Anda di halaman 1dari 17

SATUAN ACARA BERMAIN

PADA ANAK USIA TOODLER


DI RUANG MELATI RSUD KARANGASEM

OLEH :
KELAS II.A/D-IV KEPERAWATAN

KOMANG DINI KESUMA PUTRI (P07120215035)


I GUSTI AYU REGITA PRAMESTI C (P07120215036)
I GEDE PERI ARISTA (P07120215037)
IDA AYU MADE UTARI (P07120215039)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK IDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
2017
Program Studi D-IV Keperawatan Poltekkes Denpasar

SATUAN ACARA BERMAIN


PADA ANAK USIA TOODLER
DI RUANG MELATI RSUD KARANGASEM

Bidang Studi : Ilmu Keperawatan Anak


Topik : Terapi bermain pada anak usia toodler
Sub Topik : Menggambar dan mewarnai
Sasaran : Anak Usia Toodler (1-4 Tahun)
Tempat : Ruangan Bermain Anak di Ruang Melati RSUD Karangasem
Hari / Tanggal : Sabtu, 20 Mei 2017
Waktu : 1 x 40 menit

I. Latar Belakang:

Hospitalisasi merupakan perawatan yang dilakukan dirumah sakit dan dapat


menimbulkan trauma dan stres pada klien yang baru mengalami rawat inap di rumah
sakit. Hospitalisasi pada anak merupakan proses karena suatu alasan yang berencana
atau darurat mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit menjalani terapi dan
perawatan sampai pemulangan kembali kerumah (Supartini, 2004).Perasaan cemas
merupakan dampak dari hospitalisasi yang dialami oleh anak karena menghadapi
stressor yang ada di lingkungan rumah sakit. Perasaan tersebut dapat timbul karena
menghadapi sesuatu yang baru dan belum pernah dialami sebelumnya, rasa tidak
nyaman dan merasakan sesuatu yang menyakitkan (Supartini, 2004).

Anak usia toddler adalah anak usia 12 36 bulan (1-3 tahun) pada periode ini
anak berusaha mencari tahu bagaimana sesuatu bekerja dan bagaimana mengontrol
orang lain melalui kemarahan, penolakan dan tindakan keras kepala. Hal ini merupakan
periode yang sangat penting untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan
intelektual secara optimal (Perry, 1998). Whaley dan Wongs (2000) mengemukakan
pertumbuhan merupakan bertambah jumlah dan besarnya sel seluruh bagian tubuh yang
secara kuantitatif dapat diukur. Sedangkan perkembangan merupakan bertambahnya
sempurnanya fungsi alat tubuh yang dapat dicapai melalui tumbuh kematangan belajar.
Usia 1 tahun merupakan usia yang penuh berbagai hal yang menarik antara lain
berubah dalam cara makan, cara bergerak, juga dalam keinginan dan sikap atau
perasaan si kecil apabila disuruh melakukan sesuatu yang tidak ia sukai, ini akan

