengobatan penyakit infeksi seperti trichomonal, bakteri dan
monilial.
2. Absorpsi Vagina
Absorpsi sediaan vaginal terjadi secara pasif melalui mukosa. Proses absorpsi
dipengaruhi oleh fisiologi, pH, dan kelarutan dan kontanta partisi obat. Permukaan
vagina dilapisi oleh lapisan film air (aqueous film) yang volume, pH dan
komposisinya dipengaruhi oleh umur, siklus menstruasi, dan lokasi. pH vagina
meningkat secara gradien yaitu pH 4 untuk anterior formix dan pH 5 di dekat cervix.
Pada umumnya ovula digunakan untuk efek lokal. Tapi beberapa penelitian

4
menunjukkan ada beberapa obat yang dapat berdifusi melalui mukosa dan masuk
dalam peredaran darah. Sebagai contoh, kadar propanolol dalam plasma untuk
sediaan ovula lebih besar dibandingkan dengan rute oral pada dosis yang sama
(Husas, Pharmaceutical Dispensing, hal. 117). Suppositoria dengan bahan lemak
coklat harus disimpan dalam wadah tertutup baik, sebaiknya pada suhu dibawah 30
derajat (suhu kamar terkendali).

b. Pengganti Lemak Coklat


Suppositoria dengan bahan dasar jenis lemak, dapat dibuat dari berbagai
minyak nabati, seperti minyak kelapa atau minyak kelapa sawit yang dimodifikasi
dengan esterifikasi, hidrogenasi, dan fraksionasi hingga diperoleh berbagai komposisi
dan suhu lebur (misalnya minyak nabati terhidrogenasi dan lemak padat). Produk ini
dapat dirancang sedemikian hingga dapat mengurangi terjadinya ketengikan. Selain itu
sifat yang diinginkan seperti interval yang sempit antara suhu melebur dan suhu
memadat dan jarak lebur juga dapat dirancang umtuk penyesuaian berbagai formulasi
dan keadaan iklim.

c. Suppositoria Gelatin Tergliserinasi


Bahan obat dapat dicampur ke dalam bahan dasar gelatin tergliserinasi,
dengan menambahkan sejumlah tertentu kepada bahan pembawa yang terdiri dari
lebih kurang 70 bagian gliserin, 20 bagian gelatin dan 10 bagian air. Suppositoria ini
harus disimpan dalam wadah tertutup rapat, sebaiknya pada suhu dibawah 35 derajat.

d. Suppositoria dengan Bahan Dasar Polietilen Glikol


Beberapa kombinasi polietilen glikol mempunyai suhu lebur lebih tinggi dari
suhu badan telah digunakan sebagi bahan dasar suppositoria. Karena pelepasan dari
bahan dasar lebih ditentukan oleh disolusi dari pada pelelehan, maka massalah dalam
pembuatan dan penyimpanan jauh lebih sedikit dibanding massalah yang disebabkan
oleh jenis pembawa yang melebur. Tetapi polietilen glikol dengan kadar tinggi dapat
memperpanjang waktu disolusi sehingga menghambat pelepasan. Pada etiket
suppositoria polietilen glikol harus tertera petunjuk basahi dengan air sebelum

5
digunakan, meskipun dapat disimpan tanpa pendinginan, suppositoria ini harus
dikemas dalam wadah tertutup rapat.

e. Suppositoria dengan Bahan Dasar Surfaktan


Beberapa surfaktan nonionik dengan sifat kimia mendekati polietilen glikol
dapat digunakan sebagai bahan pembawa suppositoria. Contoh surfaktan ini adalah
ester asam lemak polioksietilen sorbitan dan polioksietilen stearat. Surfaktan ini dapat
digunakan dalam bentuk tunggal atau kombinasi dengan pembawa suppositoria lain
untuk memperoleh rentang suhu lebur yang lebar dan konsistensi. Salah satu
keuntungan utama pembawa ini adalah dapat terdispersi dalam air. Tetapi harus hati-
hati dalam penggunaan surfaktan, karena dapat meningkatkan kecepatan absorpsi
obat atau dapat berinteraksi dengan molekul obat yang menyebabkan penurunan
aktivitas terapetik.

f. Suppositoria Kempa atau Suppositoria Sisipan


Suppositoria vaginal dapat dibuat dengan cara mengempa massa serbuk
menjadi bentuk yang sesuai. Dapat juga dengan cara pengkapsulan dalam gelatin
lunak (FI ed. IV hal 16-17)

2.2.1. Basis Suppositoria


Basis suppositoria mempunyai peranan penting dalam pelepasan obat yang
dikandungnya. Salah satu syarat utama basis suppositoria adalah selalu padat dalam
suhu ruangan tetapi segera melunak, melebur atau melarut pada suhu tubuh sehingga
obat yang dikandungnya dapat tersedia sepenuhnya, segera setelah pemakaian (H.C.
Ansel, 1990).

