Anda di halaman 1dari 10

KESIAPAN TEKNISI AKUNTANSI DALAM MENGHADAPI ERA

ASEAN ECONOMIC COMMUNITY (AEC)

Diajukan Oleh :

SITI KHODIJAH AYU WULANDARI (02414174)

MAULIDDINI NADHIFAH (02415002)

HAFIANA SYAFITRI (02415003)

Dosen Pembimbing :

Rakendro Wijayanto

PROGRAM DIPLOMA III AKUNTANSI PERPAJAKAN

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS TRISAKTI

JAKARTA

2016
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tepat pada awal tahun 2016, negara-negara di Asia Tenggara mulai
memberlakukan suatu sistem kerja sama dalam satu kawasan yaitu ASEAN Economic
Community (AEC) atau yang lebih dikenal dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN
(MEA). ASEAN Economic Community (AEC) adalah suatu sistem yang memiliki pola
mengintegrasikan ekonomi ASEAN dengan cara membentuk sistem perdagangan bebas
atau free trade antar negara-negara anggota ASEAN. Dengan diberlakukannya sistem
perdagangan bebas ini menjadikan suatu kesempatan besar bagi negara-negara di
kawasan Asia Tenggara untuk mengembangkan potensi perekonomiannya agar dapat
bersaing dalam lingkup internasional.
Bebasnya arus perekonomian yang timbul akibat adanya AEC pun akan berdampak
pada; arus lalu lintas barang, jasa, investasi, modal maupun profesional dan tenaga ahli.
Sistem kerja sama antar negara Asia Tenggara ini pun akan menguji sejauh mana
kesiapan daya saing dan produktifitas sumber daya manusia yang ada pada bangsa
Indonesia. Akuntan merupakan salah satu profesi yang mengalami guncangan besar,
luasnya mobilitas tenaga kerja seperti akuntan dalam persaingan ekonomi akan
mengakibatkan semakin tingginya tuntutan untuk menjadi profesional yang
berkompeten dalam era AEC. Pemerintah maupun seluruh stakeholder harus
mempersiapkan diri dalam menghadapi pengaruh arus bebas tenaga kerja tersebut.
Arus bebas tenaga kerja terampil tersebut harus dimanfaatkan oleh Indonesia
sebagai peluang dalam menyerap tenaga kerja dan mengurangi pengangguran. Hal yang
menjadi permasalahan adalah bagaimanakah kebijakan pemerintah dalam bidang
ketenagakerjaan dalam mempersiapkan tenaga kerja terampil menghadapi AEC 2015.
Terdapat berbagai kebijakan dalam bidang ketenagakerjaan yang mendukung
terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas atau tenaga kerja terampil. Oleh
karena itu penulis tertarik untuk mengangkat persoalan ini ke dalam makalah dengan
judul, Kesiapan Teknisi Akuntansi dalam Menghadapi Era ASEAN Economic
Community (AEC).

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka penulis
menyusun makalah ini dengan beberapa rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apa tuntutan bagi Teknisi Akuntansi dalam menghadapi ASEAN Economic
Community (AEC)?
2. Siapa saja pihak yang memegang peranan penting untuk menyiapkan sumber daya
manusia yang kompeten dalam menghadapi ASEAN Economic Community (AEC)?
3. Sejauh mana kesiapan professional teknisi akuntansi di Indonesia dalam
menghadapi ASEAN Economic Community (AEC)?