Praktik Keperawatan Anak


Program Studi D-IV Keperawatan Poltekkes Denpasar

menyatakan sikap dan nalurinya mengatakan " tidak" baik dengan kata-kata maupun
perbuatan, meskipun sebetulnya hal itu di sukai (Psikolog menyebutnya Negatifisme).
Kenyataan ini berbeda pada saat usia di bawah sate tahun, si kecil akan menjadi seorang
penyidik yang sangat menjengkelkan, mereka akan menyelinap keluar masuk setiap
sudut rumah, menyentuh semua benda yang ditemukannya, menggoyangkan meja dan
kursi, menjatuhkan benda apapun yang dapat dijatuhkan, memanjat apa yang bisa
dipanjat, memasukkan benda-benda kecil kedalam benda yang lebih besar dan
sabagainya. Pendek kata tangannya tidak bisa diam setiap hari (Hurlock, 2002:98).
Pada usia 2 tahun si kecil akan cenderung mengikuti orang tuanya kesana-
kemari, ikut ikutan menyapu, mengepel, menyiram tanaman, semua ini di lakukan
dengan penuh kesungguhan. Pada usia 2 tahun anak sudah mulai belajar bergaul, ia
senang sekali menonton anak lain bermain, perasaan takut dan cemas sering terjadi
apabila orang tuanya meninggalkan anak sendiri. Seandainya orang tua harus bepergian
lama atau memutuskan untuk kembali bekerja dan meminta bantuan orang lain untuk
mengawasi anaknya, biasanya anak tidak rewel pada saat orang tua pergi tetapi pada
saat mereka kembali anak akan terus-menerus melekat pada ayah dan ibunya dan tidak
mengizinkan siapapun juga mendekatinya, karena ia takut orang tuanya akan pergi lagi.
Perasaan takut akan semakin menghambat pada saat tidur ia mau berbaring jika ayah
atau ibunya duduk di sampingnya ( Hurlock, 2002:101).
Anak pada usia 3 tahun biasanya lebih mudah dikendalikan karena anak sudah
dalam perkembangan emosi, sehingga mereka menganggap ayah dan ibunya sebagai
orang yang istimewa. Sikap permusuhan dan kebandelan yang muncul pada usia antara
2 - 3 tahun tampaknya makin berkurang, Sikap pada orang tua bukan saja bersahabat
tetapi sangat ramah dan hangat. Anak menjadi sangat patuh pada orang tuanya,
sehingga mereka akan bertingkah laku baik dan menurut sekali. Jika keinginan mereka
bertentangan dengan kehendak orang tuanya karena mereka tetap makluk hidup yang
mempunyai pendapat sendiri. Pada usia 3 tahun anak cenderung meniru siapa pun yang
dilakukan orang tuanya sehari-hari disebut proses identifikasi. Dalam proses inilah
karakter anak di bentuk jauh lebih banyak dari petunjuk yang diterima dari orang
tuanya, seperti membentuk model diri mereka, membina kepribadian, membentuk sikap
dasar, baik terhadap pekerjaan, orang tua dan dirinya sendiri (Hurlock, 2002:111).

Ketika anak menjalani perawatan di rumah sakit khususnya di Ruang Melati


RSUD Karangasem, pasien biasanya ia akan dilarang untuk banyak bergerak dan harus

Praktik Keperawatan Anak


Program Studi D-IV Keperawatan Poltekkes Denpasar

banyak beristirahat dan berdiam diri di kamar. Hal tersebut tentunya akan
mengecewakan anak sehingga dapat meningkatkan kecemasan pada anak (Samiasih,
2007).

Bermain merupakan aspek penting dalam kehidupan anak serta merupakan satu
cara paling efektif untuk menurunkan stres pada anak dan penting utnuk kesejahteraan
mental dan emosional anak. Permainan pada anak yang rawat inap di RS tidak hanya
memberikan rasa senang pada anak tetapi juga membantu anak mengekspresikan
perasaan, pikiran cemas, takut, sedih, tegang, dan nyeri. Tentu saja permainan tersebut
harus sesuai dengan prinsip bermain anak selama di RS yaitu tidak membutuhkan
banyak energi, waktunya singkat, mudah dilakukan, aman, sesuai kelompok umur,
melibatkan orang tua, dan tentunya tidak bertentangan dengan terapi. Pada anak-anak
yang belum dapat mengekspresikan perasaan dan pikiran mereka misalnya pada anak
usia prasekolah (3-6tahun) permainan menggambar, mewarnai atau melukis merupakan
permainan yang sesuai dengan prinsip bermain di RS dan dapat mambantu
mengekspresikan perasaan pikiran cemas, takut, sedih, tegang, dan nyeri (Supartini,
2004).