Menurut Farmakope Indonesia IV, basis suppositoria yang umum digunakan


adalah lemak coklat, gelatin tergliserinasi, minyak nabati terhidrogenasi, campuran
polietilenglikol (PEG) dengan berbagai bobot molekul dan ester asam lemak

6
polietilen glikol. Basis suppositoria yang digunakan sangat berpengaruh pada
pelepasan zat terapeutik

Yang perlu diperhatikan untuk basis suppositoria adalah :


a. Asal dan komposisi kimia
b. Jarak lebur/leleh
c. Solid-Fat Index (SFI)
d. Bilangan hidroksil
e. Titik pemadatan
f. Bilangan penyabunan (saponifikasi)
g. Bilangan iodida
h. Bilangan air (jumlah air yang dapat diserap dalam 100 g lemak)
i. Bilangan asam
(Lachman, Teory and Practice of Industrial Pharmacy, 568-569)

Syarat basis yang ideal antara lain :


a. melebur pada temperatur rektal
b. tidak toksik, tidak menimbulkan iritasi dan sensitisasi
c. dapat bercampur (kompatibel) dengan berbagai obat
d. tidak berbentuk metastabil
e. mudah dilepas dari cetakan
f. memiliki sifat pembasahan dan emulsifikasi
g. bilangan airnya tinggi
h. stabil secara fisika dan kimia selama penyimpanan
i. dapat dibentuk dengan tangan, mesin, kompresi atau ekstrusi

Jika basis adalah lemak, ada persyaratan tambahan sebagai berikut :


a. Bilangan asam < 0,2
b. Bilangan penyabunan 200 245
c. Bilangan iodine < 7
d. Interval antara titik lebur dan titik pemadatan kecil (kurva SFI tajam)
(Lachman, teory and Practice of Industrial Pharmacy, 575)

Tipe basis suppositoria berdasarkan karakteristik fisik yaitu (H. C. Ansel, 1990):
a. Basis suppositoria yang meleleh (Basis berlemak)

7
Basis berlemak merupakan basis yang paling banyak dipakai, terdiri dari
oleum cacao, dan macam-macam asam lemak yang dihidrogenasi dari minyak nabati
seperti minyak palem dan minyak biji kapas.

Menurut USP, oleum cacao merupakan


Lemak yang diperoleh dari biji Theobroma cacao yang dipanggang.
Secara kimia adalah trigliserida yang terdiri dari oleapalmitostearin dan oleo
distearin
Pada suhu kamar, berwarna kekuning-kuningan sampai putih padat sedikit
redup, beraroma coklat
Melebur pada 30-36oC
Titik leleh :31-34 oC
Kelarutan : mudah larut dalam kloroform, eter, petroleum spirit, larut dalam
etanol panas, sedikit larut dalam etanol 95%
Stabilitas dan penyimpanan : pemanasan diatas 36 o
C menyebabkan
pembentukan kristal metastabil. Oleum cacao disimpan di suhu < 25 oC
Bilangan iod 34 38
Bilangan asam 4
Mudah tengik dan meleleh harus disimpan di tempat sejuk dan kering
terhindar dari cahaya.
Bentuk polimorfisa
a. Bentuk melebur pada 24C diperoleh dengan pendinginan secara tiba-tiba
sampai 0oC.
0
b. Bentuk diperoleh dari cairan oleum cacao yang diaduk pada suhu 18-23
C titik leburnya 28-31 oC
c. Bentuk stabil diperoleh dari bentuk , melebur pada 34-35 0C diikuti
dengan kontraksi volume
d. Bentuk melebur pada suhu 18oC, diperoleh dengan menuangkan oleum
cacao suhu 20oC sebelum dipadatkan ke dalam wadah yang didinginkan
pada suhu yang sangat dingin. Pembentukan polimorfisa ini tergantung
dari derajat pemanasan, proses pendinginan dan keadaan selama proses.
Pembentukan kristal non stabil dapat dihindari dengan cara :
Jika massa tidak melebur sempurna, sisa-sisa krsital mencegah pembentukan
krsital non stabil.