C. Tujuan dan Manfaat

Berdasarkan uraian latar belakang dan identifikasi masalah di atas, maka tujuan dari
dibuatnya makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui tuntutan Teknisi Akuntansi dalam menghadapi ASEAN


Economic Community (AEC)
2. Untuk mengetahui pihak yang memegang peranan penting untuk menyiapkan
sumber daya manusia yang kompeten dalam menghadapi ASEAN Economic
Community (AEC)
3. Untuk mengetahui kesiapan professional teknisi akuntansi di Indonesia dalam
menghadapi ASEAN Economic Community (AEC)
D. Implikasi

Pemerintah (regulator):
tulisan ini dapat digunakan sebagai bahan masukan pemerintah untuk mendorong
peningkatan professional seperti teknisi akuntansi yang berkompeten dan memiliki daya
saing yang unggul secara internasional melalui regulasi yang mereka tentukan
Asosiasi Profesi:
Menyediakan/menyusun standar kompetensi yang berskala internasional, menyediakan
pelatihan yang bermanfaat
Perguruan Tinggi:
Memberikan sarana dan melaksanakan proses belajar mengajar yang dapat mendukung
terciptanya kompetensi nasional dan internasional.
BAB II

KERANGKA TEORITIS

A. Profesi Teknisi Akuntansi

Akuntansi adalah suatu aktivitas jasa (mengidentifikasikan, mengukur,


mengkalsifikasikan dan mengikhtisarkan) kejadian atau transaksi ekonomi yang
menghasilkan informasi kuantitatif terutama yang bersifat keuangan yang digunakan
dalam pengambilan keputusan (Amin. W, 1997). Akuntansi berasal dari kata
accounting yang memiliki arti menghitung atau mempertanggungjawabkan. Akuntansi
digunakan hampir pada seluruh kegiatan bisnis di seluruh dunia untuk mengambil
keputusan sehingga disebut sebagai bahasa bisnis.
Terkait dengan pentingnya ilmu akuntansi tentu dibutuhkan pula sumber daya
manusia yang ahli dalam bidang akuntansi, seperti salah satunya yaitu seorang teknisi
akuntansi. Teknisi Akuntansi adalah adalah teknisi yang memiliki kompetensi untuk
menjadi tenaga pelaksana pembukuan pada dunia usaha, lembaga pemerintah dan
lembaga lainnya. Seorang teknisi akuntansi, lebih sering disebut dengan akuntansi
petugas pembukuan, yang dipekerjakan oleh perusahaan untuk mencatat, memproses,
dan membuat laporan keuangan.
Lain halnya dengan teknisi akuntansi, teknisi akuntansi yang professional adalah
teknisi akuntansi yang yang sudah memenuhi standar kompetensi yaitu: Pencapaian
kompetensi profesional pada awalnya memerlukan standar pendidikan umum yang
tinggi, diikuti oleh pendidikan khusus, pelatihan dan ujian profesional dalam subyek-
subyek yang relevan, dan pengalaman kerja. Kompetensi harus dipelihara dan dijaga
melalui komitmen untuk belajar dan melakukan peningkatan profesional secara
berkesinambungan selama kehidupan profesional anggota. Pemeliharaan kompetensi
profesional memerlukan kesadaran untuk terus mengikuti perkembangan profesi
akuntansi, termasuk diantaranya pernyataan-pernyataan akuntansi, auditing dan
peraturan lainnya, baik nasional maupun internasional yang relevan. Seorang teknisi
akuntansi harus menerapkan suatu program yang dirancang untuk memastikan
terdapatnya kendali mutu atas pelaksanaan jasa profesional yang konsisten dengan
standar nasional dan internasional.
Sumber : https://endangsulistakuntansi.wordpress.com/2012/02/21/pengertian-dasar-
profesi-teknisi-akuntansi/
B. Regulasi Terkait Ketenagakerjaan yang Profesional
Pemerintah telah menetapkan suatu regulasi yang mengatur mengenai
ketenagakerjaan, sebagaimana telah tercantum dalam Undang-Undang Republik
Indonesi Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, BAB IV pasal 7 dan pasal 8
yaitu:

PERENCANAAN TENAGA KERJA DAN INFORMASI KETENAGAKERJAAN


Pasal 7
(1) Dalam rangka pembangunan ketenagakerjaan, pemerintah menetapkan kebijakan
dan menyusun perencanaan tenaga kerja.
(2) Perencanaan tenaga kerja meliputi:
a. perencanaan tenaga kerja makro; dan
b. perencanaan tenaga kerja mikro.
(3) Dalam penyusunan kebijakan, strategi, dan pelaksanaan program pembangunan
ketenagakerjaan yang berkesinambungan, pemerintah harus berpedoman pada
perencanaan tenaga kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).
Pasal 8
(1) Perencanaan tenaga kerja disusun atas dasar informasi ketenagakerjaan yang antara
lain meliputi:
a. penduduk dan tenaga kerja;
b. kesempatan kerja;
c. pelatihan kerja termasuk kompetensi kerja;
d. produktivitas tenaga kerja;
e. hubungan industrial;
f. kondisi lingkungan kerja;
g. pengupahan dan kesejahteraan tenaga kerja; dan
h. jaminan sosial tenaga kerja.
(2) Informasi ketenagakerjaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), diperoleh dari
semua pihak yang terkait, baik instansi pemerintah maupun swasta.
(3) Ketentuan mengenai tata cara memperoleh informasi ketenagakerjaan dan
penyusunan serta pelaksanaan perencanaan tenaga kerja sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.
BAB III

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

1. Tuntutan seorang Teknisi Akuntansi dalam menghadapi ASEAN Economic


Community (AEC)
ASEAN Economic Community (AEC) akan menjadikan ASEAN sebagai pasar
tunggal dan basis produksi dimana terjadi arus barang, jasa, investasi, dan tenaga
terampil yang bebas serta aliran modal yang bebas antar-negara di kawasan ASEAN.
Maka dari itu Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan dan
berbagai kebijakan lain mengamanatkan pemberian pelatihan kerja serta pembentukan
Badan Nasional Sertifikasi Profesi yang bertugas memberikan sertifikasi kompetensi
kerja harus dioptimalkan, guna mempersiapkan tenaga kerja terampil, berkualitas dan
berdaya saing serta diakui oleh negara ASEAN lainnya dalam menghadapi MEA 2015.
Bagi seorang tenaga profesional dalam hal ini teknisi akuntansi tentu akan
dituntut untuk mempersiapkan dirinya agar berkompeten dalam menghadapi persaingan
ekonomi internasional. Tiga pilar utama yang harus dipenuhi seorang profesional antara
lain; pendidikan, pelatihan, dan uji kompetensi. Tiga pilar utama ini tentu harus
didukung dengan adanya asosiasi yang dapat mewadahi ketiganya.
Sebagaimana telah tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesi Nomor
13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, BAB V pasal 9 dan pasal 10 mengatakan
bahwa Pelatihan kerja diselenggarakan dan diarahkan untuk membekali, meningkatkan,
dan mengembangkan kompetensi kerja guna meningkatkan kemampuan, produktivitas,
dan kesejahteraan.

Pasal 10
(1) Pelatihan kerja dilaksanakan dengan memperhatikan kebutuhan pasar kerja dan
dunia usaha, baik di dalam maupun di luar hubungan kerja.
(2) Pelatihan kerja diselenggarakan berdasarkan program pelatihan yang mengacu pada
standar kompetensi kerja.
(3) Pelatihan kerja dapat dilakukan secara berjenjang.
(4) Ketentuan mengenai tata cara penetapan standar kompetensi kerja sebagaimana
dimaksud dalam ayat (2) diatur dengan Keputusan Menteri.
Adapun syarat profesi sebagaimana yang dikemukakan oleh Prof. Tjiptohadi S, Mec,
Ph.D, CPA, CA, Ak, sebagai berikut:
- Special body of knowledge
- Formal education
- Code of ethics
- Standards
- Recognition of status
- Self-regulated organization/association

2. Pihak yang memegang peranan penting untuk menyiapkan sumber daya manusia
yang kompeten dalam menghadapi ASEAN Economic Community (AEC)
a. Pemerintah
Dalam hal ini pemerintah berperan untuk menetapkan suatu regulasi atau
peraturan yang menetapkan standar yang memadai bagi seorang teknisi akuntansi
agar dapat bersaing dalam persaingan ekonomi internasional. Dengan jelas dan
lengkapnya regulasi yang mengatur standarisasi profesi teknisi akuntansi tentu
dapat mendukung serta menunjang para tenaga ahli khususnya profesi teknisi
akuntansi dalam menyiapkan dirinya agar dapat berkompeten dalam menghadapi
era perdagangan internasional ini.