Mewarnai memberikan kesempatan pada anak untuk bebas berekspresi dan


sangat therapeutic (sebagai permainan penyembuh/ therapeutic play) yang membuat
anak mengekspresikan perasaannya, sebagai cara berkomunikasi tanpa menggunakan
kata. (Suparto, 2003). Warna juga merupakan media terapi untuk membaca emosi
seseorang dan dapat meringankan stress pada anak (Farida, 2009). Menggambar atau
mewarnai merupakan salah satu permainan yang memberikan kesempatan anak untuk
bebas berekspresi dan sangat terapeutik (sebagai permainan penyembuh). Anak dapat
mengekspresikan perasaannya dengan cara menggambar, ini berarti menggambar bagi
anak merupakan suatu cara untuk berkomunikasi tanpa menggunakan kata-kata
(Suparto, 2003, dalam Paat, 2010 ). Dengan menggambar atau mewarnai gambar juga
dapat memberikan rasa senang karena pada dasarnya anak usia pra sekolah sudah
sangat aktif dan imajinatif selain itu anak masih tetap dapat melanjutkan perkembangan
kemampuan motorik halus dengan menggambar meskipun masih menjalani perawatan
di rumah sakit. Berdasarkan hal tersebut, kami tertarik untuk melakukan terapi
menggambar dan mewarnai di Ruang Melati RSUD Karangasem.

Praktik Keperawatan Anak


Program Studi D-IV Keperawatan Poltekkes Denpasar

II. Tujuan Umum :


Setelah mendapatkan terapi bermain selama 40 menit, anak diharapkan bisa merasa
tenang selama perawatan di rumah sakit dan tidak takut lagi terhadap perawat sehingga
bisa merasa nyaman selama dirawat di rumah sakit serta mampu mengurangi stres
hospitalisasi.

III. Tujuan Khusus :


Untuk Anak :
1) Mengurangi trauma hospitalisasi
2) Mengembangkan proses fikir
3) Mengembangkan aspek sosialisasi anak dengan teman sebaya
4) Mengembangkan daya imajinasi
5) Menumbuhkan sportifitas
6) Mengembangkan kepercayaan diri
7) Mengembangkan koordinasi motorik
8) Menyalurkan emosi/perasaan anak
9) Mengembangkan kecerdasan
10) Melatih kerjasama mata dan tangan
11) Mampu menggambar maupun melukis yang mereka inginkan.

Untuk orang tua :


1) Orang tua akan senang jika melihat anak-anaknya senang
2) Mengurangi kecemasan orang tua

IV. Metode
Agar tujuan khusus tercapai, metode yang dipergunakan adalah :
1) Anak akan diberikan stimulus berupa alat-alat menggambar maupun melukis yang
dapat meningkatkan imajinasi anak-anak.
2) Anak akan mencoba untuk menggambar dan melukis sesuai dengan yang
diinginkannya.
3) Masing-masing anak akan mencoba mewarnai gambaran yang mereka gambar
dengan warna yang disukainya.

V. Media

Praktik Keperawatan Anak


Program Studi D-IV Keperawatan Poltekkes Denpasar

1) Buku gambar
2) Pensil
3) Penghapus
4) Pensil warna/ crayon
5) Matras
6) Meja

VI. Waktu
1) Saat anak mempunyai waktu luang
2) Sedang tidak ada tindakan keperawatan / pengobatan
3) Kondisi anak memungkinkan untuk dilakukan terapi bermain

VII. Pengorganisasian
Leader : .
Co Leader : .
Fasilitator : .
.
Observer : .
VIII. Desain Bermain
No Terapis Waktu Subjek terapi
1 Persiapan
a. Menyiapkan ruangan : 10 menit Ruangan, tempat,
ukuran 4 x 5 meter. alat, anak
b. Menyetting tempat : duduk
melingkar berdampingan dengan anak-
anak
c. Menyiapkan alat-alat :
pensil, penghapus, penggaris, spidol,
pensil warna/ crayon
d. Menyiapkan anak
2 Proses :
a. Membuka proses 1 menit Menjawab salam,
terapi bermain dengan mengucapkan Memperkenalkan