8
Sejumlah kristal stabil ditambahkan ke dalam leburan untuk mempercepat
perubahan dari bentuk non stabil ke bentuk stabil. (istilahnya seeding).
Leburan dijaga pada temperatur 28-32 0C selama 1 jam atau 1 hari.

b. Basis suppositoria larut air dan basis yang bercampur dengan air
Basis yang penting dari kelompok ini adalah basis gelatin tergliserinasi dan
basis polietilen glikol. Basis gelatin tergliserinasi terlalu lunak untuk dimasukkan
dalam rektal sehingga hanya digunakan melalui vagina (umum) dan uretra. Basis ini
melarut dan bercampur dengan cairan tubuh lebih lambat dibandingkan dengan oleum
cacao sehingga cocok untuk sediaan lepas lambat. Basis ini menyerap air karena
gliserin yang higroskopis. Oleh karena itu, saat akan dipakai, suppo harus dibasahi
terlebih dahulu dengan air.
Polietilen glikol (PEG) merupakan polimer dari etilen oksida dan air, dibuat
menjadi bermacam-macam panjang rantai, berat molekul dan sifat fisik. Polietilen
glikol tersedia dalam berbagai macam berat molekul mulai dari 200 sampai 8000.
PEG yang umum digunakan adalah PEG 200, 400, 600, 1000, 1500, 1540, 3350,
4000, 6000 dan 8000. Pemberian nomor menunjukkan berat molekul rata-rata dari
masing-masing polimernya. Polietilen glikol yang memiliki berat molekul rata-rata
200, 400, 600 berupa cairan bening tidak berwarna dan yang mempunyai berat
molekul rata-rata lebih dari 1000 berupa lilin putih, padat dan kekerasannya
bertambah dengan bertambahnya berat molekul. Basis polietilen glikol dapat
dicampur dalam berbagai perbandingan dengan cara melebur, dengan memakai dua
jenis PEG atau lebih untuk memperoleh basis suppo dengan konsistensi dan
karakteristik yang diinginkan. PEG menyebabkan pelepasan lebih lambat dan
memiliki titik leleh lebih tinggi daripada suhu tubuh. Penyimpanan PEG tidak perlu
di kulkas dan dapat dalam penggunaan dapat dimasukkan secara perlahan tanpa kuatir
suppo akan meleleh di tangan (hal yang umum terjadi pada basis lemak). (Ansel, hal
377)

c. Basis surfaktan

9
Surfaktan tertentu disarankan sebagai basis hidrofilik sehingga dapat
digunakan tanpa penambahan zat tambahan lain. Surfaktan juga dapat
dikombinasikan dengan basis lain. Basis ini dapat digunakan untuk memformulasi
obat yang larut air dan larut lemak. Keuntungan : Dapat disimpan pada suhu tinggi

2.3. KEKURANGAN DAN KELEBIHAN SUPPOSITORIA


1. Kelebihan Suppositoria
a. Dapat digunakan untuk obat yang tidak bisa diberikan melalui rute oral karena
gangguan
saluran cerna seperti mual, pasien dalam keadaan tidak sadar, atau pada saat
pembedahan.
b. Dapat diberikan pada bayi, anak-anak, lansia yang susah menelan, dan pasien
gangguan
Mental
c. Zat aktif tidak sesuai melalui rute oral, missal karena efek samping pada
saluran cerna, atau mengalami First Pass Effect (FPE)
2. Kekurangan Suppositoria
a. Daerah absorpsinya lebih kecil
b. Absorpsi hanya melalui difusi pasif
c. Pemakaian kurang praktis
d. Tidak dapat digunakan untuk zat-zat yang rusak oleh pH di rektum (materi
kuliah)

BAB III
METODE PEMBUATAN
3.1. Alat dan Bahan
3.1.1. Alat
1. Timbanga, anak timbangan, penara
2. Perkamen
3. Cawan porselen
4. Sendok tanduk
5. Sudip
6. Batang pengaduk
7. Mortir
8. Stamper
9. Serbet
10. Pencetakan supositoria