Pasal 2
Dengan ijazah tersebut dalam pasal 1 dimaksud:
a. ijazah yang diberikan oleh sesuatu universitas negeri atau badan perguruan
tinggi lain yang dibentuk menurut undang-undang atau diakui pemerintah,
sebagai tanda bahwa pendidikan untuk akuntan pada badan perguruan tinggi
tersebut telah selesai dengan hasil baik;
b. ijazah yang diterima sesudah lulus dalam sesuatu ujian lain yang menurut
pendapat Panitia Ahli termaksud dalam pasal 3 guna menjalankan pekerjaan
akuntan dapat disamakan dengan ijazah tersebut pada huruf a pasal ini.
Pasal 3
(1) Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan mengangkat Panitia Ahli yang
bertugas mempertimbangkan apakah sesuatu ijazah bagi menjalankan pekerjaan
akuntan dapat disamakan dengan ijazah tersebut pada pasal 2 huruf a.
(2) Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan bersama Menteri Keuangan
mengatur susunan dan cara kerja panitia itu.
(3) Menteri Keuangan berhak memberi tugas lain kepada panitia tersebut dalam ayat
1 untuk menjamin kesempurnaan urusan akuntansi c.q. untuk mengatur lebih lanjut
urusan akuntansi.
(4) Tiap-tiap akuntan berijazah mendaftarkan nama untuk dimuat dalam suatu
register negara yang diadakan oleh Kementerian Keuangan.

b. Asosiasi Profesi (uji kompetensi yang dilakukan oleh Lembaga sertifikasi


Profesi TA)
- Standar profesi
- Ujian sertifikasi profesi
- PPL
- Review Mutu

c. Akademisi dan Perguruan Tinggi


Akademisi dan perguruan tinggi berperan untuk memberikan pendidikan, dan
pembekalan yang memadai baik secara teori maupun praktek.
Undang-Undang No. 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, pada pasal 24
menjelaskan:
(1) Program profesi merupakan pendidikan keahlian khusus yang diperuntukkan
bagi lulusan program sarjana atau sederajat untuk mengembangkan bakat dan
kemapuan memperoleh kecakapan yang diperlukan dalam dunia kerja.
(2) Program profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diselenggarakan oleh
Perguruan Tinggi yang bekerja sama dengan Kementerian, Kementerian lain,
LPNK, dan/atau organisasi profesi yang bertanggung jawab atas mutu layanan
profesi.
(3) Program profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menyiapkan professional
(4) Program profesi wajib memiliki Dosen yang berkualifikasi akademik minimum
lulusan program profesi dan/atau lulusan program magister atau yang sederajat
dengan pengalaman kerja paling singkat 2 (dua) tahun
(5) Lulusan program profesi berhak menggunakan gelar profesi
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai program profesi diatur dalam Peraturan
Pemerintah.

3. Indonesia dalam menghadapi ASEAN Economic Community (AEC)

Sejauh ini, langkah-langkah yang telah dilakukan oleh Indonesia berdasarkan


rencana strategis pemerintah untuk menghadapi MEA / AEC, antara lain:
a. Penguatan Daya Saing Ekonomi
Pada 27 Mei 2011, Pemerintah meluncurkan Masterplan Percepatan dan
Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). MP3EI merupakan
perwujudan transformasi ekonomi nasional dengan orientasi yang berbasis pada
pertumbuhan ekonomi yang kuat, inklusif, berkualitas, dan berkelanjutan. Sejak
MP3EI diluncurkan sampai akhir Desember 2011 telah
dilaksanakan Groundbreaking sebanyak 94 proyek investasi sektor riil dan
pembangunan infrastruktur.