Praktik Keperawatan Anak


Program Studi D-IV Keperawatan Poltekkes Denpasar

salam, memperkenalkan diri untuk diri,


menarik perhatian anak (leader)

b. Menjelaskan pada 2 menit Memperhatikan


anak tentang tujuan dan manfaat
bermain, menjelaskan cara permainan.
(leader)
2 menit
c. Membagi alat
permainan 15 menit Bermain bersama
dengan antusias
d. Mengajak anak dan
bermain (anak menggambar apa pun mengungkapkan
yang dipikirkan oleh anak) perasaannya

2 menit

e. Memberikan reward
pada anak yang sudah menyelesaikan
gambaran sesuai dengan yang 5 menit
diinginkannya

f. Menentukan anak
yang mampu menggambar dengan baik
dan tepat. (leader)

g. Mengevaluasi respon
anak (leader)
3 Penutup 3 menit Memperhatikan
Menyimpulkan, mengucapkan salam dan menjawab
(leader) salam

IX. Evaluasi
a. Evaluasi Struktur

Praktik Keperawatan Anak


Program Studi D-IV Keperawatan Poltekkes Denpasar

1. Materi sudah disiapkan 2 minggu sebelum terapi bermain dilakukan


2. Media sudah dipersiapkan 1 minggu sebelum terapi bermain dilakukan
3. SAP sudah dikonsulkan 1 minggu sebelum terapi bermain dilakukan
4. Kontrak pertemuan sudah dilakukan pada saat kunjungan ke kamar pasien sehari
sebelumnya

b. Evaluasi Proses
Proses terapi bermain dapat berlangsung dengan lancar dan peserta terapi
bermain dapat mengikuti aturan permainan yang diberikan.
Peserta terapi antusias dan tenang dalam mengikuti terapi bermain ini.
Tidak ada anak yang meninggalkan tempat dilaksanakan terapi bermain selama
kegiatan berlangsung.

c. Evaluasi Hasil
Peserta bermain mampu :
1. Menggambar maupun melukis sesuai dengan yang diinginkan oleh anak-
anak
2. Mengembangkan aspek sosialisasi anak dengan teman sebaya
3. Mengurangi trauma hospitalisasi dan trauma dengan petugas
4. Mengembangkan kepercayaan diri

Praktik Keperawatan Anak


Program Studi D-IV Keperawatan Poltekkes Denpasar

LAMPIRAN MATERI

1. Pengertian Bermain

Bermain adalah salah satu aspek penting dari kehidupan anak dan salah satu alat
paling penting untuk menatalaksanakan stres karena hospitalisasi menimbulkan krisis
dalam kehidupan anak, dan karena situasi tersebut sering disertai stress berlebihan, maka
anak-anak perlu bermain untuk mengeluarkan rasa takut dan cemas yang mereka alami
sebagai alat koping dalam menghadapi stress. Bermain sangat penting bagi mental,
emosional dan kesejahteraan anak seperti kebutuhan perkembangan dan kebutuhan
bermain tidak juga terhenti pada saat anak sakit atau anak di rumah sakit (Wong, 2009).
Bermain dapat dijadikan sebagai suatu terapi karena berfokus pada kebutuhan anak untuk
mengekspresikan diri m9ereka melalui penggunaan mainan dalam aktivitas bermain dan
dapat juga digunakan untuk membantu anak mengerti tentang penyakitnya (Mc. Gie,
2003).

2. Tujuan Bermain

Anak bermain pada dasarnya agar memperoleh kesenangan, sehingga tidak akan merasa
jenuh. Bermain tidak sekedar mengisi waktu, tetapi merupakan kebutuhan anak seperti
halnya makanan, perawatan dan cinta kasih. Bermain adalah unsur yang penting untuk
perkembangan fisik, emosi, mental, intelektual, kreativitas dan sosial (Soetjiningsih,
1995). Anak dengan bermain dapat mengungkapkan konflik yang dialaminya, bermain
cara yang baik untuk mengatasi kemarahan, kekuatiran dan kedukaan. Anak dengan
bermain dapat menyalurkan tenaganya yang berlebihan dan ini adalah kesempatan yang
baik untuk bergaul dengan anak lainnya (Soetjiningsih, 195).