10
3.1.2. Bahan
1. Tarmadol
2. Gelatin
3. Glycerin
4. Air
3.2. Formulasi

R/ Tramadol 0,4

Basis suppos secukupnya


3.3. Cara Kerja
Campur, buat
1. Penyiapan 1 suppositoria dan buat
cetakan
a. sejumlah
Cetakan yang diperlukan
dikalibrasi, caranya : Siapkan cetakan supo dengan kondisi kering
dan bersih. Buat lelehan basis supo 6-12 supo. Tuang lelehan, dinginkan dan
rapikan. Keluarkan supo dari cetakan dan timbang. Hitung bobot rata-rata
supo. Bobot rata-rata ioni sebagai nilai kalibrasi untuk cetakan tertentu.
b. Cetakan sebaiknya dilubrikasi. Cetakan yang baru masih memiliki permukaan
yang mengkilat dan dapat melepaskan suppositoria secara cepat, tetapi setelah
beberapa kali pemakaian dapat timbul goresan yang dapat menghambat
pelepasan suppositoria dari cetakan. Penggunaan lubrikan sesedikit mungkin
untuk melapisi semua bagian cetakan tertutup, jika berlebihan dapat
menyebabkan deformasi supo, jika kurang dapat menyebabkan kesulitan
pengeluaran supo dari cetakan.
c. Lubrikan yang digunakan tidak bercampur (immisibel) dengan basis. Untuk
basis larut air, digunakan minyak mineral (contoh : parafin cair). Untuk basis
larut lemak, digunakan gliserin, air, air-gliserin, atau PEG 400.
d. Teknik lain untuk memudahkan pengeluaran suppositoria akhir dari cetakan
adalah dengan mendinginkan cetakan sebentar di freezer setelah suppositoria
membeku pada suhu kamar. Kontraksi tambahan dapat melepaskan
suppositoria lebih mudah dari permukaan logam.

2. Pembuatan basis supo


a. Pemanasan berlebihan harus dihindari dan basis yang telah dilelehkan dituang
ke dalam cetakan pada suhu sedikit di atas titik pembekuan untuk:
1. mencegah kristalisasi basis yang dapat menyebabkan suppositoria retak.

11
2. mencegah presipitasi obat yang tidak larut dalam basis ke ujung
suppositoria dan mencegah patahnya suppositoria.
b. Suhu pelehan basis oleum cacao 34-35oC, jika dipanaskan melebihi suhu ini
menyebabkan pembentukan bentuk (tidak stabil), jika dipanaskan kurang
dari suhu ini menyebabkan ol.cacao sulit ditangani dan lengket di cetakan.
c. PEG merupakan basis yang sangat stabil pada suhu tinggi, pelelehan biasanya
pada suhu 60oC.

3. Penyiapan zat aktif


a. Zat aktif sebaiknya digerus menjadi ukuran yang homogen, halus, dan dapat
menjamin distribusi yang merata dalam basis.
b. Maksimum zat aktif / zat tambahan lain yang boleh dimasukkan ke dalam
basis adalah 30%. Lebih dari 30% menyebabkan kerapuhan supo.

4. pencampuran dan penuangan


a. Zat aktif dapat langsung dicampurkan ke dalam lelehan basis, atau dibasahkan
dulu sebelum dimasukkan.
b. Waktu pencampuran harus diperhatikan sampai diperoleh distribusi zat aktif
yang homogen. Pencampuran yang terlalu lama dapat menyebabkan
penguraian zat aktif atau basis.
c. Campuran dalam lelehan kemudian dituang pada suhu kamar sampai cetakan
terpenuhi sempurna agar tidak terjadi lapisan-lapisan dalam supo. Cetakan
dingin tidak digunakan karena menyebabkan fraktur. Hindarkan gelembung
udara terjerat dalam lelehan.

5. pendinginan dan penyempurnaan


a. Lelehan dibiarkan dalam suhu kamar 15-30 menit diikuti dengan pendinginan
tambahan di lemari es selama 30 menit.

6. Pembuatan dan penuangan Suppositoria dengan cara leburan :


a. Panaskan dengan suhu serendah mungkin basis yang telah ditimbang hingga
melebur di atas penangas air dengan menggunakan mangkok porselin berbibir
dan memiliki tempat pegangan

12
b. Bahan obat dicampur dengan sebagian lelehan basis, bila sudah bercampur
baik tambahkan dengan diaduk bersama sisa leburan basis yang telah
mendingin / hampir mengental. Untuk bahan yang menguap atau terganggu
oleh pemanasan dicampur dengan diaduk pada suhu tertentu yang dapat
menjamin kestabilan bahan..
c. Agar hasil cetakan lebih baik, cetakan didinginkan dahulu di lemari es
sebelum penuangan campuran ke dalam cetakan.
d. Apabila berat jenis zat aktif yang tidak larut basis lebih besar dari berat jenis
basis sehingga dapat menyebabkan pengendapan, maka ketika pencampuran
dan penuangan ke lubang cetakan dilakukan pengadukan terus-menerus.
e. Penuangan campuran dilakukan sedikit diatas titik (suhu) pengendapan (tidak
dalam kondisi terlalu cair), untuk mencegah presipitasi zat yang tidak larut
dalam basis ke ujung suppositoria.
f. Penuangan dilakukan secara kontinu agar suppositoria tidak pecah akibat
terjadinya lapisan-lapisan.
g. Penuangan dilakukan secara berlebihan pada permukaan cetakan / hingga
meluap untuk menutup semua rongga pada permukaan secara sempurna. Sisa
luapan dapat dibersihkan dari permukaan cetakan setelah Suppositoria
membeku (Ansel, 381).