b. Program ACI (Aku Cinta Indonesia)


ACI (Aku Cinta Indonesia) merupakan salah satu gerakan Nation Branding
bagian dari pengembangan ekonomi kreatif yang termasuk dalam Inpres No.6
Tahun 2009 yang berisikan Program Ekonomi Kreatif bagi 27 Kementrian Negara
dan Pemda. Gerakan ini sendiri masih berjalan sampai sekarang dalam bentuk
kampanye nasional yang terus berjalan dalam berbagai produk dalam negeri seperti
busana, aksesoris, entertainment, pariwisata dan lain sebagainya. (dalam
Kemendag RI : 2009:17).

c. Penguatan Sektor UMKM


Dalam rangka meningkatkan pertumbuhan UMKM di Indonesia, pihak Kadin
mengadakan mengadakan beberapa program, antara lainnya adalah Pameran
Koperasi dan UKM Festival pada 5 Juni 2013 lalu yang diikuti oleh 463 KUKM.
Acara ini bertujuan untuk memperkenalkan produk-produk UKM yang ada di
Indonesia dan juga sebagai stimulan bagi masyarakat untuk lebih kreatif lagi dalam
mengembangkan usaha kecil serta menengah.
Pihak Kementerian Perindustrian juga tengah melaksanakan pembinaan dan
pemberdayaan terhadap sektor industri kecil menengah (IKM) yang merupakan
bagian dari sektor UMKM. Penguatan IKM berperan penting dalam upaya
pengentasan kemiskinan melalui perluasan kesempatan kerja dan menghasilkan
barang atau jasa untuk dieskpor. Selain itu, koordinasi dan konsolidasi antar
lembaga dan kementerian pun terus ditingkatkan sehingga faktor penghambat dapat
dieliminir.

d. Perbaikan Infrastruktur
Dalam rangka mendukung peningkatan daya saing sektor riil, selama tahun 2010
telah berhasil dicapai peningkatan kapasitas dan kualitas infrastruktur seperti
prasarana jalan, perkeretaapian, transportasi darat, transportasi laut, transportasi
udara, komunikasi dan informatika, serta ketenagalistrikan :
1. Perbaikan Akses Jalan dan Transportasi
2. Perbaikan dan Pengembangan Jalur TIK
3. Perbaikan dan Pengembangan Bidang Energi Listrik.
e. Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)
Salah satu jalan untuk meningkatkan kualitas SDM adalah melalui jalur
pendidikan. Selain itu, dalam rangka memberikan layanan pendidikan yang
bermutu, pemerintah telah membangun sarana dan prasarana pendidikan secara
memadai, termasuk rehabilitasi ruang kelas rusak berat. Data Kemdikbud tahun
2011 menunjukkan bahwa masih terdapat sekitar 173.344 ruang kelas jenjang SD
dan SMP dalam kondisi rusak berat. (dalam Bappenas RI Buku I, 2011:36).

f. Reformasi Kelembagaan dan Pemerintahan


Dalam rangka mendorong Percepatan Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi,
telah ditetapkan strategi nasional pencegahan dan pemberantasan korupsi jangka
panjang 2012-2025 dan menengah 2012-2014 sebagai acuan bagi seluruh
pemangku kepentingan untuk pelaksanaan aksi setiap tahunnya. Upaya penindakan
terhadap Tindak Pidana Korupsi (TPK) ditingkatkan melalui koordinasi dan
supervisi yang dilakukan oleh KPK kepada Kejaksaan dan Kepolisian.

BAB IV
KESIMPULAN

Sumber: http://id.stie-stmy.ac.id/halkomentar-165-persiapan-indonesia-dalam-menghadapi-
mea-masyarakat-ekonomi-22515.html