3. Fungsi Bermain di Rumah Sakit

Ada banyak manfaat yang bisa diperoleh seorang anak bila bermain dilaksanakan di suatu
rumah sakit, antara lain:

a) Memfasilitasi situasi yang tidak familiar,

b) Memberi kesempatan untuk membuat keputusan dan kontrol,

c) Membantu untuk mengurangi stress terhadap perpisahan,

Praktik Keperawatan Anak


Program Studi D-IV Keperawatan Poltekkes Denpasar

d) Memperbaiki konsep-konsep yang salah tentang penggunaan dan tujuan peralatan dan
prosedur medis,

e) Memberi peralihan dan relaksasi,

f) Membantu anak untuk merasa aman dalam lingkungan yang asing,

g) Memberikan cara untuk mengurangi tekanan dan untuk mengekspresikan perasaan,

h) Menganjurkan untuk berinteraksi dan mengembangkan sikap-sikap yang positif


terhadap orang lain,

i) Memberikan cara untuk mengekspresikan ide kreatif dan minat,

j) Memberi cara mencapai tujuan-tujuan terapeutik (Wong ,2009).

4. Kategori Bermain

a. Bermain aktif

Dalam bermain aktif, kesenangan timbul dari apa yang dilakukan anak, apakah dalam
bentuk kesenangan bermain alat misalnya mewarnai gambar, melipat kertas origami,
puzzle dan menempel gambar. Bermain aktif juga dapat dilakukan dengan bermain
peran misalnya bermain dokter-dokteran dan bermain dengan menebak kata (Hurlock,
1998).

b. Bermain pasif

Dalam bermain pasif, hiburan atau kesenangan diperoleh dari kegiatan orang lain.
Pemain menghabiskan sedikit energi, anak hanya menikmati temannya bermain atau
menonton televisi dan membaca buku. Bermain tanpa mengeluarkan banyak tenaga,
tetapi kesenangannya hampIr sama dengan bermain aktif (Hurlock, 1998).

5. Alat Permainan Edukatif (APE)

Alat Permainan Edukatif (APE) adalah alat permainan yang dapat mengoptimalkan
perkembangan anak, disesuaikan dengan usianya dan tingkat perkembangannya, serta
berguna untuk :

a) Pengembangan aspek fisik, yaitu kegiatan-kegiatan yang dapat menunjang atau


merangsang pertumbuhan fisik anak, trediri dari motorik kasar dan halus. Contoh alat

Praktik Keperawatan Anak


Program Studi D-IV Keperawatan Poltekkes Denpasar

bermain motorik kasar : sepeda, bola, mainan yang ditarik dan didorong, tali, dll.
Motorik halus : gunting, pensil, bola, balok, lilin, dll.

b) Pengembangan bahasa, dengan melatih berbicara, menggunakan kalimat yang


benar.Contoh alat permainan : buku bergambar, buku cerita, majalah, radio, tape, TV,
dll.

c) Pengembangan aspek kognitif, yaitu dengan pengenalan suara, ukuran, bentuk.


Warna, dll. Contoh alat permainan : buku bergambar, buku cerita, puzzle, boneka,
pensil warna, radio, dll.

d) Pengembangan aspek sosial, khususnya dalam hubungannya dengan interaksi ibu dan
anak, keluarga dan masyarakat. Contoh alat permainan : alat permainan yang dapat
dipakai bersama, misal kotak pasir, bola, tali, dll.