13
BAB IV
PEMBAHASAN
Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang
diberikan melalui rektal, vagina atau uretra. Umumnya meleleh, melunak atau
melarut pada suhu tubuh. Suppositoria vaginal (ovula) umumnya berbentuk bulat atau
bulat telur dan berbobot lebih kurang 5 g, dibuat dari zat pembawa yang larut dalam
air atau yang dapat bercampur dalam air, seperti polietilen glikol atau gelatin
tergliserinasi.
Bahan dasar suppositoria yang digunakan sangat berpengaruh pada pelepasan
zat terapetik. Lemak coklat cepat meleleh pada suhu tubuh dan tidak tercampurkan
dengan cairan tubuh, oleh karena itu menghambat difusi obat yang larut dalam lemak
pada tempat diobati. Polietilen glikol adalah bahan dasar yang sesuai untuk beberapa
antiseptik. Jika diharapkan bekerja secara sistemik, lebih baik menggunakan bentuk
ionik dari pada nonionik, agar diperoleh ketersediaan hayati yang maksimum.
Meskipun obat bentuk nonionik dapat dilepas dari bahan dasar yang dapat bercampur
dengan air, seperti gelatin tergliserinasi dan polietilen glikol, bahan dasar ini
cenderung sangat lambat larut sehingga menghambat pelepasan.
Biasanya digunakan untuk lokal dengan efek sebagai antiseptik, kontrasepsi,
anastetik lokal, dan pengobatan penyakit infeksi seperti trichomonal, bakteri dan
monilial. Tujuan pengunaan suppositoria adalah untuk mendapatkan effek
lokal yang langsung bereaksi pada tempat pemberiannya. Contohnya
pemberian suppositoria terhadap penderita tumor Rahim. Nyeri adalah gejala
umum yang dialami oleh penderita tumor rahim. Masa tumor yang bertambah besar
akan menekan saraf, tulang, dan organ lain yang ada di sekitarnya sehingga
menimbulkan nyeri. Nyeri dapat juga disebabkan oleh adanya metastatis, prosedur
tindakan diagnostik dan komplikasi terapi. Untuk menangani nyeri ini diperlukan
obat antinyeri yang biasa disebut dengan analgesik. Analgesik adalah senyawa yang

14
dapat menekan fungsi SSP secara selektif, digunakan untuk mengurangi rasa sakit
tanpa mempengaruhi kesadaran. Analgesik bekerja dengan meningkatkan nilai
ambang persepsi rasa sakit .
Pemilihan sediaan dalam bentuk Suppositoria didasari bentuk sediaan tersebut
bisa langsung digunakan pada daerah tempat sakit tersebut, yaitu vagina. Bentuk
sediaan supposutoria ini memungkinkan absorbsi obat lebih cepat di bagian yang
sakit sehingga efek yang ditimbulkan pun akan cepat terasa, jika dibandingkan
penggunaan obat secara oral pada kasus tumor rahim ini

15
BAB V
KESIMPULAN
Berdasarkan dari pembahasan tersebut dapat disimpulkan:
1. Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang
diberikan melalui rektal, vagina atau uretra.
2. Pemilihan sediaan dalam bentuk Suppositoria didasari bentuk sediaan tersebut
bisa langsung digunakan pada daerah tempat sakit.
3. Bahan dasar suppositoria yang digunakan sangat berpengaruh pada pelepasan
zat terapetik.

16
DAFTAR PUSTAKA

Anief, M.1987. Ilmu Mercik Obat. Yogyakarta: UGM Press.

Anief, M.2000.Farmasetika. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Ditjen POM. 1979. Farmakope Indonesia. Ed. III. Jakarta: Depkes RI.

Ditjen POM. 1995. Farmakope Indonesia. Ed. IV. Jakarta: Depkes RI

Formularium Nasional, Edisi Kedua : tahun 1978

Lieberman, H., A., Coben, L., J., Sediaan Semisolid, dalam Lachman, L., Lieberman,
H., A., Kanig, J., L., 1994, Teori dan Praktek Farmasi Industri III, UI-Press

Lachman. Et al. 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Penerjemah: Siti Suyatmi.
Jilid III. Edisi ke-3. UI-Press. Jakarta.

17