6. BENTUK- BENTUK PERMAINAN

a) Usia 0 12 bulan
Tujuannya adalah :
a. Melatih reflek-reflek (untuk anak bermur 1 bulan), misalnya mengisap,
menggenggam.
b. Melatih kerjasama mata dan tangan.
c. Melatih kerjasama mata dan telinga.
d. Melatih mencari obyek yang ada tetapi tidak kelihatan.
e. Melatih mengenal sumber asal suara.
f. Melatih kepekaan perabaan.
g. Melatih keterampilan dengan gerakan yang berulang-ulang.
Alat permainan yang dianjurkan :
a. Benda-benda yang aman untuk dimasukkan mulut atau dipegang.
b. Alat permainan yang berupa gambar atau bentuk muka.
c. Alat permainan lunak berupa boneka orang atau binatang.
d. Alat permainan yang dapat digoyangkan dan keluar suara.
e. Alat permainan berupa selimut dan boneka.

b) Usia 13 24 bulan
Tujuannya adalah :

Praktik Keperawatan Anak


Program Studi D-IV Keperawatan Poltekkes Denpasar

a. Mencari sumber suara/mengikuti sumber suara.


b. Memperkenalkan sumber suara.
c. Melatih anak melakukan gerakan mendorong dan menarik.
d. Melatih imajinasinya.
e. Melatih anak melakukan kegiatan sehari-hari semuanya dalam bentuk kegiatan
yang menarik
Alat permainan yang dianjurkan:
a.Genderang, bola dengan giring-giring didalamnya.
b. Alat permainan yang dapat didorong dan ditarik.
c.Alat permainan yang terdiri dari: alat rumah tangga(misal: cangkir yang tidak
mudah pecah, sendok botol plastik, ember, waskom, air), balok-balok besar,
kardus-kardus besar, buku bergambar, kertas untuk dicoret-coret, krayon/pensil
berwarna.
c) Usia 25 36 bulan
Tujuannya adalah ;
a.Menyalurkan emosi atau perasaan anak.
b. Mengembangkan keterampilan berbahasa.
c.Melatih motorik halus dan kasar.
d. Mengembangkan kecerdasan (memasangkan, menghitung, mengenal dan
membedakan warna).
e.Melatih kerjasama mata dan tangan.
f. Melatih daya imajinansi.
g. Kemampuan membedakan permukaan dan warna benda.
Alat permainan yang dianjurkan :
a.Alat-alat untuk menggambar.
b. Lilin yang dapat dibentuk
c.Pasel (puzzel) sederhana.
d. Manik-manik ukuran besar.
e.Berbagai benda yang mempunyai permukaan dan warna yang berbeda.
f. Bola.
d) Usia 32 72 bulan
Tujuannya adalah :
a. Mengembangkan kemampuan menyamakan dan membedakan.
b. Mengembangkan kemampuan berbahasa.

Praktik Keperawatan Anak


Program Studi D-IV Keperawatan Poltekkes Denpasar

c. Mengembangkan pengertian tentang berhitung, menambah, mengurangi.


d. Merangsang daya imajinansi dsengan berbagai cara bermain pura-pura
(sandiwara).
e. Membedakan benda dengan permukaan.
f. Menumbuhkan sportivitas.
g. Mengembangkan kepercayaan diri.
h. Mengembangkan kreativitas.
i. Mengembangkan koordinasi motorik (melompat, memanjat, lari, dll).
j. Mengembangkan kemampuan mengontrol emosi, motorik halus dan kasar.
k. Mengembangkan sosialisasi atau bergaul dengan anak dan orang diluar
rumahnya.
l. Memperkenalkan pengertian yang bersifat ilmu pengetahuan, misal : pengertian
mengenai terapung dan tenggelam.
m. Memperkenalkan suasana kompetisi dan gotong royong.
Alat permainan yang dianjurkan :
a. Berbagai benda dari sekitar rumah, buku bergambar, majalah anak-anak, alat
gambar & tulis, kertas untuk belajar melipat, gunting, air, dll.
b. Teman-teman bermain : anak sebaya, orang tua, orang lain diluar rumah.
2. Usia Prasekolah
Alat permainan yang dianjurkan :
a. Alat olah raga.
b. Alat masak
c. Alat menghitung
d. Sepeda roda tiga
e. Benda berbagai macam ukuran.
f. Boneka tangan.
g. Mobil.
h. Kapal terbang.
i. Kapal laut dsb
3. Usia sekolah
Jenis permainan yang dianjurkan :
a. Pada anak laki-laki : mekanik.
b. Pada anak perempuan : dengan peran ibu.

Praktik Keperawatan Anak


Program Studi D-IV Keperawatan Poltekkes Denpasar

4. Usia Praremaja
Karakterisrik permainnya adalah permainan intelaktual, membaca, seni, mengarang,
hobi, video games, permainan pemecahan masalah.
5. Usia remaja
Jenis permainan : permainan keahlian, video, komputer, dll.

2.4.1 Pengertian Terapi Menggambar

Menggambar adalah kegiatan yang dilakukan dengan cara mencorat-coret,


menggores, menorehkan benda tajam ke benda lain dan memberi warna, sehingga
menimbulkan gambar (Puspitasari & Haribuan, 2014). Mewarnai adalah memberi warna
pada coretan hasil gambar, yang dilakukan dengan satu warna atau beragam warna
(Gumelar, 2015). Apriyatno (2008) mengungkapkan bahwa menggambar sebagai proses
kreasi dan wujud pengeksplorasian teknik dan gaya, penggalian gagasan dan kreativitas,
serta dapat menjadi suatu terapi, yaitu terapi psikologis. Terapi menggambar merupakan
terapi yang menggunakan gambar sebagai komunikasi alamiah dalam mengekspresikan
perasaan dan pikiran. Subyek yang digambar berupa tampilan realistik dalam kehidupan
sehari-hari atau gambar yang mementingkan gaya gambar (Malchiodi, 2013).

2.4.2 Manfaat Terapi Menggambar

Mewarnai memberikan kesempatan pada anak untuk bebas berekspresi dan sangat
therapeutic (sebagai permainan penyembuh/ therapeutic play) yang membuat anak
mengekspresikan perasaannya, sebagai cara berkomunikasi tanpa menggunakan kata.
(Suparto, 2003). Warna juga merupakan media terapi untuk membaca emosi seseorang
dan dapat meringankan stress pada anak (Farida, 2009). Menggambar atau mewarnai
merupakan salah satu permainan yang memberikan kesempatan anak untuk bebas
berekspresi dan sangat terapeutik (sebagai permainan penyembuh). Anak dapat
mengekspresikan perasaannya dengan cara menggambar, ini berarti menggambar bagi
anak merupakan suatu cara untuk berkomunikasi tanpa menggunakan kata-kata (Suparto,
2003, dalam Paat, 2010 ). Dengan menggambar atau mewarnai gambar juga dapat
memberikan rasa senang karena pada dasarnya anak usia pra sekolah sudah sangat aktif

Praktik Keperawatan Anak


Program Studi D-IV Keperawatan Poltekkes Denpasar

dan imajinatif selain itu anak masih tetap dapat melanjutkan perkembangan kemampuan
motorik halus dengan menggambar meskipun masih menjalani perawatan di rumah sakit.

2.4.3 Langkah-langkah Terapi Menggambar

Menggambar dapat dilakukan selama 45-60 menit, 1-2 kali seminggu selama 3
minggu (Candra dkk., 2013; Pesiah, 2011). Peralatan yang digunakan cukup sederhana,
seperti kertas gambar, pensil, penghapus, pensil warna, serta krayon (Thyme et al., 2009;
Montag et al., 2014). Terapi yang dilakukan dapat dalam suatu kelompok atau per
individu (Edwards, 2004). Betensky (dalam Thyme et al., 2009) menyatakan bahwa
dalam setiap sesi terapi menggambar, klien dianjurkan untuk mengeluarkan perasaan dan
pikirannya melalui gambar, garis, bentuk, dan warna. Berikut lima sesi dalam terapi
menggambar, yaitu:

a. Sesi 1

Tahap pertama berfokus untuk memvisualisasikan perasaan. Terapis membacakan


kata yang mengekspresikan perasaan, seperti kegembiraan, ketenangan, kemarahan,
kesedihan, serta kekesalan. Kemudian klien membuat gambar yang menggambarkan
perasaan tersebut dengan pensil. Setelah itu, klien memberikan nama pada setiap gambar
(Thyme et al., 2009).

b. Sesi 2

Pada tahap ini berfokus pada life-size body outline. Klien menggambar bentuk garis
tubuh menggunakan krayon. Warna yang dipilih sesuai dengan perasaan yang klien
rasakan saat itu (Thyme et al., 2009).

c. Sesi 3

Pada tahap ini klien menggambar stres yang klien rasakan. Kemudian klien mewarnai
dengan krayon, memberi nama, dan menjelaskan gambar apa yang klien buat. Kegiatan ini
bertujuan untuk mengeksplorasi stres yang klien rasakan (Buchalter, 2004).

d. Sesi 4

Tahap selanjutnya, klien menggambar hal-hal yang dapat membuat perasaan menjadi
tenang/relaks, seperti menggambar kegiatan atau hobi yang klien sukai. Kemudian klien
mewarnai gambar tersebut, memberi nama dan menjelaskan pada terapis arti gambar
tersebut. Kegiatan ini membantu klien merasakan perasaan senang, dan menghilangkan
kecemasan, serta stress melalui kegiatan atau hobi yang klien sukai (Buchalter, 2004).

Praktik Keperawatan Anak


Program Studi D-IV Keperawatan Poltekkes Denpasar

e. Sesi 5

Tahap ini merupakan tahap akhir, dimana klien membuat gambar akhir dan
mewarnainya. Gambar tersebut bertujuan untuk meringkas pengalaman yang dilalui
selama melakukan terapi ini, kemudian memberi nama pada gambar dan menjelaskannya
kepada terapis (Thyme et al., 2009).

Praktik Keperawatan Anak


Program Studi D-IV Keperawatan Poltekkes Denpasar

DAFTAR PUSTAKA

Supartini, Yupi. (2004). Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta: EGC.

Paat, T. C. (2010). Skripsi : Analisis Pengaruh Terapi Bermain Terhadap Prilaku Kooperatif
Pada Anak Usia Prasekolah (3-6 Tahun) Selama Menjalani Perawatan Di Ruangan Ester
Rumah Sakit Umum Pancaran Kasih GMIM Manado. Manado : Universitas Sam Ratulangi.

Candra, W., Rikayanti, K., Sudiantara, K. (2013). Terapi Okupasi Aktivitas Menggambar
Terhadap Perubahan Halusinasi Pada Pasien Skizofrenia. Denpasar: Jurusan
Keperawatan Politeknik Kesehatan.

Pesiah, C., Lawrence , G., Reutens, S. (2011). Creative Solutions For Severe Dementia With
BPSD: A Case of Art Therapy Used In an Inpatient and Residential Care Setting. Int
Psychogeriatrics 23, 1011-1013.

Thyme, K. E., Sundin, E. C., Wiberg, B., Oster, I., Astrom, S., Lindh, J. (2009). Individual
Brief Art Therapy Can Be Helpful For Women With Breast Cancer: A Randomized
Controlled Clinical Study. Palliative and Supportive Care, 7, 87-95.

Montag, c., Haase, l., Seidel, D., Bayerl, M., Gallinat, J., Hermann, U, & Dannecker, K.
(2014). A Pilot RCT of Psychodynamic Group Art Therapy for Patients in Acute
Psychotic Episodes: Feasibility, Impact on Symptoms and Mentalising Capacity.
Phychiatry Research, Vol. 9, Issue 11, 1-11.

Soetjiningsih, 1988, Tumbuh Kembang Anak, EGC, Jakarta.

Markum.A.H, 1991, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak, FKUI, Jakarta.

Supartini,Yupi.2004.Buku ajar konsep Keperawatan Anak. Jakarta: EGC

Wong, DL & Wholey. 2007.Nursing Care of Infant & Children 4 Ed. Philadelpia: Morby
Yearbook.Inc.

Praktik Keperawatan Anak